Anda di halaman 1dari 13

0

Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat Dalam Rangka


Pelaksanaan Anggaran Pendapatan
Dan Belanja Negara (APBN)
Sistem Akuntansi Pemerintah
Dosen : Drs. Robert Simbolon, MPA

Oleh :
Dian Illahiya
1215217036
S1. Akuntansi

Universitas Pancasila
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 476/KMK.O1/1991 tentang
Sistem Akuntansi Pemerintah, sistem akuntansi pemerintah pusat telah dikembangkan
dan diimplementasikan secara bertahap. Tahap pertama dilaksanakan mulai tahun
anggaran 1993/1994, dan diikuti dengan tahap-tahap berikutnya, dan yang pada tahun
anggaran
1999/2000,
implementasi
SAPP
telah
mencakup
seluruh
Departemen/Lembaga di seluruh propinsi.
Walaupun target jangka waktu bagi penerapan sistem ini adalah empat tahun, dimulai
untuk Anggaran 1993/1994, hingga tahun 2001 belum ada departemen/nondepartemen yang menerapkan SAPP secara penuh. Rendahnya penerapan sistem ini
pada tingkat daerah disebabkan, antara lain oleh kurangnya sosialisasi yang
terencana, kurangnya sumber daya manussia, resistensi dari pengguna sistem
terhadap perubahan, kurang koordinasi antarlembaga terkait, hingga UU Nomor 22
Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang
Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, yang memberikan keleluasaan
daerah untuk mengelola keuangannya. Belum adanya Standar Akuntansi Pemerintah
untuk menyamakan persepai para penyusun neraca juga menjadi kendala bagi
penerapannya, sehingga penyusunan neraca pusat dan proses konsolidasi dengan
pemerintah pusat belum dapat dilakukan.
Pemerintah mutlak ikut berperan dalam setiap bentuk atau sistem perekonomian,
bukan hanya untuk menyediakan barang-barang publik, melainkan juga untuk
mengalokasikan barang-barang produksi maupun barang konsumsi, di samping
memperbaiki distribusi pendapatan, memelihara stabilitas nasional termasuk stabilitas
ekonomi, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi. Khusus bagi negara sedang
berkembang kegiatan pemerintah pada umumnya selalu meningkat, karena
pemerintah bertindak sebagai pelopor dan pengendali pembangunan.1

1 Edi Soepangat Dan Haposan Lumban Gaol, Pengantar Ilmu Keuangan Negara, PT
Gramedia Pustaka Utama Jakarta 1991, hal 3

Apabila setiap orang menghendaki kemakmuran material dan spiritual dalam arti
dapat dipenuhi segala keinginan atau kebutuhannya yang selalu berkembang, maka
bagi masyarakat sebagai keseluruhan menghendaki keamanan (termasuk kestabilan),
keadilan, dan kemakmuran. Dengan perkataan lain mencita-citakan masyarakat yang
aman, adil, dan makmur.
Penerapan sistem akuntansi pemerintahan dari suatu negara akan sangat bergantung
kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku pada negara yang bersangkutan.
Ciri-ciri terpenting atau persyaratan dari sistem akuntansi pemerintah menurut PBB
dalam bukunya A Manual for Government Accounting, antara lain disebutkan bahwa:
-

Sistem akuntansi pemerintah harus dirancang sesuai dengan konstitusi dan


peraturan perundang-undangan yang berlaku pada suatu negara.
Sistem akuntansi pemerintah harus dapat menyediakan informasi yang
akuntabel dan auditabel (artinya dapat dipertanggungjawabkan dan diaudit).
Sistem akuntansi pemerintah harus mampu menyediakan informasi keuangan
yang diperlukan untuk penyusunan rencana/program dan evaluasi pelaksanaan
secara fisik dan keuangan.

