Anda di halaman 1dari 44

Perdarahan Per Vaginam

Seorang wanita usia 37 tahun G5P4A0 datang dengan keluhan perdarahan


dari vagina berwarna merah segar. Suami penderita menjelaskan bahwa penderita
sedang hamil 7 bulan. Perdarahan dialami secara terus menerus namun tidak disertai
dengan nyeri. Pada permeriksaan dalam dirasakan adanya jaringan pada mulut rahim
STEP 1 KLARIFIKASI ISTILAH
1. Gravida
2. Partus

: Merupakan istilah medis untuk wanita yang sedang hamil


: Suatu pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup melalui

vagina atau jalan lain ke dunia luar.


3. Abortus
: Terhentinya proses kehamilan sebelum mencapai umur 28
minggu atau berat janin < 500 gram.
4. Rahim/uterus : Alat reproduksi wanita yang melindungi dan mewadahi janin
selama kehamilan

STEP 2 IDENTIFIKASI MASALAH


1.
2.
3.
4.

Apakah ada hubungan ibu usia lanjut dengan kasus ini?


Penyebab perdarahan pada kehamilan usia lanjut?
Apa saja derajat pada plasenta previa ?
Kemungkinan jaringan apa yg terdapat pada rahim pada saat pemeriksaan?
STEP 3 IDENTIFIKASI MASALAH
1. Hubungan usia ibu dengan kasus
Pada usia >35 tahun terjadi sklerosis pembuluh darah arteri kecil
dan arteriole miometrium di bagian fundus uteri, yang menyebabkan aliran
darah ke endometrium tidak merata sehingga plasenta tumbuh mencari
tempat yang banyak aliran darah, yaitu di segmen bawah rahim untuk
mendapatkan aliran darah yang adekuat, yang akhirnya dapat menyebabkan
plasenta previa. (1)

2. Penyebab tersering perdarahan pada usia kehamilan lanjut yaitu > 20


minggu antara lain adalah plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa dan
ruptur uteri.(2)(3)

PLASENTA PREVIA

DEFINISI

Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.
Pada plasenta previa, jaringan plasenta tidak tertanam dalam korpus uteri jauh dari
ostium internum servisis, tetapi terletak sangat dekat atau pada ostium internum
tersebut.
KLASIFIKASI
Plasenta previa digolongkan menurut hubungan plasenta terhadap pembukaan
serviks bagian dalam. Ada empat derajat abnormalitas yang diketahui :

Plasenta previa totalis. Ostium internum servisis tertutup sama sekali oleh
jaringan plasenta.

Plasenta previa parsialis. Ostium internum tertutup sebagian oleh jaringan


plasenta.

Plasenta previa marginalis. Tepi plasenta terletak pada bagian pinggir ostium
internum.

Plasenta letak rendah. Plasenta tertanam dalam segmen bawah uterus,


sehingga tepi plasenta sebenarnya tidak mencapai ostium internum tetapi
terletak sangat berdekatan dengan ostium tersebut.

Derajat plasenta previa akan tergantung pada luasnya ukuran dilatasi serviks saat
dilakukan pemeriksaan, karena klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan
anatomik melainkan fisiologik, maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Baik
pada jenis total maupun parsial pelepasan spontan plasenta dengan derajat tertentu
merupakan konsekuensi yang tak dapat dielakan dari pembentukan segmen bawah
uterus dan dilatasi serviks. Pelepasan plasenta akan disertai dengan perdarahan akibat
pembuluh darah yang lepas.(2)
SOLUTIO PLASENTA
DEFINISI
Solutio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada
korpus uteri sebelum janin lahir. Biasanya terjadi dalam triwulan ketiga. Istilah
separasi prematur plasenta dengan implantasi normal, merupakan istilah yang paling
deskriptif namun, istilah yang begitu panjang sangat menyulitkan pemakaiannya,
sehingga dipakai istilah yang lebih pendek seperti solutio plasenta.
KLASIFIKASI
Secara klinis solutio plasenta dibagi dalam :
1. Solutio plasenta ringan
2. Solutio plasenta sedang
3. Solutio plaenta berat
Klasifikasi ini dibuat berdasarkan tanda tanda klinisnya, sesuai dengan derajat
terlepasnya plasenta.(3)
VASA PREVIA

Vasa praevia adalah komplikasi obstetrik dimana pembuluh darah janin


melintasi atau berada di dekat ostium uteri internum (cervical os). Pembuluh darah
tersebut berada didalam selaput ketuban (tidak terlindung dengan talipusat atau
jaringan plasenta) sehingga akan pecah bila selaput ketuban pecah.(3)
RUPTUR UTERI
Ruptur uteri yaitu robeknya dinding uterus pada saat kehamilan/persalinan atau
robeknya perinium visceral.
Ada 3 pembagian:
a. Ruptur uteri spontanea, terjadi secara spontan
b. Ruptur uteri violenta, terjadi karena trauma
c. Ruptur uteri yang terjadi pada bekas irisan SC
3. Derajat Plasenta Previa
Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 4 derajat. Derajat I: Plasenta terletak
pada bagian bawah rahim namun tidak mencapai jalan lahir. Derajat II: plasenta
mencapai tepi jalan lahir namun tidak menutupi jalan lahir. Derajat III: plasenta
menutupi sebagian jalan lahir. Derajat IV: plasenta menutupi keseluruhan jalan
lahir
4. Kemungkinan yang ditemukan pada pemeriksaan
Plasenta adalah organ yang tumbuh di dalam rahim selama kehamilan dan
menghubungkan jalur pasokan darah dari ibu dan bayi, disebut juga uri atau ariari. Jika didapatkan plasenta saat pemeriksaan dalam, diindikasikan adanya
plasenta previa.
Polip merupakan suatu adenoma maupun adeno fibroma yang berasal dari
selaput lendir endoserviks. Polip serviks tumbuh dari kanal serviks dengan
pertumbuhan ke arah vagina. Tangkainya dapat panjang hingga keluar dari vulva.
Terdapat berbagai ukuran dan biasanya berbentuk gelembung-gelembung dengan
tangkai yang kecil.(3)

STEP 4 SKEMA

Seorang wanita

Perdarahan
Hamil 7 bulan

Dirasakan adanya jaringan di mulut rahim


Penegakkan Diagnosis
Perdarahan pervaginam

Anatomi

Penatalaksanaan

Etiologi

Fisiologi
Patofisiologi
STEP 5
1. Anatomi
2. Fisiologi kehamilan
3. Etiologi & Patofisiologi dari:
a. Placenta previa
b. Vasa previa
c. Solutio placenta
d. Ruptura Uteri
4. Penegakkan Diagnosis
5. Penatalaksanaan
6. Komplikasi

Edukasi

komplikasi

STEP 6 BELAJAR MANDIRI


STEP 7 PEMBAHASAN
1. Anatomi
A. Trimester I
a.

Vagina dan vulva


Sampai minggu ke-8 terjadi hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan
vulva tampak lebih merah, agak kebiruan(livide) tanda ini disebut tanda
Chadwick. Warna portio pun tampak livide. Keasaman vulva dan vagina berubah
dari 4 menjadi 6,5. Peningkatan PH ini membuat wanita hamil menjadi lebih
rentan terhadap infeksi vagina, khususnya jamur Leukhore adalah rabas mukoid

b.

berwarna agak keabuan dan berbau tidak enak.


Serviks uteri
Pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormone estrogen.
Akibat kadar estrogen meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi serta
meningkatnya suplay darah, maka konsistensi serviks menjadi lunak yang
disebut tanda Goodell. Selama minggu-minggu awal kehamilan, peningkatan
aliran

darah

uterus

dan

limfe

mengakibatkan

oedema

dan

kongesti

panggul.Akibatnya uterus, serviks dan ithmus melunak secara progresif dan


serviks menjadi kebiruan (tanda Chadwick), tanda kemungkinan hamil).(4)
c. Uterus
Membesar pada bulan bulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan
progesterone. Pembesaran disebabkan adanya (1) peningkatan vaskularisasi dan
dilatasi pembuluh darah (2) hyperplasia (produksi serabut otot dan jaringan
fibroelastis baru) dan hipertropi ( pembesaran serabut otot dan jaringan
fibroelastis yang sudah ada ) dan (3) perkembangan desidua. Selain bertambah
besar, uterus juga mengalami perubahan berat, bentuk, dan posisi.Dinding2 otot
menjadi kuat dan elastis, fundus pada serviks mudah fleksi disebut tanda Mc
Donald.Pada kehamilan 8 minggu uterus membesar sebesar telur bebek dan pada
kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur angsa.Hipertropi ithmus pada
triwulan pertama membuat ithmus menjadi panjang dan lebih lunak yang disebut
tanda Hegar.(4)

d.

Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatum,
korpus luteum graviditatis berdiameter kira-kira 3 cm, kemudian dia mengecil
setelah plasenta terbentuk.Korpus luteum ini mengeluarkan hormone estrogen

dan progesterone.(4)
e. Payudara/mamae
Mamae akan membesar dan tegang akibat hormone somatomamotropin,
estrogen dan progesterone akan tetapi belum mengeluarkan ASI. Pengaruh
progesterone dan somatomamotropin terbentuk lemak disekitar alveoluaalveolus, sehingga mammae menjadi lebih besar.Papilla mammae membesar
lebih tegang dan tambah lebih hitam, seperti seluruh areola mammae karena
hiperpigmentasi.Hipertropi kelenjar sebasea (lemak) yang muncul di areola
primer dan disebut tuberkel Montgomery.Perubahan payudara ini adalah
kemugkinan hamil. .(4)

2.

