Anda di halaman 1dari 11

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Bawang Putih (Allium

sativum) pada Dataran Rendah Beriklim Basah

Disusun oleh :

ARIS LELONO P.P.


0810480123

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
I
PENDAHULUAN
Pertanian terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan,
perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga
diharapkan dapat sebagai salah satu solusi alternatif bagi peningkatan produktivitas lahan, program
pembangunan & konservasi lingkungan serta pengembangan desa secara terpadu.
Bawang putih (Allium sativum L) selain merupakan jenis sayuran yang penting, juga
merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru ekonomi dalam pembangunan pertanian. Bawang
putih ini dianggap sebagai komoditas potensial terutama untuk subsitusi impor dan dalam
hubungannya dengan penghematan devisa. Perkembangan terakhir (2006), impor bawang putih
indonesia berjumlah 295 ribu ton dengan nilai tidak kurang dari US$ 103 juta atau sebesar Rp 927
milyar, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang putih sampai saat ini adalah varietas bawang
putih yang berkembang di indonesia umumnya memiliki potensi hasil yang jauh lebih rendah
dibandingkan dengan potensi hasil bawang putih di daerah subtropis. Bagitu pula tingkat
pengusahaanya terbatas di daerah dataran tinggi (> 800 m dpl). Dengan demikian dengan adanya
jenis-jenis bawang putih yang cocok diusahakan di dataran rendah merupakan peluang baru dalam
pembangunan pertanian khususnya untuk ekstensifikasi bawang putih dalam negeri bagi pemenuhan
kebutuhan konsumsi bawang putih yang terus meningkat tiap tahunnya. Menurut data Susenas,
konsumsi per kapita bawang putih penduduk indonesia mencapai 1,13 kg/tahun sehingga kebutuhan
bawang putih nasional per tahun mencapai sekitar 250 ribu ton. D.I.Yogyakarta mempunyai varietas
bawang putih dataran rendah yaitu Lumbu Putih.
Oleh karena itu dengan dilakukannya PTT pada teknik budidaya bawang putih pada dataran
rendah beriklim basah sehingga dapat memenuhi tuntuan produk bawang putih baik dalam maupun
eksport.
II
Pengelolaan Tanaman Terpadu

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) atau Integrated Corp Management (ICM) adalah upaya
untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi padi secara berkelanjutan dengan
memperhatikan sumber daya yang tersedia serta kemauan dan kemampuan petani. Jadi PTT
menekankan parsipatori yang menempatkan pengalaman, keinginan, dan kemampuan petani sebagai
subjek dalam menyikapi kemajuan teknologi (bahasa gaulnya, petani tidak gaptek gitu loh) dengan
memperhatikan keanekaragaman lingkungan pertanaman dan kondisi petani sehingga teknologi
menjadi mudah diterima petani. Namun demikian penerapan umum yang harus dilakukan adalah
penggunaan benih bermutu dan pemberantasan hama terpadu (PHT).

Telah disadari dengan baik bahwa telah terjadi pertumbuhan produksi padi yang “biasa-biasa
saja” bahkan terjadi “pelandaian” produksi berdasarkan penelitian Reversing Trends of Declining
Productivity of Rice (RTDP) oleh IRRI. Namun demikian bisa diupayakan perbaikannya dengan :
pemupukan organic selain penggunaan pupuk anorganik
pengeringan bergilir basis air dari kondisi reduktif menjadi kondisi oksidasif

Selain itu juga dengan PTT ini harus memperhatikan tahap panen dan pasca panen. Pada
tahap panen harus diperhatikan waktu panen yang terlalu cepat atau terlambat karena akan
berpengaruh pada kualitas. Tahap pasca panen seperti perontokan, pengeringan dan penyimpanan
gabah sesuai teknologi sesuai kondisi setempat.

Teknologi opsional lainnya adalah sistem legowo, yang disesuaikan dengan keinginan petani
(legowo 2:1, atau 4:1 atau 6:1). Juga penyiangan yang sesuai dengan kebiasaan petani, ada yang
dengan tangan, dengan landak atau dengan herbisida.

