Anda di halaman 1dari 22

METODE STERILISASI

Posted by: rgmaisyah on: Maret 15, 2009


• In: mikRobiolOgi|phArmaceutical TecHnologY
• Comment!
A. Sterilisasi Secara Fisika

1. Pemanasan Kering

a. Udara Panas Oven

The Art of Compounding : 404

Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan

uap destilasi dalam udara panas-oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah

minyak lemak, paraffin, petrolatum cair, gliserin, propilen glikol. Serbuk steril

seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan

sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alat-alat gelas

dan banyak alat-alat bedah.

Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan

bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam autoklaf. Salah satu elemen

penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap autoklaf. Atau dengan

adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan.

Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak

dibunuh oleh suhu sampai 121o C (suhu yang biasanya digunakan dalam

autoklaf bahkan setelah pemanasan sampai 45 menit). Untik alasan ini,

autoklaf merupakan metode yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak,

produk yang dibuat dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang

mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali.

Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi.


Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel

bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang

lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan

dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan

pada suhu 121°C selama 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering

membutuhkan pemaparan pada suhu 150°C sampai 170°C selama 1-4 jam.

Suhu yang biasa digunakan pada sterilisasi panas kering 160°C paling

cepat 1 jam, tapi lebih baik 2 jam. Suhu ini digunakan secara khusus untuk

sterilisasi minyak lemak atau cairan anhidrat lainnya. Bagaimanapun juga

range 150-170°C digunakan untuk streilisasi panas kering dan lain-lain, sebagai

contoh : bahan-bahan gelas, dapat disterilkan pada suhu 170oC. dimana

beberapa serbuk seperti sulfonilamid harus disterilkan pada suhu rendah dan

waktu yang lebih lama.

Validation of Pharmaceutical Processes : 151

Secara umum, panas kering digunakan untuk sterilisasi bahan – bahan

melalui proses pengabuan dari mikroorganisme. Proses ini merupakan

kelanjutan atau sekumpulan proses yang dilakukan dalam sebuah oven dengan

temperatur sekelilingnya 170°C untuk sterilisasi atau 250°C untuk

depirogenisasi. Panas kering digunakan untuk sterilisasi/depirogenisasi alat-alat

gelas yang akan digunakan untuk proses produksi secara aseptik. Suhu yang

digunakan ini, terlalu tinggi untuk wadah-wadah plastik. Sama seperti

sterilisasi uap air, prosesnya dapat diprediksi dan hasilnya dapat dikontrol.

Sterilisasi panas kering biasa digunakan untuk depirogenisasi alat-alat gelas

dan bahan-bahan lain yang memiliki kemampuan bertahan pada suhu yang

digunakan. Secara umum, validasi untuk alur depirogenisasi untuk proses


panas kering selalu termasuk proses sterilisasinya.

Parenteral Technology Manual : 123

Panas kering pada temperatur lebih 160oC efektif menghancurkan

mikroorganisme hidup dengan sebuah proses kehilangan kelembaban secara

inversible. Proses ini berjalan relatif lambat, mengisyaratkan sedikitnya 1 jam

pada suhu 160oC tetapi lebih cepat pada temperatur yang tinggi. Panas kering

ini sering merugikan beberapa produk.

Penerapan panas dengan keberadaan lembab lebih fektif untuk

pembunuhan mikroorganisme diisyaratkan 15 menit pada suhu 121oC.

Remington’s Pharmaceutical Sciences 18th : 1471

Beberapa bahan yang tidak dapat disterilkan dengan uap, paling baik

disterilkan dengan panas kering,. Misalnya petrolatum jelly, minyak mineral,

lilin, wax, serbuk talk. Karena panas kering kurang efisien dibanding panas

lembab, pemaparan lama dan temperatur tinggi dibutuhkan. Range luas waktu

inaktivasi dalam temperatur bervariasi telah diterapkan berdasarkan tipe

indikator steril yang digunakan, kondisi kelembaban dan faktor lain. Jumlah air

dalam sel mikroba diketahui mempengaruhi resistensinya terhadap destruksi

panas kering. Umumnya, ini diterima bahwa sel mikroba dalam daerah yang

betul-betul kering menunjukkan resistensi terhadap inaktivasi panas kering. Ini

jelas bahwa perhatian harus diberi untuk mendisain siklus sterilisasi panas

kering untuk produk-produk rumah sakit dan validasi sistematis sterilisasi

dengan metode sterilisasi standar.

Oven digunakan untuk sterilisasi panas kering biasanya secara panas

dikontrol dan mungkin gas atau elektrik gas.