System endokrin
Tes HCG positif dan kadar HCG meningkat cepat menjadi 2 kali lipat
setiap 48 jam sampai kehamilan 6 minggu. Perubahan-perubahan hormonal
selama kehamilan terutama akibat produksi estrogen dan progesterone plasenta
dan juga hormon-hormon yang dikeluarkan oleh janin. .(4)

3.

Sistem kekebalan
Peningkatan PH sekresi vagina wanita hamil membuat wanita tersebut
lebih rentan terhadap infeksi vagina.sistem pertahanan tubuh ibu selama
kehamilan akan tetap utuh, kadar immunoglobulin dalam kehamilan tidak
berubah. .(4)

4.

Sistem perkemihan
Pada bulan-bulan pertama kehamialn kandung kencing tertekan sehingga
sering timbul kencing.Keadaan ini hilang denhgan tuanya kehamiulan bila uterus
gravidus keluar dari rongga panggul.Pada kehamilan normal, fungsi ginjal cukup
banyak berubah. Ginjal pada saat kehamilan sedikit bertambah besar, panjangnya

bertambah 1-1,5 cm, volume renal meningkat 60 ml dari 10 ml pada wanita yang
tidak hamil. .(4)
5.

Sistem pencernaan
Perubahan rasa tidak enak di ulu hati disebabkan karena perubahan posisi
lambung dan aliran asam ;lambung ke esophagus bagian bawah. Produksi asam
lambung menurun.Sering terjadi nausea dan muntah karena pengaruh HCG,
tonus otot-otot traktus digestivus juga berkurang.Saliva atau pengeluaran air liur
berlebihan dari biasa. Pada beberapa wanita ditemukan adanya (ngidam
makanan)yang mungkin berkaitan dengan persepsi individu wanita tersebut
mengenai apa yang bisa mengurangi rasa mual. .(4)

6.

Sistem kardiovaskuler
Selama kehamilan dan masa nifas terjadi perubahan-perubahan luar biasa
pada jantung dan sirkulasi perubahan terpenting pada fungsi jantung terjadi pada
delapan minggu pertama kehamilan.Curah jantung meningkat sedini minggu
kelima kehamilan dan peningkatan awal ini merupakan fungsi dari penurunan
resistensi vascular sistemik serta peningkatan frekuensi denyut jantung.Antara
minggu ke 10 sampai 20, peningkatan nyata pada volume plasma terjadi
sedemikian sehingga meningkatkan preload.Kinerja ventrikel selama masa
kehamilan dipengaruhi oleh penurunan resistensi vascular sistemik dan
perubahan aliran darah arteri pulsatil.Kapasitas vascular meningkat, sebagian
disebabkan oleh peningkatan komplians vascular. .(4)

7.

Sistem musculoskeletal
Pada trimester pertama tidak banyak perubahan pada musuloskeletal.
Akibat peningkatan kadar hormone estrogen dan progesterone, terjadi relaksasi
dari jaringan ikat, kartilago dan ligament juga meningkatkan jumlah cairan
synovial. Bersamaan dua keadaan tersebut meningkatkan fleksibilitas dan
mobilitas persendian. Keseimbangan kadar kalsium selama kehamilan biasanya
normal apabila asupan nutrisinya khususnya produk terpenuhi. Tulang dan gigi
biasanya tidak berubah pada kehamilan yang normal. .(4)

8.

Sistem integument

Pada bulan-bulan terakhir kehamilan, umumnya muncul garis-garis


kemerahan yang sedikit mencekung pada kulit abdomen dan kadangkala pada
kulit payudara dan paha pada sekitar separuh semua wanita hamil.Pada wanita
multipara, selain striae kemerahan dari kehamilan yang sekarang, sering terlihat
garis-garis keperakan mengkilat yang menunjukkan sikatriks striaekehamilan
sebelumnya.
Pada banyak wanita, garis tengah kulit abdomen menjadi sangat
terpigmentasi, berwarna hitam kecoklatan membentuk linea nigra.Kadangkala
bercak-bercak kecoklatan irregular dengan berbagai ukuran terlihat di wajah dan
leher sehingga membentuk kloasma atau melasma gravidarum (topeng
kehamilan).
Angioma, yang juga disebut spider naevi, timbul pada sekitar dua per tiga
wanita kulit putih dan kira-kira 10 % wanita Amerika keturunan Afrika selama
kehamilan.Angioma ini berupa bintik-bintik penonjolan kecil dan merah pada
kulit, terutama sering terdapat pada wajah, leher, dada atas dan lengan, dengan
jari-jari yang bercabang keluar dari badan sentralnya.Kondisi ini sering disebut
sebagai nevus, angioma atau telangiektasis.Eritema palmaris juga ditemukan
pada kehamilan pada sekitar dua per tiga wanita kulit putih dan sepertiga wanita
kulit hitam.Kedua kondisi ini sering terjadi bersamaan tetapi tanpa makna klinis,
dan menghilang pada sebagian besar wanita segera setelah terminasi
kehamilan.Keduanya kemungkinan besar merupakan akibat hiperestrogenemia
kehamilan. .(4)
9.

Sistem metabolisme
Pada wanita hamil basal metabolic rate (BMR) meninggi.BMR
meningkat sehingga 15-20% yang umumnya terjadi pada triwulan terakhir.Kalori
yang dibutuhkan untuk itu diperoleh terutama dari pembakaran hidrat arang,
khususnya sesudah kehamilan 20 mingghu ke atas.Akan tetapi bila dibutuhkan
dipakailah lemak ibu untuk mendapatkan kalori dalam pekerjaan seharihari.Dalam keadaan biasa wanita cukup hemat dalam pemakaian tenaga. .(4)

10. Sistem Pernapasan

Adaptasi ventilasi dan structural selama masa hamil bertujuan


menyediakan kebutuhan ibu dan janin.Kebutuhan oksigen ibu meningkat sebagai
respon terhadap percepatan laju metabolic dan peningkatan kebutuhan oksigen
jaringan uterus dan payudara. Janin membutuhkan oksigen dan suatu cara untuk
memebuang karbondioksida.
Peningkatan kadar estrogen menyebabkan ligamentumpada kerangka iga
berelaksasi sehingga ekspansi rongga dada meningkat.
11. Sistem persyarafan
Wanita hamil sering melaporkan adanya masalah pemusatan perhatian,
konsentrasi dan memori selama kehamilan dan masa nifas awal.Namun,
penelitian yang sistematis tentang memori pada kehamila tidak terbatas dan
seringkali bersifat anekdot.Keenan dkk. (1998) secara longitudinal meneliti
tentang memori pada wanita hamil dengan kelompok control yang setara. Mereka
menemukan adanya penurunan memori terkait kehamilan yang terbatas pada
trimester ketiga. Penurunan ini disebabkan oleh depresi, kecemasan, kurang tidur
atau perubahan fisik lain yang dikaitkan dengan kehamilan. Penurunan memori
yang diketahui hanyalah sementara dan cepat pulih setelah kelahiran.
Mulai sedini sejak usia gestasi 12 minggu, dan terus berlanjut hingga 2
bulan pertama pascapartum, wanita mengalami kesulitan untul mulai tidur, sering
terbangun, jam tidur malam yang lebih sedikit serta efisiensi tidur yang
berkurang. Ganguan tidur terbesar terjadi pascapartum dan dapat menimbulkan
kemurungan pascapartum (postpartum blues) dan/atau depresi. .(4)
12. Kenaikan berat badan
Pertambahan berat badan selama kehamilan sebagian besar diakibatkan
oleh uterus dan isinya payudara, dan peningkatan volume darah serta cairan
ekstraseluler ekstravaskular.Sebagian kecil pertambahan berat badan terebut
diakibatkan oleh perubahan metabolic yang menyebabkan pertambahan air
selular dan penumpukan lemak dan protein baru, yang disebut cadangan ibu.
Kenaikan berat badan trimester I lebih kurang 1 kg.Kenaikan berat badan ini
hampir seluruhnya merupakan kenaikan berat badan ibu.

Berat badan dilihat dari Quatelet atau body mass index (Indek Masa
Tubuh = IMT). Ibu hamil dengan berat badan dibawah normal sering
dihubungkan

dengan

abnormalitas

kehamilan,

berat

badan

lahir

rendah.Sedangkan berat badan overweight meningkatkan resiko atau komplikasi


dalam kehamilan seperti hipertensi, janin besar sehingga terjadi kesulitan dalam
persalinan.Penilaian Indeks Massa Tubuh diperoleh dengan memperhitungkan
berat badan sebelum hamil dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter
kuadrad. Indikator penilaian untuk IMT adalah sebagai berikut :

B.

