Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara teologis dakwah dianggap proyek berpahala kenyataan ini harus diakui
benar bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakan dalam pesannya Sampaikan apa yang
kamu terima dariku meski satu ayat karenanya wajar dalam pentas sejarah pendekatan
kerja dakwah terus terlahir baik yang bersifat teknis operasional maupun yang konseptual
tentu saja tidak bisa dilepas dengan konteks sosial, realitas yang spesifik, dakwah bersifat
dinamis seiring dengan perkembangan laju persoalan dan kebutuhan masyarakat.
Dakwah bil hal bukan lebih ditekankan pada sikap prilaku dan kegiatan-kegiatan
nyata yang secara interaktif mendekatkan masyarakat pada kebutuhannya yang secara
langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi peningkatan keberagamaan.
Setiap muslim dilahirkan sebagai dai yang memiliki kewajiban untuk
berdakwah.Metode dakwah dapat diterapkan dalam berbagai bidang salah satunya adalah
bidang keperawatan.
B. Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan :
a. Memenuhi tugas AIK
b. Mengetahui bahwa setiap uslim adalah dai
c. Mengetahui bahwa bekerja adalah ibadah
d. Mengetahui kewajiban mengembangkan ilmu keperawatan
e. Mengetahui hadist dan ayat yang relevan

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Dakwah Bil Hal
a. Pengertian Dakwah
Ditinjau dari segi bahasa, dakwah berasal dari bahasa Arab dawah (
). Dakwah mempunyai tiga huruf asal, yaitu dal, ain, dan wawu. Dari
ketiga huruf asal ini, terbentuk beberapa kata dengan ragam makna. Maknamakna tersebut adalah memanggil, mengundang, minta tolong, meminta,
memohon,

menamakan,

menyuruh

datang,

mendorong,

menyebabkan,

mendatangkan, mendoakan, menangisi, dan meratapi.


Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali (dalam al-Bayanuni, 1993: 15),
dakwah adalah Program sempurna yang menghimpun semua pengetahuan
yang dibutuhkan oleh manusia di semua bidang, agar ia dapat memahami
tujuan hidupnya serta mnyelediki petunjuk jalan yang mengarahkannya
menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk.
Sedangkann menurut HSM Nasaruddin Latif (1971: 11), dakwah adalah
setiap usaha atau aktivitas dengan lisan, tulisan dan lainnya yang bersifat
menyeru, mengajak, memanggil manusia untuk beriman dan menaati
Allahsesuai dengan garis-garis akidah dan syariat serta akhlak Islamiyah.
Secara umum, definisi dakwah yang dikemukakan para ahli di atas
menunjukkan pada kegiatan yang menunjuk pada kegiatan yang bertujuan
perubahan positif dalam diri manusia. Perubahan positif ini diwujudkan dengan
peningkatan iman, mengingat sasaran dakwah adalah iman. Berdasarkan pada
rumusan beberapa definisi di atas, maka secara singkat, Dakwah adalah
kegiatan penningkatan iman menurut syariat Islam.
b. Dakwah bil Hal
Ada beberapa pengertian tentang dakwah bil-hal. Secara harfiah dakwah
bil-hal berarti menyampaikan ajaran Islam dengan amaliah nyata1 dan bukan
tandingan dakwah bil-lisan tetapi saling melengkapi antara keduanya.
Dalam pengertian lebih luas dakwah bil-hal, dimaksudkan sebagai
keseluruhan upaya mengajak orang secara sendiri-sendiri maupun berkelompok
untuk mengembangkan diri dan masyarakat dalam rangka mewujudkan tatanan
sosial ekonomi dan kebutuhan yang lebih baik menurut tuntunan Islam, yang

berarti banyak menekankan pada masalah kemasyarakatan seperti kemiskinan,


kebodohan, keterbelakangan dengan wujud amal nyata terhadap sasaran dakwah
Dalam Muyawarah Nasional pada 1985 dan Rakernas 1987, MUI telah
mengambil keputusan tentang program "dakwah bi al-hal". Salah satu
rumusannya disebutkan bahwa tujuan "dakwah bi al-hal", antara lain,"untuk
meningkatkan harkat dan martabat umat, terutama kaum duafa atau kaum
berpenghasilan rendah.
B. Setiap Muslim Adalah Dai
KATAKANLAH

" Inilah

jalan (agama ) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku


mengajak (kamu) kepada Allah dengan
hujjah yang nyata ,Maha Suci Allah , dan aku tiada termasuk orang-orang yang
musyrik

QS.