Beberapa waktu dan suhu yang umum digunakan pada oven :

 170°C (340 F) sampai 1 jam


 160°C (320 F) sampai 2 jam
 150°C (300 F) sampai 2,5 jam
 140°C (285 F) sampai 3 jam
b. Minyak dan penangas lain

The Art of Compounding : 404

Bahan kimia yang stabil dalam ampul bersegel dapat disterilisasi dengan

mencelupkannya, dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu

1620C. larutan jenuh panas dari natrium atau ammonia klorida dapat juga

digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang mensterilisasi

alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga

alat tetap tajam, dan untuk memelihara cat penutup.

c. Pemijaran langsung

The Art of Compounding : 404

Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang

gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan

labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak

hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumping dan alu dapat

disterilisasi dengan metode ini. Dalam semua kasus bagian yang paling kuat 20

detik. Dalam keadaan darurat ampul dapat disterilisasi dengan memposisikan

bagian leher ampul kearah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan

langsung dengan api dengan hati-hati. Setelah pendinginan, ampul harus

segera diisi dan disegel.

2. Panas lembab
a) Uap bertekanan

Validation of Pharmaceutical Processes : 151

Stelisisasi termal menggunakan tekanan uap jenuh dalam sebuah autoklaf. Ini

merupakan metode sterilisasi yang biasa digunakan dalam industri farmasi,

karena dapat diprediksi dan menghasilkan efek dekstruksi bakteri, dan

parameter-parameter sterilisasi seperti waktu dan suhu dapat dengan mudah

dikontrol dan monitoring dilakukan sekali dalam satu siklus yang divalidasi.

Secara umum, sterilisasi panas lembab dilakukan pada suhu 121°C dibawah

tekanan 15 psig. Pada suhu ini konsep letal dilakukan dengan F 0 yang juga

dilakukan bila suhu sterilisasi berbeda dari 121°C. F 0 dari proses ini tidak jauh

pada 121°C dengan waktu yang dibutuhkan, dalam menit, untuk menghasilkan

kematian yang setara dengan hasil pada 121°C pada waktu tertentu.

The Art of Compounding : 407

Penggunanaan uap bertekanan atau metode sterilisasi yang paling umum

memuaskan dan efektif yang ada. Ini adalah metode yang diinginkan untuk

sterilisasi larutan yang ditujukan untuk infeksi pada tubuh, pembawa pada

sediaan mata, bahan-bahan gelas. Untuk penggunaan darurat, pakaian dan

alat kesehatan dan benda-benda karet. Kerugian yang paling prinsip dan

penggunaan uap ini adalah ketidaksesuaiannya untuk penggunaan pada bahan

sensitif terhadap panas dan kelembaban. Metode ini tidak dapat digunakan

untuk sterilisasi misalnya, produk yang dibuat dari basis minyak dan serbuk.

Uap jenih pada 120°C mampu membunuh secara cepat semua bentuk

vegetatif mikroorganisme hidup dalam waktu ½ menit. Uap jenuh ini dapat

menghancurkan spora vegetatif yang tahan terhadap pemanasan tinggi.

Keefektifan sterilisasi uap bertekanan tergantung pada 4 sifat dari uap jenuh
kering yaitu :

• Suhu

• Panas tersembunyi yang berlimpah

• Kemapuan untuk membentuk kondensasi air

• Kontraksi volume yang timbul selama kondensasi

Waktu yang dibutuhkan untuk mensterilkan larutan saat suhu 121oC

selama 12 menit, ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah untuk

mencapai 121°C setelah termometer pensteril menunjukkan suhu ini. Secara

umum larutan dalam botol 100-200 ml akan membutuhkan kurang 5 menit

botol 500 ml antara 10-15 menit.

Remington’s Pharmaceutical Sciences 18 th : 1471

Panas lembab merupakan bentuk uap jenuh di bawah tekanan yang

merupakan cara sterilisasi yang paling banyak digunakan. Penyebab kematian

dengan cara sterilisasi panas terhadap lembab berbeda dengan cara panas

kering, kematian mikroorganisme oleh panas lembab adalah hasil koagulasi

protein sel, berbeda dengan cara panas kering, kematian mikroorganisme yang

paling penting adalah proses oksidasi.

USP menentukan sterilisasi uap sebagai penerapan uap jenuh di bawah

tekanan paling kurang 15 menit dengan temperatur minimal 121oC dalam

jaringan tekanan. Bentuk yang paling sederhana dari autoklaf adalah “home

pressure cooker”.

