Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN TOTAL PRAKTIKUM

ILMU HEWAN LABORATORIUM

Arif Firmansyah(2009/287831/DKH/1569)

Assisten : Andre Noor Syamsy(198070/KH/5770/06)

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2010
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN TOTAL PRAKTIKUM ILMU HEWAN LABORATORIUM

Laporan ini telah diselesaikan pada hari . . . tanggal . . . 2010,di


laboratorium Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran hewan,Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta .

Assisten, Praktikan,

Andre Noor Syamsy ArifFirmansyah

(198070/KH/5770/06) (2009/287831/DKH/1569)

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2010
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Alhamdulillahirabbil ‘alamin .Pertama tama kita panjatkan puji syukur atas kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita .Sehingga
kita masih dapat merasakan kesehatan jasmani dan rohani hingga sekarang .Tak ada
kata yang pantas selain bersyukur dan memuji keagungan Allah SWT .

Saya disini selaku mahasiswa D3-Kesehatan Hewan mengucapkan banyak terima


kasih kepada :

• Allah SWT

• Orang tua

• Ratri Fandayani

• Teman-teman D3-Kesehatan Hewan 2009

• Dosen Pembimbing

• Asisten dosen

• Dll , .

Yang telah banyak membantu terselesaikannya laporan praktikum “ILMU HEWAN


LABORATORIUM” guna memenuhi tugas yang diberikan dalam praktikum mata
kuliah tersebut .Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam laporan
ini .Mohon koreksi dari dosen pembimbing maupun asisten dosen sekalian .

Demikian sedikit pengantar dari saya ,semoga ini bermanfaat bagi saya pribadi dan
para pembaca .Amin.

Wassalamualaikum wr.wb.

Yogyakarta , April 2010


Penyusun

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HEWAN LABORATORIUM

MENCIT DAN TIKUS

(Mus musculus dan Rattus norvegicus)

Arif Firmansyah(2009/287831/DKH/1569)

Assisten : Arga

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA


YOGYAKARTA

2010

A. TUJUAN

- Dapat menghandling yikus dan mencit dengan baik dan benar

- Mengetahui cara menimbang berat badan tikus dan mencit

- Mengetahui cara perlakuan dan penyuntikan

- Mengetahui cara pengambilan darah,anastesi,euthanasi,dan nekropsi yang


benar

B. TINJAUAN PUSTAKA

- Mencit (Mus musculus)

Mencit adalah hewan yang sering digunakan dalam percobaan di


laboratorium.Hewan ini pada awalnya adalah hewan liar ,biasanya banyak
ditemukan di dekat gedung-gedung atau daerah yang banyak makanan
dan ada tempat berlindung .Mencit liar diambil dan dipelihara secara
selektif sehingga menghasilkan mencit yang sering kita gunakan dalam
praktikum .Pada dasarnya mencit laboratorium berasal dari marga yang
sama dengan mencit liar .

Berat badan mencit liar dengan mencit laboratorium pada awalnya hampir
sama.Biasanya pada umur 4 minggu berat badannya sekitar 18-20 gram
dan setelah dewasa sekitar 30-40 gram. Namun setelah dilakukan usaha
ternak mencit selama puluhan rahun lalu sekarang sudah banyak
ditemukan mencit dengan berbagai macam warna bulu dan timbul
berbagai galur dengan berat badan yang berbeda-beda pula.

Mencit juga mempunyai beberapa strain .Pada mencit percobaan


diketahhui antara lain strain DDW dan strain swiss webster.

Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri dari mencit :

a. Data biologis mencit

Lama hidup : 1-2 tahun ,kadang bisa sampai 3


tahun

Lama produksi ekonomis : 9 bulan


Lama bunting : 19-21 hari

Kawin sesudah beranak : 1-24 jam

Umur disapih : 21 hari

Umur dewasa : 35 hari

Umur dikawinkan : 8 minggu

Siklus kelamin : poliestrus

Siklis estrus : 4-5 hari

Lama estrus : 12-14 jam

Perkawinan : pada waktu estrus

Ovulasi : dekat akhir periode


estrus,spontan

Fertilisasi : 2 jam sesudah kawin

Berat dewasa : jantan(20-40gr),betina(18-35)

Berat lahir : 0,5 – 1,0 gram

Jumlah anak : rata-rata 6,bisa juga 15

Puting susu : 10 puting(3 psg di dada,2 psg di


perut)

Perkawinan kelompok : 4 betina + 1 jantan

Kromosom : 2n=40

Aktifitas : nokturnal(malam

1 0 0 3

Gigi : 2 (I C P M)gigi seri tmbh trs

1 0 3 3

b. Fungsi pembau

Pembau pada mencit sangatlah peka.Biasanya mencit menggunakan


indra pembau nya untuk :

• Mendeteksi pakan
• Mendeteksi predator

• Mendeteksi signal(feromon)

c. Penglihatan

Penglihatan mencit termasuk jelek ,karena pada retina nya sedikit


cones sehingga tidak dapat melihat warna .

d. Tingkah laku

Mencit adalah hewan sosial yang hidupnya


berkelompok.Pengelompokan mencit sebaiknya setelah disapih.

