Anda di halaman 1dari 8

Sirah Singkat Dari Sebelum Hijrah Hingga Perang Badar

Perjalanan Peristiwa

Ibroh / Pelajaran

Beberapa kejadian sebelum peristiwa Badar :


1. Pasca peristiwa hijrah kaum muslimin ke Habasyah (Ethiopia), tekanan
orang-orang Quraisy terhadap sisa-sisa kaum muslimin di Makkah
semakin meningkat, lebih-lebih kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa
Sallam. Mengetahui kondisi ini Abu Thalib segera mengumpulkan Bani
Abdul Muthalib dan memerintahkan mereka untuk memasukkan
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam asy syib (celah diantara
dua bukit) mereka serta melindunginya dari orang-orang yang hendak
membunuhnya. Maka di bulan Muharram tahun ke-7 setelah kenabian,
kaum Quraisy melakukan pemboikotan, yaitu larangan transaksi jual
beli, larangan menikah, larangan berbicara dan larangan duduk
bersama, hingga mereka bersedia menyerahkan Rasulullah untuk
dibunuh. Semua suplai sandang maupun pangan terputus selama
sekitar 3 tahun, dan mereka dalam kondisi yang sangat mengenaskan,
hingga terdengar sayup-sayup tangisan anak-anak mereka dari balik
lembah. Termasuk yang mengalami penderitaan ini adalah keluarga
Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam.
2. Allah taala memperlihatkan kepada Rasul-Nya perihal lembaran ikrar
mereka, dimana Allah taala telah mengirim rayap untuk memakan
semua yang ada padanya, kecuali penyebutan nama Allah. Berita itu
disampaikan kepada pamannya Abu Thalib. Maka Abu Thalib mengirim
utusan kepada kaum Quraisy bahwa putera saudaranya telah
mengatakan begini dan begini. Tatkala lembaran tersebut diturunkan,
ternyata kondisinya sama seperti yang dikatakan oleh Rasulullah.
Namun kejadian menakjubkan ini justru menambah kekafiran mereka.
Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 setelah kenabian.
3. Pada tahun yang sama, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam keluar
dari pemboikotan. Abu Thalib meninggal 6 bulan setelah itu, sedangkan
Khadijah wafat 3 hari setelah Abu Thalib. Dan di tahun duka cita ini
Allah taala menurunkan surat Yusuf.
4. Setelah peristiwa tersebut, gangguan terhadap Nabi Shalallahu Alaihi
wa Sallam semakin meningkat. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam
pun keluar menuju Thaif dengan harapan mendapatkan perlindungan
dan pembelaan dari gangguan kaumnya. Namun tak tampak diantara
mereka berkenan memberi perlindungan dan pembelaan. Bahkan
mereka menghimpun orang-orang dungu untuk menentang dan
melemparinya dengan batu hingga kedua kaki beliau terluka.
5. Akhirnya Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam kembali ke Makkah di bawah
perlindungan Muthim bin Adi (salah seorang tokoh yg menentang
pemboikotan). Beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam sampai ke hajar
aswad dan menyentuhnya lalu shalat 2 rakaat, setelah itu kembali ke
rumahnya. Sementara Muthim bin Adi dan anak-anaknya terus
melingkarinya hingga beliau masuk rumah.
6. Kemudian Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam menanyakan kabilahkabilah dan tempat-tempat mereka satu persatu untuk diajak kepada
Islam. Beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam berkata, Wahai sekalian
manusia, ucapkanlah Laa ilaaha illallaah, niscaya kalian akan
beruntung. Sementara Abu Lahab di belakangnya berkata, Jangan
kalian taati, sesungguhnya dia itu shabi (orang yang keluar dari agama)
dan pendusta. Maka kabilah-kabilah itu menolak ajakan Rasulullah
Shalallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, Keluarga dan margamu lebih
tahu tentang dirimu, sementara mereka tidak mau mengikutimu.
7. Pada musim haji masih di tahun yang sama, Rasulullah Shalallahu
Alaihi wa Sallam bertemu 6 orang dari kaum Anshar di Aqabah,
semuanya berasal dari suku Khazraj. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam mengajak mereka kepada Islam dan mereka pun masuk Islam.
Pada tahun berikutnya, datang dari mereka 12 orang, lalu mereka
mengikrarkan janji dengan Baiat Aqabah. Kemudian mereka kembali ke
Madinah dan Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam mengutus bersama
mereka Amr bin Ummi Maktum serta Mushab bin Umair. Pada malam
Aqabah, bergerak secara perlahan mendekati Rasulullah Shalallahu
Alaihi wa Sallam 73 laki-laki dan 2 wanita Anshar. Mereka membaiat
Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam secara sembunyi-sembunyi.
Abul Al Haitsam bin At Tayyihan berkata, Wahai Rasulullah,
sesungguhnya kami memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi

1. Sejak awal, Nabi Shalallahu Alaihi wa


Sallam lebih mementingkan kualitas
daripada kuantitas, dan lebih memberi
perhatian pada kondisi hati dan jiwa orangorang yang telah beliau ajak, bukan pada
jumlah mereka semata. Hal inilah yang
menjadikan generasi terbaik ini memiliki
ketahanan, keteguhan dan kesabaran
dalam menghadapi begitu beratnya ujian,
berupa penganiayaan dan pengucilan yang
mereka terima di awal-awal dakwah ini .
2. Penolakkan orang-orang Quraisy adalah
contoh karakteristik kaum yang menolak
dan menentang Nabi Shalallahu Alaihi wa
Sallam dengan keras, meskipun berbagai
argumen dan dalil diketengahkan.
Terutama karena ajaran ini akan
mengancam, baik terhadap kebiasaan
maupun kekuasaan mereka.
3. Tidak ada sesuatu yang berjalan secara
kebetulan, semuanya dalam pengawasan
Allah taala, termasuk rahasia
diturunkannya surat Yusuf di masa duka
cita. Maka mengetahui lebih mendalam
kandungan surat Yusuf akan memudahkan
kita dalam memahami peristiwa-peristiwa
selanjutnya, bahwasannya urusan-Nya
begitu luar biasa, sebagaimana Dia
mengatur urusan Nabi Yusuf.
4. Beratnya dahwah Nabi Shalallahu Alaihi
wa Sallam, dari Jabir beliau menceritakan,
Sesungguhnya Nabi Shalallahu Alaihi wa
Sallam tinggal di Makkah 10 tahun
mendakwahi orang-orang di tempattempat mereka pada musim-musim haji.
Beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam berkata,
Siapa yang mau memberi perlindungan
kepadaku, siapa yang mau memberi
pertolongan kepadaku, hingga aku dapat
menyampaikan risalah-risalah Rabb-ku dan
baginya surga? Namun beliau tidak
mendapati seorangpun yang menolongnya,
hingga jika seseorang berangkat dari
Mudhar atau Yaman mengunjungi
kerabatnya, maka ia didatangi oleh
kaumnya dan berkata kepadanya, Berhatihatilah terhadap si pemuda Quraisy, jangan
sampai ia memfitnahmu. Beliau Shalallahu
Alaihi wa Sallam mendatangi pemukapemuka mereka untuk diajak kepada Allah
taala, namu mereka mengisyaratkan
dengan jari-jari tangan. (HR. Ahmad)
5. Diantara perkara yang diatur Allah taala
untuk Rasul-Nya, bahwa Aus dan Khazraj
biasa mendengar dari kaum Yahudi
Madinah, bahwa seorang Nabi diantara
para Nabi yang diutus zaman ini akan
segera muncul. Kami (Yahudi) akan
mengikutinya dan memerangi kalian
bersamanya, sebagaimana pembunuhan
kaum Aad dan Iram. Adapun orang-orang
Arab mengerjakan haji ke Kabah
sebagaimana suku-suku Arab yang lain,
sedangkan orang-orang Yahudi tidak
demikian. Latar belakang ini tentunya

dan kami akan memutusnya. Jika kami telah melakukannya dan Allah
memenangkanmu, apakah engkau akan kembali bergabung bersama
kaummu dan meninggalkan kami? Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam tersenyum, lalu bersabda, Tidak. Darah kalian adalah darahku,
kehormatan kalian adalah kehormatanku. Aku adalah bagian dari kalian
dan kalian adalah bagian dariku.
8. Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan kaum
muslimin untuk hijrah ke Madinah. Peristiwa ini terjadi di awal tahun
ke-13 setelah kenabian. Tercatat orang pertama yang keluar menuju
Madinah adalah Abu Salamah bin Abdil Asad bersama istrinya, Ummu
Salamah. Namun malang bagi Ummu Salamah, ia sempat ditawan dan
dipisahkan dari suami dan anaknya hingga satu tahun. Termasuk yang
tidak berangkat di awal adalah putri Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam,
Zainab Al Kubro.

6.

7.

Orang Quraisy menyita benda-benda tak bergerak dan harta yang


ditinggalkan oleh kaum muslimin yang hijrah. Sebagai gantinya, maka Nabi
Shalallahu Alaihi wa Sallam mengirim beberapa ekspedisi untuk mencegat
kafilah dagang orang-orang Quraisy, diantaranya :
1. Ekspedisi (Sariyyah : peperangan tanpa keikutsertaan Nabi Shalallahu
Alaihi wa Sallam) Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiyallahu Anhu ke
pesisir, terjadi di bulan ke-7 (Ramadhan) setelah Hijrah (tahun
pertama). Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam mengirim 30 laki-laki
Muhajirin, misi ekspedisi ini mencegat kafilah dagang kaum Quraisy
yang datang dari Syam, dipimpin oleh Abu Jahal bin Hisyam bersama
300 laki-laki. Mereka bertemu dan telah mengatur barisan, namun
terjadi negosiasi diantara mereka hingga berhasil memisahkan mereka
tanpa terjadi peperangan
2. Ekspedisi Ubaidah bin Al Harits bin Al Muthalib ke Bathan Rabigh,
terjadi di bulan ke-8 (Syawal) setelah Hijrah. Mereka terdiri dari 60
Muhajirin, ekspedisi ini bertemu Abu Sufyan bin Harb dengan kekuatan
200 orang di Bathan Rabigh, hanya terjadi perang jarak jauh (perang
panah)
3. Ekspedisi Saad bin Abi Waqqash ke Kharrar, terjadi di awal bulan ke-9
(Dzulqadah) setelah Hijrah. Terdiri dari 20 orang penunggang kuda
dengan tujuan mencegat kafilah dagang kaum Quraisy, namun kafilah

1.

2.

