Anda di halaman 1dari 100

Kata Pengantar

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Hak cipta dilindungi Undang-undang


All Right Reserved

ii

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KATA PENGANTAR

iii

KATA PENGATAR


Saat ini, pada akhir 2015, sebanyak 151
kepala Negara hadir di Paris perncis untuk menghadiri
pertemuan Conference of Parties 21 (COP21). Presiden
RI, Joko Widodo dalam sambutannya menyampaikan
komitmen Indonesia kedepan dalam pengurangan emisi
yaitu penurunan emisi 29% di tahun 2030 dan 41%
dengan kerja sama internasional. Sebagaimana dikutib
oleh banyak media massa.
Dalam Forum COP 21 itu, Presiden Jokowi akan
menyampaikan langkah-langkah konkrit Indonesia
dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan,
terutama perbaikan tata kelola lahan gambut.
Konferensi ini sebenarnya sangat penting untuk
mencapai suatu perjanjian internasional baru mengenai
perubahan iklim, yang berlaku untuk semua negara
dengan tujuan menjaga pemanasan global di bawah
20 C. Konvensi kerangka kerja PBB tentang perubahan
iklim (COP 21) yang diseleakan pada Desember 2015 di
Paris, Prancis.
COP21 ini merupakan konfersnsi yang sangat
krusial. Pada konvensi negosiasi sebelumnya, seluruh
negara sepakat untuk menguraikan tindakan nyata
yang telah dilakukan selama ini sesuai perjanjian
global sebelum pertemuan di Paris nanti. Komitmen
negara-negara ini disebut dengan Intended Nationally
Determined Contributions (INDC). INDC suatu negara
harus memberikan sinyal kepada dunia bahwa mereka
telah melakukan kontribusi nyata untuk memerangi
perubahan iklim melalui pengurangan emisi dan upaya
mengatasi risiko perubahan iklim di masa depan. Dalam
INDC, negara-negara akan mengusulkan informasi
iv

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

secara lengkap tentang upaya-upaya pengurangan


emisi, periode penangulangan dll.
Sebagai bentuk kontribusi Indonesia dalam upaya
pengurangan emisi global, saat ini Pemerintah melalui
Kementerian PPN/Bappenas telah menyiapkan INDC
yang disampaikan pada pertemuan di Paris. Ruang
lingkup untuk INDC Indonesia menyangkut sektor
kehutanan dan pertanian (termasuk dekomposisi dan
kebakaran lahan gambut), sektor energi, industri dan
limbah.
Selain itu, dalam INDC Indonesia diuraikan
kebijakan dan aksi mitigasi apa yang potensial untuk
dikembangkan dari berbagai sektor serta yang terkait
dengan pembiayaannya. Penyusunan INDC Indonesia
ini diharapkan tidak hanya menguraikan tentang
target dan upaya nasional mengurangi emisi karbon,
melainkan juga memuat tentang proyeksi sejauh mana
ambisius Indonesia beserta kendala yang dihadapi
untuk mempromosikan perubahan iklim sebagai bagian
dari pembangunan berkelanjutan.
Melihat urgensitas pertemuan ini dan masih
sedikitnya
perhatian
masyarakat,
khususnya
pemuda yang tertarik dengan persoalan perubahan
iklim, khususnya COP21, maka diuandanglah para
pemuda/mahasiswa untuk memberikan masukan
kepada delegasi dari Indonesia. Itulah latar belakang
penyelenggaraan Youth Camp on Youth Persective
towards COP21.
Kegiatan Youth camp on Indonesian Youth
perspective Toward COP21 merupakan kegiatan yang
dilakukan dalam rangka menghimpun aspirasi dan
pandangan-pandangan anak muda soal COP 21. Acara
ini digelar atas kerja sama Friedrich Naumann Stiftung
(FNF), Freedom Institute dan Indonesian Youth Team
For Climate Change (IYTCC).
Sedangkan puncak acara diadakan pada tanggal
20-22 September 2015 di Higland Resort Hotel Bogor.
KATA PENGANTAR

Sebelumnya dilakukan proses rekrutmen peserta


melalui social media serta website www.iytcc.com.
dan seleksi. Setipa peserta mengirimkan artikel atau
kampenye penyelaman bumi dan pentingnya COP 21 ke
panitia penyelenggara. Ada 48 peserta yang dinyatakan
lolos seleksi dan berhak mengikuti acara Konferensi
pemuda soal COP 21 yang berasal dari banyak daerah,
antara lain; Ambon, Kalimantan, Jawa barat, Jawa
Timur, Jawa Tengah, dan Riau.
Latar belakang peserta youth camp sangat
beragam, baik dari asal daerah maupun latar belakang
keilmuan. Dari form peserta diketahui bahwa peserta
berasal dari Riau, Lampung, Samarinda, Maluku,
Jawa Tengah, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Sedangkan
latar belakang kampus-nya antara lain: UI, UNSOED
semarang, Unpad, ITB,IPB UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta dan lain sebagainya.
Acara Youth Camp dipandu dan difasilitatori oleh
Nur kholim. Mangawali acara fasilitator mempersilahkan
programme officer FNF, Muhammad Husni Thamrin,
memberikan kata pembuka. Dalam sambutannya, FNF
menyambut baik acara ini. FNF juga sangat terkesan
dengan asal peserta yang jauh dari Jakarta dengan
biaya sendiri. Hal ini menunjukkan kekuatan tekad
dan komitmen terhadap acara ataupun terhadap
isu/persoalan perubahan iklim. Melalui acara ini,
diharapkan kita dapat merumuskan rekomendasirekomendasi kebijakan yang berasal dari perspektif
anak muda.
Adapun tujuan diadakannya acara ini adalah.
1. Tersusunnya rekomendasirekomendasi perspektif
anak muda dalam menyambut COP 21 di Paris
pada bulan November 2015.
2. Terciptanya pemahaman peserta tentang isu
perubahan iklim,
3. Terciptanya pemahaman peserta soal kebijakankebijakan nasional, terutamanya kebijakan seKtor
energI.
vi

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

4. Terciptanya pemahaman peserta soal kebijakan


negera dalam sector industry, lahan dan sampah/
limbah.
5. Tersusunnya rekomendasi kebijakan soal lahan,
energy, industry dan limba
6. Terciptanya jaringan mahasiswa dan pemuda
untuk perubahan iklim.
Dalam sessi menuju COP 21 Para pemibacara
menyampaikan urgensitas forum ini dalam kerangka
mengatasi dampak perubahan iklim. Hal itu
disampaikan oleh 3 narasumber, yaitu ibu Gracia
Paramita dari UNEP, Zainul Munasichin dari Menpora
dan juga Bapak Yusuf Suryanto dari Bapenas.

Dalam mengatasi perubahan iklim, pemerintah


Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional
dan rencana aksi daerah dalam suatu kebijakan yang
ditungakan dalam kerangka mitigasi dan adaptasi
KATA PENGANTAR

vii

perubahan iklim. Pada kenyataannya, kegiatan


adaptasi dan mitigasi perubahan iklim merupakan
tindakan yang saling mempengaruhi satu dengan
lainnya sehingga dapat dilakukan dalam satu siklus.
Sebaliknya, jika upaya mitigasi yang dilakukan tidak
signifikan, maka dampak perubahan iklim yang terjadi
akan mempersulit upaya adaptasi di masa depan.
Inisiatif untuk mengatasi dampak perubahan iklim di
anggap dapat menurunkan laju pertumbuhan ekonomi,
terutama di negara berkembang. Namun, hal tersebut
juga memberikan peluang investasi yang sangat besar.
Fakta menunjukkan upaya mitigasi dapat menelan
biaya yang sangat besar (banjir California, Jakarta, dll).

2. Pemuda Hebat Gerakan Kepeloporan pemuda di


100 desa mandiri energi terbarukan
3. Pemuda Tani Gerakan Kepeloporan pemuda di
bidang Kedautalan Pangan di 100 desa rintisan
4. Pemuda Hebat Gerakan Kepeloporan Rehabilitasi
di 20 Daerah Aliran Sungai (DAS)
5. Kampanye Pemuda Lingkungan6. Forum Pemuda Internasional Untuk Lingkungan
Hidup Tingkat
7. Pemuda Relawan Gerakan Kepeloporan pemuda
penanganan tanggap bencana di 34 Propinsi
8. Pemuda Hebat Gerakan Kepeloporan pemuda di
bidang Pemnberdayaan 92 Kabupaten Terluar di
Indonesia
9. Pemuda Desa Wisata Gerakan Kepeloporan
Pemuda untuk Pengembangan 100 Desa Wisata
Pembicara dari Pusat data dan Informasi Pusdatin
kementrian ESDM untuk memberikan input soal
kebijakan energy nasional. Dalam pemaparannya,
potensi energy nasional kita adalah sebagaimana
berikut;

Sedangkan Zainul Munasichin, Staf Ahli Menpora


menyampaikan rasa bangga dan percayanya terhadap
potensi anak-anak muda di Indonesia. Dalam mengatasi
perubahan iklim, kementrian pemuda dan olah raga
(MENPORA) telah menyusun serangkaian program
yang dapat mengatasi persolan perubahan iklim. Salah
satunya adalah lewat kepeloporan pemuda dalam
berbagai bidang, antara lain:
1. Pemuda Maritim Gerakan Kepeloporan pemuda
pesisir di 98 Kabupaten Pesisir paling rentan
kerusakan lingkunan

viii

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

NO

ENERGI BARU
TERBARUKAN

SUMBER DAYA
(SD)

1
1
2
3

2
Hydro
Panas Bumi
Biomass

Tenaga Surya

5
6
7

Tenaga Angin
Samudera
Uranium

3
75.000 MW
28.617 MW
32.654 MW
4,80 kWh/m2/
day
3 6 m/s
49 GW ***)
3.000 MW *)

KAPASITAS
TERPASANG
(KT)
4
7.572 MW
1.343,5 MW
1.716,5 MW

RASIO KT/SD
(%)
5 = 4/3
10,1%
4,7 %
5,26 %

42,77 MW

1,87 MW
0,01 MW ****)
30 MW **)

*) Hanya di Kalan Kalimantan Barat


**) Sebagai pusat penelitian, non-energi
***) Sumber Dewan Energi Nasional
****) Prototype BPPT
KATA PENGANTAR

ix

Sedangkan kebijakan yang dilakukan dalam


rangka penghematan energy adalah:
1. Penghematan penggunaan energi final melalui
penggunaan teknologi lebih efisien maupun
penghematan energi
2. Penggunaan bahan bakar yang lebih efisien
3. Peningkatan
penggunaan
Energi
Baru
Terbarukan
4. Pemanfaatan teknologi bersih (pembangkit,
transportasi)
5. Pengembangan transportasi massal rendah
emisi, berlanjut dan ramah lingkungan
6. Reklamasi lahan tambanan
Demikian. Terimaksih

DAFTAR ISI
Pengantar ~ iii
Daftar isi ~ xi
Road To COP 21
Road To COP 21 ~ 13
Youth Camp and Climate Change ~ 23
Kebijakan Energi dan Pengembangan EBT untuk
Penurunan Emisi GRK ~ 45
Menggerakkan Pemuda dalam Memperkuat
Pembangunan Berkelanjutan ~ 55
Perencanaan Nasional : Program dan Kebijakan
Perubahan Iklim INDC-Indonesia
Intended Nationally Determined Contributions
(INDC) ~ 63
Dokumen Pendukung Penyusunan INDC
Indonesia~ 67
Perencanaan Nasional: Program dan Kebijakan
Perubahan Iklim (BAPPENAS) ~ 115
Final Draft INDC Indonesia ~ 141
Indonesia INDC and Road to Paris ~ 157
Kontribusi Anak Muda dalam COP 21
Pengatar Diskusi Kelompok ~ 167
Komisi Energi ~ 171
Komisi Limbah ~ 179
Komisi Industri ~ 185
Komisi Lahan ~ 191

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

xi

ROAD TO COP 21

Road To Cop 21

xii

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

13

ROAD TO COP 21 :
OPPORTUNITIES AND CHALLENGE

UN Conference
on the Human
and
Environment
( 1972)

World Climate
Conference I
(1979)

Kyoto Protocol
(1997-2012)

COP 3, Kyoto
(1997)

COP 13, Bali


(2007) :
Bali Road
Map

CMP 1,
Montreal
(2005)

Gracia Paramitha, S.Hub.Int, M.Si

COP 19,
Warsaw (2013)

COP 18, Doha


(2012)

COP 20, Lima


(2014)

COP 21, Paris


(2015)

Intergovernmental
Panel on Climate
Change (IPCC)
[1988]

Earth Summit,
Rio de Janeiro
(1992)

COP 1,
Berlin
(1995)
COP 14,
Poznan
(2008)

FCCC
UNFCCC
(1994)
COP 15,
Copenhagen:
Copenhagen
Accord

COP 17,
Durban (2011)

COP 16,
Cancun
(2010)

INDONESIA AND
CLIMATE CHANGE

GREAT EXPECTATIONS

Stockholm+40
Rio+20
WSSD
2015
Joberg
2012

GMEF/
GCM
Rio
1992

1994

2002
2000

GCSF

Global
Sustainability

1982
Stockholm
1972

14

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

15

PLN RI DALAM COP 13 (3-14 DESEMBER 2007)

preCOP 13

Posisi dan
Diplomasi
Indonesia

Hasil COP
13

Forestry 8
Jabatan strategis Rachmat Witoelar
Building team : negotiation and substance
Final draft 4 building blocks and new track

PLN RI DALAM COP 15 (7-18 DESEMBER 2009)


Pre
COP
15

Rezim baru untuk COP


Kerangka Kerja post Kyoto Protocol 2012
(Deadline: 2009)

Posisi
Indonesia

(Decision 1/CP 13) :2 negotiation track, building blocks,


supporting activities
Breakthrough BALI ROADMAP (2007-2009)

Titik
kritis

di COP
15

Perubahan
iklim di
ranah
politis
puncak

5 agenda
SBY
Inefek
tivitas
kinerja
DELRI

Jumlah
partisipan

Hopenhagen

Angka target emisi


sukarela Ind (26%)

Pergantian
birokrasi
Indonesia

Clearly
weak and
step
backward

PLN RI DALAM COP 14 (1-12 DESEMBER 2008)


submisi ke Sekretariat UNFCCC dan pertemuan
internasional.
Tiga poros kekuatan DELRI : KLH+ Kemlu
+ Pembentukan DNPI Keppres Juli 2008
Posisi dan diplomasi Indonesia: Implementasi
mandat Bali Road Map di Poznan CBDR dan
RC
Delaying tactics perdebatan shared vision dan
legal capacity

16

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

17

ENVIRONMENT AND MANAGEMENT?

MONEY FOR ENVIRONMENT?

18

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

19

OPPORTUNITIES IN COP 21, PARIS

CLIMATE CHANGE PARTNERSHIPS

Green Climate Fund (GCF) with $ US10 billion target


Forests and the Lima Information Hub for REDD +
Lima-Paris Action Agenda
UNFCCC Pre-2020 Action Forum and Fair
UNFCCC NAMA Day

Sustainable Innovation Forum 2015

Youtube
: http://www.youtub
e.com/user/YouthEc
opreneurship
Twitter
: https://twitter.com/
YEPcamp_ID

COLLABORATION AND
COOPERATION

WWW.YEPCAMP.ORG
20

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

Facebook
Page: http://www.fac
ebook.com/YepCamp
Indonesia

21

WE ARE UNITY!

Youth Camp and


Climate Change
THANK YOU

Gracia Paramitha
Leecturer at LSPR Jakarta
UNEP TUNZA Youth Advisory Council
Email: gracia.p@lspr.edu
Twitter/Facebook: @GraciaParamitha

22

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

23

Indonesia dan Perubahan Iklim


Indonesia memiliki kepentingan terhadap
upaya pengurangan dampak Perubahan
Iklim.
Indonesia merupakan salah satu emitter
terbesar di dunia (ke enam). (2.1 3.3 GtCO2
antara 2005-2030*)
Indonesia termasuk negara emerging
economies (mjd anggota G20).
Indonesia sangat rentan terhadap perubahan
iklim. Diperkirakan potensi kerugian akibat
perubahan iklim akan menjadi sangat besar.
Indonesia dapat menjadi role model terkait
pengurangan emisi.

Youth Camp on Climate Change

Yusuf Suryanto
Bogor, 20 September 2015

* source: SNC 2010

Prolog

Tingkat Emisi CO2 National

Yusuf Suryanto
Perencana Bidang Energi di Bappenas
Minat:
Public Policy
Energy Policy
Economic Regulation
Energi memiliki
tingkat
percepatan
paling tinggi

24

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

25

Mitigasi atau Adaptasi

Latest IPCC Findings


Berbagai fakta menunjukkan bahwa perubahan iklim telah dan sedang
berjalan

Pada kenyataannya, kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim merupakan tindakan yang
saling mempengaruhi satu dengan lainnya sehingga dapat dilakukan dalam satu siklus. Sebaliknya,
jika upaya mitigasi yang dilakukan tidak signifikan, maka dampak perubahan iklim yang terjadi akan
mempersulit upaya adaptasi di masa depan.
Inisiatif untuk mengatasi dampak perubahan iklim di anggap dapat menurunkan laju pertumbuhan
ekonomi, terutama di negara berkembang. Namun, hal tersebut juga memberikan peluang investasi
yang sangat besar.
Fakta menunjukkan upaya mitigasi dapat menelan biaya yang sangat besar (banjir California,
Jakarta, dll).

Evolusi Penanganan Perubahan Iklim


Global (1)

Kerangka kerja IPCC


Article 3.3 of UNFCCC:
The parties should take precautionary
measures to anticipate, prevent or
minimize the causes of climate change and
mitigate its adverse effects. Where there
are threats of serious or irreversible
damage, lack of full scientific certainty
should not be used as a reason for
postponing such measures,
Long-term objective:
Keep global temperature
rise at 2 degrees Celsius
by 2100

Uncertainty

Precautionary
Principle
Action

WG 1- The Physical Science


Basis

WG 2- CC Impacts, Adaptation
and Vulnerability

Scientific based
Saat ini sebagian besar
orang yakin PI akibat ulah
manusia

Terkait persiapan utk


beradaptasi dgn resiko
Skenario 2 derajat berdampak
buruk bagi manusia

Sumber: S. Watanabe, IEEJ

26

The nineteenth session of the Conference of


the Parties (COP 19) took place from 11 to 22
November 2013 in Warsaw, Poland.