PTT :
• Penggunaan benih bermutu dari varietas unggul yang sesuai dengan lokasi setempat
• Penggunaan 1-3 bibit muda dalam satu rumpun
• Pemupukan anorganik sesuai dengan ketersediaan hara dalam tanah dan kebutuhan
tanaman.
• Pengairan berselang (intermitten) bila memungkinkan.
• Penanganan panen dan pasca panen dengan tepat
• Pengembalian sisa tanaman (jerami) dan pupuk kandang bila dimungkinkan
Pelaksanaan PTT akan lebih menguntungkan bila diintegrasikan dengan ternak atau SIPT – Sistem
Integrasi Padi dan Ternak, akan lebih bermanfaat dalam jangka panjang bila dikaitkan dengan
antisipasi kelangkaan dan mahalnya pupuk anorganik.Pertanian terpadu merupakan sistem yang
menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait
dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat sebagai salah satu solusi alternatif
bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan & konservasi lingkungan serta
pengembangan desa secara terpadu. Diharapkan kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang
petani berupa pangan, sandang dan papan akan tercukupi dengan sistem pertanian berbasis
agroforestry ini. Hasil pertanian dan perikanan diharapkan mampu mencukupi kehidupan jangka
pendek, sedangkan hasil peternakan dan perkebunan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan jangka
menengah. Penjualan hasil kebun dan hasil hutan rakyat sekarang dipercaya mampu mencukupi
kebutuhan membayar biaya sekolah, rumah sakit, hajatan sunatan, mantenan dan kebutuhan jangka
panjang lain. Dengan demikian, sistem agroforestry mampu memberikan pendapatan harian, bulanan,
tahunan maupun dekade-an bagi petani.

