Anda di halaman 1dari 11

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas
Indonesia

Tugas Review Mata Kuliah Hubungan Luar Negeri dan Keamanan China
Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber Bacaan : David Shambaugh, China Perceives America 1972-1990. (Princeton: Princeton University Press, 1991), h.
277-303.

Persepsi Hubungan China-Amerika Serikat dari Kacamata Pengamat Amerika


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Seorang Pengamat Amerika di China dan Tren
Hubungan China-Amerika Serikat di Masa Depan
Sebagai negara hegemon yang sangat berpengaruh di dunia internasional, pemahaman akan
Amerika Serikat (AS) menjadi sangat penting, khususnya bagi China yang kini sedang tumbuh menjadi
kekuatan yang disebut-sebut berpeluang menggantikan posisi AS di dunia internasional. Pemahaman akan
AS tersebut tidak cukup bila hanya diperoleh dengan memperhatikan tingkah laku dan kebijakan-kebijakan
yang diambil AS, karenanya untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai AS, pemerintah
China pun memanfaatkan kehadiran para pengamat Amerika (America Watchers) di negaranya. Adapun para
pengamat Amerika ini sebenarnya adalah warga negara China sendiri yang memiliki ketertarikan untuk
memahami AS secara lebih mendalam. Penjelasan mengenai para pengamat Amerika di China ini kemudian
disampaikan oleh David Shambaugh dalam tulisannya yang berjudul ―Beautiful Imperialist, China Perceives
America 1972-1990‖.
Shambaugh mengatakan, para pengamat Amerika bertugas untuk menganalisa AS dan
menginterpretasikannya pada masyarakat dan elit politik China. Selain itu, para pengamat Amerika juga
terlibat dalam pembuatan dan pengimplementasikan kebijakan-kebijakan China yang berhubungan dengan
Amerika. Keberadaan komunitas pengamat Amerika ini sebenarnya sudah dimulai sejak 1979, ketika terjadi
normalisasi hubungan AS dan China. Sejak itulah, komunitas ini terus berkembang hingga sekarang dalam
berbagai institusi seperti The New China News Agency, Chinese Association of American Studies, Centers of
American Studies, dan berbagai institusi lain. Dalam perkembangannya, para pengamat Amerika ini
kemudian dapat dibagi menjadi dua variasi utama, yaitu pengamat Amerika beraliran Marxist dan yang
beraliran non-Marxist.
Dalam aliran Marxist sendiri, pengamat Amerika kemudian dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu pengamat Amerika golongan Stalinis dan pengamat Amerika golongan Leninis. Bagi penganut
golongan Stalinis, struktur kelas dalam AS memegang peran yang krusial. Bagi mereka, segala aktivitas
politik dan ekonomi merupakan fungsi dari disposisi kekuatan suatu kelas ekonomi tertentu. Aktivitas politik
Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