Risk

The 20th session of the Conference of


the Parties took place from 1 to 14
December in Lima, Peru

WG 3- Mitigation of CC
Penyiapan rencana aksi utk
mengurangi dampak
Agar skenario 2 derajat
dapat di manage

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

COP 21 November 2015 di Paris


6

ROAD TO COP 21

27

Evolusi Penanganan Perubahan Iklim


Global (2)
Kyoto
Protocol
berlaku

1994

UNFCCC
berlaku

2005

Type of Policy or Action

Saat
ini

2008-2012

2013-2020

2020-2030

KP 2nd Commitment
KP 1st Commitment
Top-down for
Top-down approaches
developed countries
Target on developed
Bottom-up for
countries only
developed & developing
countries

CDM
Projects
s/d 2012,
Indonesai hanya
menjadi observer

Post-2020
TBD di Paris?
Bottom-up for all
countries
Sumber: S. Watanabe, IEEJ

Target
26%/41%
Mulai 2012,
Indonesai
berkomitmen
sukarela

INDC
Indonesai
mempersiapkan
Post-2020 target
9

11

Sumber: GHG PROTOCOL & WRI, 2015

Evolusi Penanganan Perubahan Iklim


Global (3)

Upaya yang dilakukan Jepang (1)

Dalam Kyoto Protocl (KP), target penurunan global ditentukan dan


kemudian alokasi untuk setiap negara ditentukan.
Di Paris, setiap negara berkomiten pada suatu target (Intended Nationally
Determined Commitment-INDC) untuk Post-2020

Latest progress, 35 countries submitted

Sumber: S. Watanabe, IEEJ

28

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

12

ROAD TO COP 21

29

Perkembangan Kebijakan Nasional

Upaya yang dilakukan Jepang (2)

Sumber: Perkembangan Penanganan PI, Bappenas

Sumber: S. Watanabe, IEEJ

15

13

Upaya yang dilakukan Jepang (3)

Komitmen Nasional RAN GRK

Emisi terbesar di 2020 diperkirakan berasal dari sektor kehutanan dan


Energi
Upaya pengurangan emisi seharusnya fokus pada kedua sektor
dimaksud
Sumber: S. Watanabe, IEEJ

30

16

14

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

31

Kerangka Kerja Nasional

RAN GRK Perpres 61/2011

17

Sumber: Perkembangan Penanganan PI, Bappenas

NAMAs

Penyusunan INDC Indonesia

Pemerintah menyusun Nationally Appropriate Mitigation Actions (NAMAs)


sebagai alat untuk memfasilitasi dukungan masyarakat international
terhadap aksi-aksi dalam RAN GRK

18

32

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

19

Prinsip penyusunan rencana aksi


Article 3.4 of UNFCCC:
policies and measures to
protect the climate system
against human-induced
should be integrated
with national
development program

Sumber: Medrilzan, Bappenas

20

ROAD TO COP 21

33

Capaian

Trisakti dan Nawacita

Sumber: Medrilzam Bappenas

21

Tiga (3) Tantangan Utama Pembangunan


Nasional

23

Strategi Pembangunan Nasional

2025-2030 ada peluang bonus demografi (proporsi penduduk produktif >


proporsi penduduk non produktif (anak-anak dan lansia) !
Pembangunan ke depan harus dapat mempersiapkan agar ini menjadi
peluang (bonus) dan bukan beban (liabilities)
Indonesia sudah menjadi Middle Income Country (level bawah) !
Pembangunan ke depan harus menyiapkan landasan untuk menghindar
dari Middle Income Trap
Pembangunan berkelanjutan ! People-Profit-Planet didukung dengan
governance

22

34

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

24

ROAD TO COP 21

35

Energy Policy

Sasaran Makro
Beberapa Sasaran Makro RPJMN 2015-2019
Indikator

National Energy Policy ---- Government Regulation No. 79 Year 2014


2014*
(Baseline)

2019

Pembangunan Manusia dan Masyarakat


" Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
" Indeks Pembangunan Masyarakat

" Indeks Gini


Ekonomi Makro

" Pertumbuhan ekonomi

" PDB per Kapita (Rp ribu) tahun dasar 2010


" Inflasi

" Tingkat Kemiskinan

" Rasio Pajak (Tax Ratio) tahun dasar 2010**)


" Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

73,83

76,3

0,55

Meningkat
0,36

0,41

5,1%

8,0 %

72.217

43.403

8,4%
10,96 % *)

3,5%
7,0-8,0%

16,0%
4,0-5,0%

11,5%
5,94%

*) Tingkat kemiskinan Bulan September 2014, sebelum adanya kebijakan pengurangan subsidi BBM pada Bulan November 2014
27

25

Energy Balance Table 2013

Arah Pemanfaatan Energi


Perubahan Paradigma
Sumber Daya
Energi

EBT

Bukan lagi menjadi


komoditi
Tetapi sebagai modal
pembangunan

Bukan energi alternatif


Tetapi energi utama

Peningkatan Bauran Energi

TRANSPORT

INDUSTRI*

Konversi ke
gas bumi

Pemanfaatan
NRE**

Self Suff.: 190%


Dependence:
Coal: 26%
Natural gas*: 15.2%
Oil**: 33%
Import crude:7,5%
Import fuel:12%

RUMAH TANGGA

Konversi ke
gas bumi

*incl. LNG
**crude & fuel

Pemanfaatan
biogas

Pengelolaan
Energi

Tidak hanya sisi


penyediaan
Tetapi juga sisi
permintaan

Konversi ke
biofuel

Optimalisasi
gas & batubara

Pemanfaatan
NRE (spt
matahari)
Natural gas supply:
Pipeline export: 60.2 million BOE
LNG export: 159.5 million BOE

* Termasuk Listrik
** New and Renewable Energi (nuklir, biomasa dan sampah)

36

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

26

Oil supply:
Crude oil import: 118.3 million BOE
Fuel oil import: 192.7 million BOE

Energy consumption:
Natural gas: the biggest consumer is industry (76%)
Fuel oil: transportation (77%)
Household uses mainly biomass and LPG (for cooking)
and electricity

Source: Energy and Economics Statistic 2014, Ministry of Energy and Mineral Resources

ROAD TO COP 21

37

Sasaran dan Kerangka Pembangunan


2015-2019

Energy Start-Up?
Sektor energi memiliki peluang yang terbuka lebar untuk berkembangnya
entrepenuer muda (energy start-up)
Pemerintah, melalui Kementerian ESDM telah melakukan berbagai
tindakan untuk mendorong munculnya peran yang lebih dominan bagi
badan usaha (termasuk energy start-up)
No.

Energi

Harga Pembelian

Tegangan Menengah
1.

Biomassa

Rp. 975,- / kWh X F

2.

Biogas

Rp. 975,- / kWh X F

Tegangan Rendah

Increase
energy
efficiency: !
Audit energy and
energy
conservation

Achieving sufficient
economic growth
Lower CO2
emission,
compared to BAU

Plant capacity ~
on/off-grids; (2)
Utilizing new and
renewable energy

Provide Energy
access for HH:
(1) City Gas Devt:
(2) Expanding LPG
service; (3) Usage
of local energy
(biogas)

Develop Alternative
fuel for
transportation:

Rp. 1.325,- / kWh X F







    
 

(1) Providing nat. gas


fuel pumps; (2)
Developing biofuel

Enhance final
energy supply: (1)
Developing Nat. gas
transmission lines: (2)
Increasing Oil refinery
capacity: (3) Setting up
national energy reserves

Note: Modern energy access is defined as a household having reliable and affordable access to
clean cooking facilities and electricity (incl. adequate level of consumption)

38

Rp. 1.325,- / kWh X F

Biogas

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

31

Isu Penting Sektor Energy yang Masih


Perlu Penanganan

Energi dan Perubahan Iklim

Expand Electricity
access : (1) Power

Biomassa

Faktor insentif (F):


Wilayah Jawa, Bali, Sumatera
:F=1
Wilayah Kalimantan, Sulawesi , NTB dan NTT : F = 1,2
Wilayah Maluku dan Papua
: F = 1,3

29

Formulate
pricing
policy

1
2

FiT utk PLTS, PLTA,


Sampah kota








 
     
       
  


  


 
 
      

     
  
       
       
  
   
   
    
    
 
   
    
   

30

32

ROAD TO COP 21

39

Power Sector
In 2030 emissions: 810 MtCO2e, abatement potential: 225 MtCO2e

Terima Kasih
Direktorate of Energi, Telecommunication and Informatics
4th Floor, Main Building, BAPPENAS
Jl. Taman Suropati No.2, Menteng, Jakarta 10310
Tel/Fax: (021) 391 2422
yusuf.suryanto@bappenas.go.id
http://yusufsuryanto.blogspot.com

when you talk, youre repeating what you already know, but if you listen, you
may learn something new
33

35

GHG di Indonesia (1)

Abatement Cost
Indonesia has the potential to reduce its GHG emissions by 2.3 Gt, representing a
reduction of approximately 72 percent compared to the current trend. Thus, emissions in
2030 would be 67 percent lower than emissions in 2005.

Indonesias estimated average abatement cost is in the order of 2


USD per tCO2e by 2030

40

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

34

ROAD TO COP 21

41

GHG di Indonesia (2)

39

38

42

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

40

ROAD TO COP 21

43

CDM Projects

41

44

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Kebijakan Energi dan


Pengembangan EBT untuk
Penurunan Emisi GRK

ROAD TO COP 21

45

Kebijakan Energi dan


Pengembangan EBT untuk Penurunan Emisi GRK
disampaikan untuk acara Youth Camp on Climate Change
Oleh: Aang Darmawan (Pusdatin ESDM)

Bogor, 21 September 2015

Kementerian ESDM Republik Indonesia

Kementerian ESDM Republik Indonesia

DAFTAR ISI

UU NO.22 TAHUN 2001 TENTANG MINYAK DAN GAS BUMI

I. Kebijakan Energi Nasional dan


Rencana Umum Energi Nasional
II. Potensi dan Pengembangan EBT
III. Pemuda dan Mitigasi Perubahan Iklim

UU NO.30 TAHUN 2007 TENTANG ENERGI

3
18
33

UU NO.04 TAHUN 2009 TENTANG MINERAL DAN BATUBARA


UU NO.30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN
UU NO.21 TAHUN 2014 TENTANG PANAS BUMI

Kementerian ESDM Republik Indonesia

46

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Kementerian ESDM Republik Indonesia

ROAD TO COP 21

47

KEN & RUEN

SASARAN KEN
Energy Supply
~400 MTOE

UU NO.30 TAHUN 2007 TENTANG ENERGI

PP No. 79 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Energi Nasional

Perpres No. 1 Tahun 2014 Tentang Pedoman Penyusunan RUEN


4

DPR

PRESIDEN

3
DEWAN ENERGI NASIONAL

MENTERI ESDM

Penyiapan

Penetapan

UUD 1945, Pasal 33


UU 30/2007 ttg Energi
UU 30/2009 ttg Ketenagalistrikan
PP 70/2009 ttg konservasi Energi

Rancangan
Kebijakan Energi Nasional

(UU 30/2007, Pasal 11)

Penyiapan

Batubara

Rancangan
Rencana Umum Energi Nasional (UU

Rencana Umum Energi Nasional


(UU 30/2007, Pasal 12 ayat 2.b)

2. Industri:
Pembangkit
(115 GW)

22% ~ 88 MTOE

Kebijakan Energi Nasional

(UU 30/2007, Pasal 12 ayat 2.a)

25% ~ 100 MTOE

Gas Bumi

30% ~ 120 MTOE

30/2007, Pasal 17 ayat 1)

Rencana Umum Ketenagalistrikan


Nasional (RUKN)

Langsung ke End
User

5. Sektor Lainnya:

(PP 70/2009, Pasal 3 ayat 3.a)

52 MTOE
6 MTOE
6. Non Energi:
23 MTOE

(UU 30/2007, Pasal 18 ayat 1)

Rencana Induk Konservasi Energi


Nasional (RIKEN)

12 MTOE
4. Rumah Tangga:

23% ~ 92 MTOE

Rencana Umum Energi Daerah


(RUED)

82 MTOE
3. Komersial:

Kilang dan
Infrastruktur lainnya

EBT

(UU 30/2009, Pasal 7)

Energy Demand
~251 MTOE
1. Transportasi:
76 MTOE

Minyak Bumi

ACUAN:
1.
2.
3.
4.

Transformasi

Kementerian ESDM Republik Indonesia

Kementerian ESDM Republik Indonesia

SASARAN KEN
Energi Baru dan Terbarukan
Minyak Bumi
Gas Bumi
Batubara

Kondisi Saat ini

Tahun 2025

Gas
18%

31%

22%

5%

194
MTOE

23%

EBT

~ 400
MTOE

46%

25%

30%

Minyak
Saat ini

Tahun 2025

51 GW

115 GW

Konsumsi Energi

0,8 TOE/kapita

1,4 TOE/kapita

Konsumsi Listrik

776 KWh/kapita

Pembangkit Listrik

2.500 KWh/kapita
Kementerian ESDM Republik Indonesia

48

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Kementerian ESDM Republik Indonesia

ROAD TO COP 21

49

PEMBANGKIT ENERGI TERBARUKAN


JENIS
PEMBANGKIT

KAPASITAS TERPASANG KUMULATIF


S.D TAHUN 2014 (MW)
2013

2014

KONSERVASI ENERGI

TAMBAHAN

PANAS BUMI

1.343,50

1.403,50

60,00

ENERGI AIR

7.573,60

8.111,55

537,95

BIOENERGI

1.716,50

1.740,40

23,90

ENERGI SURYA

42,77

71,02

28,25

ENERGI ANGIN

1,33

3,07

HYBRID
TOTAL

0,54
10.678,24

1,74

0,54
11.330,08

0,00
651,84

tambahan kapasitas pembangkit listrik dari energi baru


terbarukan pada tahun 2014 sebesar 651 MW

PEMANFAATAN BAHAN BAKAR NABATI

Penurunan intensitas energi primer sebesar


1% per-tahun atau setara dengan
penurunan 5 SBM per Milyar rupiah.
Penghematan energi dapat dikatakan
sebagai hidden energy sources:
Menghemat 1 kWh adalah jauh lebih murah
dari pada memproduksi 1 kWh energi.

3500

Produksi

ENERGI BARU TERBARUKAN

SUMBER DAYA (SD)

KAPASITAS TERPASANG (KT)

RASIO KT/SD (%)

5 = 4/3

Hydro

75.000 MW

7.572 MW

10,1%

Panas Bumi

28.617 MW

1.343,5 MW

4,7 %

32.654 MW

1.716,5 MW

5,26 %

4,80 kWh/m2/day

42,77 MW

Biomass

Tenaga Surya

Ekspor

2500

Pemanfaatan BBN meningkat signifikan dari tahun


ke tahun.

2000

Implementasi mandatori BBN mencapai 1,69 juta KL


(43% dari target), menghemat devisa 1,23 Milyar USD
(meningkat sebesar 61% dibandingkan realisasi
tahun 2013)

1000

1500

500
0

2009

Kementerian ESDM Republik Indonesia

NO

Domestik

3000

Ribu kL

NO

2010

2011

2012

2014

Energi Terbarukan

Pembangunan pembangkit EBT sangat masif sesuai target


KEN rata-rata 3.600 MW per tahun hingga tahun 2025

Tenaga Angin

3 6 m/s

1,87 MW

Samudera

49 GW ***)

0,01 MW ****)

Uranium

3.000 MW *)

30 MW **)

*) Hanya di Kalan Kalimantan Barat


**) Sebagai pusat penelitian, non-energi
***) Sumber Dewan Energi Nasional
****) Prototype BPPT
NO

ENERGI TAK TERBARUKAN

SUMBER
DAYA (SD)

CADANGAN
TERBUKTI (CT)

RASIO CT/SD

PRODUKSI
(PROD)

RASIO CT/PROD
(TAHUN)

5 = 4/3

7 = 4/6

7.408,24

3.741,33

0,505

0,314

12

Minyak (milliar barel)

Gas (TSCF)

150,70

103,35

0,685

2,98

35

Batubara (miliar ton)

161,3

28,17

17

0,317

89

Gas Metana Batubara (TSCF)

453,3

Shale Gas (TSCF)

574

Pembangunan EBT
Realisasi 2014

Kementerian ESDM Republik Indonesia

50

2013

Kementerian ESDM Republik Indonesia

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

651 MW per tahun

RUEN EBTKE optimis

2.400 MW per tahun

RUEN sesuai KEN

3.600 MW per tahun

Kementerian ESDM Republik Indonesia

ROAD TO COP 21

51

Kebijakan yang dilaksanakan


1. Penghematan penggunaan energi final
melalui penggunaan teknologi lebih efisien
maupun penghematan energi
2. Penggunaan bahan bakar yang lebih efisien
3. Peningkatan penggunaan Energi Baru
Terbarukan
4. Pemanfaatan teknologi bersih (pembangkit,
transportasi)
5. Pengembangan transportasi massal rendah
emisi, berlanjut dan ramah lingkungan
6. Reklamasi lahan tambang

Kementerian ESDM Republik Indonesia

Indikator

Rencana Pengurangan Emisi


(million ton CO2e)

Forestry & Turf Area (Gambut)

26 %

41 %

Kementerian ESDM Republik Indonesia

Pelaksana

672

1.039

Agriculture

11

Kementan, KLH, Kemen PU

Kemenhut, KLH, Kemen. PU, Kementan

Energy and Transportation

38

56

Kemen ESDM, Kemenhub, Kemen. PU, KLH

Industry

Kemenperin, KLH

Waste

48

78

Kemen. PU, KLH

Total

767

1.189

600
500
Pembangkit Listrik

400

Industri
Transportasi

300

Rumah Tangga
200

Komersial
Lainnya

100
0

2015

2025

2030

Kementerian ESDM Republik Indonesia

52

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Kementerian ESDM Republik Indonesia

ROAD TO COP 21

53

Terima kasih

Kementerian ESDM Republik Indonesia

Menggerakkan Pemuda
dalam Memperkuat
Pembangunan Berkelanjutan

54

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

55

Laju deforestasi mencapai 1,8 juta hektar/tahun yang mengakibatkan 21% dari 133 juta
hektar hutan Indonesia hilang. Hilangnya hutan menyebabkan penurunan kualitas
lingkungan, meningkatkan peristiwa bencana alam, dan terancamnya kelestarian flora
dan fauna.

Menggerakkan Pemuda Dalam Memperkuat


Pembangunan Berkelanjutan
Zainul Munasichin, MA
(Staf Khusus Menpora RI Bidang Kepemudaan)

30% dari 2,5 juta hektar


terumbu karang di
Indonesia mengalami
kerusakan. Kerusakan
terumbu karang
meningkatkan resiko
bencana terhadap daerah
pesisir, mengancam
keanekaragaman hayati
laut, dan menurunkan
produksi perikanan laut.

INDONESIA YANG
ELOK NAN INDAH

Kementerian
Lingkungan Hidup (KLH)
melansir tingkat
kerusakan lingkungan
di Indonesia mengalami
peningkatan setiap
tahun. Kerusakan itu
bahkan sudah
mencapai 4050
persen dari luas
wilayah Indonesia
sekitar 190 juta
hektare.

