Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bagi seoarang wanita payudara adalah organ tubuh yang sangat penting untuk
kelangsungan perkembangan bayi yang baru di lahir. Payudara memang secara natural
akan mengeluarkan ASI begitu ibu melahirkan, tetapi bukan berarti seorang wanita atau
ibu tidak merawat payudara (Saryono, 2008).
Perawatan payudara juga harus dilakukan untuk menjaga kelangsungan produksi
ASI. Payudara yang mengalami pembengkakan mengakibatkan pengeluaran ASI yang
tidak sempurna. Mengatasi hal ini maka ibu perlu menyusui bayi lebih sering, kompres
payudara yang bengkak dengan air hangat dan keluarkan ASI dengan pompa. Akibat
tersumbatnya salah satu saluran susu di dalam payudara, dapat terjadi timbunan ASI
dalam saluran tersebut sehingga timbul benjolan pada payudara (Musbikin, 2006).
Mastitis merupakan peradangan payudara. Kadang keadaan ini dapat menjadi
fatal bila tidak langsung mendapatkan tindakan yang adekuat. Abses payudara,
pengumpulan nanah lokal di dalam payudara, merupakan salah satu komplikasi berat
dari mastitis. Keadaaan ini bisa menyebabkan beban penyakit yang fatal karena
memerlukan biaya yang sangat besar. Penelitian terbaru menyatakan bahwa mastitis
dapat menyebabkan resiko penularan HIV pada ibu menyusui. Semakin disadari bahwa
pengeluaran ASI yang tidak efisien karena tehnik menyusui yang buruk merupakan
penyebab penting, tetapi dalam hal ini banyak petugas kesehatan masih menganggap
mastitis sama dengan infeksi payudara. Mereka sering tidak mampu membantu wanita
yang mengalami mastitis untuk terus menyusui, dan mereka bahkan

mereka

menyarankan wanita tersebut untuk berhenti menyusui, yang sebenarnya tidak harus
berhenti (Hamid, 2011).
Menurut WHO (2008) Mastitis dan abses payudara ini terjadi pada semua
populasi dengan kebiasan atau tanpa kebiasaan menyusui. Insiden yang dilaporkan
bervariasi dari sedikit sampai 33% wanita menyususi, tetapi biasanya di bawah 10%.
Kebanyakan penelitian memiliki keterbatasan metodologis yang besar, dan belum ada
penelitian kohort prospektif yang besar. Angka insiden ini lebih tinggi berasal dari
populasi tertentu. Insident abses payudara ini juga sangat bervariasi.

Walaupun

demikian, menurut beberapa laporan, terutama dari negara-negara berkembang, suatu


abses dapat terjadi tanpa didahului mastitis yang nyata.

Menurut data WHO, terbaru pada tahun 2008 di Amerika Serikat persentase
perempuan menyusui yang mengalami mastitis rata-rata mencapai 10%. Sementara di
Indonesia persentase Mastitis pada perempuan menyusui rata-rata juga mencapai 10%.
Pencegahan terjadinya mastitis pada masa nifas perlu dilakukan supaya tidak
terjadi komplikasi pada saat ibu menyusui bayi. Apabila hal ini terjadi bayi yang
biasanya siap untuk disapih pada masa nifas akan terkendala akibat mastitis yang terjadi
pada ibu (Mirani, 2010).
1.2 Rumusan Masalah
1. Pengertian dari Mastitis ?
2. Etiologi dari Mastitis ?
3. Patofisiologi dari Mastitis ?
4. Manifestasi Klinis dari Mastitis?
5. Pemeriksaan Diagnostik Mastitis?
6. Komplikasi dari Mastitis?
7. Penatalaksanaan dari Mastitis?
8. Pencegahan Mastitis?
9. Pathway dari Mastitis?
10. Bagaimana asuhan keperawatan dari kasus Mastitis ?
1.3 Tujuan Penulisan
Diharapkan para pembaca dapat mengerti dan memahami tentang mastitis ini,
mulai dari definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostic,
komplikasi, penatalaksanaa, pencegahan, dan pathwaynya. Serta diharapkan bermanfaat
untuk pembuatan ASKEP bagi para perawat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Mastitis adalah peradangan pada payudara terutama pada primigravida, infeksi
terjadi melalui luka pada putting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah
(Wiknjosastro, 2009)
Mastitis adalah radang pada payudara yang disebabkan payudara bengkak yang
tidak disusukan adekuat (Bahiyatun, 2009)