Nilai IMT
Kurang

Kategori
Underweight/ Dibawah normal

dari 20
20-24,9
25-29,9

Desirable/ Normal
Moderate obesity/ Gemuk/ Lebih dari

Over 30
Trimester II
a.

normal
Severe obesity/ Sangat gemuk

Vulva dan vagina


Karena hormon estrogen dan progesteron terus meningkat dan terjadi
hipervaskularisasi mengakibatkan pembuluh-pembuluh darah alat genetalia
membesar.Peningkatan sensivitas dapat meningkatkan keinginan dan bangkitan
seksual, khususnya selama trimester kedua kehamilan.Peningkatan kongesti
ditambah relaksasi dinding pembuluh darah dan uterus yang berat dapat
menyebabkan timbulnya edema dan varises vulva.Edema dan varises biasanya

b.

membaik selama periode pasca partum.


Serviks uteri
Konsistensi serviks menjadi lunak dan kelenjar-kelenjar di serviks akan

c.

berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak.


Uterus
Pada kehamilan 16 minggu cavum uteri diisi oleh ruang amnion yang
terisi janin dan ithmus menjadi bagian korpus uteri.Bentuk uterus menjadi bulat
dan berangsur-angsur berbentuk lonjong seperti telur, ukurannya kira- kira
sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa.Pada saat ini uterus mulai memasuki
rongga peritoneum.

a) 16 minggu : fundus uteri kira-kira terletak diantara jarak pusat ke symphisis.


b) 20 minggu : fundus uteri kira-kira terletak dipinggir bawah pusat.
c) 24 minggu : fundus uteri berada tepat dipinggir atas pusat. Segera setelah bulan
keempat kehamilan, kontraksi uterus dapat dirasakan melalui dinding
abdomen.Kontraksi ini disebut tanda Braxton hicks.Kontraksi Braxton hicks
adalah kontraksi tidak teratur yang tidak menimbulkan nyeri, yang timbul secara
intermiten sepanjang setiap siklus menstruasi.
d.

Ovarium
Pada usiakehamilan 16 minggu, plasenta mulai terbentuk dan

menggantikan fungsi korpus luteum graviditatum.


e. Payudara / mammae
Pada kehamilan 12 minggu keatas dari puting susu dapat keluar cairan
berwarna putih agak jernih disebut Colustrom. Colustrom ini berasal dari asinus
yang mulai bersekresi.selama trimester kedua , pertubuhan kelenjar mammae
membuat ukuran payudara meningkat secara progresif. Walaupun perkembangan
kelenjar mammae secara fungsional lengkap pada pertengahan masa hamil, tetapi
laktasi terlambat sampai kadar estrogen menurun, yakni setelah janin dan
plasenta lahir.
2.

System endokrin
Perubahan besar pada system endokrin yang penting terjadi untuk
mempertahankan kehamilan, pertumbuhan normal janin, dan pemulihan pasca
partum (nifas).perubahan-perubahan hormonal selama kehamilan dari trimester I
sampai III
a. Estrogen
Produksi estrogen plasenta terus naik selama kehamilan dan pada akhir
b.

kehamilan kadarnya kira-kira 100 kali sebelum hamil.


Progesterone
Produksi progesterone bahkan lebih banyak dibanding estrogen.Pada akhir
kehamilan produksinya kira-kira 250 mg/hari.Progesterone menyebabkan
lemak disimpan dalam jaringan subkutan di abdomen, punggung dan paha
atas.Lemak berfungsi sebagai cadangan energy baik pada masa hamil
maupun menyusui.

c. HCG (Human Chorionic Gonadotropin


Hormone ini dapat terdeteksi beberapa hari setelah pembuahan dan
merupakan dasar tes kehamilan.Puncak sekresinya terjadi kurang lebih 60
hari setelah konsepsi.Fungsi utamanya adalah mempertahankan korpus
d.

luteum.
HPL (Human Placental Lactogen)
Hormone ini diproduksinya terus naik dan pada saat aterm mencapai 2
gram /hari.Efeknya mirip dengan hormone pertumbuhan.yang juga bersifat

diabetogenik, sehingga kebutuhan insulin wanita hamil naik.


e. Pituitary Gonadotropin
FSH, LH berada dalam keadaan sangat rendah selama kehamilan, karena
f.

ditekan oleh estrogen dan progesterone plasenta.


Prolaktin
Produksinya terus meningkat, sebagai akibat kenaikan sekresi estrogen.

Sekresi air susu sendiri dihambat oleh estrogen ditingkat target organ.
Growth hormone (STH)
Produksinya sangat rendah karena mungkin ditekan oleh HPL.
h. TSH, ACTH, dan MSH
Hormone-hormon ini tidak dapat dipengaruhi oleh kehamilan.
i. Titoksin
Kelenjar tyroid mengalami hipertropi memproduksi T4 meningkat.Tetapi T4
g.

bebas relative tetap, karena tyroid thyroid binding globulin meninggi, akibat
tingginya estrogen, dan juga merupakan akibat hyperplasia jaringan
glandural dan peningkatan vaskularisasi.Tyroksin mengatur metabolisme.
j. Aldosteron, Renin,dan Angiostensin
Hormone ini naik, yang menyebabkan naiknya volume intrvaskuler.
k.

Insulin
Produksi insulin meningkat sebagai akibat estrogen, dan HPL.
l.
Parathormon
Hormone ini relative tidak dipengaruhi oleh kehamilan.
3.

Sistem traktus urinarius


Kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar mulai
berkurang, karena uterus sudah mulai keluar dari uterus.Pada trimester kedua,
kandung kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul sejati kearah abdomen.
Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser kearah

atas.kongesti panggul pada masa hamil ditunjukkan oleh hiperemia kandung


kemih dan uretra. Peningkatan vaskularisasi ini membuat mukosa kandung
kemih menjadi mudah luka dan berdarah.Tonus kandung kemih dapat menurun.
Hal ini memungkinkan histensi kandung kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada
saat yang sama, pembesaran uterus menekan kandung kemih, menimbulkan rasa
ingin berkemih walaupun kandung kemih hanya berisi sedikit urine.
4.

Sistem muskuloskeletal
Selama trimester kedua mobilitas persendian akan berkurang terutama
pada daerah siku dan pergelangan tangan dengan meningkatnya retensi cairan
pada jaringan konektif atau jaringan yang berhubungan disekitarnya.

5.

Sistem integument
Akibat peningkatan kadar hormon esterogen dan progesterone, kadar
MSH pun meningkat

6.

Sistem endokrin
Adanya

peningkatan

hormon

estrogen

dan

progesteron

serta

terhambatnya pembentukan FSH dan LH


7.

Kenaikan berat badan


Kenaikan berat badan 0,4 0,5 kg perminggu selama sisa kehamilan

C. Trimester III
1.

Sistem Reproduksi

a.

Uterus
Pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram (berat
uterus normal 30 gram) dengan panjang 20 cm dan dinding 2,5 cm.
Posisi rahim dalam kehamilan memasuki rongga perut yang dalam
pembesarannya dapat mencapai batas hati
Pada kehamilan 32 minggu, fundus uteri terletak antara jarak pusat
dan prossesus xipoideus. Pada kehamilan 36 minggu, fundus uteri terletak kirakira 1 jari dibawah prossesus xipoideus, Pada kehamilan 40 minggu, fundus uteri
turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari dibawah prossesus xipoideus. Hal ini

disebabkan oleh kepala janin yang pada primigravida turun dan masuk kedalam
rongga panggul.
Pada trimester III, istmus uteri lebih nyata menjadi corpus uteri dan
berkembang menjadi segmen bawah uterus atau segmen bawah rahim (SBR).
Pada kehamilan tua, kontraksi otot-otot bagian atas uterus menyebabkan SBR
menjadi lebih lebar dan tipis (tampak batas yang nyata antara bagian atas yang
lebih tebal dan segmen bawah yang lebih tipis). Batas ini dikenal sebagai
lingkaran retraksi fisiologik. Dinding uterus diatas lingkaran ini jauh lebih tebal
daripada SBR.
b.

Payudara
Pembentukan lobules dan alveoli mulai memproduksi dan mensekresi
cairan yang kental kekuningan Kolostrum. Pada TM III aliran darah
didlmnya lambat & payudara mjd besar lagi.

c.

Serviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon
estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya
hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak. Perubahanperubahan pada serviks perlu diketahui sedini mungkin pada kehamilan.
Kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan
sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil mengeluh
mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak. Pada keadaan ini sampai batas
tertentu masih merupakan keadaan fisiologik, karena peningakatan hormon
progesteron. Selain itu prostaglandin bekerja pada serabut kolagen, terutama
pada minggu-minggu akhir kehamilan. Serviks menjadi lunak dan lebih mudah
berdilatasi pada waktu persalinan.

d. Vagina dan vulva


Vagina dan vulva akibat hormon estrogen juga mengalami perubahan.
Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vula tampak lebih merah
dan agak kebiru-biruan (livide). Warna porsio tampak livide. Pembuluhpembuluh darah alat genetalia interna akan membesar. Hal ini dapat dimengerti

karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia tersebut menigkat. Apabila
terjadi kecelakaan pada kehamilan/persalinan maka perdarahan akan banyak
sekali, sampai dapat mengakibatkan kematian. Pada bulan terakhir kehamilan,
cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental.
e.

Mammae
Pada kehamilan 12 minggu keatas, dari puting susu dapat keluar cairan
berwarna putih agak jernih disebut kolostrum. Kolostrum ini berasal dari
kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi.