menjadikan sikap orang-orang Anshar


terhadap Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam
berbeda dengan sikap mayoritas kaum
Quraisy kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa
Sallam.
Pernyataan Abul Al Haitsami menunjukkan
kuatnya ikatan kesukuan saat itu,
sedangkan mereka khawatir Nabi
Shalallahu Alaihi wa Sallam memiliki sikap
demikian jika kaumnya (Quraisy) telah
menerimanya kembali. Dan perasaan
emosional ini akan lebih terasa di saat
perang Hunain, dimana Nabi Shalallahu
Alaihi wa Sallam telah kembali bersama
kaum Quraisy dan membagi-bagikan
sebagian besar rampasan perang kepada
kaumnya sedangkan Anshar tidak
mendapatkan sedikitpun.
Namun Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam menegaskan posisinya di tengahtengah kaum Anshar. Dibutuhkan
kecerdasan untuk mendengar, memahami
dan memilih kata-kata yang tepat
manakala yang dipimpin memiliki latar
belakang yang berbeda.
Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dan para
shahabat adalah insan yang secara potensi
fisik sama dengan kita semua. Maka dalam
menghadapi benturan kepentingan
maupun gejolak perasaan contoh terbaik
adalah dari mereka semua. Bagaimana
perasaan Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam
saat menghadapi ancaman pembunuhan,
dan secara bersamaan harus memikirkan
keselamatan para shahabat dan kondisi
putri-putrinya yang juga dalam ancaman?
Bagaimana perasaan Ummu Salamah yang
gagal hijrah, kemudian terpisah dari suami
dan anak tercinta, dan harus berada di
tempat yang tidak kondusif dalam
menjalankan ibadah, namun dituntut untuk
tetap teguh dalam keyakinan agama yang
baru? Apakah beliau menyerah dan
kembali ke agama yang lama?
Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu. (TQS. Al Ahzab:21)
Peristiwa ini menunjukkan bolehnya
merampas dan menguasai harta kekayaan
kaum kafir harbi manakala mampu
mengambilnya.
Meski demikian, Allah taala memalingkan
kepada tujuan yang lebih mulia, yaitu
berdakwah di jalan-Nya dan berkorban
dengan nyawa dan harta demi meninggikan
kalimat-Nya.

tersebut telah lewat sehari sebelumnya.


4. Perang Al Abwa (biasa disebut Waddan/Wuddan), adalah perang
(Ghazwah) pertama yang diikuti oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam. Terjadi di bulan ke-12 (Shafar)setelah Hijrah, beliau Shalallahu
Alaihi wa Sallam membawa pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin
secara khusus dengan misi mencegat kafilah dagang kaum Quraisy,
namun beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak mendapat sasarannya.
5. Perang Buwath, terjadi di bulan ke-13 (Rabiul Awwal) setelah hijrah.
Beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam membawa 200 shahabatnya untuk
mencegat kafilah dagang kaum Quraisy, yang terdapat Umayyah bin
Khalaf bersama 100 laki-laki dan 2500 ekor unta. Akan tetapi beliau
Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak mendapatkan sasarannya.
6. Perang Al Usyairah, terjadi di bulan ke-16 (Jumadil Akhir) setelah
Hijrah. Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam membawa sekitar 150-200
orang Muhajirin, mereka membawa 30 ekor unta yang dinaiki secara
bergantian. Misi ini bertujuan mencegat kafilah dagang kaum Quraisy
pimpinan Abu Sufyan yang bergerak menuju Syam, namun kafilah
tersebut sudah lewat beberapa hari sebelumnya. Kafilah inilah yang
hendak dicegat beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam saat kembali dari
Syam.
7. Ekspedisi Abdullah bin Jahsy Al Asadi ke Nakhlah, terjadi di awal bulan
ke-17 (Rajab) setelah Hijrah. Ekspedisi ini berkekuatan 12 orang
Muhajirin, setiap dua orang bergantian menunggangi seekor unta. Misi
ekspedisi ini untuk mengintai kafilah dagang kaum Quraisy. Di tengah
perjalanan Saad bin Abi Waqqash dan Utbah bin Ghazwan kehilangan
unta yang mereka naiki. Maka Abdullah bin Jahsy semakin jauh
meninggalkan mereka (tinggal 10 orang), hingga sampai di Nakhlah,
bertepatan lewatnya kafilah dagang kaum Quraisy. Kaum muslimin
bermusyawarah dan berkata, Kita berada di akhir bulan Rajab yang
termasuk bulan haram. Jika kita perangi mereka niscaya kita telah
melanggar kehormatan bulan haram. Tetapi jika kita membiarkan
mereka malam ini niscaya mereka telah masuk wilayah haram.
Kemudian mereka sepakat menghadangnya, salah seorang melesatkan
panahnya tepat mengenai Amr bin Hadrami dan berhasil
membunuhnya. Mereka juga berhasil menahan Utsman (putra
Abdullah bin Mughirah) dan Al Hakam. Setelah itu mereka membawa
bawaan kafilah tersebut beserta dua tawanan dan menyisihkan al
khumus (bagian seperlima) dari harta yang didapat. Inilah al khumus
pertama dalam Islam, korban pertama dalam Islam, dan dua tawanan
pertama dalam Islam. Akan tetapi Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam mengingkari perbuatan mereka dan kaum Quraisy mengecam
dengan keras. Mereka mengira telah mendapatkan kesempatan untuk
menyudutkan kaum muslimin, maka mereka berkata, Muhammad
telah menghalalkan bulan haram. Kecaman ini terasa berat bagi kaum
muslimin hingga Allah taala menurunkan firman-Nya, Mereka
bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram.
Katakanlah.....(QS. Al Baqarah : 217)
Pemindahan arah kiblat, terjadi di bulan ke-17 (Rajab) setelah Hijrah atau
dua bulan sebelum peristiwa Badar. Firman-Nya, Dan sungguh
(pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang
telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan
imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
manusia. (TQS. Al Baqarah : 143)

1. Wahyu merupakan anugerah dan juga


beban. Dengan bentuk dan kandungannya
yang sangat menggugah jiwa, Al Quran
merupakan mukjizat. Ia juga mewakili
tanggung jawab yang sangat berat bagi kaum
muslimin. Dimensi ini terlihat sejak wahyu
awal turun, seperti firman-Nya, Dan bacalah
Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
Sesungguhnya Kami akan menurunkan
kepadamu perkataan yang berat. (TQS. Al
Muzammil : 4-5). Teks wahyu selalu
menampilkan dirinya, baik sebagai pengingat
yang indah, maupun perintah moral yang
berat.
2. Karena urusan kiblat dan perkaranya
sangatlah besar, maka Allah taala
mendahuluinya dengan urusan nasakh
(penghapusan hukum, terdapat dalam QS. Al
Baqarah : 106). Diberitahukan bahwa Dia
mendatangkan kebaikkan lebih baik dari apa
yang dihapus atau minimal sepertinya.