2.2 Etiologi
Mastitis disebabkan oleh organism S. aureus, Candida albican, dan Haemophilus
parainfluenza yang berasal dari hidung dan tenggorokan bayi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi :
1. Penyumbatan saluran susu
2. Daya tahan ibu yang rendah
3. Kelelahan atau stress
4. Tangan yang tidak bersih
5. Keretakan atau keterbelahan putting
2.3 Patofisiologi
Pada awalnya bermula dari kuman penyebab mastitis yang ada pada tenggorokan
dan hidung bayi (S. aureus, Candida albican, dan Haemophilus parainfluenza), lalu
menginfeksi putting susu yang luka atau lecet dan kuman tersebut berkelanjutan
menjalar ke duktus-duktus dan sinus sehingga mengakibatkan radang pada mamae.
Radang duktus-duktus menjadi edema dan akibatnya air susu tersebut terbendung
(Ambarawati, 2008)

2.4 Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala mastitis (Bahiyatun, 2009), yaitu:
1. Payudara membengkak
2. Nyeri seluruh payudara atau nyeri lokal
3. Kemerahan pada seluruh payudara atau hanya lokal
4. Payudara keras dan berbenjol-benjol
5. Adanya rasa demam pada area sekitar hisapan
6. Ibu akan tampak seperti sedang mengalami flu, dengan gejala demam, rasa dingin,
dan tubuh terasa pegal dan sakit
2.5 Pemeriksaan Penunjang
Uji Laboratorium
Infeksi mastitis biasanya diindikasikan oleh peningkatan leukosit dan jumlah bateri.
2.6 Komplikasi
Apabila mastitis tidak ditangani dengan tepat maka akan terjadi infeksi yang
semakin berat dan dapat terjadi abses pada payudara dengan tanda payudara berwarna
merah mengkilat dari sebelumnya saat baru terjadi radang, nyeri akan semakin terasa,
benjolan menjadi lebih lunak karenan di dalamnya berisi nanah (Suherni, 2009).
2.7 Penatalaksanaan

Menurut Varney (2007), penatalaksanaan mastitis adalah sebagai berikut :


1. Usahakan sering menyusui dan mengosongkan payudara untuk mencegah statis
2. Memakai bra dengan penyangga tetapi tidak terlalu sempit, jangan mengguanakan
bra dengan kawat bagian bawahnya.
3. Perhatian yang cermat untuk mencuci tangan dan merawat payudara
4. Lakukan kompres air hangat pada area yang mastitis, lebih efektif jika dilakukan
5.
6.
7.
8.

pada saat menyusui untuk melancarkan aliran ASI


Meningkatkan intake cairan
Istirahat, satu atau dua kali di tempat tidur
Mambantu kebutuhan prioritas ibu untuk mengurangi stress dan kelelahan
Antibiotik, penisilin jenis penicillinase resisten atau cephalosporin. Erythromycin

dapat digunakan jika ibu alergi dengan penisilin


9. Beri dukungan pada ibu
2.8 Pencegahan
Menurut Bahiyatun (2008), Pencegahan mastitis meliputi:
1. Perawatan payudara pascanatal secara teratur untuk menghindari terjadinya statis
aliran Air Susu Ibu (ASI)
2. Posisi menyusui yang diubah-ubah
3. Menggunakan bra yang menyangga dan membuka bra tersebut ketika terlalu
menekan payudara.
4. Susukan dengan adekuat