2.

Sirkulasi darah
Volume darah akan bertambah banyak 25% pada puncak usia
kehamilan 32 minggu. Meskipun ada peningkatan dalam volume eritrosit secara
keseluruhan, tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar sehingga
konsentrasi hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah. Walaupun kadar
hemoglobin ini menurun menjadi 120 g/L. Pada minggu ke-32, wanita hamil
mempunyai hemoglobin total lebih besar daripada wanita tersebut ketika tidak
hamil. Bersamaan itu, jumlah sel darah putih meningkat ( 10.500/ml), demikian
juga hitung trombositnya.
Untuk mengatasi pertambahan volume darah, curah jantung akan
meningkat 30% pada minggu ke-30. Kebanyakan peningkatan curah jantung
tersebut disebabkan oleh meningkatnya isi sekuncup, akan tetapi frekuensi
denyut jantung meningkat 15%. Setelah kehamilan lebih dari 30 minggu,
terdapat kecenderungan peningkatan tekanan darah.
Sama halnya dengan pembuluh darah yang lain, vena tungkai juga
mengalami distensi. Vena tungkai terutama terpengaruhi pada kehamilan lanjut
karena terjadi obstruksi aliran balik vena (venous return) akibat tingginya
tekanan darah vena yang kembali dari utrerus dan akibat tekanan mekanik dari
uterus pada vena kava. Keadaan ini menyebabkan varises pada vena tungkai (dan
kadang-kadang pada vena vulva) pada wanita yang rentan.

Aliran darah melalui kapiler kulit dan membran mukosa meningkat


hingga mencapai maksimum 500 ml/menit pada minggu ke-36. Peningkatan
aliran darah pada kulit disebabkanoleh vasodilatasi ferifer. Hal ini menerangkan
mengapa wanita merasa panas mudah berkeringat, sering berkeringat banyak
dan mengeluh kongesti hidung.
3.

Sistem Respirasi
Pernafasan masih diafragmatik selama kehamilan, tetapi karena
pergerakan diafragma terbatas setelah minggu ke-30, wanita hamil bernafas lebih
dalam, dengan meningkatkan volume tidal dan kecepatan ventilasi, sehingga
memungkinkan pencampuran gas meningkat dan konsumsi oksigen meningkat
20%. Diperkirakan efek ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi progesteron.
Keadaan tersebut dapat menyebabkan pernafasan berlebih

4.

Traktus Digestifus
Di mulut, gusi menjadi lunak, mungkin terjadi karena retensi cairan
intraseluler yang disebabkan oleh progesteron.
Spinkter esopagus bawah relaksasi, sehingga dapat terjadi regorgitasi isi
lmbung yang menyebabkan rasa terbakar di dada (heathburn). Sekresi isi
lambung berkurang dan makanan lebih lama berada di lambung. Otot-otot usus
relaks dengan disertai penurunan motilitas. Hal ini memungkinkan absorbsi zat
nutrisi lebih banyak, tetapi dapat menyebabkan konstipasi, yang memana
merupakan salah satu keluhan utamawanita hamil.

5. Traktus Urinarius
Pada akhir kehamilan, kepala janin mulai tuun ke PAP, keluhan sering
kencing dan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali.
Disamping itu, terdapat pula poliuri. Poliuri disebabkan oleh adanya peningkatan
sirkulasi darah di ginjal pada kehamilan sehingga laju filtrasi glomerulus juga
meningkat sampai 69%. Reabsorbsi tubulus tidak berubah, sehingga produkproduk eksresi seperti urea, uric acid, glukosa, asam amino, asam folik lebih
banyak yang dikeluarkan.
6.

Sistem Imun

HCG dapat menurunkan respon imun wanita hamil. Selain itu kadar Ig G,
Ig A dan Ig M serum menurun mulai dari minggu ke-10 kehamilan hingga
mencapai kadar terendah pada minggu ke-30 dan tetap berada pada kadar ini,
hingga aterm.
7.

Metabolisme Dalam Kehamilan


Pada trimester III Kalori yang dibutuhkan meningkat hingga 15-20%
untuk itu diperoleh terutama dari pembakaran karbohidrat, khususnya sesudah
kehamilan 20 minggu ke atas. Akan tetapi bila dibutuhkan, dipakailah lemak ibu
untuk mendapatkan tambahan kalori dalam pekerjaan sehari-hari. Dalam keadaan
biasa wanita hamil cukup hemat dalam hal pemakaian tenaganya.
Janin membutuhkan 30-40 gr kalsium untuk pembentukan tulangtulangnya dan hal ini terjadi terutama dalam trimester terakhir. Makanan tiap
harinya diperkirakan telah mengandung 1,5-2,5 gr kalsium. Diperkirakan 0,2-0,7
gr kalsium tertahan dalam badan untuk keperluan semasa hamil. Ini kiranya telah
cukup untuk pertumbuhan janin tanpa mengganggu kalsium ibu.
Segera setelah haid terlambat, kadar enzim Pinosinase .Pinosinase adalah
enzim yang dapat membuat oksitosin tidak aktif. Pinositase ditemukan banyak
sekali di dalam darah ibu pada kehamilan 14-38 minggu.
Berat badan wanita hamil akan naik kira-kira diantara 6,5-16,5 kg ratarata 12,5 kg. Kenaikan berat badan ini terjadi terutama dalam kehamilan 20
minggu terakhir. Kenaikan berat badan dalam kehamilan disebabkan oleh hasil
konsepsi, fetus placenta dan liquor.(5)

2. Fisiologi Kehamilan
Tahap-tahap Embriogenesis
1. Fertilisasi
Fertilisasi adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita, yang terjadi di daerah
ampulla tuba fallopii. Spermatozoa bergerak dengan cepat dari vagina ke rahim dan
selanjutnya masuk kedalam saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh

kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Sebelum spermatozoa dapat membuahi oosit,
mereka harus mengalami proses kapasitasi dan reaksi akrosom.
Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita,
yang pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu ini, suatu selubung
dari glikoprotein dari protein-protein plasma segmen dibuang dari selaput plasma,
yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang menjalani
kapasitasi yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom.
Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona pelusida dan diinduksi oleh
protein-protein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan enzim-enzim
yang diperlukan untuk menembus zona pelusida, antara lain akrosin dan zat-zat
serupa tripsin . Fase fertilisasi mencakup fase 3 fase:
1) Penembusan korona radiata.
Spermatozoa-spermatozoa yang mengalami kapasitasi tidak akan sulit untuk
menembusnya.
2) Penembusan zona pelusida.
Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein yang mempertahankan pengikatan
sperma dan menginduksi reaksi kromosom. Hanya 1 spermatozoa diantara 200-300
juta spermatozoa
yang ada di saluran kelamin yang berhasil menembus zona pelusida. Saat
spermatozoa masuk ke dalam membrane oosit, spermatozoa lain tidak akan bisa
masuk lagi karena aktifasi dari enzim oosit sendiri
3) Fusi oosit dan membr an plasma.
Spermatozoa bergerak masuk ke membrane oosit dan mencapai inti oosit. Perlu
diketahui bahwa spermatozoa dan oosit masing-masing memiliki 23 kromosom
(haploid), selama masa penyatuan masing-masing pronukleus melakuka n sintesis
DNA. Segera setelah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk
melakukan pembelahan secara mitosis yang normal. Dua puluh tiga kromosom dari
ibu dan dua puluh tiga kromosom dari ayah membelah sepanjang sentromer, dan kr o
matid-kromatid yang berpasangan tersebut saling bergerak ke kutub yang

berlawanan, sehingga menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai jumlah


kromosom yang normal. (6)

2. Pembelahan
Kira-kira 24 jam setelah fertilisasi, oosit yang telah dibuahi mulai pembelahan
pertamanya. Setelah zigot mencapai tingkat dua sel, ia menjalani serangkaian
pembelahan mitosis yang mengakibatkan bertambahnya jumlah sel dengan cepat. Sel
ini dikenal sebagai blastomer yang akan berbentuk seperti gumpalan yang padat.
Kira-kira setelah 3 hari setelah pembuahan, sel-sel embrio yang termampatkan
tersebut, membelah lagi membentuk morula. Morula adalah, kumpulan dari 16-30 sel
blastomere. Karena sel-sel ini muncul dari pembelahan (cleavage) dari zigot dan
semua terdapat pada zona pelusida yang tidak bisa membesar, jadi pertumbuhannya
tidak banyak terlihat. Setiap sel yang baru besarnya sama dengan sel awal dan nama
morula berarti mulberry, karena mirip seperti kumpulan sel-sel setengah bulat. Sel-sel
bagian dari morula merupakan massa sel dalam, sedangkan sel-sel di sekitar
membentuk massa sel luar. Massa sel dalam akan membentuk jaringan-jaringan
embrio yang sebenarnya, sementara massa sel luar akan membentuk trofoblastt, yang
kemudian ikut membentuk plasent. (6)

Gambar 1. Perkembangan sel menjadi morula


3. Pembentukan blastokista,embrioblast, dan rongga amnion.
Pada hari ke-4 setelah insemina si, sel terluar dari morula yang masih diselubungi
dengan zona pelucida mulai berkumpul membentuk suatu pemadatan. Sebuah rongga
terbentuk pada di interior blastokista dan Kira-kira pada waktu morula memasuki
rongga rahim, cairan mulai menembus zona pelusida masuk ke dalam ruang antar sel

yang ada di massa sel dalam (inner cell mass). Sel-sel embrio berkembang dari inner
cell mass yang sekarang disebut embrioblastt. Sedangkan sel-sel di massa sel luar
atau trofoblast, menipis dan membentuk dinding epitel untuk blastokista. Zona
pelusida kini sekarang sudah menghilang, sehingga implantasi bisa dimulai.

