Anda di halaman 1dari 5

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas
Indonesia

Tugas Review II Mata Kuliah Dinamika Kawasan Amerika


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber Bacaan : 1. I.M. (Mac) Destler, “The United States and a Free Trade Area of the Americas: A Political-Economic
Analysis”, dalam Antoni Estevadeordal, et.all. (eds.), Integrating the Americas: FTAA and Beyond.
(Cambridge: Harvard University Press, David Rockefeller Center for Latin American Studies, 2004),
hal. 397-416.
2. Office of the US Trade Representative (USTR), “U.S. and Central American Countries Conclude Free
Trade Agreement”. http://pdq.state.gov/scripts/cqcgi.exe/@rware70.env?CQ_SESSION_KEY=ZJPFF
OFESMGD&
3. Office of the US Trade Representative (USTR), “USTR, Andean Leaders Discuss Start of U.S.-Andean
Free Trade Talks”. Ibid.

Masa Depan Sebuah Area Pasar Bebas Amerika

Amerika Serikat merupakan negara yang terkenal dengan prinsip liberalisme dan pasar bebasnya.
Amerika Serikat (AS) juga dikenal aktif dalam mempromosikan kedua prinsip ini secara global melalui
perannya dalam World Trade Organizations. Dua prinsip ini juga berhasil membantu AS dalam memperoleh
kedudukannya sebagai great power dalam sistem internasional. Sejauh ini, berbagai perjanjian pasar bebas
(Free Trade Area agreement) telah berhasil dijalin AS dengan berbagai negara di berbagai wilayah dunia.
Akan tetapi, uniknya, dalam benuanya sendiri, AS justru tidak banyak menghasilkan perjanjian pasar bebas.
Sebuah Free Trade Area of the Americas (FTAA) hingga kini belum berhasil diwujudkan di kawasan ini.
Satu-satunya bentuk FTA yang sudah settled di kawasan Amerika adalah FTA yang terbentuk antara AS,
Kanada dan Meksiko yaitu North American Free Trade Area (NAFTA). Akan tetapi, berbagai perubahan
positif menuju terbentuknya FTAA di kawasan Amerika telah terjadi, misalnya melalui pembentukan
Central American Free Trade Area (CAFTA) dan pembentukan Andean Trade Preference Act (ATPA).
Tulisan ini kemudian akan membahas lebih lanjut mengenai pembentukan sebuah FTA yang meliputi
seluruh Benua Amerika, dan berbagai FTA—baik yang sudah settled ataupun yang baru saja
terbentuk—yang ada di kawasan Amerika.
Dalam tulisannya yang berjudul “The United States and a Free Trade Area of the Americas: A
Political-Economic Analysis”, I.M. Destler menjelaskan mengenai berbagai tantangan yang harus dihadapi
untuk melahirkan sebuah FTAA. Ide mengenai FTAA sendiri pertama disampaikan oleh AS melalui George
W. Bush pada tahun 2001. Sebuah undang-undang pun dibuat untuk mematangkan konsep FTAA ini, yaitu
dalam bentuk Undang-Undang Trade Promotion Authority (UU TPA). Akan tetapi, dalam perkembangannya
UU TPA ini cenderung tidak mengalami perkembangan; konsep FTAA pun cenderung stagnan dan tidak
berkembang. Destler mengatakan, setidaknya ada empat masalah yang menyebabkan hal tersebut. Pertama,

Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

mengenai dasar FTAA yang kurang kuat. Destler mengatakan, salah satu permasalahan utama terkait dengan
kurangnya kepentingan politik dari para pengusaha AS untuk menghasilkan sebuah area pasar bebas di
Benua Amerika, terutama karena mayoritas perdagangan AS dilakukan dengan Kanada dan Meksiko—dua
negara yang tergabung dalam NAFTA. Tekanan untuk tidak menghasilkan FTAA juga datang dari kaum
buruh, yang merasa terancam dengan kehadiran buruh murah terutama dari wilayah Amerika Tengah.
Kurangnya intensi politik untuk membentuk sebuah FTAA, baik dari AS maupun dari negara-negara di
kawasan Amerika lainnya, menjadikan pembicaraan mengenai FTAA cenderung stagnan. Permasalahan
kedua adalah mengenai berbagai kebijakan proteksi yang diterapkan AS dalam UU TPA dan tekanan dari
kelompok-kelompok domestik sehubungan kebijakan tersebut. Destler mengatakan, ada tiga kebijakan
proteksi yang menjadi perdebatan, yaitu kebijakan restriksi untuk produk-produk impor sensitif, pengaturan
tarif masuk untuk produk tekstil, dan peraturan anti-dumping. Kebijakan pertama, kebijakan restriksi untuk
produk impor sensitif ditujukan umumnya untuk produk-produk impor pertanian seperti gula dan jeruk
karena produk pertanian ini merupakan produk yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat AS. Sama halnya seperti kebijakan pertama, kebijakan pengurangan tarif masuk
produk tekstil juga dikeluarkan AS karena adanya tekanan dari industri domestik tekstil AS agar liberalisasi
perdagangan yang terjadi tidak sampai mematikan industri mereka. Adapun kebijakan ketiga yang juga
diperdebatkan, hukum anti-dumping, dikeluarkan AS untuk melindungi produser domestik dari liberalisasi
perdagangan yang mungkin terjadi. Adanya ketiga kebijakan ini dalam UU TPA menjadikan UU TPA
cenderung ditolak oleh negara-negara di kawasan Amerika lainnya, yang menganggap AS tidak sepenuhnya
menginginkan sebuah area pasar bebas tercipta di kawasan ini.
Permasalahan ketiga adalah adanya perpecahan dalam Kongres Amerika antara Partai Republikan
yang menginginkan UU TPA ini disahkan dan Partai Demokrat yang justru menolak konsep FTAA ini.
Alasan utama mengapa Partai Demokrat lantas menolak FTAA ini adalah karena FTAA dinilai akan
mengancam hidup para buruh AS. Partai Demokrat juga melihat FTAA ini akan berpengaruh negatif pada
kelestarian lingkungan AS. Tidak adanya klausul mengenai perlindungan buruh dan lingkungan menjadikan
UU TPA ini cenderung stagnan karena alotnya pertentangan antara Partai Demokrat dan Republik.
Permasalahan keempat yang dilihat Destler adalah hilangnya mimpi di kawasan Amerika sendiri untuk
melahirkan sebuah pasar bebas Amerika. Berbagai pergolakan domestik seperti krisis ekonomi di Argentina,
kekacauan politik di Venezuela, dan ketidakyakinan politik pada masa pemerintahan Lula di Brazil
menjadikan mimpi akan terbentuknya sebuah pasar bebas Amerika mulai memudar karena setiap negara

Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

sibuk dengan urusan domestiknya masing-masing. Keempat permasalahan ini, diyakini Destler,
menyebabkan pembicaraan akan konsep FTAA cenderung stagnan dan tidak mengalami perkembangan
berarti. Selama keempat masalah ini tidak berhasil diatasi, sebuah pasar bebas Amerika tampaknya masih
akan sulit terwujud.
Akan tetapi, walaupun perkembangan konsep FTAA dinilai mengalami stagnasi oleh Destler,
kenyataannya berbagai perkembangan positif justru terjadi dalam rangka penciptaan berbagai area pasar
bebas di wilayah Amerika, hanya saja memang area pasar bebas yang tercipta bukanlah sebuah area pasar
bebas untuk seluruh negara di kawasan Amerika. CAFTA1, misalnya, terbentuk secara resmi pada Desember
2003 dengan melibatkan AS, El Salvador, Guatemala, Honduras, dan Nicaragua. CAFTA mencakup
berbagai macam area kerja sama, yaitu meliputi kerja sama dalam bidang perdagangan 2 dan dalam berbagai
bidang jasa seperti sektor energi, pariwisata, transportasi, hiburan, sampai pada area-area krusial seperti
investasi, penciptaan good governance, dan perlindungan buruh dan lingkungan. Kerja sama CAFTA ini
sendiri mendapat sambutan positif dari seluruh pemimpin negara yang terlibat di dalamnya, yang menilai
CAFTA tidak hanya sebagai bentuk masa depan baru bagi hubungan ekonomi AS dan 4 negara Amerika
Tengah, tetapi juga sebagai sarana penciptaan demokrasi, pembangunan, dan perdamaian di wilayah
Amerika Tengah. AS juga menyatakan keinginannya untuk memasukkan Panama dalam kerangka kerja
CAFTA di masa depan.
Selain terjadi dalam bentuk CAFTA, sebuah area pasar bebas yang melibatkan beberapa negara di
kawasan Amerika juga terjadi dalam bentuk US-Andean trade pact3. US-Andrean trade pact ini melibatkan
AS dan empat negara Andean, yaitu Kolombia, Peru, Ekuador dan Bolivia.4 Lebih lanjut lagi kerja sama ini
dilakukan dalam kerangka Andean Trade Preferenced Act (ATPA) yang telah dibuat sejak 1991 dan
diperbaharui pada 2004. Melalui kerja sama ini, AS bermaksud menghadirkan kerja sama resiprokal yang
menghadirkan keuntungan pada negara-negara Andean berupa penguatan prinsip demokrasi, transparansi,
akuntabilitas, serta demi membasmi narcotrafficking dan kemiskinan. Keempat negara Andean sendiri
melihat kerja sama ini sebagai hal yang positif.
Dari berbagai tulisan di atas, penulis menyimpulkan bahwa terdapat dua opini berbeda sehubungan
1
Pembentukan CAFTA dipaparkan dalam dokumen U.S. Trade Representative yang berjudul “U.S. and Central American
Countries Conclude Free Trade Agreement”.
2
Dalam sektor perdagangan tekstil, CAFTA bertujuan mengintegrasikan industri tekstil Amerika Tengah dan Amerika Utara,
ditunjukkan melalui aturan mengenai pemberian duty free pada produk tekstil Amerika Tengah yang dibuat menggunakan
bahan-bahan dari Meksiko dan Kanada, lihat Ibid.
3
Lihat “USTR, Andean Leaders Discuss Start of U.S.-Andean Free Trade Talks”.
4
Ketika tulisan ini dibuat, kerja sama yang sudah terjalin barulah kerja sama antara AS dengan Kolombia dan Peru, sementara
Bolovia dan Ekuador baru sebatas menyatakan keinginan mereka untuk bergabung.
Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