dan ekonomi, karenanya, didominasi oleh monopoli suatu kelompok borjuis dalam bentuk oligarki finansial.
Kelompok inilah—yang menurut pengamat Amerika beraliran Stalinis—yang lantas mendominasi aktifitas
ekonomi, sosial, dan politik negara serta mendikte bentuk politik luar negeri suatu negara. Golongan Stalinis
ini dapat ditemukan dalam Universitas Wuhan, Universitas Nankai di Tianjin, dan Universitas Fudan di
Shanghai. Berbeda dengan pendapat aliran Stalinis, pengamat Amerika aliran Leninis berpendapat bahwa
kehidupan politik AS tidaklah dikuasai oleh suatu kelompok borjuis ekonomi tertentu. Menurut aliran ini,
kehadiran kelompok borjuis memang memegang peranan penting dalam AS, akan tetapi pemerintah tetaplah
memegang otonomi besar dalam proses pembuatan kebijakan. Sehingga kehadiran kelas pekerja yang
senantiasa ―absolutely impoverished‖ tidaklah absolut karena negara masih memegang otonomi untuk
mengatur rakyatnya. Politik bukanlah turunan dari ekonomi, melainkan keduanya bersifat coalescence.
Golongan Leninis dapat ditemukan dalam Institute of World Economics and Politics pada Chinese Academy
of Social Sciences (CASS).
Variasi kedua yang muncul dalam kalangan para pengamat Amerika adalah aliran non-Marxist, di
mana aliran ini sendiri dapat dibagi menjadi golongan Statis (Statist) dan golongan Pluralis. Bagi golongan
Statis, dalam menganalisa politik dan proses pembuatan kebijakan di AS, hal yang krusial adalah pemerintah
federal, terutama lembaga eksekutifnya sehingga aliran ini akan memfokuskan perhatian mereka pada fungsi
institusi dan perpecahan yang terjadi dalam lembaga eksekutif AS. Aliran ini dapat ditemukan dalam
kelompok birokrat China (terutama Departemen Luar Negeri), jurnalis New China News Agency, dan dalam
berbagai institusi penelitian seperti Institute of Contemporary International Relations dan Shanghai Institute
of International Studies. Aliran kedua dalam variasi non-Marxist adalah aliran Pluralis. Aliran ini memiliki
lingkup analisa yang tidak berbatas. Bagi kelompok Pluralis, pembuatan kebijakan adalah hasil dari input
yang diperoleh dari semua aktor, baik itu aktor ekonomi, sosial, dan politik. Politik, karenanya, merupakan
sebuah lingkungan yang plural di mana proses demokrasi menyebabkan semua elemen masyarakat dapat
berperan dalam proses pembuatan kebijakan. Para pengamat Amerika beraliran Pluralis dapat ditemukan
dalam Institute of American Studies dan Institute of International Studies pada CASS, serta pada beberapa
komunitas jurnalistik.
Akan tetapi ternyata, selain dapat dibagi menjadi aliran Marxist dan non-Marxist, Shambaugh
mengatakan ada suatu kelompok pengamat Amerika yang melihat politik luar negeri AS sebagai bentuk
usaha memperoleh hegemoni global. Kelompok ini melihat politik luar negeri AS sebagai bentuk

Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

kompleksitas superpower, di mana AS melakukan manipulasi pada China demi kepentingan strategisnya
melalui bentuk intervensi pada martabat nasional dan kedaulatan China. Karenanya, politik luar negeri AS
pada China, menurut kelompok ini, pada dasarnya bertujuan untuk merubah China agar sesuai dan sejalan
dengan kepentingan AS untuk menguasai dunia.
Setelah menjelaskan mengenai aliran-aliran dalam diri para pengamat Amerika di China,
Shambaugh kemudian menjelaskan mengenai faktor-faktor yang ikut menentukan berbagai persepsi
pengamat Amerika terhadap AS tersebut. Pada dasarnya, ada enam faktor yang menentukan persepsi seorang
pengamat Amerika. Faktor pertama adalah kontak (exposure) yang timbul dengan AS. Shambaugh
mengatakan, adanya kontak yang dekat dengan AS berkorelasi positif dengan timbulnya interpretasi yang
bersifat non-Marxist, khususnya pada generasi muda para pengamat Amerika. Semakin tua seorang
pengamat Amerika, ia biasa semakin terikat dengan kepercayaan umum warga China, yaitu Marxist. Hal
yang sebaliknya terjadi pada generasi muda para pengamat Amerika, yang seringkali menganut aliran
non-Marxist setelah melakukan kunjungan ke AS.
Faktor kedua yang juga berpengaruh dalam menentukan interpretasi seorang pengamat Amerika
adalah peran profesional yang diambilnya. Yang dimaksud dengan peran profesional di sini adalah ketika
peran seseorang dikondisikan sesuai dengan lingkungan organisasi tempat ia bekerja. Shambaugh
menggambarkan kondisi ini dengan ungkapan ―where one stands is where one sits‖. Berdasarkan faktor ini,
Shambaugh kemudian mengidentifikasi adanya tiga kategori institusi berbeda yang ikut membentuk
interpretasi para pengamat Amerika di China. Kategori pertama adalah para pengamat Amerika yang bekerja
pada sektor birokrasi dan pusat pemerintahan, khususnya Departemen Luar Negeri. Pada kategori ini, para
pengamat Amerika dituntut untuk memberikan informasi akurat yang bersifat bebas-nilai pada para
pengambil kebijakan, sehingga interpretasi yang akan terbentuk umumnya bersifat deskriptif, objektif,
straightforward, dan non-Marxist.
Kategori kedua dari peran profesional para pengamat Amerika adalah kalangan profesional yang
terlibat dalam pembentukan intelektual (―establishment intellectual‖) di China. Termasuk dalam kategori ini
adalah para profesor ilmu sosial, yang menjadikan ruang kelas mereka sebagai forum indoktrinisasi ajaran
Konfusius, dan pemikiran Marxis-Leninis-Mao Zedong. Tugas dari pengamat Amerika pada kategori ini
adalah untuk menambahkan sisi ideologis pada fakta mentah mengenai AS sehingga kategori ini erat
kaitannya dengan interpretasi aliran Marxist, baik dalam bentuk Stalinis maupun Leninis. Kategori ketiga

Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

adalah kelompok profesional yang bekerja di bidang jurnalistik, yaitu dalam New China News Agency
(NCNA). Selama beberapa periode, NCNA memonopolisasi media di China dengan melakukan propaganda
anti-AS. Adapun propaganda ini dilakukan sejalan dengan keinginan pemerintah China, yang menganggap
media sebagai alat propaganda untuk mengartikulasikan ideologi negara. Hal ini berlangsung hingga tahun
1972. Setelah Tragedi Tiananmen, kehidupan jurnalistik China menjadi lebih bebas dan independen dari
pengaruh partai yang berkuasa. Monopoli NCNA juga sudah mulai berkurang. Era liberalisasi jurnalistik
pun dimulai, kini jurnalis China dan para pengamat Amerika yang terlibat di dalamnya bebas
mengungkapkan interpretasi yang bersifat non-Marxist dan non-ideologis.
Faktor ketiga yang menentukan interpretasi seorang pengamat Amerika adalah sumber-sumber
penelitian yang diperolehnya, yang kemudian dapat dibagi menjadi tiga tipe data yaitu dokumen, oral, dan
visual. Pada tipe dokumen, pengamat Amerika biasa menggunakan buku-buku, jurnal, koran, dan dokumen
pemerintah dari AS. Hal ini meningkatkan sisi empirisitas dari para pengamat Amerika di China karena
sumber analisis mereka kebanyakan berasal dari sumber resmi pemerintah AS. Tipe data kedua adalah
sumber oral. Sumber ini didapatkan dari adanya kontak dengan warga Amerika di China dan di AS. Para
pengamat Amerika biasa memiliki kontak lebih luas dibanding para intelektual China lainnya, yang
membantu mereka untuk mengadakan interview langsung demi kepentingan penelitian mereka. Tipe data
ketiga berasal dari sumber visual, termasuk di dalamnya sumber manusia (melalui pengamatan langsung
pada cara hidup warga AS melalui kunjungan yang diadakan para pengamat Amerika ke AS) dan sumber
elektronik (misalnya melalui siaran televisi AS yang disampaikan melalui satelit, melalui siaran radio Voice
of America, melalui film-film AS, dan lain-lain). Tiga macam sumber inilah yang membuat pengetahuan
para pengamat Amerika akan AS semakin luas, dan pada akhirnya mempengaruhi interpretasi dan persepsi
yang timbul.
Faktor keempat adalah lingkungan politik domestik di China. Liberalisasi politik yang dimulai
sejak tahun 1980an pada jaman Deng Xiaoping menyebabkan adanya peningkatan pada jumlah pengamat
Amerika di China. Pada 1979 sampai 1989, ideologi Marxist dan Konfusianis tidak lagi menjadi dogma
kebenaran dalam penelitian. Di sisi lain, Peristiwa Tiananmen melahirkan ketakutan tersendiri pada diri para
pengamat Amerika. Ternyata liberalisasi yang selama ini digaungkan tidak diikuti dengan kebebasan
mengeluarkan tulisan, masalah censorship tetap menjadi masalah di kalangan para pengamat Amerika
hingga kini. Berbagai pergerakan seperti Anti-Spiritual Pollution Campaign pada 1983, kampanye

Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

Anti-Bourgeois Liberalization 1987 dan pergerakan Anti-Peaceful Evolution Movement 1989-1990 memaksa
para pengamat Amerika untuk melakukan self-censorship, jika tidak ingin menjadi sasaran berbagai
pergerakan tersebut. Sehingga secara general, walaupun terjadi peningkatan jumlah para pengamat Amerika
sejak jaman Deng, tidak dipungkiri masalah self-censorship masih menjadi isu utama yang membatasi
kebebasan para pengamat Amerika.
Faktor kelima yang juga berpengaruh dalam interpretasi yang dilakukan para pengamat Amerika
adalah faktuor hubungan Sino-Amerika. Tidak seperti yang diperkirakan oleh para pengamat lainnya,
Shambaugh mengatakan buruknya hubungan China-Amerika di masa lalu ternyata tidak begitu berpengaruh
dalam membentuk interpretasi para pengamat Amerika di China. Sewaktu hubungan China-AS dibekukan,
misalnya, tidak terjadi perpindahan dukungan dari para pengamat Amerika. Sehingga dapat disimpulkan,
terlepas dari unsur self-censorship yang dilakukan para pengamat Amerika, hasil tulisan mereka tidaklah
menggambarkan kondisi hubungan antara China-AS. Hasil tulisan mereka memang terkadang
menggambarkan concern mereka akan hubungan politik dan domestik AS-China, akan tetapi seringkali
mereka hanya menulis apa yang mereka inginkan.
Faktor terakhir yang ikut berpengaruh dalam interpretasi dan persepsi para pengamat Amerika di
China adalah faktor perbedaan budaya. Adanya perbedaan budaya antara China dan AS kemudian
melahirkan satu kesan yang timbul dari para pengamat Amerika tentang AS, yaitu sebuah ambivalensi.
Adapun Shambaugh mengatakan, sisi ambivalensi AS yang dilihat oleh para pengamat Amerika disebabkan
karena dua faktor, yaitu perjanalan China menuju modernitas dan perbedaan sistem nilai yang dianut AS dan
China. Pada faktor pertama, China memiliki tujuan besar yaitu untuk mendapatkan ―kekayaan dan
kekuasaan‖, integritas dan kesatuan teritorial, martabat nasional dan penghargaan internasional. Setiap
tingkah laku AS karenanya, selalu dilihat melalui keterkaitannya dengan ambisi China tersebut. Bila AS
melakukan tindakan yang berkontribusi pada pencapaian salah satu tujuan China tersebut, maka semakin
positiflah image AS di kalangan para pengamat Amerika di China. Sebaliknya, bila AS menghambat
pencapaian tujuan-tujuan tersebut, AS akan dilihat sebagai musuh China. Adanya pemikiran akan tujuan
modernitas China ini lalu melahirkan gambaran yang sifatnya ambivalen tentang AS, karena AS
dipersepsikan sesuai dengan posisinya dalam pencapaian tujuan modernitas China, apakah itu AS sebagai
model (bila AS mendukung pencapaian tujuan China) atau AS sebagai musuh (bila menentang pencapaian
China).