Praktek pertanian terpadu melalui agroforestry sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi petani
di lahan kritis, bahkan kadang hanya dianggap sebagai istilah baru bagi praktek lama yang lebih
bersifat mono-disipliner tersebut. Pendekatan menyeluruh agar pengelolaan sumber daya alam dapat
berkelanjutan menuntut keseimbangan antara produksi dan konservasi lingkungan yang hanya dapat
didekati secara multidispliner lewat paradigma baru agroforestry yang menuntut partisipasi antar
pihak. Agroforestry telah menjadi trade mark di daerah tropis, sehingga banyak negara maju yang
berasal dari negara non-tropis yang belajar di negara tropis, termasuk Indonesia.
Banyaknya bencana banjir, kekeringan, longsor dan bencana alam lain telah mendorong pendidik dan
praktisi pertanian terpadu agar dapat mengemas aspek siklus produksi petani, kondisi sosial-ekonomi,
bio-fisik, politik, kebijakan lokal-nasional-internasional, dampak mata pencaharian penduduk,
produktivitas lahan, kelestarian lingkungan, serta analisis resiko maupun sistem tukar tambah dalam
memberikan solusi terbaik bagi pembangunan nasional. Degradasi lahan yang mencapai 2,8 juta
hektar pertahun dan saat ini lahan rusak di Indonesia yang mencapai 59 juta hektar menyediakan
sarana bagi implementasi sistem agroforestry dan pertanian terpadu ini agar kerugian material dan
immaterial tersebut tidak semakin membesar, bahkan bisa diubah menjadi lahan produktif yang
bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Model Integrated farming dikembangkan juga oleh KP4 UGM dengan beberapa kajian lebih
mendalam melalui: ICM (Integrated Crop Management atau Pengelolaan tanaman terpadu), INM
(Integrated Nutrient Management atau pengelolaan hara terpadu), IPM (Integrated Pest Management
atau pengelolaan hama terpadu) dan IMM (Integrated Soil Moisture Management atau pengelolaan air
terpadu) (Agus 2006b)
Pengelolaan tanaman terpadu (ICM) dilakukan dengan pola agro-forestri yang memadukan
berbagai jenis tanaman pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan. Penggunaan
hara secara efisien, membutuhkan keseimbangan antara unsur hara yang ditambahkan melalui pupuk
kimia ke dalam tanah dan yang lepas tersedia selama degradasi bahan organik di tanah oleh
mikroorganisme. Aspek aktivitas biologi tanah yang berkontribusi dalam menekan hama-penyakit dan
peningkatan efisiensi pemnafaatan hara oleh tanaman juga sangat penting untuk system produksi
pertanian yang menguntungkan dan ramah lingkungan (Abbott and Murphy, 2003). Stabilitas
struktural dari ruang habitat dan suplai limbah organik dan bahan organik tanah yang cukup adalah
dasar utama untuk meningkatkan kesuburan biologi tanah. Pengelolaan hara terpadu (INM) dilakukan
dengan cara keterpaduan dan pemberdayaan siklus hara, pupuk hayati (pupuk hijau), pupuk kompos
(pupuk kandang), dan pupuk kimia. Fermentasi 1 unit kotoran ternak (12 ekor sapi) dengan
menggunakan digester ini diharapkan akan menghasilkan pupuk cair sebanyak 180 kg/hari dan energi
gas-bio yang cukup untuk memanaskan kompor selama 12 jam. Produksi padi dengan aplikasi
pertanian terpadu berupa keseimbangan antara pupuk organik dan kimia di KP4 UGM telah
menaikkan panen padi meningkat sebanyak 30-50%, dari 5-6 ton/ha menjadi 7,6-8 ton/ha (Agus,
2006a).
Pengelolaan hama terpadu (IPM) dilakukan dengan pemanfaatan biopestisida untuk
pengelolaan hama dan penyakit dikombinasikan dengan pestisida kimia, maupun pemanfaatan ternak
untuk pengendalian gulma. Pengelolaan air terpadu (IMM) dilakukan dengan cara irigasi teknis, irigasi
non-teknis, tadah hujan, selokan, genangan bergilir, sistem surjan maupun sumur pompa, sehingga
mampu menyediakan air diluar musim tanam konvensial, sehingga justru bisa panen dan mendapat
harga komoditi yang lebih tinggi.
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan cara pendekatan yang bersifat holistik
sehingga dapat meningkatkan produktivitas maupun pendapatan petani karena lebih efektif dan lebih
efisien serta sifatnya lumintu.
B) Pendekatan PTT
Memanfaatkan paket teknologi anjuran yang terdiri dari komponen komponen teknologi yang
sinergis dan kompatibel sesamanya sehingga kalau diterapkan bisa lebih efisien dan lebih efektif
untuk meningkatkan produksi bawwang putih. Pemilihan dan penerapan teknologi didasarkan pada
pemecahan permasalahan setempat yang sedang dihadapi petani. Dengan PTT, input teknologi lebih
efisien dalam peningkatan produksi bawang putih sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani
bertambah.
Kelestarian lingkungan lebih lumintu karena teknologi yang diterapkan lebih terkendali sehingga lebih
ramah lingkungan.
III
Teknis Budidya Bawang Putih pada Dataran Rendah
I. Latar Belakang
Bawang putih (Allium sativum L) selain merupakan jenis sayuran yang penting, juga
merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru ekonomi dalam pembangunan pertanian. Bawang
putih ini dianggap sebagai komoditas potensial terutama untuk subsitusi impor dan dalam
hubungannya dengan penghematan devisa. Perkembangan terakhir (2006), impor bawang putih
indonesia berjumlah 295 ribu ton dengan nilai tidak kurang dari US$ 103 juta atau sebesar Rp 927
milyar, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang putih sampai saat ini adalah varietas bawang
putih yang berkembang di indonesia umumnya memiliki potensi hasil yang jauh lebih rendah
dibandingkan dengan potensi hasil bawang putih di daerah subtropis. Bagitu pula tingkat
pengusahaanya terbatas di daerah dataran tinggi (> 800 m dpl). Dengan demikian dengan adanya
jenis-jenis bawang putih yang cocok diusahakan di dataran rendah merupakan peluang baru dalam
pembangunan pertanian khususnya untuk ekstensifikasi bawang putih dalam negeri bagi pemenuhan
kebutuhan konsumsi bawang putih yang terus meningkat tiap tahunnya. Menurut data Susenas,
konsumsi per kapita bawang putih penduduk indonesia mencapai 1,13 kg/tahun sehingga kebutuhan
bawang putih nasional per tahun mencapai sekitar 250 ribu ton. D.I.Yogyakarta mempunyai varietas
bawang putih dataran rendah yaitu Lumbu Putih.