Gambar 2. Struktur morula


Pada akhir hari ke-5 embrio melepaskan diri dari zona pelusida yang
membungkusnya. Melalui serangkaian siklus pengembangan kontraksi embrio
menembus selimut pelusida. Hal ini didukung oleh enzim yang dapat melarutkan
zona pelusida pada kutub embrionik. Pelepasan embrio ini dinamakan hatching.

Gambar 3. Perjalanan embrio sampai ke rahim

Pada perkembangan hari ke-8, blastokista sebagian terbenam di dalam stroma


endo metrium.Pada daerah di atas embrioblast, trofoblast berdiferensiasi menjadi 2
lapisan: (a) sitotrofoblast ,(b) sinsitiotrofoblast. Trofoblast mempunyai
kemampuan untuk menghancurkan dan mencairkan jaringan permukaan endometrium
dalam masa sekresi, yaitu sel-sel decidua. Sel-sel dari embrioblast juga
berdiferensiasi menjadi dua lapisan, yaitu lapisan hipoblast dan epiblast. Sel-sel dari
masing-masing lapisan mudigah membentuk sebuah cakram datar dan keduanya
dikenal sebagai cakram mudigah bilaminer. Pada saat yang sama terdapat rongga
kecil muncul di dalam epiblast, dan rongga ini membesar menjadi rongga amnion .
Pada hari ke-9, blastokista semakin terbenam di dalam endometrium, dan luka
berkas penembusan pada permukaan epitel ditutup dengan fibrin, pada masa ini
terlihat proses lakunaris, dimana vakuola-vakuola apa sinsitium trofoblast menyatu
membentuk lakuna-lakuna yang besar. Sementara pada kutub anembrional, sel-sel
gepeng bersama dengan hipoblast membentuk lapisan eksoselom (kantung kuning
telur primitif).
Pada hari ke-11 dan 12, blastokista telah tertanam sepenuhnya di dalam
stroma endometrium. Trofoblast yang ditandai dengan lacuna dan sinsitium akan
membentuk sebuah jalinan yang saling berhubungan, Sel-sel
sinsitiotrofoblast menembus lebih dalam ke stroma dan merusak lapisan endotel
pembuluh-pembuluh kapiler ibu. Pembuluh-pembuluh rambut ini tersumbat dan
melebar dan dikenal sebagai sinusoid. Lakuna sinsitium kemudian berhubungan
dengan sinusoid, dan darah ibu mulai mengalir melalui system trofoblast, sehingga
terjadilah sirku lasi ut ero-plasenta.
Semetara itu, sekelompok sel baru muncul di antara permukaan dalam
sitotrofoblast dan permukaan luar rongga eksoselom. Sel-sel ini berasal dari kantong
kuning telur dan akan membentuk suatu jaringan penyambung yang
disebut mesoderm ekstraembrional di mana pada akhirnya akan mengisi semua ruang
antara trofoblastt di sebelah luar dan amnion beserta selaput eksoselom di sebelah
dalam.

Segera setelah terbentuk rongga-ronga besar di dalam mesoderm ekstraembrional,


dan ketika rongga-rongga ini menyatu, terbentuklah sebuah rongga baru, yang
dikenal dengan nama rongga khorion. Rongga khorion ini terbentuk dari sel-sel
fibroblast mesodermal yang tumbuh disekitar embrio dan yang melapisi trofoblast
sebelah dalam. Rongga ini mengelilingi kantung kuning telur primitive dan rongga
amnion kecuali pada tempat cakram mudigah berhubungan dengan trofoblast melalui
tangkai penghubung. (6)
4. Cakram mudigah trilaminer
Cakram mudigah bilaminer sendiri berdiferensiasi menjadi embrio trilaminer,
terjadi pr oses epit helio-mesenchymal layer (gastrulasi pada vertebrata kelas bawah).
Gastrulasi dimulai dengan pembentukan primitive streak(garis primitive) pada
permukaan epiblast (Langman, 1994). Selama periode ini embrio mengalami
perubahan-perubahan yang cukup menonjol.
Sel-sel epiblast berpindah mengikut i garis primitive untuk membentuk mesoderm
dan entoderm int aembrional. Setelah tiba di daerah garis tersebut, sel-sel ini menjadi
bentuk seperti botol, memisahkan diri dari epiblast dan endoderm yang baru saja
terbentuk untuk membentuk mesoderm. Sel-sel yang tetap berada di epiblast
kemudian membentuk ectoderm. Dengan demikian epiblast, walaupun terjadi proses
gastrulasi, merupakan sumber dari semua lapisan germinal pada embrio (yaitu,
ektoderm, mesoderm, dan endoderm).
Sel-sel prenotokord yang bergerak masuk ke dalam lubang primitif, bergerak ke
depan hingga mencapai lempeng prekordal. Mereka menempatkan diri dalam
endoderm sebagai lempeng notokord. Pada perkembangan selanjutnya, lempeng ini
mengelupas dari endoderm, dan terbentuklah sebuah tali padat, notokord. Notokord
akan menentukan Sumbu tengah dari embrio yang akan menentukan situasi ke depan
mengenai dasar tulang belakang dan dapat menyebabkan diferensiasi dari ektoblast
untuk membetuk neural plate. Karena itu, pada akhir minggu ke-3, terbentuklah 3
lapisan Mudigah yang terdiri dari ectoderm, mesoderm, dan endoderm,dan
berdiferensiasi menjadi jaringan dan organ-organ. (6)

5. Masa embrionik
Menurut Langman (1994), Selama perkembangan minggu ke-3 sampai minggu
ke-8, suatu massa yang dikenal sebagai massa embrionik atau masa organogenesis,
masing-masing lapisan dari ketiga lapisan mudigah ini membentuk banyak jaringan
dan organ yang spesifik. Menjelang masa akhir embrionik ini, sistem-sistem organ
telah terbentuk. Karena pembentukan organ ini, bentuk mudigah banyak berubah dan
ciri-ciri utama bentuk tubuh bagian luar sudah dapat dikenali menjelang bulan kedua.
Masa mudigah berlangsung dari perkembangan minggu keempat hingga kedelapan
dan merupakan masa terbentuk jaringan dan sistem organ dari masing-masing lapisan
mudigah. Sebagai akibat pembentukan organ, ciri-ciri utama bentuk tubuh mulai
jelas.
Lapisan Mudigah ektoderm membentuk organ dan struktur-struktur yang
memelihara hubungan dengan dunia luar: (a) susunan saraf pusat; (b) sistem saraf
tepi; (c) epitel sensorik telinga, hidung dan mata; (d) kulit, termasuk rambut dan
kuku; dan (e) kelenjar hipofisis, kelenjar mammae, dan kelenjar keringat serta email
gigi.
Bagian yang paling penting dari lapisan mudigah mesoderm adalah mesoderm
para aksial, intermediat, dan lempeng lateral. Mesoderm para aksial membentuk
somitomer; yang membentuk mesenkim di kepala dan tersusun sebaga isomit-so mit
di segmen oks ipital dan kauda l. Somit membe ntuk miotom (jaringan otot),
skeletom (tulang rawan dan sejati), dan dermatom (jaringan subkutan kulit), yang
semuanya merupakan jaringan penunjang tubuh. Mesoderm juga membentuk sistem
pembuluh, yaitu jantung, pembuluh nadi, pembuluh getah bening, dan semua sel
darah dan sel getah bening. Disamping itu, ia membentuk sistem kemih-kelamin;
ginjal, gonad, dan saluran-salurannya (tetapi tidak termasuk kandung kemih).
Akhirnya limpa dan korteks adrenal juga merupakan turunan dari mesoderm.
Lapisan mudigah endoderm menghasilkan lapisan epitel saluran pencernaan, saluran
pernafasan, dan kandung kemih. Lapisan ini juga membentuk parenkim tiroid,

paratiroid, hati dan kelenjar pankreas. Akhirnya, lapisan epitel kavum timpani dan
tuba eustachius juga berasal dari endoderm.Sebagai akibat dari pembentukan sistemsistem organ dan pertumbuhan sistem-sistem organ dan pertumbuhan sistem saraf
pusat yang cepat, cakram mudigah yang mula-mula datar melipat kearah
sefalokaudal, sehingga terbentuklah lipatan kepala dan ekor. Cakram ini juga melipat
dengan arah lintang, sehingga terdapat bentuk tubuh yang bulat. Hubungan dengan
kantung kuning telur dan plasenta dipertahankan masing-masing melalui duktus
vitellinus dan tali pusat. (6)
Tanda-tanda Kehamilan
1. Tanda kehamilan tidak pasti
a. Amenorea (tidak dapat haid)
Gejala ini sangat penting karenaumumnya wanita hamil tidak dapat
haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat
ditentukan tuanya kehamilan dan bila persalinan diperkirakan akan terjadi.
b. Nausea (enek) dan emesis (muntah)
Nausea terjadi umumnya pada bulan-bulan pertama kehamilan,
disertai kadang-kadang oleh emesis. Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak
elalu. Keadaan ini lazim disebut morning sickness
c. Mengidam (ingin makanan khusus/tertentu)
Mengidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi
menghilang dengan makin tuanya kehamilan.
d. Pingsan
Sering dijumpai bila berada pada tempat-tempat ramai. Dianjurkan
untuk tidak pergi ke tempat-tempat ramai pada bulan- bulan pertama
kehamilan. Hilang sesudah kehamilan 16 minggu.
e. Anoreksia (Tidak ada selera makan)
ada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia, tetapi setelah itu nafsu
makan timbul lagi. Hendaknya dijaga jangan sampai salah pengertian makan
untuk dua orang, sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai dengan tuanya
kehamilan.
f. Sering kencing
Terjadi karena kandung kemih tertekan oleh rahim yang membesar.
Gejala ini akan hilang pada triwulan kedua kehamilan. Pada akhir kehamilan,
gejala ini kembali, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.