Page | 5
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

Faktor kedua yang menyebabkan persepsi ambivalensi AS adalah perbedaan sistem nilai yang
dianut China dan AS, terdapat perbedaan fundamental pada cara China dan AS melihat hubungan antara
individu dan masyarakat, yang membuat pengamat Amerika cenderung sulit memahami premis-premis
liberalisme dan pluralisme Amerika. China melihat individual sebagai unsur yang senantiasa memiliki tugas
dan tanggung jawab pada masyarakat dan negara, sementara AS cenderung melihat individu sebagai bagian
masyarakat yang memiliki martabat dan hak sendiri. Pemikiran China ini berdasarkan pada ajaran
Konfusianisme, yang melihat peraturan peradilan sebagai hal yang tidak penting karena sudah ada konsep
civic duty pada diri setiap individu. Masyarakat China juga melihat pluralisme sebagai bentuk disintegrasi
pada pengaturan sosial, bukan sebagai hasil dari dinamika sistem sosial seperti yang dimengerti Amerika.
Berbagai perbedaan sistem nilai dan faktor-faktor di atas kemudian menyebabkan para pengamat Amerika
dari China seringkali sulit memahami Amerika secara utuh, karena masih terbentur berbagai nilai yang
dianutnya. Pemahaman pengamat Amerika di China akan AS, karenanya, menjadi tidak maksimal.
Dalam menjelaskan pemahaman akan perbedaan interpretasi dan persepsi para pengamat Amerika
di China, Shambaugh dengan baik telah menyampaikan penjelasannya. Adapun penulis cenderung setuju
dengan argumen Shambaugh yang mengatakan bahwa interpretasi dan persepsi yang dimiliki para pengamat
Amerika seringkali tidak tepat dan cenderung biased karena masala, perbedaan peran profesional seorang
pengamat Amerika, perbedaan faktor kedekatan dan kontak dengan AS, perbedaan faktor lingkungan politik
domestik, perbedaan sumber penelitian yang didapatkan, serta perbedaan budaya dan sistem nilai yang
dianut. Segala perbedaan ini, menurut penulis, ikut menentukan persepsi yang dimiliki para pengamat
Amerika—apakah ia menganut aliran Stalinis, Leninis, Statis, atau aliran Pluralis—terhadap AS. Akan tetapi
dalam menjelaskan persepsi dari para pengamat Amerika ini, tulisan Shambaugh yang dibuat pada tahun
1991 ini cenderung kuno. Faktanya, banyak kejadian selepas tahun 1991 yang sangat berpengaruh dalam
membentuk persepsi dan interpretasi para pengamat Amerika di China. Rosalie Chen menjelaskan,
setidaknya ada tiga kejadian besar paska 1990 yang berpengaruh dalam membentuk persepsi para pengamat
Amerika dalam melihat AS, yaitu kunjungan Presiden Taiwan, Lee Teng-hui ke AS pada tahun 1995, konlik
Kosovo dan pengeboman di Kedutaan Besar China di Belgrade pada 1999, dan kejadian 11 September.1
Kejadian pertama, kunjungan Presiden Lee Teng-hui ke AS pada 1995 dipicu oleh keputusan AS

1
Rosalie Chen, “China Perceives America: Perspective of International Relations Experts‖ dalam Journal of Contemporary
China (2003), 12(35), hal. 292-295. Dapat diakses secara online melalui http://www.irchina.org/pdf/chen.pdf, diakses pada 25
April 2010, pukul 13.56.
Page | 6
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

untuk mengundang Presiden Lee pada Mei 1995 untuk menerima honorary degree. Keputusan ini
mengejutkan para analis China, yang lantas meragukan kredibilitas AS dalam menghargai sensitivitas China
mengenai isu Taiwan. Mengenai hal ini, banyak pengamat Amerika yang paham bahwa AS memiliki
motivasi politik tersendiri dengan mengundang Presiden Lee, akan tetapi tidak sedikit pula yang
beranggapan bahwa kesediaan AS menerima kedatangan Presiden Lee menunjukkan dukungan resmi AS
pada kemerdekaan Taiwan. Adanya dukungan dari AS pada Taiwan dikhawatirkan akan semakin melahirkan
tekanan internasional bagi China untuk melakukan perubahan politik. Meskipun AS bersikeras bahwa
kejadian ini dilakukan hanya untuk menunjukkan komitmen AS pada perwujudan perdamaian di wilayah
Taiwan, mau tidak mau kejadian ini ikut mempengaruhi pandangan para pengamat Amerika di China.
Kejadian kedua yang juga berpengaruh dalam membentuk persepsi para pengamat Amerika di
China akan AS adalah konflik Kosovo dan pengeboman pada Kedutaan Besar China yang dilakukan oleh
NATO di Belgrade pada 8 Mei 1999. Kejadian intervensi NATO di Yugoslavia dan pemboman pada
Kedubes China ini melahirkan ketakutan tersendiri di China, China khawatir kejadian ini akan mendorong
AS untuk melakukan containing measures pada China. Kejadian pengeboman di Kedutaan Besar China ini
melahirkan efek ketakutan pada diri masyarakat China sama besar dengan ketakutan yang timbul pada diri
warga AS pada China paska Peristiwa Tiananmen.2 Paska kejadian Kosovo ini, banyak pengamat Amerika
yang lantas melihat AS sebagai sosok yang ofensif, neo-imperialis dan neo-intervensionis dalam
memaksakan hegemoni internasionalnya. Dalam hal ini, banyak pengamat Amerika yang lantas berubah
aliran menjadi Marxist. Bagi kalangan ini, keterlibatan AS dalam Kosovo menandakan kesediaan AS untuk
mencampuri urusan domestik tanpa memperhatikan martabat nasional suatu negara, untuk menggunakan
kekerasan bersenjata bila diperlukan, serta untuk memanipulasi peraturan dan institusi internasional demi
mencapai kepentingan pribadinya. 3 Krisis Kosovo ini, karenanya, mengakibatkan peningkatan pada
kemunculan para pengamat Amerika beraliran Marxist yang pesimis memandang hubungan AS-China.
Kejadian ketiga yang juga ikut membentuk persepsi para pengamat Amerika di China adalah
kejadian 11 September. Kejadian 11 September yang menghancurkan kepercayaan AS mendorong AS untuk
memprioritaskan politik luar negerinya pada usaha-usaha pemberantasan terorisme. Dari perspektif China,
berbagai usaha anti-terorisme ini dilihat sebagai upaya AS untuk kembali mencapai superioritas