e. Ransum

• Protein kasar : 20-25 %

• Lemak : 5-12 %

• Karbohidrat : 45-60 %

• Serat : 25 %

f. Komsumsi

• Ransum : 3-5 gram /hari /ekor

• Umum : 4-6 gram /hari /ekor

• Krnsiksn BB : 1 gram /hari

g. Penyakit mencit

• Cacar mencit (Ectromelia)

• Tyzzer

• Pseudotuberkulosis

• Salmonellosis
• LCM

• Epidermie diarrhea of infant mice(EDIM)

• Parasit

- Tikus (Rattus novergicus)

Pada dasarnya tikus laboratorium semarga dengan tikus liar ,namun nama
ilmiah tikus liar ini berbeda ,yaitu Rattus rattus.

Berat badan tikus laboratorium pada umur 4 minggu biasanya sekitar 35-
40 gram ,dan setelah dewasa bisa mencapai 200-250 gram .Bert badan ini
lebih ringan dibanding dengan berat badan tikus liar yang bisa mencapai
sekitar 500 gram pada saat dewasa .

Tikus tidak dapat muntah karena tidak mempunyai kantung empeddu dan
tempat esofagus bermuara di lambung .Ini adalah keunikan dari struktur
tikus yang tidak dimiliki hewan lain.

a. Data biologis tikus

Lama hidup : 2-3 tahun,kadang bisa sampai 4


tahun

Lama produksi ekonomis : 1 tahun

Lama bunting : 20-22 hari

Kawin sesudah beranak : 1-24 jami

Umur disapih : 21 hari

Umur dewasa : 40-60 hari

Umur dikawinkan : 10 minggu

Siklus kelamin : poliestrus

Siklis estrus : 4-5 hari

Lama estrus : 9-20 jam

Perkawinan : saat estrus

Ovulasi : 8-11 jam setelah estrus,spontan

Fertilisasi : 7-10 jam sesudah kawin

Berat dewasa : jantan(300-


400gram),betina(250-300 gram)
Berat lahir : 5-6 gram

Jumlah anak : rata-rata 9,bisa sampai 20

Puting susu : 12 puting(3 psg di dada,3 psg di


perut)

Perkawinan kelompok : 3 betina + 1 jantan

Kromosom : 2n=42

Aktifitas : nokturnal(malam)

1 0 0 3

Gigi : 2 (I C P M) gigi seri tumbuh


terus

1 0 0 3

b. Tingkah laku

Termasuk hewan sosial asalkan pengelompokannya dengan usia yang


sama .

c. Ransum

Tikus senang makanan dalam bentul pelet ,tepung ,cair ,ataupun gel.
Keuntungannya makanan tidak banyak yang sisa dan tidak berdebu .

d. Penyakit

• Chronic respiratory disease

• Salmonellosis

• Koksidosis

C. MATERI DAN METODE

Materi :
- Alat :

a. Timbangan

b. Spet sedang

c. Spet kecil

d. Kanul bengkok

e. Kapas

f. Corong seng

g. Mikrohematokit

h. Papan fiksasi

i. Jarum

j. Gunting

k. Scalpel

l. Eppendorf

m. Selongsong

n. Ram kawat

- Bahan :

a. Larutan glukosa

b. Cairan giemza

c. EDTA

d. Alkohol 70 %

e. Chloroform

f. Mencit

g. Tikus

Metode :

- Handling dan restrain

handling mencit,
kita memegang sepertiga ujung ekor dengan tangakn kiri

mencit diangkat.

restrain mencit,

sepertiga ujung ekor kita pegang

ibu jari dan telunjuk tangan yang lain memegang bagian kuduk
,kelingking menjepit ekor .

handling tikus,

kita memegang sepertiga pangkal ekor dengan tangan kiri

tikus diangkat(hampir sama dengan mencit)

restrain tikus,

kita memegang sepertiga dari ekor tikus

ibu jari dan telunjuk tangan kiri memegang bagian kuduk,kelingking


menjepit ekor .

- Penimbangan

handling

masukkan ke dalam selongsong

timbang dan catat hasil nya .


- Sexing

handling

lihat pada kelaminnya

(Apabila jarak anus dengan papila genitalis dekat maka betina dan apabila
jarak anus dengan papila genitalis dekat dan terdapat scrotum maka itu
jantan.)

- Perlakuan dan penyuntikan

a. Perlakuan Oral (P.O)

Kita siapkan alat dan bahan yang akan digunakan

handling tikus/mencit

suntikkan larutan glukosa yang sudah dimasukkan dalam kanul


melalui kanul hingga tekak .

b. Prosedur penyuntikan

• Sub Cutan(S.C)

Kita menyiapkan spet yang sudah diisi cairan giemza

handling tikus/mencit

suntikkan cairan giemza pada kulit longgar di daerah punggung


.

