Anda di halaman 1dari 6

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia

Tugas Review V Mata Kuliah Rezim Keuangan Internasional


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber Bacaan : Goeltom, Miranda S. 2007. “Monetary Policy and Financial Stability with the Global Financial
System: The Case of Indonesia”, dalam Essays in Macroeconomic Policy: The Indonesian
Experience. Bab 7, hal. 124-142.

Inflation Targetting Framework, Tepatkah Bagi Indonesia?

Globalisasi dan integrasi finansial yang terjadi di dunia menghasilkan berbagai kesulitan
baru bagi negara-negara dunia, terutama dalam hal mengelola kebijakan moneternya agar integrasi
finansial yang terjadi tidak lantas membuat negara tersebut terseret dalam krisis ekonomi yang terjadi
di dunia. Berbagai krisis ekonomi telah membuktikan bahwa negara yang memiliki kebijakan
moneter yang sesuai seringkali dapat bertahan dari krisis, sementara negara yang tidak dapat
mengeluarkan kebijakan moneter yang sesuai, akan terseret dalam krisis yang terjadi. Pilihan suatu
negara akan rejim nilai tukar yang digunakannya juga akan sangat berpengaruh pada kondisi
ketahanan negara tersebut pada krisis ekonomi yang terjadi. Tulisan Miranda S. Goeltom yang
berjudul “Monetary Policy and Financial Stability with the Global Financial System: The Case of
Indonesia” membahas dua hal tersebut dengan mengambil contoh kasus Indonesia. Goeltom
membahas mengenai bentuk rejim nilai tukar yang diambil Indonesia dan mengenai berbagai
kebijakan moneter yang diambil Bank Indonesia untuk merespon berbagai tanda-tanda krisis yang
terjadi.
Sebelum membahas mengenai rejim nilai tukar yang diterapkan di Indonesia, Goeltom
terlebih dahulu memberi penjelasan singkat mengenai perdebatan dalam rejim nilai tukar. Debat
mengenai rejim nilai tukar dapat dibagi menjadi dua macam yaitu pilihan antara rejim nilai tukar
tetap atau mengambang dan corner solutions atau policy space. Pada pilihan pertama, debat bergulir
seputar teori Mundell mengenai “the impossible trinity” yaitu bahwa stabilitas nilai tukar, mobilitas
kapital, dan independensi kebijakan moneter merupakan kondisi yang tidak pernah bisa dimiliki
sekaligus dalam suatu waktu. Suatu negara, melalui penggunaan rejim nilai tukarnya, harus memilih
satu dari tiga hal tersebut yang harus dikorbankan demi mendapatkan dua hal sisanya. Rejim nilai
tukar tetap, misalnya, hanya dapat memberikan suatu negara sebuah stabilitas nilai tukar dan
mobilitas kapital sementara rejim nilai tukar mengambang hanya dapat memberikan mobilitas kapital
dan independensi kebijakan moneter. Perdebatan pertama, karenanya, mengatakan bahwa suatu
Page | 1
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