2
Phillip C. Saunders, ―China‘s America Watchers: Changing Attitudes towards the US‖, dalam The China Quarterly, (March
2000), h. 63
3
Chen, loc. Cit.
Page | 7
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

geo-strategis di Asia Tengah dan Asia Selatan dengan memanfaatkan momentum munculnya terorisme.
Seperti yang disampaikan salah satu pemikir China, ‗AS bermaksud untuk memperoleh kontrol atas Asia
Selatan dan berupaya memasuki Asia Tengah melalui kebijakan anti-terorismenya‘ 4 . China melihat
serangan-serangan yang dilakukan AS atas nama counter-terrorism—misalnya serangan militer AS ke
Afghanistan—sebagai bentuk intervensi militer untuk kembali mewujudkan unilateralisme Amerika; di
bawah bendera anti-terorisme, AS berusaha untuk ‗bossing the world‘ sambil terus mencampuri politik
internasional suatu negara.5 Kejadian 11 September dan kebijakan AS menerapkan politik luar negeri
anti-terorisme untuk meresponnya, karenanya, dilihat oleh masyarakat China—termasuk para pengamat
Amerika di China—sebagai ajang AS untuk kembali mempromosikan unilateralisme berkedok
counter-terrorism. Sehingga pada akhirnya kejadian 11 September melahirkan sentimen tersendiri dalam diri
para pengamat Amerika, yang lantas berpengaruh dalam membentuk persepsi sendiri tentang AS.
Tiga kejadian yang dipaparkan Chen di atas seakan menunjukkan suatu peralihan pada hubungan
Sino-AS ke arah yang lebih negatif. Akan tetapi ternyata, di balik kejadian-kejadian yang berpotensi
memperburuk hubungan China-AS tersebut, penulis menemukan berbagai faktor yang dapat kembali
mewujudkan hubungan yang baik antar keduanya. Adapun, faktor-faktor yang mendukung adanya prospek
hubungan baik China-AS di masa depan ini sejalan dengan pandangan kaum liberal optimis. Faktor tersebut
adalah ketergantungan ekonomi, keanggotaan dalam institusi internasional, serta demokratisasi.6
Faktor utama yang melandasi pemikiran penulis mengenai akan adanya hubungan kerjasama solid
antara Cina-AS di masa depan adalah adanya ketergantungan ekonomi antar keduanya. Ketergantungan
ekonomi inilah yang, menurut penulis, akan memaksa baik Cina maupun AS untuk terus bekerja sama—dan
karenanya menghindari konflik—di masa depan. Adanya ketergantungan ekonomi antara Cina-AS dan
tendensi untuk bekerja sama di masa depan juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Cina, Yang Jiechi,
yang mengatakan bahwa fondasi strategis bagi hubungan Cina-AS terletak pada kepentingan Cina dan AS
yang sama dalam mengusahakan pembangunan ekonomi yang stabil, terutama untuk menghindari krisis di
masa depan.7 Bilapun tidak terjadi krisis di masa depan, baik Cina maupun AS harus tetap membangun

