Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

Sebagai salah satu organisasi besar di Indonesia disamping Nahdhatul Ulama (NU),
Persatuan Islam (Persis), al-Irsyad dan masih banyak lagi yang lainnya, Muhammadiyah
berdiri sebagai salah jawaban dengan adanya beraneka ragam dan macam pilihan yang
ditawarkan kepada masyarakat bertujuan untuk membentuk dan bersama-sama melangkah
demi mewujudkan Indonesia yang bersatu dalam bingkai pancasila dan bhineka tunggal eka.
Tentunya hal yang demikian tidak akan dapat terwujud jika tidak didukung oleh
adanya kemauan ingin melakukan perubahan yang berarti bagi bangsa sekaligus juga ingin
berkontribusi konkrit demi tercapainya harapan tersebut. Adanya kesamaan dalam ideologi,
visi, misi serta tujuan demi untuk kemaslahatan bersama adalah faktor yang menjadikan
organisasi kemasyarakatan (ormas) Muhammadiyah menjadi besar seperti sekarang ini.
Dapat kita lihat sekarang ini bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi
kemasyarakatan bukan hanya berkecimpung dalam bidang agama saja, akan tetapi
Muhammadiyah sudah memiliki amal usaha-amal usaha yang bertujuan memberikan alernatif
pilihan kepada masyarakat untuk menentukan pilihan. Sebagai organisasi kemasyarakatan
Muhammadiyah tidak menutup diri dari hal-hal yang bersifat dinamis.
Pesatnya perkembangan zaman sekarang ini dan tuntutan terhadap sumber daya
manusia yang memiliki kualifikasi yang mumpuni tentunya disertai oleh tersedianya sumber
daya yang berupa fasilitas, merupakan tantangan dari pesatnya perkembangan zaman saat ini.
Sebagai antisipasi dari hal yang demikian maka Muhammadiyah senantiasa melakukan
evaluasi demi mengimbangi zaman yang senantiasa dinamis.
Jika dalam hal-hal yang bersifat kemaslahatan Muhammadiyah mempunyai sikap
bahwa perubahan yang terjadi selama tidak menyinggung terhadap masalah fundamental
(ideologi) maka hal itu harus diikuti karena era saat ini adalah era kompetisi yang mana
antara satu dengan yang lainnya saling berlomba untuk menunjukkan kelebihannya. Dari
kelebihan yang dipunyai inilah maka akan menjadi daya tarik tersendiri atau ciri khas dari
suatu gerakan atau komunitas saat ini.
Sudah barang tentu dalam tubuh organisasi sendiri terjadinya perubahan bukan untuk
membelokkan haluan organisasi bahkan melencengkan dari tujuan semula. Akan tetapi
perubahan yang dilakukan di tubuh organisasi sendiri berutujuan untuk supaya organisasi
dapat eksis dan bisa menjawab tantangan zaman. Dari sini dapat diketahui bahwa adaptasi
sebuah organisasi menjadi sebuah keniscayaan sehingga kelangsungannya di masa yang akan
datang menjadi sebuah kepastian.
Oleh karena itu sangatlah mustahil jika terdapat pernyataan untuk menjadi organisasi
yang modern maka segala hal dalam tubuh organisasi harus mengikuti kemodernan yang
sedang berlangsung. Jika hal ini diterapkan maka kelangsungan dari organisasi tersebut bisa
menjadi rapuh bahkan akan tinggal kenangan saja. Padahal jika sebuah organisasi yang sudah
ada sejak lama dan masih eksis hingga saat ini tentunya bukan organisasi itu yang harus
mengikuti perkembangan yang sangat dinamis akan tetapi bagaimana sistem yang telah ada
bisa beradaptasi dan mewarnai perkembangan zaman yang sangat dinamis.