• Intra Musdcular(I.M)

Kita menyiapkan spet yang sudah diisi cairan giemza

Handling
kita oleskan sedikit alkohol pada M.Bicep Femoris

kita menyuntikan cairan giemza pada bagian M.Bicep Femoris

- Pengambilan darah

Plexus Retroorbitalis.

kita siapkan alat yang dibutuhkan (mikrohematokrit)

Handling tikus

masukkan mikrohematokrit pada bagian bawah bola mata


tikus/mencit,arahkan ke foramen opticus

putar mikrohematokrit hingga melukai dan keluar darah ,

tampung darah tersebut pada tempat yang telah disediakan.

Cara yang lain adalah mengambil pada bagian dada

anastesi

Kita rasakan pada costae ke 3-4 ,apabila ada denyut jantung kita suntikkan
dengan arah tegak lurus

.Goyang-goyangkan lalu tampung darah .

- Anastesi

inhalasi ,

kita siapkan corong yang sudah diisi dengan chloroform


handling tikus/mencit

masukkan kepala ke dalam corong tersebut

Tunggu beberapa detik sampai tikus/mencit tersebut pingsan.

- Euthanasi

dislokasi cervical

leher arah cranial dijepit dengan talunjuk dan jari tengah tangan kanan

leher ke arah caudal dijepit dengan telunjuk dan jari tengah tangan kiri

tarik secara bersamaan leher hingga kepala ke arah cranial dan leher
hingga ekor ke arah caudal .

- Nekropsi

Mencit kita rebahkan dorsal

ekstremitas difiksasi dengan jarum

ruang peritonium dibuka dengan incisi pada abdomen

ruang dada dibuka dengan memotong tulang rusuk pada bagian sternum

lakukan pengamatan .

D. HASIL PRAKTIKUM
- Handling dan restrain

Pada praktikum kami berhasil melakukan handling dan restrain.

- Penimbangan

Dalam penimbangan kami mendapatkan berat badan tikus 130 gram dan
mencit 20 gram

Tikus : (130 gr + 100 gr) - 100 gr =130 gr

Mencit : (20 gr + 40 gr) - 40 gr = 20 gr

- Sexing

Berkelamin betina karena jarak anus dengan papila denitalis nya jauh dan
tidak terdapat scrotum .

- Perlakuan.penyuntikan

• Per Oral(P.O)

Kita menggunakan kanul bengkok yang berisi larutan glukosa.


Dalam praktikum ini kami berhasil melakukannya dengan
baik .

• Sub Cutan(S.C)

Menggunakan spet kecil berisi cairan giemza dan


menyuntikkan pada daerah punggung ,dan kami berhasil
melakukannya .

• Intra Muscular(I.M)

Menggunakan spet berisi cairan giemza yang disuntikkan pada


M.Bicep Femoris,dan kami berhasil melakukannya .

- Pengambilan darah

Dalam percobaan ini kami berhasil melakukannya dengan baik walau


banyak darah yang tercecer .
- Anastesi

Dengan metode inhalasi .Chloroform dimasukkan ke dalam corong dan


memasukkan kepala mencit/tikus tersebut ke dalam corong tersebut .Kami
berhasil melakukannya dengan sangat baik .

- Euthanasi

Menggunakan metode dislokasi cervical .Kami dapat melakukannya


dengan baik .

- Nekropsi

- Dalam nekropsi pertama kita rebah dorsal dan ekstremitas difiksasi sengan
jarum.Ruang peritoneum dan rongga dada dibuka drngan memotong rusuk
.Setelah itu lkami lakukan pengamatan .dan ternyata organ dalam nya
masih normal semua .

E. KESIMPULAN

- M.Bicep Femoris dan Intra peritoneal terletak di daerah antara dua puting
susu bagian belakang .

- Pengambilan darah dapat dilakukan pada arteri caudalis .

- Euthanasi dapat dilakukan dengan anastesi berlebih,dislokasi cervicalis


,dan emboli udara .

- Fungsi dari nekropsi adalah untuk mengetahun keadaan organ dalam


apakah masih normal atau tidak ,dan juga untuk sexing apabila dalam
proses sexing dari luar belum jelas kelaminnya .
F. DAFTAR PUSTAKA

- Kusumawati, Diah. 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Perss : Yogyakarta
- Petter, L.W. 1963. Animal for Research Principles of Breeding and
Management. Academic Press : London
- Smith, J.B. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan
Percobaan di Daerah Tropis. UI Press : Jakarta
LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HEWAN LABORATORIUM

KELINCI

(Oryctolagus cuniculus)
Arif Firmansyah(2009/287831/DKH/1569)

Assisten : drh.Pramono

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2010

A. TUJUAN

- Dapat menghandling kelinci

- Dapat melakukan penimbangan.