56

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

57

Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama


dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai
utama panjang totalnya mencapai 94.573 km
dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai
1.512.466 km2. Asian Development Bank (2008)
pernah menyebutkan pencemaran air di Indonesia
menimbulkan kerugian Rp 45 triliun per tahun.
Bahkan pada 2010, Sungai Citarum pernah
dinobatkan sebagai Sungai Paling Tercemar di
Dunia oleh situs huffingtonpost.com

LIMA PENYEBAB KERUSAKAN


LINGKUNGAN :
(1) konversi hutan alam menjadi
tanaman tahunan,
(2) konversi hutan alam menjadi
lahan pertanian dan perkebunan,
(3) eksplorasi dan eksploitasi
industri ekstraktif pada kawasan
hutan (batu bara, migas,
geothermal),
(4) pembakaran hutan dan lahan,
dan
(5) konversi untuk transmigrasi dan
infrastruktur lainnya

Peringkat ke-2 eksportir batu bara dunia


Peringkat ke-9 eksportir emas dunia

58

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

DARURAT LINGKUNGAN
ROAD TO COP 21

59

PESAN KUAT PRESIDEN KEPADA


PARA PERUSAK LINGKUNGAN
HIDUP DI INDONESIA

.
APA YANG
BISA KITA
LAKUKAN ?
.

KOMITMEN
JOKOWI-JK

Di mana peran pemuda?.....


Beberapa rancangan program kepemudaan Kemenpora RI TA 2016 untuk
lingkungan hidup

Memperkuat konsep Eko Region.


Pembangungan Lingkungan berbasis
kawasan

26 % penurunan efek rumah kaca di 2020

Pemuda Maritim
Gerakan
Kepeloporan
pemuda pesisir di
98 Kabupaten
Pesisir paling
rentan kerusakan
lingkunan

Pemuda Hebat
Gerakan
Kepeloporan
pemuda di 100
desa mandiri
energi terbarukan

Pembangunan Berkelanjutan di Nawa Cita Jokowi

Pemuda Tani
Gerakan
Kepeloporan
pemuda di bidang
Kedautalan Pangan
di 100 desa rintisan
Penggabungan Kementerian LH dan Kehutanan

60

Pemuda Hebat
Gerakan
Kepeloporan
Rehabilitasi di 20
Daerah Aliran
Sungai (DAS)

Law Enforcement (Penegakan Hukum)

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

ROAD TO COP 21

61

Beberapa rancangan program kepemudaan Kemenpora


RI TA 2016 untuk lingkungan hidup
Kampanye
Pemuda
LingkunganForum Pemuda
Internasional
Untuk Lingkungan
Hidup Tingkat

Pemuda Relawan
Gerakan
Kepeloporan
pemuda
penanganan
tanggap bencana
di 34 Propinsi

Pemuda Desa
Wisata
Gerakan
Kepeloporan
Pemuda untuk
Pengembangan
100 Desa Wisata

Pemuda Hebat
Gerakan
Kepeloporan
pemuda di bidang
Pemnberdayaan 92
Kabupaten Terluar
di Indonesia

PERENCANAAN NASIONAL:
PROGRAM DAN KEBIJAKAN
PERUBAHAN IKLIM
INDC-INDONESIA

Menggerakkan Pemuda
dalam Memperkuat
Pembangunan Berkelanjutan

TERIMA KASIH
Salam Pemuda . !!!

62

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

63

Draft INDC Indonesia

Intended Nationally Determined


Contributions (INDC)

Intended Nationally Determined Contributions (INDC)

Setelah berakhirnya Kyoto Protokol di tahun 2012, pada COP 20 LimaPeru mengamanatkan kepada seluruh parties untuk menyiapkan dan
menyusun Intended Nationally Determined Contributions (INDCs)
INDCs adalah komitmen internasional baru tentang perubahan iklim yang
memuat target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pasca tahun
2020 dan berlaku untuk semua pihak (applicable to all).
Setiap
negara
akan
menyampaikan
INDC
ke
UNFCCC,

Bappenas menyusun INDC dengan bantuan Institut Teknologi Bandung menggunakan


System Dynamic software. Khusus bidang energi telah melibatkan seluruh unit eselon I
KESDM dalam beberapa kali workshop.
Menteri/Kepala BAPPENAS telah menyampaikan INDC status 11 Agustus 2015 (61
halaman) ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
KLHK dengan Dewan Pengarah Perubahan Iklim telah menyimpulkan dan menyampaikan
draft INDC ke Bapak Presiden RI pada tanggal 1 September 2015 (15 halaman).
Draft INDC masih dapat
direvisi
Rapat Dewan Pengarah
menyampaikan
bahwa
arahan Bapak Presiden RI
agar draft INDC lebih
ringkas.

Draft INDC dapat direvisi dengan menyampaikan masukan melalui website ataupun tertulis
http://www.dephut.go.id/index.php/news/details/9845 .

Revisi Draft INDC

Bappenas?
ESDM?

http://www4.unfccc.int/submissions/indc/Submission%20Pages/submissions.aspx

64

Hingga 4 September 2015, 30 negara telah


menyampaikan INDC diantaranya Jepang,
Singapura, Korea Selatan, Australia, Amerika
Serikat, Norwegia, Swiss dll.

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

65

Draft INDC Indonesia

Mencegah naik 2oC dari suhu global tahun 2020


Second National Communication (SNC) tahun 2010 menyebutkan tahun 2005 emisi
GRK Indonesia mencapai 1800 MtCO2e, naik 400 MtCO2e dari tahun 2000. 63%
berasal dari lahan gambut, 19% dari pembakaran energi fosil.
Sumber daya energi di Indonesia belum digunakan secara efisien karena harga
masih rendah karena disubsidi.
Minimal 23% energi baru terbarukan pada energi mix tahun 2025.
Penggunaan limbah dan sampah untuk produksi energi
.
National Action Plan Climate Change Adaptation Rencana Aksi Nasional Adaptasi
Perubahan Iklim
Sustainable Development Goals (SDGs) pasca 2015 adaalah Access to affordable,
reliable, and renewable energy for all.
Promoting Climate Resilience in food, water and energy melalui konservasi energi
dan pengembangan energi baru terbarukan.
GDP 2010-2014 mencapai 6,2-6,5%, pertumbuhan penduduk 1,49%, penggangguran
5,9%, tingkat kemiskinan 10,96% pada tahun 2014.
Target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% tahun 2030

Perbandingan Rencana Penurunan Emisi


GRK Perpres 61/2011 dan Draft INDC
Perpres 61 Tahun 2011 RAN GRK

No

Sektor

Baseline Penurunan Emisi


2020 SNC GRK (Giga ton
CO2e)
(Gigaton
CO2e)
26%

Total
41%

0.680

0.370

1.050

a. Kehutanan & Lahan


Gambut
b. Pertanian

1.570

0.672

0.367

1.039

0.060

0.008

0.003

0.011

Limbah

0.250

0.048

0.030

Industri

0.060

0.001

Energi

1.000
2.940

66

Baseline
2030
(Gigaton
CO2e)

Penurunan Emisi GRK


(Giga ton CO2e)

Fair

1.630

Total

Dokumen Pendukung INDC BAPPENAS

15%

Berbasis Lahan

Dokumen Pendukung
Penyusunan INDC Indonesia

1.074

0.596

0.078

0.284

0.004

0.005

0.078

0.038

0.018

0.056

0.767

0.422

1.189

Optimis

Ambisius

0.627

0.750

0.030

0.036

0.045

0.001

0.0012

0.002

1.445

0.222

0.258

0.393

2.881

0.849

0.922

1.190

Target penurunan emisi tahun 2030:

29%

32%

41%

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

67

Kata Pengantar

ndonesia berkomitmen untuk melanjutkan upaya penanganan perubahan iklim sebagai bagian
dari pembangunan berkelanjutan yang lebih baik. Pada skala global, Indonesia juga ikut
berkontribusi terhadap upaya penanganan perubahan iklim, yang bukan hanya melibatkan upaya
         
untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim yang telah terjadi. Kedua upaya
/
Penanganan Perubahan Iklim telah mulai diarusutamakan dalam Rencana Pembangunan Jangka
DEZW:DE/
WWEZEW'Z<ZE
'Z<ZW:DE
/E/E
/ZE'Z</E/

.......................................

Dokumen
Pendukung
Penyusunan INDC
Indonesia
(Draft 11.08.15)

INDC Indonesia telah disiapkan sedemikian rupa sehingga selaras dengan dengan kebijakan perubahan
iklim di Indonesia. Dokumen pendukung ini menjelaskan pendekatan penyusunan INDC di Indonesia,
yang telah melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait. Proses pengembangan model sistem
ZE'Z</ED
'Z</
melihat dampak dari pelaksanaan kebijakan terkait penanganan perubahan iklim di berbagai sektor.
Dokumen ini diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas mengenai dasar pengajuan INDC
Indonesia. Termasuk di dalamnya informasi mengenai ruang lingkup pemodelan di lima sektor (ekonomi,

 'Z<           
'Z<d
           
        ZE'Z<   /E /
<
iklim di Indonesia.

:



Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/


<WWEWWE^

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

68

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

69

1. Pendahuluan

/
3

1. Pendahuluan
1. Pendahuluan

....................................................................................................

Kata Pengantar
Kata Pengantar
WW/E/
WW/E/

WWD
WWD



14

14

 Kata Pengantar









3


 1. Pendahuluan
d
d







 WW/E/
>
>




 





 WWD
/W
/W

 Z>W
Wh/WWh
Wh/WWh



Pendekatan
System Dynamics
Dengan Dengan
Pendekatan
System Dynamics



Pendekatan
 Dengan
>
>

 System
 Dynamics



 
<h'Z<
<h'Z<

 
 







d

d
d

 

>

>


>



 

 
 

/W

/
/





Wh/WWh

>


> 


 


 











14

 
 
 

 
 














d





^</WWh

^</WWh


>







^<
^< 
/






^<>

^<>


> 






^<W
W






W 






 ^<>
>DW/ZE
>DW/ZE

 ^</WWh




> 
^<W
^<W

 
 
<h'Z<



^<>
 ^<>









/
         'Z<   
    Business as Usual h     
 . Komitmen ini secara nasional diwujudkan
WWEdZEW
'Z<ZE'Z<

1. Pendahuluan

Z>W
Z>W



ZE'Z<ZW
:DEZW:DE
/

         
 

 
 

ZE

 
'Z<
 
 
<
'Z<



   Business as Usual h     
'Z<
 . Komitmen ini secara nasional diwujudkan

WWEdZEW
Selain
itu untuk meningkatkan peran serta pemerintah daerah dalam upaya penurunan GRK, Peraturan
'Z<ZE'Z<
WZ

W  ' Z < Z'Z<      


ZE'Z<ZW
wilayah.
:DEZW:DE

  

 

 






 

 
 
'Z< 
 

<
ZE'Z<
 
ZE

W
/

 

^ 
'Z<

        ZE'Z< 

kesepakatan
internasional untuk menyampaikan INDC (/ E  
Selain itu untuk meningkatkan peran serta pemerintah daerah dalam upaya penurunan GRK, Peraturan
hE&
WZ
,ZE'Z<

 




Wh

' Z
< Z'Z<


 






 'Z<
wilayah.
/E'



ZE'Z</E/
        
  W /     ZE'Z<  ^ 
         ZE'Z< 
kesepakatan internasional untuk menyampaikan INDC (/ E  
hE&
,ZE'Z<
 h           'Z<
/E'
ZE'Z</E/



^< 



^<>

'W^

ZE'Z<WWWEd
ZE'Z<

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

W

>DW/ZE

'W^

ZE'Z<WWWEd
ZE'Z<

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

70

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

71

Kaji Ulang RAN-GRK


(Jan-Aug 2015)

Penyusunan BAU
baseline kaji ulang dan
Integrasi Kebijakan

d. Proses perencanaan
e. Asumsi
f.

RAN-GRK
Terbaru
2010-20xx

Indonesia INDC

Proses kaji ulang RAN-GRK dan


Penyusunan I-INDC

Proses Politik

Proses
Teknokratik

keluaran

Revisi PerPres RAN-GRK

..................................................................

..................................................................

Saat ini

.........................................................................................................................

RAN- GRK
2010-2020

RPJMN
2015-2019

c. Cakupan

W'Z<
pogenik dan, sebagaimana diperlukan, penghindaran emisi.

^/E
/E
<
Indonesia sendiri telah menetapkan prinsip penyusunan INDC sebagai berikut:

pengajuan Indonesia
INDC ke UNFCCC

a. Kontribusi Indonesia bersifat sukarela dengan prinsip Z dan


berdasarkan pada kemampuan negara.

keputusan

b. /E


Model I-INDC

c. INDC harus memperkuat pengaturan jangka panjang kelembagaan yang sudah ada, yang juga ber
manfaat untuk implementasi masa mendatang
d. INDC harus mendukung proses integrasi kebijakan, khususnya kebijakan non perubahan iklim dengan
kebijakan perubahan iklim. Pertumbuhan ekonomi, pembangunan berkelanjutan serta pengentasan
kemiskinan saling memperkuat dan mendukung tujuan penanganan perubahan iklim.

'<<hZE'Z</E

/EKWhE&tWKWhE&
>W^/E
>
oleh negara Pihak terkait INDC disiapkan dengan baik supaya jelas, transparan dan dapat dipahami, dapat
mencakup, sebagaimana diperlukan, antara lain:

WW
/E/

/EW/
a.

inisiasi;

b.

kompilasi informasi yang ada;

a. /         

c.

analisis pilihan baru;

d.

desain INDC; dan

b. Periode waktu dan/atau periode pelaksanaan

e.

komunikasi.

W /E        
ZW:DEZE'Z<Z'Z<'Z<
yang tercantum dalam E  dan  h Z, BAU baseline, prakiraan
'Z<
dZE'Z</E
a. Mengkaji kebijakan nasional terkait perubahan iklim yang berlaku;
b. Menganalisis dampak kebijakan terkait perubahan iklim dalam pengurangan emisi GRK pra dan paska
DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

;
6

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

c. Memperkirakan dampak kebijakan nasional di masa yang akan datang terhadap potensi penurunan
emisi GRK;
d. D'Z<
e. Menganalisis dampak kontribusi dan kebijakan nasional terkait perubahan iklim terhadap sektor
.
ZE'Z</E
untuk menganalisis
yang akan digunakan adalah model terintegrasi dengan pendekatan .
Penggunaan model akan memungkinkan pemahaman yang lebih baik terhadap konsekuensi pelaksanaan

72

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

73

Objectives

     
dibangun oleh pengambil keputusan; dan kerangka dalam
     ,

D     ZE'Z<
dan penyusunan INDC, maka pendekatan 
akan digunakan dalam membangun model yang dimaksud.
^ dapat membahas isu makro (antara lain
'Z<
^
memungkinkan analisis lintas sektor, termasuk umpan balik,
penundaan dan berbagai perubahan dalam satu sektor.



Strategy

Information
Feedback

Simulated
results

Kebijakan

Decisions

Emisi

Planning
models

Insentive
/Disinsentive

Current
situation
Learning Process

Konsumsi Energi

GDP/ Keb. tenaga Kerja

Role of Planning Models

'WDW
W<W
(Hernandez, nd)

pajak

Populasi

Ekonomi

Tenaga Kerja

Limbah

Emisi CO2

Lahan

Proses komunikasi dalam  dapat digambarkan melalui hubungan antara obyek, strategi,
keputusan, situasi saat ini dan informasi umpan balik yang menghasilkan kebutuhan penyesuaian strategi.

Konsumsi

Sesuai dengan gambar di atas, proses pembuatan kebijakan dimungkinkan untuk menambahkan loop
>

untuk memperoleh umpan balik yang baik, input yang kredibel dan terpercaya. Garis besar model system
dynamics dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini:

Limbah

Polusi
Populasi
Kesejahteraan
Kesejahteraan

Kesejahteraan dan Tingkat kemiskinan

Kesejahteraan

Kebijakan

'ZD

Limbah

Populasi

Industri

Ekonomi

Kebijakan

lahan

Transportasi

Emisi CO2

Energi

''Model System Dynamic W/E

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

74

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

75

WW
D



   ZE'Z<   /E    
 <  < W W EWWE^
selaku koordinator turut melibatkan berbagai kementerian terkait, akademisi dan pemangku
ZE'Z</E<
ZE'Z</E<>,
dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian
Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian,
< < < > E  <  E ^ 
/E'

Presiden
UNFCCC
Tim Pengarah Kaji
Ulang RAN-GRK-Ketua
BAPPENAS

Focal Point
(KLHK)

Sekretariat
RAN-GRK

Pokja Energi dan Limbah


Kem.
Perindustrian

Kem. ESDM

Kem.
Perhubungan

Kem. PU

Pokja Lahan
Kem. LH
& Kehutanan

Kem.
Pertanian

BAPPENAS

Pokja Ekonomi dan Keuangan


Kem.
Keuangan

KADIN

'<<WD

W/E:
   ZW:DE         
ZE'Z</E

           


BAPPENAS

D      ZE'Z<   /E 
          
dasar pengambilan keputusan dilaksanakan dengan pendekatan . Dengan demikian

<
/E
yang melibatkan kementerian dan lembaga terkait dijelaskan pada gambar berikut ini.

BAPPENAS

'^<W/E

Juni 2015
Minggu II Juni 2015: Pembahasan
Draft Perpres No. 61 tahun 2011
July 2015: Konsultasi publik

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

April 2015
Pembahasan Pemodelan Sistem
Dinamik Baseline terintegrasi

76

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Juli - September 2015


Konsultasi Publik
Finalisasi RAN-GRK and INDC
Penyampaian INDC ke UNFCCC

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia
Januari Februari 2015
Kerangka Kerja Konsultan
Pembentukan 3 pokja analisis: Energy, Land Based and Limbah
Rekrutmen Konsultan

77

dasar pengambilan keputusan dilaksanakan dengan pendekatan . Dengan demikian



<
/E
yang melibatkan kementerian dan lembaga terkait dijelaskan pada gambar berikut ini.



Juni 2015
Minggu II Juni 2015: Pembahasan
Draft Perpres No. 61 tahun 2011
July 2015: Konsultasi publik

Juli - September 2015


Konsultasi Publik
Finalisasi RAN-GRK and INDC
Penyampaian INDC ke UNFCCC

April 2015
Pembahasan Pemodelan Sistem
Dinamik Baseline terintegrasi

ZW:DEZW:DE
perubahan iklim sebagai bagian dari isu pembangunan lintas bidang yang terkait dengan sektor
ekonomi. Karena itu, dalam penyusunan INDC diperlukan model ekonomi makro sebagai salah
         
emisi GRK. Dengan demikian dapat dilakukan pengukuran dampak emisi GRK dari berbagai skenario
ZW:DEZW:DE
W         
W^W^d

a. Memilih dan menentukan jenis dan jumlah sektor ekonomi yang akan dimodelkan ;
b. D/K/KW^/K
/K/K;

Januari Februari 2015


Kerangka Kerja Konsultan
Pembentukan 3 pokja analisis: Energy, Land Based and Limbah
Rekrutmen Konsultan

c. Dpembangunan yang terkait


dengan emisi GRK diberbagai bidang >;
d. D/Kpembangunan
yang terkait dengan emisi GRK diberbagai bidang ;

'Zt<hZE'Z<WW
^D^

e. D        GDP, laju pertumbuhan


ekonomi;
f.

