Anda di halaman 1dari 19

II.

TYPE DAN PRINSIP KERJA RADAR

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya,bahwa perkembangan


teknologi Radar yg diawali Contineous Wave (CW) Radar,selanjutnya
menemukan Pulse Radar sebagai bentuk yang dapat diandalkan dlm
periode tertentu.
Namun demikian penelitian yang lebih lanjut lagi telah mengarahkan
kembali hasilnya kepada bentuk Radar dengan sinyal kontinu, tentu
saja disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan yang diinginkan.
Berikut ini akan diuraikan type serta prinsip kerja beberapa Radar yg
umum digunakan, yakni:
1. Pulse Radar ( Radar Pulsa
2. Contineous Wave (CW) Radar
3. Frequency Modulated (FM) Radar
4. Moving Target Inication (MTI) Radar
5. Pulse Doppler Radar
6. Tracking Radar

II.1 PULSE RADAR ( RADAR PULSA )

DUPLEXER OSCILLATOR MODULATOR

PEMANCAR
RF AMPLIFIER

LOCAL
MIXER
OSCILLATOR

IF
AMPLIFIER PENERIMA

SECOND VIDEO
DISPLAY
DETECTOR AMPLIFIER

Gbr.II-1: Blok diagram Pulse Radar


Gbr.II-1 merupakan blok diagram yang sederhana dari Pulse Radar
dengan penjelasan sebagai berikut:

Pemancar terdiri dari 2 bagian yakni:


1. OSCILLATOR
Radar membutuhkan Oscillator dgn bentuk / persyaratan khusus,
makanya yang umum digunakan adalah MAGNETRON karena dpt
membangkitkan sinyal sinusoidal dengan frekuensi tertentu.
2. MODULATOR
Modulator disini berfungsi sebagai “trigger” bagi Oscillator,yg akan
menyebabkan “on-off”-nya Oscillator secara bergantian, sehingga
sinyal yang diradiasikan antena menjadi sinyal sinusoidal terputus-
putus, bentuk mana mirip dengan deretan pulsa Radar.
Untuk mendeteksi target dalam radius (100 s/d 200) mile dibutuhkan
daya pancar rata-rata ±Kwatt, lebar pulsa ±μdet sedang kecepatan
pulsa ±100-an pulsa/det.

Penerima terdiri dari 7 bagian yakni:


1. RF AMPLIFIER
Tahap pertama dari Penerima merupakan RF Amplifier dgn noise
rendah (Low Noise Amplifier), seperti PARAMETRIC AMPLIFIER,
Akan tetapi walau Amplifier dengan noise rendah relatif lbh sensitif
adakalanya hal tersebut tidak mutlak diperlukan, misalnya saja
Radar bagi keperluan militer dgn lingkungan bising medan tempur.
2. LOCAL OSCILLATOR
Local Oscillator membangkitkan frekuensi untuk disuperposisikan
dalam Mixer dengan output RF Amplifier.
3. MIXER
Dengan adanya Local Oscillator dan Mixer, sinyal RF selanjutnya
dirobah menjadi sinya IF
4. IF AMPLIFIER
Sebagaimana diketahui bahwa disamping IF Amplifier merupakan
“Matched Filter” , juga harus memenuhi persyaratan dimana daya
(S/N) maksimum.
5. SECOND DETECTOR
Detektor akan memisahkan sinyal informasi/video dari carriernya.
6. VIDEO AMPLIFIER
Dalam tahapan ini sinyal viseo yang dihasilkan harus diperkuat
terlebih dahulu sebelum diteruskan ke tahapan display,
7. DISPLAY
Beberapa bentuk display dalam sistem Radar dapat dikemukakan
sebagai berikut :
• PLAN POSITION INDICATOR
Pemetaan disini merupakan pemetaan dengan koordinat polar
dimana posisi target ditentukan oleh jaraknya terhadap titik
pusat serta sudut yang dibentuknya dengan referensi garis
vertikal
• B-SCOPE
Display ini sebenarnya hampir sama dengan display pada PPI,
bedanya hanya karena disini yang digunakan adalah koordinat
Cartesian.
• A-SCOPE
Merupakan display dengan koordinat Cartesian, dimana sumbu
x menyatakan jarak target, sedang sumbu y menyatakan besar
dari amplituda echo.
sudut
θ

