Anda di halaman 1dari 20

Tugas 3

Mata Kuliah Islam Disiplin Ilmu

“ULIL ALBAB”

Disusun oleh:

YENNY KASIM
9229 0050

JURUSAN TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2009
“ ULIL ALBAB”
Orang-Orang Yang Berakal

R asulullah SAW menangis di suatu tengah malam sampai membasahi tanah setelah
menerima wahyu surat Ali Imran ayat 190 :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-
tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulil-albab)”.
(Q.S Ali Imran ayat 190)

“…Sungguh, celakalah bagi orang yang membacanya kemudian tidak berfikir tentangnya…”
demikian sabda Rasulullah ‫ صلى ا عل يه و سلم‬menjawab keheranan dan pertanyaan Bilal
Bin Rabbah yang ketika itu datang saat menjelang subuh.

Ayat berikutnya, ayat 191, menjelaskan kriteria yang termasuk dalam golongan ulil-albab ini.

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan
mereka memikirikan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Rabb kami, tidaklah
Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”.
(Q.S Ali Imran ayat 190)

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
Cukup jelas ayat ini secara spesifik ditujukan pada golongan pemikir (ulil-albab) yang
mampu mengkaji, meneliti, dan memahami proses kejadian alam semesta, serta pergantian
siang dan malam, dan akhirnya, berdasarkan nilai-nilai tauhid yang diimaninya, menarik
kesimpulan “Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau,
lindungilah kami dari azab neraka”.
Tentu, ayat ini sebenarnya dimaksudkan berlaku umum kepada mereka yang
tergolong ilmuwan, apapun bidangnya, tetapi dalam ayat ini diambil salah satu contoh
ilmuwan yang berkecimpung dan menekuni bidang ilmu alam (natural science) dan
teknologi. Penyelidikan-penyelidikan tentang proses kejadian jagad raya dan isinya, termasuk
bumi, memerlukan pengetahuan tingkat tinggi dan penelitian-penelitian di laboratorium.
Informasi-informasi yang diberikan Allah ‫ سبحانه وتعلى‬dalam Al-Quran yang berkaitan
dengan proses kejadian alam semesta dan pesan untuk menelitinya cukup banyak; di
antaranya dapat dilihat pada surat-surat Al-Anbiya: 30, Adz-Zariyat: 47, Fushshilat: 11-12
dan 53, Al-Ghasyiyah: 17-20.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya
dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
(Q.S Al-Anbiya ayat 30)

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar
meluaskannya”
(Q.S Adz-Zariyat ayat 47)

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan
kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa".
Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".
(Q.S. Fushshilat ayat 11)

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit
urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui”
(Q.S. Fushshilat ayat 12)

Apa yang merisaukan Rasulullah ‫ صلى ا عليه وسلم‬sehingga beliau menangis begitu
pilu? Jawaban yang disampaikan Rasulullah ‫ صلى ا عل يه و سلم‬kepada Bilal cukup jelas.
Celakalah seseorang ilmuwan itu bila tak mampu menarik kesimpulan akhir dari hasil kajian
dan penelitiannya, dalam bidang apapun, sama seperti kesimpulan yang digariskan oleh para
ulil-albab itu. Kesimpulan yang mengakui secara mutlak keagungan, kebesaran, kekuasaan,
dan kerahiman Allah ‫ سبحانه وتعلى‬yang tak terukur. Kesimpulan yang sekaligus juga
mengakui kekerdilan manusia, keterbatasan, ketidakberdayaan, dan ketergantungannya yang
mutlak kepada Sang Pencipta. Tidak dapat tidak, sepertinya hanya bisa dimiliki oleh
ilmuwan yang ketauhidannya tanpa cacat. Pengakuan ketergantungan dan ketundukan
mutlak para ulil-albab ini selanjutnya bisa dilihat dalam do’a mereka yang termaktub dalam 3
ayat berikutnya, Ali Imran: 192-194.