negara harus memilih salah satu dari dua jenis rejim niai tukar tersebut. Berbeda dengan debat
pertama, debat kedua lebih membicarakan apakah suatu negara harus benar-benar memilih
menggunakan satu dari dua rejim nilai tukar tersebut secara ekstrim, ataukah ia bisa tetap
mengusahakan ruang bagi kebijakan moneternya dengan menerapkan rejim nilai tukar yang sifatnya
intermediate. Pilihan pertama cenderung melihat pemilihan nilai tukar seperti halnya konsep corner
solutions, di mana sebuah trade-off harus dilakukan untuk mendapatkan hal yang diinginkan.
Sementara menurut Roberto Chang dan Andres Velasco, bagi negara berkembang, pertanyaan seputar
rejim nilai tukar bukanlah „mengambang atau tidak mengambang‟ melainkan „bagaimana harus
mengambang?‟ Hal ini dikarenakan dalam realitanya, ditemukan konsep fear of floating pada negara
berkembang. Konsep ini sendiri muncul karena kredibitas institusi dan kebijakan yang masih rendah,
serta karena domestic prices di negara berkembang lebih rentan terhadap perpindahan uang sehingga
kombinasi dari rejim tetap dan mengambang dianggap lebih tepat bagi negara berkembang.
Pada kasus Indonesia, rejim nilai tukar yang kini digunakan adalah rejim nilai tukar
mengambang. Penggunaan rejim mengambang ini tidak lepas dari dampak Krisis Asia yang diderita
Indonesia, di mana sebelum Krisis Asia terjadi, Indonesia menggunakan rejim tetap. Sebelum Krisis
Asia, nuansa liberalisasi dan deregulasi begitu terasa di Indonesia. Tidak adanya restriksi pada
investasi yang masuk mengakibatkan berbagai spekulan mulai bermain. Inflasi pun terjadi, nilai
Rupiah pun jatuh. Berkaca dari pengalaman tersebut, Indonesia pun mulai menerapkan rejim
mengambang. Penggunaan rejim mengambang ini tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai negara
yang stabil dan bebas krisis. Berbagai kebijakan moneter pun diambil Bank Indonesia (BI) sebagai
langkah menstabilkan nilai tukar, sambil tetap berusaha menghindari inflasi sekaligus menjaga
pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Goeltom memaparkan, pada tahun 2005, Indonesia menikmati fase pertumbuhan ekonomi
yang cukup baik yaitu sekitar 5,6%. Akan tetapi angka pertumbuhan ekonomi yang cukup baik ini
tidak lantas dibarengi dengan rendahnya tingkat inflasi. Menurut data tahun 2006, tingkat inflasi di
Indonesia mencapai 15%. Hal ini mendorong BI untuk mengambil kebijakan inflation targetting,
salah satunya dengan menerapkan tight bias monetary policy. Adapun kebijakan tight bias ini
bertujuan untuk menyerap likuiditas yang berlebih dengan menaikkan tingkat suku bunga BI menjadi
12,75% dari yang semula hanya 10%. Hal ini dilihat penting untuk menjaga keseimbangan nilai

Page | 2
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

tukar karena instabilitas nilai tukar bisa berdampak pada naiknya harga-harga produk domestik.
Adapun selain menjalankan tight bias monetary policy, BI juga menerapkan berbagai kebijakan
untuk menjaga stabilitas nilai tukar, misalnya melalui pengawasan penyediaan informasi pada
pengambil kebijakan agar informasi yang diterima akurat sehingga pemerintah dapat memberikan
respon yang baik sehubungan dengan pengambilan kebijakan ekonomi. Kebijakan kedua yang
diambil adalah deinternasionalisasi Rupiah dengan tujuan membatasi spekulasi bank-bank domestik
pada transaksi nilai tukar asing. Regulasi untuk membatasi aktivitas spekulasi yang didorong oleh
faktor non-ekonomi juga diberikan pada bursa saham Indonesia. Selain itu, BI juga mengumumkan
stabilisation package yang bertujuan menyerap likuiditas berlebih pada pasar sekaligus mengatur
permintaan mata uang asing dari para pemain besar terutama dari BUMN. Berbagai kebijakan yang
diterapkan BI ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari volatilitas pasar keuangan serta untuk
menjamin stabilitas nilai tukar.
Selain disebabkan karena instabilitas nilai tukar, krisis ekonomi ternyata juga disebabkan
karena banyaknya bank domestik yang bermasalah secara finansial (financially troubled bank).
Penyebabnya adalah karena tidak adanya mekanisme supervisi yang ketat pada bank-bank domestik.
Kalaupun ada, tidak adanya asuransi deposit seringkali memberi luang pada para konglomerat—yang
juga bertindak sebagai pemilik bank—untuk menggunakan dana di bank demi kepentingan ekspansi
bisnisnya. Masalah financially troubled bank ini memberikan pelajaran berharga bagi BI mengenai
pentingnya sebuah desain bagi program liberalisasi keuangan, terutama yang berkaitan dengan fungsi
regulasi dan supervisi. Masalah moral hazard juga seharusnya dapat dicegah dengan menyediakan
exit mechanism yang efektif melalui penyediaan asuransi deposit. Sebuah sistem perbankan yang
dilandasi prinsip transparansi dan good governance perlu dikembangkan. Hal inilah yang mendorong
BI untuk melahirkan sebuah sistem perbankan baru bagi Indonesia yang diberi nama Indonesian
Banking Architecture (IBA). IBA memiliki enam elemen utama, yaitu: penguatan kembali sistem
perbankan nasional, peningkatan kualitas regulasi perbankan, peningkatan fungsi supervisi
perbankan, penerapan prinsip good corporate governance, pembangunan infrastruktur perbankan,
serta penguatan proteksi pada konsumer. Adapun, IBA yang memiliki target 10-15 tahun ini
melibatkan dua atau tiga bank yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi bank berskala
internasional dan tiga sampai lima bank yang beroperasi secara luas pada sektor bisnis nasional.