amplitudaV

target 1
jarak R

target 2

jarak R

a b

Gbr.II-2: Tampilan display Layar Monitor pada Indikator Radar


dimana posisi target dinyatakan dengan:
a. A-Scope ( koordinat Cartesian )
Sumbu X menyatakan jarak R
Sumbu y menyatakan amplituda echo
b. Plan Position Indicator ( koordinat polar )
Sudut θ menyatakan arah target
Sumbu radial R menyatakan jarak
8. DUPLEXER

Duplexer pada umumnya dikelompokkan/dinyatakan sebagai bagian


dari Penerima walau pada kenyataannya juga terhubung kebagian
Pemancar.
Oleh karena pada sistem Radar ini hanya terdapat 1 antena yang
digunakan baik untuk mengirim maupun menerima, maka bahagian
Penerima harus dilindungi dari kerusakan yang mungkin terjadi
sebagai akibat kebocoran oleh besarnya daya pancar.
Disamping itu, secara sengaja sebagian daya pancar memang harus
dikopelkan ke bagian Penerima untuk difungsikan sebagai referensi /
sinkronisasi.
Mengingat keterbatasan daya tampung Penerima, maka kebocoran
0,1% dari daya pancar 5 Kwatt yang masuk ketahap awal Penerima
sudah memungkinkan “jebol”nya perangkat tersebut.
Akan tetapi dengan bantuan Duplexer, situasi fatal tersebut dapat
dicegah, karena Duplexer punya kemampuan untuk:
• Melindungi Penerima saat Pemancar bekerja
• Memutuskan hubungan Penerima ke antena saat Pemancar
bekerja.
• Memutuskan hubungan Pemancar ke antena saat sinyal echo
menuju Penerima.
Yang dapat berfungsi sebagai Duplexer ini misalnya:
• Peralatan Transmit-Receive dan Anti-Transmit-Receive (TR- ATR)
• Solid State Ferrite Circulator

II.2 CONTINEOUS WAVE (CW) RADAR


II.2.1 EFEK DOPPLER

Pemancar Radar sebenarnya juga dapat bekerja secara kontinu,


yakni bila sistem tersebut dapat memisahkan sinyal pancar yang
punya daya besar dari sinyal echo yang ordenya relatif sangat kecil.
Hal ini diperlukan mengingat perbandingan daya diantara keduanya
amatlah besar, adakalanya bisa lebih dari 1: 1018
Penggunaan antena yang terpisah bagi masing-masing Pemancar
dan Penerima akan sangat membantu pemisahan sinyal pancar dari
echonya, namun demikian penggunaan satu antena dengan isolasi
yang baik, dari segi ekonomis masih tetap merupakan pilihan yang
menguntungkan.

Cara lain yang juga dapat ditempuh untuk memisahkan sinyal pancar
dari echonya adalah bila baik Radar maupun Target dalam keadaan
bergerak, relatif satu terhadap lainnya, shingga efek Doppler dapat
diterapkan.
Sebagaimana diketahui, efek Doppler dalam bahasan optik maupun
akustik menyatakan bahwa:
Bila pengamat dan sumber osilasi dlm keadaan bergerak, akan
timbul suatu pergeseran frekuensi.
Secara matematis peristiwa hal dapat dijelaskan sebagai berikut:

Misal :
R = Jarak antara Radar dan Target
2R / λ = Panjang lintasan dalam λ yang harus ditempuh sinyal
Radar sampai ditangkap kembali oleh Penerimanya.
Ø = 4πR / λ
= Panjang lintasan tersebut diatas dalam radian.
Maka :
ωd = Frekuensi sudut Doppler

= 2 π fd = d Ø / dt = 4π / λ ( dR/dt )

= 4π vr / λ …………………………………..……… (II-1)
Dimana:
fd = Frekuensi Doppler
vr = Kecepatan relatif Target terhadap Radar
Besarnya pergeseran frekuensi yang didefinisikan sebagai frekuensi
Doppler dngan demikian adalah :

Frekuensi Doppler fr = 2 vr / λ = 2 vr f0 / c ………………. (II-2)

Dimana:
f0 = Frekuensi pancar
c = Kecepatan cahaya = 3 108 m/det

Bagi perhitungan praktis, maka pers.II-2 diatas dapat ditulis sebagai


berikut:

Frekuensi Doppler fr (Hz) = 1,03 vr (knot) / c (m/det) ……. (II-3)

Apabila lintasan Target yang sedang bergerak dengan kecepatan vr


membentuk sudut θ dengan garis hubung antara Target tersebut
dengan Radar seperti terlihat pada Gbr.II-3, maka kecepatan relatif
Target terhadap Radar adalah:

Kecepatan relatif Target thd Radar vr = v cos θ …………….. (II-4)

Dengan demikian bila lintasan gerak tersebut tegak lurus terhadap


garis hubung Target dengan Radar, maka kecepatan relatif Target
terhadap Radar akan sama dengan nol.

B θ

C θ
A
θ=90

Gbr.II-3: Lintasan target yang membentuk sudut θ dengan


Garis hubungnya kepada Radar.
Sinyal sinusoidal dengan frekuensi f0 yang dihasilkan oleh Pemancar
diteruskan ke antena untuk diradiasikan ke udara bebas. Sebahagian
dari sinyal yang diradiasikan tersebut bila sampai/mengenai Target
akan dipantulkan lagi ke berbagai arah. Bahagian yang dipantulkan
ke arah sumber semula, akan ditangkap oleh antena Radar untuk
selanjutnya diproses sebagai echo.

Jika Target dlm keadaan bergerak dgn kecepatan vr relatif terhadap


Radar, sinyal yang diterima tersebut akan mengalami pergeseran
frekuensi sebesar ± fd .
Pergeseran frekuensi akan bertanda + bila jarak Target dan Radar
semakin kecil, artinya keduanya saling mendekat.
Sebaliknya pergeseran frekuensi bertanda negatip bila jarak Target
dan Radar semakin besar, artinya keduanya saling menjauh.

Sinyal echo dengan frekuensi ( f0 ± fd ) yang ditangkap oleh antena,


setelah bersama-sama dengan sebahagian sinyal pancar diteruskan
ke Mixer, akan menghasilkan frekuensi Doppler fd pada output Mixer.
Pada BEAT FREQUENCY AMPLIFIER frekuensi Doppler tersebut
diperkuat dulu sebelum diteruskan ke Indicator sebagaimana terlihat
pada Gbr. II-4.

f0
CW
f0± f d
TRANSMITTE
R
f0± f d f0
a. MIXER/ BEAT
INDICAT
DETECT FREQUENCY
fd OR
OR AMPLIFIER
fd
amplit
b. uda

frekuen
si
fd

Gbr.II-4: Sistem Radar dengan efek Doppler


a. Blok diagram sederhana dari Radar
b. Response frekuensi sinyal Radar
Response frekuensi dari Beat Frequency Amplifier seperti terlihat
pada Gbr.II-4b, hendaklah :
• Cut off pada frekuensi rendah yang sedemikian rupa, sehingga
walau masih mampu memperkuat frekuensi Doppler yg cukup
kecil, masih pula dapat dengan baik menekan komponen DC yang
mungkin timbul.
• Cut off pada frekuensi tinggi hendaknya diusahakan sedemikian
rupa sehingga masih tetap dapat memperkuat frekuensi Doppler
tertinggi yang diperkirakan akan timbul.