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
Ya Rabb kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh
telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.
(Q.S Ali-Imran ayat 192)

Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu):
"Berimanlah kamu kepada Rabb-mu", maka kami pun beriman. Ya Rabb kami ampunilah bagi kami
dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta
orang-orang yang berbakti.
(Q.S Ali-Imran ayat 193)

Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-
rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak
menyalahi janji."
(Q.S Ali-Imran ayat 194)

Berfikir adalah ciri manusia, jadi manusia adalah hewan yang berfikir menurut Ilmu
Mantiq(logika), maka manusia berusaha dengan akalnya memikirkan segala sesuatu yang dia
alami dan dianalogikan kepada yang lainny. Berfikir juga berguna untuk menyelesaikan
pekerjaan yang berat, berfikir untuk berfikir, yang pertama melahirkan ilmu-ilmu terapan
(teknologi), sedangkan yang kedua melahirkan ilmu-ilmu murni.

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
Berfikir terhadap alam semesta melahirkan filsafat alam, dan ilmu-ilmu lainnya,
contoh berfikir tentang obyek manusia melahir: Ilmu Jiwa, Ilmu kedokteran, logika,
antrofologi, sosiologi dan sebagainya. Berfikir menurut tuntunan Al-Qur’an berjalan
seimbang antara fikir dan zikir. Kecerdasan yang sempurna adalah berpadunya antara zikir
dan fikir, memikirkan sesuatu melahirkan zikir terhadap yang menciptakan sesuatu Yaitu
Allah ‫ سبحانه وتعلى‬.
Orang yang paham mampu menangkap pola pada data-data, maksud tersembunyi
dari kata kata, hingga sampai kepada hikmah dari setiap yang diketahuinya. Orang-orang
yang paham dengan mendalam inilah yang disebut oleh Al Quran sebagai ULIL ALBAB.

“Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang
dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan orang orang
yang dapat mengambil pelajaran hanyalah Ulil Albab”
(Q.S Al-Baqarah ayat 269)

Perpaduan antara data yang diperoleh dari pandangan kasat mata dan petunjuk Ilahi
itulah yang melahirkan Keimanan para ULIL ALBAB ini :

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi (seraya berkata): "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci
Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
(Q.S Ali Imran ayat 190 – 191)

Renungkan pula misalnya, ayat berikut ini :

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah
ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau
mempergunakan akal”
(Q.S Al Maidah ayat 58)

Ayat ini memberikan sinyal, bahwa pintar saja tidak cukup untuk membawa
seseorang memahami kebesaran Allah ‫ سبحانه وتعلى‬melalui tanda-tanda-Nya. Qalbu yang
bersihlah yang mampu memadukan dengan sempurna pengetahuan yang diperoleh oleh otak
dengan cahaya Ilahi. Ada sebuah hadits dari Rasulullah Muhammad ‫ صلى ا عليه وسلم‬yang
baik untuk kita renungkan :
Sahabat Jabir ra berkata, bahwa Rasulullah ‫ صلى ا عل يه و سلم‬telah bersabda: "Ilmu ada dua
macam: ilmu di dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat Dan ilmu dalam lidah, maka itulah
hujah Allah kepada umat manusia." (HR. Khathib dan Ibnu Abdil-Bar)

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
Karakteristik Ulil Albab
Ulul albab adalah orang yang mampu mengharmonisasikan kekuatan intelektual dan
spiritual.
1. Selalu membekali diri dengan takwa

“…….Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku
hai orang-orang yang berakal”
( QS. Al Baqarah : 197 )

2. Mampu mengambil hikmah/pelajaran dari firman-firman Allah ‫سبحانه وتعلى‬

“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah)
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-
benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat
mengambil pelajaran (dari firman Allah)”
( Q.S Al Baqarah ayat 269 )

3. Selalu mencermati fenomena

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit,
Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi Kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu
tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
kekuning-kuningan, Kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”
( QS. Az Zumar : 21 )

4. Mampu memadukan kekuatan akal dan qalbu


190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka
peliharalah kami dari siksa neraka.
( QS. Ali Imran ayat 190 – 191 )