Yusuf:108).

Ayat yang turun di Makkah ini secara tegas menyatakan bahwa dakwah merupakan
sunnah, jalan, dan cara hidup ( way of life ) Rasululah ,Ibnu Katsir dalam tafsirnya
menjelaskan , dengan ayat ini Allah menyuruh Rasululah agar mendeglarasikan kepada
jin dan manusia bahwa inilah satu-satu nya jalan beliau.Yakni, menyeru kepada tauhid
.Setiap orang yang mengikuti beliau pun harus menyeru kepada apa yang diserukan
beliau .
Setiap muslim adalah Da'i. Sebab, setiap muslim berkewajiban untuk
melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar. Hal ini senada dengan penegasan Allah
dalam lantunan firman-Nya,

"Kalian adalah sebaik-baiknya umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian


menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kalian
beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran [3] : 110).
Maksud utama dari ayat ini adalah menegaskan pentingnya amar ma'ruf
nahi munkar bagi umat ini. Karenanya perintah ini disebutkan lebih dahulu. Jadi
syarat utama agar umat ini menjadi lebih mulia daripada umat lainnya, maka kita
harus melakukan perintah tersebut. Andaikata tidak, maka tidaklah pantas bagi
kita memperoleh kehormatan.
Sayang, pemahaman kewajiban dakwah pada umumnya dipahami hanya
untuk orang tertentu yakni para ustadz atau kiayi. Maka pantas jika ada ungkapan
seseorang yang melihat kemaksiyatan, "Itu bukan urusan saya, tapi urusan ustadz
atau kiayi." Padahal merujuk ayat diatas jelas bahwa dakwah merupakan
kewajiban bagi setiap orang. Hal ini ditegaskan pula dalam hadits.
Dari Abu Said Al-Khudri ra berkata, aku mendengar Rasulullah
bersabda, "Barang siapa melihat kemunkaran dilakukan dihadapannya maka
hendaklah ia mencegah dengan tangannya, jika tidak mampu cegahlah dengan
lidahnya, jika tidak mampu maka hendaklah dia merasa benci di dalam hatinya,
dan ini selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim).
Selain menegaskan kewajiban dakwah, hadits itu mejelaskan pula tentang proses
pelaksanaan dakwah yaitu sesuai kemampuannya.
Media Dakwah
Pemahaman yang kurang pas tentang kewajiban dakwah kita luruskan disini.
Persepsi yang kurang tepat ini menilai bahwa dakwah adalah ceramahnya
seseorang di atas mimbar atau di depan jemaah banyak. Tabligh akbar misalnya.
Dari itu, mereka berpikir dirinya tidak wajib berdakwah karena tidak bisa seperti
yang para ustadz atau kiayi lakukan. Padahal, itu hanya salah satu bentuk media
dakwah saja dan dikaji sebagai level dakwah ummah.
Selama ini banyak orang memahami bahwa berdakwah adalah berceramah di
depan jemaah merupakan suatu bentuk media dakwah, yakni dakwah secara
langsung. Hanya saja levelnya bertingkat. Kita yang tidak mampu dakwah
4

langsung dihadapan jemaah banyak, masih tetap menyandang hukum wajib


berdakwah. Minimal kita harus mampu melaksanakan dakwah nafsiyah (diri
sendiri) dan dakwah fardiyah (orang per orang). Bukankah Allah menyuruh kita
untuk saling menasehati di antara kita. Sebagaimana firman-Nya,

"... Dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati


supaya menetapi kesabaran.(QS. Al-'Ashr [103] : 3).
Sederhananya, lakukanlah kewajiban dakwah kepada orang-orang terdekat,
terutama keluarga.
Bagi mereka yang tidak mampu dakwah secara langsung di depan jemaah,
mereka masih dapat melakukan dakwah lewat media lain. Media cetak itulah
bentuk kedua media dakwah yang bisa kita lakukan. Mereka yang gemar menulis,
lakukanlah dakwah lewat tulisan. Esensinya sama dengan dakwah langsung yaitu
menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Masukan tulisan-tulisan kita ke media cetak
dengan harapan ilmu yang kita tulis diraih banyak orang.
Selain itu media dakwah adalah elektronik. TV, Film dan radio dapat kita jadikan
sebagai media transformasi ajaran Islam. Namun, kemungkinan hanya sedikit
mereka yang mampu melakukan dakwah dengan media elektronik.

C. Bekerja Adalah Dakwah


Bekerja adalah bagian dari ibadah dan jihad, jika sang pekerja bersikap konsisten
terhadap peraturan Allah, suci niatnya, dan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
diri, keluarga bahkan masyarakat dan negara. Dengan bekerja , masyarakat dapat

melakukan tugas kekhalifahan, menjaga diri dari maksiat, dan meraih tujuan yang
lebih besar.
kalau ada seeorang keluar dari rumahnya untuk bekerja guna membiaya
anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha fisabilillah. Jikalau ia bekerja
untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itupun
fisabilillah. Tetapi apabila ia bekerja untuk pamer atau untuk bermegahmegahan, maka itulah fisabili syaithan atau karena mengikuti jalan
Syaithan. (HR. Thabrani)
Ketahuilah Sesungguhnya Bekerja Itu Adalah Ibadah.
Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku
penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari
kemelaratan. Kalau tidak, Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan
Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan. (HR. Tirmidzi dan Ibnu
Majah)
Dalam pandangan Islam, bekerja merupakan suatu tugas yang mulia, yang akan
membawa diri seseorang pada posisi terhormat, bernilai, baik di mata Allah SWT
maupun di mata kaumnya. Oleh sebab itulah, Islam menegaskan bahwa bekerja
merupakan sebuah kewajiban yang setingkat dengan Ibadah.
Orang yang bekerja akan mendapat pahala sebagaimana orang beribadah.
Lantaran manusia yang mau bekerja dan berusaha keras untuk menghidupi diri
sendiri dan keluarganya, akan dengan sendirinya hidup tentram dan damai dalam
masyarakat. Sedangkan dalam pandangan Allah SWT, seorang pekerja keras di
jalan yang diridhai Allah tentu lebih utama ketimbang orang yang hanya
melakukan ibadah (berdoa saja misalnya), tanpa mau bekerja dan berusaha,
sehingga hidupnya melarat penuh kemiskinan
Kerja adalah Ibadah, merupakan satu kesatuan yang tidak boleh terpisah Kita
tidak mengartikan bahwa kerja itu adalah untuk dunia sedangkan ibadah adalah
soal akhirat. Pekerjaan yang dilakukan diperusahaan ini juga berupa ibadah.

Bukan semata mencari materi kerja dan ibadah adalah satu hal yang tak boleh
terpisah.
Untuk mewujudkan bahwa kerja adalah ibadah dibutuhkan 5 pilar yaitu tauhid,
amanah, ikhlas, adil dan istiqamah.
1. Tauhid
Makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang benar dengan
segala kekhususannya. Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa
banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat,
para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun
seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu- satunya
sesembahan saja.
Sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya:

Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaidah Kami
meminta pertolongan (QS. Al Fatihah: 5)
2. Amanah
Dalam Islam, amanah adalah tuntutan iman yang harus di pegang teguh.
Seseorang yang amanah akan berusaha untuk memenuhi dasar, kode etika,
undang-undang dan janji-janji mereka. Sabda Rasulullah Saw. menegaskan
tentang amanah yang artinya: Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan
amanah dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.(Ahmad
dan Ibnu Hibban)
3. Ikhlas