Page | 3
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

Demi keamanan konsumer, pada akhir Juni 2005, BI pun mengeluarkan aturan bagi seluruh bank
untuk memiliki aset sedikitnya 80 trilyun Rupiah, yang pada tahun 2010 ini harus ditingkatkan
hingga mencapai 100 bilyun Rupiah.
Tulisan Miranda S. Goeltom di atas menjelaskan mengenai prioritas kebijakan moneter
Indonesia, yang sejak tahun 2005 difokuskan pada Inflation Targetting Framework (ITF) dengan
menganut rejim nilai tukar mengambang. Adapun kerangka kerja ini diterapkan secara formal sejak
Juli 2005, setelah sebelumnya BI menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer
(base money) sebagai sasaran kebijakan moneter.1 Dalam penerapan ITF ini, faktor independensi BI
sebagai bank sentral lantas menjadi penting karena bank sentral memainkan peran krusial untuk
mengambil kebijakan-kebijakan moneter demi mencapai target inflasi tertentu. Adapun kerangka
kerja ITF ini merupakan bentuk kebijakan moneter yang banyak diadopsi oleh negara-negara dunia.
Inggris, Swedia, Finlandia, Spanyol, dan Kanada adalah contoh-contoh negara yang tengah
menerapkan penggunakan kerangka kerja ITF dalam kebijakan moneternya.2 Kerangka kebijakan
ITF ini sebenarnya juga diterapkan European Central Bank (ECB), yang walaupun referensi
kebijakan moneter utamanya diletakkan pada kerangka money supply, tetap menerapkan target inflasi
sebesar 0-2% dalam kebijakannya. Central Bank of Germany juga menyatakan kesiapannya untuk
berbelok dari target money supply yang telah diumumkannya jika tingkat inflasi diperkirakan
melewati batas yang dapat diterima.3
Adapun penerapan kerangka kerja ITF oleh berbagai negara yang telah disebutkan di atas
tersebut memiliki alasan yang kuat. Seperti halnya Indonesia, negara-negara tersebut menyadari
pentingnya faktor kestabilan inflasi dalam kehidupan perekonomiannya. Bank Indonesia menyatakan
bahwa kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan
yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. 4 Hal ini
dikarenakan tiga alasan utama. Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil
masyarakat terus turun sehingga standar hidup masyarakat akan rendah. Kedua, instabilitas inflasi