Z>W
Dengan Pendekatan System Dynamics

emerintah Indonesia telah menetapkan ^  sebagai pendekatan dan alat bantu


ZE'Z</EW
model dengan pendekatan system dynamics.

D           
'Z<
ekspor, dan impor.

      dapat dilihat pada gambar di


bawah ini:
Desired Stock
Investment

^
   <       
pertumbuhan populasi, indikator umum perekonomian antara lain peningkatan nilai tambah produksi,
DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA


rumah kaca dapat digambarkan pada diagram sebab akibat sebagaimana dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.

Demand
Average
+
Expected Demand
(FDe)

Final Demand
+

+
Resources
Demand

+
Desired FD
+

VA Ratio

Desired Output
+
+
Resources
Consumption

invers[I-A]
+

Capacity
Utilization
+

GDP

Resources
+ Adequacy
Resources
Availibility +

Potential
Output

Carrying Capacity
Resources
-

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA


Impor

Investment +

+
Capital

Export
{eksogenous}

+
Aggregate
Demand +

Expcted Value +
Added

+
+

Value Added
-

Capacity Impor

Output

'<&W
'<^W/

Penjelasan dari diagram tersebut adalah sebagai berikut:

78

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :

79

a. Permintaan (
Program
dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia
^
biaya input antara;
b. Keterkaitan ekonomi dengan sektor lainnya dijembatani melalui konsep  , yang

+
Capital

Potential
Output

Output

'<&W

Penjelasan dari diagram tersebut adalah sebagai berikut:


a. Permintaan (
^
biaya input antara;

Adapun untuk emisi yang bersumber dari kegiatan eksploitasi sumber daya energi 
'

Variabel Penggerak
Vallue Added

b. Keterkaitan ekonomi dengan sektor lainnya dijembatani melalui konsep  , yang


mencakup ketersediaan energi, ketersediaan alokasi lahan, dan ketersediaan sumber daya bahan baku
industri;

c. Z           
berdampak kepada hasil dan nilai tambah aktual. Apabila 
hasil aktual yang terjadi akan lebih kecil daripada hasil yang diharapkan;

Eksplorasi Minyak Bumi

d. <
dapat dilakukan. Impor di satu sisi mampu meningkatkan ketersediaan energi untuk penggerak
ekonomi, namun di sisi lain akan mengurangi nilai tambah karena akan menambah biaya produksi.
Karena itu, dalam diagram keterkaitan ini terdapat kebijakan impor untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Eksploitasi Gas Alam

d

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

Emisi Fugitive

'W<W&

'

         
'Z<
K
/'Z<
energi menunjukkan tren peningkatan dan diperkirakan akan mendominasi emisi GRK pada masa datang.
/W
            
,
^/<^D
Berdasarkan kombinasi antara panduan IPCC dengan basis data yang digunakan serta lingkup model secara
umum yang melibatkan pertumbuhan ekonomi dan juga populasi maka batasan untuk model bidang
           
dikembangkan sebagai berikut:

x 
efek pertumbuhan GDP per kapita, di mana diasumsikan semakin meningkat GDP per kapita maka
akan semakin besar pula kebutuhan energi per kapita penduduk;
x            
dan penduduk kemudian akan mempengaruhi ekspoitasi sumber energi 
yang akan mengurangi cadangan sumber energi (  Kondisi pemenuhan energi
,
ini akan menambah ketersediaan energi (
kependudukan tetapi akan berpengaruh terhadap nilai tambah dalam negeri karena dikurangi impor
energi tersebut;
x Ketersediaan energi (       
(

FUEL TYPE
Biomass
Batubara

Sektor Pengguna Energi


Variabel Penggerak
Vallue Added

Industri

Konsumsi Energi
Industri

Variabel Penggerak
(Jumlah RT/Populasi)

Rumah Tangga

Konsumsi Energi
Industri RT

Variabel Penggerak
Value Added

Komersial

Konsumsi Energi
Komersial

Variabel Penggerak
- Populasi
Ekonomi (Value Added)

Transportasi

Briket Batubara
Gas Alam
Kerosene
Emisi Sektor
Energi

ADO

Variabel Penggerak
Value Added

Lainnya

Konsumsi Energi
Transportasi
Konsumsi Energi
Lainnya

IDO
Fuel Oil
Other Petroleum
Product

Energi Primer:

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

1. Batubara
2. Minyak bumi
3. Gas
4. Terbarukan

LPG
Listrik

'W<WW

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

80

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

81


           

sehingga pada saat itu adalah pemenuhan melalui impor yang akan mengurangi nilai tambah
           
pertumbuhan ekonomi nasional.
x :           
energi akan dipenuhi dengan impor yang besarnya dibatasi kemampuan keuangan yang dalam model

Desired Stock
Investment

Demand
Average
+
Expected Demand
(FDe)

+
+

Desired Output

Aggregate
+
Demand

Energy Demand
Domestic
+ ++

Expcted Value
Added
+
+
Energy Source
Exploitation
+

+
+
Energy Demand

invers[I-A]

VA Ratio

+
Final Demand

+
Energy Demand per
population

Energy
Adequacy
+

+
+ Capacity
Utilization

+
+

Potential
Output

Fugitive Emission

Output

+ Emission from
Energy

idang berbasis           

kebakaran lahan gambut serta kegiatan pertanian berupa pengelolaan lahan sawah, peternakan
dan penggunaan pupuk.
Klasifikasi 9 tutupan lahan
(merupakan reklasifikasi dari 23 jenis
tutupan lahan dari data awal)

Hutan

- Dekomposi gambut
(Peat Decomposition
- kebakaran lahan gambut (peat fire)

Gambut
Pertanian

- Sawah
- Perkebunan sawit
- Lainnya

Peternakan

- Ternak sapi
- Jenis ternak lainnnya

Desired FD
+

Investment

GPD Effect for Energy


Demand Domestic +

+
- Value Added
+

Import Energy

+
Capital

Export
{eksogenous}

Population

Energy Resources

+
Energy
Consumption+

Stock

>

CO 2
CH 4
N2O

'Z>D>

GDP

Sesuai dengan Indonesia 1st hZhZ


            
          , <
(&,>W&,WW&,
WzW&^
          , W W &
, ^^ &  , d WW& W 
'

'<

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

82

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

83

Total Area (Mha)

20.1

31.6

59.1

12.24
Primary Forest

10.0

22.7

54.2

187.6
42.6

.4

0.6
5.4
1.4

Conservation Forest

9.9

Plantation Forest

0.1

0.3

Non-ForestedLand

4.1

6.0

4.1

6.5
0.1

5.8

'

51.8

15.3
24.2

Secondary Forest

'Z<


46.7

2.2

forest conversion to
non forest
+
+

89.0
+

non forest conversion to


forest due to policy
+ +
Emission

Primary Forest

Protection
Forest

Production Conversion
Production Forest

+
ecosystem recovery forest
conversion to second forest
+
Ecosystem
Recovery Forest
+

+
degraded primary
forest

20.5

+
Secondary Forest
secondary forest
conversion to plant
forest

Conservation
Forest

forest logging due to


conversion

11.7

Non Forest

primary forest
logging

Non-Forest
Area (APL)

Forest Area

+
+ total logging

+
secondary forest
logging
+

',&E
,<<

expected value
added foresty

value added
+
forestry

'< ,<

W          

'Z<


d<d>
<
,><W
,
,DW
,ZW
,><^
,
,D^
,Z^
,
,d
W><
E
Transmigrasi
E
W><
Sawah
Sawah
Sawit
Perkebunan
DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN
INDC INDONESIA
Permukiman
Permukiman
Bandara/Pelabuhan
Belukar Rawa
Pertambangan
Rawa
Rumput
>
Semak Belukar
Tambak
Tanah Terbuka
Air

'

<

Conservation Forest

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

forest conversion to
non forest
+
+

non forest conversion to


forest due to policy
+ +
Emission

Primary Forest

forest logging due to


conversion

Non Forest

+
ecosystem recovery forest
conversion to second forest
+
Ecosystem
Recovery Forest
+

+
degraded primary
forest
+
Secondary Forest
+

+
primary forest
logging

+
+
+ total logging

secondary forest
conversion to plant
forest

+
+

secondary forest
logging
+

value added
+
forestry

expected value
added foresty

'< ,<

84

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

85

Pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:


x             
hutan sekunder dan hutan hasil pemulihan ekosistem (Z&,

x ,           
          Sedangkan hutan

Semakin besar luasan suatu hutan, maka semakin besar pula kemungkinan perubahan guna lahan
akan terjadi;
x <          

x <        ^  
pemanfaatan hutan, maka  dari sektor hutan akan semakin meningkat;

^
^
'6 berikut ini menunjukkan diagram keterkaitan untuk kawasan
hutan lindung.
+
Production Forest

Non Forest
+

Primary Forest

+
forest logging due to
conversion

non forest conversion to


forest due to policy

Primary Forest
Conversion to Plant
Forest
+

forest conversion to
non forest
+
+

++
Emission
+

planted forest
conversion to second
forest

+
degraded primary
forest

+
+
Planted Forest
+

+
Secondary Forest +

x ^           
Semakin banyak perubahan guna lahan yang terjadi maka semakin besar emisi yang dihasilkan;

secondary forest
conversion to plant
forest

primary forest
logging

x Namun, pada beberapa jenis hutan, terdapat beberapa upaya untuk memperbaiki kualitas hutan
tersebut. Misalnya, hutan pemulihan ekosistem akan berubah menjadi hutan sekunder secara
alami dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan perbaikan hutan juga dapat terjadi melalui adanya
kebijakan, diantaranya kebijakan penanaman hutan kembali maupun pengembalian kondisi dan
status hutan yang berubah menjadi guna lahan non hutan;

+
+
+ total logging

+
secondary forest
logging
+
value added
+
+
forestry

expected value
added foresty

x Dengan adanya kegiatan penghutanan kembali maka diharapkan emisi akan berkurang.
'<,>

Penjelasan untuk diagram di atas adalah sebagai berikut:


Pada gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
x             
hutan sekunder dan hutan hasil pemulihan ekosistem (Z&,

x ,           
          Sedangkan hutan

Semakin besar luasan suatu hutan, maka semakin besar pula kemungkinan perubahan guna lahan
akan terjadi;
x <          

x <        ^  
pemanfaatan hutan, maka  dari sektor hutan akan semakin meningkat;
DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

x ^  
      
 
Semakin banyak perubahan guna lahan yang terjadi maka semakin besar emisi yang dihasilkan;

x Namun, pada beberapa jenis hutan, terdapat beberapa upaya untuk memperbaiki kualitas hutan
tersebut. Misalnya, hutan pemulihan ekosistem akan berubah menjadi hutan sekunder secara
alami dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan perbaikan hutan juga dapat terjadi melalui adanya
kebijakan, diantaranya kebijakan penanaman hutan kembali maupun pengembalian kondisi dan
status hutan yang berubah menjadi guna lahan non hutan;
x Dengan adanya kegiatan penghutanan kembali maka diharapkan emisi akan berkurang.

x ^           
  ,        
(Z&,;

x ^
nya pun sama;
x Emisi dapat diturunkan melalui beberapa hal diantaranya adalah dengan melakukan upaya
maupun kebijakan terkait pelestarian hutan. Pada model, salah satu contohnya ditunjukkan dengan
 Z&.
<
:
maka akan meningkatkan luasan hutan rehabilitasi. Kegiatan ini diharapkan akan menurunkan
d 

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

^
kebijakan, secara alami hutan juga dapat mengalami peningkatan kualitas. sehingga emisi akan
menurun. Pada model, hal ini ditunjukkan dengan berubahnya hutan rehabilitasi menjadi hutan
sekunder.
Sub model kawasan hutan produksi pun dibangun berdasarkan fungsi kawasan yang di dalamnya
      W      , W
,W,Wd,Wd' berikut ini menunjukkan diagram keterkaitan untuk
kawasan hutan produksi.
+
Production Forest

86

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Non Forest

PERENCANAAN
NASIONAL : non forest+conversion to
+
Primary Forest
forest conversion to
forest due to policy
Conversion to Plant
Program dan Kebijakan
Perubahan
Iklim INDC-Indonesia
non forest
+
Forest
+
+

Primary Forest

++

87

d 

^
kebijakan, secara alami hutan juga dapat mengalami peningkatan kualitas. sehingga emisi akan
menurun. Pada model, hal ini ditunjukkan dengan berubahnya hutan rehabilitasi menjadi hutan
sekunder.
Sub model kawasan hutan produksi pun dibangun berdasarkan fungsi kawasan yang di dalamnya
      W      , W
,W,Wd,Wd' berikut ini menunjukkan diagram keterkaitan untuk
kawasan hutan produksi.
+
Production Forest

Non Forest

non forest conversion to


forest due to policy

Primary Forest
Conversion to Plant
Forest
+

forest conversion to
non forest
+
+

++

Primary Forest

Emission +

expected value
added foresty

value added
+
forestry

'< ,W

Penjelasan dari diagram di atas adalah sebagai berikut:


x Di kawasan hutan produksi, jenis hutan yang terdapat di dalamnya adalah hutan primer, hutan
sekunder dan hutan tanaman (W&;
x W^
^
          

+
+
Secondary Forest +

+ +

+
secondary forest
logging
+
expected value
added foresty

value added
+
+
forestry

x <^
hutan, maka dari sektor hutan akan semakin meningkat;
DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

x <,
hutan primer sangat besar sehingga saat guna lahannya berubah maka emisi yang dihasilkan akan
besar pula;

secondary forest
conversion to plant
forest

primary forest
logging

Sub model kawasan hutan produksi pun dibangun berdasarkan fungsi kawasan yang di dalamnya
 

W 

   , W
  
DOKUMEN
PENDUKUNG
PENYUSUNAN
INDC INDONESIA
,W,Wd,Wd' berikut ini menunjukkan diagram keterkaitan untuk
kawasan hutan produksi.
Convertible Production
Forest



guna lahan lain akan semakin menurun pula.
x <;

+
+
Planted Forest

planted forest
conversion to second
forest

+
degraded primary
forest

+
+
+ total logging

+
forest logging due to
conversion

x Sama halnya dengan hutan yang lain, di hutan produksi emisi dapat diturunkan melalui beberapa
hal diantaranya adalah dengan melakukan upaya maupun kebijakan terkait pelestarian hutan. Pada
 
^&W&, yang kemudian akan
    s     
ke hutan akan meningkatkan luasan hutan sekunder maupun hutan tanaman, sehingga adanya
^
hutan juga dapat mengalami peningkatan kualitas sehingga emisi akan menurun. Pada model, hal
ini ditunjukkan dengan berubahnya hutan tanaman menjadi hutan sekunder.
Sub model kasawan
'<,W<

Convertible Production
Forest

Non Forest

+
Non Forest

forest conversion to
non forest
+
+

+
forest logging due to
conversion

Primary Forest

+
+
Planted Forest
+

primary forest
logging
secondary forest
logging
+
+
+

value added
+
forestry

non forest conversion to


forest due to policy

Emission +

+ Primary Forest
Conversion to Plant
Forest

x W^

secondary forest
logging

+
+
+ total logging

+
+
+

value added
+
forestry

secondary forest
conversion to plant
forest

expected value
added foresty

'< ,W<

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

primary forest
logging

expected value
added foresty

Di kawasan hutan produksi, jenis hutan yang terdapat di dalamnya adalah hutan primer, hutan
sekunder dan hutan tanaman (W&;

+
+ Forest Conversion to
Other Land Use

+
Secondary Forest

secondary forest
conversion to plant
forest

Penjelasan dari diagram di atas adalah sebagai berikut:

+
+
Planted Forest
+

+
degraded primary
forest

'< ,W

88x

Primary Forest

+
+ total logging

+
forest logging due to
conversion

+
+ Forest Conversion to
Other Land Use

+
Secondary Forest

+
++

+
degraded primary
forest

forest conversion to
non forest
+
+

Emission +
++

+ Primary Forest
Conversion to Plant
Forest

non forest conversion to


forest due to policy

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

Berikut ini adalah penjelasan dari diagram di atas:

PERENCANAAN NASIONAL :
89
x <
Program
dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia


sekunder dan hutan tanaman;

+ total logging
+
+

value added
+
forestry

expected value
added foresty

'< ,W<

Berikut ini adalah penjelasan dari diagram di atas:


x <

sekunder dan hutan tanaman;
x W            
sekunder, hutan tanaman dan guna lahan non hutan. Sedangkan untuk hutan sekunder dapat
         ^   

             
menurun pula;

Peat Land

+
+

Primary Forest on
Peat Land

Secondary Forest on
Peat Land

+
+ Planted Forest on
Peat Land

land conversion on
peat land

emission factor of land


use change on peat land

+
+

+
+
Non Palm on Peat +
Land
+

Paddy on Peat
Land
+

Non Paddy on +
Peat Land
+

Peat land change


+
emissions

Total peat land


emission

Peat Fire

+
Palm on Peat Land
+

+
+
Other Land on
Peat Land
+
+

+
Settlement on
Peat Land

Total peat land

+
Policy
-

Peat land emission due


to decompotition

emission factor of land


use on peat land

'< >'

x ^             
W>W>K
Landuse<
          W  
W>;

^            
pengelolaan lahan sawah, perternakan dan penggunaan pupuk.

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

x ^;

x Kegiatan logging akan berpengaruh pada kegiatan ekonomi, utamanya dalam hal peningkatan
;
x <      ^      
dihasilkan pun akan semakin besar;
x ^             
diantaranya melalui upaya maupun kebijakan terkait pelestarian hutan. Pada model, kebijakan
           <  

pada turunnya emisi. Selain itu, pelestarian hutan dapat dilakukan agar hutan dapat berkontribusi
pada penurunan emisi karena hutan merupakan penyimpan cadangan karbon yang besar.
>            
ekosistem lahan basah yang dibentuk oleh adanya penimbunan/akumulasi bahan organik di permukaan
tanah 
h'
itu yang berada di hutan primer (
land
di lahan pertanian (            
 . Semakin besar
luasan total lahan gambut maka semakin besar pula emisi yang dihasilkan. Apalagi jika terjadi kebakaran

W
,
dekomposisi sehingga akan menghasilkan emisi. Tingginya emisi ini diharapkan akan mendorong lahirnya
kebijakan guna mengurangi emisi yang muncul akibat adanya kegiatan kebakaran dan perubahan guna
lahan di lahan gambut.