- Dapat melakukan perlakuan dan penyuntikan

- Dapat menentukan jenis kelamin

- Dapat melakikan pengambilan sampel darah

B. TINJAUAN PUSTAKA
Kelinci merupakan hewan percobaan yang penting dan juga penting untuk
produksi daging. Kelinci berasal dari Eropa, hewan ini memliki kemampuan
hidup dalam habitat yang sangat bervariasi. Namun, kelinci berkembang biak
paling baik di daerah beriklim sedang. Di seluruh dunia, banyak bangsa dan
galur kelinci, antara lain kelinci percobaan bangsa New Zealand White
( NZW ), California, Dutch Belted dan Lops ( telinganya amat besar). Nama
lain kelinci yaitu Oryctolagus cuniculus.
Kelinci memiliki kebiasaan menarik dan sangat penting yaitu makan tinjanya
( Coprophagy ). Kelinci mengeluarkan 2 macam tinja. Pada siang hari, butir
tinja keras dan kering. Tetapi pada malam dan pagi hari tinja lembek dan
berlendir. Tinja pada malam hari akan langsung dimakandari duburdan
meliputi 30-80% dari jumlah tinja sehari-hari. Kebiasaan ini penting sebagai
pemanfaatan protein dan serat tumbuhan dari makanannya, dan juga karena
“pelet” khusus ini mengandung banyak vitamin, khususnya niasin, riboflavin,
asam pantotenat dan sianokobalamin (B12). Sukar sekali menimbulkan
defisiensi nutrisi ada kelinci karena isi sistem pencernaan berdaur terus
mencegah terjadinya kekurangan gizi.

Pada umumnya kelinci memiliki data seperti di bawah ini :

- Data biologis kelinci :

Lama hidup : 5-10 tahun, dapat sampai 12 tahun


Lama produksi ekonomis : 1-3 tahun
Lama bunting : 30-35 hari, rata-rata 31-32 hari
Umur disapih : 6-8 minggu
Umur dewasa : 4-10 bulan
Umur dikawinkan : segera sesudah timbul periode
estrus
Siklus estrus : kira-kira 15-20 hari
Periode estrus : kira-kira 11-15 hari
Siklus kelamin : poliestrus
Berat dewasa : 1,5-7 kg pada jantan, 1,4-6,5 kg pada
betina
Berat lahir : 30-70 gram, tergantung jumlah
anak dan berat induk
Aktifitas : kerpuskuler ( senja dan subuh )
Puting susu : 8 putting,(1 psg di dada, 2 psg di
perut,1 psg diselangkangan.

2 0 0 3

Gigi : 2(I C P M) gigi seri tumbuh terus


1 0 2 3

- Penyakit

a. Koksidosis

b. Pasteurellosis

c. Mucoid Enterophaty

d. Parasit luar

- Fungsi kelinci sebagai hewan laboratorium

a. Studi reproduksi : ovulasi tak spontan ,tidak ada anestrus ,sperma


mudah dikeluarkan.

b. Studi embriologi : fertilisasi ,segmentasi ,implantasi ,invitro

c. Studi bedah jantung : aterosklerosis ,hipertensi

d. Penyakit infeksius : virologi ,mikologi ,bakteri

C. MATERI DAN METODE

- Handling

Pegang kelinci dibagian kuduk dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan
kanan,

angkat secara perlahan

kemudian tahan badan dengan tangan kiri,dengan arah kaki menjauh dari
pinggang

- Penimbangan

Handling

Kelinci ditaruh diatas timbangan


Kelinci lebih bersikap tenang hingga tidak perlu dimasukkan ke dalam
selongsong.

- Sexing

Handling

Lihat jarak anus dengan papila genitalis dan alat kelaminnya

- Perlakuan dan penyuntikan

a. Per Oral(P.O)

Spet diisi dengan bahan perlakuan (Larutan glukosa)

Kelinci dihandling dengan benar

Ujung kanul dimasukkan sampai rongga tekak

Bahan perlakuan disuntikkan perlahan

Bahan perlakuan dapat juga disemprotkan antara gigi dan pipi bagian
dalam dan biarkan kelinci menelan sendiri

b. Sun Cutan(S.C)

Pada kulit longgar di bagian punggung kelinci dihandling dengan


benar

Spet diisi dengan bahan perlakuan (Cairan giemza)

Pada kulit longgar di bagian punggung sedikit dicubit

Olesi bagian tersebut dengan Alkohol 70%


Bahan perlakuan disuntikkan perlahan pada kulit longgar di bagian
punggung tersebut

c. Intra Muscular(I.M)

Pada musculus yang tebal (M. Bicep Femoris) ,kelinci dihandling dg


benar

Spet diisi dengan bahan perlakuan (Cairan giemza)

Sebelumnya olesi bagian yang akan disuntik dengan Alkohol 70%

Tusukkan jarum tegak lurus pada tengah – tengah paha (M.Bicep


Femoris)

.Bahan perlakuan disuntikkan perlahan

- Pengambilan darah

Arteri Centralis/Vena Marginalis (v./a. telinga)

Bulu dibersihkan, diolesi alkohol untuk rangsangan agar darah dapat


berkumpul banyak

Ambil darah dengan spuit secukupnya

- Anastesi

Pada kelinci anastesi menggunakan metode inhalasi ,yaitu :

Kapas dibasahi dengan chloroform


Masukkan kapas ke dalam corong.

Masukkan kepala kelinci ke dalam corong .

Tunggu beberapa saat .