Indikator bisa berupa “EARPHONE” atau “FREQUENCY METER”.


Sekiranya Indikator tidak terlalu dituntut untuk mengukur kecepatan
target dengan tepat, penggunaan earphone akan lebih cocok dan
menarik, karena ternyata bila Pemancar berada dalam frekuensi MHz
dan targetnya adalah pesawat subsonic, maka telinga akan berlaku
sebagai Band Pass Filter (BPF) dgn frekuensi tengah sekitar 50Hz.
Jika kombinasi antara frekuensi pancar dan kecepatan Target tidak
menghasilkan frekuensi Doppler dalam daerah audio, maka sinyal
Doppler tersebut harus digeser ke frekuensi audio yg dapat didengar,
agar earphone masih tetap dapat dipakai sebagai Indikator.

Dalam penerapan selanjutnya terlihat bahwa propeller dari pesawat


terbang, dalam hal ini yang biasa digunakan dalam P.D.II, dapat pula
membangkitkan sinyal sinusoidal yang akan berlaku sebagai sinyal
pemodulasi.
Frekuensi pemodulasi ini selain tergantung pada kecepatan putaran
propeller, juga tergantung pada jumlah jari-jari dari baling-balingnya.
Karena frekuensi yang dibangkitkan tersebut berkisar (50-60)Hz, jadi
ada dalam frekuensi dari sinyal Doppler yang mungkin timbul, maka
getaran propeller sering menyesatkan pendeteksian sinyal Doppler.
Walaupun demikian getaran propeller ini malah bisa dimanfaatkan,
karena akan membantu usaha pendeteksian pesawat yang tidak
membangkitkan sinyal Doppler, yakni bila pesawat bergerak dengan
lintasan yang tegak lurus terhadap garis hubungnya dengan Radar.
II.2.2 PRINSIP KERJA CW RADAR

fo
CW fo
TRANSMIT
TER

SIDEBAND 0SCILLAT
MIXER OR
FILTER

fif
RECEIVER
fo+fif
MIXER
fo , fo+fIf , fo-fIf

SECOND DOPPLE
fo+fd IF R
DETECT
AMPLIFIER
fif +fd AMPLIFI
OR fif +fd fd
ER
INDIKAT
OR

Gbr.II-5: Blok diagram CW Radar dengan Superheterodyne


Receiver dengan non-zero IF

Blok Diagram sederhana dari CW Radar telah disajikan pada Gbr.II-4


yang bekerja berdasar efek Doppler. Penerima Radar dengan prinsip
seperti ini, biasa dinamakan “HOMODYNE RECEIVER” atau disebut
pula “SUPERHETERODYNE RECEIVER WITH ZERO IF” karena
tidak punya tahapan IF.
Gbr.II-5 memperlihatkan blok diagram dari CW Radar yang dapat
menggeser frekuensi Dopplernya kedaerah audio. Bagian Penerima
ini sistem ini biasa pula disebut ”SIDE BAND SUPERHETERODYNE”
atau “SUPERHETERODYNE RECEIVER WITH NON-ZERO IF”.

Output Mixer yang terdiri dari 3 komponen yakni f0, f0+fif dan f0-fif,
setelah disaring Sideband Filter hanya menyisakan 1 komponen saja
yakni f0 + fif’ . Pada Receiver Mixer terjadi lagi pencampuran antara
sinyal f0+ fif diatas dengan sinyal echo f0+fd yang menghasilkan fif+fd ,
dan akhirnya Second Detector menekan sinyal fif sehingga hanya
sinyal Doppler fd saja yang diperoleh pada output Second Detector.
II.2.3 LEBAR BIDANG FREKUENSI DARI CW RADAR

