Anda di halaman 1dari 3

AKUISISI DATA SUHU DARI TERMISTOR MENGGUNAKAN

KOMPUTER DENGAN ANTARMUKA ADC0804 DAN


MIKROKONTROLER AT89S51

I. Pendahuluan
Kita mengenal suhu sebagai panas atau dingin. Jika suhu tinggi kita sebut panas dan sebaliknya
jika suhu rendah maka kita menyebutnya dingin. Jadi suhu hanyalah suatu konsep intuisi untuk
menyatakan suatu benda itu “panas” atau “dingin”.
Dalam penjabaran prinsip kedua termodinamika, suhu dihubungkan dengan kalor (heat), karena
diketahui bahwa kalor mengalir dari suhu tinggi ke suhu rendah. Dalam teori kinetik gas dan
termodinamika statistik telah dibuktikan bahwa suhu berhubungan dengan energi kinetik rata-rata
molekul gas ideal. Teori tersebut menunjukkan adanya hubungan antara suhu dan tingkat energi pada
zat cair dan zat padat. Secara prinsip, konsep suhu ini penting dalam hampir semua cabang ilmu
pengetahuan alam. Karena itu perlu adanya penguasaan dan pemahaman tentang metode-metode untuk
pengukuran suhu (derajat panas atau dingin).
Salah satu lat yang digunakan untuk melakukan pengukuran suhu adalah sensor “Termistor”
yang menggunakan prinsip perubahan hambatan bahan akibat pengaruh suhu. Termistor ini adalah
sensor NTC yang artinya nilai hambatannya akan berkurang apabila suhu yang mempengaruhinya
bertambah tinggi. Sensor ini baik digunakan karena memiliki hubungan yang linier antara perubahan
suhu dan perubahan hambatan.

II. Tinjauan Pustaka


2.1. Termistor
Termistor adalah piranti semikonduktor yang mempunyai koefisien hambatan suhu negatif (NTC)
seperti telah disebutkan di atas. Hal ini berbeda dengan kebanyakan logam yang mempunyai koefisien
suhu positip (PTC), yang artinya nilai hambatannya turun jika suhu yang mempengaruhinya naik.
Hubungan antara suhu dan hambata dalam termistor dinyatakan dengan:

 1 1 
R = Ro exp β
T − T 
  o 

dimana Ro adalah hambatan termistor pada suhu To, dan β adalah konstanta yang ditentukan melalui
eksperimen.
Termistor adalah piranti yang sangat peka dan dengan kalibrasi yang baik dapat memberikan
keluaran yang konsisten dengan ketelitian 0,01 oC. Suatu ciri yang menarik tentang termistor adalah
dapat digunakan untuk kompensasi suhu rangkaian listrik.

II.2. Jembatan Wheatstone


Rangkaian penguat jembatan (Bridge Amplifier Circuit) dalam hal ini adalah jembatan
wheatstone, dapat digunakan sebagai rangkaian pendukung untuk mengukur suhu dengan
menggunakan sensor NTC (termistor).

Dari rangkaian di atas dapat diperoleh:

 R2   R3 
ED = 
 R +R 
V EB = 
 R +R 
V
 1 2   3 T 
sehingga

 R2   R3 
VDB = ED − EB = 
 
 −
 
V
 R1 + R2   R3 + RT 

Bila hambatan termistor berubah akibat perubahan suhu maka beda potensial VDB juga akan
berubah. Perubahan tegangan tersebut dapat dikonversi menjadi suhu dengan jalan mengkalibrasi
tegangan dengan termometer standar yang telah ada.

II.3. Konverter Analog ke Digital


Untuk dapat mengukur atau mengkonversi suatu variabel fisis yang umumnya analog dengan
suatu piranti digital seperti komputer atau mikropresessor maka variabel tersebut terlebih dahulu
diubah menjadi variabel digital yang nilainya proporsional terhadap nilai variabel analog yang diukur.
\Untuk hal ini digunakan konverter analog ke digital (ADC, Analog to Digital Converter).
Sebuah konverter analog ke digital umumnya memerlukan konverter digital ke analog (DAC,
Digital to Analog Converter) secara internal. Spesifikasi-spesifikasi untuk ADC dan DAC secara
praktis sama. Waktu yang digunakan oleh sebuah ADC menghasilkan kode biner (digital) dalam suatu
konversi disebut waktu konversi. Suatu ADC dikatakan berkecepatan tinggi jika memiliki waktu
konversi yang pendek atau singkat.
Dalam tugas ini ADC yang digunakan yaitu ADC0804 buatan National Semiconductor. ADC ini
merupakan konversi 8 bit dengan teknik konversi aproksimasi register bertingkat (SAR, Succesive
Aproximation Register). Pada IC ini tersedia 8 masukan dengan 3 bit dekoder latch.
Waktu konversi ADC0804 sekitar 100 µs untuk clock KHz dan frekuensi maksimum adalah 1,28
MHz. Daerah masukannya 0 – 5 volt dan tegangan referensi konversi disesuaikan dengan daerah
masukan analog.