g. Obstipasi
Terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh
hormon steroid.
h. Pigmentasi kulit
Terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung dan dahi
kadang-kadang tampak deposit pigmen yang berlebihan, dikenal sebagai
chloasma gravidarum. Areola mammae juga menjadi lebih hitam karena
didapatkan deposit pigmen yang berlebih. Daerah leher menjadi lebih hitam.
Demikian pula linea alba di garis tengah abdomen menjadi lebih hitam ( linea
griea). Pigmentasi ini terjadi karena pengaruh dari hormon kortiko- steroid
plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.
i. Epulis
Adalah suatu hipertrofi papilla ginggivae, sering terjadi pada triwulan
pertama.
j. Varises.
Sering dijumpai padaa triwulan terakhir pada triwulan terakhir.
Didapat pada daerah genitalia eksterna, fosa poplitea, kaki dan betis. Pada
multigravida kadang-kadang varises ditemukan pada kehamilan terdahulu,
timbul kembali pada triwulan pertama. Kadang-kadang timbulnya varises
merupakan gejala pertama kehamilan muda.(4)
2. Tanda pasti kehamilan
a. Pada palpasi dirasakan bagian janin dan balotemen serta gerak janin.
b. Pada auskultasi terdengar bunyi jantung janin(BJJ). Dengan stetoskop laennec
BJJ terdengar pada kehamilan pada kehamilan 18-20 minggu. Dengan alat
doppler BJJ terdengar pada kehamilan 12 minggu.
c. Dengan ultrasonogravi (USG) atau scannig dapat dilihat gambaran janin.
d. Pada pemeriksaan sinar X tampak kerangka janin. Tidak dilakukan lagi
sekarang karena dampak radiasi terhadap janin (4)
Adaptasi Fisiologis Kehamilan
1. Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh
estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada

dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus di samping itu, serabutserabut kolagen yang adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar
estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin. Bila ada
kehamiln ektopik, uteru akan membesar pula, karena pengaruh hormonhormon itu. Begitu pula endometrium menjadi desidua. Pada bulan-bulan
pertama kehamilan, bentuk uterus seperti buah alpukat agak gepeng. Pada
kehamilan 16 minggu, uterus berbentuk bulat. Selanjutnya pada akhir
kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Pada mingguminggu pertama ismus uteri mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri.
Hipertrofi ismus pada triwulan pertama membuat ismus menjadi panjang dan
lebih lunak. Hal ini dikenal dalam obstetri sebagai tanda hegar.
2. Serviks Uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena
hormon estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya
hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak. Serviks uteri lebih
banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas kolagen. Karena servik
terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan otot, maka
serviks tidak mempunyai fungsi sebagai spinkter, sehingga pada saat partus
serviks akan membuka saja mengikuti tarikan-tarikan corpus uteri keatas dan
tekanan bagian bawah janin kebawah. Sesudah partus, serviks akan tampak
berlipat-lipat dan tidak menutup seperti spinkter.
3. Vagina dan vulva
Hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih
merah dan agak kebiru-biruan (livide). Warna porsio tampak livide.
Pembuluh-pembuluh darah alat genetalia interna akan membesar. Hal ini
dapat dimengerti karena oksigenasi dan nutrisi pada alat-alat genetalia
tersebut menigkat. Apabila terjadi kecelakaan pada kehamilan/persalinan
maka perdarahan akan banyak sekali, sampai dapat mengakibatkan kematian.
4. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis
sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus

luteum graviditas berdiameter kira-kira 3 cm. Kemudian, ia mengecil setelah


plasenta terbentuk.
5. Mammae
Mamma akan membesar dan tegang akan tetapi belum mengeluarkan air susu. Di
samping ini, di bawah pengaruh progesteron dan somatomammotropin, terbentuk
lemak di sekitar kelompok-kelompok alveolus, sehingga mamma menjadi lebih besar.
Papila mamma akan membesar, lebih tegak, dan tampak lebih hitam, seperti seluruh
areola mamma karena hiperpigmentasi. Glandula Montgomery tampak lebih jelas
menonjol di permukaan areola mamma. Pada kehamilan 12 minggu keatas, dari
puting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut kolostrum.
Kolostrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi. (4)
Macam-Macam Perdarahan Antepartum
1.

Plasenta Previa

Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta atau biasa disebut dengan ari-ari yang
letaknya tidak normal, yaitu pada bagian bawah rahim sehingga dapat menutupi
sebagian atau seluruh pembukaan jalan rahim. Pada keadaan normal ari-ari terletak
dibagian atas rahim.(3)
Klasifikasi
Jenis-jenis plasenta previa di dasarkan atas teraba jaringan plasenta atau ari-ari
melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu.
1) Plasenta previa totalis, yaitu apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan
plasenta atau ari-ari.
2) Plasenta previa parsialis, yaitu apabila sebagian pembukaan tertutup oleh
jaringan plasenta.
3) Plasenta Previa marginalis, yaitu apabila pinggir plasenta atau ari-ari berada
tepat pada pinggir pembukaan jalan ari.

Plasenta letak rendah, yaitu apabila letak tidak normal pada segmen bawah
rahim akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir .(3)
Etiologi
Mengapa plasenta atau ari-ari bertumbuh pada segmen bawah rahim tidak selalu
jelas. Plasenta previa bisa disebabkan oleh dinding rahim di fundus uteri belum
menerima implantasi atau tertanamnya ari-ari dinding rahim diperlukan perluasan
plasenta atau ari-ari untuk memberikan nutrisi janin (Manuaba, 2010).
Disamping masih banyak penyebab plasenta previa yang belum di ketahui atau belum
jelas, bermacam-macam teori dan faktor-faktor dikemukakan sebagai etiologinya.
Strasmann mengatakan bahwa faktor terpenting adalah vaskularisasi yang
kurang pada desidua yang menyebabkan atrofi dan peradangan, sedangkan browne
menekankan bahwa faktor terpenting ialah villi khorialis persisten pada desidua
kapsularis. .(3)
Faktor-faktor etiologinya :
1) Umur dan paritas
a) Pada primigravida, umur di atas 35 tahun lebih sering dari pada umur di
bawah 25 tahun.
b) Lebih sering pada paritas tinggi dari paritas rendah
c) Di Indonesia, plasenta previa banyak dijumpai pada umur muda dan paritas
kecil, hal ini disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda
dimana endometrium masih belum matang.(3)
2) Hipoplasia endometrium, bila kawin dan hamil pada umur muda

3) Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase


dan manual plasenta.
4) Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil
konsepsi.
5) Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium.
6) Kadang-kadang pada mal nutrisi (Manuaba, 2010).
Patofisiologi
Perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan
pertama dari plasenta previa. Walaupun perdarahannya sering dikatakan terjadi pada
triwulan ketiga, akan tetapi tidak jarang pula dimulai sejak kehamilan 20 minggu
karena sejak itu segmen bawah rahim telah terbentuk dan mulai melebar serta
menipis. Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah rahim akan lebih
melebar lagi, dan leher rahim mulai membuka. Apabila plasenta atau ari-ari tumbuh
pada segmen bawah rahim, pelebaran segmen bawah rahim dan pembukaan leher
rahim tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian
plasenta dari dinding rahim. Pada saat itulah mulai terjadi perdarahan.
Sumber perdarahannya ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya
plasenta dan dinding rahim atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta.
Perdarahannya tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen
bawah rahim untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana
serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang
letaknya normal, makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi .(3)

2.