Lebar bidang frekuensi dari CW Radar, khususnya disini Penerima,


sebagaimana halnya dengan IF Amplifier yang telah dibahas di atas,
haruslah diusahakan cukup lebar sehingga mampu meliwatkan
semua frekuensi Doppler yang diperkirakan akan liwat.
Namun karena pertambahan banwidth akan menaikkan level noise,
maka sensitivitas sistem akan turun, sehingga penentuan bandwidth
Penerima benar-benar harus dipertimbangkan, agar pengaruh noise
dapat ditekan sekcil mungkin tanpa mengorbankan frekuensi Doppler
yang mungkin timbul.

P
P δ

f0 f
f0
f

Gbr.II-6: Spektrum frekuensi dari sinyal kontinu:


a. Selang takhingga
b. Selang terbatas

Secara ideal bila sinyal echo merupakan gelombang sinus dengan


selang tak hingga, maka spektrum frekuensinya merupakan fungsi δ
seperti terlihat pada Gbr.II-6b dengan bandwidth takhingga.

Akan tetapi untuk mendapatkan spektrum sinus dengan selang dan


bandwidth tak hingga tentu tidak mungkin, sehingga dalam keadaan
yang sesungguhnya spektrum frekuensi sinyal echo yang sinusoidal
tersebut ternyata mempunyai persamaan sebagai berikut:

= { sin π ( f-f0 ) δ } / π ( f-f0 ) …… ………………… (II-5)


dimana:
f0 = frekuensi dari sinyal echo
f = frekuensi dimana spektrum itu ditinjau
δ = selang waktu penerimaan sinyal echo
Fluktuasi yang dialami sinyal Radar dan echonya, baik fluktuasi dari
scanning/percepatan/penampang Target, akan memungkinkan sinyal
echo yang ditangkap bukanlah lagi sinyal sinusoidal murni dengan
selang waktu terbatas sebagaimana uraian di atas,hal mana akan
menyebabkan bertambah lebarnya spektrum echo tersebut.

Hal-hal khusus yg berkaitan dengan Penerima Radar dan cenderung


menyebabkan melebarnya spektrum sinyal echonya, dapat dijelaskan
sebagai berikut:

1. LEBAR SPEKTRUM SINYAL ECHO:


Bila beamwidth antena Radar adalah θB derajat dan kecepatan
scanning θs der/det maka :
• Selang waktu penerimaan sinyal eho adalah δ = θB / θS detik
• Bandwidth sinyal echo berbanding terbalik dgn θS
Contoh:
Bila beamwidth antena Radar θB=2O sedang kecepatan scanning
θS=36O(6rpm), maka spektrum sinyal echo disebabkan terbatasnya
scanning akan punya lebar 18Hz
2. FLUKTUASI PENAMPANG TARGET
Spektrum echo makin lebar bila terjadi fluktuasi penampang target
Dari pengalaman terbukti bahwa penampang Target yang berupa
pesawat terbang ternyata dpt berubah sampai dengan 18 dB bila
sudut pandang dari Target tersebut adalah ⅓ derajat.
3. BANDWIDTH SINYAL ECHO
Jika ar adalah percepatan Target terhadap Radar,maka bandwidth
dari sinyal echo tersebut akan menjadi:

∆ fd = √ ( 2 ar / λ ) Hz ………………..… (II-6)
Contoh:
Bila percepatan Target ar adalah 2x percepatan gaya tarik bumi,
maka bandwidth Penerima menjdi ± 20 Hz.

