Anda di halaman 1dari 17

Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari rukun Islam, artinya puasa

Ramadhan merupakan salah satu tiangnya agama Islam. Tiap-tiap Muslim


yang beriman wajib melaksanakannya selama sebulan penuh tiap tahunnya.
Namun, tahukah bahwa jika dilihat dari segi historisitasnya asal muasal puasa
Ramadhan tidak langsung diperintahkan begitu saja? Sebelumnya, puasa
tidak langsung diperintahkan berpuasa simulai dari terbitnya fajar sampai
terbenamnya matahari. Dalam sejarah, puasa Ramadhan terdapat beberapa
langkah sehingga menjadi suatu tataran syariat yang mengikat bagi umat
Muslim.

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal, sejarah puasa
Ramadhan tidak muncul begitu saja. Dalam riwayatnya, sebelum Nabi
menerima perintah puasa Ramadhan, Nabi telah melaksanakan puasa Asyura
dan puasa tiga hari setiap bulannya. Secara singkat sejarah puasa Ramadhan
sendiri mulai diwajibkan (untuk melakukan ibadah puasa Ramadhan) pada
tahun ke 2 Hijriyah atau 624 Masehi setelah Nabi hijrah ke Madinah,
bersamaan dengan disyariatkannya salat ied, zakat fitrah, dan kurban. Hal ini
berarti, bahwa puasa adalah suatu ibadah yang bernilai universal dan ibadah
yang disempurnakan dari umat-umat terdahulu.
1. Puasa Ramadhan Ialah Puasa Istimewa bagi Umat Nabi Muhammad
Kaligrafi nama Muhammad. (freeislamiccalligraphy.com)
Sejarah puasa Ramadhan tidak lepas dari waktu pelaksaan selama diwajibkan
berpuasa. Menurut Imam As-Sawi dalam kitab tafsirnya, bahwa kewajiban
puasa yang ditetapkan oleh Allah pada bulan Ramadhan dilakukan selama
sebulan penuh. Hal itu mengacu pada tafsiran kata madudat pada awalan Q.S
al-Baqarah: 188, yaitu kurang dari 40. Hal itu karena, kebiasaan orang-orang

Arab masa lalu jika menggunakan kata madudat maka yang dimaksud adalah
kurang dari empat puluh. Sedangkan menurut Ali As-Shabuni, tujuan dari harihari yang ditentukan tersebut yaitu sebagai keringanan dan rahmat bagi umat
Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, Allah tidak mewajibkan puasa kepada umat
Muhammad sepanjang waktu.
2. Perintah dan Larangan Saat Puasa
Hal yang harus dilakukan selama bulan Ramadhan. (https://ibujaripelik.files.wordpress.com)
Pada awal-awal diperintahkan ibadah puasa Ramadhan, tata cara berpuasa
pada awal-awal diwajibkannya berbeda dengan sekarang, seperti larangan
untuk makan, minum, dan bersetubuh dengan istri pada malam hari, larangan
tidur sebelum berbuka jika itu dilanggar tidak boleh berbuka sampai tiba
waktu berbuka lagi. Hal itu sesuai dengan hadis riwayat Bukhari yang
mengalami serupa yaitu sahabat Qais Sharmah al-Anshary yang pingsan pada
siang harinya karena tertidur sebelum berbuka pada hari sebelumnya.
Akhirnya, ia harus menahan makan dan minum seharian lagi.

Dalam riwayat lain, masih dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari,
sahabat Umar bin Khattab juga mengalami demikian. Bahkan, ketika ia
tertidur

disamping

istrinya

pada

malam

harinya

sahabat

Umar

pun

mendatangi istrinya lalu menunaikan hajatnya karena tidak kuasa menahan


hasratnya. Setelah selesai melakukan hajatnya, Umar pun merasa bersalah
pada dirinya mengapa ia tidak kuat untuk menahan keinginannya itu. Ia tidak
bisa tidur dua sampai tiga hari, sampai akhirnya ia ceritakan pada Nabi. Atas
kejadian tersebut, Nabi menjawab dengan firman Allah Q.S. al-Baqarah: 187,
sehingga Allah memberikan maaf dengan diperbolehkannya hal itu.

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istriistri kamu , (Q.S. al-Baqarah: 187).