Solusio Plasenta

Solusio plasenta adalah terlepasnya dari tempat implantasi normalnya


sebelum janin lahir, dan ini hanya berlaku apabila terjadi pada kehamilan dengan usia
lebih dari 22 minggu atau berat janin sekitar 500 gram. .(3)
Etiologi
1. Faktor kardio-reno-vaskuler
Glomerulonefritis kronik, hipertensi esensial, sindroma preeklamsia dan
eklamsia. Terdapat hipertesi pada separuh kasus solusio plasenta berat dan
separuh dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai penyakit hipertesi
kronik, dan sisanya hipertensi yang disebabkan karena kehamilan.
2. Faktor trauma
- Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gameli
- Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang
bebas/banyak, versi luar atau tindakan pertolongan persalinan.
- Trauma langsung seperti kena tendang, jatuh dan lain-lain.
3. Faktor paritas ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dan primipara. Beberapa penelitian
menerangkan bahwa makin tinggi paritas ibu maka makin kurang baik
keadaan endometrium.
4. Faktor usia ibu
Makin tua usia ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi menahun
5. Leiomioma uteri (uterine leiomyoma) yang hamil dapat menyebabkan solusio
plasenta apabila plasenta berimplantasi diatas bagian yang mengandung
leiomioma.
6. Faktor penggunaan kokain
Penggunaan kokain mengakibatkan

peninggian

tekanan

darah

dan

peningkatan pelepasan katekolaminyang bertanggung jawab atas vasospasme


pembuluh darah uterus dan berakibat terlepasnya plasenta. Namun hipotesis
ini belum terbukti secara definitif.
7. Faktor kebiasaan merokok
Ibu yang merorkok juga menyebabkan solusio plasenta sampai dengan 25%
pada ibu yang merokok < 1 bungkus perharinya. Ini dapat diterangkan pada
ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diametr lebih luas dan beberapa
abnormalitas pada mikrosirkulasinya.

8. Riwayat solusio plasenta sebelumnya


Hal yang sangat penting dan menentuka prognosi ibu dengan riwayat solusio
plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan
berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki
riwayat solusio plasenta.
9. Pengaruh lain
Anemia, malnutrisi/defisien gizi, tekanan uterus pada vena cava infrior,
dikarenakan pembesaran ukuran uterus oleh adanya kehamilan. .(3)
Patofisiologi
Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan didalam desidua basalis
yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada
mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan,
kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian
tersebut. Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebakan hematoma retro
plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, sehingga pelepasan
plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi
dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi

optimal untuk menekan

pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan
selaput ketuban. Solusio plasenta merupakan hasil akhir dari suatu proses yang
bermula dari suatu keadaan yang mampu memisahkan vili-vili koralis plasenta dari
tempat implantasinya pada desidua basalis sehingga terjadi perdarahan. .(3)

3.

Vasa Previa

Definisi
Vasa previa adalah komplikasi obstetrik dimana pembuluh darah janin
melintasi atau berada di dekat ostium uteri internum (cervical os). Pembuluh darah

tersebut berada didalam selaput ketuban (tidak terlindung dengan talipusat atau
jaringan plasenta) sehingga akan pecah bila selaput ketuban pecah. .(3)
Etiologi
Vasa previa terjadi bila pembuluh darah janin melintasi selaput ketuban yang berada
di depan ostium uteri internum. Pembuluh darah tersebut dapat berasal dari insersio
velamentosa dari talipusat atau bagian dari lobus suksenteriata (lobus aksesorius).
Bila pembuluh darah tersebut pecah maka akan terjadi robekan pembuluh darah
sehingga terjadi eksanguisasi dan kematian janin. .(3)
Patofisiologi
Penyebab dari pendarahan vasa previa yakni adaya pembuluh darah janin melintasi
selaput ketuban yang berada di depan ostium uteri internum. Dimana pembuluh darah
tersebut berasal dari insersio velamentosa. Patofisologi pendarahan vasa previa disini
hampir sama dengan etiologinya karena hampir semua berhubungan. .(3)
Maninfestasi Klinik.
1. Dapat timbul perdarahan pada kehamilan 20 minggu
2. Darah berwarnamerahsegarTidak disertai atau dapat disertai nyeri perut
(kontraksi uterus)
3. Perdarahan segera setelah ketuban pecah dan karena perdarahan ini berasal
dari anak maka dengan cepat bunyi jantung anak menjadi buruk.(3)

4.

Rupture Uteri

Definisi
Ruptur Uteri adalah robekan pada rahim sehingga rongga uterus dan rongga
peritoneum dapat berhubungan.Yang dimaksud dengan ruptur uteri komplit adalah
keadaan robekan pada rahim dimana telah terjadi hubungan langsung antara rongga
amnion dan rongga peritoneum.Peritoneum viserale dan kantong ketuban keduanya
ikut ruptur dengan demikian janin sebagia atau seluruh tubuhnya telah keluar oleh
kontraksi terakhir rahim dan berada dalam kavum peritonei atau rongga abdomen.
Pada ruptura uteri inkomplit hubungan kedua rongga tersebut masih dibatasi
oleh peritoneum viserale.Pada keadaan yang demikian janin belum masuk ke dalam

rongga peritoneum. Apabila pada rupture uteri peritoneum pada permukaan uterus
ikut robek, hal tersebut dinamakan rupture uteri komplet.
Pada dehisens (regangan) dari parut bekas bedah sesar kantong ketuban juga
belum robek, tetapi jika kantong ketuban ikut robek maka disebut telah terjadi
ruputura uteri pada parut.Dehisens bisa berubah jadi ruputura pada waktu partus atau
akibat manipulasi pada rahim yang berparut, biasanya bekas bedah sesar yang
lalu.Dehisens terjadi perlahan, sedangkan ruptura uteri terjadi secara dramatis.Pada
dehisens perdarahan minimal atau tidak berdarah, sedangkan pada ruptur uteri
perdarahannya banyak yang berasal dari pinggir parut atau robekan baru yang
meluas. .(3)
Klasifikasi
1. Menurut sebabnya :
a. Kerusakan atau anomali uterus yang telah ada sebelum hamil
1)
pembedahan pada miometrium : seksio sesarea

atau

histerektomi, histerorafia, miomektomi yang sampai menembus


seluruh ketebalan otot uterus, reseksi pada kornua uterus atau
bagian interstisial, metroplasti.
2)
Trauma uterus koinsidensial : instrumentasi sendok kuret atau
sonde pada penanganann abortus, trauma tumpul atau tajam seperti
pisau atau peluru, ruptur tanpa gejala pada kehamilan sebelumnya
(silent rupture in previous pregnancy).
3)

Kelainan bawaan : kehamilan dalam bagian rahim (born) yang

tidak berkembang
b. Kerusakan atau anomali uterus yang terjadi dalam kehamilan
1)
sebelum kelahiran anak : his spontan yang kuat dan terus
menerus, pemakaian oksitosin atau prostaglandin untuk merangsang
persalinan, trauma luar tumpul atau tajam, versi luar, pembesaran
rahim yang berlebihan misalnya hidramnion atau kehamilan ganda.
2)
Dalam periode intrapartum : versi-ekstraksi, ekstraksi cunam
yang sukar, ekstraksi bokong, anomali janin yang menyebabkan

distensi berlebihan pada segmen bawah rahim, tekanan kuat pada


uterus dalam persalinan, kesulitan dalam melakukan manual
plasenta.
3)
Cacat rahim yang didapat : plasenta inkreta atau perkreta,
neoplasia trofoblas, gestasional, adenomiosis, retroversio uterus
gravidus inkarserata.
2. Menurut Lokasinya :
a. Korpus uteri, ini biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami
operasi seperti seksio sesarea klasik ( korporal ), miemektomi
b. Segmen bawah rahim ( SBR ), ini biasanya terjadi pada partus yang sulit dan
lama tidak maju, SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya
terjadilah ruptur uteri yang sebenarnya
c. Serviks uteri ini biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forseps
atau versi dan ekstraksi sedang pembukaan belum lengkap
d. Kolpoporeksis, robekan-robekan di antara serviks dan vagina.
3. Menurut etiologinya :
a. Ruptur uteri spontanea
Rupture uteri spontanea dapat terjadi akibat dinding rahim yang lemah
seperti pada bekas operasi sesar, bekas miomektomi, bekas perforasi
tindakan kuret atau bekas tindakan plasenta manual. Rupture uteri spontan
dapat pula terjadi akibat peregangan luar biasa dari rahim seperti pada ibu
dengan panggul sempit, janin yang besar, kelainan kongenital dari janin,
kelainan letak janin, grandemultipara dengan perut gantung (pendulum)
serta pimpinan persalinan yang salah.
b. Ruptur uteri violenta
Rupture uteri violenta dapat terjadi akibat tindakan tindakan seperti
misalnya Ekstraksi forceps, versi dan ekstraksi ,embriotomi ,braxton hicks version,
manual plasenta,kuretase ataupun trauma tumpul dan tajam dari luar. .(3)
Etiologi
Ruptura uteri bisa disebabkan oleh anomali atau kerusakan yang telah ada
sebelumnya, karena trauma, atau sebagai komplikasi persalinan pada rahim yang
masih utuh. Paling sering terjadi pada rahim yang telah diseksio sesarea pada

persalinan sebelumnya. Lebih lagi jika pada uterus yang demikian dilakukan partus
percobaan atau persalinan dirangsang dengan oksitosin atau sejenisnya.
Pasien yang berisiko tinggi antara lain :
a. persalinan yang mengalami distosia, grande multipara, penggunaan oksitosin
atau prostaglandin untuk mempercepat persalina
b. pasien hamil yang pernah melahirkan sebelumnya melalui bedah seksio
sesarea atau operasi lain pada rahimnya
c. pernah histerorafi
d. pelaksanaan trial of labor terutama pada pasien bekas seksio sesarea, dan
sebagainya.
Oleh sebab itu, untuk pasien dengan panggul sempit atau bekas seksio sesarea
klasik berlaku adagium Once Sesarean Section always Sesarean Section. Pada
keadaan tertentu seperti ini dapat dipilih elective cesarean section (ulangan) untuk
mencegah ruputura uteri dengan syarat janin sudah matang. .(3)