1
A. Visi dan Misi

Mutlaknya visi dan misi dalam sebuah organisasi adalah sebuah keharusan. Karena
keduanya merupakan kunci utama dalam menjalankan segala kegiatan dalam
organisasi/lembaga tersebut. Visi dan misi menempati posisi paling atas sebelum perencanaan
dalam organisasi. Visi menggambarkan tujuan atau kondisi dimasa depan yang mana adanya
keinginan dari mereka yang terlibat di dalamnya dalam pencapaian target dari visi yang
diikrarkan pada pertama kali organisasi dibikin atau terjadinya pergantian (regenerasi).1
Sedangkan misi adalah kegiatan utama yang harus dilaksanakan atau bisa juga berarti
fungsi yang diemban suatu organisasi untuk mencapai misi yang sudah dirancang. Pernyataan
misi suatu organisasi harus cukup luas didalamnya mengakomodasikan perkembangan
organisasi di masa yang akan datang. Misi organisasi berisi tentang alasan utama keberadaan
organisasi atau lembaga. Falsafah, tata nilai dan kultur organisasi juga tercermin dari misi
organisasi tersebut sehingga kata misi selalu bergandengan dengan kata visi, yang menjadi
dasar dari sebuah kegiatan yang menjurus pada sebuah tujuan.2
Dari penjelasan tersebut dapat kita ketahui bahwa Muhammadiyah sebagai sebuah
wadah organisasi yang menisbahkan namanya kepada rasul terakhir nabiyullah Muhammad
SAW yang jika diartikan secara harfiah berarti “pengikut nabi Muhammad SAW” dengan
harapan nama yang dicantumkan pada organisasi sekaligus juga menjadi lambang kebesaran
dari Muhammadiyah terdapat hubungan baik dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah
sendiri maupun dalam menapak tilasi jejak perjuangan yang pernah beliau lakukan.3
Menurut H. Djarnawi Hadikusuma penisbahan yang dilakukan oleh Muhammadiyah
mengandung perngertian : “Dengan nama itu dia bermaksud menjelaskan bahwa pendukung
organisasi itu ialah umat Muhammad SAW, dan asasnya adalah ajaran nabi Muhammad
SAW, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai
yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW, agar supaya dapat
menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam
yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia
pada umumnya.”4
Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah, sejak Anggaran Dasar pertama sampai
dengan Anggaran Dasar keempatbelas, istilah yang digunakan istilah mana semakna dengan
istilah misi adalah istilah maksud, kecuali Anggaran Dasar keempat dan kelima, yang
menggunakan hajat. Istilah tentang misi kita jumpai pada tulisan para tokoh Muhammadiyah,
terutama Ustadz H. Ahmad Azhar Basyir, MA Ketua PP Muhammadiyah periode 1990-1995,
yang secara khusus pernah menulis tentang Misi Muhammadiyah Period 2000-2005, yang

1 Ridhoreo. 2009. Visi dan Misi dalam Organisasi. (Online),


(http://generasikertasmaya.blogspot.com/2009/10/visi-dan-misi-dalam-organisasi.html, Diakses 07 Januari
2010).
2 Annisa Hafidz. 2009. Betapa Pentingnya Visi dan Misi dalam Sebuah Perusahaan atau Organisasi. (Online),
(http://anfidz.web.id/2009/10/betapa-pentingnya-visi-dan-misi-dalam-sebuah-perusahaan-atau-organisasi/,
Diakses 07 Januari 2010).
3 Sejarah Gerakan Islam di Indonesia. (Online), (http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/31/sejarah-
muhammadiyah/, Diakses 5 Januari 2010).
4 Ibid.
secara eksplisit merumuskan visi dan misi Muhammadiyah.5
Pada dokumen-dokumen tersebut, misi Muhammadiyah berkisar pada tiga pokok
substansi, yang oleh Ustadz Ahmad Azhar disebut sebagai tiga pola perjuangan
Muhammadiyah, yang secara eksplisit dirumuskan sebagai berikut : 6
1. Menegakkan keyakinan tauhid yang murni, sesuai dengan ajaran
Allah SWT yang dibawa oleh seluruh Rasul Allah, sejak nabi Adam
AS hingga nabi Muhammad SAW;
Berbicara tentang kemurnian tauhid yang merupakan ideologi dari Muhammadiyah
dan sebagai hal yang fundamental dalam beragama maupun dalam pelaksanaan
ibadah sehari-hari. Kelahiran Muhammadiyah sendiri tidak bisa terlepas dari
pribadi KH. Ahmad Dahlan yang mana pada saat itu keyakinan umat Islam sudah
mulai terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau syirik, begitu juga dalam
peribadatan kaum muslimin pada saat itu sudah mulai tercemar dengan bid’ah-
bid’ah, begitu juga dalam hal mu’amalah adanya kepercayaan terhadap hal-hal
khurafat yang telah merasuki kehidupan kaum muslimin. Bahkan dalam bidang
pemahaman agamapun tidak luput dari perhatian KH. Ahmad Dahlan, hal ini
dikarenakan masyarakat pada saat itu cenderung taklid secara buta tanpa mau
membebaskan diri untuk melakukan ijtihad. Hal-hal inilah yang amat mengganggu
dan meresahkan diri serta jiwa KH. Ahmad Dahlan sehingga beliau cenderung
bersifat melawan arus dan menjadi orang yang controversial terhadap hal-hal yang
tersebut.7
2. Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber kepada al-Qur’an,
kitab Allah SWT yang terakhir untuk umat manusia, dan sunnah
Rasulullah SAW;
Pada bagian ini KH. Ahmad Dahlan sangat terusik dengan pemahaman bagaimana
pemikiran Islam yang benar ?. Padahal Islam yang dibawa dan diajarkan oleh
Rasulullah SAW pada zaman dahulu ternyata merupakan satu pelajaran yang bisa
mempengaruhi manusia untuk mengadakan satu perombakan keadaan
masyarakatnya. Maka pada saat beliau berumur 35 tahun 1902, untuk kedua
kalinya beliau pergi ke tanah suci Makkah untuk mengobati rasa penasaran beliau
tentang kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Selama di sana beliau
mempelajari kitab-kitab yang dikarang oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim,
Muhammad bin Abdul Wahhab, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh,
Rasyid Ridha, dan lain-lain. Dalam hajinya yang kedua beliau bermukim beberapa
saat di tanah suci yang sudah mulai berkembang. Pada waktu dulu beliau membaca
kitab-kitab fiqih saja, pada waktu itu beliau mempelajari secara langsung al-Qur’an
dan al-Sunnah dengan menggunakan akal dan pikiran beliau yang cerdas dan bebas
serta dengan hati yang bersih. Dari sini beliau menemukan ujud, bentuk, faham dan
keyakinan beliau terhadap agama menjadi semakin mantap. Sejak saat itu jika
beliau mempelajari agama sudah tidak lagi melalui kitab-kitab karangan ulama,
5 Ibid.
6 Rosyad Sholeh. 2008. Misi Muhammadiyah. (Online). (http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?
option=com_content&do_pdf=1&id=1075, Diakses 5 Januari 2010).
7 Sejarah Gerakan Islam di Indonesia. (Online), (http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/31/sejarah-
muhammadiyah/, Diakses 5 Januari 2010).