Para sahabat semakin gembira dengan adanya dispensasi berkurangnya


waktu puasa, yakni dihapuskannya puasa pada malam hari setelah berbuka.
Maka setelah itu, syariat puasa dan aturan-aturan puasa Ramadhan berlaku
seperti yang kita rasakan saat ini. Seperti yang difirmankan oleh Allah Swt.,
yaitu membatasi waktu berpuasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya
matahari:


Dan, makan serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari
benang hitam, yaitu fajar , (Q.S. al-Baqarah: 187).

Itulah sejarah puasa ramadhan yang harus kita ketahui. Sungguh dari hikmah
sejarah puasa ramadhan itu, kita bisa merasakan kemudahan dari Allah untuk
semua hamba-Nya beribadah kepada-Nya sekaligus merupakan kekhususan
umat Nabi Muhammad tersendiri. Oleh karena itu, harus senantiasa bersyukur
atas karuni-Nya kepada kita umat Muslim. Demikianlah penuturan penulis,
semoga bermanfaat. Wallahualam bisawab.
ApakahtakrifPuasa?
Puasa darisudut bahasabererti : Menahan diri daripada sesuatu sama ada katakata ataupun
makanan.FirmanAllahtaalamenceritakantentangMaryam.

:

Sesungguhnya aku bernazar untuk berpuasa kerana (Allah) Arrahman. (Maryam : 26)
Puasa disini bermaksud menahan diri dan berdiam diri daripada berkatakata.

Puasadarisudutsyarakbererti:Menahandiridaripadaperkaraperkarayangmembatalkanpuasa
bermuladariterbitfajarhinggaterbenammataharidisertaidenganniat.
PuasamerupakansalahsaturukunIslamyangdilaksanakanolehkaummuslimindiseluruhdunia.
Allahswttelahmewajibkannyakepadakaumyangberiman,puasamerupakanamalibadahklasik
yangsebelummewajibkanpuasaRamadhanbagikaumMuslimintahunke2hijriyah,AllahSWT
telah mensyariatkan puasa kepada para nabi terdahulu,tatkala Rasulullah Saw, beliau sudah
mengalamisembilankalipuasaRamadhan.
Adaempatbentukpuasayangtelahdilakukanolehumatterdahulu,yaitu:
1.Puasanyakaumsufi,yaknipraktekpuasasetiapharidenganmaksudmenambahpahala.Misalnya
puasanyaparapendeta;
2.Puasa dari berkatakata, sebagaimana praktek puasa kaum Yahudi, hal mana yang telah
dikisahkanAllahSWTdalamAlQur'an,suratMaryamayat26:


()


Makamakan,minumdanbersenanghatilahkamu.jikakamumelihatseorangmanusia,Maka
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah,
Makaakutidakakanberbicaradenganseorangmanusiapunpadahariini".
3.Puasa dari seluruh atau sebagian dari perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh
pemeluk agama Budha dan sebagian kaum Yahudi, dan puasapuasa golongan lainnya yang
mempunyaicaradankriteriayangtelahditentukanolehmasingmasingkaumitusendiri.
4.SementarakewajibanpuasabagiorangberagamaIslam,mempunyaiaturanyangtengahtengah
yangberbedadaripuasakaumsebelumnyabaikdalamtatacaradanwaktupelaksanaannya.Tidak
terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga
mengabaikanaspekkejiwaan.HalmanatelahmenunjukkankeluwesanIslam.
KewajibanpuasaRamadhantelahadadidalamsyariatumatumatsebelumumatNabiMuhammad
Saw,sebagaimanajelasdidalamayatQS.AlBaqarah:183.

()

















Haiorangorangyangberiman,diwajibkanataskamuberpuasasebagaimanadiwajibkanatas
orangorangsebelumkamuagarkamubertakwa.
Sebagianulamasalafmengatakanbahwayangdimaksuddenganorangorangsebelumkitaadalah
orang Nashrani, sebagian lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalahahlul kitab, sebagian
yanglainmengatakanbahwamerekaadalahsemuamanusiasebelumkita,merekadahuluberpuasa