5. Sangat yakin akan adanya kehidupan akhirat, karena itu selalu mohon perlindungan
pada-Nya
192. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Maka
sungguh Telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang
penolongpun.
193. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman,
(yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami,
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.
194. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Telah Engkau janjikan kepada kami dengan
perantaraan rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."
(QS. Ali Imran ayat 192 – 194 )

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
6. Mampu memisahkan yang baik dan yang buruk walau yang buruk amat menarik

Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu
menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat
keberuntungan."
`( Q.S. Al Maidah ayat 100 )

7. Mampu mengambil pelajaran dari perjalanan hidup dirinya atau orang lain

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman”
( Q.S. Yusuf ayat 111 )

8. Rajin shalat malam

“(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-
waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan
rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”
( QS. Az Zumar ayat 9 )

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
9. Kritis dalam menilai suatu pemikiran

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah
orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai
akal”
( Q.S. Az Zumar ayat 18 )

10. Menjadikan Al Qur’an sebgai kitab suci pencerahan

(Al Quran) Ini adalah penjelasan yang Sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan
dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan
agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.
( Q.S. Ibrahim ayat 52 )

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
Kisah Rasulullah ‫ صلى ا عليه وسلم‬beserta Para Sahabat mengenai Ulul Albab

Suatu malam, Rasulullah ‫ صلى ا عليه وسلم‬datang ke masjid untuk mengetahui apa
yang dilakukan para sahabatnya di tengah malam sunyi, di saat kebanyakan orang sedang
terlelap dalam tidurnya, terbuai mimpinya. Ketika mendekati masjid, beliau mendengar suara
Abu Bakar menangis di saat membaca firman Allah ‫ سبحانه وتعلى‬dalam shalat malamnya
sampai pada ayat :

….
“Sesungguhnya Allah telah membeli diri orang-orang beriman, diri dan harta mereka dengan balasan
surga bagi mereka"
(QS At Taubah 111).

Di lain sudut masjid, beliau mendengar suara Ali bin Abi Thalib juga menangis
ketika bacaannya dalam shalat malamnya sampai pada ayat :

`
“Samakah orang-orang yang mengetahui /berilmu dengan orang-orang yang tidak mengetahui, hanya
ulul albab yang dapat menerima pelajaran)"
(QS Az Zumar ayat 9).

Usai sahalat subuh berjamaah, Rasulullah ‫ صلى ا عليه وسلم‬bertanya kepada Abu Bakar:
"Wahai Abu Bakar, mengapa engakau menangis tadi malam?" Abu Bakar menjawab : "Bagaimana
aku tidak menangis jika Allah telah membeli jiwa para hambaNya. Jika hamba ini cacat, pasti
tidak akan dibeli. Atau tampak cacatnya setelah dibeli, tentulah akan dikembalikan. Jika aku
cacat ketika dibeli, atau ketahuan cacat setelah dibeli, maka tentulah aku akan menjadi
penghuni neraka. Karena itulah aku menangis".
Datanglah kemudian malaikat Jibril kepada Rasulullah ‫ صلى ا عليه وسلم‬dan berkata :

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
"Wahai Muhammad, katakan kepada Abu Bakar. Jika pembeli mengetahui cacat dan tetap
membelinya, maka ia tidak berhak mengembalikannya. Allah Maha Mengetahui cacat hambaNya
sejak sebelum ia diciptakan. Beserta cacatnya, maka dibeli dan tidak akan dkembalikan, juga dengan
cacat setelah dibeli. Manusia boleh saja membeli sepuluh orang budak, dan bila dijumpai ada satu
yang cacat, kemudian ia hanya mau membeli yang tidak cacat. Namun Allah ‫ سبحانه وتعلى‬tidak
seperti itu. Allah ‫ سبحانه وتعلى‬telah membeli orang-orang beriman dan memasukkannya di antara
para kekasihNya, para Nabi dan Rasul. Nyatalah bahwa yang cacat tidak akan dikembalikan".

