Anda di halaman 1dari 13

MEDIS OPERATIF WANITA (MOW)

Teori Medis

1. Keluarga Berencana
Program keluarga berencana (KB) bertujuan untuk membangun manusia
Indonesia sebagai obyek dan subyek pembangunan melalui peningkatan
kesejahteraan ibu, anak, dan keluarga. Di samping itu pelaksanaan program KB
juga diarahkan untuk menurunkan tingkat kelahiran atas dasar kesadaran dan
tanggung jawab seluruh masyarakat dengan cara memilih metode kontrasepsi
secara sukarela. Dengan demikian program KB akan merupakan cermin dari
upaya menurunkan tingkat kelahiran dan sekaligus membangun keluarga
sejahtera. (Hartanto, 2004).
Guna mencapai tujuan tersebut, maka ditempuh kebijaksanaan
mengkategorikan tiga fase untuk mencapai sasaran, yaitu:
a. Fase Menunda/Mencegah Kehamilan
Pasangan Usia Subur (PUS) dengan usia isteri kurang dari 20 tahun
dianjurkan untuk menunda kehamilannya. Ciri-ciri kontrasepsi yang
diperlukan adalah reversibilitas dan efektivitas yang tinggi. Kontrasepsi yang
direkomendasikan untuk fase ini adalah pil oral atau IUD-Mini.
b. Fase Menjarangkan Kesuburan
Periode usia isteri antara 20-30/35 tahun merupakan periode usia paling baik
untuk melahirkan, dengan jumlah anak 2 orang dan jarak antara kelahirannya
adalah 2-4 tahun. Ini dikenal dengan Catur Warga. Ciri-ciri kontrasepsi ini
adalah efektifitas dan reversibilitas cukup tinggi, dapat dipakai 2 sampai 4
tahun (sesuai dengan jarak kehamilan anak yang direncanakan), dan tidak
menghambat air susu ibu (ASI). Kontrasepsi yang dianjurkan adalah IUD.
c. Fase Menghentikan/Mengakhiri Kesuburan
Periode umur isteri di atas 30 tahun, terutama di atas 35 tahun sebaiknya
mengakhiri kesuburan setelah mempunyai dua orang anak. Ciri-ciri
kontrasepsi yang dianjurkan adalah efektifitas tinggi, dapat dipakai jangka
panjang dan tidak menambah kelainan (karena degenerasi organ akibat
penuaan) yang sudah ada. Pilihan utama untuk fase ini adalah kontrasepsi
mantap. (Hartanto, 2004).
Untuk mencapai keberhasilan dalam penggunaan metode kontrasepsi apapun,
diperlukan adanya metode Fertility Awareness atau metode “kesadararan akan
fertilitas”. Keadaan ini dibutuhkan kerjasama dan saling percaya antara pasangan
suami-istri. Keadaan yang peling ideal adalah isteri dan suami harus bersama-
sama:
a. Memilih kontrasepsi terbaik
b. Saling kerjasama dalam pemakaian kontrasepsi
c. Membiayai pengeluaran untuk kontrasepsi
d. Memperhatikan tanda-tanda bahaya pemakaian kontrasepsi
Setelah kesadaran akan fertilitas dipenuhi oleh calon akseptor, syarat-syarat
yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik ialah:
a. Aman/ tidak berbahaya
b. Dapat diandalkan
c. Sederhana, sedapat-dapatnya tidak usah dikerjakan oleh seorang dokter
d. Murah
e. Dapat diterima oleh banyak orang
f. Pemakaian jangka lama (continuation rate tinggi)
(Hartanto, 2004).
Hartanto (2004), menyebutkan macam-macam metode kontrasepsi terlampir.
2. MOW (Medis Operatif Wanita)
a. Pengertian
MOW (medis operatif wanita) atau kontrasepsi mantap (kontap) atau
sterilisasi atau tubektomi. (Manuaba, 1999).
Kontrasepsi mantap ialah setiap tindakan pada kedua saluran bibit wanita
atau bibit pria yang mengakibatkan pasangan yang bersangkutan tidak akan
mendapat keturunan lagi, atas permintaan suami atau istri yang bersangkutan.
(Winkjosastro, 2007).
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas
(kesuburan) seorang perempuan. (Depkes, 2006)