A. Uap panas pada 100oC

The Art of Compounding : 412


Uap panas pada suhu 100oC dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir

atau air mendidih. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap

mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan

media kultur. Metode ini jarang memuaskan untuk larutan yang mengandung

bahan-bahan karena spora sering gagal tumbuh dibawah kondisi ini, bentuk

vegetatif dari kebanyakan bakteri yang tidak membentuk spora. Temperatur

suhu titik mati bervariasi, tetapi tidak ada bentuk non spora yang bertahan.

Dalam prakteknya, 2 metode uap mengalir digunakan, suatu perpanjangan

pemaparan uap selama 20-60 menit akan membunuh semua bentuk vegetatif

bakteri tapi tidak akan menghancurkan spora. Untuk meyakinkan

penghancuran spora, sterilisasi berjeda yang juga disebut sterilisasi tidak

berlanjut. Penjedahan dan bertahap adalah tindalisasi digunakan. Dengan

metode ini bahkan dipaparkan pada uap mengalir pada periode waktu

bervariasi dari 20-60 menit setiap hari selama 3 menit. Antara pemaparan

bahan terhadap uap yang disimpan pada suhu kamar atau pada inkubator

pada 37oC. prinsip dari metode ini adalah pada saat waktu pertama kali

pemaparan pada uap membunuh bakteri vegetatif tapi tidak sporanya. Tapi

pada saat bahan disimpan pada inkubator atau pada suhu ruangan selam 24

jam, banyak spora akan tumbuh ke dalam bentuk vegetatif bentuk spora yang

telah tumbuh ini akan dimatikan pada pemanasan hari ke dua. Kesuksesan dari

proses ini tergantung pada spora yang berkembang ke bentuk vegetatif selama

masa istirahat.

B. Pemanasan dengan bakterisida

The Art of Compounding : 413

Ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap pans pada 100oC. adanya
bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. Metode ini digunakan

untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang

biasa diterapkan pada autoklaf. Larutan yang ditumbuhkan bakterisida ini

dpanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100oC selama 20 menit dalam

pensterilisasi uap atau penangas air. Bakterisida yang dapat digunakan

termasuk 0,5%, fenol, 0,5% klorbutanol, 0,2% kresol atau 0.002% fenil merkuri

nitrat saat larutan dosis tunggal lebih dari 15 ml larutan obat untuk injeksi

intratekal atau gastro intestinal sehingga tidak dibuat dengan metode ini.

C. Air mendidih

The Art of Compounding : 413

Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam

sterilisasi jarum spoit, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. Bahan-

bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih

paling kurang 20 menit. Setelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air

dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. Untuk

menigkatkan efisiensi pensterilan dari air, 5 % fenol, 1-2% Na-carbonat atau 2-

3% larutan kresol tersaponifikasi yang menghambat kondisi bahan-bahan

logam.

3. Cara Bukan Panas

Sinar ultraviolet

Teori dan Praktek Farmasi Industri : 1272

Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi

kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar

yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu


kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 253,7 nm . Sinar UV

menembus udara bersih dan air murni dengan baik, tetapi suatu penambahan

garam atau bahan tersuspensi dalam air atau udara menyebabakan penurunan

derajat penetrasi dengan cepat. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi

dihindarkan dan setiap tindakan membunuh mikroorganisme dibatasi pada

permukaan yang dipaparkan.

Aksi letal

Teori dan Praktek Farmasi Industri : 1272

Ketika sinar UV melewati bahan, energi bebas ke elektron orbital dalam

atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Absorpsi energi ini menyebabkan

meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya.

Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam

molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamnya, organisme itu mati

atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat

sel, yang diperhatikan untuk menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang

gelombang UV yang panjang.

Radiasi pengion

Teori dan Praktek Farmasi Industri : 1274

Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop

radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh

percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar

katode, sinar beta). Sinar gamma mempunyai keuntungan mutlak karena tidak

menyebabkan kerusakan mekanik, namun demikian, kekurangan sinar ini

adalah di hentikan dari, mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat)

keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan


output laju doisis yang lebih seragam. Aksi letal radiasi pengionan

menghacurkan mikroorganisme dengan menghentikan rep-roduksi sebagai

hasil mutasi letal. Mutasi ini disebabkan karena transformasi radiasi menjadi

molekul penerima pada sinar x, menurut teori langsung. Mutasi ini dapat

disebabkan oleh tindakan tidak langsung, dimana molekul-molekul air diubah

menjadi kesatuan yang berenergi tinggi seperti hidrogen dan ion hidroksil.

Semua ini pada akhirnya, menyebabkan perubahan energi pada asam nukleat

dan molekul lain sehingga hilangnya keberadaannya bagi metabolisme molekul

sel bakteri.