90

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

'Z>D^W

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

33

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

91

/WWh/WWh

 W E      < / E 
            
'Z<
pada tahun tersebut.
^   'Z<         
bakar, limbah yang dihasilkan, serta dari proses industri dan penggunaan produk ( 
/WWhE'Z<
dimasukkan ke dalam emisi bidang berbasis energi dan emisi GRK yang berasal dari limbah industri akan
dimasukkan ke dalam emisi bidang berbasis limbah. Dengan demikian emisi dari bidang berbasis industri
/WWh
^'Z</WWh
a. Emisi GRK yang terjadi selama proses dan reaksi kimia di industry;
b. Pyang dikategorikan GRK di dalam produk; dan
c. Penggunaan karbon bahan bakar fosil untuk kegiatan produksi.
'<^W


terjadi akibat adanya permintaan pertambahan lahan pertanian akibat adanya hasil yang diharapkan dari
sektor ekonomi. Keterkaitan antara sektor ekonomi dengan subbidang pertanian dijembatani melalui
konsep 
bidang pertanian adalah:
 < land,
, dan ;
 Pada peternakan, sumber emisi GRK dibagi menjadi dua yaitu sapi dan hewan lain selain sapi. ,
akan penyumbang emisi terbesar dari peternakan;
3.             

 Perbedaan luas lahan spasial dan tabular disesuaikan dengan menjumahkan selisih lahan sawah
antara data spasial dengan data tabular ke tutupan lahan pertanian lahan kering dan transmigrasi
serta dengan menjumlahkan selisih lahan perkebunan berdasarkan data spasial dan lahan
perkebunan sawit berdasarkan data tabular ke dalam tutupan lahan pertanian lahan kering
campur.

Pada dokumen /^Eindustri mineral dan industri kimia merupakan


'Z<
dengan emisi dari industri lainnya. Adapun dalam kategori industri mineral, industri yang memiliki emisi
'Z<      <      
'Z<^/WWh
menjadi 3 sub model yaitu model emisi dari industri semen, industri amonia dan industri IPPU lainnya
'

Industri Semen

Emisi dari Clinker

Industri Amonia

Emisi dari proses industri Ammonia

Industri IPPU lainnya

Emisi dari proses untuk industri lainnya

'Z>D//WWh

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

92

CO 2

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

93

Emisi dari industri semen ditentukan oleh konsumsi klinker yang digunakan dalam memproduksi semen
yang diwakili oleh     ^      
/WWh
'         d  
         ^    
            
'WW
K
sesuai dengan permintaan.
h    K         
          
      W      
K

>

/W'Z<
kategori sebagai berikut:
a. >dW

b. >            
laterine, sewer dan sembarangan serta dari pengolahan limbah cair terpusat;
c. >
industri CPO dan limbah cair industri lainnya.

'Z>D>

'</^

'<>

'
      ^       
akan dipengaruhi       WK        
industri penghasil limbah cair lainnya yang diaggregatkan di dalam model.

36

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

94

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

95

 E

<h'Z<

^

baseline merupakan salah


ZE'Z<
penyusunan INDC. 

a. ,    y ^s of Indonesia ,Kementerian ESDM terkait data untuk
bidang berbasis energi;
b. Publikasi BPS terkait data sosial, ekonomi dan populasi;
c. hZhZ
d. <>,<
lahan.
h          > W E
dZE'Z<ZW:DEZhWd>
KEE untuk menentukan

Adapun batasan (
 Tingkat emisi GRK dibatasi oleh     

a. W

 Tren permintaan energi di sektor transportasi dan rumah tangga dipengaruhi oleh GDP per
kapita dan pertumbuhan populasi sedangkan sektor industri digerakkan oleh 
industri
 W        
DK
3. ^ZhWd>
<E<E
 :

 Tidak ada perubahan kategori lahan lain menjadi kategori hutan primer (
6. Tidak ada perubahan tanah mineral menjadi lahan gambut dan sebaliknya
 h
 h          

 d
periode proyeksi
 &

b. W
 Model pertumbuhan ekonomi dibatasi oleh  yang terdiri dari
,  dan ketersediaan sumber daya bahan baku untuk industri

 :

 /

 >,
,,
6. lama perubahan kategori lahan menjadi hutan sekunder atau hutan tanaman:
a. 
b. 

96

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

97

>

Emisi Gas Rumah Kaca

>'Z<
bab berikut:

<ZW:DE'Z</


d<WZW:DE

<

d
>
adalah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan data permintaan energi di sektor industri, rumah tangga, komersil, transportasi,




^

b. Mengumpulkan data eksploitasi dan cadangan energi batubara, minyak, gas dan energi terbarukan


^D

c. D

'^D



d. Membandingkan GDP per kapita dan konsumsi energi untuk menghasilkan perilaku intensitas energi
untuk seluruh sektor pengguna energi. Nilai dari perbandingan GDP per kapita dengan konsumsi


Gas bumi DN

Batubara





t

t

W

WDK

Kedaulatan Pangan

W

:
3
<

'


D

Pembangunan pelabuhan untuk menunjang tol


laut

Pengembangan pelabuhan penyeberangan


3
W
W

Pertumbuhan sektor industri

Penambahan jumlah industri berskala menengah


dan besar
<


<W,

<'t
3
Z

Konsumsi listrik perkapita

e. D          
           
keputusan terkait pemenuhan permintaan melalui impor;
f.

D,
^<^D

g. D
<^D
h
a. Dh

b. Untuk sektor pembangkit (


    ZhWd>        

c. 
berkurangkan konsumsi gas alam dan minyak;
d. D        DK  
ZW:DE DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

e. Dh

Pengembangan jalan nasional



6
W

W

Panjang jalur kereta api

Pengembangan pelabuhan

Jumlah bandara

>

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

Emisi Gas Rumah Kaca

5.2 Lahan
>h
a. D






b. D            
            

e. Memasukkan matriks transisi ke dalam  dalam model ;

>'Z<
bab berikut:

d
>
adalah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan data permintaan energi di sektor industri, rumah tangga, komersil, transportasi,
YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS
98

b. Mengumpulkan data eksploitasi dan cadangan energi batubara, minyak, gas dan energi terbarukan


c. D
;
d. Menyesuaikan matrik perubahan lahan dengan data dari Kementerian Pertanian untuk menentukan
luas area sawah dan perkebunan sawit;
 D
g. Menentukan penggerak terjadinya perubahan lahan;
h. Menghubungkan struktur model kedalam sektor lain yang mempengaruhi perubahan pengaruh
dari bidang berbasis lahan saling terhadap bidang lainnya;
i.

Model lahan gambut (

>W

PERENCANAAN NASIONAL :

99

a.Program
D
dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia
, dan ;

g. Menentukan penggerak terjadinya perubahan lahan;


h. Menghubungkan struktur model kedalam sektor lain yang mempengaruhi perubahan pengaruh
dari bidang berbasis lahan saling terhadap bidang lainnya;
i.

Model lahan gambut (

>

>W
a. D
, dan ;
b. D
c. Membangun konseptual sistem keterkaitan model subbidang pertanian dan peternakan dengan
menggunakan diagram keterkaitan (>
d. Mengumpulkan data luasan area dari , , , dan ;
e. Mengumpulkan data konsumsi penggunaan pupuk;
f.

Mengumpulkan data jumlah populasi hewan ternak;

struktur model pertanian


DOKUMEN PENDUKUNG
PENYUSUNANdan
INDC mengkaitkannya
INDONESIA
g. Membangun
dan peternakan
dengan struktur besar
model lahan dan struktur dari model ekonomi;

h. D

>
emisi GRK, yaitu:
a. >
x D
x D
x Menentukan total produksi sampah sebagai fungsi dari total populasi dan ton sampah per kapita,
GDP per kapita dan budaya perilaku;
x Menentukan komposisi sampah dan parameter lainnya yang terkait dengan perhitungan emisi
dari limbah padat;
x Membangun model   dengan menggunakan pendekatan   untuk
        dW  
terbuka, Z
x D

/

x D/W

>/WWh

b. >

a. D

x D

b. D

x D'W

c. D

x D
masyarakat berpenghasilan rendah (

d. D
e. D

x D

f.

x D          


D

g. D
h. D
i.

Membangun model produksi semen yang didorong oleh kebutuhan semen dan sumber daya alam;

j.

Produksi klinker dihitung berdasarkan data historis rasio klinker dan semen dikalikan dengan produksi
semen;

k. Membangun model untuk produksi amonia dan urea. Produksi urea digunakan sebagai input dalam
menghitung emisi amonia;
l.

Membangun model untuk industri lainnya yang menghasilkan emisi IPPU menggunakan emisi historis
dari penggunaan lime di industri.

x D
, sembarangan atau dengan sistem pengolahan terpusat;
x D/W

c. >
x DWK

x DWK
x DWK
x D
/W

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA


,'Z<'

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

100

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

101

x DWK
x DWK
'/<h

x D
/W
,'Z<'

<             
dilihat pada gambar di atas. Dari hasil proyeksi emisi diperkirakan 

   ^E            

berbasis energi dan transportasi sedangkan emisi terendah dihasilkan dari bidang berbasis IPPU.

'<h


^EE
hZW

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

a. Baseline emisi SNC diperkirakan dalam memproyeksi dekomposisi dan kebakaran


gambut;
b. BAU baseline emisi kaji ulang menggunakan metodologi  untuk perhitungan bidang
berbasis lahan sementara BUR menggunakan .

^E'Ke sementara baseline kaji ulang pada tahun yang


'Ke.

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

'Wh^E<h

'/<h

<             
dilihat pada gambar di atas. Dari hasil proyeksi emisi diperkirakan 

  
^E 
 
  
21

   
YOUTH
CAMP
TOWARD
COP
PARIS
102

berbasis energi dan transportasi sedangkan emisi terendah dihasilkan dari bidang berbasis IPPU.

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia
DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

103

^<W

Pe
dilihat penjelasan di bawah ini.

^<>

ZW:DE


Melalui model           Ke atau


h
d'Z<
/
Skenario Kh

ton CO
CO

'^</

Berbagai kegiatan yang menjadi skenario kebijakan emisi bidang berbasis lahan adalah sebagai berikut:


W




W

3. Penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan, dan reklamasi hutan di DAS prioritas.

W

W




>


Z^

D
hutan desa, hutan tanaman rakyat, hutan adat dan hutan rakyat serta kemitraan.

D
hutan adat dan pelestari lingkungan.

d,dZ,<,,,Z

D

D,,<

d

D

D
dan prasarana jalan usaha tani/jalan produksi serta pengendalian lahan




W
W>

W>




/>

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

104

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

105


K
W



'^W^/WWh

^<
Berbagai skenario kebijakan emisi pada bidang berbasis energi adalah sebagai berikut:

'^W^>

W

W
3. Penerapan mandatory manajemen energi untuk pengguna padat energi

^</WWh
^    /WWh        
/
^



^





^ 





^


'Z</WWhKd
/WWh
hW


W

W
6. Pemanfatan biogas

WD

W/d^/d^

W<

W

ZZdZdZd


>

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

106

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

107

dh
K
W


W

/E
kebijakan sektoral terkait isu perubahan iklim menjadi satu kebijakan nasional penanganan
          

Dari sisi pendanaan, Indonesia akan terus berupaya mencadangkan anggaran untuk kegiatan terkait
             
biaya untuk menurunkan emisi (       /
    h^       
^
h^
/          
persiapan INDC Indonesia yang dapat menjadi rekomendasi untuk pengembangan INDC selanjutnya,
diantaranya:

'^W

^<>
>


W>

W>




 


^

<
kebijakan terkait perubahan




W 


/      /E     
dalam upaya pencegahan perubahan iklim, dan terutama untuk menyempurnakan pengembangan
kebijakan terkait perubahan iklim di Indonesia.

/
>
WhKd
            
             W 

prasarana air limbah dan pengelolaan sampah.

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

'^W>

108

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

109

>DW/ZE

>^
Kegiatan

Perencanaan
pemanfaatan dan
peningkatan usaha
kawasan hutan

Pengembangan
pengelolaan lahan
pertanian di lahan
gambut terlantar
dan terdegradasi
untuk mendukung
subsektor
perkebunan,
peternakan dan

Penyelenggaraan
rehabilitasi hutan
dan lahan, dan
reklamasi hutan di
DAS prioritas

Pengembangan
perhutanan sosial

dW
Indikator RPJMN/RAN
GRK
Terlaksananya
pemberian Izin Usaha
W,,
<,
Restorasi Ekosistem
/hW,,<,Z
areal bekas tebangan
>K>K


D d
delay tree growth Ambisius


Tingkat


Rehabilitasi, reklamasi

gambut terlantar,
terdegradasi, pada
areal pertanian, serta

tanaman pangan seluas


Tingkat


Terlaksananya
rehabilitasi hutan pada
DAS prioritas seluas

Terlaksananya

pada DAS prioritas seluas

Pembuatan hutan kota

Rehabilitasi hutan


Terfasilitasinya
penetapan areal kerja
,
<,<
,,


Tingkat

Tingkat

Tingkat

Tingkat


&

Target untuk
d 

kegiatan naik
 dan skenario
keberhasilan
keberhasilan
 


keberhasilan
keberhasilan
skenario moderat
skenario moderat
 

d
kegiatan naik

keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Tingkat


Terfasilitasinya
Tingkat
pembentukan kemitraan 
usaha dalam hutan

Peningkatan usaha
hutan tanaman

Target untuk


dan skenario
keberhasilan


terhadap
keberhasilan
skenario
moderat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


terhadap
keberhasilan
skenario
moderat


>
yang rusak (degraded

kawasan hutan yang
terpulihkan meningkat
,

>
gambut yang
rusak (degraded

kawasan hutan
yang terpulihkan

,
Rehabilitasi dan
meningkatnya
kualitas DAS

>,<
pemeliharaannya seluas
,
>

melalui rehabilitasi di
<W,^
>
Meningkatnya
akses masyarakat untuk
akses masyarakat
mengelola hutan melalui
untuk mengelola
hutan melalui hutan hutan kemasyarakatan,
hutan desa, hutan
kemasyarakatan,
tanaman rakyat, hutan
hutan desa, hutan
adat dan hutan rakyat
tanaman rakyat,
serta kemitraan
hutan adat dan

hutan rakyat serta

kemitraan
>
Meningkatnya
kemampuan kelompok
kemampuan
masyarakat pengelola
kelompok
perhutanan sosial,
masyarakat
hutan adat dan pelestari
pengelola
lingkungan meningkat
perhutanan sosial,

hutan adat dan
pelestari lingkungan
>
Terselesaikannya


yang terselesaikan
,dZ
dalam kaitannya dengan
,<,,
,dZ,<
,Z
,,,Z
Kemitraan
dan Kemitraan sampai


Meningkatnya
>
Kinerja dan produksi hutan produksi untuk
hutan alam dan

hutan tanaman
,
Meningkatnya
>hW
W,,< ,,<
/ Restorasi Ekosistem
lingkungan

,

Tingkat


>
terdegradasi yang
dipulihkan kondisi
ekosistemnya (termasuk

pemanfaatan lahan
di dalam kawasan

^W

deforestasi hutan primer
dan sekunder gambut
untuk pertanian dan
,
pada dua periode yang
akan datang (hingga


Tingkat


Terjaminnya

pengelolaan
kawasan pelestarian
alam

Terlaksananya
pencadangan areal
hutan tanaman industri
dan hutan tanaman
,d/,dZ
3 juta ha

Moratorium hutan

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

d
kegiatan naik

keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


terhadap
keberhasilan
skenario
moderat


d
kegiatan naik

keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


terhadap
keberhasilan
skenario
moderat


Tingkat

Tingkat


Tingkat


Tingkat


Tingkat

Tingkat


Tingkat


110

Tingkat


YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

111

Moratorium hutan

^^W
deforestasi hutan
primer dan sekunder
pada lahan mineral
untuk pengembangan
,
:,W
Meningkatnya
W> Areal Cetak Sawah
W>
Areal Pertanian
Baru dan Prasarana
Jalan Usaha Tani/
Jalan Produksi Serta
W>
:,
Meningkatnya
W> Pengembangan
SRI (System of Rice
W>
/
Areal Pertanian
Baru dan Prasarana W
Jalan Usaha Tani/
sawah baru di luar Pulau
Jalan Produksi Serta Jawa dan Bali
W>
d
ha sawah baru
Pengembangan
areal perkebunan


berhutan/lahan
terlantar/ lahan
terdegradasi / Areal
W>
W>

Pemanfaatan
kotoran/urine
ternak dan limbah
pertanian untuk
biogas

PENURUNAN EMISI

Terlaksananya
penggunaan teknologi
untuk melindungi
tanaman pangan dari
gangguan organisme
pengganggu tanaman
dan dampak perubahan
iklim pada lahan seluas

Terlaksananya
pengembangan areal
perkebunan dan
peningkatan produksi

mutu tanaman tahunan
dengan sasaran kelapa


ha
Terlaksananya
pengembangan areal
perkebunan dan
peningkatan produksi

mutu tanaman rempah
dan penyegar, dengan
sasaran kakao seluas

Terlaksananya
pengembangan dan
pembinaan Biogas
Asal Ternak Bersama
DdD^
di wilayah terpencil dan
padat ternak sebanyak

masyarakat

Tingkat


Tingkat


d
kegiatan naik

keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


terhadap
keberhasilan
skenario
moderat


>^
<

dW
/ZW:DEZE'Z<
Penyediaan dan penge ^ZhWd>
lolaan energi baru ter

 
energi
E'
Z
<W>dW
Dt

Tingkat


<dW>d
W>dD,Dt

<dW>d^
DtDt

Bukan kegiatan

Tingkat


Penerapan Clean Coal


Technology

Tingkat


d

Sesuai dengan target
KEN

K
Sesuai dengan target
ZhWd>

Total produksi listrik


dari pembangkit pada

E
'Z
able energy

Total produksi listrik


dari pembangkit


Natural Gas dan
Z
energy


tubara menerapkan
Clean Coal Technology
d


tubara menerapkan
d

&
Sesuai dengan tar
ZhWd>

Total produksi lis


trik dari pemban


E
'
Renewable energy

<dW>d
DtDt

Kapasitas terpasang bioen


Dt

d
kegiatan naik

keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Tingkat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Target untuk


dan skenario
keberhasilan


terhadap
keberhasilan
skenario
moderat


Tingkat


Reduksi emisi 
Kpada

DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

112

Target untuk


dan skenario
keberhasilan


keberhasilan
skenario moderat


Peningkatan sambungan Meningkatkan penggunaan


rumah yang teraliri gas gas yang dipakai oleh rumah
bumi melalui pipa
tangga menjadi sebesar
Zd^
ZdZd

DD^&DD^&
Pemanfaatan biogas
Terbangunnya unit biogas
yang dapat menghasilkan
Produksi biogas sebesar
D

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS


batubara mener
apkan CCT pada

Penambahan gas kota Penambahan gas kota Penambahan gas


 


 