II.4. Mikrokontroler 89C51


Mikrokontroler adalah gabungan dari sebuah mikroprosesor dan periferalnya, seperti RAM, ROM
(EPROM atau EEPROM) antarmuka serial dan paralel, timer, dan rangkaian pengontrol interupsi yang
terkait dalam satu IC. Semuanya membentuk suatu sistem komputer yang lengkap. Perbedaannya
dengan komputer adalah mikrokontroler didesain dengan komponen-komponen yang minimum dan
dipakai untuk orientasi kontrol. Programnya tidak berukuran besar dan disimpan dalam ROM. Akibat
perbedaan aplikasinya dengan mikroprosesor, mikrokontroler juga mempunyai kebutuhan set intrksi
yang berbeda dengan mikroprosesor.
Mikroprosesor biasanya mempunyai set instruksi yang sangat lengkap, sedangkan mikrokontroler
mempunyai set instruksi yang lebih sederhana, terutama dipakai untuk mengontrol antarmuka input dan
output yang menggunakan bit tunggal (single bit). Mikrokontroler mempunyai banyak instruksi untuk
set dan clear bit secara individual dan melakukan operasi yang berorientasi 1 bit untuk logika AND,
OR, XOR, loncatan (jumping), percabangan (branching) dan lain-lain. Set instruksi seperti ini jarang
ada pada mikroprosesor yang biasanya untuk beroperasi pada byte atau unit data yang lebih besar.
Dalam tugas ini dignakan mikrokontroler 89C51 buatan ATMEL. Piranti ini merupakan kelurga
dari MCS 51. IC ini digunakan sebagai pusat pengontrol (CPU) untuk semua periperal, pengambilan
data analog dan pusat pelaksanaan semua perhitungan. Pada dasarnya MC8951 mempunyai ROM
internal sehingga mempunyai rangkaian yang lebih sederhana bila dibandingkan dengan MC8031.
Keistimewaan lainnya dari MC8951 adalah sebagai berikut:
a) Sebuah CPU 8 bit yang termasuk keluarga MCS51
b) Osilator internal dan rangkaian pewaktu
c) RAM internal 128 byte (on chip)
d) Empat buah programable port I/O, masing-masing terdiri atas 8 buah jalur I/O
e) Dua buah timer/counter 16 bit
f) Lima buah jalur interupsi (dua buah interupsi eksternal dan tiga buah interupsi internal)
g) Sebuah port serial dengan full duplex UART
h) Kemampuan melakukan operasi perkalian, pembagian dan operasi boolean (bit)
i) Kacepatan pelaksanaan interupsi per siklus 1 mikrodetik pada frekuensi clock 12 MHz.

II.5. Perangkat Lunak (Software)


Dalam tugas ini perangkat lunak yang digunakan berupa bahasa pemrograman Asembly (ALDS)
untuk mengisi ROM dan mikrokontroler 89C51 dan bahasa pemrograman PASCAL untuk
mengatur atau mengambil data yang dikirim dari mikrokontroler. Adapun alur programnya dapat
dilihat pada bagian lampiran.

II.6. Perangkat Lunak (Software)


II.7. Kalibrasi Alat
Dari teori yang telah dibahas sebelumnya, diketahui bahwa antara perubahan temperatur dan
tegangan keluaran tranduser merupakan suatu hubungan yang linier. Oleh karena itu sebelum alat yang
dibuat digunakan untuk pengukuran yang sebenarnya, maka terlebih dahulu perlu dilakukan kalibrasi.
Adapun kalibrasi yang dilakukan adalah dengan menggunakan termometer alcohol, dan untuk
perubahan tegangan diukur denga menggunakan voltmeter digital.
Adapun data kalibrasi alat yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Grafik Kalibrasi Sensor

5,000 y = 0,1045x - 1,4375


R2 = 0,9972
Tegangan (Volt)

4,000

3,000

2,000

1,000

0,000
25 30 35 40 45 50 55
Suhu (C)