Mendengar penjelasan Jibril, Rasulullah ‫ صلى ا عليه وسلم‬merasa senang. Beliau kemudian
bertanya kepada Ali :
"Apa yang menyebabkan engkau menangis ?". Ali menjawab : "Bagaimana aku tidak menangis
membaca firman Allah ‫ سبحانه وتعلى‬tersebut, sedang bapak kita, Adam, adalah manusia
yang lebih banyak tahu daripada kita, sebagaimana firmanNya: Allah ‫سبحانه وتعلى‬
mengajarkan Adam nama-nama benda semuanya.

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian


mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda
itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"
(QS Al Baqarah ayat 31),
sedang pengetahuan kami tidak seperti Nabi Adam, bagaimana kita akan sama ?" Maka Jibril
pun menjelaskan :
"Wahai Muhammad, katakan kepada Ali, tidak sama dengan sangkaannya. Tidaklah sama pada hari
kiamat nanti antara orang-orang kafir dan orang-orang beriman. Orang kafir menyembah berhala dan
tidak beriman kepada Allah ‫ سبحانه وت عل‬dan hari akhir, sedang orang beriman menyembah Allah
‫ سبحانه وتعلى‬setiap saat dan senantiasa melafalkan laa ilaaha illallahu Muhammadurrasulullah.
Jika berbuat baik mereka senang, jika melakukan kejelekan mereka minta ampun. Tidak sama antara
orang kafir dan orang beriman, orang kafir tempatnya di neraka dan orang beriman di surga".

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
Allah ‫ سبحانه وتعلى‬telah menginformasikan kriteria ulul albab :

"Apakah benar-benar sama orang yang mengetahui apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu,
dengan orang yang buta (tidak mengetahui) ? Hanya ulul albab saja yang dapat mengambil pelajaran”

“(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian”

“dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan
mereka takut kepada Tuhannya serta takut kepada hisab yang buruk”

“dan orang-orang yang sabar dalam mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat dan
menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugrahkan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-
terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Orang-orang itulah yang akan mendapat tempat
kesudahan (yang baik)"
(Q.S. Ar Ra'd ayat 19-22).
Dua kriteria tersebut, yaitu bahwa ulul albab adalah orang berilmu yang bermanfaat bagi
dirinya dan orang lain, dan dia bertauhid, tidak menyekutukan Allah ‫ سبحانه وتعلى‬serta
senantiasa menepati janjinya. Ini sesuai dengan penjelasan malaikat Jibril kepada Rasulullah
‫ صلى ا عليه وسلم‬untuk disampaikan kepada Ali, seperti pada kisah dalam hadits di atas.

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
Selanjutnya, kriteria ketiga seorang ulul albab adalah orang-orang yang menghubungkan apa-
apa yang diperintahkan Allah ‫ سبحانه وتعلى‬untuk dihubungkan. Ini bermakna bukan hanya
bersilaturahim dengan sesama, tetapi juga menghubungkan ayat-ayat qauliyyah Allah ‫سبحانه‬
‫ وتعلى‬yaitu seluruh firmanNya dalam Qur'an, dengan ayat-ayat kauniyyahNya yang tersebar
di seluruh alam jagat raya ini, termasuk bumi yang kita diami dengan berbagai kejadian
alamnya, serta pada diri kita sendiri, sebagaimana perintah Allah ‫ سبحانه وتعلى‬:

"Dan di bumi itu terdapat ayat-ayat (kauniyyah Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada
dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan/mempelajarinya ?"
(QS Adz Dzaariyaat ayat 20-21).