Pada bulan ke-19 setelah hijrah atau Ramadhan di tahun ini, sampai berita
kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam tentang kafilah Quraisy yang akan
kembali dari Syam. Kafilah ini pula yang pernah hendak dicegat oleh Nabi
Shalallahu Alaihi wa Sallam ketika baru berangkat dari Makkah. Mereka
terdiri dari 40 orang laki-laki dan harta benda yang sangat banyak milik
kaum Quraisy. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam pun meminta kepada
shahabat secara sukarela agar keluar mencegatnya. Keberangkatan ini tidak
dipersiapkan oleh Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dengan matang. Karena
beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam keluar dengan terburu-buru membawa
300 lebih laki-laki, turut bersama mereka 70 ekor unta yang ditunggangi
secara bergantian. Mereka terdiri atas 86 orang Muhajirin dan 231 orang
Anshar (61 orang Bani Aus dan 170 orag Bani Khazraj). Tidak turut dalam
ekspedisi ini shahabat mulia Utsman bin Affan, beliau diminta Nabi
Shalallahu Alaihi wa Sallam untuk tetap tinggal di Madinah, menemani
istrinya (yang juga putri Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam) yang sedang
sakit keras, Ruqayyah.
Setelah dekat Ash Shafra, beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam mengirim
Basbas bin Amr Al Juhani dan Adi bin Abiz Zaghba ke Badar untuk mencari
informasi tentang kafilah dagang itu. Adapun Abu Sufyan, telah sampai
kepadanya berita keberangkatan Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dan misi
beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam untuk mencegat kafilahnya. Maka dia
mengirim Adh Dhamdham bin Amr Al Ghifari ke Makkah untuk meminta
pertolongan kaum Quraisy. Maka mereka bangkit dan keluar tanpa
terkecuali. Mereka juga memobilisir kabilah-kabilah Arab di sekitarnya.
Mereka datang diirngi kemarahan terhadap rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam dan shahabatnya yang ingin mencegat kafilah dagang mereka dan
membunuh para pengawalnya. Sebelumnya kaum muslimin telah
membunuh Amr bin Al Hadrami dan merampas akomodasi yang dibawanya.
Setelah yakin berhasil menghindari penyerangan, Abu Sufyan mengirim
utusan lain kepada para pemimpin Quraisy. Namun, saat itu para pemuka
Quraisy telah berangkat bersama sekitar seribu orang, dan atas desakan Abu
Jahal, mereka harus melanjutkan ekspedisi kendati ancaman sudah berlalu.
Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam yang baru tiba di Badar mendengar bahwa
sebuah pasukan besar telah berangkat dari Makkah. Perubahan rencana
secara total pun dilakukan, mereka keluar dari Madinah untuk merebut
barang bawaan kafilah dagang (yang gagal mereka lakukan), dan kini
pasukan yang tiga kali lipat lebih besar sedang bergerak ke arah mereka.
Ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mendapat berita kedatangan
kaum Quraisy, beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam bermusyawarah dengan
para shahabatnya. Abu Bakar dan Umar berbicara terlebih dahulu dan
menegaskan kesiapan mereka untuk maju dan menghadapi resiko perang
skala besar. Seorang Muhajirin lainnya, Miqdad bin Amr berbicara setelah
mereka, Kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang
dikatakan kaum Musa kepada Musa, Pergilah engkau dan rabb-mu,
berperanglah kamu berdua, sungguh kami di sini duduk-duduk. Akan tetapi
kami akan berperang di arah kananmu, di arah kirimu, di hadapanmu dan di
belakangmu. Sikap mereka membuat Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam
senang dan tenteram, karena inilah yang pasti akan beliau dengar dari
orang-orang Muhajirin. Orang-orang Ansharlah yang beliau Shalallahu Alaihi
wa Sallam harapkan dapat memberikan dukungan eksplisit, karena mereka
tidak terlibat langsung dalam konflik dengan orang Quraisy. Sedang
perjanjian saling menolong yang mereka berikan hanya mengikat mereka
dalam kasus perang di Madinah, bukan di luar kota tersebut. Atas nama
orang Anshar, Saad bin Muadz berkata, Berangkatlah kemana engkau
kehendaki, sambungkan tali siapa yang engkau kehendaki, putuskan tali
siapa yang engkau kehendaki, ambillah dari harta benda kami apa yang
engkau kehendaki, berikan kepada kami apa yang engkau kehendaki, apapu
yang angkau perintahkan tentang sesuatu maka urusan kami mengikuti
perintahmu. Demi Allah, sekiranya engkau berjalan hingga Al Bark di
Ghamadan, sungguh kami akan berjalan bersamamu. Demi Allah, sekiranya
engkau membawa kami ke laut ini, niscaya kami akan menyelaminya
bersamamu.

Kemudian diikuti celaan bagi siapa yang


menentang Rasulullah dan tidak tunduk
kepadanya.
Maka kaum muslimin akan berkata, kami
beriman kepadanya, semuanya dari sisi Rabb
kami. (TQS. Ali Imran : 7)
1. Sebagaimana disebutkan sebelumnya,
motif utama kaum muslimin keluar
bukan untuk berperang, tetapi untuk
mencegat kafilah dagang kaum Quraisy,
sebagai ganti harta kaum muslimin yang
tertinggal di Makkah, dengan harapan
dapat membaiki kondisi ekonomi
mereka.
Tetapi hikmah ilahiah tidak
menghendaki kaum muslimin
menjadikan harta benda sebagai ukuran
atau bagian dalam memutuskan
perkara-perkara mereka yang terbesar,
yang harus semata-matadidasarkan
pada agama,bagaimanapun kondisi
mereka. Sebab, jika pandangan
materialistik itu dibiarkan pada saat
mereka menghadapi pengalaman
pertama, dikhawatirkan hal tersebut
akan menjadi kaidah yang baku,
sehingga pertimbangan materialistik
tersebut akan menghancurkan hukumhukum yang harus tetap bersih, tidak
bercampur dari tujuan-tujuan duniawi.

