Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Harta merupakan keperluan hidup yang sangat penting dan merupakan salah satu

dari perhiasan kehidupan dunia.1

Artinya hanya dengan sedikit harta atau tanpa harta seseorang akan mengalami kesulitan

dalam kehidupan ini, karena harta sangat penting, oleh karena itu manusia diperitahakan

agar bertebaran dimuka bumi ini untuk mendapatkan karunia Allah Swt, melalui bekerja.

Dan setiap manusia, pasti memiliki pendapatan dan kebutuhan hidup yang berbeda-beda.

Ada yang dikaruniai kelebihan dan kekurangan dalam mendapatkan karunia Allah

tersebut.

Dengan demikian untuk membantu para nasabah yang mengalami kekurangan dana

dalam memenuhi kebutuhan skundernya, maka perbankan syari’ah membentuk suatu

produk pembiayaan. Dimana pembiayaan itu sendiri adalah penyediaan dana atau tagihan

yang berupa:

1. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah,

2. Transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah

bittamlik,

3. Jual beli dalam bentuk piutang (murabahah, salam dan istishna), dan

4. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang (Qard)

Dalam perkembangannya, bank syari’ah harus mengikuti perkembangan kebutuhan

nasabah yang semakin hari semakin bervariasi, karena semakin banyaknya variasi kebutuhan

1 QS. 18:46, artinya “ harta dan keturunan merupakan perhiasan kehidupan dunia tetapi sesuatu yang kekal lagi
sholeh lebih baik pahalanya di sisi Allah dan lebih mulia menjadi harapan”.
para nasabah tersebutmenyebabkan munculnyajenis-jenisproduk pembiayaan baru. Salah satu

produk pembiayaan tersebut adalah produk pembiayaan multijasa.

Pembiayaan multijasa adalah suatu kegiatan penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan

dalam akad ijarah atau kafalah, dalam penyaluran jasa keuangannya antara lain :

Penyaluran pelayanan jasa pendidikan, kesehatan, pernikahan, pergi haji, kepariwisataan dan

lain lain. Dalam pemberian pembiayaan multijasa ini, bank syari’ah maupun Lembaga

Keuangan Syari’ah akan memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee menurut kesepakatan

dimuka dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase.

Pada umumnya, pembiayaan multijasa yang terjadi di bank syari’ah maupun lembaga

keuangan syari’ah menggunakan skim pembiayaan akad ijarah multijasa, yaitu akad

pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui

pembayaran sewa, dengan menggunakan akad ijarah, atas permintaan nasabah, maka bank

syari’ah maupun lembaga keuangan syari’ah akan membeli jasa manfaat dari penyedia jasa,

kemudia nasbah akan membayar ujrah (fee) sebagai kompensasi atas manfaat yang di

perolehnya dengan cara mengangsur atau langsung melunasi sekaligus sesuai kesepakatan

dalam perjanjian di awal akad.

Menurut jumhur ulama menyebutkan, bahwa produk pembiayaan multijasa yang

menggunakan akad ijarah dalam pengertian sewa menyewa tidak dapat diterapkan pada

obyek pembiayaan barang yang berkarakteristik “habis dipakai” (istihlakiy) atau tidak dapat

dikembalikan kembali setelah masa pemakaiannya habis sekali pakai (seperti: minuman,

makanan, pengobatan, pernikahan) tersebut akan habis sekali pakai, zatnya tidak tetap serta

tidak dapat dikembalikan tetapi akan habis seiring dengan selesainya masa studi, penobatan,

maupun pernikahan. Akan tetapi pembiayaan produk multijasa yang menggunakan akad

ijarah dalam pengertian upah-mengupah dapat diilustrasikan dimana dalam hal ini mu’ajjir
(pemberi upah, Nasabah) meminta kepada musta’jir (penerima upah, Bank) untuk mengurus

segala keperluan nasabah, seperti untuk memasuki bangku sekolah atau membiayai

pernikahan, maka pihak bank harus melakukan pekerjaan kepengurusan tersebut, sehingga

bank berhak atas apa yang disebut sebagai ujrah (fee) atas kerja kepengurusannya tersebut,

itupun besaran ujrah (fee) harus sesuai dengan kesepakatan diawal dan dinyatakan dalam

bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase, dimana ketentuan ini telah disebutkan dalam

Fatwa DSN MUI NO.44/DSN MUI/VII/2004 point 5.