Dengan kata lain, ulul albab itu senantiasa menjaga hubungan dengan sesama (silaturahim)
dan alam lingkungannya, serta memahami diri dan alam lingkungannya itu sebagai ayat
kauniyyah Allah ‫ سبحانه وتعلى‬, yang tidak akan pernah bertentangan dengan sunnatullah,
dan senantiasa sejalan dengan firman Allah ‫ سبحانه وتعلى‬dalam Al Qur'an.
Sebagai ilmuwan atau ulama, seorang ulul albab memiliki aqidah yang kuat atas dasar
baik pemenuhan janji primordialnya kepada Allah ‫ سبحانه وتعلى‬pada saat ruhnya akan
ditiupkan ke dalam janin ketika masih berada dalam kandungan ibunya, maupun
pemenuhan janjinya selaku hamba sekaligus khalifah Allah ‫ سبحانه وتعلى‬di muka bumi
untuk mentaati segala aturan Allah ‫ سبحانه وتعلى‬. Sehingga seorang ulul albab senantiasa
akan merasa takut kepada Allah ‫ سبحانه وتعلى‬, dalam artian takut Allah ‫سبحانه وتعلى‬
marah jika ia berbuat dosa atau kesalahan, dan takut akan mendapatkan hisab yang buruk di
akhirat kelak. Itulah kriteria keempat dari seorang ulul albab, yaitu orang yang takut kepada
Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Allah ‫ وتعلى سبحانه‬menegaskan dalam
firmanNya :

"Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah para
ulama (orang-orang berilmu)".

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
(Q.S. Faathir ayat 28).

Ibarat kita waktu sekolah, takut membuat marah guru dan takut mendapat angka
raport atau NEM ujian yang jelek di akhir tahun atau akhir sekolah. Begitu juga para ulul
albab, sehingga dalam kehidupannya senantiasa berbuat mengikuti segala aturan Allah ‫وتعلى‬
‫ سبحانه‬dan berharap mendapat NEH (nilai evaluasi hidup) dari Allah ‫وتعلى سبحانه‬
dengan hasil yang terbaik di hari hisab kelak. Selanjutnya kriteria kelima, ulul albab
merupakan orang yang senantiasa sabar dalam mencari keridhaan Tuhannya. Dalam
memahami kehidupan ini dan dalam memahami ayat-ayat Allah ‫وتعلى سبحانه‬, baik ayat
qauliyah petunjuk Allah dalam Qur'an, maupun ayat kauniyyah yang tersebar di alam ini,
ulul albab senantiasa bersabar dan bertasbih memuji kemahabesaran Allah, sehingga
pertolongan Allah ‫ وتعلى سبحانه‬senantiasa datang ketika menghadapi berbagai kesulitan,
sehingga petunjuk Allah datang ketika mendapat kebuntuan dalam memecahkan segala
macam masalah. Hal ini sesuai dengan perintah Allah ‫ وتعلى سبحانه‬:

"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada
dalam pengamatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri
(dari tidur /untuk shalat), dan bertasbihlah kepadaNya pada beberapa saat di malam hari dan di saat
bintang-bintang (akan) terbenam (fajar)"
(Q.S. Ath Thuur ayat 48-49)

Kriteria keenam, seorang ulul albab senantiasa mendirikan shalat dan tidak pernah
meninggalkannya. Shalat baginya bukan hanya memenuhi kewajibannya kepada Allah ‫وتعلى‬
‫ سبحانه‬, tetapi shalat baginya merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi seperti
halnya makan. Sehingga bukan hanya shalat fardhu saja yang dikerjakan, tetapi
menambahnya dengan shalat-shalat sunnah, terutama shalat malam. Dan semuanya itu
dilakukan dengan khusu', penuh kepasrahan dan kesabaran untuk mencari ridha Allah

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
‫وتعلى سبحانه‬, sehingga senantiasa mendapat pertolongan Allah ‫وتعلى سبحانه‬, sebagaimana
ditegaskan dalam firmanNya :

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khsusu', (yaitu) orang-orang meyakini bahwa mereka akan
menemui Tuhannya, dan mereka akan kembali kepadaNya"
(QS Al Baqarah 45-46).