3
tetapi langsung membaca ayat-ayat al-Qur’an yang dijelaskan dengan Hadist begitu
rupa.
Pada akhirnya beliau faham dan sadar bahwa agama Islam merupakan konsepsi
hidup, yang di dalam al-Qur’an sering disebut sebagai Risalah Allah (pesan
pengarahan Allah). Karena Allah menciptakan manusia di dunia tidak hanya
sekedar untuk main-main, tetapi mempunyai maksud tertentu, mempunyai program
tertentu, maka Allah memberitahukan kepada manusia tentang maksud-Nya
menciptakan manusia di dunia. Ada program yang harus dilaksanakan manusia,
kemudian Allah menurunkan agama. Yaitu yang mengandung pesan pengarahan
kepada manusia untuk hidup dan berkehidupan di dunia sesuai dengan yang
dikehendaki-Nya/diridhai-Nya. Pengarahan yang mampu membawa manusia
kepada hidup dan kehidupan yang sejahtera, bahagia dan utama. Hidup beradab,
adil dan makmur, karena Islam itu diturunkan merupakan rahmatan lil ‘alamien
(rahmat bagi semesta alam).
Setelah memahami Islam seperti itu KH. Ahmad Dahlan mempunyai pemikiran,
untuk hal yang semacam itu, agama Islam harus ditegakkan dan dijunjung tinggi di
tenga-tengah masyarakat. Ajaran-ajarannya berlaku di dalam masyarakat. Jadi,
Islam tidak cukup dikerjakan sendirian saja, karena Islam suatu persepsi hidup dari
Allah untuk manusia seluruhnya. Konsepsi hidup yang bisa menjamin
kesejahteraan, keselamatan. Karenanya harus ditegakkan di tengah-tengah
masyarakat. Jadi setiap orang Islam, di samping mengerjakan Islam untuk dirinya
sendiri, diwajibkan untuk menegakkan Islam di tengah-tengah masyarakat.8
3. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi,
keluarga dan masyarakat.
Sebagai sebuah gerakan yang pada mulanya berbentuk persyarikatan,
Muhammadiyah sebagai organisasi gerakan Islam. Bertujuan untuk memurnikan
ajaran tauhid dan ajakan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Tentunya
seruan ini bukan seruan yang hanya bersifat ajakan semata akan tetapi jauh ke
depannya diharapkan bahwa segala aktifitas baik yang bersifat duniawi terlebih-
lebih yang bersifat ukhrawi bisa menuntun ke sumber yang sebenarnya.
Dalam hal ini Muhammadiyah yang pada ideologinya menyatakan bahwa kalimat
syahadat bukan hanya bisa diucapkan di mulut saja akan tetapi hal itu bisa
membekas dan membias dalam kehidupan bermasyarakat, meskipun orang yang
disekitarnya bukan Muhammadiyah. Dari aplikasi kalimat syahadat maka akan
kelihatan bahwa seorang muslim akan bisa lebih santun, sopan dan toleran terlebih-
lebih dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang mana terdiri dari berbagai
macam ras, suku, golongan bahkan agama sekalipun.
Kepribadian yang menawan akan menjadi daya tarik tersendiri sekaligus ciri khas
dari seseorang dalam memahami agama secara kontekstual. Tuntutan dalam
memahami agama secara kontekstual memang sangat dibutuhkan dalam kehidupan
beragama di negeri kita Indonesia. Hal ini dimaksudkan supaya hal-hal dalam
Islampun ternyata juga bisa dinamis bukannya statis apalagi sampai menjadi