dengan penciptaan sebuah area pasar bebas Amerika. Destler, misalnya, lebih melihat sebuah area pasar
bebas Amerika sebagai konsep yang sulit diwujudkan karena adanya berbagai permasalahan bersifat
domestik dan regional yang menghalangi perkembangannya. Sementara berbagai artikel dari U.S. Trade
Representative (USTR) lebih melihat adanya perkembangan positif menuju terbentuknya FTAA dengan
terbentuknya berbagai area pasar bebas dalam skala lebih kecil melalui CAFTA dan ATPA. Penulis sendiri
cenderung mengikuti pandangan kedua, yang masih optimis pada perwujudan FTAA. Hal tersebut
dikarenakan, berbagai masalah yang disebutkan Destler kini mulai menemukan titik terang. Masalah
proteksi AS pada produk pertaniannya, misalnya, tampaknya sudah terselesaikan dalam Doha Round yang
disetujui pada 1 Agustus 2004 di mana dalam pertemuan tersebut, negara-negara anggota WTO—termasuk
AS—telah setuju untuk mengeliminasi subsidi ekspor produk pertaniannya dan mengurangi support
domestik dan hambatan perdagangan bagi impor produk pertanian. 5 Adanya peraturan baru WTO ini
tampaknya akan menghadirkan titik terang baru bagi pembentukan FTAA, mengingat salah satu hambatan
utama FTAA sebelumnya adalah ketidaksediaan AS untuk mengurangi berbagai proteksi domestiknya pada
produk-produk pertanian yang dinilai sensitif.
Faktor kedua yang juga menyebabkan penulis cenderung optimis pada perwujudan FTAA di masa
depan adalah adanya berbagai negosiasi FTA skala lebih kecil seperti yang telah disebutkan dalam
dokumen-dokumen USTR. Penulis sendiri beranggapan, terbentuknya sebuah area pasar bebas dalam
lingkup yang lebih kecil pada akhirnya akan mempermudah langkah pembentukan FTAA. Dalam hal ini,
penulis melihat area pasar bebas dalam lingkup yang lebih kecil tersebut sebagai batu loncatan bagi
terbentuknya sebuah area pasar bebas Amerika. Kehadiran NAFTA—yang telah dibentuk jauh sebelum
pembicaraan mengenai FTAA muncul, CAFTA dan ATPA akan menghasilkan momentum dan preseden bagi
terbentuknya FTAA di masa depan.6
Selain itu, penulis juga cenderung kurang setuju dengan permasalahan keempat yang diungkapkan
Destler dalam tulisannya, yaitu mengenai hilangnya mimpi di negara-negara kawasan Amerika akan
terbentuknya sebuah pasar bebas Amerika. Adapun ternyata, pembentukan sebuah area pasar bebas Amerika
masihlah diminati oleh 29 dari 34 negara yang hadir dalam The Summit of the Americas pada November
2005 lalu.7 Empat negara anggota MERCOSUR lainnya menginginkan negosiasi FTAA ditunda sampai isu

5
Jeffrey J. Schott, Does the FTAA Have A Future? Dapat diakses secara online melalui http://www.iie.com/publications/
papers/schott1105.pdf. Diakses pada 17 Maret 2010, pukul 21.56.
6
Jeffrey J. Schott, Ibid.
7
Eric Farnsworth, “FTAA Delayed, But Not Over”, dalam Council of the Americas Society, Volume 4, Issue 1, 2005. Dapat
diakses secara online melalui http://www.as-coa.org/files/PDF/pub_308_358.pdf. Diakses pada 17 Maret 2010, pukul 22.01.
Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

subsidi pertanian benar-benar terselesaikan pada tingkat global, dan hanya satu negara yang menolak FTAA,
yaitu Venezuela. Adanya dukungan dari 29 negara tersebut, penulis yakin, merupakan tanda yang positif
bagi terbentuknya FTAA di masa depan.
Free Trade Area of the Americas mungkin bukanlah merupakan konsep yang mudah diwujudkan.
Beberapa pihak bahkan berpendapat FTAA merupakan bentuk negosiasi regional yang paling kompleks.
Berbagai permasalahan, baik di tingkat domestik maupun di tingkat regional, yang menghalangi
pembentukan FTAA memang masih harus ditaklukkan. Akan tetapi, berbagai perubahan ke arah positif terus
terjadi dewasa ini. Perjuangan pembentukan FTAA memang masih panjang. Akan tetapi, penulis optimis
sebuah area pasar bebas Amerika akan dapat terwujud di masa depan. Semoga.

Page | 5