Modernisasi akuntansi keuangan di sektor pemerintah dimulai tahun 1982. Studi ini
dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan akuntabilitas keunagan negara oleh
Badan Akuntansi Negara (BAKUN), yang merupakan unit eselon 1 Departemen
Keuangan, melalui Proyek Penyempurnaan Sistem Akuntansi dan Pengembangan
Akuntansi (PPSAPA) dengan bantuan pembiayaan dari Bank Dunia. latar belakang
proyek ini bermula dari kondisi sistem akuntansi dan pencatatan yang masih
menggunakan single entry, sehingga terdapat beberapa kelemahan yaitu:
-

Proses penyusunan lambat karena disusun dari sub sistem yang terpisah-pisah
dan tidak terpadu
Sistem single entry tidak lagi memadai menampung kompleksitas transaksi
keuangan pemerintah
Sulit dilakukan rekonsiliasi
Tidak mendasarkan pada Standar akuntansi Keuangan Pemerintah
Tidak dapat menghasilkan neraca pemerintah

Berbagai perubahan dan penyempurnaan terus dilakukan oleh pernerintah dalam


rangka pengembangan sistem akuntansi pernerintah pusat. Pada tahun 2005,
pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan mengeluarkan Peraturan No
59/PMK.06/2005 tcntang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah
Pusat sesuai dengan ketentuan Pasal 7 ayat (2) huruf o Undang-undang Nomor l

Tahun 2004; tentang Perbendaharaan Negara. Menteri Keuangan selaku Bendahara


Umum Negara berwenang menetapkan sistem akutansi dan pelaporan keuangan
negara sehingga perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.
Penerapan Sistem Akuntansi Pernerintah Pusat (SAPP) merupakan untuk unit-unit
organisasi pemerintah pusat yang keuangannya dikelola langsung oleh pemerintah
pusat, seperti lembaga tertinggi Negara (MPR), lembaga tinggi negara (DPR, DPA,
MA), departemen atau lembaga nondepartemen, Sedangkan SAPP tidak diterapkan
untuk pemerintah daerah, BUMN/BUMD bank pemerintah, dan lembaga keuangan
milik pemerintah.
SAPP dipakai untuk menyediakan informasi keuangan yang diperlukan dalam hal
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pengendalian anggaran,
perumusan kebijaksanaan, pengambil keputusan dan penilaian kinerja pernerintah dan
sebagai upaya untuk mempercepat penyajian Perhitungan Anggaran Negara (PAN),
serta memudahkan pemeriksaan oleh aparat pengawasan fungsional secara efektif
clan efisien.
Di samping itu, SAPP juga dirancang untuk mendukung transparansi Laporan
Keuangan Pemerintah dan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah dalam mencapai
pemerintahan yang baik, yang meliputi Akuntabilitas, Manajerial dan Transparansi.
Akuntabilitas yang dimaksud adalah meningkatkan kualitas akuntabilitas
(pertanggungjawaban) pemerintah atas pelaksanaan anggaran. Dalam hal manajerial
adalah menyediakan informasi keuangan yang diperlukan untuk perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pengendalian anggaran, perumusan
kebijaksanaan, pengambilan keputusan dan penilaian kinerja pemerintah. Sedangkan
menyangkut transparansi adalah memberikan keterbukaan pelaksanaan kegiatan
pemerintah kepada rakyat untuk mewujudkan pemerintahan yang baik.
Dalam penyusunan sistem digunakan pendekatan bahwa keseluruh Pernerintah Pusat
merupakan kesatuan akuntansi dan ekonomi tunggal. Presiden sebagai pengelola
utama dan DPR sebagai badan yang bertugas menelaah dan mengevaluasi
pelaksanaannya. Dengan dasar kesatuan tunggal maka sistem akuntansi dan
pelaporan keuangan dikembangkan dengan terpadu, yang terdiri dari berbagai
subsistem. Subsistem-subsistem ini masing-masing merupakan bagian yang integral
dari sistem yang menyeluruh.

Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara digunakan sebagai


landasan operasional keuangan tahunan Pemerintah dan dengan disahkannya UUAPBN maka pelaksanaan anggaran dapat dilaksanakan. Untuk itu diperlukan
akuntansi yang membukukan anggaran serta realisasinya. dengan demikian
pertanggung.jawaban dapat cepat serta mudah dalam hal pengawasannya.
Penggunaan basis kas ini sesuai dengan Undang-Undang Perbendarahaan Indonesia
dan Keppres Nomor 16 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara.
B. Perumusan Masalah
Bagaimana Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat Dalam Rangka Pelaksanaan
Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) ?

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Standar Akuntansi


Standar dan prinsip akuntansi adalah norma atau aturan dalam praktek yang dapat
diterima oleh profesi, dunia usaha, dan departemen/lembaga pemerintah yang
berkcpentingan dengan laporan keuangan. Sistem dirancang agar pelaksanaan
akuntansi dilakukan secara berjenjang dan dimulai pada sumber data di daerah atau
propinsi dan digunakan sebagai pedoman penyusunan unit-unit akuntansi baik di
tingkat wilayah maupun tingkat pusat.
B. Anggaran
Istilah anggaran pendapatan dan belanja negara (budget) biasanya digunakan
menamai perkiraan normatif daripada semua pengeluaran negara dan alat-alat
pembiayaan yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran dalam jangka waktu
tertentu di masa yang akan datang dan disusun secara sistematis. Dengan demikian,
anggaran pendapatan dan belanja itu dirumuskan dalam arti sosial-ekonomis sebagai
"rencana keuangan".2
Pada umumnya anggaran (budget) dapat dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi
kecepatan peningkatan pendapatan nasional. Ada pun budget mana yang dipakai
tergantung pada keadaan perekonomian yang dihadapi. Dalam keadaan deflasi
biasanya dipergunakan budget yang defisit, dalam inflasi digunakan budget yang
surplus dan dalam keadaan normal dipergunakan budget yang seimbang.
C. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah sistem akuntansi yang mengolah
semua transaksi keuangan, aset, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah pusat, yang
menghasilkan informasi akuntansi dan laporan keuangan yang tepat waktu dengan
mutu yang dapat diandalkan, baik yang diperlukan oleh badan-badan di luar
pemerintah pusat seperti DPR, maupun oleh berbagai tingkat manajemen pada
pemerintah pusat.
2 Yuswar Zainul Basri, Keuangan Negara Dan Analisis Kebijakan Utang Luar Negeri,
Rajawali Press, Jakarta 2002, hal 9

Sistem Akuntansi Pernerintah Pusat, yang selanjutnya disebut SAPP, adalah


serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan
data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan
operasi keuangan Pernerintah Pusat. SAPP terdiri dari Sistem Akuntansi Pusat (SiAP)
dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang menghasilkan Laporan Keuangan
Pernerintah Pusat. SiAP memproses data transaksi Kas Umum Negara dan Akuntansi
Umum, sedangkan SAI memproses data transaksi keuangan dan barang yang
dilaksanakan oleh kementerian negara/ Iembaga.
Sistem akuntansi pemerintah pusat terdiri dari :
a. Sistem Akuntansi Pusat (SiAP);
Sistem Akuntansi Pusat (SiAP) dilaksanakan
Perbendaharaan ( Ditjen PBN) dan terdiri dari:
-

oleh

Direktorat

Jenderal

SAKUN (Sistem Akuntansi Kas Umum Negara) yang menghasilkan Laporan


Arus Kas dan Neraca Kas Umum Negara (KUN). Pada tingkat wilayah, kedua
subsistem di atas dilaksanakan oieh Kanwil Dit perbendaharaan dan seluruh
KPPN di wilayah kerjanya selaku Kuasa BUN.
SAU (Sistem Akuntansi Umum) yang menghasilkan Laporan Realisasi
Anggaran dan Neraca SAU. Pengolahan data dalam rangka penyusunan
laporan keuangan SAU dan SAKUN, dilaksanakan oleh unit-unit Ditjen PBN
yang terdiri dari:
Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)
Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan (Kanwil Ditjen PBN);
Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan.

b. Sistem Akuntansi Instansi (SAI).