8 Tim pembina al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMM. 1990. Muhammadiyah Sejarah, Pemikiran dan Amal
Usaha. Malang, hal 5-6.
stagnan. Jika pemahaman seseorang terhadap agama disertai dengan
kemampuannya membaca realitas sosial dan bisa berkontribusi terhadap
pemecahan masalah dalam masyarakat maka akan terpancarlah dari dirinya tingkah
laku serta pola tindakan yang baik. Ini adalah bias yang diakibatkan oleh ajaran
agama serta sebuah kemajuan dalam memahami kondisi sehingga tergerak untuk
melakukan perubahan sosial demi kemaslahatan bersama.
Pengamalan nilai-nilai dalam agama tentunya harus dimulai dari keluarga. Dalam
hal ini Muhammadiyahpun juga tidak menutup diri dengan dinamisasi yang
berkembang. Baik yang menyangkut hal-hal apa saja yang bisa berubah dalam
Islam serta hal-hal apa saja yang sudah semestinya mutlak absolut dari Allah dan
tidak akan pernah bisa berubah meski zaman sudah berganti dan dinamisasi terus
berjalan. Sebagai tempat pendidikan pertama keluarga tentunya menginginkan
bahwa seluruh keturunan dan anak cucunya menjadi orang yang baik berguna bagi
keluarga, agama, bangsa dan Negara. Penanaman nilai moral yang dilakukan oleh
orang tua sejak kecil di lingkungan keluarga adalah bentuk riil dari pengamalan
nilai-nilai agama. Tentunya hal ini akan menjadi sia-sia belaka jika ternyata dalam
pengawasan terhadap putra ataupun putri tidak benar.

Jika diperhatikan dengan seksama bahwa tiga rumusan yang disebutkan oleh Ustadz
Ahmad Azhar telah memenuhi kriteria yang di didamba dan diidamkan oleh masyarakat yang
ingin melakukan perubahan. Tiga butir dari rumusan-rumusan yang telah disebutkan diatas
adalah ciri yang telah membentuk jati diri simpatisan Muhammadiyah, dari ciri yang khas
inilah maka pembeda antara Muhammadiyah dengan organisasi-organisasi yang telah ada
sebelumnya. Meskipun terdapat kesamaan garapan dalam bidang dakwah. Keberhasilan
dalam membangun jati diri dengan adanya misi, bahwa Muhammadiyah adalah sebuah
organisasi gerakan yang senantiasa berjuang menyebarluaskan ajaran Islam, yang selalu
selalu berpegang teguh pada keyakinan tauhid murni yang serta berusaha dengan sekuat
tenaga untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Semua aktivitas Muhammadiyah yang memasuki seluruh aspek kehidupan pada
hakekatnya merupakan perwujudan dari misi tersebut. Tidak ada aktivitas Muhammadiyah
yang terlepas dari misi tersebut, apalagi sampai bertentangan dengan semangat dan jiwa yang
terkandung di dalamnya. Bahkan tidak hanya itu. Misi Muhammadiyah tersebut tidak hanya
menjadi ciri bagi Muhammadiyah secara kelembagaan, tetapi seharusnya juga menjadi ciri
bagi setiap individu dalam Muhammadiyah. Ciri orang Muhammadiyah yang menonjol
adalah bahwa dia memiliki keyakinan tauhid yang kokoh dan sangat peka terhadap paham,
keyakinan, kepercayaan dan sebagainya yang berbau syirik, yang dapat merusak keyakinan
tauhidnya. Di samping itu, orang Muhammadiyah adalah orang yang sangat giat berdakwah
dan berusaha untuk mengamalkan ajaran Islam dalam keseharian hidupnya, tanpa bertanya
apakah hukum amalan itu wajib, sunnah atau mubah. Semua amalan yang telah dituntunkan
dan dicontohkan oleh Rasul Allah Muhammad saw, diusahakan untuk diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
Perjalanan yang sudah dilewati oleh Muhammadiyah sendiri tentunya tidak semulus
jalan raya apalagi jalan tol. Adanya hambatan dan tantangan dalam menjalankan misi dan visi
adalah sebuah ujian. Tentunya ketika menghadapi ujian maka yang diperlukan oleh