Ramadhanpenuh.LihatatsaratsarmerekadidalamTafsirAthThabaryketikamenafsirkanayat
yangmuliaini.
KemudianIbnu Jarir AlThabarimenguatkan bahwa pendapat yang paling dekat adalah yang
mengatakanbahwamerekaadalahahlulkitab,danbeliaumengatakanbahwasyariatpuasasatu
bulan penuh di bulan Ramadhan adalah ajaran Nabi Ibrahim as, yang Rasulullah Saw dan
ummatnyadiperintahkanuntukmengikutinya.(LihatTafsirAthThabary,tafsirSuratAlBaqarah:
183).IbnuJarirAlThabari,mengatakansyariatpuasapertamaditerimaolehNabiNuhassetelah
beliaudankaumnyadiselamatkanolehAllahSWTdaribanjirbandang.NabiDaudasmelanjutkan
tradisipuasadengancaraseharipuasadansehariberbuka.DalampernyataannyaNabiDawudas
berkata:Adapun hari yang aku berpuasa di dalamnya adalah untuk mengingat kaum fakir,
sedangkanhariyangakuberbukauntukmensyukurinikmatyangtelahdikaruniakanolehAllah
SWT.PernyataanNabiDawudastersebutditegaskanolehRasulullahSawdalamsabdanyayang
berbunyi:
Sebaikbaiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.(HR.
Muslim).
NabiMusaaskemudianmewarisitradisiberpuasa,menurutparaahlitafsir,NabiMusaasdan
kaumYahuditelahmelaksanakanpuasaselama40harisebagaimanadalamQS.AlBaqarah:40:


()










HaiBaniIsrailingatlahakannikmatKuyangtelahakuanugerahkankepadamu,danpenuhilah
janjimu kepadaKu niscaya aku penuhi janjiKu kepadamu; dan hanya kepadaKulah kamu
harustakut(tunduk).
Salahsatunyajatuhpadatanggal10bulanMuharramyangdimaksudkansebagaiungkapansyukur
ataskemenanganyangdiberikanolehAllahSWTdarikejaranFiraun.Puasa10Muharramini
dikerjakan oleh kaum Yahudi Madinah dan Rasul Saw menegaskan umat Islam lebih berhak
berpuasa10MuharramdaripadakaumYahudikarenahubungankeagamaanmemilikikaitanyang
lebih erat dibandingkan dengan hubungan kesukuan. Untuk itu agar ada perbedaanya maka
RasulullahSawkemudianmensyariatkanpuasasunahsetiaptanggal9dan10Muharram,selain
untukmembedakan puasa kaum Yahudi, jugaungkapan simbolik kemenangan kebenaran atas
kebatilan.
IbundaNabiIsaasjugamelakukanpuasayangberbedadenganparapendahulunya,yaitudengan
tidakberbicarakepadasiapapunsaja.AllahSWTberfirman:


()

Maka jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar
berpuasa untuk Tuhan Yang Mahapemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang
manusiapunpadahariini.(QS.Maryam:26).
Keempat riwayat di atas merupakan sejarah puasa ummat yang memeluk agamasamawiyang
menjadirujukan disyariatkannyapuasadalamsyariatIslam.Adapunpuasaagamaardhi(agama
buatanmanusia),kendatisamasekalibukanrujukannamunmerekajugatelahmelakukanpuasa
denganbentukyangberbedabeda.SebelumpuasaRamadhandiwajibkan,RasululullahSawtelah
memerintahkan kaum Muslimin puasa Hari Asyura pada setiap tanggal 9 dan 10 Muharram.
NamunbegituperintahpuasaRamadhantiba,puasaAsyurayangsejatinyaditambahsatuharioleh
RasulullaahSawmenjadipuasasunah.
Demikianlahsejarahdisyriatkanpuasayangdiwajibkanterakhirdantetapdemikianhinggahari
kiamat. (Lihat keterangan Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma'aad 2/30).MenurutImam Ibnul
Qoyyim ra mengatakan:Tatkala menundukkan jiwa dari perkara yang disenangi termasuk
perkara yang sulit dan berat, maka kewajiban puasa Ramadhan tertunda hingga setengah
perjalananIslamsetelahhijrah.Ketikajiwamanusiasudahmapandalammasalahtauhid,sholat,
dan perintahperintah dalam AlQuran, maka kewajiban puasa Ramadhan mulai diberlakukan
secarabertahap.Tingginyatingkatkesulitandalammelaksanakanpuasamenjadikansyariatini
turunbelakangansetelahperintahhaji,shalatdanzakat.Wajarjikakemudianayatayattentang
puasaRamadhanturunsecaraberangsungangsur,dalamduatahap,yaitu:
Pertama,dalambentukTakhyiir(option)bahwaperintahwajibpuasaRamadhandenganpilihan.
sebagaimanadalamQS.AlBaqarah:183184yangberbunyi:











( )








()
















183.Haiorangorangyangberiman,diwajibkanataskamuberpuasasebagaimanadiwajibkan
atasorangorangsebelumkamuagarkamubertakwa.184.(yaitu)dalambeberapahariyang
tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka),Maka(wajiblahbaginyaberpuasa)sebanyakhariyangditinggalkanitupadaharihari
yanglain.danwajibbagiorangorangyangberatmenjalankannya(jikamerekatidakberpuasa)
membayarfidyah,(yaitu):memberiMakanseorangmiskin.Barangsiapayangdengankerelaan
hati mengerjakan kebajikan. Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik
bagimujikakamumengetahui.
PadafaseinidimanakaumMusliminbolehmemilihberpuasaatautidakberpuasa,namunmereka
yangberpuasalebihutamadanyangtidakberpuasadiharuskanmembayarfidyah.Salamahbin
Akwaberkata:












- -






)








)




"DahulukamiketikadibulanRamadhanpadazamanRasulullahSaw,barangsiapayangingin
berpuasamakabolehberpuasa,danbarangsiapayanginginberbukamakadiamemberimakan
seorang miskin, hingga turun ayat Allah (yang artinya); Barangsiapa yang mendapati bulan
(ramadhan)makadiawajibberpuasa".(HR.Bukhari:4507,Muslim:1145)
Kedua,dalam bentuk perintahIlzaam(pengharusan)kewajiban berpuasa secara menyeluruh
kepadakaumMuslimin,dalamfaseinimakaseorangmuslimyangterpenuhisyaratwajibpuasa
harusberpuasadantidakadapilihanlaindenganpengecualianbagiorangorangyangsakitdan
bepergiansertamanusiausialanjut(renta)yangtidakkuatlagiuntukberpuasasebagaimanayang
tergambardalamQS.AlBaqarah:185:
























()







(Beberapahariyangditentukanituialah)bulanRamadhan,bulanyangdidalamnyaditurunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai
petunjukitudanpembeda(antarayanghakdanyangbathil).karenaitu,Barangsiapadiantara
kamuhadir(dinegeritempattinggalnya)dibulanitu,Makahendaklahiaberpuasapadabulan
itu,danBarangsiapasakitataudalamperjalanan(laluiaberbuka),Maka(wajiblahbaginya
berpuasa),sebanyakhariyangditinggalkannyaitu,padaharihariyanglain.Allahmenghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu
mencukupkanbilangannyadanhendaklahkamumengagungkanAllahataspetunjukNyayang
diberikankepadamu,supayakamubersyukur.
AwalmulanyakaumMusliminberpuasasekitar22jamkarenasetelahberbukamerekalangsung
berpuasa kembali setelah menunaikan shalat Isya,orang yang tidur sebelum makan (berbuka
puasa)atausudahmenunaikanshalatIsyamakadiatidakbolehmakan,minum,danmelakukan
bersetubuhhinggahariberikutnya.Namun,setelahsahabatUmarbinKhathabmengungkapkan
kejadianmempergauliistrinyapadasatumalamRamadhankepadaRasulullahSaw,turunlahQS
AlBaqarah:187:



)
















(
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteriisteri kamu;
merekaadalahpakaianbagimu,dankamupunadalahpakaianbagimereka.Allahmengetahui
bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan
memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah
ditetapkanAllahuntukmu,danMakanminumlahhinggaterangbagimubenangputihdaribenang

hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi)
janganlahkamucampurimerekaitu,sedangkamuberi'tikafdalammesjid.ItulahlaranganAllah,
Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayatayatNya kepada
manusia,supayamerekabertakwa.
DalamayatinimenegaskanhalalnyahubungansuamiistridimalamRamadhandanketegasan
bataswaktupuasayangdimulaidariterbitnyafajarhinggaterbenammatahari.Inilahsyariatpuasa
dalamIslamyangmenyempurnakantradisipuasaseluruhagamasamawiyangadasebelumnya.