Sistem Akuntansi Instansi (SAI) dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga.
Kementerian negara/lembaga melakukan pemrosesan data untuk menghasilkan
Laporan Keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Catatan atas
Laporan Keuangan. Dalam pelaksanaan SAI, kementerian negara/lembaga
membentuk unit akuntansi keuangan (SAK) dan unit akuntansi barang (SABMN).

Unit akuntansi keuangan terdiri dari:

Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA). Unit Akuntansi Pengguna


Anggaran, yang selanjutnya disebut UAPA, adalah unit akuntansi instansi
pada tingkat Kementerian Negara/ Lembaga (pengguna anggaran) yang
melakukan kegiatan penggabungan laporan, baik keuangan maupun barang
seluruh UAPPA-E1 yang berada di bawahnya.
Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon1 (UAPPA-E1). Unit
Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I, yang selanjutnya disebut
UAPPA-E1, adalah unit akuntansi instansi yang melakukan kegiatan
penggabungan laporan, baik keuangan maupun barang seluruh UAPPA-W
yang berada di wilayah kerjanya serta UAKPA yang langsung berada di
bawahnya.
Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W). Unit
Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah, yang selanjutnya disebut
UAPPA-W, adalah unit akuntansi instansi yang melakukan kegiatan
penggabungan laporan, baik keuangan maupun barang seluruh UAKPA yang
berada dalam wilayah kerjanya.
Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA). Unit Akuntansi Kuasa
Pengguna Anggaran, yang selanjutnya disebut UAKPA, adalah unit akuntansi
clan pelaporan tingkat satuan kerja.

Unit akuntansi barang terdiri dari:

Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB). Unit Akuntansi Pengguna Barang


adalah unit akuntansi BMN pada tingkat kementrian/lembaga yang melakukan
kegiatan penggabungan laporan BMN dari UAPPB-E1 yang penanggung
jawabnya adalah Menteri/Pirnpinan Lembaga.
Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon1 (UAPPB-E1). Unit
Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I adalah unit akuntansi BMN
pada tingkat Eselon1 yang melakukan kegiatan penggabungan laporan BMN
dari UAPPB-W dan UAKPB yang langsung berada di bawahnya yang
penanggung jawabnnya adalah pejabat Eselon I
Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W). Unit
Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah adalah unit akuntansi BMN
pada tingkat wilayah yang ditetapkan sebagai UAPPB-W dan melakukan
kegiatan penggabungan BMN dari UAKPB. penanggung jawabnya adatah
Kepala Kantor Kepala unit kerja. ditetapkan sebagai UAPPB-W.

Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB). Unit Akuntansi Kuasa


Pengguna Barang, yang selanjutnya disebut satuan kerja/kuasa pengguna
barang yang memiliki wewenang menggunakan BMN.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Bagaimana Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat Dalam Rangka Pelaksanaan


Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) ?
Pada pemerintah pusat, pelaksanaan APBN dimulai dengan diterbitkannya Daftar
Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA. Segera setelah suatu tahun anggaran dimulai (1
Januari), maka DIPA harus segera diterbitkan untuk dibagikan kepada satuan-satuan
kerja sebagai pengguna anggaran pada kementerian/lembaga. Seperti pada
pemerintah pusat, pada pemerintah daerah juga harus menempuh cara yang sama
dengan sedikit tambahan prosedur. Setelah terbit Peraturan Daerah tentang APBD,
SKPD wajib menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran/DPA. Dengan demikian
maka fleksibilitas penggunaan anggaran diberikan kepada Pengguna Anggaran. DPA
disusun secara rinci menurut klasifikasi organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan
jenis belanja disertai indikator kinerja. Dokumen ini disertai dengan rencana
penarikan dana untuk mendanai kegiatan dan apabila dari kegiatan tersebut
menghasilkan pendapatan maka rencana penerimaan kas (pendapatan) juga harus
dilampirkan.
Jika DIPA bagi kementerian/lembaga sudah dapat dijadikan dokumen untuk segera
melaksanakan anggaran Pemerintah Pusat, pada pemerintah daerah masih diperlukan
Surat Penyediaan Dana (SPD). SPD merupakan suatu dokumen yang menyatakan
tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan. SPD ini diperlukan untuk
memastikan bahwa dana yang diperlukan melaksanakan kegiatan sudah tersedia pada
saat kegiatan berlangsung. Setelah DPA dan SPD terbit, maka masing-masing satuan
kerja wajib melaksanakan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.
Selanjutnya atas pelaksanaan kegiatan oleh satuan kerja, ada dua sistem yang terkait
dengan pelaksanaan anggaran, yaitu sistem penerimaan dan sistem pembayaran.