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas
(kesuburan) seorang perempuan secara permanen. Dengan mengoklusi tuba
falopii (mengikat dan memotong atau memasang cincin), sehingga sperma
tidak dapat bertemu dengan ovum. (Saifuddin, 2003).
b. Manfaat
Kontrasepsi
a. Sangat efektif (0,5 kehamilan
per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan).
b. Tidak mempengaruhi proses
menyusui (breastfeeding)
c. Tidak bergantung pada faktor
sanggama
d. Baik bagi klien apabila
kehamilan akan menjadi faktor resiko kesehatan yang serius
e. Pembedahan sederhana,
dapat dilakukan dengan anestesi lokal
f. Tidak ada efek samping
dalam jangka panjang
g. Tidak ada perubahan dalam
fungsi seksual (tidak ada efek pada produksi hormon ovarium)
Non kontrasepsi
Berkurangnya resiko kanker ovarium
c. Keterbatasan
1) Harus dipertimbangkan sifat permanent meode kontrasepsi ini (tidak dapat
dipulihkan kembali), kecuali dengan operasi rekanalisasi.
2) Klien dapat menyesal di kemudian hari.
3) Resiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi umum).
4) Rasa sakit/ ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan.
5) Dilakukan oleh dokter yang telatih (dibutuhkan dokter spesialis ginekologi
atau dokter spesialis bedah untuk proses laparoskopi).
6) Tidak melindungi diri dari IMS, termasuk HBV dan HIV/AIDS.
c. Syarat
Syarat-syarat untuk menjadi akseptor kontap meliputi syarat sukarela,
syarat bahagia dan syarat medik.
a) Syarat Sukarela
Syarat sukarela dipenuhi apabila calon akseptor telah mengetahui bahwa:
a) Selain kontap ada metode kontrasepsi lain untuk menjarangkan
kehamilan, tapi ibu tetap memilih kontap untuk menciptakan keluarga
kecil.
b) Kontap merupakan tindakan bedah dan setiap tindakan bedah selalu
ada resikonya. Ibu yakin akan kemampuan dokter dan faktor resiko
merupakan suatu kebetulan.
c) Kontap merupakan metode permanen, tidak dapat dipulihkan dan sulit
untuk memperoleh keturunan lagi, tetapi ibu sadar tidak akan
menambah jumlah anak lagi untuk selamanya.
d) Setelah diberi waktu untuk mempertimbangkan maksud pilihan
kontrasepsi, ibu tetap memilih kontap (Winkjosastro, 2007).
ii. Syarat Bahagia
Setiap calon peserta kontap harus memenuhi syarat bahagia, artinya:
1) Suami- istri terikat dalam perkawinan yang syah dan harmonis
2) Telah mempunyai sekurang-kurangnya 2 anak hidup
3) Umur anak terkecil 2 tahun (karena angka kematian anak masih tinggi)
4) Umur istri sekurang-kurangnya 25 tahun (karena angka perceraian
masih tinggi) (Winkjosastro, 2007).
iii. Syarat Medik (Medical Eligibility)
Setiap calon peserta kontrasepsi mantap harus memenuhi syarat
kesehatan, artinya tidak ditemukan kontraindikasi kesehatan jika kepada
calon peserta tersebut diberikan pelayanan kontrasepsi mantap.
Saifuddin (2006), menjelaskan persyaratan medik dalam penggunaan
kontrasepsi mantap perempuan (Tubektomi) terlampir.
d. Kontraindikasi
a. Hamil (sudah terdeteksi atau
dicurigai)
b. Perdarahan vaginal yang
belum terjelaskan
c. Infeksi sistemik atau pelvik
yang akut (hingga masalah ini disembuhkan atau dikontrol)
d. Tidak boleh menjalani proses
pembedahan
e. Kurang pasti mengenai
keinginannya untuk fertilisasi di masa depan
f. Belum memberikan
persetujuan tertulis. (Saifuddin, 2006).
e. Konseling
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan
Keluarga Berencana. Pelayanan konseling kontap harus diprogramkan dengan