Validation of Pharmaceutical Processes : 151

Dekstruksi bakteri untuk menghasilkan kondisi steril dapat dilakukan

dengan menggunakan radiasi pengion, dengan efek pada asam nukleat dari

mikroorganisme yang nonreversibel. Pembentukan radikal bebas dan peroksida

yang merupakan senyawa reaktif juga memberikan kontribusi pada letalitas

dari proses sterilisasi ini. Dua tipe radiasi pengion yang dapat digunakan yaitu

radiasi sinar gamma dan radiasi electron. Sterilisasi dengan radiasi digunakan

untuk alat-alat medis yang sensitive terhadap panas dan jika residu etilen

oksida tidak diharapkan. Pengukuran presisi dari dosis radiasi, yang tidak

berhubungan dengan suhu, adalah merupakan faktor kontrol dalam sterilisasi

radiasi selama dengan waktu iradiasi. Monitoring dan kotrol proses sangat

sederhana, tetapi kehati-hatian akan keamanan harus dilakukan oleh operator

sterilisasi.

Radiasi pengion juga digunakan untuk sterilisasi bahan-bahan obat dan

bahan-bahan formulasi. Kompabilitas dari bahan yang disterilkan dengan

radiasi adalah factor yang harus diperhatikan sejak bahan-bahan dan alat-alat
dipengaruhi oleh radiasi, mungkin tidak dengan segera dilakukan penanganan

tetapi setelah stabilitas produk dapat dipengaruhi. Untuk bahan-bahan medis

dan plastik, perubahan dari sterilisasi etilen oksida ke sterilisasi radiasi

membutuhkan penentuan efek radiasi jangka pendek dan jangka panjang, dan

kadang membutuhkan modifikasi produksi bahan plastik dan karet untuk

membuatnya sesuai dengan sterilisasi radiasi.

Penerapan untuk sterilisasi ini

Teori dan Praktek Farmasi Industri : 1276

Elektron dipercepat atau sinar gamma dapat digunakan untuk

mensterilkan produk-produk pilahan dengan suatu proses berkesinambungan.

Kebanyakan prosedur sterilisasi produk lain harus diselenggarakan dalam batch

setrilisasi dengan proses berkesinambungan memerlukan pengendalian yang

tepat, sehingga tidak ada bagian yang lepas dari keefektifan sterilisasi.

Remington’s Pharmaceutical Sciences : 1476

Radiasi ionisasi digunakan untuk sterilisasi industri untuk alat-alat rumah

sakit, vitamin, antibiotik, steroid hormon dan transplantasi tulang dan jaringan

dan alat pengobatan seperti alat untuk suntik plastik, jarum, alat beda, tube

palstik, katter, benang bedah dan cawan Petri. Radiasi ioniasasi dapat

menghasilkan perubahan dalam molekul organik yang dapat mempengaruhi

kemujaraban sediaan atau dapat menginduksi toksisitas. Radiasi produk juga

dapat menghasilakn perubahan warna dan kerapuhan beberapa wadah gelas

dan bahan plastik.

Sterilisasi radiasi dapat dilakukan baik dengan radiasi elektromagnetik dan

radiasi partikel. Radiasi elektromagnetik dan energi foton, termasuk ultra dari

bahan radioaktif seperti kobalt 60 atau sesium 137 adalah yang paling sering
digunakan sebagai sumber energi sterilisasi adhesi elektromagnetik. Radiasi

partikel atau molekul termasuk daftar partikel yang steril. Satu-satunya

sekarang yang digunakan untuk sterilisasi radiasi pada obat-obat rumah sakit

dan laboratorium. Bagaimanapun banyak prosedur sterilisasi industri

manggunakan radiasi, termasuk penjelasan singkatnya. Beberapa informasi

mengenai efek sterilisasi ultraviolet juga dihadirkan.

Prinsip bermuatan negatif sepeti elektron yang berinteraksi langsung

dengan bahan menyebabkan ionisasi seperti elektron elektromagnetik

menyebabkan ionisasi pada mekanisme yang bervariasi yang menghasilkan

perpindahan suatu orbital elektron dengan mekanisme jumlah tertentu dari

energi yang ditransfer dalam insiden sinar gamma. Perpindahan elektron ini

kemudian bentindak sebagai partikel beta dalam reduksi. Oleh sebab itu baik

partikel maupun elektromagnetik, dipertimbangkan sebagai radiasi ionisasi

yang berbeda dengan radiasi sinar ultraviolet.

Kerugian penggunaan germisida radiasi sinar UV adalah penetrasinya

terbatas, pada panjang gelombang 253,7 nm, diserap oleh banyak bahan dan

membuat penggumpalan organisme dan hal tersebut dilindungi oleh debu dan

puing-puing. Untuk menghindari aksi letal panggunaan radiasi sinar UV sebagai

cara sterilisasi tidak direkomendasikan lemak jika bahan-bahan yang diradiasi

sangat bersih dan bebas yang dapat melindungi mikroorganisme.