- Euthanasi

Kapas dibasahi dengan chloroform

Masukan kapas kedalam corong

Masukan kepala kelinci kedalam corong

Tunggu beberapa saat

- Nekropsi

Kelinci direbahkan dorsal

Ekstremitas difiksasi dengan jarum

Ruang peritoneum dibuka dengan incisi pada abdomen

Ruang dada dibuka dengan memotong tulang rusuk pada bagian sternum

Lakukan pengamatan

D. HASIL PRAKTIKUM

- Handling
Handling berhasil dilakukan dengan baik, kelinci dapat dihandling dengan
mudah,sehingga saat perlakuan dan penyuntikan dapat dilakukan dengan
lancar dan berhasil.

- Penimbangan

Berat badan kelinci 1,4 kg

- Sexing

Karena jarak antara papilla genitalis dengan anus dekat maka kelinci ini
berkelamin betina.

- Perlakuan dan penyuntikan

a. Per Oral(P.O)

Perlakuan per oral dilakukan dengan baik dan berhasil, meski pertama-
tama kelinci tidak mau menelan kanul ,tetapi setelah dimasukkan
sambil diputar-putar akhirnya kanul bisa masuk dan larutan glukosa
dapat disuntikkan dengan mudah.

b. Sub Cutan(S.C)

Penyuntikan dilakukan di jaringan longgar kelinci missal di daerah


kuduk dan daerah samping punggung, penyuntikan ini dilakukan
dengan spet + jarum dan larutan giemza. Penyuntikan berhasil
dilakukan dengan baik..

c. Intra Muscular(I.M)

Penyuntikan ini juga memakai alat spet + jarum dan larutan giemza.
Hampir sama dengan penyuntikan yang dilakukan di subcutan, tapi
penyuntika intra muscular dilakukan di m. biceps femoris.
Penyuntikan ini berhasil dilakukan dengan baik.

- Pengambilan darah

Mengambil sampel darah di vena lateralis pada telinga kelinci. Darah bisa
diambil, namun hanya sedikit karena darah yang terkumpul di vena sedikit
- Anastesi

Anastesi kelinci dilakukan dengan cara inhalasi yakni memasukkan kepala


kelinci kedalam corong yang sudah mengandung chloroform sampai
kelinci lemas.

- Euthanasi

Kami melakukan euthanasi menggunakan metode inhalasi, hanya saja,


ketika kepala kelinci dimasukkan ke dalam corong yang terdapat cairan
cloroform, kelinci ditunggu sampai benar-benar mati.

- Nekropsi

Dalam perlakuan nekropsi dan dilakukan pengamatan semua organ baik


itu jantung,hati,pancreas, dan organ-organ yang lain semua terlihat normal
dan baik-baik saja.

E. KESIMPULAN

- Handling dilakukan sesuai prosedur dan hati-hati untuk mempermudah


perlakuan
- Penimbangan dilakukan untuk memperoleh berat badan optimal
- Sexing dapat dilakukan dengan melihat jarak anus-genital, bentuk lubang
genital dan ada / tidaknya scrotum dan testis.
- Penyuntikan dilakukan secara intamuscular, intraperitoneal dan subkutan
- Pengambilan darah kelinci dilakukan pada vena lateralis telinga
- Anestesi dilakukan menggunakan kloroform secara inhalasi
- Eutanasi dilakukan secara emboli
- Nekropsi dilakukan untuk pengambilan organ dan uji klinis. Secara
anatomi kasar, organ-organ tampak normal
F. DAFTAR PUSTAKA

- Holmes, D.D.Clinical Medicine Of Small Mammals & Primates


2nd.Veterinary Press

- Kartadisastra, H.R. 1997. Ternak Kelinci. Kanisius : Yogyakarta

- Sarwono, B.Kelinci Potong dan Hias.Agro mediaPustaka

- Smith, J.B dan Soesanto Mangkoewidjojo.1988.Pemeliharaan, Pembiakan


dan Penggunaan Hewan Percobaan Di Daerah Tropis.Jakarta:UI press
LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HEWAN LABORATORIUM

MERPATI

(Columba livia)
Arif Firmansyah(2009/287831/DKH/1569)

Assisten : Ummi

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2010

A. TUJUAN

- Untuk mengetahui cara handling yang benar


- Untuk mengetahui cara dan hasil penimbangan
- Untuk menentukan jenis kelamin (sexing)
- Untuk mengetahui cara penyuntikan serta letaknya
- Untuk mengetahui cara dan lokasi pengambilan darah
- Untuk mengetahui cara anestesi
- Untuk mengetahui cara eutanasi
- Untuk mengetahui cara nekropsi
B. TINJAUAN PUSTAKA

Merpati termasuk jenis burung yang paling akrab dengan manusia. Salah satu
kelebihan merpati dibandingkan dengan hewan lain adalah kemampuannya
dalam mengenali medan, tidak menuntut persyaratan khusus untuk
kelangsungan hidupnya, makanan dan perawatannya tidak sulit, mudah
dikembangbiakkan, perilaku sangat jinak sehingga banyak disukai orang.
Merpati mempunyai keragaman jenis, digolongkan berdasarkan ukuran badan,
warna bulu atau bentuk tubuhnya. Berdasarkan tujuan pemeliharaan merpati
dapat dibagi menjadi 3 yaitu merpati pacuan, merpati hias dan merpati
konsumsi.
Merpati sering digunkan sebagai hewan coba untuk penelitian tentang
lingkungan hidup atau indikator terhadap pencemaran gas-gas beracun.