baik dan tidak berhenti pada konseling pra tindakan saja, tetapi dapat berlanjut
pada saat tindakan itu sendiri dan sesudah tindakan kontap tersebut
dilaksanakan.
1) Tujuan konseling pratindakan kontap:
a) Membantu suami-istri untuk memilih salah satu cara kontrasepsi
yang paling baik digunakan mereka dalam kurun reproduksinya.
b) Mengenal dan menghilangkan keragu-raguan atau kesalah
pahaman mengenai kontap itu sendiri.
c) Menjamin bahwa pilihan untuk memilih kontap sebagai
kontrasepsi bagi dirinya adalah benar-benar sukarela tanpa paksaan.
d) Memberikan informasi mengenai penatalaksaan kontap,
termasuk pengisisan permohonan dan persetujuan untuk dilakukan
kontap pada dirinya, prosedur operasinya dan follow up-nya.
2) Selama tindakan, tujuan konseling adalah untuk:
a) Meningkatkan keyakinan dan membantu menenangkan calon
akseptor untuk mempermudah pelaksanaan kontap.
b) Menenangkan pasangan dan anggota keluarga lain yang ikut
mengantar atau menemani calon akseptor.
3) Sesudah tindakan, maka tujuan konseling ialah
untuk:
a) Mengenal dan menghilangkan kesalahpahaman yang dikaitkan
dengan tindakan kontap yang diperolehnya.
b) Membantu meningkatkan keyakinan dan penerimaan akseptor akan
pelayanan kontap yang diperolehnya. (Winkjosastro, 2007).
f. Informed Choice dan Informed Consent
Informed Choice adalah suatu kondisi peserta/ calon akseptor KB yang
memilih kontrasepsi didasari oleh pengetahuan yang cukup setelah mendapat
informasi yang lengkap melalui konseling. Melalui Informed Choice, akseptor
mampu memahami kontrasepsi yang dipilih, lebih siap jika dengan efek
samping, komplikasi dan kegagalan yang mungkin timbul serta terjaga
kelangsungan pemakaian kontrasepsinya.
Sedangkan Informed Consent (Surat Persetujuan Tindakan Medis)
adalah persetujuan yang diberikan oleh klien atau keluarganya atas dasar
informasi dan penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan
terhadap klien tersebut. Setiap tindakan medis yang mengandung resiko harus
dengan persetujuan tertulis yang ditanda tangani oleh yang berhak
memberikan persetujuan, yaitu klien yang bersangkutan dalam keadaan sadar
dan sehat mental (Saifuddin, 2006).
Kepentingan dari dokumen informed consent dalam Keluarga Berencana
dan Kontrasepsi mempunyai tiga dasar:
1) Pragmatis
Seseorang yang telah mengerti dengan jelas metode kontrasepsi yang
dipilihnya, akan memakainya dengan lebih patuh, aman dan efektif.
2) Ethis
Seseorang berhak mendapat informasi yang sejelas-jelasnya mengenai
metode kontrasepsi yang dipilihnya.
3) Legal
Petugas medis wajib memberikan informasi yang lengkap untuk menolong
seorang calon aksepto mengambil keputusan dalam menentukan pilihan
kontrasepsinya.
g. Cara Tubektomi
1) Cara mencapai tuba
a) Abdominal/Transabdominal
(1) Laparotomi
Laparotomi yang dilakukan untuk MOW ini ada 2 macam,
yaitu laparotomi dan laparotomi post partum. (Winkjosastro,
2005).
(2) Minilaparotomi
Laparotomi mini dilakukan dalam masa interval. Sayatan
dibuat di garis tengah di atas simfisis, daerah perut bawah
(suprapubik) maupun pada lingkar pusat bawah (subumbilikal)
sepanjang 3 cm sampai menembus peritoneum. Setelah tuba
didapat, kemudian dikeluarkan, diikat dan dipotong sebagian.
Setelah itu dinding itu ditutup kembali, luka sayatan ditutup
dengan kasa yang kering dan steril dan apabila tidak ditemukan
masalah yang berarti, klien dapat dikeluarkan dalam 2-4 jam.
(Saiffudin, 2006).