2.9 WOC
Kurang pengetahuan

Kontak fisik

Keretakan/terbelahnya
putting payudara

Mulut
tangan
bersih

bayi, suami,
yang
tidak

Lesi mamae

Invasi kuman
Nyeri Akut
Infeksi (mastitis)

Demam

Inflamasi

Nyeri saat menyusui

Nafsu makan turun

Abses

Ketidakefektifan
Pemberian ASI

Kebutuhan Nutrisi
Kurang dari
Kebutuhan Tubuh

Perubahan bentuk
payudara

Gangguan Citra Tubuh

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Kasus
Ny.A umur 23 tahun mempunyai anak berumur 3 minggu datang ke Rumah
Sakit S pada tanggal 28 mei 2015. Ibu mengeluh nyeri pada payudara sebelah kanan
sejak 5 hari yab lalu, dan bayinya tidak mau menyusu, serta penghisapan bayi tidak
adekuat, payudara teraba keras dan tampak mengkilat dan memerah, permukaan kulit
dari payudara pecah-pecah serta terdapat nyeri tekan, badan demam seperti terserang
flu. Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu 38,5C. Saat ini klien mengeluh tidak nafsu
makan dan sejak 3 hari yang lalu hanya makan sekali sehari, namun oleh suami
dipaksakan untuk makan buah, tetapi juga cuma makan sedikit. Klien juga mengaku
malu dengan keadaan payudaranya yangs eperti itu. Sebelum pengkajian berat badan
Ny. A 53 kg.
3.2 Pengkajian
3.1.1 Identitas
1. Nama

: Ny. A

2. Umur

: 23 tahun

3. Berat Badan

: 50 kg

4. Tinggi badan

: 160 cm

5. Alamat

: Surabaya

3.1.2

6. Pekerjaan

: IRT

7. Agama

: Islam

8. Pendidikan

: SMA

9. Masuk RSUAM

: 28 Mei 2015

10. Penanggung jawab

: Suami Ny. A

Riwayat Penyakit Sekarang


1. Keluhan utama
Nyeri pada payudara sebelah kanan
2. Saat masuk RS
Nyeri pada payudara sebelah kanan, demam, tidak nafsu makan.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan sejak 5 hari yang lalu sudah mulai merasakan nyeri,
dan sampai hari ini nyeri yang dirasakan semakin kuat, serta klien
mengatakan kondisi payudaranya semakin membengkak dan memerah.
Daya hisap anaknya juga tidak adekuat selama 5 hari ini, nafsu makan klien
juga turun, dan klien merasakan demam seperti terserang flu.
Klien sudah tidak tahan dengan keluhan-keluhan yang dirasakan dan
tidak berani minum obat sembarangan jadi klien memutuskan untuk datang
ke Rumah Sakit S untuk mendapatkan perawatan yang aman.
4. Pengkajian Nyeri
a. P
: Nyeri terasa saat menyusui
b. Q
: Seperti tertekan benda yang berat
c. R
: Pada payudara
d. S
: 6 (1-10)
e. T
: Hilang timbul

3.1.3 Riwayat Kesehatan Dahulu


Tidak ada
3.1.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat penyakit keluarga
3.1.5 Pemeriksaan fisik
1. Tanda-Tanda Vital
a. Suhu
: 38,5C
b. TD
: 130/80 mmHg
c. RR
: 22 x/M
d. Nadi
: 110x/M

2. Kesadaran
Compos Mentis
3. Pemeriksaan Khusus
a. Inspeksi
1) Kepala
Rambut : Bersih, tidak rontok, warna hitam
Hidung : Tidak ada Polip
Muka