Taksonomi :

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Aves
Ordo : Columbiformes
Family : Columbidae
Genus : Columba
Spesies : Columba livia

Data biologis :

Umur dewasa : 4-6 bulan


Umur sapih : 1 bulan
Umur bulu tumbuh sempurna : 1 bulan
Umur produktif : 1 tahun
Jumlah telur : biasanya 2
Telur pertama : 7-10 hari setelah kawin
Banyak reproduksi dlm 1 thn : 10 kali
Massa produktif : 5 tahun
Lama mengeram : 17 hari
Dalam perkembangannya melalui proses domestikasi dan perkawinan silang,
Columba livia berubah menjadi berbagai macam merpati domestik (Columba
domestica). Merpati ini dikenal sebagai merpati jinak, kemudian berkembang
menjadi balap, merpati potong dan merpati hias termasuk merpati kipas.

Penyakit pada merpati :

- Pullorum Disease

- Salmonellosis

- Pernapasan kronik

- Kolera unggas

- Salesma/snot/pilek

- Coccidiosis

- Aflatoksikosis

- Cacar

- Cacingan

- Penyakit Defisisiensi

C. MATERI DAN METODE

Materi :

- Alat :

a. Timbangan

b. Spet

c. Jarum suntik

d. Kanul bengkok

e. Scalpel

f. Gunting

g. Pinset

h. Jarum pentul

- Bahan :
a. Merpati

b. Larutan giemza

c. Air

Metode :

- Handling

Pegang merpati

Jari tengah dan jari telunjuk menjepit kaki

Ibu Jari menjepit ekor

- Penimbangan

Ikat sayap dan kaki

Letakkan di atas timbangan

Hitung berat badannya

- Sexing

Ukuran berat badan

Betina : kloaka dan bagian perut lebih tumpul


Jantan : kloaka dan bagian perut runcing

Betina : Rongga tulang pelvis lebih lebar


Jantan : Rongga tulang pelvis sempit

Bulu jantan lebih mengkilat,suara lebih bervariasi

- Perlakuan dan penyuntikan

a. Perlakuan Oral(P.O)

Spet diisi dengan air


Merpati dipegang yang benar (handling)

Ujung kanul dimasukkan ke mulut merpati

Bahan perlakuan disuntikkan perlahan

b. Sub Cutan(S.C)

Handling dengan benar

Angkat lipatan kulit longgat pada tengkuk

Suntikkan

c. Intra Muscular(I.M)

Handling yang benar (basahi bulu)

Tusukkan jarum pada m.pectorales

Tarik jarum dan tekan bekas tusukan

d. Intra Peritonial(I.P)

Handling dengan benar

Tusukkan jarum pada kanan atau kiri umbilicus

Tarik jarum dan tekan bekas tusukan

- Pengambilan darah

a. Vena brachialis

Pegang merpati (handling), sayap direntangkan (basahi bulu)

Vena dibendung dengan cara ditekan


Tusuk vena brachialis

Tarik jarum dan tekan bekas tusukan

b. Intra cardiaca

Merpati di anestesi

Cari letak jantung

Tusuk, tarik spet dan tamoung darah

- Anastesi

Kapas dibasahi dengan kloroform, masukkan dalam corong

Kepala atau paruh dimasukkan dalam corong tersebut

Lihat sampai merpati menjadi lemas

- Euthanasi

a. Anastetika dosis lebih


b. Chloroform
c. Dislokasi cervical
d. Dekapitasi
e. Emboli Jantung
Mengisi spet dengan CO2 atau udara

Tusukkan tepat ke Jantung

Suntikkan udara (CO2) tersebut

- Nekropsi
Merpati di eutanasi, bangkai basahi dengan air

Rebah dorsal, buat irisan pada medial paha dan abdomen pada kedua sisi
tubuh. Tarik paha ke lateral, teruskan irisan sampai articulatio
coxofemoris lepas

Buat irisan melintang pada kulit abdomen, tarik ke anterior sampai


mandibula.Irisan dilanjutkan ke posterior abdomen

Buat irisan melintang pada dinding peritoneum di ujung sternum kea rah
lateral. Buat irisan longitudinal melalui linea mediana ke posterior sampai
kloaka (buka cavum abdominalis)

Buat irisan longitudinal melalui m.pectorales pada kedua sisi sternum


sepanjang articulation costocondral, potong tulang coracoid dan clavicula
(buka rongga dada)

Periksa kantuing udara, ada / tidak cairan eksudat / transudat, juga orga-
organ di cavum abdominalis dan cavum thoracalis

Ambil sample organ, masukkan ke dalam formalin 10 %

D. HASIL PRAKTIKUM

- Handling

Dalam praktikum kami berhasil melakukannya dengan baik

- Penimbangan

Berat badan merpati 120 gram(karena kami menggunakan anak merpati )

- Sexing

Dilihat pada tulang rawan/pelvis .Jika lancip maka jantan dan apabila
melebar betina .
- Perlakuan/penyuntikan

a. Per Oral(P.O)

Kami tidak melakukan karena kerongkongannya hilang karena digigit


tikus,jadi apabila dimasukkan sesuatu dari mulut akan keluar lagi .

b. Sub Cutan(S.C)

Kita berhasil menyuntikkan cairan giemza pada daerah kuduk dengan


menggunakan spet kecil.

c. Intra Muscular(I.M)

Kita berhasil menyuntikkan cairan giemza pada bagian M.Bicep


Femoris dan M.Pectorales .

d. Intra Peritonial(I.P)

Berhasil menyuntikkan cairan giemza pada cavum abdominalis .