Block diagram dari “IF DOPPLER FILTER BANK” , seperti terlihat


pada Gbr.II-7a dapat digunakan untuk mengurangi noise yang
muncul pada sistem, bila bandwidth sistem cukup lebar.
Untuk keperluan tersebut frekuensi tengah dari filter-filter tersebut
diatur sedemikian rupa sehingga semua filter secara bersama-
sama akan dapat meliwatkan seluruh frekuensi Doppler yang telah
diperkirakan akan muncul.
FILTER DETEK
1 T1
FILTER DETEK
2 T2
IF
MIXE FILTER DETEK
AMPLIFI INDIKAT
R 3 T3
ER OR
a.
FILTER DETEK
n Tn n n

Day
a
(Wa
tt)
b. 0dB
-
3dB
fre
k.

f1 f2 f3 f4
f5 . . . . fn

Gbr.II-7: a. Blok diagram IF Doppler Filter Bank


b. Respons frekuensi dari IF Doppler Filter bank.

Pada Gbr II-7b terlihat dengan jelas respons frekuensi pd bidang


secara keseluruhan, dimana bandwidth dari masing-masing filter
tersebut satu sama lain saling tumpang tindih pada amplituda 3dB
dibawah daya maksimum.
II.3 FM- CW RADAR

II.3.1 PRINSIP DAN BLOK DIAGRAM YANG SEDERHANA

Lebar spektrum frekuensi merupakan salah satu faktor utama yang


menentukan kesanggupan CW Radar dalam mengukur jarak Target
dengan cepat dan tepat.
Suatu “tanda” tertentu harus diberikan kepada CW Carrier, untuk
mengetahui saat pengiriman maupun saat penerimaan kembali sinyal
Radar maupun sinyal echonya.
Semakin tajam/sempit tanda tersebut akan semakin teliti pengukuran
dari waktu transitnya sehingga pengukuran jarak semakin teliti, akan
tetapi sesuai dengan Fourier Transform spektrum dari sinyal yang
dipancarkan juga semakin lebar.

Penerapan modulasi pada sinyal CW, baik Modulasi Amplituda (AM),


Frekuensi (FM) maupun Phasa (PM) akan menyebabkan spektrum
sinyal Radar tersebut akan bertambah lebar.
Radar pulsa misalnya, yang merupakan bentuk AM, akan semakin
teliti mengukur jarak, bila bila lebar pulsa semakin sempit, akan tetapi
tak dapat dihindari bila spektrum frekuensinya menjadi semakin lebar

Pada Modulasi Frekuensi (FM), saat pengiriman dan penerimaan


sinyal Radar ditandai dengan perubahan frekuensi yang sedemikian
rupa, sehingga waktu transit akan sebanding dengan perbedaan dari
frekuensi sinyal echo dan sinyal pancar.
Berdasarkan situasi/kondisi tersebut diatas, maka pengukuran waktu
transitnya akan semakin teliti, bila deviasi frekuensi dalam interval
waktu tertentu semakin besar.
Dalam FM-CW Radar , frekuensi Pemancar akan berubah sebanding
dengan waktu, seperti terlihat pada Gbr.II-8a.
Dengan adanya Target pada jarak R, maka sinyal echo akan sampai
kembali ke Radar setelah waktu T = 2 R / c.
Garis putus-putus pada Gbr.II-8 menggambarkan sinyal echo yang
kembali.
Frekuensi

fb
T= 2R/c

f0
Frekuensi t (mdetik)

T=2R/c

fr
t (mdet)
f0

sinyal pancar

Frekuensi fb sinyal echo


T = 1/fm

t (mdet)
f0

Gbr.II-8a: Hubungan antara frekuensi dan waktu pada FM-CW Radar


a. Modulasi Frekuensi Linier
b. Modulasi Frekuensi Segitiga
c. Frekuensi beat (fb) yang dihasilkan oleh Gbr.II-8b

Untuk sinyal echo yang heterodyned, bagian sinyal yang meliwati


elemen nonlinier akan menghasilkan”tanda” pada frekuensi dimana
fb = fr, yakni:
fb = Selisih frekuensi pancar dan frekuensi terima saat tertentu
fr = Frekuensi beat yang semata-mata ditimbulkan oleh jarak
Radar dan Target
Jika perubahan rata-rata frekuensi carrier adalah f0 , maka frekuensi
beat adalah :
fb = T f0 = ( 2R/c) f0 ………………………………..……………………………….. (II-7)