B. Sterilisasi Secara Kimia

Sterilisasi Gas

Pharmaceutical Technology : 281

Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk

membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat


berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat, sterilisasi adalah fenomena

permukaan dan mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh. Sterilisasi yang

digunakan dalam bidang farmasi untuk mensterilkan bahan-bahan dan

menghilangkan dari bahan yang disterilkan pada akhir jalur sterilisasi, gas ini

tidak inert, dan kereaktifannya terhadap bahan yang disterilkan harus

dipertimbangkan misalnya thiamin, riboflavin, dan streptomisin kehilangan

protein ketika disterilkan dengan etilen oksida.

Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkalis asam amino,

hidroksi atau gugus sulfur dari enzim seluler atau protein. Beberapa lembab

dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan menghancurkan sel.

Kelembaban rendah misalnya minimal 20%, angka kematian tidak logaritmik

(tidak nyata). Tetapi mikroorganisme muncul peningkatan resistensinya dengan

penurunan kelembaban. Dalam prakteknya, kelembaban dalam chamber

pensteril ditingkatkan dari 50-60% dan dipegang untuk suatu waktu pada

permukaan dan kelembaban membran sel sebelum penggunaan etilen oksida.

Etilen oksida bersifat eksplosif ketika dicampur dengan udara.

Penghilangan sifat eksplosif dengan menggunakan campuran etilen oksida dan

karbondioksida. Seperti Carboxide, Oxyfume 20, campuran etilen oksida

dengan hidrokarbon terflouronasi seperti Storoxide 12. keduanya diluent inert

yang mempunyai tekanan uap yang tinggi dan bereaksi sebagai pembakar

etilen oksida keluar dari silinder masuk ke dalam chamber steril. Komponen

terfloronasi mempunyai keuntungan over karbondioksida yang disimpan dalam

wadah yang ringan dan campuran mengizinkan tekanan parsial tinggi dari

etilen oksida pada chamber pensteril pada tekanan total yang sama.

Sterilisasi gas berjalan lambat waktu sterilisasi tergantung pada


keberadaan kontaminasi kelembaban, temperatur dan konsentrasi etilen

oksida. Konsentrasi minimum etilen oksida dalam 450 mg/L, 271 Psi,

konsentrasi ini 85°C dan 50% kelembaban relativ dibutuhkan 4-5 jam

pemaparan. Di bawah kondisi sama 1000 mg/L membutuhkan sterilisasi 2-3

jam. Dalam partikel 6 jam pemaparan etilen oksida digunakan untuk

menyiapkan tepi yang aman dan memperbolehkan waktu untuk penetrasi gas

ke dalam bahan sterilisasi. Sisa gas dihilangkan dengan terminal vakum

dilanjutkan oleh pembersihan udara yang difiltrasi. Cara ini digunakan untuk

mensterilkan obat serbuk seperti penisilin, juga telah digunakan untuk

sterilisasi benang, plastik tube. Penggunaan etilen oksida untuk sterilisasi akhir

peralatan parenteral tertentu seperti kertas karf dan lapisan tipis polietilen.

Semprot aerosol etilen oksida telah digunakan untuk mensterilkan daerah

sempit dimana dilakukan teknik aseptis.

Validation of Pharmaceutical Processes : 151

Gas yang biasa digunakan adalah etilen oksida dalam bentuk murni atau

campuran dengan gas inert lainnya. Gas ini sangat mudah menguap dan

sangat mudah terbakar. Merupakan agen alkilasi yang menyebabkan

dekstruksi mikroorganisme termasuk sel-sel spora dan vegetatif. Sterilisasi

dilakukan dalam ruang/chamber sterilisasi.

Sterilisasi menghasilkan bahan toksik seperti etilen klorohidrin yang

menghasilkan ion klorida dalam bahan-bahan. Digunakan untuk sterilisasi ala-

alat medis dan baju-baju medis, bahan-bahan seperti pipet sekali pakai dan

cawan petri yang digunakan dalam laboratorium mikrobiologi. Residu etilen

oksida adalah bahan yang toksik yang harus dihilangkan dari bahan –bahan

yang disterilkan setelah proses sterilisasi, yang dapat dilakukan dengan


mengubah suhu lebih tinggi dari suhu kamar. Juga perlu dilakukan

perlindungan terhadap personil dari efek berbahaya gas ini.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi ini termasuk kelembaban,

konsentrasi gas, suhu dan distribusi gas dalam chamber pengsterilan.