- Pengambilan darah

a. V.Brachialis

Kita berhasil melakukannya ,kita mengambil di vena brachialis namun


melewati muskulus percabangannya .Agar darah yang kluar sehabis
disuntik kluar terlalu banyak .

b. Jantung

Dalam pengambilan darah di jantung kami mengalami sedikit


masalah.Merpati itu muntah darah pada saat kita mengambil darah
melalui jantung.

- Anastesi

Menggunakan corong yang diisi kapas yang mengandung chloroform


.Dan selanjutnya kepala merpati tersebut dimasukkan ke dalam corong
tersebut .Kami berhasil melakukannya .

- Euthanasi

Melakukan dengan anastesi berlebih .Karena keadaan merpati sudah lemas


sekali saat anastesi .Kami berhasil melakukannya .
- Nekropsi

Berhasil dilakukan ,semua organnya nirmal ,hanya pada kerongkongan


saja yang rusak dimakan tikus .

E. KESIMPULAN

- Handling dilakukan dengan hati-hati dan sesuai prosedur untuk


mempermudah perlakuan.
- Penimbangan dilakukan untuk mengetahui apakah merpati tsb dewasa
atau belum.
- Sexing pada merpati atau umumnya pada unggas sulit dilakukan.
- Penyuntikan di lakukan secra subkutan, intramuskuler, dan intraperitoneal.
- Pengambilan darah dilakukan di vena brachialis dan jantung.
- Anestesi yang paling baik pada merpati yaitu secara inhalasi.
- Euthanasia pada merpati dapat di lakukan dengan berbagai cara, salah
satunya dengan emboli udara.
- Nekropsi dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan pada organ-
organ.
F. DAFTAR PUSTAKA

- Haryoto. 1998. Beternak Merpati Kipas. Penerbit Kanisius : Yogyakarta


- Kusumawati, Diah. 2004. Bersahabat Dengan Hewan Coba. Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta
- Blakely, James. 1998. Ilmu Peternakan edisi keempat. Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta
LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HEWAN LABORATORIUM

NILA MERAH

(Oreochromis sp)
Arif Firmansyah(2009/287831/DKH/1569)

Assisten : Andre

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2010

A. TUJUAN

- Mengetahui dan dapat melakukan handling

- Mengetahui cara menimbang berat badan ikan

- Mengetahui cara sexing

- Mengetahui dan dapat melakukan penyuntikan

- Mengetahui cara mengambil darah

- Mengetahui cara nekropsi

B. TINJAUAN PUSTAKA

Ikan nila merah (Oreocrhromis sp) adalah sebagai hasil persilangan antara
o.mossambica / o.nilotica dengan o.hornorum, o.aureus / o.zilii.
Taksonomi:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Osteichthyes
Subclass : Acanthopterigii
Ordo : Percomorphy
Subordo : Percaidae
Famili : Cichildae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis Sp

Sifat-sifat umumnya antara lain bentuk tubuh pipih dan berwarna kemerahan
atau kuning keputihan, mengerami telurnya dalam mulut (2 minggu)
omnivora, dimana lerva memakan alga, crutaceae kecil dan benthus,
sedangkan dewasa memakan hancuran organik, dapat hidup di air payau atau
air tawar, kuat terhadap kekurangan oksigen, PH 4,5-11 , memijah sepanjang
tahun dan bila induknya baik maka akan memijah 1,5 bulan sekali

Penyakit pada nila merah :

- HVS (Viral Hemorrhagic Septicaemia)


- IPN (Infectious Pancreatic Necrosis)
- Penyakit Bakterial Furunkolosis
- RSD (Red Sore Disease)
- Pseudomoniasis
- Vibrosis
- Tuberculosis
- Gyrodactilosis
- Dactylogyosis
- Bakteriosis

Ciri-ciri induk jantan :


- Warna badan lebih gelap
- Saat memijah, tepi sirip merah cerah
- Alat kelamin berupa tonjolan dan bila diurut akan keluar sperma, terdapat
lubang alat kelamin 2 buah
- Tulang rahang melebar ke belakang

Ciri-ciri induk betina :