1. Komitmen Rasulullah Shalallahu Alaihi wa


Sallam kepada prinsip musyawarah dengan
para shahabatnya, khususnya dalam
menghadapi masalah yang tidak dijelaskan
secara tegas oleh Wahyu Allah taala. Oleh
sebab itu kaum muslimin menyepakati
bahwa syura dalam masalah yang tidak
ditegaskan oleh nash Al Quran dan hadits
adalah prinsip yang tidak boleh diabaikan.
Adapun menyangkut masalah yang telah
ditrgaskan oleh Al Quran atau hadits,
maka tidak diperlukan lagi adanya syura
dan bahkan tidak boleh dikalahkan oleh
kekuasaan apapun.
2. Mengamati jawaban Saad bin Muadz
dapatlah diketahui bahwa janji setia kaum
Anshar yang diberikan kepada Nabi
Shalallahu Alaihi wa Sallam sebelum
hijrah, merupakan janji setia kepada Allah
taala. Persoalannya bukan sekedar
menyangkut butir-butir tertentu yang telah
mereka sepakati bersama Nabi Shalallahu
Alaihi wa Sallam, sehingga mereka tidak
mau komit dengan hal-hal diluar butir-butir
yang telah dibuat, tetapi persoalannya

bahwa dengan janji setia itu berarti mereka


telah menandatangani suatu perjanjian
yang agung yang dimuat dalam firman-Nya
:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang mukmin, diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk
mereka. (TQS. At Taubah : 111)
Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam terus bergerak hingga
1. Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam
berkemah di dekat sumber mata air Badar yang pertama ketika hari
senantiasa mendorong shahabat untuk
menjelang sore. Hubab bin Mundzir berkata, Ya Rasulullah, apakah dalam
mengutarakan pendapat dan
memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah taala yang tidak dapat
mendengarkan mereka dengan seksama.
diubah lagi? Ataukah berdasarkan tipu muslihat peperangan? Rasulullah
Lebih jauh lagi, beliau Shalallahu Alaihi wa
Shalallahu Alaihi wa Sallam menjawab, Tempat ini kupilih berdasarkan
Sallam juga mengembangkan kemampuan
pendapat dan tipu muslihat peperangan. Al Hubab mengusulkan, Wahai
kritis mereka, mengasah bakat mereka.
Rasulullah, aku mengetahui seluk beluk tempat ini serta sumur-sumurnya.
Adakalanya Nabi Shalallahu Alaihi wa
Sekiranya engkau setuju kita terus bergerak ke sumur yang telah kami
Sallam melontarkan pertanyaanketahui. Airnya sangat banyak dan nyaman. Kita berkemah disana dan
pertanyaan tentang beragam tema dan
mendahului mereka lalu kita cemari sumber-sumber air lainnya. Dengan
memberikan jawabannya hanya setelah
demikian selama perang musuh-musuh Islam mengalami kesulitan untuk
para shahabat memikirkan sendiri dan
mendapatkan air. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menjawab,
mengungkapkan berbagai perkiraan
Pendapatmu sungguh baik. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam
jawaban. Misalnya beliau pernah menyeru,
kemudian berpindah ke tempat yang diusulkan Hubab bin Mundzir. Dan atas
Bantulah saudaramu, baik ketika didzolimi
usulan Saad bin Muadz Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dibuatkan
atau ketika berbuat dzolim!Sontak
singgasana di atas bukit kecil untuk memantau pertempuran.
shahabat berujar, Ya Rasulullah, kami
akan membantu saudara kami yang
didzolimi, tapi terhadap saudara kami yang
berbuat dzolim, bagaimana kami
membantunya? Baru Nabi Shalallahu
Alaihi wa Sallam melanjutkan
penjelasannya, Cegah dia atau halangi ia
dari berbuat kedzoliman, itulah cara kalian
membantunya.
Kemudian Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam berjalan di medan
1. Mengapa Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam
peperangan dan menunjuk dengan tangannya, Ini tempat pembunuhan si
sampai merendahkan dirinya sedemikian
Fulan..ini tempat pembunuhan si Fulan..ini tempat pembunuhan si
rupa di hadapan Allah taala, padahal
Fulan..in syaa Allah. Sungguh tidak ada satu pun diantara mereka yang
beliau telah yakin akan mendapatkan
meleset dari tempat yang ditunjuk oleh beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam.
pertolongan, sampai beliau menunjukkan
(HR. Ahmad dan Muslim)
tempat kematian orang-orang kafir
Ketika kaum musyrikin muncul dari balik bukit dan beliau Shalallahu Alaihi
Quraisy?
wa Sallam melihat mereka yang berjumlah sekitar seribu orang sementara
Jawabannya, bahwa keyakinan Nabi
para Shahabatnya berjumlah 317 orang, maka Nabi Shalallahu Alaihi wa
Shalallahu Alaihi wa Sallam terhadap
Sallam menghadap kiblat sambil menengadahkan kedua tangannya,
kemenangan hanyalah merupakan
kemudian berdoa, Ya Allah, tunaikan untukku apa yang telah Engkau
pembenarannya terhadap janji yang telah
janjikan kepadaku. Ya Allah, berikan apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya
diberikan Allah taala kepada Rasul-Nya.
Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini dari pemeluk Islam, niscaya
Adapun kekhusyuan Nabi Shalallahu Alaihi
Engkau tidak akan lagi diibadahi di muka bumi. Beliau Shalallahu Alaihi wa
wa Sallam dalam berdoa dan
Sallam terus memohon kepada Rabb-nya hingga selendangnya jatuh dari
menengadahkan tangan ke langit, maka hal
kedua pundaknya. Abu Bakar datang sambil meraihnya dari belakang
itu sudah menjadi tugas ubudiyah yang
kemudian berkata, Wahai Nabi Allah, cukuplah bagimu permintaanmu
menjadi tujuan penciptaan manusia.
terhadap Rabb-mu, sungguh Dia akan untukmu apa yang dijanjikannya
Segala bentuk musibah dan bencana yang
kepadamu.
menimpa manusia dalam kehidupan tiada
lain merupakan peringatan yang
menyadarkannya terhadap kewajiban
ubudiyah kepada Allah taala. Agar
manusia lari kepada Allah taala dan
menyatakan segala kelemahannya di
hadapan Allah taala.
Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku
mengadukan kesusahan dan kesedihanku.
(TQS. Yusuf : 86)
Ketika musuh mendekat dan pasukan sudah saling berhadapan, Rasulullah
1. Barangsiapa yang mengharap pertemuan
Shalallahu Alaihi wa Sallam berdiri diantara manusia, mengabarkan kepada
dengan Allah, maka sesungguhnya waktu
mereka bahwa Allah telah menetapkan surga bagi siapa yang syahid di jalan(yang dijanjikan) Allah itu, pasti akan
Nya. Mendengar itu, Umair bin Al Hammam berdiri dan berkata, Wahai
datang. (TQS. Al Ankabut : 5)
Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi? Beliau menjawab,
Kerinduan membawa orang untuk sungguhBenar! Ia berkata, Wahwah.wahai Rasulullah. Beliau bertanya, Apa
sungguh berjalan menuju apa yang
yang menyebabkanmu mengatakan Wahwah! Ia menjawab, Demi
dicintainya, mendekatkan jalan kepadanya,