Sudah biasa para penceramah menyampaikan materi kewajiban dan kemulian bulan
Ramadhan dalam tema-tema kajian kultum Ramadhan. Tapi baru sekali ini, penulis
mendengar kultum Ramadhan yang bercerita tentang sejarah disyariatkannya puasa
Ramadhan.
Dalam ceramah Ramadhan-nya, sang penceramah terlebih dahulu memberi pengantar
tentang dasar dimulainya puasa Ramadhan, yaitu karena melihat hilal, sebagaimana
perkataan Rasul SAW, Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah
karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka
sempurnakanlah Syaban tiga puluh hari. (HR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081).
Selanjutnya, ia menerangkan perihal sejarah disyariatkannya puasa Ramadhan hingga
sekarang ini menjadi salah satu kewajiban sekaligus Rukun Islam bagi umat Islam. Awal
turunnya kewajiban puasa Ramadhan berkisar pada bulan Syaban tahun kedua Hijriyah.
Atas dasar ini para ulama ber-ijma bahwa Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam menunaikan ibadah puasa Ramadhan selama hidupnya sebanyak sembilan
kali.
Menurut sang penceramah, model puasa Ramadhan tidak serta merta seperti model
puasa hari ini dimana kita dilarang makan-minum dan lain-lain dari terbit fajar hingga
tenggelam matahari. Sebelum turun perintah syariat puasa model seperti itu, yaitu
selama bulan Ramadhan (antara 29-30 hari) dengan menahan dari sesuatu yang

membatalkan selama siang hari dari sejak fajar hingga maghrib, puasa yang dilakukan
para sahabat bukanlah sebuah kewajiban fardhu ain, namun semacam pilihan kewajiban
diantara dua pilihan.
Zaman Nabi dahulu, umat Islam diminta untuk memilih antara berpuasa atau
membayar fidyah. Pada saat syariat ini, para pemeluk Islam yang merasa kaya dan
memiliki harta yang berlebih, lebih memilih untuk melakukan fidyah. Fidyah adalah
memberi makan kepada orang miskin / fakir sebanyak satu mud. Satu mud adalah
makanan pokok setempat untuk satu hari.
Dan wajib bagi orang yang berat untuk menjalankan ash-shaum maka
membayar fidyah yaitu dengan cara memberi makan seorang miskin untuk setiap
harinya. Barang siapa yang dengan kerelaan memberi makan lebih dari itu maka itulah
yang lebih baik baginya dan jika kalian melakukan shaum maka hal itu lebih baik bagi
kalian jika kalian mengetahuinya. [Surat Al-Baqarah 184]
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir: Adapun orang yang sehat dan mukim (tidak musafir-pen)
serta mampu menjalankan ash-shaum diberikan pilihan antara menunaikan ashshaum atau membayar fidyah. Jika mau maka dia ber-shaum dan bila tidak maka dia
membayar fidyah yaitu dengan memberi makan setiap hari kepada satu orang miskin.
Kalau dia memberi lebih dari satu orang maka ini adalah lebih baik baginya.([3])
Ibnu Umar ketika membaca ayat ini mengatakan : bahwa ayat
ini mansukh (dihapus hukumnya-pen).([4])
Dan atsar dari Salamah ibnu Al-Akwa tatkala turunnya ayat ini berkata: Barangsiapa
hendak ber-shaummaka silakan ber-shaum dan jika tidak maka silakan berbuka dengan
membayar fidyah. Kemudian turunlah ayat yang berikutnya yang me-mansukh-kan
(menghapuskan) hukum tersebut di atas. ([5])