Seseorang yang ikhlas akan menghadap kepada Allah dengan hatinva dan hanya
ingin mendapatkan keridhaan Allah SWT atas setiap perbuatan, langkah, katakata, dan doanya. Jadi, seseorang itu benar-benar yakin kepada Allah dan hanya
mencari kebajikan semata. Allah SWT berfirman tentang keiklasan yang
artinya: Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai
karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka
sempurnalah imannya.(HR. Abu Dawud)

4. Adil
Adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan
demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik
hukum agama, hukum positif (hukum negara),maupun hukum sosial (hukum
adat) yang berlaku.
Sebagaimana dalam Al Quran, kata adil dikatakan yang artinya:

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka
damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat
aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat
aniaya itu,sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah, jika golongan
itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya
dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berlaku adil. (QS. Al Hujurat: 9).

Dengan demikian, orang yang adil selalu bersikap imparsial, suatu sikap yang
tidak memihak kecuali kepada kebenaran. Bukan berpihak karena pertemanan,
persamaan suku, bangsa maupun agama.
5. Istiqomah
Istiqomah adalah menempuh jalan (agama) yang lurus (benar) dengan tidak
berpaling ke kiri maupun ke kanan. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua
bentuk ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk
larangan Allah.
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqomah adalah finnan Allah Ta
ala,

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah


kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh)
surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS. Fushilat: 30)
Bekerja untuk ibadah, ibadah yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata
akan membawakan keberkahan dalam ibadahnya. Dan yakinlah bahwa Allah tahu
apa yang kita butuhkan. Jika kita bekerja dengan ikhlas, Insya Allah rejeki akan
datang lebih banyak lagi dari jalan yang tidak di duga-duga.
Allah SWT berfirman yang artinya:

Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam, (QS. AlAnam : 162)
Manusia hidup untuk ibadah dan dakwah. Manusia yang beruntung yaitu yang
beriman, beramal shaleh dan juga saling mengingatkan atau dakwah. Segala
aktivitas berupa training, coaching, teaching adalah bagian dari dakwah juga.
Manusia

diciptakan

tujuannya

untuk

beribadah

kepada Allah

dengan

sebagaimana dengan firman Allah SWT yang artinya:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku(QS. Adz Dzarriyat: 56)
Aktivitas hidup akan bernilai ibadah jika dikerjakan sesuai aturan. Islam
mengatur sampai hal yang kecil sampai ke hal yang besar seperti masuk toilet,
makan dan sebagainya. Semua ada aturannya. Hal ini sesuai dengan mengutip
firman Allah SWT yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. (QS. An Nisa : 59)

10

Mengimplementasikan kerja merupakan ibadah ini dalam keseharian aktivitas


harus dimulai dari hal yang kecil. Rasanya masih banyak hal yang perlu
diperbaiki dalam aktivitas keseharian kita misalnya tentang tepat waktu.
Tiga kriteria kerja ibadah yaitu diawali dengan niat yang baik, dikerjakan dengan
cara yang baik dan digunakan untuk hal yang baik.
Beliau pun mengutip dua ayat dari Al Quran yaitu: Ya Tuhanku, berilah aku
ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal
shaleh yang Engkau ridai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam
golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh .(QS. An Naml: 19)
Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan. (QS. An Nahl: 97)
D. Kewajiban Mengembangkan dan Menyampaikan Ilmu Keperawatan
Profesi perawat merupakan pekerjaan yang mulia. Menurut hunderson, tugas unik
perawat ialah membantu individu baik dalam keadaan sehat maupun sakit melalui
berbagai aktivitas guna mendukung kesehatan dan penyembuhan individu atau
proses meninggal dengan damai.
Keperawatan juga merupakan manifestasi dari ibadah yang berbentuk pelayanan
kesehatan yang didasarkan pada keimanan, keilmuan, dan amal serta kiat
keperawatan bernbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-kultural-spiritual yang
komprehensif. Di dalam islam keperawatan tidak dapat di pisahkan dari ajaran
islam secara keseluruhan.
Seiring perkembangan kekhalifahan Islam, klasifikasi perkembangan dunia
keperawatan dalam dunia islam terbagi dalam:
1. Masa penyebaran islam (the islamic period) 570-632 M