Ι Ι. PERSYARATAN EKOLOGIS
• Tanaman bawang putih dataran rendah tumbuh pada hampir semua jenis tanah, namun yang
terbaik pada tanah bertekstur sedang (lempung sampai lempung berpasir).
• pH tanah yang cocok adalah 5,6 - 6,8 dan drainasenya baik.
• Walaupun umumnya bawang putih ini tahan suhu panas, namun hanya dapat tumbuh dengan
baik pada daerah yang memiliki suhu yang dingin (<25` c pada bulan-bulan tertentu).
• Suhu dingin tersebut diperlukan terutama pada saat pembentukan dan pembesaran umbi
tanaman. Di Indonesia, waktu tanam terbaik untuk bawang putih dataran rendah yaitu bulan Mei, Juni
atau Juli.

III. TEKNOLOGI BUDIDAYA


• Lahan dibuat bedengan dengan lebar bedengan 1,2 - 1,75 m, dengan jarak perit antar
bedengan 40 - 50 cm; sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan lahan yang tersedia.
• Kemudian diidtirahatkan sekitar 2 minggu, selanjutnya diolah 2 - 3 kali sehingga permukaan
tanahnya cukup halus.
• Sebelum penanaman, perlu dicek pH tanahnya, jika < 5,6 perlu dilakukan pengapurandengan
dosis 1,5 - 3, ton per ha.
• 2 - 3 hari sebelum tanam dilakukan pemberian pupuk dasar yaitu menggunakan pupuk
kandang (10 - 15 ton/ha) atau pupuk kompos (2 ton /ha) dan SP-36 sebanyak 200 - 300kg /ha.
• Umbi bibit yang telah siseleksi (dalam bentuk siung-siung) ditanam dibedengan dengan
kedalaman 1/4 - 1/2 tinggi siung bibit, kemudian ditutp dengan mulsa jerami padi setebal 3 - 5 cm.
• Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada umur 15, 30 dan 45 hari setelah
tanam dengan menggunakan campuran pupuk 200 kg ZA + 100kg Urea + 100 kg KCL per ha untuk
setiap kali pemberian pupuk susulan. Caranya, pupuk disebar antara barisan tanaman kemudian
diikuti dengan penyiraman.