Sedangkan, dalam pembiayaan multijasa yang konsep akadnya menggunakan akad

kafalah, yaitu transaksi penjaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak

ketiga (makful lahu) yang bertanggung jawab unuk memenuhi kewajiban kedua (ashil atau

makful ‘anhu). Dimana realisasinya, pembiayaan multijasa ini dilakukan dengan cara, pihak

bank mentrasfer dananya langsung ke rekening pihak ketiga kemudian nasabah melunasi

secara langsung atau dengan cara mengangsur kewajibannya kepada bank (kafil) selama

jangka waktu yang telah disepakati di awal akad tersebut. Dalam pembiayaan ini bank akan

mendapat imbalan (fee) atas jasa yang telah dikerjakannya.

Akan tetapi fenomena yang selama ini terjadi hampir semua pembiayaan multijasa di

beberapa bank syari’ah atau lembaga keuangan syari’ah hampir semuanya menggunakan

akad Ijarah akan tetapi akad ijarah yang mereka maksudkan itu pada prakteknya adalah

kafalah.

Untuk itu, dalam karya ilmiah ini penulis akan memberi judul “Analisa Penggunaan

Konsep Akad Pembiayaan Multijasa sesuai dengan Fatwa DSN MUI NO.44/DSN

MUI/VII/2004 di PT BNI Syari’ah Cabang Fatmawati”

A. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari pembahasan yang meluas, maka penelitian tentang analisa

penggunaan konsep akad pembiayaan multijasa ini dibatasi dengan pembiayaan multijasa

yang menggunakan akad ijarah dan kafalah yang sesuai dengan Fatwa DSN MUI NO.

44/DSN MUI/VII/2004.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam

penelitian ini, yaitu :

2. Bagaimana realisasi konsep akad yang digunakan dalam pembiayaan multijasa di


PT. BNI Syari’ah Cabang Fatmawati?

2. Apakah akad yang paling tepat untuk pembiayaan multijasa hanya akad Kafalah?
3. Bagaimana cara mensosialisasikan pengertian kosep akad ijarah dalam produk
pembiayaan multijasa yang dipergunakaan dalam pembiayaan multijasa?

A. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang ingin di capai penulis dalam penelitian ini

adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi penggunaan konsep akad atas pembiayaan

multijasa pada PT. BNI Syari’ah Cabang Fatmawati sesuai dengan Fatwa DSN MUI No.

44/DSN MUI/VII/2004.

B. Manfaat Penelitian

Adapun harapan dari penelitian ini adalah:


1. Memberi informasi tentang penerapan konsep akad pembiayaan multijasa sesuai

dengan Fatwa DSN MUI No. 44/DSN MUI/VII/2004.

2. Bagi penulis, melalui penelitian ini penulis berharap dapat memperluas wawasan

penulis mengenai pembiayaan multijasa dan dapat menambah pengalaman dan

mempraktekkan ilmu dan teori yang penulis dapatkan tersebut

3. Bagi PT. BNI Syari’ah Cabang Fatmawati, melalui penelitian ini diharapkan dapat

menjadi pedoman maupun pelengkap terhadap berbagai pengetahuan di bidang

perbankan syari’ah.

4. Bagi pihak lain, melalui hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan referensi

dan bahan masukan bagi penelitian sejenis untuk menyempurnakan penelitian

selanjutnya.

Beri Nilai