Oleh sang penceramah itu, singkatnya disebutkan bahwa masa ini disebut dengan masa
pilihan/takhyir. Disebut pilihan karena kalau memiliki uang, sahabat boleh untuk
memilih fidyah daripada harus berpuasa.
Setelah itu, masa setelah itu berganti menjadi masa mutlak. Yaitu, semua sahabat (umat
Islam ketika itu) harus berpuasa semuanya dan tidak boleh ada yang
membayar fidyah. Hal itu pun membuat orang kaya agak khawatir karena mereka mau
tidak mau harus berpuasa. Nah, inilah sejarah lengkapnya:
Dahulu Shahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam jika salah seorang di antara
mereka puasa (shaum) kemudian tertidur sebelum dia ber-ifthar (berbuka) maka dia
tidak boleh makan dan minum di malam itu dan juga siang harinya sampai datang waktu
berbuka lagi
Oleh sang penceramah diceritakan, jika pada saat puasa tidak boleh tidur atau tertidur.
Jika tertidur atau tidur, resikonya mereka harus berpuasa selama 24 jam. Dalam sebuah
kejadian, Umar diceritakan -masih oleh sang penceramah- tertidur pulas karena
kecapekan di ranjang kamarnya. Seketika terbangun dari tidur hingga terjaga, ia baru
tersadar bahwa dirinya telah tertidur.
Oleh karenanya, pada malamnya ia tidak boleh berbuka. Pada saat yang bersamaan, ia
melihat pakaian istrinya yang tertidur di sisinya tersingkap. Muncullah hasrat Umar
untuk berhubungan suami istri dengan istrinya. Singkat cerita, Umar pun mendatangi
istrinya dan menunaikan hajatnya. Setelah selesai melakukan hajatnya, Umar pun
merasa bersalah pada dirinya kenapa ia tidak kuat untuk menahan keinginannya itu.
Menurut sang penceramah, sahabat Umar RA diceritakan tidak bisa tidur selama 2 3
hari setelah kejadian itu. Pada suatu kesempatan setelah shalat subuh berjamaah, para
sahabat menghadiri majelis ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Di sinilah,
Umar memberanikan diri untuk bertanya yang kurang lebihnya, Wahai Nabi, apakah
peraturan puasamu ini harus dilakukan seperti sekarang ini? Aku mengkhawatirkan

umatmu yang hidup nanti setelah kita meninggal dunia, apakah mereka bakal kuat untuk
menunaikan puasa yang seperti ini. Aku saja kemaren lusa tidak mampu menahan untuk
berhubungan dengan istriku. Lantas bagaimana mungkin umatmu nanti bisa
melakukannya?
Singkatnya, setelah kejadian itu, turunlah ayat Al Quran,
(
)
Telah dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan shaum (Ramadhan) untuk berjima (menggauli) istri-istri kalian.
Para shahabat pun semakin berbahagia sampai turunnya ayat yang berikutnya yaitu:

)

(
Dan makan serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam,
yaitu fajar.
Maka setelah itu, syariat puasa dan aturan-aturan puasa Ramadhan berlaku seperti yang
kita rasakan saat ini. Demikianlah penuturan sang penceramah yang penulis dengarkan
saat mengisi ceramah di sebuah mushala sebuah perusahaan di Menteng, Jakarta.
Semoga dapat memberi info yang bermanfaat. Namun demikian, penulis tidak
mengetahui derajat keshahihan / kebenaran asbabun nuzul (sebab turun) sejarah puasa
Ramadhan tersebut.
**
Pada keterangan lain (bukan oleh pak ustadz) di dalam suatu hadis disebutkan sebagai
berikut:



r



: :


! : - r
) (



( :

[ )]
Artinya: Dahulu Shahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam jika salah seorang di
antara merekashaum kemudian tertidur sebelum dia ber-ifthar (berbuka) maka dia tidak
boleh makan dan minum di malam itu dan juga siang harinya sampai datang waktu
berbuka lagi. Dan (salah seorang shahabat yaitu), Qois bin Shirmah Al Anshory dalam
keadaan shaum, tatkala tiba waktu berbuka, datang kepada istrinya dan berkata: apakah
kamu punya makanan? Istrinya menjawab: Tidak, tapi akan kucarikan untukmu
(makanan). dan Qois pada siang harinya bekerja berat sehingga tertidur (karena
kepayahan)- Ketika istrinya datang dan melihatnya (tertidur) ia berkata : Rugilah
Engkau (yakni tidak bisa makan dan minum dikarenakan tidur sebelum berbuka- pen) !
Maka ia pingsan di tengah harinya. Dan ketika dikabarkan tentang kejadian tersebut
kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, maka turunlah ayat:
)
(
Telah dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan shaum (Ramadhan) untuk berjima (menggauli) istri-istri kalian.
dan para shahabat pun berbahagia sampai turunnya ayat yang berikutnya yaitu :

(

)
Dan makan serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam,
yaitu fajar. (HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud)