IV. Pemeliharaan Tanaman


• Penjarangan dan Penyulaman
Bawang yang ditanam kadang-kadang tidak tumbuh karena kesalahan teknis penanaman atau
faktor bibit. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam suatu lahan ada tanaman yang tidak
tumbuh sama sekali, ada yang tumbuh lalu mati, dan ada yang pertumbuhannya tidak sempurna. Jika
keadaan ini dibiarkan, maka produksi yang dikehendaki tidak tercapai. Oleh sebab itu, untuk
mendapatkan pertumbuhan yang seragam, seminggu setelah tanam dilakukan penyulaman terhadap
bibit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya tampak tidak sempurna. Biasanya untuk penyualaman
dipersiapkan bibit yang ditanam di sekitar tanaman pokok atau disiapkan di tempat khusus. Persiapan
bibit cadangan ini dilakukan bersamaan dengan penanaman tanaman pokok.
• Penyiangan
Pada penanaman bawang putih, penyiangan dan penggemburan dapat dilakukan dua kali atau
lebih. Hal ini sangat tergantung pada kondisi lingkungan selama satu musim tanam. Penyiangan dan
penggemburan yang pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 3-2 minggu setelah tanam.
Adapun penyiangan berikutnya dilaksanakan pada umur 4-5 minggu setelah tanam. Apabila gulma
masih leluasa tumbuh, perlu disiang lagi. Pada saat umbi mulai terbentuk, penyiangan dan
penggemburan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar dan umbi baru.
• Pembubunan
Dalam penanaman bawang putih perlu dilakukan pembubunan. Pembubunan terutama
dilakukan pada tepi bedengan yang seringkali longsor ketika diairi. Pembubunan sebaiknya
mengambil tanah dari selokan/ parit di sekeliling bedengan, agar bedengan menjadi lebih tinggi dan
parit menjadi lebih dalam sehingga drainase menjadi normal kembali. Pembubunan juga berfungsi
memperbaiki struktur tanah dan akar yang keluar di permukaan tanah tertutup kembali sehingga
tanaman berdiri kuat dan ukuran umbi yang dihasilkan dapat lebih besar-besar.
• Pemupukan
Pemberian pupuk dilakukan dengan 2 tahap, yaitu sebelum tanam atau bersamaan dengan
penanaman sebagai pupuk dasar dan sesudah penanaman sebagai pupuk susulan. Unsur hara
utama yang diperlukan dalam pemupukan adalah N, P, dan K dalam bentuk N, P2O5, dan K2O.
Unsur-unsurhara lainnya dapat terpenuhi dengan pemberian pupuk kandang. Perkiraan dosis dan
waktu aplikasi pemupukan
Bawang putih memerlukan sulfur dalam jumlah yang cukup banyak. Unsur ini mempengaruhi
rasa dan aroma khas bawang putih. Oleh sebab itu, apabila menggunakan KCl sebagai sumber
kalium, maka sebagai sumber nitrogen sebaiknya menggunakan pupuk ZA. Jika sebagai sumber
nitrogen digunakan Urea, maka untuk sumber kalium sebaiknya digunakan ZK. Hal ini dilakukan agar
kebutuhan sulfur tetap terpenuhi. Berdasarkan kebutuhan unsur hara di atas, jumlah pupuk yang akan
digunakan dapat dihitung berdasarkan jenis dan kandungan unsur haranya.
Aplikasi pemupukan dilakukan dengan mebenamkan pupuk di dalam larikan disamping barisan
tanaman seperti cara memberikan pupuk dasar. Penggunaan pupuk anorganik ini dapat diimbangi
dengan pemberian pupuk organik maupun kompos yang diseseuaikan dengan kebutuhan tanaman.
• Pengairan dan Penyiraman
Pemberian air dapat dilakukan dengan menggunakan gembor atau dengan menggenangi
saluran air di sekitar bedengan. Cara yang terakhir dinamakan sistem leb. Penyiraman dengan
gembor, untuk bawang yang baru ditanam, diusahakan lubang gembornya kecil agar air yang keluar
juga kecil sehingga tidak merusak tanah di sekitar bibit. Jika air yang keluar besar, maka posisi benih
dapat berubah, bahkan dapat mengeluarkannya dari dalam tanah.
Pada awal penanaman, penyiraman dilakukan setiap hari. Setelah tanaman tumbuh baik,
frekuensi pemberian air dijarangkan, menjadi seminggu sekali. Pemberian air dihentikan pada saat
tanaman sudah tua atau menjelang panen, kira-kira berumur 3 bulan sesudah tanam atau pada saat
daun tanaman sudah mulai menguning.

ς. Panen
• Ciri dan Umur Panen
Bawang putih yang akan dipanen harus mencapai cukup umur. Tergantung pada varietas dan
daerah, umur panen yang biasa dijadikan pedoman adalah antara 90-120 hari. Ciri bawang putih yang
siap panen adalah sekitar 50 prosen daun telah menguning/kering dan tangkai batang keras.
• Cara Panen
Bawang putih didaratan rendah biasanya telah siap dipanen pada umur 80 – 100 hari
tergantung keadaan kesuburan tanaman dilapangan. Ciri tanaman bawang putih siap dipanen, daun
tanaman 50 % telah menguning atau kering dan tangkai batangnya sudah keras. Cara panen dapat
dilakukan dengan pencabutan langsung terutama pada tanah yang ringan dan pencukilan dilakukan
pada tanah-tanah bertekstur agak berat. Hasil tanaman diikat sebanyak 30 tangkai tiap ikat dan
dijemur selama 1 – 2 minggu.
• Periode Panen
Tanaman bawang putih dapat dipanen setelah berumur 95-125 hari untuk varietas lumbu hijau
dan umur antara 85-100 hari untuk varietas lumbu kuning. Setelah pemanenan, lahan dapat ditanami
kembali setelah dibiarkan selama beberapa minggu dan diolah terlebih dahulu atau dapat pula
ditanami tanaman lainnya untuk melakukan rotasi tanaman.