Dalam prakteknya mengingat frekuensi tersebut tidak dapat hanya


berubah dalam satu arah saja, maka untuk keadan ini secara periodik
modulasi tersebut didisain sedemikian rupa sehingga perubahannya
berlangsung menurut “TRIANGULAR FREQUENCY MODULATION”,
atau “MODULASI FREKUENSI SEGITIGA”.
Selain dalam bentuk diatas sinyal FM tersebut juga bisa berubah ke
bentuk-bentuk lain seperti saw tooth, sinusoidal, dsb.

Pada Gbr.II-8b diatas diperlihatkan sinyal yang perubahan terhadap


waktu menurut konsep segitiga, sedang pada Gbr II-8c terlihat bahwa
frekuensi beat fb yang dihasilkan oleh Triangular Modulation diatas
adalah konstan, kecuali pada daerah baliknya.
Jika frekuensi dimodulasi dengan frekuensi / kecepatan fm dan lebar
bidang f, maka frekuensi beat yang dihasilkan adalah :

fb = T f0 = ( 2R/c) 2fm …………………………..……………………………….. (II-8)

Prinsip kerja FM-CW Radar selanjutnya dijelaskan dgn menggunakan


blok diagram pada Gbr.II-9.

FM
MODULA
TRANSMIT
TOR
TER

MIXER

AMPLIFIER

FREQUEN
INDICAT
LIMITER CY
OR
COUNTER

Gbr.II-9: Blok diagram FM-CW Radar secara sederhana


Sebagian sinyal pancar dijadikan sinyal referensi untuk memperoleh
beat frekuensi fb. Selanjutnya beat frekuensi fb diteruskan ke Amplifier
dan Limiter untuk diperkuat dan dihilangkan fluktuasi amplitudanya.
Dgn bantuan “FREQUENCY COUNTER” dapat diketahui frekuensi
dari sinyal beat fb.

Pada contoh diatas target adalah stationer terhadap Radar.Sekiranya


Target dlm keadaan bergerak relatif terhadap Radar, maka frekuensi
beat yang diperoleh akan mengandung frekuensi Doppler.
Frekuensi Doppler ini akan mengakibatkan tergesernya kurva sinyal
echo keatas atau kebawah seperti terlihat pada Gbr.II.10b.
Frekuensi

T=2R/c
fr
t (mdet)
f0

sinyal pancar
Frekuensi fb
sinyal echo
T = 1/fm

t (mdet)
f0

Gbr.II-10: Hubungan antara frekuensi dan waktu dlm FM-CW Radar


bila sinyal Penerima tergeser oleh efek Doppler.
a. Sinyal pancar dan echo
b. Frekuensi beat yang diperoleh.
Sebagai contoh bila Target mendekati Radar, maka besarnya
frekuensi beat fb selama selang waktu dimana :

Frekuensi bertambah secara linier terhadap waktu fb(up) = fr - fd


Frekuensi berkurang secara linier terhadap waktu fb(down) = fr + fd
Dengan cara ini maka Frekuensi bertambah secara linier terhadap
waktu fr dapat diketahui.
Bila terdapat lebih dari satu Target dalam jangkauan Radar, maka
output Mixer akan muncul lebih dari satu frekuensi.

Jika sistem modulasi yang digunakan adalah linier, maka hanya akan
muncul satu hasil pengukuran utk setiap Target, krn pada prinsipnya
jarak kesetiap Target diperoleh melalui perhitungan dari komponen
frekuensi Target sebagaimana pers. II-8. Untuk mengukur besarnya
frekuensi yang ditimbulkan setiap Target, harus ditambahkan filter yg
akan memisahkan masing-masing frekuensi satu sama lain.
Filter tersebut dapat berupa “NARROW BAND FILTER” ataupun bisa
juga “NARROW BAND TUNABLE FILTER” sehingga hanya diperoleh
satu frekuensi untuk setiap Target.