4
Yu Shuman, ―A Tentative Analysis of the US Foreign Policy after the September 11 Event, dalam Guoji Zhanlui Yanjiu.
(January 2002), h. 25.
5
Jiang Lingfei, ―9/11 Events‘ Impact on World Strategic Situation and China‘s Security Environment‖, dalam Heping yu Fazhan
1. (February 2002), h. 12–14.
6
Anggapan penulis ini senada dengan anggapan yang disampaikan Aaron L. Friedberg, The Future of US-China Relations: Is
Conflict Inevitable? http://belfercenter.ksg.harvard.edu/files/is3002_pp007-045_friedberg.pdf, diakses pada 13 November
2009, pukul 08.07.
7
China Daily, US, China Should Foster Win-Win Relationship in the 21st Century. http://www.chinadaily.com.cn/
Page | 8
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

kerjasama yang solid dan berkelanjutan, lanjut Yang Jiechi. Lebih lanjut lagi, kerjasama ekonomi antara
Cina-AS sebenarnya sudah berlangsung sejak 1978. Ketika itu, volume perdagangan Cina-AS yang tadinya
hanya berjumlah 1 bilyum Dollar AS mencapai angka 120 bilyun Dollar AS,8 dan pada tahun 2004, angka
tersebut mencapai 245 bilyun Dollar AS.9 Di masa depan, Cina dan AS juga akan membangun sebuah
dialog ekonomi, the China-US Strategic and Economic Dialogues, yang semakin akan memperdalam
kerjasama antar keduanya. Cina juga telah berkomitmen untuk membantu menstabilkan pasar finansial dan
menstimulasi perbaikan ekonomi di AS, dengan harapan perekonomian AS akan kembali tumbuh dalam
waktu dekat.10
Faktor kedua yang berperan penting dalam pembentukan kerjasama antara Cina-AS di masa depan
adalah peran institusi internasional dalam mendorong terjadinya kerjasama antar keduanya. Di sini penulis,
senada dengan pandangan kaum liberal, percaya bahwa adanya institusi internasional akan meningkatkan
komunikasi Cina dan AS, yang kemudian akan memperkecil kecurigaan antar kedua negara mengenai
intensi masing-masing, dan pada akhirnya akan menghasilkan komitmen kerjasama antar keduanya. Institusi
internasional juga dapat mencegah efek-efek negatif dari anarki internasional, dengan mewujudkan
kerjasama dan kepercayaan antar negara-negara anggotanya.11 Sejak Perang Dingin berakhir, Cina telah
bergabung dalam berbagai institusi internasional, mulai dari yang sifatnya regional seperti APEC
(Asia-Pacific Economic Cooperation), ARF (the ASEAN Regional Forum), hingga yang sifatnya
internasional seperti masuknya Cina dalam WTO (World Trade Organization). Cina juga telah bermain
semakin aktif dalam wadah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Dari tahun 1977 hingga tahun 1997, tercatat
Cina telah bergabung dalam 52 institusi internasional formal 12 , di mana AS merupakan negara yang
dominan pada institusi internasional tersebut. Meningkatnya jumlah institusi—baik regional maupun
internasional—yang dimasuki Cina, dan besarnya peran AS pada berbagai institusi tersebut akan
menghasilkan ikatan yang kuat antara kedua negara, ikatan yang dipercaya oleh kaum liberal optimis akan
meningkatkan komunikasi dan kontak, yang kemudian akan menghasilkan general mutual understanding

opinion/2009-03/18/content_7589598.htm, diakses pada 13 November 2009, pukul 08.29.


8
U.S.-China Security Review Commission, The National Security Implications of the Economic Relationship between the United
States and China. (Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, July 2002), hal. 38–39.
9
U.S.-China Business Council, U.S.-China Trade Statistics and China’s World Trade Statistics. http://www.uschina.org/
statistics/tradetable.html, diakses pada 13 November 2009, pukul 07.24.
10
China Daily, op.cit.
11
Lisa L. Martin and Beth A. Simmons, ―Theories and Empirical Studies of International Institutions‖, dalam International
Organization, (1998) Vol. 52, No. 4 hal. 729–757.
12
David M. Lampton, Same Bed, Different Dreams: Managing U.S.-China Relations, 1989–2000. (Berkeley: University of
California Press, 2001), hal. 163
Page | 9
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