Gambar 2.1: Sayatan Mini Laparatomi


Sumber : Wiknjosastro, 2005

(3) Laparoskopi
Tindakan operasi dengan bantuan kamera/laparoskop yang
dimasukkan melalui sayatan kecil abdomen untuk mengertahui
letak tuba.
b) Vaginal/ Transvaginal
(1) Kuldoskopi
Kuldoskop dimasukkan transvaginal untuk mengetahui letak
tuba yang akan dilakukan oklusi.
(2) Kolpotomi posterior
MOW yang dilakukan melalui sayatan kecil di dinding
belakang vagina, kemudian tuba ditampakkan menggunakan
spekulum Soonawalla sehingga bisa dilakukan oklusi.
(Wiknjosastro, 2007).
c) Transervical / Transuterine
Merupakan metode kontrasepsi non chirurgis (non incisional)
dimana oklusi tuba falopi dilakukan melalui serviks uteri. Untuk
mencapai ostium tuba (utero tubal junction), dapat dilakukan
dengan:
(1) Histeroskopi
Prinsipnya seperti laparoskopi, hanya pada histeroskopi
tidak dipakai trochar, tetapi suatu vakum cervical adaptor
untuk mencegah keluarnya gas saat dilatasi cervik/ cavum
uteri.
(2) Blind delivery
Pada cara ini operator tidak melihat langsung ke dalam
cavum uteri untuk melokalisir orificium tuba. Zat kimia yang
digunakan untuk mengoklusi tuba falopii dalam bentuk cair,
pasta, atau padat, dimasukkan ke dalam kateter, kanula atau
pipa/ tube lalu didorong dengan alat pendorong atau dengan
pompa yang khusus dibuat untuk prosedur ini. (Hartanto,
2004).
2) Cara penutupan tuba
a) Cara Madlener
Bagian tengah tuba diangkat dengan cunam Pean, sehingga
terbentuk suatu lipatan terbuka. Kemudian, dasar dari lipatan
tersebut dijepit dengan cunam kuat-kuat, dan selanjutnya dasar itu
diikat dengan benang yang tidak dapat diserap. Pada cara ini tidak
dilakukan pemotongan tuba. Sekarang cara ini sudah tidak
dilakukan lagi karena angka kegagalannya relatif tinggi yaitu 1%
sampai 3%.

Gambar 2.2: Penutupan tuba menurut Madlener


Sumber: Wiknjosastro, 2005
b) Cara Pomeroy
Cara Pomeroy banyak dilakukan. Cara ini dilakukan dengan
mengangkat bagian tengah dari tuba sehingga membentuk suatu
lipatan terbuka, kemudian dasarnya diikat dengan benang yang
dapat diserap, tuba di atas dasar itu dipotong. Setelah benang
pengikat diserap, maka ujung-ujung tuba akhirnya terpisah satu
sama lain.

Gambar 2.3: Tubektomi menurut Pomeroy


Sumber: Wiknjosastro, 2005

c) Cara Irving
Pada cara ini tuba dipotong antara dua ikatan benang yang
dapat diserap; ujung proksimal dari tuba ditanam ke dalam
miometrium, sedangkan ujung distal ditanam ke dalam ligamentum
latum.