5
Muhammadiyah bukanlah bagaimana dapat melewati hal tersebut dengan mudah dan lancar.
Tapi yang perlu dirumuskan adalah bagaimana sikap Muhammadiyah sendiri menghadapi
aral yang melintang tersebut. Juga bagaimana bersikap ketika berada dalam ujian. Segala
sesuatu yang harus dipersiapkan selama ujian itu berlangsung merupakan bukti atas
keseriusan dan kesiapan dalam menghadapinya.
Terdapatnya berbagai macam model dalam melakukan antisipasi terhadap dinamisasi
saat ini adalah sebuah langkah antisipatif terhadap sebuah organisasi. Adanya program dari
misi yang diikrarkan menunjukkan bahwa hal itu adalah sebuah keinginan untuk
merealisasikan impian.
Jika dikaitkan dengan tiga butir dari rumusan yang disebutkan oleh Ustadz Ahmad
Azhar tentang hal yang berenaan dengan mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan
pribadi, keluarga dan masyarakat. Maka terobosan yang dilakukan oleh Muhammadiyah
terhadap ke-pluralan dan kemajemukan bangsa Indonesia dalam “Dakwah Kultural
Muhammadiyah” adalah sikap toleran dan keterbukaan terhadap hal ini. Usaha untuk
menanamkan nilai-nilai Islam dalam segala lini kehidupan dengan memperhatikan potensi
dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas secara luas dalam rangka
mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.9
Dinamika kebudayaan dan kemajuan peradaban umat manusia akhir-akhir ini berjalan
dengan cepatnya sehingga tantangan dan permasalahan yang dihadapi umat manusia pun
semakin kompleks. Persoalan satu belum tuntas untuk diselesaikan, kemudian datang
persoalan lain yang terkadang lebih berat yang harus dihadapi oleh umat manusia. Saking
kompleksnya persoalan dan dinamika sosial tersebut, batas-batas antara yang ma’ruf dan
mungkar sudah semakin sulit untuk dipisahkan. Dalam satu media, satu ruang, dan satu waktu
bisa menampilkan dua wajah sekaligus yaitu antara yang mungkar dan ma’ruf. Manusia
sering kehilangan patokan moral dan akhlaq, bahkan mengalami krisis moral dan spiritual.10
Untuk menghadapi dinamika sosial budaya dan perkembangan peradaban yang
semakin kompleks tersebut diperlukan ikhtiar atau kreativitas umat dalam rangka
mengembangkan dan menjaga amanah Allah SWT, yaitu ajaran Islam sebagai rahmatan
lil’alamien. Salah satu kreatifitas tersebut dapat dilakukan dengan melakukan dinamisasi dan
purifikasi (pemurnia) melalui dakwah Islam dalam bentuk strategi kebudayaan dan strategi
perubahan sosial. Bagi Muhammadiyah strategi dakwah Islam dalam bentuk strategi
kebudayaan dan perubahan sosial di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang kompleks
tersebut diwujudkan melalui dakwah kultural.11
Melalui dakwah kultural Muhammadiyah melakukan ikhtiar secara terus-menerus
untuk terwujudnya Islam sebagai rahmatan lil’alamien. Aktualisasi rahmatan lil’alamien
tidak hanya berwujud hasil yang dapat dinikmati secara langsung dan sekali jadi, tetapi yang
lebih penting adalah menyangkut proses yang berkesinambungan dengan berbagai
pendekatan, metode, model, dan teknik yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan hidup
umat manusia di dunia dan akhirat secara simultan.12
Islam sebagai rahmatan lil’alamien mengandung pesan tentang kehidupan universal