Penghancuran bakteri tergantung pada adanya kelembaban, gas dan suhu

dalam bahan pengemas, penetrasi melalui bahan pengemas, pada pengemas

pertama atau kedua, harus dilakukan, persyaratan desain khusus pada bahan

pengemas.

Mekanisme aksi etilen oksida

Teori dan Praktek Farmasi Industri : 1286

Etilen oksida dianggap menghasilkan efek letal terhadap mikroorganisme

dengan mengalkilasi metabolit esensial yang terutama mempengaruhi proses

reproduksi. Alkilasi ini barangkali terjadi dengan menghilangkan hidrogen aktif

pada gugus sulfhidril, amina, karboksil atau hidroksil dengan suatu radikal

hidroksi etil metabolit yang tidak diubah dengan tidak tersedia bagi

mikroorganisme sehingga mikroorganisme ini mati tanpa reproduksi.

C. Sterilisasi Secara Mekanik

Filter Bakteri

Validation of Pharmaceutical Processes : 151

Cara kerja dari sterilisasi ini berbeda dari metode lainnya karena sterilisasi

ini menghilangkan mikroorganisme melalui penyaringan dan tidak

menghancurkan mikroorganisme tersebut. Penghilangan mikroorganisme

secara fisik melalui penyaring dengan matriks pori ukuran kecil yang tidak

membiarkan mikroorganisme untuk dapat melaluinya.


Cara sterilisasi ini untuk produk berupa cairan yang dapat disaring atau

bahan yang tidak tahan terhadap panas dan tidak dapat disterilkan dengan

cara sterilisasi lain. Teknologi tinggi membran filtrasi meningkatkan

penggunaan sterilisasi filtrasi, khusunya jika digunakan berpasangan dengan

sistem proses aseptik.

Keefektifan sterilisasi filtrasi dapat merupakan fungsi magnitude dari

beban mikroorganisme, selama tersumbat pada penyaring dapt terjadi pada

konsentrasi yang tinggi dari mikroorganisme. Tekanan, laju aliran, dan

karakteristik dari peenyaring adalah parameter yang harus dikontrol untuk

mencapai sterilisasi pada produk yang dapat diprediksi dan reproduksibel.

Ukuran nominal pori penyaring 0,2 μm atau kurang dan penyaring dibuat dari

berbagai jenis bahan seperti selulosa asetat, selulosa nitrat, florokarbonat,

polimer akrilik, polikarbonat, poliester, polivinil klorida, vinil, nilon, politef, dan

berbagai tipe bahan lain termasuk memban logam.

The Art of Compounding : 404

Larutan dapat dibebaskan dari organisme vegetatif dan spora bakteri

dengan melalui filter bakteri, filter bakteri tidak membebaskan larutan dari

virus. Bagaimanapun alat ini tidak mengurangi jumlah dan adanya virus,

secara prinsip oleh adsorbsi pada dinding filter dan penghilangan partikel besar

dari bahan yang mengandung virus.

Sterilisasi dengan filter bakteri digunakan untuk larutan farmasetik atau

bahan biologi yang tidak diefektifkan oleh panas. Berbeda dengan metode

filtrasi lain, filter bakteri ditujukan untuk filtrasi bebas bakteri. Metode

sterilisasi ini membutuhkan penggunaan teknik aseptik yang benar. Sediaan

obat yang disterilkan dengan metode ini dibutuhkan yang mengandung bahan,
bakteristatik, kecuali dinyatakan lain. Larutan yang ditujukan untuk injeksi

intratekal atau merupakan larutan dosis tunggal intravena dengan volume

lebih dari 15 ml, tidak boleh ditambahkan bahan bakterisida. Paraffin cair dan

minyak lain, tidak disterilkan dengan metode ini karena dapat meningkatkan

permeabilitas dari filter bakteri. Untuk membuat larutan bebas dari bakteri dan

steril, filter dengan berbagai tipe digunakan. Tipe ini termasuk filter yang

terbuat dari silikon murni (diatomaccus atau klesegurh), porcelin, asbes dan

gelas fritled. Karena alat-alat ini mudah dibersihkan filter seitz yang

menggunakan lapisan asbes dan filter-glass mungkin lebih berguna untuk

farmasis.

Filter dengan pori yang lebih kecil menghilangkan bakteri tetapi beberapa

filtrasi sangat lambat untuk tujuan praktis. Dengan meningkatnya kekentalan

dari lilin filter sangat menghasilkan filtrasi yang efektif, tetapi kekurangannya

adalah banyak dari bahan aktif larutan dihilangkan oleh adsorbsi pada lilin.