dan kepercayaan antar keduanya. Keinginan Cina untuk terus menikmati manfaat dari keanggotaannya
dalam institusi internasional tersebut akan mendorong Cina untuk tidak mengambil langkah yang dapat
merusak status quo, sehingga akhirnya akan mengurangi kemungkinan konflik antara Cina dan AS yang
merupakan perencana sekaligus pelindung sistem internasional.13
Faktor ketiga yang juga akan mendorong terciptanya hubungan kerjasama antara Cina-AS adalah
faktor demokratisasi. Menurut Fareed Zakaria, reformasi ekonomi telah membawa Cina ke arah keterbukaan
dan akuntabilitas, kebebasan individu juga kini mulai diakui. Terlalu dini mungkin untuk memprediksi
apakah Cina akan menjadi demokratis di masa depan, yang jelas kini Cina semakin menunjukkan
tanda-tanda yang semakin positif, dengan mengkombinasikan partisipasi masyarakat dengan hirarki dan
kontrol elit—rejim yang dinamakan oleh Zakaria sebagai ―mixed regime‖.14 Berbagai tanda positif itu
bukan tidak mungkin akan menghasilkan Cina yang demokratis di masa depan. Bila Cina benar-benar
menjadi demokratis, maka—sesuai pandangan kaum liberal optimis—hubungan Cina dan AS akan menjadi
stabil karena keduanya akan memasuki democratic zone of peace.15 Adapun kaum liberal optimis percaya
bahwa demokrasi adalah alat untuk menciptakan perdamaian. Rejim yang meletakkan kekuasaan dan
legitimasi pada consent of the governed cenderung tidak akan terlibat dalam perang, yang tujuan akhirnya
adalah untuk memuaskan ambisi pemimpinnya. Kaum liberal optimis juga percaya bahwa negara yang
demokratis tidak akan saling berperang dengan negara demokratis lainnya sehingga kaum liberal optimis
melihat korelasi antara meningkatnya negara demokratis dengan menurunnya konflik internasional. Cina
yang kini semakin menuju ke arah demokratisasi16, kemudian akan memiliki hubungan yang cenderung
stabil dan tanpa konflik dengan AS di masa depan.
Memprediksi mengenai hubungan Cina-AS di masa depan memang bukanlah hal yang mudah.
Beberapa pihak meramalkan akan adanya konflik besar antar keduanya, anggapan yang cenderung sama
dengan anggapan Rosaline Chen, sementara pihak lain meramalkan akan terciptanya kerjasama yang
semakin dalam antar keduanya. Penulis sendiri lebih menyetujui prediksi kedua, yaitu akan terciptanya suatu
hubungan kerjasama antara Cina-AS dengan berlandaskan pada tiga faktor utama, yaitu ketergantungan

13
Aaron L. Friedberg, loc.cit.
14
Fareed Zakaria, ―The Challenger‖, dalam The Post American World. (New York: W. W. Norton&Co., 2008), hal. 86-128
15
Aaron L. Friedberg, loc.cit.
16
Lihat Minxin Pei, ―Creeping Democratization in China‖, dalam Journal of Democracy, Vol. 6, No. 4 (October 1995), hal.
64–79; dan Minxin Pei, ―China‘s Evolution toward Soft Authoritarianism‖, dalam Edward Friedman dan Barrett L.
McCormick (ed.), What If China Doesn’t Democratize? Implications for War and Peace, (New York: M.E. Sharpe, 2000), hal.
74–98.
Page | 10
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

ekonomi antar keduanya yang semakin dalam, faktor institusi internasional yang akan semakin menyatukan
keduanya, dan faktor demokratisasi Cina yang membuat hubungan keduanya akan cenderung lebih stabil di
masa depan. Hal ini sesuai dengan terminologi ―peaceful rise‖ yang digunakan China untuk
menggambarkan politik luar negerinya, yaitu bahwa China akan cenderung menghindari konflik dengan
negara-negara dunia sambil terus menjalankan prinsip-prinsip non-intervensi dan non-konfrontasi. Sesuai
dengan bentuk politik luar negeri tersebut, penulis merasa, China akan cenderung bermain aman, hati-hati,
dan pragmatis dalam langkahnya di dunia internasional. China, karenanya, akan berusaha untuk tidak
memicu konflik dengannegara superpower dunia, Amerika Serikat melainkan China akan berusaha
menyerap keuntungan yang ia dapatkan dari sistem internasional untuk memajukan perekonomian dalam
negerinya sendiri. Hubungan China dan AS di masa depan, karenanya, akan cenderung stabil dan dipenuhi
berbagai kerja sama ekonomi dengan berlandaskan ketergantungan ekonomi antar keduanya.

Page | 11