ς Ι. Pascapanen
Pengumpulan
Setelah dipanen dilakukan pengumpulan dengan cara mengikat batang semu bawang putih menjadi
ikatan-ikatan kecil dan diletakkan di atas anyaman daun kelapa sambil dikeringkan untuk menjaga
dari kerusakan dan mutunya tetap baik.
Penyortiran dan Penggolongan
Sortasi dilakukan untuk mengelompokkan umbiumbi bawang putih menurut ukuran dan mutunya.
Sebelum dilakukan penyortiran, umbi-umbi yang sudah kering dibersihkan. Akar dan daunnnya
dipotong hingga hanya tersisa pangkal batang semu sepanjang ± 2 cm.
Ukuran atau kriteria sortasi umbi bawang putih adalah
a) keseragaman warna menurut jenis.
b) ketuaan/umur umbi.
c) tingkat kekeringan.
d) kekompakan susunan siung.
e) bebas hama dan penyakit.
f) bentuk umbi (bulat atau lonjong).
g) ukuran besar-kecilnya umbi.
Berdasarkan ukuran umbi, bawang putih dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelas, yaitu.
a) kelas A: umbi yang diameternya lebih dari 4 cm.
b) kelas B: umbi yang diameternya antara 3-4 cm.
c) kelas C: umbi yang diameternya antara 2-3 cm.
d) kelas D: umbi yang kecil atau yang pecah dan rusak.

Penyimpanan
Dalam jumlah kecil, bawang putih biasanya disimpan dengan cara digantung ikatan-ikatannyadi atas
para-para. Setiap ikatan beratnya sekitar 2 kg. Para-paranya dibuat dari kayu atau bambu dan
diletakkan diatas dapur. Cara seperti ini sangat menguntungkan karena setiap kali dapur dinyalakan,
bawang putih terkena asap. Pengasapan merupakan cara pengawetan yang cukup baik. Dalam
jumlah besar, caranya adalah disimpan di dalam gudang.
Gudang yang akan digunakan harus mempunyai ventilasi agar bisa terjadi peredaran udara yang
baik. Suhu ruangan yang diperlukan antara 25-30oC. Jika suhu ruangan terlalu tinggi, akan terjadi
proses pertunasan yang cepat. Kelembaban ruangan yang baik adalah 60-70 prosen.
Pengemasan dan Pengangkutan
Untuk memudahkan pengangkutan bawang putih dimasukkan ke dalam karung goni atau karung
plastik dengan anyaman tertentu. Alat pengangkutan bisa bermacam-macam, bisa gerobak, becak,
sepeda atau kendaraan bermotor.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2010 http://donyirawan.wordpress.com/2008/10/31/pengelolaan-tanaman-terpadu/
Diakses 18 Mei 2010
Anonymous, 2010 http://kp4.ugm.ac.id/program-development/model-pertanian.html Diakses 18 Mei
2010
Anonymous, 2010 http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr254035.pdf Diakses 18 Mei 2010
Anonymous, 2010 http://waterwiki.net/index.php/Irrigation_features Diakses 18 Mei 2010
Anonymous, 2010 http://en.wikipedia.org/wiki/Irrigation_statistics Diakses 18 Mei 2010
Anonymous, 2010 http://www.knowledgebank.irri.org/indonesia/PDF%20files/Petunjuk%20Lapang
%20PTT.pdf Diakses 18 Mei 2010
Anonymous, 2010 http://www.dna-ku.info/2009/02/budidaya-bawang-putih.html Diakses 18 Mei 2010
Anonymous, 2010 http://www.warintekjogja.com/warintek/.../bawang%20jogja.pdf Diakses 18 Mei
2010