Penambahan peman
faatan biogas sebesar


Penambahan peman Penambahan pe


faatan biogas sebesar manfaatan biogas
 


Sesuai dengan target


KEN:

Share gas di transpor Share gas di


 transportasi darat
3

3

Penggunaan gas alam


sebagai bahan bakar
angkutan umum perko
taan

Terlaksananya penggunaan
gas alam sebagai bahan ba
kar angkutan umum perko
D
D^&
DD^&

Penerapan mandatori
manajemen energi
untuk pengguna padat
energi

Menerapkan manajemen
Penambahan target
 

Penambahan target


Penambahan tar


Peningkatan peman
faatan BBN dalam BBM

Meningkatnya campuran
Sesuai dengan target
BBN pada biosolar sebesar
KEN:

Campuran biosolar






Campuran biosolar





Campuran biosolar





Reduksi emisi
Reduksi emisi 

Kpada
Kpada

Penggunaan teknologi ultra


untuk pemban
gkit batubara baru, dimana



Share gas di transpor





DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

113

Pembangunan ITS (Intel Pembangunan ITS sebanyak


d^ 
Meningkatkan koordinasi
antar simpang

Peningkatan pencapa



Peningkatan penca
paian target sebesar



Peningkatan pen
capaian target



Peningkatan pencapa



Peningkatan penca
paian target sebesar



Peningkatan pen
capaian target



Peningkatan pencapa



Peningkatan penca
paian target sebesar



Memberikan sistem prioritas


bus di persimpangan
D
pribadi ke transportasi mas
sal
Mengembangkan KA Perko

km (jalur ganda dan elektri

Pengembangan KA
perkotaan Bandung

Pembangunan dou
D
 

Pengembangan KA
perkotaan Bandung

Mengembangkan KA Perko

km (jalur ganda dan elektri

Reformasi Sistem tran


Zd
ZdZd

Terlaksananya pengadaan
dan distribusi BRT sebanyak


WEhZhEED/^/

Peningkatan pen
capaian target



Peningkatan pen
Peningkatan pencapa Peningkatan penca
 paian target sebesar capaian target
  



Peningkatan pencapa Peningkatan penca


Peningkatan pen
 paian target sebesar capaian target
  




Reduksi emisi 627


Reduksi 
Reduksi emisi 
Kpada
Kpada
K

>^
<

Pembangunan
sarana prasarana
air limbah dengan


Pengelolaan
^>
dan B3 sesuai
dengan peraturan

undangan
WEhZhEED/^/

dW
/ZW:DEZE
'Z<
Tersedianya sistem
pengelolaan air limbah
sistem terpusat skala

Kabupaten/Kota
Tersedianya sistem
pengelolaan air limbah

di Kabupaten/Kota
W
sampah yang terkelola

tahun
Tersedianya fasilitas
penangkapan gas
metana di TPA

d


&

Tingkat








Tingkat








Tingkat
keberhasilan
65,7 % di kota
metro







K


K


DOKUMEN PENDUKUNG PENYUSUNAN INDC INDONESIA

114

Perencanaan Nasional:
Program dan Kebijakan
Perubahan Iklim


K


YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

115

Perencanaan Nasional:

Program dan Kebijakan Perubahan Iklim


Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
BAPPENAS

1.

Perencanaan
Pembangunan Nasional

SYAMSIDAR THAMRIN

Jakarta, 8 Oktober 2015

Struktur Presentasi
1.
1. Perencanaan Pembangunan Nasional
2.
2. Program dan Perencanaan Perubahan Iklim

3.
3. Kelembagaan
4.
4. Pendanaan Perubahan Iklim

Dasar Hukum
Perencanaan Pembangunan Nasional
UU 17/2007 RPJPN 2005-2025
As a guidance and a policy that consist of national priorities

UU 25/2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional


Bappenas responsible to develop The National Development Planning
Document

PP 40/2006 about the Procedures to compile the National


Development Planning
UU 42/2008 ttg Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
The vision and mission of elected president and vice president should
be included in both medium and short term national development
planning

116

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

117

Ruang Lingkup dan Mekanisme


NATIONAL

REGIONAL

Rencana Pembangunan Jangka


Panjang (RPJP)

Rencana Pembangunan Jangka


Panjang Daerah (RPJP)

Rencana Pembangunan
Menengah Nasional (RPMN)

Rencana Pembangunan
Menengah Daerah (RPMN)

Rencana Kerja Pemerintah


Tahunan (RKP)

Rencana Kerja Pemerintah


Daerah Tahunan (RKPD)

guidance

RPJP

RPJMN

break
down

guidance

RPJPD

RKP
synchronization

guidance

RPJMD

RKPD
break
down

tahunan

Kerangka Organisasi dan Tugas

STRATEGI PEMBANGUNAN NASIONAL

Peranan dan Misi Organisasi


Bappenas bertugas untuk membantu Presiden dalam forkulasi
kebijakan dan koordinasi untuk perencanaan pembangunan nasional.
Misi BAPPENAS :
a. Menyusuna RPJMN
b. Mengelaborasi visi, misi, dan program kerja Presiden dalam
RPJMN
c. Koordinasi dan formulasi kebijakan pemerintah untuk
perencanaan pembangunan nasional
d. Mengkaji ulang kebijakan dalam perencanaan pembangunan
nasional
e. Memantau dan evaluasi pelaksanaan dari perencanaan
pembangunan nasional
f. Memformulasi perencanaan pendanaan tahunan untuk
pembangunan nasional
g. Koordinasi, fasilitasi dan mencari sumber-sumber pendanaan dari
dalam dan luar negeri

118

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

NORMA PEMBANGUNAN KABINET KERJA


1)
2)
3)

Membangun untuk manusia dan masyarakat;


Upaya peningkatan kesejahteran, kemakmuran, produktivitas tidak boleh menciptakan
ketimpangan yang makin melebar. Perhatian khusus diberikan kepada peningkatan produktivitas
rakyat lapisan menengah bawah, tanpa menghalangi, menghambat, mengecilkan dan mengurangi
keleluasaan pelaku-pelaku besar untuk terus menjadi agen pertumbuhan;
Aktivitas pembangunan tidak boleh merusak, menurunkan daya dukung lingkungan dan
keseimbangan ekosistem

3 DIMENSI PEMBANGUNAN

DIMENSI PEMBANGUNAN
MANUSIA

DIMENSI PEMBANGUNAN
SEKTOR UNGGULAN

Pendidikan

Kedaulatan Pangan

Kesehatan

Perumahan
Mental / Karakter

Kedaulatan Energi &


Ketenagalistrikan
Kemaritiman dan
Kelautan
Pariwisata dan
Industri

DIMENSI PEMERATAAN &


KEWILAYAHAN

Antarkelompok
Pendapatan
Antarwilayah: (1)
Desa, (2) Pinggiran,
(3) Luar Jawa, (4)
Kawasan Timur

KONDISI PERLU
Kepastian dan
Penegakan Hukum

Keamanan dan
Ketertiban

Politik &
Demokrasi

Tata Kelola & RB

QUICK WINS DAN PROGRAM LANJUTAN LAINNYA

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

119

Macro Objectives
2014*
(Baseline)

Indicator
People and Community Development
People Development Index
Community Development Index1
Gini Index
Increase in the percentage of the community that is
registered with the health insurance through a national
social protection system
Participation in the National Social Protection System
for Employment
Formal employee
Informal employee

2019

73,83
0,55
0,41
51,8%
(October 2014)

76,3
Increase
0,36
Min. 95%

29,5 Million
1,3 Million

62,4 Million
3,5 Million

Community development index is the composite index that measure the tolerance, cooperativeness, and security feeling in the community
*Estimation

**March 2014

Indicator

Economic Growth

GDP per Capita (000 IDR) base year 2010

PDB per Kapita (000 IDR) base year 2000

2019

5,1%

8,0 %

43.403

72.217

40.785
10,96 % *)

Poverty Rate

Un-emplyoment (TPT)

*)

2014*
(Baseline)

5,94%

Poverty rate in September 2014, the rate might change due to the fuel subsidy policy, that is enacted in November 2014

Adaptasi
Penyesuaian
diri terhadap
kondisi
perubahan
iklim

INDICATOR

2019

100%

MoEF

120

579

MoEF

66,5-68,5

MoEF

15,5%

26%

5 Ministries

Forest Area Consolidation


FMU Operationalization
Environment Quality Index

GHG emission

4,0-5,0%

Improve the community resilience to disaster

National Agency for


Disaster Mngmt

Improve the early warning system for


information service on weather and climate
as well as disaster management

Meteorological,
Climatology, and
Geophysics Agency
Meteorological,Cli
matologyAgency

POLICY DIRECTION:

POLICY DIRECTION:

2.

Sustainable Forest Management and Conservation

Escalation of the forest area consolidation through boundary management, mapping


and determination with involvement of relevant stakeholders
Establish and form an excellent management unit
Improve the capacity of management and infrastructure of the FMU
Develop a good relationship between the community, indigenous people and
government for the forest management in the forest area

Strengthening Environment Quality Monitoring System

Environment al quality improvement


Strengthening the incentive and disincentive system for environmental management
Application of the sustainable consumption and production pattern
Strengthening environmental financing and partnerships between ministries/agencies,
local governments, and privates

120

PROGRAM OF THE PRESIDENT

1. Strengthen the international


cooperation in solving the global
problems such as climate change and
epidemic;
2.
3.

Improve the data accuracy and information service on


meteorological, climatology and geophysics

Main Development Strategy

Related Ministries

Disaster Management

1.

Mengurangi
peningkatan
emisi GRK

7,0-8,0%

Agenda: Natural Resources Preservation,


Environment and Disaster Management
2014
(baseline)

Mitigasi

4.

Rehabilitation of the ocean and coastal


destruction;
Increase of water conservation area with
sustainable management. The target of
conservation area in the next 5 years is 17
Mio hectares with additional area of 700
hectare;
Supervision and effective law enforcement
for illegal logging actors;

3. Disaster Management and Disaster Risk Mitigation

Strengthening the institutional capacity and human resources on


the disaster management
Provision of the mitigation means and infrastructure,
preparedness, and early warning system on the disaster
Educational management and building the capacity of the
community on the disaster risk mitigation
Improve the participation and the role of multi stakeholder on the
risk management
4. Provision of the Information on Climate and Disaster
Improve the accuracy and analysis as well as the information
provision for the early warning system, meteorological, climatology
and geophysics information that support the sustainable climate
change management.

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PRO
GROWTH

2007

PRO ENVIRONMENT

SUSTAINABLE
GROWTH WITH
EQUITY

PRO
JOBS

PRO
POOR

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

121

Jangka Menengah dan Jangka Panjang


Sustainable Path

Mitigasi Perubahan Iklim dan


Pembangunan Rendah Karbon
1. Untuk Indonesia, semua upaya harus
diarusutamakan ke dalam Pembangunan Nasional:
a. Bagian dari Rencana Pembangunan Nasional
b. Implementasi: berkelanjutan dan konsisten
c. Alat untuk concerted efforts
2. Setiap upaya adalah upaya mencapai target-target
dalam RPJM dan RPJP to carry out the objective
of the development for people prosperity

SUSTAINABLE DEVELOPMENT
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Social Pillar
Equity
Health
Education
Security
Housing
Population

MDG

Indonesia
achieved most of
the MDG goals
prior and track.

Economic Pillar
1. Economic
Structure
2. Consumption
& Production
Pattern

Green Economy

GHG emission provide a


good momentum to:
1. Developing SCP
2. Valuing the nature
(environmental services
and biodiversity values)
and externalities.
3. Internalize
environmental
externalities into the
economy

1.
2.
3.

4.
5.

Institutional Pillar
1. Institutions,
Regulatory
Framework
2. Delivery
Mechanism
3. Capacity

Environment
Pillar
Atmosfir
Land
Coastal and
Marine
Clean Water
Biodiversity

Environment and
Biodiversity

Governance

Room for
Improvement and
GHG emission
reductions provide a
good opportunity to a
more systematic
development on this
pillar.

On going process
of adjustment

Framework for Construction of Sustainable Development Indicators, September, 2001

RPJMN 2015-2019
(Buku II Bab I)
I. PENGARUSUTAMAAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
II. PROGRAM LINTAS BIDANG PERUBAHAN IKLIM
SASARAN

ARAH KEBIJAKAN

1. Menurunnnya Emisi Gas


Rumah Kaca pada lima sektor
prioritas
2. Meningkatnya ketahanan
masyarakat terhadap
dampak perubahan iklim
15 daerah rentan sesuai
RAN-API

1. Memperkuat koordinasi,
pelaksanaan, pemantauan,
dan pelaporan RAN/RAD-GRK
2. Menerapkan Rencana Aksi
Nasional Adaptasi Perubahan
Iklim (RANAPI) secara sinergis,
terutama pelaksanaan upaya
adaptasi di 15 daerah
percontohan

Rencana Penerapan
Pembangunan Berkelanjutan
PENTAHAPAN

Penurunan emisi
GRK
(pembangunan
rendah karbon)
+ Penurunan
polusi air dan
lahan

Adaptasi
Perubahan Iklim
1. Perpres 61/2011
tentang RAN GRK
2. Perpres 71/2011
tentang Inventarisasi
Penurunan Emisi GRK

Pola Konsumsi dan


Produksi Berkelanjutan
(Sustainable
Consumption and
Production/SCP)

Resource efficient
Sustainable production
Sustainable
consumption

Green procurement
Green standard

1. KLH meluncurkan 10Y


Framework of SCP
2. Kerangka akan diisi
dengan berbagai
inisiatif K/L yg menjadi
komponennya.

Ekonomi hijau

-----

......Pembangunan
berkelanjutan

SCP
Struktur ekonomi

Green financing
Green banking
Green jobs

Instrumen Fiskal
untuk Ekonomi
Hijau
Pricing issue

ROADMAP GREEN BUSINESS (private sector)

122

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

16

123

Kebijakan Nasional Perubahan Iklim

2.

124

Kebijakan & Program


Perubahan Iklim

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

125

RAD-GRK

RAN-GRK

33
RAD
GRKs

Pres. Decree No. 61/2011


Mitigation Action (RAN GRK) and
Pres. Decree No.71/2011 on GHG
Inventory
www.bappenas.go.id

1. How is carbon
emission situation in
the region level in
what sector,
activities?
2. What can Local
Government do to
reduce emissionprogram-activities?
3. Impact on income and
local economy
what are the
alternatives and new
income sources?
4. Capacity: institutions
and HR needed for M
& E at the
government level,
universities, NGO and
community?

REDD+ and Development in INDONESIA

Program RAN-GRK
1

2
Institutional arrangement

Legal system and regulation


Review land tenure issue and accelerate
spatial planning
Law enforcement and prevent corruption
Implement 2 year moratorium for primary
forest and peatland
Redesign forest cover map and its
concessions
Synergize benefit sharing

REDD+ agency
Instrument and Institution of finance
System and MRV institution
o Monitoring
o Reporting
o Verification
3

Strategic Program

Sustainable landscape
management

Sustainable Natural resources

management

Enhance sustainable forest management


Increase agricultural productivity
Create environment friendly mining
Promote value added forest product industry

Conservation and reforestation

Solidify protected forest


Control forest and peatland conversion
Forest restoration and peatland rehabilitation

4
Transform paradigm &
work culture
5

Multi stakeholder
involvement

126

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Multi land use planning and management


Expand alternative sustainable livelihoods
Accelerate forest management unit
Control and prevent forest fire

Strengthening forest governance


Empower local potential with sustainable principal
Promote Saving Indonesian Forest campaign
Connect and consult with all elements (government, private, non government organization, indigenous people and international
partner)
Develop social and environment safeguard systems
Force the fairness of benefit sharing

Reduce emission

Enhance carbon
stock

Protect

biodiversity and
other services

Economic growth

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

127

Kerangka Nationally Appropriate Mitigation


Actions (NAMAs) di Indonesia

Sector and Sub-sector of RAN API


Sector

Sub Sector

Economic Resilience

Food Security
Energy Independence

Living System Resilience

Health
Housing
Infrastructure

Ecosystem Resilience

Ecosystem and Biodiversity

Specific Region Resilience

Urban
Coastal and Small Islands

Supporting System

Data and Information


Capacity Building
Research and Development

Buku Indonesias Framework


for Nationally Appropriate
Mitigation Actions

General Framework of National


Action Plan for Adaptation (RAN-API)
MAIN GOAL

CLIMATE CHANGE-ADAPTIVE SUSTAINABLE


DEVELOPMENT

ECOSYSTEM
RESILIENCE
SPECIFIC REGION
RESILIENCE

Target

ECONOMIC RESILIENCE

SUPPORTING
SYSTEM

LIVING SYSTEM
RESILIENCE

Knowledge Management, Planning and Finance/Budgeting, Capacity


Development, Monitoring and Evaluation

128

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Integrating CCA and DRR


1. In the past decade, majority of disaster events in Indonesia
is hydrometeorological disasters need integration
between DRR and CCA
2. The integration is aimed to effectively reduce community
vulnerability towards adaptive sustainable development
3. The integration relates to sectors : food security, energy
security, livelihood, ecosystem and special resilience
4. Aspects being integrated in CCA and DRR are:
a)
b)
c)
d)

Risk Assessment and Monitoring


Early warning system
DRR and CCA indicators
Improvement of participation and capacity of community in
dealing with disasters and cc impacts

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

129

RAN-API dan Kaitannya dengan Sistem


Perenanaan Pembangunan Nasional

Inclusion to

Kerangka Matriks RAN-API

National
Development
Plan Document
(Non-Spatial)
Progress
to date
Included in the
RPJMN 20152019 as part of
Cross-sectoral
Program

BIDANG

SUB-BIDANG

Ketahanan
Ekonomi

Ketahanan Pangan

7 klaster

Kemandirian Energi

4 klaster

Kesehatan

4 klaster

Permukiman

4 klaster

Infrastruktur

4 klaster

Ketahanan
Sistem
Kehidupan

Ketahanan
Ekosistem

Ketahanan
Wilayah
Khusus

Sistem
Pendukung

Bidang/Sub-Bidang, Kluster dan K/L Terkait


dalam RAN-API
BIDANG

SUB-BIDANG

Ketahanan
Ekonomi

Ketahanan Pangan

7 klaster

Kemandirian Energi

4 klaster

Kesehatan

4 klaster

Permukiman

4 klaster

Infrastruktur

4 klaster

Kemen PU, KKP, BNPB, Bappenas, Kemenhub, LIPI, KLH, Kemenhut,


Kementan, BMKG, LAPAN, BPPT, BIG, Kemenkes, Kemenkominfo,
dan Kemen ESDM

7 klaster

Kemenhut, KKP, BMKG, BPPT, Bappenas, Kemen PU, KLH, LIPI,


Kemendagri, Kementan, BNPB, Kemenlu, Kemenristek, KP3A , dan
Kemen ESDM

Perkotaan

5 klaster

Kemen PU, KLH, BNPB, BIG, BMKG, LAPAN, LIPI, BPPT, Bappenas,
KLH, DNPI, Kemenpera, BKKBN, Kemendagri, Kemenkes, dan
Kemenristek

Pesisir dan PulauPulau Kecil

5 klaster

KKP, BMKG, LAPAN, BPPT, LIPI, Kemen PU, KLH, Kemenhut, BNPB,
BIG, DNPI, dan Kemendagri

5 Klaster

BNPB, Kemensos, Kemendiknas, LIPI, Kemenkes, Kemenkominfo,


DNPI, BPPT, Kemenristek, Kemendagri, KKP, Kemen PU, Kementan,
Kemenhut, Kemen ESDM, LAPAN, BIG, BMKG, Bappenas, KLH,
Kemenkeu, dan Kemenkumham

Ketahanan
Sistem
Kehidupan

Ketahanan
Ekosistem
Ketahanan
Wilayah
Khusus

Sistem
Pendukung

130

KLUSTER

KLUSTER

7 klaster

Perkotaan

5 klaster

Pesisir dan PulauPulau Kecil

5 klaster

5 Klaster

RENCANA AKSI
Klaster 1: Penyesuaian Sistem Produksi Pangan
1. Meminimalisasi kehilangan hasil melalui penurunan
luas daerah terkena/puso akibat banjir
2. .
Klaster 1: Identifikasi dan pengendalian faktor-faktor
kerentanan dan resiko kesehatan masyarakat
1. Pemetaan populasi dan daerah rentan perubahan
iklim
2. .
Klaster 1: Perbaikan / Penyempurnaan Tata Ruang dan
Tataguna Lahan
1. Identifikasi dan pemetaan kerentanan kawasan hutan,
ekosistem laut, DAS, dan kekayaan keanekaragaman
hayati terhadap PI
2. ..