1
Bank Indonesia, Kerangka Kebijakan Moneter di Indonesia. http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Kerangka+
Kebijakan+Moneter/, diakses pada 16 Maret. 2010, pukul 02.33.
2
Thorarinn G. Petursson, “Exchange Rate of Inflation Targetting in Monetary Policy?” dalam Monetary Bulletin 2000/1,
hal. 40. Dapat diakses secara online melalui http://www.cb.is/uploads/files/mb001_6.pdf, diakses pada 16 Maret 2010,
pukul 02.30.
3
Ibid.
4
Bank Indonesia, Pengenalan Inflasi: Pentingnya Kestabilan Harga. http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Kerangka+
Kebijakan+Moneter/mengapa.htm, diakses pada 16 Maret 2010, pukul 02.38.
Page | 4
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

akan melahirkan kondisi ketidakpastian bagi pelaku ekonomi, yang akhirnya akan berpengaruh pada
keputusan konsumsi, investasi dan produksi. Ketiga, tingkat inflasi domestik yang tinggi akan
menjadikan tingkat bunga domestik menjadi tidak kompetitif. Berbagai alasan tersebut mendorong
Indonesia dan berbagai negara-negara dunia untuk mulai memfokuskan kebijakan moneternya pada
usaha untuk menekan laju inflasi yang tinggi.
Selain didasari alasan kuat untuk tetap mengusahakan pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat, kerangka kerja ITF juga mampu memberikan berbagai
fleksibilitas bagi bank sentral untuk merespon berbagai perubahan eksternal—seperti misalnya trade
shocks atau bencana alam—melalui penetapan deviasi target inflasinya. Hal ini senada dengan
pendapat Bernanke dan Mishkin yang melihat deviasi target inflasi dalam kerangka ITF sebagai
kesempatan bagi bank sentral untuk merespon berbagai kejutan positif dan negatif dalam permintaan
agregat.5 Hal ini, penulis rasa, merupakan keunggulan dari kerangka kerja ITF dibandingkan bentuk
kebijakan moneter lainnya mengingat dunia saat ini begitu terintegrasi sehingga
perubahan-perubahan eksternal dapat dengan mudah masuk ke ranah domestik. Tidak adanya
fleksibilitas dalam kebijakan moneter suatu negara akan berdampak pada peningkatan volatilitas
negara tersebut.
Walaupun kebijakan moneter dengan menggunakan kerangka kerja ITF memiliki berbagai
kelebihan, harus diakui kerangka kerja ITF juga memiliki suatu kekurangan utama. Kritik mengenai
kebijakan ITF ini terutama berkisar pada fakta bahwa tidak seperti kerangka kebijakan moneter
lainnya—seperti kerangka stabilitas nilai tukar atau money base—yang memiliki kontrol kuat pada
target kebijakannya, bank sentral tidak memiliki kontrol kuat pada inflasi. Banyak faktor-faktor lain
di luar kontrol bank sentral, seperti misalnya fiscal stance dan kondisi pasar buruh, yang juga
memiliki efek langsung pada tingkat inflasi.6 Berbagai faktor ini menjadikan kontrol bank sentral
pada tingkat inflasi seakan tidaklah penuh. Jika bank sentral tidak memiliki kontrol penuh pada
tingkat inflasi, berarti implikasi penerapan kerangka kerja ITF belum dapat langsung mengenai
sasaran. Akan tetapi, bukan berarti kerangka kerja ITF lantas merupakan pilihan yang tidak tepat
karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kestabilan inflasi merupakan prasyarat utama bagi

5
B. S. Bernanke dan F. S. Mishkin, “Inflation Targeting: A New Framework for Monetary Policy?” dalam Journal of
Economic Perspectives, 1997/11, hal. 97-116.
6
Thorarinn G. Petursson, op.cit., hal. 43.
Page | 5
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .
Universitas Indonesia

kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sehingga sudah selayaknya


usaha pengurangan inflasi dan penstabilan inflasi menjadi fokus utama bagi kebijakan moneter
Indonesia. Bentuk kebijakan moneter Indonesia sekarang yang berfokus pada kerangka inflation
targetting policy, karenanya, merupakan bentuk kebijakan yang paling tepat untuk diterapkan di
Indonesia.

Page | 6