Bagi ulul albab, ia senantiasa memahami ayat-ayat Allah ‫وتعلى سبحانه‬, bahwa
perintah shalat selalu digandengkan dengan perintah mengeluarkan atau menafkahkan
sebagian rizki yang diterimanya, dalam bentuk infak, baik merupakan yang wajib (zakat)
maupun dalam bentuk shadaqah. Oleh karena itu, ciri atau kriteria ulul albab yang ketujuh
adalah orang yang menafkahkan sebagian rizki yang dianugerahkan Allah ‫وتعلى سبحانه‬
kepadanya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ia yakin bahwa apa
yang dinafkahkannya itu akan dibalas oleh Allah ‫ وتعلى سبحانه‬dengan jauh yang lebih
banyak, seperti yang difirmankanNya :

"Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di


jalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, yang setiap tangkainya
berisi seratus biji. Padahal Allah melipat gandakan balasan bagi siapa saja yang dikehendakiNya.
Dan Allah maha luas karuniaNya lagi maha mengetahui"
(Q.S. Al Baqarah ayat 261).

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
Dan kriteria terakhir atau yang kedelapan bagi seorang ulul albab sesuai dengan
firman Allah ‫ وتعلى سبحانه‬QS Ar Ra'd 19-22, adalah orang yang menolak atau membalas
kejahatan dengan kebaikan sebagaimana akhlak Rasulullah ‫ صلى ا عليه وسلم‬yang menjadi
acuannya. Bagitu juga para Nabi dan Rasul Allah lainnya, mereka memiliki kesabaran yang
tinggi sehingga mampu membalas kejahatan dengan kebaikan, seperti yang difirmankan oleh
Allah ‫ وتعلى سبحانه‬:

`
"…..Semua mereka (para Nabi/Rasulullah) termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah
memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang saleh"
(QS Al Anbiyaa' ayat 85-86)

Karena ketika mampu membalas kejahatan dengan kebaikan, petunjuk dan


pertolongan Allah ‫ وتعلى سبحانه‬senantiasa dekat dengannya. Barangkali kriteria terakhir ini
yang paling sulit bagi kita sebagai orang awam. Namun jika kita ingin mencapai atau
mendapat predikat ulul albab, seluruh kriteria tersebut harus dimiliki, termasuk yang mampu
membalas perbuatan jahat orang lain dengan bukan hanya memaafkannya, tetapi juga
diiringi dengan perbuatan baik kita secara tulus kepadanya, seperti yang dicontohkan oleh
Rasulullah ‫ صلى ا عل يه و سلم‬, Sehingga balasan Allah ‫ وتعلى سبحانه‬terhadap para ulul
albab ini, seperti pada lanjutan ayat tersebut : `

"Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik, yaitu) syurga 'Adn, mereka
masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, para istrinya serta anak cucunya,

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
sedang (mereka dikawal) malaikat-malaikat menuju ke tempat-tempat yang mereka masuki dari segala
pintu, (seraya mengucapkan) salamun 'alaikum bimaa shabartum (keselamatan atasmu berkat
kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu"
(QS Ar Ra'd 22-24).

Mampukah kita menjadi orang-orang yang termasuk ulul albab ?

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com
PUSTAKA :

Bahtiar, H., 2006, “Karakteristik Ulul Albab”, Bandung,


http://sebeningkaca.blogspot.com/2006/05/karakteristik-ulul-albab.html

Djumhana, N., 2007, “Ulul Albab(30)”, Jakarta,


http://sonnierico.multiply.com/reviews/item/23

Ervani, R., 2007, “Mengenal Potensi Ilahiyah: Dari Ufuk Hingga ke dalam Diri”, Rumah Ilmu
Indonesia, www.rezaervani.com

Ismail, B., 2008. “Ciri Cendekiawan (Ulul Albab) Menurut Al-Qur’an”, Jakarta,
http://hbis.wordpress.com/2008/02/27/ciri-cendekiawan-ulul-albabmenurut-al-
quran/

Seputro, H., 2009, “Peran Ilmuwan Dalam Tauhid”, Semarang,


http://hariseputro.blogspot.com/2009/03/peran-ilmuwan-dalam-tauhid.html

Yenny Kasim (092209 0050)


wnr_yo@yahoo.com