Klaster 1: Pengintegrasian rencana tata ruang dengan


upaya adaptasi
1. Penyusunan peta kerentanan akibat perubahan iklim
untuk kawasan perkotaan
2. .
Klaster 1: Peningkatan kapasitas bagi pemangku
kepentingan dalam adaptasi PI
1. Pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan tentang
adaptasi PI
2. ..

RAN-API dengan RPJMD

K/L
Kementan, KKP, LIPI, BPN, Kemenhut, Kemen PU, BMKG, BNPB,
BPS, dan Bappenas
Kemenhut, Kemen ESDM, Kementan, LIPI, Kemenristek, dan BPPT
Kemenkes, Bappenas, BIG, BMKG, KLH, DNPI, LIPI, BPPT,
Kemendagri, Kemen PU, Kemenristek, dan Kemendiknas
Kemenpera, Bappenas, KLH, BIG, BMKG, DNPI, Kemen PU, KKP,
Kemenkes, BNPB, Bappenas, Kemensos, Kemendagri,
Kemenkominfo, Kemendiknas, Kemen ESDM, LIPI, Kemenkokesra,
Kementan, Kemendagri, Kemenristek, dan Kemenhub

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

15
Pilot Site

Inclusion to

Other
Regions

Local Development
Plan Document
(Non-spatial)

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

131

PROGRAM

3. Institutional Arrangement

RAN GRK, 33
RAD GRK, AND
RAN API

SEDANG

update: RANGRK & RAN-API

DI-REVIEW

4 YEARS OF EMPIRICAL EXPERIENCES


EXCLUDED/INCLUDED ACTIVITIES
MORE CAPACITY AND KNOWLEDGE ,
KNOWHOW
COMMUNICTY AND PRIVATE SECTOR

RAN-GRK dan RAD-GRK:


Koordinasi Pusat dan Daerah
National Level
Overall coordination, technical
assistance & capacity
development :
pedoman penyusunan dan
Buku
Guideline
pelaksanaan
RAD-GRK
Training
Materials
Training, TOT

Provicial Level
(Coordination with District/City)

RAD-GRK

Top-down:
provinsi
diharuskan untuk
menyusun
rencana aksi

RAD-GRK

Koordinasi antar provinsi


Metodologi dan proses yang sama

132

MIN. OF BAPPENAS MIN OF E-F

VICE MIN. BAPPENAS


DEPUTY BAPPENASDEPUTY MOE

RAD-GRK

NAMA

THE COORDINATION

RAN-GRK
Bottom-up: provinsi
(termasuk kab/kota)
menyusun rencana
aksi berdasarkan
kondisi daerah
masing-masing

INDC

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

WG

WG

WG

WG

Panel
of
expert
WG

DEPUTY OF BAPPENASDG CC
WG

WG

WG

Panel
of
expert
WG

WG

WILL BE CONTINUED

POLICY COORDINATION FORUM

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

133

PENDANAAN
PRIVATE SECTOR

APBD

RAN AND RAD GRK


IMPLEMENTATION

APBN

4.

COMMUNITY LEVEL

INTERNATIONAL
COMMUNITY

ICCTF

PENDANAAN PERUBAHAN
IKLIM

K/L & CSO

OVERALL

PENDANAAN PERUBAHAN IKLIM

THE PROGRAM:
RAN/RAD GRK

NATIONAL
TASKFORCE FOR
CC NEGOTIATIONS

Indicative budget for climate change in National Medium Term Development Plan
(RPJMN) 2010-2014 is USD 11.03 billion

before issuance of Perpres No. 61/2011 on RAN-GRK, distributed in 16 line ministries/agencies


No.

THE FUNDING
APBN/APBD,
PRIVATE &
COMMUNITY

INTERNATIONAL
COMMUNITY &
INSTITUTIONS

Activity

RPJMN 2010-2014 (USD billion)

Adaptation Activities

6.84

Mitigation Activities

3.79

Supporting Activities

0.40

TOTAL

11.03

Total budget allocation for climate change in Annual Development Plan (RKP) 2011-2014
is USD 16.58 billion, exceeding USD 11.03 billion budget allocated in RPJMN 2010-2014
after issuance of Perpres No. 61/2011 on RAN-GRK, distributed in 16 line ministries/agencies

COORDINATING TEAM FOR


CLIMATE CHANGE

No.

Activity

RKP 2011
(USD bio.)

RKP 2012
(USD bio.)

RKP 2013
(USD bio.)

RKP 2014
(USD bio.)

Adaptation Activities

1.37

1.63

1.73

1.64

6.37

Mitigation Activities

0.74

0.47

2.89

5.57

9.67

134

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Total 2011-2014
(USD bio.)

Supporting Activities

0.11

0.13

0.15

0.15

0.54

TOTAL

2.22

2.23

4.77

7.36

16.58

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

135

Achievements and Results

Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)


Establishment :
3 September 2009

1. ICCTF Funded Project 2010 2014

Investment Windows

Funding:
Blend the state budget and
international contribution

Between 2010-2014, ICCTF has funded 6 (six) pilot projects, with each project
representing ICCTFs priority windows: Land-based Mitigation, Energy and Adaptation.
Land Based
Mitigation

Energy

Resilience and
Adaptation

Goal:
To support the GoI efforts to
reduce GHG emissions, move
the country towards a
lowcarbon economy, and
adapt to the negative impacts
of climate change.

1. Strategic Role
Implementation of RAN & RAD-GRK
Support to implementation of RAN-API
NAMAs support facility

Purpose:
Mainstreaming CC issues
into national, provincial &
local development planning

2. Triggering Initiatives
Alternative funding mechanism to blend
international and domestic funds
Strategic and innovative pilot projects
funding for further replication

Implementing GHG
emissions mitigation and
adaptation initiatives

What makes ICCTF Unique

1.

Research and Technology Development of


Sustainable Peat Management to Enhance Carbon
Sequestration and Mitigation of Greenhouse Gas
Emissions - (Ministry of Agriculture)

2.

Energy Conservation and CO2 Emission Reduction


in Industrial Sector - (Ministry of Industry)

3.

Public Awareness, Training and Education Program


on Climate Change Issue for All Level of Societies in
Mitigation and Adaptation (BMKG)

3. Direct Access
Endorsement to be National Implementing Entity
for enhance direct access (eq. AF, GCF)

Phase II Projects (2012-2014)


1.

Sustainable Management of Degraded Peatland to


Mitigate Greenhouse Gas Emission and Optimize
Crop Productivity (Ministry of Agriculture)

2.

Health Vulnerability: Assessment, Mapping and


Community-Based Adaptation on Dengue
Haemorragic Fever and Malaria Diseases (Ministry
of Health)

3.

Enhancing Sustainable Management of CommunityBased Wood Pellets Production as Biomass Energy to


Support Low Carbon Economy and Climate Change
Mitigation in Bangkalan, Madura, East Java
(Ministry of Forestry)

Achievements and Results

Sumber Pendanaan
*)

Phase I Projects (2010-2011

APBN:

GOIs Contribution

2. Small Grant Programs 2014

In May 2014, ICCTFs Steering


Committee agreed to fund six
projects under Small Grant Program
(SGP) scheme.

With the SGP scheme, ICCTF


channels around Rp 500 million per
project to NGOs and research
institutions working on climate
change mitigation and adaptation
projects
6 (six) NGOs : Yayasan Arupa, IPB,
Politeknik ATMI, Yayasan Humaniora,
Yayasan Pikul, and Bingkai Indonesia.

*) UK, AusAid, SIDA, Denmark,


UNDP, USAID, Germany, CDKN

136

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

The SGP marks a milestone in


ICCTFs portfolio as it is the first time
the trust fund channels funds to
NGOs and research institutions

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

137

INDONESIA NAMAS (2)

Milestones of the ICCTF (2014-2020)


No
Status
4 NAMAs proposal
being developed

2018-2020
-Fund channeling for international
climate funds (as NIE)

-Access to other international climate


2016-2017
funds
Co-financing with private sectors, channels funds with
others
2014-2015
Transformation Phase:
- Developing as national trust fund
2010-2013

- Pioneering and up-scaling to private sector

Innovation Phase : institutional development:


- PREP-ICCTF

Activity
Scaling-up RE NAMA
Scaling-up Investment in Small and Medium Scale
Renewable Energy
SWEET NAMA
Sustainable Wood to Effective Energy Technology
Jakarta (Transport & Green Building) NAMAs
Air Transport NAMAs
Cement NAMA
Bio-energy NAMA
New ideas for NAMA Bio-fuel NAMA
proposal
Chiller NAMA
Methane Capture NAMA
Industrial Estate NAMA
Textile NAMA
Carbon Sequestration & Livelihood Improvement
NAMA
Green Building NAMA

Implementer
Ministry of Energy &
Mineral Resources (MEMR)
Ministry of Forestry
DKI Provincial Government
Ministry of Transportation
Ministry of Industry
MEMR
MEMR
MEMR
MEMR
Ministry of Industry
Ministry of Industry
Ministry of Agriculture
Ministry of Environment
and UNEP

- Executing pilot projects

INDONESIA NAMAS (1)


No
Status
Activity
SUTRI NAMA Sustainable Urban Transport Indonesia
1 Getting funds from
NAMAs support
facility
2 Registered in UNFCCC SUTRI NAMA
Sustainable Urban Transport Indonesia
SSLI NAMA
Smart Street Lighting Initiative
3 Proposal is submitted VIMSWa NAMA
to get international Vertically Integrated Municipal Solid Waste
funds, for instance
DEEP NAMA
NAMA support facility Debottlenecking Project Finance for Least Cost
Renewable in Indonesia
SUTRI NAMA
Sustainable Urban Transport Indonesia
SSLI NAMA
Smart Street Lighting Initiative

138

Implementer
Ministry of Transportation,
Bappenas
Ministry of Transportation,
Bappenas
Ministry of Energy &
Mineral Resources
Ministry of Public Works
Ministry of Energy &
Mineral Resources
Ministry of Transportation,
Bappenas
Ministry of Energy &
Mineral Resources

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

139

Final Draf INDC Indonesia

140

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

141

142

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

143

144

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

145

146

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

147

148

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

149

150

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

151

152

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

153

154

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

155

Indonesia INDC and


Road to Paris

156

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

157

COP)Decisions)on)INDC)

Indonesia)IN
DC)
and)Road)to
)Paris)
Nila)Kamil)
of)Climate)Ch
ange)Mitiga
tion)9)
MOEF)

Directorate)

Outline)

0 ) ) ) ) C O P ) D e c i s i o n s ) o n ) I N D C )
0 ) ) ) ) S u b m i t t e d ) I N D C s )

0 ) ) ) ) I n d o n e s i a s ) I N D C )

0 ) ) ) ) U N F C C C ) C O P ) 2 1 ) P a r i s )

158

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Further)to)the)negotiations)under)the)Ad)Hoc)Working)Group)on)the)Durban)Platform)for)Enhanced)
Action) (ADP)) the) Conference) of) the) Parties) (COP),) by) its) decision) 1/CP.19,) invited) all) Parties) to)
initiate)or)intensify)domestic)preparations)for)their)INDCs)towards)achieving)the)objective)of)the)
Convention)as)set)out)in)its)Article)2,)without)prejudice)to)the)legal)nature)of)the)contributions,)in)
the)context)of)adopting)a)protocol,)another)legal)instrument)or)an)agreed)outcome)with)legal)force)
under)the)Convention)applicable)to)all)Parties.)
)
The)COP,)by)its)decisions)1/CP.19)and)1/CP.20,)invited)all)Parties)to)communicate)to)the)secretariat)
their)INDCs)well)in)advance)of)COP)21)(by)the)Wirst)quarter)of)2015)by)those)Parties)ready)to)do)so))
in)a)manner)that)facilitates)the)clarity,)transparency)and)understanding)of)the)INDC.)In)decision)1/
C P . 2 0) t h e) C O P) a l s o) i n v i t e d) a l l) P a r t i e s) t o) c o n s i d e r) c o m m u n i c a t i n g) t h e i r)
undertakings) in) adaptation) planning) or) consider) including) an) adaptation) component) in) their)
intended)nationally)determined)contributions.)
)
In) decision) 1/CP.20) it) is) further) speciWied) that) in) order) to) facilitate) clarity,) transparency) and)
understanding,)the)information)to)be)provided)by)Parties)communicating)their)intended)nationally)
determined) contributions) may) include,) as) appropriate,) inter) alia,) quantiWiable) information) on) the)
reference) point) (including,) as) appropriate,) a) base) year),) time) frames) and/or) periods) for)
implementation,) scope) and) coverage,) planning) processes,) assumptions) and) methodological)
approaches) including) those) for) estimating) and) accounting) for) anthropogenic) greenhouse) gas)
emissions)and,)as)appropriate,)removals,)and)how)the)Party)considers)that)its)intended)nationally)
determined) contribution) is) fair) and) ambitious,) in) light) of) its) national) circumstances,) and) how) it)
contributes)towards)achieving)the)objective)of)the)Convention)as)set)out)in)its)Article)2;))

COP)Decisions)on)INDC)

Lima)Action)Call)
0 Para.)9:)Reiterates)its)invitation)to)each)Party)to)communicate)to)the)secretariat)its)INDC)
towards)achieving)the)objective)of)the)Convention)as)set)out)in)its)Article)2)
0 Para.)10)Agrees)that)each)Partys)INDC)towards)achieving)the)objective)of)the)Convention)as)
set)out)in)its)Article)2)will)represent)a)progression)beyond)the)current)undertaking)of)that)
Party)
0 Para.)13)Reiterates)its)invitation)to)all)Parties)to)communicate)their)intended)nationally)
determined)contributions)well)in)advance)of)the)twenty9Wirst)session)of)the)Conference)of)the)
Parties)(by)the)Wirst)quarter)of)2015)by)those)Parties)ready)to)do)so))in)a)manner)that)
facilitates)the)clarity,)transparency)and)understanding)of)the)intended)nationally)determined)
contributions)
0 Para.)14)Agrees)that)the)information)to)be)provided)by)Parties)communicating)their)
intended)nationally)determined)contributions,)in)order)to)facilitate)clarity,)transparency)and)
understanding,)may)include,)as)appropriate,)inter)alia,)quantiWiable)information)on)the)
reference)point)(including,)as)appropriate,)a)base)year),)time)frames)and/or)periods)for)
implementation,)scope)and)coverage,)planning)processes,)assumptions)and)methodological)
approaches)including)those)for)estimating)and)accounting)for)anthropogenic)greenhouse)gas)
emissions)and,)as)appropriate,)removals,)and)how)the)Party)considers)that)its)intended)
nationally)determined)contribution)is)fair)and)ambitious,)in)light)of)its)national)
circumstances,)and)how)it)contributes)towards)achieving)the)objective)of)the)Convention)as)
set)out)in)its)Article)2.))

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

159

Submitted)INDCs)

0 A) number) of) countries) have) already) submitted) their)

INDCs,) including) the) European) Union,) the) United)


States,) Russia) and) Mexico.) ) Other) countries) are)
expected) to) communicate) their) INDCs) before) October)
2015.))
0 All)INDCs)submitted)to)the)Secretariat)by)October)1st)
will) be) included) in) a) synthesis) report) by) the) UNFCCC)
Secretariat)that)will)be)released)by)November)1st.)The)
report) will) reWlect) the) aggregate) emissions) impact) of)
available)INDCs)ahead)of)COP21.)