Awal turunnya kewajiban shaum Ramadhan adalah pada bulan Syaban tahun
kedua Hijriyah, atas dasar ini para ulama berijma bahwa Rasulullah shalallahu

alaihi wasallam menunaikan ibadah shaum Ramadhan selama hidupnya sebanyak


sembilan kali.
Ibnul Qayyim mengatakan dalam Zadul Maad, bahwa difardhukannya shaum
Ramadhan melalui tiga tahapan :
1.
Kewajibnya yang bersifat takhyir (pilihan).
2.
Kewajiban secara Qathi (mutlak), akan tetapi jika seorang yang shaum
kemudian tertidur sebelum berbuka maka diharamkan baginya makan dan minum
sampai hari berikutnya.
3.
Tahapan terakhir, yaitu yang berlangsung sekarang dan berlaku sampai hari
kiamat sebagai nasikh (penghapus) hukum sebelumnya.()
Tahapan awal berdasarkan firman Allah I :

:)
(
Artinya :
Dan wajib bagi orang yang berat untuk menjalankan ash-shaum maka membayar
fidyah yaitu dengan cara memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya.
Barang siapa yang dengan kerelaan memberi makan lebih dari itu maka itulah yang
lebih baik baginya dan jika kalian melakukan shaum maka hal itu lebih baik bagi
kalian jika kalian mengetahuinya. [Surat Al-Baqarah 184]
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir :
Adapun orang yang sehat dan mukim (tidak musafir-pen) serta mampu
menjalankan ash-shaum diberikan pilihan antara menunaikan ash-shaum atau
membayar fidyah. Jika mau maka dia bershaum dan bila tidak maka dia membayar
fidyah yaitu dengan memberi makan setiap hari kepada satu orang miskin. Kalau
dia memberi lebih dari satu orang maka ini adalah lebih baik baginya. ()
Ibnu Umar [L] ketika membaca ayat ini mengatakan : bahwa ayat ini
mansukh (dihapus hukumnya-pen).()
Dan atsar dari Salamah ibnu Al-Akwa tatkala turunnya ayat ini berkata :

Barangsiapa hendak bershaum maka silakan bershaum dan jika tidak maka
silakan berbuka dengan membayar fidyah. Kemudian turunlah ayat yang
berikutnya yang memansukhkan (menghapuskan) hukum tersebut di atas. ()
Secara dhahir, ayat ini mansukh (dihapus) hukumnya
()
dengan ayat
sebagaimana pendapat jumhur ulama .
Tetapi dalam sebuah atsar Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, beliau berkata :
Ayat ini bukanlah mansukh melainkan rukhshoh (keringanan) bagi orang tua (lakilaki maupun perempuan) yang lemah supaya memberi makan seorang miskin
untuk setiap harinya. ()
Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir :
Kesimpulan bahwa mansukhnya ayat ini adalah benar
yaitu khusus bagi orang yang sehat lagi mukim dengan diwajibkannya ash-shaum
atasnya. Berdasarkan firman Allah
Adapun orang tua yang
lemah dan tidak mampu bershaum maka wajib baginya untuk berifthor (berbuka)
dan tidak ada qadha` baginya.()
Dan inilah tahapan kedua. Tetapi jika seseorang bershaum kemudian tertidur di
malam harinya sebelum berbuka maka diharamkan baginya makan, minum dan
jima sampai hari berikutnya.
Tahapan ini kemudian mansukh (dihapuskan) hukumnya berlandaskan hadits Al
Barra t:





r


: :







! : -
r
) (
( :



[ ) ]
Artinya :
Dahulu Shahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam jika salah seorang di
antara mereka shaum kemudian tertidur sebelum dia berifthar (berbuka) maka dia
tidak boleh makan dan minum di malam itu dan juga siang harinya sampai datang
waktu berbuka lagi. Dan (salah seorang shahabat yaitu), Qois bin Shirmah Al
Anshory dalam keadaan shaum, tatkala tiba waktu berbuka, datang kepada istrinya
dan berkata : apakah kamu punya makanan ? Istrinya menjawab : Tidak, tapi akan

kucarikan untukmu (makanan). dan Qois pada siang harinya bekerja berat
sehingga tertidur (karena kepayahan)- Ketika istrinya datang dan melihatnya
(tertidur) ia berkata : Rugilah Engkau (yakni tidak bisa makan dan minum
dikarenakan tidur sebelum berbuka- pen) ! Maka ia pingsan di tengah harinya. Dan
ketika dikabarkan tentang kejadian tersebut kepada Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam, maka turunlah ayat :

Telah dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan shaum (Ramadhan) untuk
berjima (menggauli) istri-istri kalian.
dan para shahabat pun berbahagia sampai turunnya ayat yang berikutnya yaitu :



Dan makan serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar.

[HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud]

Assalaamu'alaikum warahmatulloohi wabarakaatuh, Ustadz dimulai sejak zaman nabi


siapakah puasa Ramadhan, apakah sejak dulu satu bulan penuh Ramadhan.Jazakallohu
khoiron.(Lenti Herzana)
:

Jawab:

Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakatuh. Alhamdulillah, washsholaatu wassalaamu


'alaa rosulillah.
Kewajiban puasa ramadhan telah ada di dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana jelas di dalam ayat:


(183)
















Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana

diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (QS. Al-Baqoroh: 183).
Sebagian salaf mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang sebelum kita adalah
orang Nashrani, sebagian lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ahlul kitab,
sebagian yang lain mengatakan bahwa mereka adalah semua manusia sebelum kita,
mereka dahulu berpuasa Ramadhan penuh. Lihat atsar-atsar mereka di dalam Tafsir AthThabary ketika menafsirkan ayat yang mulia ini.
Kemudian Ath-Thabary menguatkan bahwa pendapat yang paling dekat adalah yang
mengatakan bahwa mereka adalah ahlul kitab, dan beliau mengatakan bahwa syariat puasa
satu bulan penuh di bulan Ramadhan adalah ajaran Nabi Ibrahim, yang Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam dan ummatnya diperintahkan untuk mengikutinya. (Lihat Tafsir
Ath-Thabary, tafsir Surat Al-Baqarah: 183)
Adapun kewajiban puasa Ramadhan bagi ummat Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi
wasallam maka datang melalui 2 fase:
Pertama: Takhyiir (diberi pilihan)
Puasa Ramadhan saat pertama kali diwajibkan, seorang muslim yang mampu berpuasa
diberi 2 pilihan, berpuasa atau memberi makan satu orang miskin, akan tetapi puasa lebih
diutamakan dan dianjurkan. Berdasarkan firman Alloh ta'aalaa yang berbunyi;










( 183)








183/( ] 184)
















[184
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Yaitu dalam beberapa
hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu
pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika
mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih
baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kalian mengetahui. (QS.Al-Baqoroh: 183184).
Salamah bin Akwa berkata;











- -






(








)




"Dahulu kami ketika di bulan Ramadhan pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam,
barangsiapa yang ingin berpuasa maka boleh berpuasa, dan barangsiapa yang ingin berbuka
maka dia memberi makan seorang miskin, hingga turun ayat Alloh (yang artinya);
Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa". (HR.Bukhari:
4507, Muslim: 1145)
Kedua: Ilzaam (pengharusan)
Dalam fase ini maka seorang muslim yang terpenuhi syarat wajib puasa harus berpuasa dan

tidak ada pilihan lain. Allah ta'aalaa berfirman:




(



)


Artinya: "Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa"
Pada awalnya orang yang tidur sebelum makan (berbuka puasa) atau sudah menunaikan
shalat isya maka dia tidak boleh makan, minum, dan berjima' hingga hari berikutnya.
Kemudian Allah ta'alaa memberikan keringanan dan membolehkan makan, minum, dan
mendatangi istri pada malam hari penuh di bulan Ramadhan.
Allah ta'aalaa berfirman:




















[187/ ]














Artinya: " Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri
kamu. Mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka.
Allah mengetahui bahwasanya kalian mengkhianati diri kalian sendiri (yaitu tidak dapat
menahan nafsu kalian), karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada
kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah
untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam" (QS.Al-Baqoroh:
187)
Demikianlah puasa diwajibkan terakhir kali dan tetap demikian hingga hari kiamat. (Lihat
keterangan Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma'aad 2/30)
Kapan Puasa Ramadhan Diwajibkan?

Imam Ibnul Qoyyim rahimahulloh mengatakan: Tatkala menundukkan jiwa dari perkara
yang disenangi termasuk perkara yang sulit dan berat, maka kewajiban puasa Ramadhan
tertunda hingga setengah perjalanan Islam setelah hijrah. Ketika jiwa manusia sudah
mapan dalam masalah tauhid, sholat, dan perintah-perintah dalam al-Quran, maka
kewajiban puasa Ramadhan mulai diberlakukan secara bertahap. Kewajiban puasa
Ramadhan jatuh pada tahun kedua hijriah, tatkala Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam
wafat, beliau sudah mengalami sembilan kali puasa Ramadhan. ( Zaadul Maad 2/29)