Gambar 2.4: Tubektomi menurut Irving


Sumber: Wiknjosastro, 2005

d) Cara Aldridge
Peritoneum dari ligamentum latum dibuka dan kemudian tuba
bagian distal bersama-sama dengan fimbria ditanam ke dalam
ligamentum latum.
e) Cara Uchida
Pada cara ini, tuba ditarik ke luar abdomen melalui suatu insisi
kecil (minilaparotomi) di atas simfisis pubis. Kemudian di daerah
ampula tuba dilakukan suntikan dengan larutan adrenalin dalam air
garam di bawah serosa tuba. Akibat suntikan ini, mesosalping di
daerah tersebut menggembung. Lalu, dibuat sayatan kecil di daerah
yang kembung tersebut. Serosa dibebaskan dari tuba sepanjang
kira-kira 4-5 cm; tuba dicari dan setelah ditemukan dijepit, diikat
lalu digunting. Ujung tuba yang proksimal akan tertanam dengan
sendirinya di bawah serosa, sedangkan ujung tuba yang distal
dibiarkan berada di luar serosa. Luka jahitan dijahit secara kantong
tembakau. Angka kegagalan cara ini adalah 0.

Gambar 2.5: Tubektomi meurut Uchida


Sumber: Wiknjosastro, 2005

f) Cara Kroener
Bagian fimbria dari tuba dikeluarkan dari lubang operasi.
Dibuat suatu ikatan dengan benang sutra melalui bagian
mesosalping di bawah fimbria. Seluruh fimbria dipotong, setelah
pasti tidak ada perdarahan, maka tuba dikembalikan ke dalam
rongga perut.
Teknik ini banyak digunakan. Keuntungan cara ini antara lain ialah
sangat kecilnya kemungkinan kesalahan mengikat ligamentum
rotundum. Angka kegagalan 0,19%.
(Wiknjosastro, 2005).
Gambar 2.6: Tubektomi menurut Kroener
Sumber: Wiknjosastro, 2005

g) Pemasangan cincing Falope/ cincin Yoon/ Silastic band


Sesudah terpasang, lipatan tuba tampak keputih-putihan oleh
karena tidak mendapat suplai darah lagi dan akan menjadi Jibrotik.
Cincin Falope dapat dipasang pada laparotomi mini, laparoskopi
atau dengan laprokator.

Gambar 2.7. Tubektomi dengan Pemasangan Cincin Falope


Sumber: Glasier, 2006

h) Pemasangan Klip
Dikenal beberapa tubal klip, yaitu:
a. Klip Filshie = Nottingham
Clip
Dikembangkan pada tahun 1973 oleh G.M Filshie, terbuat dari
titanium dengan permukaan dalam klip dialpisi silicone.
(Hartanto, 2004). Mempunyai keuntungan dapat digunakan
pada tuba yang edema. (Glasier, 2006).

(b) Klip Filshie


Sumber: Glasier, 2006

b. Klip Hulka-Clemens =
Spring loaded clips

(a) Klip Hulka-Clemens


Sumber: Glasier, 2006
c. Tantulum hemo-clips
Terbuat dari tantalum, suatu logam yang tidak bereaksi dengan
jaringan (non- tissue reactive), mempunyai alur bagian
dalamnya agar lebih kuat menjepit tuba fallopii.

Gambar 2.8: Tubektomi dengan pemasangan klip


Sumber: Glasier, 2006

i) Elektro koagulasi/ diatermi dan pemutusan tuba


Cara ini dulu banyak digunakan pada tubektomi laparoskopik.
Dengan memasukkan Grasping Foerceps melalui laparoskop tuba
dijepit kurang lebih 2 cm dari koruna, diangkat menjauhi uterus
dan alat-alat panggul lainnya, kemudian dilakukan kauterisasi.
Tuba terbakar kurang lebih 1 cm ke proksimal, dan distal serta
mesosalping terbakar sejauh 2 cm. Pada waktu kauterisasi tuba
tampak menjadi putih, menggembung, lalu putus. Cara ini
sekarang banyak ditinggalkan.
(Wiknjosastro, 2007)