Tapi bila FM-CW Radar hanya digunakan bagi Target tunggal seperti
misalnya “RADIO ALTIMETER” maka tidak perlu modulasi frekuensi
linier, cukuplah Modulasi Frekuensi Sinusoidal saja, karena modulasi
bentuk ini lebih mudah untuk membuatnya.
Selain itu, meskipun frekuensi beat yang diperoleh melalui modulasi
sinus tidaklah konstan seperti halnya pada modulasi linier, namun
frekuensi beat rata-rata yang diperoleh akan tetap dapat digunakan
untuk menghitung jarakTarget dengan cukup baik.
f0(t)
II.3.2 FM-CW ALTIMETER

f0(t)
FM fIF
MODULA
TRANSMIT
TOR
TER
f0(t)+fif , f0(t) , f0(t) - fif
LOCAL
MIXER OSCILLAT
OR
fd

BALANCE
SIDEBA
f0(t) - fif
D AVERAGE
ND
DETECTO FREQ.COUN
FILTER
R TER
LOW
IF
RECEIVE FREQ.
f0(t-T) R MIXER AMPLIFIE
f0(t)+ fb AMPLIFIE fb
R
R
R
AVERAGE
FREQ.COUN
TER

Gbr.II-11: Blok diagram FM-CW Radar degan Sideband


Superheterodyne Receiver

FM-CW Altimeter merupakan salah satu bentuk penerapan prinsip


FM-CW Radar dalam penerbangan, yakni bagi pengkuran ketinggian
pesawat terbang dari permukaan bumi.
Luasnya permukaan yang memantulkan sinyal Radar yg dipancarkan
serta jarak ukur yang relatif dekat, memungkinkan penggunaan
Pemancar dengan daya dan gain yang rendah, sedang pergerakan
pesawat yang relatif konstan jaraknya terhadap permukaan bumi
menyebabkan efek Doppler dapat diabaikan.

Daerah frekuensi yang sekarang digunakan untuk Altimeter adalah


(4,2-4.4) GHz, meski pd masa lalu hampir semua menggunakan UHF
Altimeter dapat menggunakan Penerima dalam bentuk Homodyne
Receiver yang sederhana, akan tetapi stabilitas dan sensitivitas yang
lbh baik akan dapat dicapai bila Penerimanya adalah Heterodyne.
FM-CW Radar dengan Penerima Superherodyne Receiver.

FM-CW Radar dgn Penerima Superherodyneyang dapat berfungsi


sebagai Altimeter, mempunyai blok diagram seperti terlihat pada
Gbr.II-11. Bagian sinyal pancar FM diteruskan ke Mixer bersama-
sama dengan sinyal dari Local Oscillator (LO). LO disini sedikit
berbeda dari yang ditemukan pada penerima umum lainnya, karena
disini LO punya mempunyai output dngan frekuensi IF. Output Mixer
yang dibutuhkan mempunyai frekuensi f0(t)-fIF, yang diperoleh dgn
bantuan “ Sideband Filter”, diteruskan ke Receiver Mixer.
Dengan adanya sinyal echo f0(t-T), maka pada output Mixer akan
dihasilkan sinyal dengan frekuensi fIF+fb, dimana fb = f0(t-T)-f0(t).

Balanced Detector akan mendeteksi frekuensi beat yang terkandung


dalam output Mixer tersebut untuk selanjutnya diperkuat oleh LF
Amplifier, agar mencapai level yang sesuai dengan counter. Tahap
akhir yang berupa counter terdiri dari 2 macam yakni:
Switched Frequency Counter bagi pengukuran frekuensi Doppler
Average Frekuqency Counter bagi pengukuran ketinggian.