Allah wahai Rasulullah, tidak ada maksud lain kecuali harapanku menjadi
penghuninya. Perawi berkata, ia mengeluarkan beberapa kurma lalu
memakan beberapa biji, kemudian berkata, Jika aku hidup hingga
memakan kurma-kurma ini, maka sungguh ia adalah kehidupan yang sangat
lama. Maka ia membuang kurma-kurma yang ada padanya kemudian
berperang hingga terbunuh. (HR. Ahmad, Muslim dan Al Hakim). Iapun
tercatat sebagai orang pertama yang gugur, sedangkan dalam Al Bidayah
disebutkan korban pertama dari kalangan kaum muslimin adalah Mahja
maula (mantan Budak) Umar yang terkena anak panah.

serta menganggap mudah kepedihan dan


kesulitan karenanya.
Ini merupakan nikmat paling besar yang
diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya
2. Begitu tidak nyamannya dunia ini dalam
pandangan orang mukmin, sebanyak apapun
fasilitas yang ia rasakan, tidak sebanding
dengan kenikmatan akhirat, ibarat orang
yang terpenjara dibandingkan mereka yang
bebas menikmati kehidupan. Maka hatinya
tidak tenang, dan berupaya segera keluar
dari penjara menuju tempat kebahagiaan.
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada
Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya. (TQS. Al Fajr : 27-28)
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengambil pasir sepenuh
1. Beberapa tahun sebelumnya, saat masih di
genggaman tangannya dan melemparkannya ke wajah-wajah musuh. Tidak
Makkah, Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam
seorangpun diantara mereka melainkan pasir itu mengenai matanya dan
pernah ditanya pemuka Quraisy atas
merekapun disibukkan oleh pasir di mata mereka. Maka kaum muslimin
masukan rabi Yahudi. 1)Terkait sebuah kisah
disibukkan membunuh mereka. Kemudia Allah taala menurunkan kepada
tentang sekelompok pemuda yang
Rasul-Nya tentang lemparan ini, Tidaklah engkau melempar ketika engkau
mengasingkan diri dari kaum mereka,
melempar, akan tetapi Allah-lah yang melempar. (QS. Al Anfaal : 17)
2)Mengenai seorang petualang besar yang
mencapai ujung dunia dan 3)Tentang hakikat
ruh. Maka beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam
Beberapa mujizat yang lain :
langsung menjawabnya tanpa jeda, Aku
1. Pada hari itu pedang Ukkasyah bin Mihshan patah, maka Nabi
akan menjawab pertanyaan kalian esok
Shalallahu Alaihi wa Sallam memberikan sepotong kayu bakar
hari. Namun keesokan harinya malaikat
kepadanya seraya bersabda, Ambillah olehmu kayu ini. Ketika
Jibril tidak muncul, tidak ada wahyu, bahkan
Ukkasyah mengambilnya dan menggoncangkannya, tiba-tiba kayu itu
pada hari berikutnya sampai empat belas
berubah menjadi pedang yang panjang dan sangat putih. Pedang itu
hari. Dihari ke-14 beliau menerima wahyu
senantiasa ada padanya dan ia gunakan berperang hingga beliau
dan sebuah penjelasan, Dan jangan sekaliterbunuh dalam peperangan melawan kaum murtad di masa Khalifah
kali kamu mengatakan terhadap sesuatu,
Abu Bakar.
Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu
2. Rifaah bin Rafi berkata, Aku dilempar anak panah dalam perang
esok pagi. Kecuali dengan (dengan
Badar dan menyebabkan lepasnya biji mataku. Rasulullah Shalallahu
menyebut) In syaa Allah.....(TQS. Al Kahfi :
Alaihi wa Sallam meludahinya dan berdoa untukku. Setelah itu aku
23-24)
tidak pernah merasa terganggu sedikitpun karenanya.
Wahyu mengingatkan Nabi Shalallahu Alaihi
wa Sallam , apapun statusnya,
bagaimanapun ilmu yang telah diraih, nasib
kita bergantung pada Rabb semesta alam.
Inilah makna ungkapan In syaa Allah (jika
Allah mengijinkan), ia menegaskan
kesadaran manusia akan keterbatasannya,
perasaan rendah hati seseorang yang
hendak berbuat sesuatu dan mengetahui
bahwa di atas semua yang ia lakukan dan
katakan, Allah-lah yang memiliki kekuasaan
untuk mewujudkannya.
Hal ini tidak menunjukkan bahwa kita tidak
perlu berbuat, namun sebaliknya, bahwa kita
jangan pernah berhenti berbuat, dengan
diiringi kesadaran tentang keterbatasan
manusia.
Melempar adalah usaha manusia, namun
sampai sasaran atau tidak (hasil) merupakan
ketetapan Allah taala semata.
Maka, apapun kesulitan yang sedang kita
hadapi, kekuatan dan kebebasan kita di
dunia terletak dalam kesadaran akan
ketergantungan pada Sang Pencipta.
Allah taala menyerahkan kepada kaum muslimin diri-diri kaum musyrikin
1. Turunnya para malaikat untuk
untuk dibunuh dan ditawan lewat perantara para malaikat-Nya. Berikut
berperang bersama kaum muslimin
beberapa diantaranya :
merupakan peneguhan hati kaum
1. Ibnu Abbas berkata, Ketika seorang laki-laki muslim mengejar seorang
muslimin sekaligus jawaban terhadap
laki-laki musyrik di hadapannya, tiba-tiba ia mendengar pukulan
istighotsah (permohonan pertolongan)
cambuk di atasnya disertai suara penunggang kudadi bagian atasnya
demi menghadapi peperangan pertama
yang berkata, Majulah wahai Haizum! Tiba-tiba ia melihat laki-laki
di jalan Allah, melawan musuh yang
musyrik di hadapannya tergeletak. Ia melihat laki-laki musyrik itu
jumlahnya tiga kali lebih banyak.