9 Suara Muhammadiyah. 2005. Dakwah Kultural Muhammadiyah. Yogyakarta, hal vii.


10 Suara Muhammadiyah. 2005. Dakwah Kultural Muhammadiyah. Yogyakarta, hal 4.
11 Ibid.
12 Ibid.
bagi semua umat manusia baik muslim maupun non-muslim. Anjuran Islam untuk berlaku
arif dalam membaca situasi dan kondisi realitas yang terjadi di masyarakat yang bersifat
ma’ruf, dan mencegah kemungkaran dengan memperhatikan kecenderungan manusia beserta
sifat dan karakternya. Keadaan dan kecenderungan manusia secara individual maupun
koklektif menjadi pertimbangan dasar bagi dakwah Islam sebagai proses yang saling
mempengaruhi antarindividu, individu dengan kelompok, dan antarkelompok yang
melibatkan aspek-aspek dinamika pemahaman dan kesadaran, penolakan dan penerimaan,
kejumudan dan perubahan. Karena itu dakwah Islam sebagai proses yang saling
mempengaruhi diimplementasikan secara arif (hikmah), terbuka, dialogis, dan manusiawi.
Dakwah Islam dilakukan sebijaksana mungkin dengan memperhitungkan situasi dan kondisi
objekdakwah, baik kemampuan intelektual masyarakat (biqadri ‘uqulihim) maupun kondisi
psikologi perkembangan mereka.13
Keanekaragaman sekaligus kecenderungan yang heterogen itulah yang justru
mendorong dakwah Islam untuk mengantisipasi dan meresponnya melalui berbagai
alternative pendekatan dan metode yang tepat. Dalam kaitan tersebut terkandung makna
bahwa dakwah berarti menyampaikan Islam dalam bahasa kebudayaan dan bahasa
masyarakat, yang dalam al-Qur’an disebut bilisani qaumihi.14
Makna bilisani qaumihi adalah suatu upaya untuk menyampaikan, menerjemahkan,
dan menafsirkan ajaran Islam dengan memahami dan mengapresiasi konteks psikologis,
sosial, ekonomi, demografis dan kondisi obyektif dari sasaran dakwah. Bahasa dakwah harus
lekat dengan konteks sejarah dan cultural masyarakatnya, karena mereka lahir dari orang tua,
ras, tanah air, jenis kelamin dan latar belakang sosial tertentu. Bahasa al-Qur’an sendiri
merupakan kongkretisasi firman Allah SWT yang tidak lepas dari konteks kehidupan
Rasulullah SAW. Karena itu, komunikasi dalam dakwah membutuhkan pendekatan dan cara-
cara khusus untuk menafsirkan dan menyampaikan kebenaran Islam dalam dimensi ruang dan
waktu yang menjadi tenpat bagi masyarakat untuk berada.15
Muhammadiyah memandang bahwa objek dakwah itu sangat plural (beraneka ragam).
Kelompok masyarakat yang disebut santri, abangan, priyayi, tradisionalis, modernis,
sinkretik, lokal, dan global memiliki tahap-tahap dan kualitas keimanan yang berbeda-beda.
Keberagaman ini merupakan sebuah proses sosial-budaya yang dapat berubah searah
perubahan kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan nilai-nilai tertentu baik secara khusus
maupun universal.16
Dalam konteks pemikiran sebagaimana dikemukan di atas maka dakwah kultural
Muhammadiyah bermaksud untuk menyebarluaskan universalitas Islam sebagai rahmat bagi
semua umat manusia secara luas ke berbagai individu dan kelompok dalam lingkungan sosial
yang beragam baik di tingkat lokal maupun global. Dakwah kultural ini dilakukan melalui
cara-cara yang bijak dan dialogis sesuai dengan kapasitas intelektual dan psikologi
perkembangan manusia dan tanpa paksaan dengan mempertimbangkan keunikan dan
keanekaragaman cultural dan historis obyek dakwah.17
Adanya kesinambungan dalam gerakan dakwah Muhammadiyah harus selalu
13 Suara Muhammadiyah. 2005. Dakwah Kultural Muhammadiyah. Yogyakarta, hal 4-5.
14 Ibid hal 6.
15 Ibid hal 7.
16 Ibid hal 8.
17 Ibid hal 9.

