Anda di halaman 1dari 3

Bioetika

Bioetika berasal dari 2 kata, yaitu bios yang artinya makhluk hidup atau
kehidupan, dan etos yang artinya norma – norma dan nilai – nilai. Bioetika
dan bioetika medis merupakan ilmu interdisipliner tentang masalah yang
ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik
dalam skala makro maupun mikro, masa kini dan masa mendatang.
Bioetika pertama kali diteliti oleh Institute for the Study of Society, Ethics
and Life Sciences, Hasting Center, New York pada tahun 1969. Di Indonesia,
penilitian akan Bioetika berkembang sekitar satu decade terakhir, dan
dipelopori oleh Pusat Pengembangan Etika Universitas Atma Jaya, Jakarta.

Ada 4 prinsip yang merupakan inti dasar dari Bioetika


1. Principle of Respect of Autonomy  Penghormatan terhadap Otonomi
2. Principle of Nonmaleficience  Tidak melukai/memperburuk
3. Principle of Beneficience  Mencapai/membuahkan hasil
4. Principle of Justice  Keadilan

1. Principle of Respect of Autonomy


Prinsip ini menitikberatkan bahwa pasien selaku manusia dan individu,
memiliki kebebasan penuh untuk memilih dan menentukan perlakuan apa
yang akan dilakukan terhadap dirinya, dalam hal ini, adalah tindakan –
tindakan medis terapeutik. Jika memang pasien itu sendiri memiliki
kemampuan dan kapasitas untuk dapat berpikir secara sehat dan baik untuk
menentukan dan membuat suatu keputusan, maka dokter ataupun tenaga
medis yang menangani harus menghormatinya. Hal ini pun mengikat pada
perihal tidak boleh adanya tekanan pada pasien dengan tujuan agar sang
pasien membuat suatu keputusan tertentu atau dengan kata lain,
dipengaruhi oleh suatu hal yang tidak semestinya.
Bentuk konkrit dari prinsip ini adalah dengan adanya “Informed Consent”
yang dapat digunakan oleh pasien ataupun dokter untuk mengkoordinasi
protocol terapi yang akan dijalankan, dan mengetahui keinginan pasien
dalam menjalankan terapi yang akan diberikan.

2. Principle of Nonmaleficience
Prinsip ini berarti bahwa seorang praktisi medis tidak dibenarkan untuk
melakukan suatu hal yang menyakiti pasien dengan tidak adanya indikasi
tertentu yang mengharuskan. Hal ini dapat dinilai pada prosedur medis yang
bersifat invasive (Endoskopi, Laringoskopi direct, Biopsi, etc.). Beberapa
prosedur medis tersebut dinilai sangat invasive dan dapat menyebabkan
ketidaknyamanan pada pasien, maka sebaiknya tidak dilakukan JIKA
MEMANG indikasi medis khusus tidak melandasi akan diharuskannya
dilakukan tindakan tersebut.
Prinsip ini juga melibatkan masalah “ketidaksengajaan” dalam menyakiti
pasien/Negligence. Sebagai praktisi medis, maka adalah satu kewajiban
untuk meminimalisasi resiko dan memberikan yang terbaik bagi pasien. Ada
beberapa criteria untuk menilai seseorang telah melakukan
Negligence/Kelalaian :
- Praktisi mempunyai tugas kepada pasien yang bersangkutan
- Praktisi tersebut melewati batasan – batasan tugasnya
- Pasien yang bersangkutan mengalami kesakitan/kekerasan
- Kesakitan/kekerasan yang dialami disebabkan karena pelanggaran
terhadap batasan – batasan tugas
Prinsip ini secara tersirat menitikberatkan akan masalah profesionalitas dan
kompetensi tenaga medis untuk dapat meminimalisir resiko, meskipun
terkadang kelalaian kadang tetap terjadi.

3. Principle of Beneficience
Prinsip ini mempunyai inti bahwa seorang tenaga medis harus memenuhi
kebutuhan pasien semaksimal mungkin demi kesembuhan dan penyelesaian
terhadap masalah pasien. Prinsip ini juga memiliki kaitan dengan prinsip
Nonmaleficience. Prinsip ini memiliki arti khusus yaitu memberikan
pelayanan yang baik terhadap pasien secara individual, ataupun arti umum
yaitu memberikan yang terbaik bagi masyarakat luas dalam hal misalnya
pencegahan penyakit menular ataupun vaksinasi. Prinsip ini juga
mengedepankan hal tentang pemilihan obat dan manajemen terapeutik
yang terbaik bagi pasien, yang berarti memang benar – benar sesuai indikasi
klinis dan memiliki efek samping yang seminimal mungkin.
Meskipun prinsip ini mengutamakan untuk memberikan yang terbaik, namun
seorang praktisi medis memiliki hak penuh untuk memilih apakah seorang
pasien dapat masuk dan menjadi kewajiban praktisnya. Hal ini menjadi sulit
jika ada 2 pasien datang secara bersamaan. Hal ini pun menjadi sulit jika
seorang praktisi medis tidak mampu menilai prediksi masa depan pasien,
dan tidak mengetahui beberapa surat keterangan lain misalnya DNAR (Do
Not Attempt Resuscitation), ataupun Advanced Directives

4. Principle of Justice
Keadilan dalam prinsip ini berarti semua pasien berhak mendapat pelayanan
medis sesuai dengan indikasi dan kemampuan. Hal ini bukan berarti kita
harus memandang akan keadaan ekonomi pasien secara sentris, namun kita
harus memberikan apa yang bisa ia peroleh dengan kemampuan
ekonominya. Berbagai peralatan canggih dan manajemen terapeutik
modern, tak sebaiknya diberikan jika memang pasien tidak akan mampu
membayarnya kelak di kemudian hari. Tentunya, hal ini berkesan sulit
karena mungkin dapat menimbulkan rasa ketidakadilan pada pasien.
Meskipun demikian, seorang praktisi medis harus tetap memberikan
pelayanan medis pada semua orang sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan pasien. Jadi, bukan berarti seorang pasien dengan ekonomi
lemah akhirnya dicemoohkan dan dibiarkan begitu saja.

Beberapa criteria yang dapat digunakan untuk distribusi keadilan yang dapat
digunakan adalah :
- To each person an equal share  Pada setiap orang, pembagian yang
sama
- To each person according to need  Pada setiap orang, sesuai
kebutuhan
- To each person according to effort  Pada setiap orang, sesuai
kemampuan
- To each person according to contribution  Pada setiap orang, sesuai
kontribusi
- To each person according to merit  Pada setiap orang, sesuai
manfaat
- To each person according to free-market exchange  Pada setiap
orang, sesuai kaidah jual-beli

Prinsip ini secara tidak langsung mengharuskan tenaga medis untuk


mengerti akan manajemen terapeutik yang benar – benar sesuai dengan
pasien baik secara klinis ataupun kemampuan dan fungsi sosial ekonomi
pasien.

Daftar Pustaka
- Jusuf M.Hanafiah.2009.Etika Kedokteran dan Hukum
Kesehatan.EGC.Jakarta
- http://depts.washington.edu/bioethx/tools/index.html