: Tidak pucat dan masih terdapat cloasma gravidarum

Mata

: Sclera tidak ikterik, konjungtiva palpebra tidak anemis

Mulut

: Lidah bersih, tidak ada gingivitis,caries dan karang

gigi
2) Leher

Pelebaran Vena jugularis

: tidak ada

Pembengkakan kelenjar tyroid : tidak ada


Pembengkakan kelenjar limfe

: tidak ada

Vena-vena yang terbendung

: tidak ada

3) Dada

Pembesaran kelenjar ketiak : Bengkak kemerahan


Mammae

: tidak simetris dan berwarna

merah
Putting susu

: Menonjol

Pengeluaran ASI

: Sedikit

4) Abdomen

Pembesaran

:tidak ada

Luka bekas operasi

:tidak ada

Genetalia Eksterna

:tidak ada pembengkakan / oedema,

varises, dan tidak terdapat penyakit penyakit genetalia


Tungkai/Ekstermitas

:tidak adanya pembengkakan, varises

dan kelainan- kelainan lainnya.


b. Palpasi

Payudara
c. Perkusi

: Terdapat nyeri tekan

Reflek Patela Ka/Ki

: +/+

4. Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah

Leukosit meningkat : 11.000 sel/mm


Hb
: 11 gr %
Golongan Darah
:O
b. Urine
Protein Urine
: (-) negative
Reduksi
: (-)negative

3.3 Analisa data


No

Data

.
1. a.

DS :
-

Klien mengatakan nyeri

payudara sebelah kanan


Klien mengatakan badan
terasa

demam

seperti

Etiologi

Masalah

Infeksi (mastitis)

Nyeri Akut

Inflamasi
Nyeri saat menyusui
Nyeri akut

terserang flu
b. DO :
-

Payudara

mengkilat dan memerah


Wajah klien menyeringai
Permukaan kulit dari

payudara pecah-pecah
P : Nyeri terasa saat

menyusui
Q : Seperti

2. a.

teraba

keras,

tertekan

benda yang berat


R : Pada payudara
S : 6 (1-10)
T : Hilang timbul
Suhu 38,5C
TD 180/30 mmHg
DS :

Klien mengatakan bayinya

tidak mau menyusu


Klien mengatakan nyeri

Infeksi (mastitis)
Inflamasi
Nyeri saat menyusui

Ketidakefektifan
Pemberian ASI

saat menyusui

Ketidakefektifan pemberian ASI

b. DO :
-

Penghisapan bayi tidak

adekuat
Payudara

ibu

sebelah

kanan teraba keras

3. a.

DS :

Inflamasi

Klien mengatakan tidak

nafsu makan
Klien mengatakan sejak 3
hari

yang

lalu

hanya

makan 1xsehari.

Demam

Ketidakseimbangan
Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh

Nafsu makan turun

(Ibu)

Kebutuhan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

b. DO :
-

Berat

badan

turun

sebelum pengkajian 53 kg
4.

dan saat pengkajian 50 kg


Tubuh klien lemas
Hanya jatah makan siang

saja yang dimakan


DS :
- Klien mengatakan malu
dengan
payudaranya

kondisi
yang

demikian.

Infeksi (mastitis)
Inflamasi

Gangguan Citra
Tubuh

Abses
Perubahan bentuk payudara

DO :
-

Klien terlalu focus pada

penampilan masa lalunya


Klien
kurang
bersosialisasi

Gangguan citra tubuh

dengan

lingkungannya

3.4 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis
2. Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan anomaly payudara ibu
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit


3.5 Intervensi
No
.
1.

No.D

NOC

x
1

NIC

Setelah diberikan tindakan


keperawatan selama 1x6 jam nyeri

Kaji nyeri dengan PQRST


Kaji kultur yang mempengaruhi

respon nyeri
Ajarkan teknik relaksasi nafas

dalam
Gunakan teknik komunikasi

dapat berkurang.
Kriteria Hasil :
-

Mampu mengontrol nyeri.


Melaporkan bahwa nyeri

terapeutik untuk mengetahui

berkurang menggunakan
-

manajemen nyeri.
Menyatakan rasa nyaman

setelah nyeri berkurang.