7
memperhatikan kesinambungan dengan upaya-upaya dakwah generasi terdahulu. Pendekatan
kultural dalam dakwah bukanlah sesuatu yang baru. Sumber normative dan historisnya dapat
dikaji dalam al-Qur’an, sunnah Nabi dan gagasan pembaruan KH. Ahmad Dahlan.
Diturunkannya al-Qur’an secara bertahap dalam rentang waktu 23 tahun adalah respons
terhadap problem aktual yang dihadapi Rasulullah SAW dan umatnya pada waktu itu.
Adanya tahapan ini memberi pelajaran tentang perubahan yang berproses panjang dan
berliku-liku untuk menjadi muslim dan meraih masyarakat Islam ideal.18
Al-Qur’an tidak semata menegasikan seluruh kultur yang sudah berkembang maupun
yang sedang berkembang, namun dalam beberapa hal ia memberikan afirmasi, melegitimasi
dan menspiritualisasikannya dengan nilai-nilai Islami. Al-Qur’an benar-benar menerapkan
pendekatan kemanusiaan dan kultural sesuai dengan semangat zamannya. Demikian pula
Sunnah Rasul yang lahir dari proses dialogis dan refleksi atas tradisi dan kehidupan
masyarakat pada waktu itu.19
Spirit pendekatan kultural yang dicontohkan al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad
SAW banyak mengilhami gerakan pembaruan KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah.
Sejumlah besar kalangan tertarik menjadi anggota dan simaptisan Muhammadiyah melalui
berbagai jalan. Di samping lewat cara konvensional, KH. Ahmad Dahlan juga meluruskan
arah kiblat Masjid Agung Kraton Yogyakarta, melakuakan dialog dan diskusi, mendirikan
lembaga pendidikan, panti asuhan, rumah sakit, dan mendorong peran sosial kaum
perempuan. Melalui banyak pintu itu, beragam kelompok masyarakat terlibat aktif dalam
gerakan Muhammadiyah. Hingga kini dakwah kultural seperti itu masih dipandang perlu
dengan penekanan-penekanan khusus pada prinsip memanusiakan manusia, memandang
manusia senantiasa dalam proses keberagaman, mengakui keragaman individual dan
kelompok dalam setiap proses dakwah, dan menempatkan agama benar-benar berfungsi
sebagai rahmat dalam kehidupan.
Sebagai gerakan tajdid, orientasi dakwah Muhammadiyah meliputi purifikasi dan
dinamisasi. Purifikasi dimaksudkan sebagai usaha pemurnian yang diarahkan pada hal-hal
yang prisip dalam ajaran Islam terutama dalam bidang aqidah, ibadah dan akhlaq. Dinamisasi
adalah aktualisasi Islam terutama dalam mu’amalah bagi pemecahan persoalan kehidupan
sosial, pendidikan, ekonomi, budaya dan politik umat secara praktis.20
Sejak awal Muhammadiyah telah bekerja dengan segala daya dan kemampuan untuk
mencerdaskan dan mencrahkan bangsa. Hingga abad ke-21, Muhammadiyah terus berkiprah
dan belum ada tanda-tanda surut dari pentas nasioanal meski situasi dan tantangan yang
dihadapi semakin sulit. Ketahanan Muhammadiyah menghadapi pusaran arah perubahan
bertumpu pada dinamisasi. Dinamisasi membuat Muhammadiyah mampu menangkap
kebutuhan masyarakat dari masa ke masa. Ketika kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan
dan kurangnya kesehatan melanda bangsa Indonesia pada masa pra dan pasca kemerdekaan,
Muhammadiyah mendirikan sekolah, memberikan santunan pada kaum dhuafa, dan
mendirikan pusat-pusat kesehatan masyarakat.21
Kini tantangan semakin kompleks dan keragaman kultural masyarakat Indonesia

18 Ibid .
19 Ibid hal 11.
20 Ibid hal 12.
21 Ibid hal 14.
menjadi yang menonjol baik di tataran lokal maupun global. Karena itu, diperlukan
perubahan orientasi gerakan yang lebih dinamis agar menyentuh aspek-aspek multicultural
dan dinamika masyarakat yang semakin kompleks. Transisi dari era orde baru ke era
keterbukaan telah membuka wacana yang selama ini tabu seperti tema hak-hak asasi manusi,
pluralisme dan multikulturalisme, kebebasan, iklusivisme, kesetaraan gender, dan domain-
domain moralitas publik lainnya. Keragaman masyarakat dan kompleksitas problem
kebangsaan telah melahirkan masalah yang serius bagi gerakan dakwah. Semua itu
membutuhkan pendekatan kultural yang bervariasi dengan memandang perubahan ruang-
waktu dan sosial sebagai objeknya. Dalam kerangka ini pula dinamisasi tidak hanya
mementingkan banyaknya jumlah (aktsaru ‘amalan), tetapi kualitas (ahsanu ‘amalan) dari
gerakan dakwah Muhammadiyah.22
Dalam hal ini Muhammadiyah berpegang pada prinsip memelihara warisan yang baik
sembari mengambil dan menciptakan sesuatu yang baru dan terbaik sebagai bagian dari dari
ijtihad yang dilakukannya Muhammadiyah memandang penting untuk memikirkan secara
rasional tentang tradisi yang masih perlu diapresiasi atau diterima setelah diberi pemaknaan
ulang, menerima tradisi lain yang lebih baik dan bila perlu menciptakan tradisi baru yang jauh
lebih baik sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang universal.23
Dakwah sebagai aktifitas utama gerakan Muhammadiyah untuk menegakkan dan
menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,
tidak mungkin dilaksanakan tanpa berhubungan dengan upaya membangun kebersamaan.
Kesadaran ini tumbuh dari watak dasar manusia yang hanya mampu mengembangkan
hidupnya secara berjamaah. Hal ini sejalan dengan hakekat Islam yang meletakkan kesadaran
jamaah (sosial) pada posisi yang lebih tinggi daripada kepentingan individual.24
Muhammadiyah sendiri adalah jam’iyyah, perhimpunan sejumlah orang yang
bekerjasama dalam organisasi untuk mencapai cita-cita sosial. Dari model jam’iyyah ini
kemudian dibangun suatu jam’iyyah ‘amaliyah untuk pencerahan paham keagamaan,
pencerdasan bangsa, pemberdayaan sosial-ekonomi dan politik, serta penyehatan individu,
keluarga dan lingkungan.25
Dakwah kultural diperkenalkan sebagai konsep yang mencakup konsep-konsep
dakwah Muhammadiyah yang selama ini berjalan, dengan perluasan ruang lingkup,
pendekatan dan strategi guna meningkatkan dan memperluas cakupan gerakan dakwah.
Meskipun demikian, dakwah cultural tidak semata dipahami sebagai strategi kebudayaan dan
strategi perubahan sosial dalam konteks budaya semata, akan tetapi juga membangun arus
baru berupa strategi kebudayaan yang bernuansa Islami dalam konteks lokal dan global.26
Dengan sudut pandang dan cara pemahaman yang komprehensif tersebut, maka
dakwah kultural tidak perlu disalahpahami sebagai sikap Muhammadiyah untuk menerima
tradisi apa adanya, bersikap lunak terhadap budaya lokal, dan mengubah wajah
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahy mungkar. Dakwah kultural lebih
dimaksudkan untuk menjawab tantangan zaman, dengan seluruh kewenangannya untuk
memberikan apresiasi terhadap budaya yang berkembang, serta menerima dan menciptkan
22 Ibid hal 15.
23 Ibid hal 16.
24 Ibid.
25 Ibid hal 17.
26 Ibid hal 18.