Sistem Penerimaan

Seluruh penerimaan negara/daerah harus disetor ke Rekening Kas Umum


Negara/Daerah dan tidak diperkenankan digunakan secara langsung oleh satuan kerja
yang melakukan pemungutan (Azas Bruto). Oleh karena itu, penerimaan wajib
disetor ke Rekening Kas Umum selambat-lambatnya pada hari berikutnya. Dalam
rangka mempercepat penerimaan pendapatan, Bendahara Umum Negara/Daerah
(BUN/BUD) dapat membuka rekening penerimaan pada bank. Bank yang
bersangkutan wajib menyetorkan penerimaan pendapatan setiap sore hari ke
Rekening Kas Umum Negara/Daerah.

10

Sistem Pembayaran

Belanja membebani anggaran negara/daerah setelah barang/jasa diterima. Oleh


karena itu terdapat pengaturan yang ketat tentang sistem pembayaran. Dalam sistem
pembayaran terdapat dua pihak yang terkait, yaitu Pengguna Anggaran/Barang dan
BUN/BUD.
Terdapat dua cara pembayaran, yaitu pembayaran yang dilakukan secara langsung
oleh BUN/BUD kepada yang berhak menerima pembayaran atau lebih dikenal
dengan sistem Langsung (LS). Pembayaran dengan sistem LS dilakukan untuk
belanja dengan nilai yang cukup besar atau di atas jumlah tertentu. Cara lainnya
adalah dengan menggunakan Uang Persediaan (UP) melalui Bendahara Pengeluaran.
Pengeluaran dengan UP dilakukan untuk belanja yang nilainya kecil di bawah jumlah
tertentu untuk membiayai keperluan sehari-hari perkantoran.
Pelaksanaan anggaran dilakukan dengan mengikuti suatu sistem dan prosedur
akuntansi. Sistem ini diperlukan untuk tujuan tiga hal, yaitu:
-

Untuk menetapkan prosedur yang harus diikuti oleh pihak-pihak yang terkait
sehingga jelas pembagian kerja dan tanggung jawab diantara mereka.
Untuk terselenggarakannya pengendalian intern dalam menghindari terjadinya
penyelewengan.
Untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah yang sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

Sistem yang mumpuni membantu pula dalam pengawasan pengelolaan anggaran


sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), APIP juga berfungsi untuk memperkuat dan
menunjang efektivitas SPIP, sehingga dalam hal ini APIP dapat melakukan
pengawasan intern.

BAB IV
PENUTUP

11

a. Kesimpulan
Dengan dilaksanakannya sistem akuntansi pemerintah pusat pengelolaan keuangan
akan lebih mudah dilaksanakan , laporan keuangan memiliki akuntabilitas yang baik
dilaksanakan dengan sistematis.

Daftar Pustaka

12

Edi Soepangat Dan Haposan Lumban Gaol, Pengantar Ilmu Keuangan Negara, PT
Gramedia Pustaka Utama Jakarta 1991
Yuswar Zainul Basri, Keuangan Negara Dan Analisis Kebijakan Utang Luar
Negeri, Rajawali Press, Jakarta 2002, hal 9

Referensi :
http://widihartawan.blogspot.co.id/2013/06/sistem-akuntansi-pemerintah-pusatdi.html
https://andichairilfurqan.wordpress.com/tag/pelaksanaan-anggaran/