Submitted)INDCs)

160

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Party&to&the&UNFCCC&

INDC&&

Switzerland)

50%)in)2030)below)1990)levels)

Norway)

40%)in)2030)below)1990)levels)

Latvia)(EU))
Mexico)
USA))

Russia)

Canada)
China))
ROK)

Singapore)
Australia)

New)Zealand)
Japan)

Brazil)

Indonesia)

40%)in)2030)below)1990)levels)
25949%)in)2030)below)BAU)

26928%)in)2025)below)2005)level)
25930%)in)2030)
30%)in)2030)

60965%)emissions)unit)per)GDP)below)2005)level)
37%)in)2030)below)BAU)
36%)in)2030)

26928%)in)2030)below)2005)level)
30%)in)2030)below)2005)level)

26%)in)2030)against)base)year)2013)

37%)in)2025;)43%)in)2030)below)2005)level)
29941%)in)2030)below)BAU)

Indonesias)INDC)

0 29%)(unconditional))to)41%)(conditional))economy9

wide)GHGs)emission)reduction)compared)to)BAU)
scenario)by)2030)
0 Base)year)of)BAU)is)2010,)with)historical)data)year)
199092012)for)land9based)sector)and))200092010)for)
non)land9based)sector)
0 The)BAU)scenario)projection)translates)to)2.881))
GtCO2e)in)2030)

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

161

Bonn)Intersessional)Meeting)

Indonesias)INDC)

0 Methodology:)IPCC)Guidelines)2006,)with)all)data)

refers)to)National)Inventory)System)of)Greenhouse)
Gases)(SIGN)SMART),)BUR)and)TNC,)FREL9REDD+)
documents)
0 Sectors:)Energy)and)Transportation,)IPPU,)Waste,)
Agriculture,)LULUCF)and)Forestry)
0 Market)Mechanism:)applied)for)conditional)target)

UNFCCC)COP)21)Paris)
Geneva&Negotiation&Text&

0 Preamble)(3)Para))

0 DeWinitions)(1)Para))

0 General)Objective)(16)Para))
0 Mitigation)(34)Para))

0 Adaptation)and)Loss)and)Damage)(38)Para))
0 Finance)(54)Para))

0 Technology)development)and)transfer)(7)Para))
0 Capacity)Building)(6)Para))
0 Transparency)of)Action)and)Support)(22)Para))

0 Time)frames)and)process)related)to)commitments/contributions/)other)

matters)related)to)implementation)(34)Para))
0 Facilitating)implementation)and)compliance)(13)Para))
0 Procedural)and)institutional)provisions)(23)Para))
0 Annexes)

162

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

GNT&

SCT&

Co>Chairs&
Tool&

90))
)
(225))

85)
)
(223))

76)
)

(Geneva& (Streamlined&
Negotiation&
and&
Text)&
Consolidated&
Text)&

0 Scope)of)GHGs:)CO2,)CH4,)N2O)
0 GWP)Metric:)IPCC)AR4)

Agreement):)59)
Decisions:)98)
Need)further)clarity):)102)

Bonn)Intersessional)Meeting)
Scenario)Note))Co9Chairs)Tool)

1. Draft&Agreement&&
9
9
9

overarching&commitments,&&
durable&provisions&and&standard&provisions&
A&general&anchoring&clause&

2.)Draft)for)decisions)1/CP21))
9details)of)implementation,))
9provisions)likely)to)change)over)time,))
9provisions)related)to)pre92020)actions)and)interim)arrangements)

3. Provisions)that)need)further)clarity)
9
9
9
9

Market)and)non)markets)
Land)sectors)
Response)measure)
Loss)and)damage)

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

163

Para 3:

Missing)para)?)

[All Parties to enhance action and cooperate on the basis of equity


and common but differentiated responsibilities and respective
capabilities to further implement the Convention in order to
achieve its objective as stated in its Article 2, so as to stabilize
greenhouse gas concentrations in the atmosphere at a level that
would prevent dangerous anthropogenic interference with the
climate system, to allow ecosystems to adapt naturally to climate
change, to ensure that food production is not threatened and to
enable economic development to proceed in a sustainable manner
that ensures resilience and adaptive capacity to the adverse effects
of climate change, while recognizing the local, national, and global
dimensions of adaptation in accordance with the principles and
provisions of Articles 3 and 4 of the Convention,]
)

Latest)update)

First)draft)of)ADP)2.11))Bonn)19923)October)2015)
)
20)pages):)10)pages)of)draft)agreements)
) ) )10)pages)of)draft)decisions)
http://unfccc.int/meetings/bonn_oct_2015/session/
9195.php))>>)ADP.2015.8.InformalNote)
)
Highlights:)no)mention)of)REDD+;)generalization)on)
Winancing,)technicalities,)modalities;)insertion)of)MRV)of)
support;)new)bodies)and)mechanism)(workstream)2).)

164

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Key)Issues)in)UNFCCC)COP)21)
0 Mitigation:)How)to)achieve)long9term)emission)reduction)in)the)context)

of)Article)2)of)the)Convention)with)limiting)the)global)average)temperature)
increase)to)below)2)C)or)1.5)C)above)pre9industrial)levels)(NAMAs,)QELRO,)
International)market,)REDD)or)new)mechanism),)differentiation)between)
developed)and)developing)countries)!)commitment)vs)contribution)

0 Adaptation)and)Loss)&)Damage:)how)to)clarify)several)aspects)

including)global)goal)for)adaptation,)institutions,)new)commitments)relating)
to)adaptationfor)example,)a)collective)commitment)to)enhance)adaptation)
action,)or)individual)commitments)to)formulate)national)adaptation)plans,)
adaptation)support)for)developing)countries,)registry)of)national)adaptation)
actions)and)Winancial)support)or)insurance)for)loss)and)damage)

Key)Issues)in)UNFCCC)COP)21)
)

0 Finance:)what)is)the)procedure)and)mechanism)for)operationalization)of)
GCF)commitment;)burden)sharing)between)developed)and)developing)
countries;)and)criteria)of)countries)to)receive)funding)

0 Technology)Transfer:)how)to)remove)of)barriers)(speciWically)

Intellectual)Property)Rights/IPR))including)more)Winancial)and)intellectual)
supports)through)R&D)and)demonstration)technologies)

0 Capacity)Building:)how)to)address)capacity)building)and)issues)related)
to)institutional)arrangements)on)capacity)building.)
0 Transparency:)how)to)ensure)and)enhance)the)TACCC)principles)in)

national)reports,)implement)robust)MRV)not)only)on)mitigation)actions)but)
also)on)supports)toward)developing)countries)mitigation)efforts,)
differentiation)of)MRV)!)standardized)(top9down))or)based)on)countries)
existing)system)(bottom9up),)ICA)and)IAR)processes)

PERENCANAAN NASIONAL :
Program dan Kebijakan Perubahan Iklim INDC-Indonesia

165

INDC)in)UNFCCC)COP)21)

0 Scope)of)INDC)
0 JustiWication)of))level)of)ambition)
0 Communication:)whether)its)part)of)BURs/NCs)
0 Time)frame:)submission,)periodic)cycle,)target,)periodic)

review)

0 Target:)individual)or)aggregated?)Carbon)budget?)
0 Legal)aspect:)annex)of)(legally)binding))agreement)or)COP)

decisions)
0 Review)process:)

0 rules)of)procedure,)ex9ante)and)ex9post)process,)modalities)
0 scope)of)review:)gaps)analysis,))revision/correction)of)target?))
0 right)to)review:)inter9Party)review?)UNFCCC)body?)Or)none)at)

KONTRIBUSI ANAK MUDA


DALAM COP 21

all?)

Pengantar Diskusi Kelompok

Thank&you&
)
)
Questions?)
)
)
(nilakamil@gmail.com))

166

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

167

Revisi Draft INDC

Grouping Discussion (Stimulation Model COP21)


Komisi 1 : Forum Energi
Komisi 2 : Forum Industri
Komisi 3 : Forum Lahan Gambut
Komisi 4 : Forum Limbah

Draft INDC Indonesia


Bappenas menyusun INDC dengan bantuan Institut Teknologi Bandung menggunakan
System Dynamic software. Khusus bidang energi telah melibatkan seluruh unit eselon I
KESDM dalam beberapa kali workshop.
Menteri/Kepala BAPPENAS telah menyampaikan INDC status 11 Agustus 2015 (61
halaman) ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
KLHK dengan Dewan Pengarah Perubahan Iklim telah menyimpulkan dan
menyampaikan draft INDC ke Bapak Presiden RI pada tanggal 1 September 2015 (15
halaman).
Draft INDC masih
dapat direvisi
Rapat
Dewan
Pengarah
menyampaikan
bahwa arahan Bapak
Presiden RI agar
draft INDC lebih
ringkas.

Draft INDC dapat direvisi dengan menyampaikan masukan melalui website ataupun
tertulis http://www.dephut.go.id/index.php/news/details/9845 .

168

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Draft INDC Indonesia


Mencegah naik 2oC dari suhu global tahun 2020
Second National Communication (SNC) tahun 2010 menyebutkan tahun 2005 emisi
GRK Indonesia mencapai 1800 MtCO2e, naik 400 MtCO2e dari tahun 2000. 63%
berasal dari lahan gambut, 19% dari pembakaran energi fosil.
Sumber daya energi di Indonesia belum digunakan secara efisien karena harga
masih rendah karena disubsidi.
Minimal 23% energi baru terbarukan pada energi mix tahun 2025.
Penggunaan limbah dan sampah untuk produksi energi
National Action Plan Climate Change Adaptation Rencana Aksi Nasional
Adaptasi Perubahan Iklim
Sustainable Development Goals (SDGs) pasca 2015 adaalah Access to affordable,
reliable, and renewable energy for all.
Promoting Climate Resilience in food, water and energy melalui konservasi energi
dan pengembangan energi baru terbarukan.
GDP 2010-2014 mencapai 6,2-6,5%, pertumbuhan penduduk 1,49%,
penggangguran 5,9%, tingkat kemiskinan 10,96% pada tahun 2014.
Target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% tahun 2030

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

169

Grouping (Berdasarkan Dokumen


Pendukung INDC)
Komisi 1 : Forum Energi

Komisi 2 : Forum Lahan

(Hal. 17-19) dan (Hal. 58-59)

(Hal. 20-34) dan (Hal. 55-57)

Komisi 3 : Forum Industri (Hal 35-37) dan (Hal 50-51)


Komisi 4 : Forum Limbah (Hal. 37-38) dan (Hal. 59-60)
s

Komisi Energi
Format Diskusi (10 slide)
Latar Belakang
Usulan program/kegiatan/aksi
Strategi Pelaksanaan
Target dan Indikator Capaian (Waktu)

170

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

171

KOMISI N
E ERGI

---------------------------------------------------------------

Latar Belakang

PRESENTED WITH LOVING CARE


BY:
1. Hanang Pandu Himawan

2. Resti Salmayenti
3. Via Apriyani
4. Zalfa Dewi Wulan Kusumah
5. Askadarini
6. Akbar Pangestu
7. Bintang Mikail Subuh
8. Fadly Noor M. Azizi
9. Ipmawan Hari Sanjaya
10. Redynal Umar
11. Selly Anastassia Amellia Kharis

Karena sumber energi fosil menghasilkan emisi yang


berlebih dan ketersediaannya yang terbatas, maka perlu
adanya konversi sumber energi yang terbarukan.

Domestik

Domestik
Industri

Energi
Transportasi

Komersial

172

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Kebutuhan pembangkit listrik efisien dan fleksibel.


Letak strategis Indonesia
Sumber energi sekunder rumah tangga: panel surya
Kendala: nilai teknologi yang dianggap mahal.

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

173

Usulan

Pusat Penelitian energi terbarukan di setiap negara


Menstimulus industri pembuatan panel surya untuk tingkat
rumah tangga dengan bantuan pemerintah sehingga panel surya
menjadi lebih terjangkau
Menstimulus industri transportasi untuk memproduksi kendaraan
hybrid. Agar masyarakat beralih ke mobil hybrid, maka perlu
adanya mobil hybrid murah.

Latar Belakang

PLAN ENERGI
TRANSPORTASI
Kebijakan pembatasan
umur kendaraan pribadi

174

Konversi energy BBM


BBG

Pengembangan
transportasi massal

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Latar Belakang
1. Energi non komersial kurang efisien bila dibandingkan dengan energi komersial.
2. Energi non komersial terbarukan menghasilkan emisi lebih rendah.
3. Adanya ketidakmerataan penggunaan yang disebabkan oleh 3 faktor, yaitu
ekonomi, infrastruktur, dan pola pikir.
Usulan program/kegiatan/aksi
1. Mendorong pemerintah untuk menetapkan jenis energi non komersial rendah
emisi menjadi energi komersial.
2. Memastikan pemerataan konsumsi energi komersial rendah emisi untuk seluruh
lapisan masyarakat.
3. Mengembangkan dan menetapkan energi nuklir sebagai energi komersial yang
bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

175

Energi Industri
Strategi Pelaksanaan
1. Research and development jenis energi non komersial
2. Mendorong investor menanam modal dalam pengembangan
usaha energi komersial rendah emisi.
3. Mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang
mendukung pengembangan energi komersial rendah emisi
dalam tahap produksi, konsumsi dan distribusi.
4. Komunikasi dan sosialisasi yang tepat kepada masyarakat

Target dan Indikator Capaian (Waktu)


2015 - 2025

solusi:
industri wajib mengeluarkan modal input sebagai
penanggung jawaban. modal input tersebut
dikhususkan untuk pembuatan modal energi
terbarukan

konsumsi kebutuhan energi menggunakan energi


terbarukan, untuk mengurangi konsumsi energi tidak
terbarukan (seperti: minyak bumi, batubara, gas bumi,
dan-lain-lain)

Energi Industri
Energi industri lebih banyak digunakan setelah energi yang
digunakan transportasi
Industri, baik industri besar, semi, dan kecil sudah
menjamur di Indonesia;
Limbah industri mencemari lingkungan
Industri memiliki porsi pengeluaran untuk lebih dari 17%
terhadap modal input
Pemenuhan kebutuhan energi industri di Indonesia secara
umum didominasi oleh solar (35,02%), batu bara (28,90%),
dan listrik (26,9%) sementara porsi gas hanya sebesar
5,75%dan bensin sebesar 3,95% dari total energi sektor
industri

176

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

TERIMA KASIH

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

177

Komisi Limbah

178

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

179

KOMISI 4
FORUM LIMBAH

Jumlah sampah X

21

23

24

26

19

2002

2003

2004

2010

2011

PENGELOLAAN LIMBAH BEKELANJUTAN


BERBASIS TEKNOLOGI TEPAT GUNA

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu penghasil limbah


terbanyak yang sangat berpegaruh terhadap
lingkungan
Pengelolaan limbah berkelanjutan sagat perlu
dilakukan.
Limbah padat dan limbah cair merupakan limbah
yang dihasilkan setip hari oleh masyarakat dan
industri di Indonesia

180

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

181

Efek limbah
1. Penurunan kualitas udara
timbulnya gas reaksi kimia dalam timbunan
limbah.
1. Penurunan kualitas air
tercemarnya air terhadap kualitas air konsumsi
bagi organisme dan makhluk hidup
1. Kerusakan permukaan tanah.
ganguan terhadap biotanah ,
tumbuhan,struktur tanah dan permukaan
tanah

TARGET

182

Pengurangan jumlah sampah padat dan cair


Menglola limbah padat dan cair
Reduksi emisi karbon sebesar 20% pada tahun 2030
Mengubah limbah padat menjadi hasil kreatifitas

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

USULAN PROGRAM
o
o
o
o

Penerapan pajak progresif bagi limbah industri


Menggunakan bakteri Eusterechia coli yang dimutasi
Menggalakan produksi plastik biodigreadable
Pemanfaatan limbah sebagai energi alternatif

STRATEGI
PELAKSANAAN
Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dan
industri tentang penglolaan limbah

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

183

KESIMPULAN
Lebih aktif dalam penanggulangan dan
pengelolaan limbah terutama sebagai sumber
energi alternatif

Komisi Industri

184

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

185

Forum 3 : Industri

Latar Belakang

Strategi Adaptasi & Mitigasi di Sektor Industri

Percepatan pembangunan infrastruktur yang


mendukung penguatan industri nasional. (UU APBN-P
2015)
Bertambahnya jumlah populasi manusia setiap
tahunnya tentunya diikuti dengan meningkatnya
permintaan kebutuhan.

Usulan Program

Latar Belakang
Mitigasi

Indonesia merupakan produsen semen terbesar ke-

10 di dunia (2005) dan memproduksi 37 juta ton


semen per tahun.

Industri semen merupakan sumber emisi GRK

terbesar dari sub-sektor industri karena


menghasilkan GRK dari 2 sumber yaitu penggunaan
energi dan proses kalsinasi dalam produksinya dan
merupakan sumber emisi terbesar ke-10 dari
sumber emisi GRK Indonesia (SNC, 2009) diluar
emisi dari Land Use Change and Forestry (LUCF).

186

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Melakukan edukasi kepada masyarakat,


melalui forum diskusi dan media sosial

Implementasi teknologi berbasis ramah


lingkungan

Audiensi dengan policy maker terkait


tarif pajak (Ditjen Pajak) dan standar
akuntansi (Ikatan Akuntan Indonesia)

Meningkatkan dana riset perusahaan di


bidang lingkungan

Adaptasi

Penggantian bahan baku clinker

Audit energi

Meningkatkan produksi
blended cement

Penggantian bahan perusak


ozon

Pemanfaatan biomass sebagai


bahan bakar alternatif
pengganti bahan bakar fosil

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

187

Strategi Pelaksanaan
Mitigasi

Edukasi dampak industri semen kepada masyarakat

Teknologi berbasis ramah lingkungan dengan implementasi program sebagai berikut:


Pemanfaatan air sebagai pengairan sawah dan ladang di sekitar area pabrik
Bantuan air bersih untuk kebutuhan pokok masyarakat sekitar pabrik

Melakukan penghijauan area pabrik dan sekitar pabrik

Target & Indikator Capaian


Strategi

Target

Indikasi

Edukasi kepada masyarakat

Masyarakat paham akan


dampak industri semen dan
kelestarian lingkungan.

Diukur dengan survey dan


behaviour masyarakat
tersebut.

Teknologi berbasis ramah


lingkungan

Implementasi program
teknologi berbasis ramah
lingkungan

Tercapainya program
pengairan air bersih dan
penghijauan

Audiensi

Mengumpulkan informasi
terkait penerapan teknologi

Penggunaan alternatif raw


material pada pabrik semen.

Reklamasi lahan pasca tambang

Audiensi meliputi pengenaan tarif pajak khusus untuk industri semen yang dilakukan
dengan Direktorat Jenderal Pajak dan perumusan standar akuntansi dan tanggung
jawab sosial lingkungan dengan Ikatan Akuntan Indonesia

Strategi Pelaksanaan

Daftar Referensi

Adaptasi
Penggantian bahan baku clinker
Audit energi dilakukan oleh auditor eksternal

Meningkatkan produksi blended cement, yaitu dengan pemanfaatan

1. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas

UU No. 27 Tahun 2014 tentang APBN TA 2015

2. Budget in brief APBN-P 2015. Kementerian Keuangan RI.

fly ash (sisa) sebagai campuran raw material

Penggantian bahan perusak ozon pada mesin pendingin dan alat

pemadam api

Pemanfaatan biomass sebagai bahan bakar alternatif pengganti

bahan bakar fosil

188

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

189

Komisi Lahan

190

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

191

Strategi Adaptasi dan


Mitigasi Perubahan
Iklim melalui
Pengelolaan Lahan
Gambut

192

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

Latar
Belakang

Planet

Manusia
Ekonomi

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

193

Usulan Progam /
Aksi
1.
2.
3.
4.

Mengenali potensi dan karakteristik wilayah serta


menentukan batas wilayah Gambut
Mengenali bencana serta upaya adaptasi dan mitigasi
Mengetahui pola pengelolaan hutan lahan gambut
Pemberdayaan Masyarakat dan Lembaga Masyarakat Adat

Target Pencapain /
Waktu
NO

TARGET

CONTOH

Ekowisata lahan gambut

Kalimantan Timur Taman


Wisata Kersik Luwai TNK

Berperan sebagai funsi hidrologi

Ketika musim hujan dapat


menyimpan air, dan
musim kemarau dapat
mengeluarkan air

Science Park

Tempat pendidikan dan


penelitian alam

194

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS

KONTRIBUSI ANAK MUDA DALAM COP 21

195

TERIMA KASIH
196

YOUTH CAMP TOWARD COP 21 PARIS