9
budaya yang baru dan lebih baik sesuai dengan pesan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamien.

B. Kesimpulan
Sebagai sebuah organisasi Muhammadiyah bertujuan untuk menjaga kemurnian
tauhid dan membersihkan keyakinan-keyakinan dari segal bid’ah, khurafat, tahayul dan
perkara-perkara yang dapat mencemari bahkan menjerumuskan manusia ke jurang syirik.
Gerakan tajdid yang diserukan oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai gebrakan sekaligus
ajakan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, hal ini juga merupakan manifestasi
dari perjalanan beliau yang kedua kalinya ke tanah suci. Selama di sanalah beliau
mendapatkan pencerahan tentang bagaimana memahami agama dengan baik dan benar.
Internalisasi ajaran Muhammadiyah baik dalam diri pribadi, keluarga terlebih
masyarakat adalah hal yang mutlak bagi Muhammadiyah.
Adanya konsep dakwah kultural merupakan sebuah dinamisasi yang direspon oleh
Muhammadiyah. Ini merupakan salah satu jawaban dari dinamika zaman dan sebagai
alternatif dari berbagai macam teori dan model dakwah yang sudah ada.
Dakwah kultural yang digagas oleh Muhammadiyah bukannya untuk memberangus
kebudayaan yang telah telah ada akan tetapi bagaimana kebaudayaan yang sudah ada tersebut
bisa disisipi dengan pesan-pesan Islam sehingga tujuan yang dicanangkan oleh
Muhammadiyah bisa dicapai dan semboyan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamien bisa
dirasakan baik dari kalangan muslim sendiri maupun kalangan non-muslim.

Daftar Pustaka
Suara Muhammadiyah. 2005. Dakwah Kultural Muhammadiyah. Yogyakarta.
Tim Pembina Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Malang. 1990.
Muhammadiyah Sejarah, Pemikiran dan Amal Usaha. Pusat Dokumentasi dan Publikasi
Universitas Muhammadiyah Malang.
Ridhoreo. 2009. Visi dan Misi dalam Organisasi. (Online),
(http://generasikertasmaya.blogspot.com/2009/10/visi-dan-misi-dalam-organisasi.html, Diakses 07
Januari 2010).
Annisa Hafidz. 2009. Betapa Pentingnya Visi dan Misi dalam Sebuah Perusahaan atau Organisasi.
(Online), (http://anfidz.web.id/2009/10/betapa-pentingnya-visi-dan-misi-dalam-sebuah-
perusahaan-atau-organisasi/, Diakses 07 Januari 2010).
Sejarah Gerakan Islam di Indonesia. (Online), (http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/31/sejarah-
muhammadiyah/, Diakses 5 Januari 2010).
Rosyad Sholeh. 2008. Misi Muhammadiyah. (Online).
(http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1075,
Diakses 5 Januari 2010).

11