Anda di halaman 1dari 6

SUHU UDARA

Suhu udara akan berfluktuasi dengan nyata selama setiap periode 24 jam.
Fluktuasi suhu udara dan suhu tanah berkaitan erat dengan proses pertukaran
energi yang berlangsung di atmosfer. Pada siang hari, sebagian dari radiasi
matahari, akan diserap oleh gas-gas atmosfer dan partikel-partikel padat yang
melayang di atmosfer. Serapan energi radiasi matahari ini akan menyebabkan
suhu udara meningkat. Suhu udara harian maksimum tercapai beberapa saat
setelah ntenstas cahaya maksimum tercapai pada saat berkas cahaya jatuh tegak
lurus, yakni pada waktu tengah hari (Lakitan B, 1994).
Sebagian radiasi pantul dari permukaan bumi juga akan diserap oleh gas-
gas dan partikel-partikel atmosfer tersebut. Karena kerapatan udara dekat
permukaan lebih tinggi dan lebih berkesempatan untuk menyerap radiasi pantulan
dari permukaan bumi, maka pada siang hari suhu udara dekat permukaan akan
lebih tinggi dibandingkan pada lapisan udara yang lebih tinggi. Sebaliknya pada
malam hari, terutama pada saat menjelang subuh, suhu udara deat permukaan
menjadi lebih rendah dibandingkan dengan suhu pada lapisan udara yang lebih
tinggi (Lakitan B, 1994).
Permukaan bumi merupakan permukaan penyerap utama dari radiasi
matahari. Oleh sebab itu permukaan bumi merupakan sumber panas dari udara di
atasnya dan bagi lapisan tanah di bawahnya. Pada malam hari, permukaa bumi
tidak menerima masukan energi dari radiasi matahari, tetapi permukaan bumi
tetap akan memancarkan energi dalam bentuk radiasi gelombang panjang,
sehingga permukaan akan kehilangan panas, akibatnya suhu permukaan akan
turun. Karena perannya yang demikian, maka fluktuasi suhu permukaan akan
lebih besar dari fluktuasi udara di atasnya (Lakitan B, 1994).
Profil suhu udara akan terganggu jika turbulensi udara atau pergerakan
massa udara menjadi sangat aktif, misalnya pada kondisi kecepatan angin tinggi.
Jika pergerakan massa udara tersebut melibatkan seluruh lapisan udara dekat
permukaan, maka suhu udara pada lapisan tersebut akan relatif homogen (Lakitan
B, 1994).
Untuk menghasilkan suhu udara dengan menggunakan program ermapper
dengan data satelit landsat dapat dilakukan beberapa proses seperti yang
digambarkan pada skema di bawah ini :
1) G (fluks pemanasan tanah)

Pertama yang dilakuakan adalah menentukan fluks pemanasan tanah


diduga dengan menggunakan persamaan yang diturunkan oleh Allen (1998).
Persamaan tersebut tergantung dari resolusi waktu yang digunakan. Pada program
er mapper data yang digunakan adalah penggabungan data Rn dan data klasifikasi
hal ini di sebabkan pada fluks bahang tanah yang dihasilkan berbeda tiap
objeknya.

Per Jam :

G = 0.1Rn 06 .00 < t <18 .00


G = 0.4 Rn 18 .00 < t < 06 .00

Harian
G =0

Bulanan
G = 0.07 (Tbulan +1 −Tbulan )
G = 0.14 (Tbulan −Tbulan −1 )

atau
G
Rn
T
( )(
= s 0.0038 α +0.0074 α2 1 −0.98 NDVI
α
4
)
2) H (fluks pemanasan udara)

Dengan mengetahui nilai G maka dapat diketahui besar H dengan


persamaan :
ρair C p (Ts −Ta )
H =
raH

900
H =γ λ.U 2 (Ts −Ta )
Ta +273

Data yang dibutuhkan dan digunakan dalam proses penentuan nilai H pada
er mapper adalah penggabungan Rn, G dan data klasifikasi citra. Penggunaan nilai
G pada proses ini karena nilai H dipengaruhi oleh nilai G, semakin tinggi G maka
nilai H juga semakin tinggi. Data class dibutuhkan pada proses ini karena hasil
yang berhubungan dengan nilai H memiliki objek yang bermacam-macam
sehingga nilai H tersebut bervariasi pula sesuai dengan masing-masing objek.

3) LE (Fluks pemanasan uap air)


Langkah selanjutnya adalah menentukan besar LE dari nilai H yang telah
diketahui dengan persamaan :

λE = Rn – G – H

4) Ta (Suhu Udara)

Langkah akhir adalah menentukan estimasi suhu udara dari nilai G, H dan
LE yang telah diketahui dengan persamaan :

Ta= Ts- H raHρair Cp


Pada pengolahan citra satelit untuk mengetahui nilai Ta dilakukan dengan
menggabungkan data Ts terkoreksi, H, dan class. Data Ts (suhu permukaan)
diperlukan karena suhu permukaan merupakan tanggapan berbagai fluks energi
yang melaluinya. Suhu permukaan akan mempengaruhi jumlah energi untuk
memindahkan panas dari permukaan ke udara sehingga mempengaruhi nilai suhu
udara pada suatu tempat. Nilai H digunakan pada proses ini karena variabel
tersebut berhubungan dengan pemanasan udara. Klasifikasi dibutuhkan karena
objek/ permukaan yang berbeda memiliki suhu udara yang berbeda pula. Dengan
memasukkan formula Ta terhadap penggabungan ketiga komponen tersebut maka
dapat diketahui nilai Ta pada suatu daerah.

Keterangan :

H = Fluks Pemanasan Udara (Wm-2)

ρair = Kerapatan udara lembab (1.27 kg m-3)


-1 -1

CP
= Panas spesifik udara pada tekanan konsten (1004 J Kg K )

s
T = Suhu Permukaan

a
T = Suhu Udara
-1

aH
R = Tahanan Aerodinamik (sm )
-2

Rn = Radiasi netto (W m )
-2

G = soil heat flux ( W m )


-2

λE = energi untuk penguapan ( W m )


Daftar Pustaka :

Lakitan, B. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.