Gambar 2.10: Koagulasi diatermi pada tuba falopii


Sumber: Glasier, 2006

h. Prosedur Pelaksanaan Tubektomi


Menurut Saiffudin (2006), prosedur pelaksanaan tubektomi terdiri atas:
a. Persetujuan tindakan medik
Persetujuan tindakan medik merupakan serangkaian proses sebelum
dilakukan tindakan medis yang diawali dengan konseling dan disepakati
bersama dalam wujud Informed Concent.
2) Persiapan, meliputi:
a) Persiapan ruang operasi diantaranya penerangan yang
cukup, lantai semen atau keramik yang mudah dibersihkan, bebas debu
dan serangga, ada air bersih yang mengalir, tempat cuci tangan dan
ruang ganti pakaian, termometer (jika tersedia).
b) Persiapan alat, terdiri atas alat medis dan non medis.
c) Persiapan klien, diantaranya:
(1) Klien dianjurkan mandi sebelum mengunjungi
tempat pelayanan. Bila tidak sempat, anjurkan klien untuk
membersihkan daerah perut bagian bawah, rambut kemaluan dan
vagina dengan sabun.
(2) Bila menutupi daerah operasi, rambut pubis
cukup digunting (bukan/tidak dicukur). Pencukuran hanya apabila
sangat menutupi daerah operasi dan waktu pencukuran adalah
sesaat sebelum operasi dilaksanakan.
(3) Bila menggunakan elevator/ manipulator rahim,
sebaiknya dilakukan pengusapan larutan antiseptik (misalnya
Providon iodine) pada servik dan vagina (terutama klien masa
interval).
(4) Setelah pengolesan Providone Iodine pada kulit,
tunggu 1-2 menit agar yodium bebas yang dilepaskan dapat
membunuh mikroorganisme dengan baik.

d) Kelengkapan klien dan petugas ruang operasi.