- Warna tubuh lebih cerah
- Gerakan lebih lamban
- Perut lebih besar

C. MATERI DAN METODE

Materi
- Alat

a. Timbangan

b. Spet sedang

c. Spet kecil

d. Kanul bengkok

e. Gabus/spons

f. Papan fiksasi

g. Jarum gunting

h. scalpel

- bahan

a. larutan glukosa

b. cairan giemza

c. minyak cengkeh

d. air

e. ikan nila merah

Metode

- Handling

Pegang ikan pada daerah kepala menggunakan tangan kanan

Tangan kiri memegang bagian ekor

- Penimbangan

Timbangan distel pada angka nol

Rebahkan ikan pada timbangan

Kemudian catat angka pada timbangan


- Sexing

Handling dengan benar

Lihat ciri-ciri ikan


(ada tidaknya tonjolan pada alat kelamin)

Amati
(tentukan jenis kelamin ikan tersebut)

- Perlakuan/penyuntikan

a. Per Oral(P.O)

Spet tanpa jarum diisi dengan larutan giemza

Masukkan kedalam mulut

Suntikkan cairan / larutan giemza tersebut

b. Sub Cutan(S.C)

Handling

Suntikan bahan perlakuan ke daerah longgar pinnae pectorales

c. Intra Muscular(I.M)

Lihat arah sisik ikan


Pilih pada musculus yang tebal dan jauh dari pembuluh darah
Yaitu m. epaxial dan m. hepaxial

Angkat sisik dan tusukkan jarum

Maukkan larutan Giemza

d. Intra Peritorial(I.P)

Tarik garis lurus didepan pinea abdominalis sampai linea lateralis

Suntikkan dibawah sisik, didepan dibawah pertemuan garis tersebut


- Pengambilan darah

a. Aorta descendens

Handling

masukan jarum didaerah palatum durum mengarah ke caudal hinngga


ujung jarum habis masuk ke dalam

b. Arteri caudalis

Handling

masukan jarum sampai menembus tulang vertebrae dan melukai


pembuluh darah yang menempel dibawahnya, tarik spet secara
perlahan maka darah akan keluar

- Anastesi

Teteskan minyak cengkeh sebanyak 3 tetes kedalam 1 liter air.

Tunggu beberapa saat hingga ikan lemas

Masukan ikan kedalam air tersebut

- Euthanasi

Teteskan minyak cengkeh sebanyak 3 tetes kedalam 1 liter air.

Masukan ikan kedalam air tersebut

Tunggu beberapa saat hingga ikan mati


- Nekropsi

Belah padabagian anus ke cranial setelah ikan mati

Belah dari abdomen menuju linea lateralis di depan dan belakang

Amati organ

D. HASIL PRAKTIKUM

- Handling

Dalam percobaan ini kami berhasil melakukannya dengan baik

- Penimbangan

Dalam penimbangan diketahui berat badan ikan = 90,5 gram

- Sexing

Jenis kelamin ikan = betina

- Perlakuan dan penyuntikan

a. Per Oral(P.O)

Karena tidak ada glukosa ,maka kita menggunakan air dan kita
berhasil memasukkannya menggunakan kanul bengkok.

b. Sub Cutan(S.C)

Berhasil menyuntikkan cairan giemza pada daerah longgar pinnae


pectorales

c. Intra Muscular(I.M)

Berhasil menyuntikkan cairan giemza pada M.Epaxial

d. Intra Peritorial(I.P)

Berhasil menyuntikkan cairan giemza pada pinna abdominalis.

- Pengambilan darah

a. Aorta descendens
Berhasil dilakukan ,banyak darah yang terambil.

b. Arteri caudalis

Sulit menemukan vertebrae sehingga pengambilan darah kurang begitu


berhasil.

- Anastesi

Berhasil melakukannya .kita menggunakan minyak cengkeh .

- Euthanasi

Dalam euthanasi kita menggunakan metode anastesi berlebih ,yaitu


dengan mencampurkan minyak cengkeh + air dengan perbandingan 3 : 1
dan kami berhasil melakukannya .

- Nekropsi

Kami berhasil melakukannya ,dan setelah pengamatan diketahui bahwa


organ dalam ikan normal semua .

E. KESIMPULAN

- Handling mempermudah perlakuan terhadap ikan.


- Berat badan ikan nila merah 90,5 gram, yaitu masih tergolong belum
dewasa. Berat badan nila merah dewasa 250 gramPenimbangan berat
badan bertujuan untuk menentukan dosis obat dan pemberian pakan
- Pada intinya, anastesi menggunakan minyak cengkeh harus dengan
pengawasan yang ketat. Anastesi yang terlalu lam (berlebih) dapat
menyebabkan kematian
- penimbangan dilakukan untuk memperoleh informasi tentang berat badan.
- Sexing dapat dilihat dari alat kelamin, warna tubuh, dan warna sirip saat
memijah.
- Penyuntikan untuk pengobatan dapat dilakukan secara intramuskuler dan
intraperitoneal.
- Pengambilan darah untuk diagnosa penyakit dapat dilakukan pada jantung,
arteri caudalis, dan aorta descendens.
- Nekropsi untuk pengamatan organ-organ dalam dan diagnosa penyakit.

F. DAFTAR PUSTAKA
- Rukmana, Rahmat. 1997. Ikan NilaBudi Daya dan Prospek Agribisnis .
Penerbit Kanisius : Yogyakarta
- Santoso, Budi. 1996. Budidaya Ikan Nila. Penerbit Kanisius : Yogyakarta