ternyata hidungnya pecah dan wajahnya terluka seperti bekas pukulan


cambuk.hal serupa terjadi pada sejumlah orang. Seorang laki-laki
Anshar datang dan menceritakannya kepada Rasulullah Shalallahu
Alaihi wa Sallam, maka beliau bersabda, Engkau benar, itu adalah
tambahan dari langit ketiga (HR. Muslim)
2. Abu Dawud Al Mazini berkata, Aku sedang mengejar seorang laki-laki
musyrik untuk menebasnya, tetapi ternyata kepalanya terjatuh
sebelum pedangku sampai kepadanya, maka aku tahu dia dibunuh oleh
selainku. (HR. Ahmad)
3. Seorang laki-laki Anshar datang membawa Al Abbas bin Al Muthalib
sebagai tawanan. Al Abbas berkata, Demi Allah, bukan orang ini yang
menangkapku, tetapi aku ditangkap oleh seorang laki-laki botak dan
termasuk manusia yang wajahnya paling tampan, ia mengendarai kuda
tangguh, tetapi aku tidak melihatnya diantara orang-orang ini. Laki-laki
Anshar berkata, Aku yang menangkapnya wahai Rasulullah. Beliau
Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Diamlah, sungguh engkau telah
dibantu oleh Allah dengan malaikat yang mulia. (HR. Ahmad)
Setelah peperangan berakhir, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam datang
hingga berdiri di hadapan orang-orang yang terbunuh. Kemudian Nabi
Shalallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar mereka diseret ke salah
satu sumur Badar dan diceburkan ke dalamnya. Kemudian beliau berdiri dan
bersabda, Wahai Utbah bin Rabiah, wahai Syaibah bin Rabiah, wahai
fulan, wahai fulan, apakah kalian sudah mendapatkan apa yang dijanjikan
Rabb kalian sebagai suatu kebenaran? Sungguh aku telah mendapati apa
yang dijanjikan Rabb-ku sebagai kebenaran. Umar bin Khaththab berkata,
Wahai Rasulullah, apa yang engkau bicarakan dengan orang-orang yang
telah menjadi bangkai? Beliau bersabda, Demi yang jiwaku berada di
tangan-Nya, kalian tidaklah lebih mendengar apa yang aku katakana
dibandingkan mereka. Akan tetapi mereka tidak mampu menjawab. (HR.
Bukhari)

1.

2.

3.

Dalam peristiwa itu telah syahid dari kaum muslimin sebanyak 14 orang, 6
1.
orang dari kaum Muhajirin, 6 orang dari suku Khazraj dan 2 orang dari suku
Aus. Sedangkan dari kaum Musyrikin sebanyak 70 orang terbunuh dan 70
orang lagi tertawan, diantaranya paman beliau Shalallahu Alaihi wa Sallam
Al Abbas bin Abdul Muthalib dan menantu Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam,
istri dari putri tercinta Zainab Al Kubro, Abu Al Ash bin Rabi. Rasulullah
Shalallahu Alaihi wa Sallam bersama para shahabat tinggal di Badar selama
3 malam sebelum kembali ke Madinah.
Ketika sampai di Madinah, Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dikabari tentang
kematian putrinya, Ruqayyah, istri shahabat Utsman bin Affan.
Tawar menawar dengan keluarga tawanan telah dimulai. Beberapa keluarga
datang untuk menebus tawanan, sementara yang paling miskin diselesaikan