Bagaimanapun, dengan mengatur ukuran pori dan kekentalan dari filter sampai

optimum. Filter dapat menjadi sangat efisien dan sangat cepat. Faktor lain dari

filter bakteri yaitu keseimbangan permukaan antara bahan dari filter dengan

bakteri dari larutan, tekanan yang digunakan, waktu filtrasi, muatan listrik dan

filter, pH dari bahan yang disaring dan absorpsi dari protein dan bahan lain.

Filter seitz

Bagian dari filter ini dibuat dari bahan asbestos yang dijepit pada dasar

wadah besi. Keuntungan utama dari filter seitz adalah lapisan filter dapat

dibuang setelah digunakan dan untuk masalah ini pembersihannya berkurang.

Efisiensi dari filter ini tergantung pada pengembangan serat dan lapisan filter

oleh air. Karena larutan alkohol pekat tidak mengembang, filter ini tidak
digunakan untuk mensterilkan larutan yang mengandung alcohol dengan

jumlah besar. Filter ini mampu dengan kapasitas volume dari 30 ml hingga

lebih 100 ml.

Kerugian pertama dari filter ini cenderung memberikan komponen

magnesium pada filtrat. Bahan alkalin ini dapat menyebabkan pengendapan

dari alkaloid bebas dari garamnya dan dapat menginaktifkan bahwa yang

sensitiv seperti insulin, ekstrak pituitary, epinefrin, dan apomorphin. Hal ini

dapat diatasi dengan perawatan pertama dengan filter dengan dibasahkan

dengan HCl dan kemudian dibilas dengan air.

Kerugian kedua dari seitz adalah permukaan serat dari lapisan filtrat,

membuat larutan tidak cocok untuk injeksi. Ini dapat diatasi dengan

menempatkan ayakan dari nilon atau sutra, di bawah lapisan filter sebelum

menempatkan lapisan di dalam filter atau sebuah fritted glass dapat

ditempelkan pada saluran. Kedua untuk menghilangkan serat. Filter seitz juga

cenderung menghilangkan substrat dari filtrate dengan absorpsi.

Filter Swinny

Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny mempunyai adaptor khusus

yaitu terdiri dari lapisan asbes, bersama dengan layer dan pencuci. Keutamaan

untuk digunakan filter swinny di bungkus dengan kertas dan autoklaf. Bagian

yang dipotong dihubungkan pada spoit werlock dan cairan dimasukkan ke

potongan asbes dengan menggunakan tekanan pada sal spoit.

Filter Fritted-Glass

Filter Sintered Fritted-Glass dapat dihancurkan oleh kandungan dalam

serbuk, tombol bulat dari gelas digabungkan bersama dengan penggunaan

panas untuk menempatkan ukuran dari bentuk potongan. Permeabilitas dari


filter berbanding lurus dengan berkembangnya ukuran. Setelah potongan

dibentuk, potongan disegel dengan pemanasan didalam gelas pirex seperti

corong Buchner.

Filter Berkefeld dan Mandler

Mandler terbuat dari tanah silika murni, asbestos dan kalsium sulfat. Berkefeld

disusun juga dari tanah silika murni. Masing-masing filter bermuatan negatif.

Tersedia dalam beberapa prioritas berdasarkan permeabilitasnya ke dalam air

dalam Bekerfeld atau Mandler.

Filter Selas

Filter ini secara kimia, menjadi resistensi terhadap semua larutan yang tidak

menyerang silika. Karena masing-masing partikel meliputi filter semata-mata

bersama selama proses manufaktur, ada bahaya kecil partikel-partikel dari

filter jauh dalam larutan.

Filter Candles-Pasteur-Chamberland

Ada pemanasan dengan Bekerfeld tetapi dibuat dari pori porselen tak

berkaca dengan pori kecil yang menghasilkan filtrasi lambat.

Kesimpulan :

Metode sterilisasi yaitu :

1. Metode Fisika

a. Pemanasan kering

Prinsipnya adalah protein mikroba pertama-tama akan mengalami

dehidrasi sampai kering. Selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara

sehingga menyebabkan mikrobanya mati.


- Udara panas oven

Digunakan untuk sterilisasi alat gelas yang tidak berskala, alat bedah,

minyak lemak, parafin, petrolatum, serbuk stabil seperti talk, kaolin, ZnO. Suhu

sterilisasi yang digunakan adalah 170oC selama 1 jam, 160oC selama 2 jam,

150oC selam 3 jam.

- Pemijaran langsung

Digunakan untuk sterilisasi alat logam, bahan yang terbuat dari porselen,

tidak cocok untuk alat yang berlekuk karena pemanasannya tidak rata. Suhu

yang digunakan 500-600oC dalam waktu beberapa detik, untuk alat logam

sampai berpijar.