11

Pada masa ini keperawatan sejalan dengan perang kaum muslimin/jihad (hoy
wars), pada masa ini Rufaidah binti Saad

memberikan konstribusinya

kepada dunia keperawatan


2. Masa setelah Nabi (post prophetic era) 632-1000 M
Masa ini setelah nabi wafat. Pada masa ini lebih didominasi oleh kedokteran
dan mulai muncul tokoh-tokoh islam dalam dunia kedokteran seperti Ibnu
Sina (Avicenna), dan Abu Bakar Ibnu Zakariya Ar-Razi (Ae-Razi).
3. Masa pertengahan 1000-1500 M
Pada masa ini negara-negara di Jazirah Arab membangun rumah sakit dengan
baik dan memperkenalkan metode perawatan orang sakit. Di masa ini mulai
ada pemisahan antara kamar perawatan laki-laki dan perempuan dan sampai
sekarang banyak diikuti semua rumah sakit di seluruh dunia.
Dalam surat al-Isra' ayat 84 Allah berfirman :

"Katakanlah Tiaptiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing


maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya"
Dalam firman tersebut ada kata Syakilatih yang berarti keadaannya masingmasing. Oleh Hamka kata "Syakilatih" diartikan bakat atau bawaan. Jika
dipahami secara mendalam dan dikaitkan dengan kondisi sekarang, bakat
bawaan

seseorang

yang

didukung

dengan

situasi

lingkungan

dan

dikembangkan maka akan berubah menjadi kemampuan profesional. Jika


dihubungkan dengan

dakwah bil-hal

maka

masing-masing muslim

hendaknya berdakwah menurut kemampuan dan profesi mereka. Seperti


dikatakan Muhammad Abu Zahroh, sebagai contoh, seorang dokter
berdakwah dengan keahliannya13 dalam masalah pengobatan medis,seorang
perawat berdakwah dengan keahliannya dalam merawat pasien.

Perwujudan Dakwah dalam Keperawatan


1. Mendengarkan kekhawatiran,perasaan pasien

12

2. Menyediakan lingkungan yang aman dan mendengarkan ekspresi perasaan


3.
4.
5.
6.

dan pengalaman mengenai penyakit dan pengobatannya


Merujuk untuk kunjungan rohaniawan untuk binaan rhani seperti zikir,doa,dll.
Mengingatkan waktu sholat
Membaca kitab suci
Perawatan sebelum ajal,dll.

13

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tanamkanlah dalam diri kita masing-masing bahwa dakwah dapat kita
lakukan. Masalah media dan level dakwah kita kembalikan pada kemampuan
diri. Bagi mereka yang mampu langsung, media cetak atau elektronik lakukanlah
sekemampuannya. Jelas tidak ada kata untuk mengingkari kewajiban dakwah.
Kerja adalah Ibadah, merupakan satu kesatuan yang tidak boleh terpisah
Kita tidak mengartikan bahwa kerja itu adalah untuk dunia sedangkan ibadah
adalah soal akhirat. Pekerjaan yang dilakukan diperusahaan ini juga berupa
ibadah. Bukan semata mencari materi kerja dan ibadah adalah satu hal yang tak
boleh terpisah.

14

DAFTAR PUSTAKA
Aplikasia, Jumal Aplikasi llmu-ilmu Agama, Vol. Ill, No. 2 Desember 2002:182-192
Al-Quran dan Tafsirnya
Aziz, Moh. Ali. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana.
Hamka, To/sir Al-Azhar, Juz XV, (Surabaya : Pustaka Islam, 1984), p. 116.
Kumpulan Hadist
Muhammad Abu Zahroh, Al Dakwah Hal Islam, (Libanon: Dar al-Fikr, tt), p. 129

15