Sesungguhnya kemenangan itu sematamata datangnya dari Allah taala. Para


malaikat itu sendiri tidak memiliki
pengaruh secara langsung.
(Ingatlah) ketika kamu memohon
pertolongan kepada Tuhan-mu, lalu
diperkenankan-Nya bagimu,
Sesungguhnya Aku akan
mendatangkan bala bantuan kepadamu
dengan seribu malaikat yang datang
berturut-turut. Dan Allah tidak
menjadikannya (mengirim bala bantuan
itu), melainkan sebagai khabar gembira
dan agar hatimu menjadi tentetram
karenanya. Dan kemenangan itu
hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. (TQS. Al Anfal : 9 10)
Sejak awal, perhatian Nabi terarah pada
kehidupan setelah mati, Dan
sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu
daripada permulaannya. (TQS. Adh Dhuha
: 4). Dan setiap peristiwa tidak beliau
lewatkan untuk menanamkan keyakinan ini
kepada para shahabat, bahwa kehidupan
ini memiliki makna, dan semuanya akan
kembali kepada-Nya. Karena itu, kesadaran
akan Hari Pembalasan menunjukkan
hubungan antara keimanan dan akhlak,
yang melahirkan kesadaran untuk
senantiasa berada dalam kabaikkan. Suatu
hari, saat melewati Yassir dan istrinya yang
sedang dianiaya, Nabi Shalallahu Alaihi wa
Sallam berseru kepada mereka, Kuatkan
hatimu wahai keluarga Yassir, kita bakal
ketemu di surga.
Karena kepedihan adalah sesuatu yang
tidak dapat dihindari sama sekali, maka
Allah taala menghibur mereka yang
memilih kepedihan yang sementara ini dari
kepedihan besar lagi abadi di akhirat kelak.
Dan janji Allah taala tersebut akan
berlangsung begitu cepat, yaitu begitu
manusia berakhir jatah kehidupannya di
dunia. Kita akan segera menemui janji Allah
tersebut, kenikmatan atau justru hukuman
berkepanjangan. Maka bersabarlah dengan
kepedihan yang sementara.
Berdirinya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa
Sallam di mulut sumur seraya memanggil
nama mayat-mayat kaum musyrikin dan
mengajaknya bicara, merupakan dalil
bahwa orang-orang yang sudah meninggal
memiliki kehidupan secara khusus. Dari
sinilah kita dapat menggambarkan adanya
siksa kubur dan kenikmatannya.
Jika kita mencermati kisah Zainab
radhiyallahu anha menebus suami tercinta,
kemudian bagaimana Abu Al Ash melepas
istri tercinta untuk kembali ke Nabi
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, akan
kita temui suatu kisah romantika dalam
peperangan yang luar biasa. Suatu cermin
keberhasilan iman mengatasi luapan
perasaan.
Abu Al Ash adalah sosok suami yang begitu
baik kepada istrinya, selain memiliki
kekayaan dan ketampanan. Rasanya akan

sesuai kondisi mereka masing-masing. Misalnya, tawanan yang bisa


membaca dan menulis, diminta mengajar sebagai tebusan untuk kebebasan
mereka.

mudah bagi wanita yang tidak memiliki


pondasi iman yang kokoh dan ikatan
emosional yang kuat dengan orang tua untuk
takluk kepada suami seperti Abu Al Ash.
Sehingga dengan mudah meninggalkan
agama atau durhaka kepada orang tua,
meskipun tanpa ada tuntutan secara
langsung dari sang suami.
2. Sebagaimana kita tahu, putri-putri Nabi
Shalallahu Alaihi wa Sallam tumbuh di
tengah-tengah kaum yang sangat tidak
menghargai wanita, bahkan sebagian sampai
mengubur hidup-hidup karena malu. Mereka
merasakan besarnya cinta sang ayah di saat
wanita-wanita lain justru merana dengan
perlakuan orang tua. Sehingga wajar, mereka
begitu kagum dan bangga kepada sang ayah,
salah satu modal bagi orang tua dalam
mendidik dan mengarahkan sang anak.
Jika kekaguman dan kebanggaan anak
kepada orang tua sudah sirna, wibawa orang
tua pun ikut luntur. Di saat seperti ini katakata dari orang tua takkan bermakna.
3. Perhatian Rasulullah Rasulullah Shalallahu
Alaihi wa Sallam terhadap masalah
pendidikan para shahabatnya begitu besar,
sampai jasa pengajaran beliau terima
sebagai tebusan atas tawanan perang, yang
nilainya tentunya sangat besar.
Ramadhan 1437 H Juni 2016 | disusun oleh : adi nurcahyo
kritik / saran : adin.nurcahyo@gmail.com
File asli in syaa Allah bisa didapat : di Scrib

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Referensi :
1. Departemen Agama RI. Al Jumanatul Ali Al Quran dan Terjemahnya. CV Penerbit J-ART. 2005
2. Al Jauziyah, Ibnu Qayyim. Terjemah Zadul Maad edisi lengkap jilid 3, tahqiq : Syaikh Syuaib Al Arnauth dan Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth. Griya Ilmu. Cet I
Maret 2008.
3. Dr. Al Buthy, Muhammad Said Ramadhan. Terjemah Fiqus Siroh (Sirah Nabawiyah edisi Indonesia). Robbani Press. Cet VIII Oktober 2004.
4. Ramadan, Tariq, Ph.D. Muhammad Rasul Zaman Kita. Serambi Ilmu Semesta. Cetakan I Oktober 2007.
5. Dr. Hamami, Bassam Muhammad. Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam. Qisthi Press. Cetakan I Nopember 2015
6. Syaikh Ahmad Khani, Terjemah Ringkasan Al Bidayah wa An Nihayah (Al Hafizh Ibnu Katsir), Pustaka As Sunnah. Cetakan I Januari 2013.