- Minyak dan penangas lain

Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti gunting bedah sebagai lubrikan

menjaga ketajaman alat, bahan kimia stabil dalam ampul. Bahan atau alat

dicelupkan dalam penangas dicelupkan dalam penangas yang berisi minyak

mineral pada suhu 160oC. Larutan natrium atau amonium klorida jenuh dapat

digunakan pula sebagai pengganti minyak mineral.

b. Pemanasan basah

Prinsipnya adalah dengan cara mengkoagulasi atau denaturasi protein

penyusun tubuh mikroba sehingga dapat membunuh mikroba.

- Uap bertekanan (autoklaf)

Digunakan untuk sterilisasi alat gelas, larutan yang dimaksudkan untuk

diinjeksikan ke dalam tubuh, alat berskala, bahan karet. Waktu yang

dibutuhkan untuk sterilisasi larutan suhu 121oC adalah 12 menit. Uap jenuh
pada suhu 121oC mampu membunuh secara cepat semua bentuk vegetatif

mikroorganisme dalam 1 atau 2 menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan

spora bakteri yang tahan pemanasan.

- Pemanasan dengan bakterisida

Digunakan untuk sterilisasi larutan berair atau suspensi obat yang tidak

stabil dalam autoklaf. Tidak digunakan untuk larutan obat injeksi intravena

dosis tunggal lebih dari 15 ml, injeksi intratekal, atau intrasisternal. Larutan

yang ditambahkan bakterisida dipanaskan dalam wadah bersegel pada suhu

100 oC selama 10 menit di dalam pensteril uap atau penangas air. Bakterisida

yang digunakan 0,5% fenol; 0,5% klorobutanol; 0,002 % fenil merkuri nitrat;

0,2% klorokresol.

- Air mendidih

Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti jarum spoit. Hanya

dilakukan dalam keadaan darurat. Dapat membunuh bentuk vegetatif

mikroorganisme tetapi tidak sporanya.

c. Cara bukan panas

Sterilisasi dengan radiasi

Prinsipnya adalah radiasi menembus dinding sel dengan langsung

mengenai DNA dari inti sel sehingga mikroba mengalami mutasi. Digunakan

untuk sterilisasi bahan atau produk yang peka terhadap panas (termolabil). Ada

dua macam radiasi yang digunakan yakni gelombang elektromagnetik (sinar x,

sinar γ) dan arus partikel kecil (sinar α dan β).

2. Metode Kimia

a. Menggunakan bahan kimia


Dalam pensterilan digunakan bahan kimia seperti alkohol 70%, fenol 5%.

b. Sterilisasi gas

Dalam pensterilan digunakan bahan kimia dalam bentuk gas atau uap,

seperti etilen oksida, formaldehid, propilen oksida, klorin oksida, beta

propiolakton, metilbromida, kloropikrin. Digunakan untuk sterilisasi bahan yang

termolabil seperti bahan biologi, makanan, plastik, antibiotik. Aksi

antimikrobialnya adalah gas etilen oksida mengadisi gugus –SH, -OH, -COOH,-

NH2 dari protein dan membentuk ikatan alkilasi sehingga protein mengalami

kerusakan dan mikroba mati.

3. Metode mekanik

Filtrasi

Digunakan untuk sterilisasi larutan yang termolabil. Penyaringan ini


menggunakan filter bakteri. Metode ini tidak dapat membunuh mikroba,
mikroba hanya akan tertahan oleh pori-pori filter dan terpisah dari filtratnya.
Dibutuhkan penguasaan teknik aseptik yang baik dalam melakukan metode ini.
Filter biasanya terbuat dari asbes, porselen. Filtrat bebas dari bakteri tetapi
tidak bebas dari virus.
Pustaka :
• Scoville’s : The Art of Compounding, Glenn L. Jenkins et.all., 1957, New
York : MC-Graw Hill Book Companies.
• Pharmaceutical Technology, Eugene L. Parrott, 1974, Minneapolis :
Burgess Publishing Company.
• Teori dan Praktek Farmasi Industri (terjemahan), Leon Lachmann et.all.,
1998, jakarta : UI-Press.
• Remington’s Pharmaceutical Sciences 18 th Edition, A.R. Gennaro, 1990,
Pennsylvania : Mack Publishing Company.
• Parenteral Manual Technology, Michael J. groves, 1988, USA : Interpharm
Press Inc.
• Validation of Pharmaceutical Processes (electronic version), James
Agalloco, 2008, USA : Informa Healthcare Inc.
(http://rgmaisyah.wordpress.com/2009/03/15/metode-sterilisasi/)