TD : normal (120/80 mmHg)
N : normal (60-100 x/menit)

pengalaman nyeri klien


Kontrol lingkungan yang dapat

menyebabkan nyeri
Observasi TTV
Observasi reaksi nonverbal dari

ketidaknyamanan
Kolaborasikan dengan dokter
untuk pemberian obat analgesic

2.

Setelah
keperawatan
kesulitan

diberikan
selama
bayi

tindakan
1x24

dalam

secara IV.
Kaji kemampuan bayi untuk latch

on dan menghisap secara efektif


Ajarkan orang tua mempersiapkan,

jam
proses

menyimpan, menghangatkan, dan

pemberian ASI dapat teratasi

kemungkinan
Kriteria Hasil :
-

Kemantapan

pemberian

ASI

Bayi :perlekatan bayi yang sesuai

formula
Tentukan keinginan dan motivasi

ibu untuk menyusui


Pantau keterampilan ibu dalam
menempelkan

payudara ibu untuk memperoleh

pemberian ASI
Kemnatapan pemberian ASI Ibu :

dengan

tepat

dan

menyusu dari payudara ibu untuk


memperoleh nutrisi selama 3

mulut

bayi

ke

putting
Pantau integritas kulit payudara ibu
Pantau
kemampuan
untuk
mengurangi

kemantapan ibu untuk membuat


melekat

susu

pada dan proses penghisapan dari


nutrisi selama 3 minggu pertama

pemberian

kongesti

payudara

badan

dan pola

dengan benar
Pantau berat

eliminasi bayi
Sediakan informasi tentang laktasi

minggu pertama pemberian ASI


Pemeliharaan pemberian ASI:

dan teknik memompa ASI (secra


manual

keberlangsungan pemberian ASI


bayi
Penyapihan

erian

diskontinuitas
-

pemberian ASI
Pengetahuan pemberian

ASI:

tingkat

yang

pemahaman

pompa

menyimpan ASI
Observasi pola menghisap/menelan

bayi
Observasi pemahaman ibu tentang

isyarat menyusui dari bayi


Observasi pamahaman ibu tentang

ASI:
progresif

dengan

elektrik) cara mengumpulkan dan

untuk menyediakan nutrisi bagi


-

atau

sumabatan kelenjar susu dan dan

ditunjukkan mengenai laktasi dan

mastitis

pemberian makan bayi melalui


-

proses pemberian ASI


Ibu mengenali isyarat lapar dari

bayi dengan segera


Ibu mengindikasikan kepuasan

terhadap pemberian ASI


Ibu tidak mengalami nyeri tekan

pada putting
Mengenali tanda-tanda penurunan
suplai ASI

3.

Setelah

diberikan

tindakan

keperawatan selama 1x24 jam nafsu


makan membaik.

Kaji adanya alergi makanan


Ajarkan klien bagaimana membuat

catatan makanan harian


Berikan makanan yang terpilih

Kriteria Hasil :

(sudah dikonsultasikan pada ahli

Mampu

mengidentifikasi

kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Tidak terjadi penurunan berat
badan yang berarti

gizi)
Yakinkan diet yang dimakan tinggi

serat untuk mencegah konstipasi


Berikan
informasi
tentang

kebutuhan nutrisi
Observasi jumlah

kandungan kalori
Kolaborasikan dengan ahli gizi

nutrisi

dan

untuk menentukan jumlah kalori


dan nutrisi yang dibuhkan klien
4.

Setelah

diberikan

tindakan

Kaji secara verbal dan non verbal

respon klien terhadap tubuhnya


Jelaskan tentang pengobatan,

keperawatan 1x24 jam klien dapat

menerima perubahan pada dirinya


Kriteria Hasil :

perawatan, kemajuan, dan


-

prognosis penyakit
Dorong klien mengungkapkan

Body image positif


Mampu
mengidentifikasi

perasaannya
Fasilitasi kontak dengan indivisu

kekuatan personal
Mendiskripsikan secara faktual

lain dalam kelompok kecil


Observasi frekuensi mengkritik

perubahan fungsi tubuh


Mempertahankan interaksi sosial

dirinya