Gambar 1. Klasik dan low transverse insisi pada bedah sesar


Patofisiologi

Saat his korpus uteri berkontraksi dan mengalami retraksi. Dengan


demikian, dinding korpus uteri atau segmen atas rahim menjadi lebih tebal dan
volume korpus uteri menjadi lebih kecil. Akibatnya tubuh janin yang menempati
korpus uteri terdorong ke dalam segmen bawah rahim. Segmen bawah rahim menjadi
lebih lebar dan karenanya dindingnya menjadi lebih tipis karena tertarik keatas oleh
kontraksi segmen atas rahim yang kuat, berulang dan sering sehingga lingkaran
retraksi yang membatasi kedua segmen semakin bertambah tinggi. .
Apabila bagian terbawah janin tidak dapat turun oleh karena suatu sebab
(misalnya : panggul sempit atau kepala besar) maka volume korpus yang bertambah
mengecil pada waktu ada his harus diimbangi perluasan segmen bawa rahim ke atas.
Dengan demikian lingkaran retraksi fisiologis semakin meninggi kearah pusat
melewati batas fisiologis menjadi patologis yang disebut lingkaran bandl (ring van
bandl). Ini terjadi karena, rahim tertarik terus menerus kearah proksimal tetapi
tertahan dibagian distalnya oleh serviks yang dipegang ditempatnya oleh ligamentum
ligamentum pada sisi belakang (ligamentum sakrouterina), pada sisi kanan dan kiri
(ligamentum cardinal) dan pada sisi dasar kandung kemih (ligamentum
vesikouterina).
Jika his berlangsung terus menerus kuat, tetapi bagian terbawah janin tidak
kunjung turun lebih ke bawah, maka lingkaran retraksi semakin lama semakin tinggi
dan segmen bawah rahim semakin tertarik ke atas dan dindingnya menjadi sangat
tipis. Ini menandakan telah terjadi rupture uteri iminens dan rahim terancam robek.
Pada saat dinding segmen bawah rahim robek spontan dan his berikutnya dating,
terjadilah perdarahan yang banyak (rupture uteri spontanea).
Ruptur uteri pada bekas seksio sesarea lebih sering terjadi terutama
pada parut pada bekas seksio sesarea klasik dibandingkan pada parut bekas seksio
sesarea profunda. Hal ini disebabkan oleh karena luka pada segmen bawah uterus
yang tenang pada saat nifas memiliki kemampuan sembuh lebih cepat sehingga parut
lebih kuat. Ruptur uteri pada bekas seksio klasik juga lebih sering terjadi pada

kehamilan tua sebelum persalinan dimulai sedangkan pada bekas seksio profunda
lebih sering terjadi saat persalinan. Rupture uteri biasanya terjadi lambat laun pada
jaringan jaringan di sekitar luka yang menipis kemudian terpisah sama sekali.
Disini biasanya peritoneum tidak ikut serta, sehingga terjadi rupture uteri inkompleta.
Pada peristiwa ini perdarahan banyak berkumpul di ligamentum latum dan sebagian
lainnya keluar. .(3)
5. Penatalaksanaan Plasenta Previa
A. Penanganan Ekspektif
Dilakukan apabila janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia
masih kecil baginya
I.

II.

Kriteria:
a. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
b. Perdarahan sedikit
c. Belum ada tanda-tanda persalinan
d. Keadaan umum baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih.
Rencana Penanganan :
a. Istirahat baring mutlak.
b. Infus D 5% dan elektrolit
c. Spasmolitik, tokolitik, plasentotrofik, roboransia.
d. Periksa Hb, HCT, COT, golongan darah.
e. Pemeriksaan USG.
f. Awasi perdarahan terus-menerus, tekanan darah, nadi dan denyut jantung
janin.
g. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien,
ditunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara
aktif.(7)
B. Penanganan aktif
Dilakukan dengan segera mengakhiri kehamilan sebelum terjadi perdarahan

I.

yang dapat menimbulkan kematian


Kriteria:
a. Umur kehamilan >/ = 37 minggu, BB janin >/ = 2500 gram.
b. Perdarahan banyak 500 cc atau lebih.
c. Ada tanda-tanda persalinan.
d. Keadaan umum pasien tidak baik (ibu anemis, Hb < 8 gr%.)

e. Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginum,


dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi, infus transfusi darah
II.

terpasang.
Indikasi Seksio Sesarea :
a. Plasenta previa totalis.
b. Plasenta previa pada primigravida.
c. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang
d. Fetal distress
e. Plasenta previa lateralis jika :
Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak.
Sebagian besar OUI ditutupi plasenta.
Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior).

III.

f. Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat.


Partus per vaginam.
a. Dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada multipara
dan anak sudah meninggal atau prematur.
b. Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm), ketuban dipecah
(amniotomi) jika his lemah, diberikan oksitosin drips.
c. Bila perdarahan masih terus berlangsung, dilakukan SC.
d. Tindakan versi Braxton-Hicks dengan pemberat untuk menghentikan
perdarahan (kompresi atau tamponade bokong dan kepala janin terhadap
plasenta) hanya dilakukan pada keadaan darurat, anak masih kecil atau
sudah mati, dan tidak ada fasilitas untuk melakukan operasi.(7)

Komplikasi
Kemungkinan infeksi nifas besar karena luka plasenta lebih dekat pada ostium
dan merupakan porte dentre yang mudah tercapai. Lagi pula, pasien biasanya
anemis karena perdarahan sehingga daya tahannya lemah.
Bahaya plasenta previa adalah :
a.

Anemia dan syok hipovolemik karena pembentukan segmen rahim


terjadi secara ritmik, maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya

diuterus dapat berulang dan semakin banyak dan perdarahan yang terjadi
itu tidak dapat dicegah.
b. Karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat
segmen ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas dengan kemampuan
invasinya menorobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke
perimetrium dan menjadi sebab dari kejadian plasenta inkreta bahkan
plasenta

perkreta.

Paling

ringan

adalah

plasenta

akreta

yang

perlekatannya lebih kuat tetapi vilinya masih belum masuk ke dalam


miometrium. Walaupun tidak seluruh permukaan maternal plasenta
mengalami akreta atau inkreta akan tetapi dengan demikian terjadi
retensio plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah terlepas timbullah
perdarahan dalam kala tiga. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada
uterus yang yang pernah seksio sesaria. Dilaporkan plasenta akreta terjadi
sampai 10%-35% pada pasien yang pernah seksio sesaria satu kali dan
naik menjadi 60%-65% bila telah seksio sesaria tiga kali.

c. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah
sangat potensial untuk robek disertai dengan perdarahan yang banyak.
Oleh karena itu harus sangat berhati-hati pada semua tindakan manual
ditempat ini misalnya pada waktu mengeluarkan anak melalui insisi pada
segmen bawah rahim ataupun waktu mengeluarkan plasenta dengan

tangan pada retensio plasenta. Apabila oleh salah satu sebab terjadi
perdarahan banyak yang tidak terkendali dengan cara-cara yang lebih
sederhana seperti penjahitan segmen bawah rahim, ligasi a.uterina, ligasi
a.ovarika, pemasangan tampon atau ligasi a.hipogastrika maka pada
keadaan yang sangat gawat seperti ini jalan keluarnya adalah melakukan
histerektomi total. Morbiditas dari semua tindakan ini tentu merupakan
komplikasi tidak langsung dari plasenta previa.
d. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini
memaksa lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala
konsekuensinya.
e. Kehamila premature dan gawat janin sering tidak terhindarkan karena
tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan
belum aterm.

Pada kehamilan < 37 minggu dapat dilakukan

amniosintesis untuk mengetahui kematangan paru-paru janin dan


pemberian kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru janin
sebagai upaya antisipasi.
f. Solusio plasenta
g. Kematian maternal akibat perdarahan
h. Disseminated intravascular coagulation (DIC)
i. Infeksi sepsis(8)

DAFTAR PUSTAKA

1. Wardana, A dan Karkata, K. 2007. Faktor Risiko Plasenta Previa. Bagian / SMF
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RS Sanglah
Denpasar, Bali. Vol.34 (5) hal 229-232.
2. Catatan kuliah obstetri phantom. Fakultas kedokteran Surabaya
3. Prawiro hardjo, sarwono 1992.ilmu kebidanan jakarta PT:bina pustaka sarwono
prawirohardjo
4. Army. 2006.Dasardasar Ilmu Kebidanan. Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas.
5. Bobak.2004.DasarDasarKeperawatanMaternitas.EGC.Jakarta.
6. Sadler. T.W., 2000. Embriologi Kedokteran Langman. edisi ke-7, Penerbit Buku
Kedokteran EGC ( buat yg embriogenesis)
7. Mose, J C. 2004. Perdarahan Antepartum dalam: Sastrawinata S. Ilmu
Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Jakarta: EGC.pp: 83-91
8. Manuaba I.B.G. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta. EGC; 1998