(1) Klien menggunakan pakaian operasi. Bila tidak tersedia,
dapat digunakan kain penutup yang bersih.
(2) Operator dan petugas kamar operasi harus dalam keadaan
siap (mencuci tangan, berpakaian operasi, memakai sarung tangan,
topi dan masker) saat berada di ruang operasi.
(3) Masker harus menutupi mulut dan hidung, bila lembab/
basah harus diganti.
(4) Topi harus menutup rambut.
(5) Sepatu luar harus dilepas, ganti dengan sepatu/ sandal
tertutup, yang khusus dipergunakan untuk ruang operasi.
e) Pencegahan infeksi
(1) Sebelum pembedahan
(a) Operator atau petugas mencuci tangan dengan
menggunakan larutan antiseptik, menggunakan pakaian operasi
dan sarung tangan steril.
(b) Gunakan larutan antiseptik untuk membersihkan vagina
dan servik.
(c) Usapan larutan antiseptik pada daerah operasi, mulai dari
tengah kemudian meluas ke daerah luar dengan gerakan
memutar hingga bagian tepi perut. Untuk klien pasca
persalinan, bersihkan daerah umbilikus dengan baik. Tunggu 1-
2 menit agar yodium bebas yang dilepaskan dapat membunuh
mikroorganosme dengan baik.
(2) Selama pembedahan
(a) Batasi jumlah kegiatan dan petugas di dalam ruang operasi.
(b) Pergunakan instrumen, sarung tangan dan kain penutup
yang steril.
(c) Kerjakan dengan ketrampilan dan teknik yang tinggi untuk
menghindari trauma dan komplikasi (perdarahan).
(3) Setelah pembedahan
(a) Sementara menggunakan sarung tangan, operator dan
petugas ruang operasi harus membuang limbah ke dalam
wadah yang tertutup rapat dan bebas dari kebocoran.
(b) Lakukan tindakan dekontaminasi pada instrumen/ peralatan
yang akan dipergunakan sebelum dilakukan pencucian,
dekontaminasi dengan larutan klorin 0,5%.
(c) Lakukan tindakan dekontaminasi pada meja operasi, lampu,
meja instrumen/ benda lain yang mungkin terkontaminasi
selama operasi dengan mengusapkan larutan klorin 0,5%.
(d) Dilakukan pencucian dan penatalaksanaan instrumen sesuai
prosedur.
(e) Cuci tangan setelah melepas sarung tangan.
f) Tindakan dan pelaksanaan tubektomi
(1) Anestesi dan membuka dinding perut
(a) Berikan obat anestesi Diazepam per oral.
(b) Pasang Wing Needle
(c) Jika klien memerlukan tambahan sedasi, berikan Pethidin 1
mg/ kg BB.
(d) Lakukan tindakan asepsis pada lapangan operasi yakni
sekitar pusat dengan betadin atau yodium alkohol kemudian
tutup dengan kain steril berlubang di tengah.
(e) Suntikkan secara infiltrasi anestesi lokal (lignokain 1%)
pada tempat insisi, tunggu hingga anestesi bereaksi.
(f) Lakukan insisi melintang pada kulit dan jaringan subkutan
sepanjang 2-3 cm tepat di bawah pusat.
(g) Insisi lapis demi lapis sampai menembus peritoneum
kemudian peritoneum dijepit dengan 2 klem, transluminasi
untuk identifikasi dan digunting selebar jari sehingga bisa
dimasuki jari telunjuk dan sebuah tampon tang. Masukkan
lidokain 1% dalam semprit 10 ml, beritahu klien akan
dialakukan penyuntikan bahan anestesi (lakukan komunikasi
alih nyeri).
(2) Mencapai tuba
(a) Masukkan refraktor ke dalam rongga abdomen, tarik
refraktor kearah tuba yang akan dicapai.
(b) Jepit tuba dengan pinset atau klem Babcock dan tarik
pelan-pelan keluar melalui lubang insisi sampai terlihat
fimbria.
(c) Bila tuba tertutup omentum atau usus, sisihkan dengan
memakai kasa bulat yang dijepit klem arteri dan posisi klien
Trendelenberg.
(3) Oklusi/ penutupan Tuba
Menutup dinding perut
(a) Periksa rongga abdomen (kemungkinan perdarahan atau
laserasi usus).
(b) Jahit fasia dengan jahitan simpul atau angka 8 memakai
benang kromic catgut nomer 1.
(c) Jahit subkutis dengan jahitan simpul memakai benang
plain catgut nomer 0.
(d) Jahit kulit dengan jahitan simpul memakai benang sutra
nomer 0.
(e) Tutup tempat jahitan dengan kasa larutan antiseptik dan
rekatkan dengan plester.
Perawatan pasca tindakan
(a) Beritahu pada klien bahwa prosedur tubektomi sudah
selesai dan klien diminta untuk beristirahat, dipantau dan
mendapat penjelasan di ruang pulih.
(b) Ukur dan nilai tanda-tanda vital serta keluhan klien, buat
laporan prosedur dan hasil prosedur tubektomi.
i. Komplikasi yang mungkin terjadi dan penanganannya
Tubektomi seringkali menimbulkan beberapa komplikasi, antara lain
infeksi luka, demam, luka pada kandung kemih, hematoma, emboli, rasa sakit
dan perdarahan. Masing-masing komplikasi tersebut memiliki cara
penanganan yang berbeda-beda. Penjelasan tentang komplikasi dan
penanganan lebih lanjut terlampir.
j. Angka Kegagalan Metode Tubektomi
Metode kontrasepsi tubektomi merupakan metode yang efektifitasnya
cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari angka kegagalannya yang cukup
rendah. Angka kegagalan metode tubektomi berdasarkan cara mencapai tuba
dan cara penutupan tuba terlampir.
k. Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang dianjurkan pada setiap pasien yang dilakukan kontap, baik
minilap maupun kontap laparoskopi. Waktu kunjungan ulang pertama
dilaksanakan pada minggu pertama sampai kedua pasca operasi. Waktu
kunjungan ulang berikutnya yaitu 1 bulan sampai 3 bulan pasca operasi dan
selanjutnya 6 bulan sampai 12 bulan pasca operasi. (Winkjosastro, 2007).