Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum

Teknologi Bioindustri

Hari, Tanggal : Selasa, 26 April 2016


Dosen
: Drs. Purwoko, M.Si
Asisten
:
1. Putty Rahmasari (F34120016)
2. Taufik Ismatullah (F34110072)

PRODUKSI BIOINSEKTISIDA (KULTIVASI CAIR DAN PADAT

Oleh :
Nurlaelatul Zannah
Septi Tresnaningtyas A.
Riezqi Prathama Haedi
Farah Athiyyah Tsany
Aji Najib N
Ahmad Yanda Fauzi

F34130066
F34130077
F34130078
F34130081
F34130085
F34130091

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pengembangan budidaya tanaman di Indonesia dapat terganggu oleh berbagai
faktor, salah satunya adalah organisme pengganggu tanaman. Organisme tersebut dapat
menurunkan kualitas serta kuantitas dari komoditas yang dihasilkan. Bahkan kemungkinan
terburuk dari organisme pengganggu tanaman ini adalah apabila dikonsumsi dapat
menyebabkan keracunan akibat racun dan residunya yang menempel di komoditas. Salah
satu cara untuk mengatasi organisme pengganggu tanaman adalah bioinsektisida.
Bioinsektisida merupakan salah satu hasil perkembangan bioteknologi dari mikroba yang
dapat membunuh serangga hama serta vektor pembawa penyakit. Penggunaan
bioinsektisida tentunya akan menguntungkan petani karena tidak menimbulkan kekebalan
terhadap serangga, cukup aman karena tidak meninggalkan residu pada lingkungan dan
cukup aman bagi manusia, binatang, tanaman serta serangga-serangga lainnya yang bukan
serangga target.
Bionsektisida dapat dihasikan melalui proses fermentasi, baik pada media
fermentasi kultivasi padat maupun kultivasi cair. Media fermentasi sangat mempengaruhi
proses fermentasi karena media fermentasi mengandung nutrisi-nutrisi tertentu sebagai
bahan makanan mikroba dalam proses fermentasi. Media yang berbeda tersebut akan
menghasilkan produk bioinsektisida yang berbeda, karena kandungan yang dimilikinya
berbeda. Oleh karena itu, perlu diadakan peninjauan terhadap kandungan dari media yang
digunakan.
Pertanian Indonesia semakin lama akan semakin berkembang dan tentunya akan
meningkatkan penggunaan bioinsektisida. Melalui praktikum ini diharapkan mahasiswa
Teknologi Industri Pertanian mengerti dan memahami cara memproduksi bioinsektisida
berikut cara menyiapkan bahan baku, proses fermentasi, pemanenan, pengukuran
rendemen, serta pengawasan mutu dan kualitas produk bioinsektisida. Diharapkan nantinya
mahasiswa Teknologi Industri Pertanian dapat menyelesaikan dan memberi solusi dari
kekurangan produksi bioinsektisida di Indonesia dengan mendirikan industri penghasil
bioinsektisida sebagai solusi dari persoalan agroindustri.

Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari laju pertumbuhan dan yield pada
produksi bioinsektisida baik dengan kultivasi cair maupun dengan kultivasi substrat padat.

METODOLOGI

Alat dan Bahan


Pada praktikum kali ini alat yang digunakan adalah autoklaf, inkubator goyang,
labu erlenmeyer, pH meter, spektrofotometer, petri dish, oven. Sementara bahan yang
digunakan adalah Nutrien broth, Bacillus thuringiensis aizawai, urea, MgSO4.7H2O,
FeSO4.7H2O, ZnsO4.7H2O, MnSO4.7H2O, CaCO3.

Metode

Tahap Propagasi

Nutrient Broth

Nutrient Broth steril

diinokulasi dengan satu lup Bacillus


thuringiensis aizawai

diinkubasi padainkubator goyang 150 rpm


selama 12 jam

Bacillus thuringiensis
aizawain dalam nutrient broth

Tahap Fermentasi
media fermentasi

diatur pH hingga 7,00 + 0,1

disterilisasi pada suhu 121


selama 15 menit

media fermentasi
steril

penambahan glukosa

media fermentasi +
glukosa

diinokulasi dengan hasil


tahap propagasi

diinkubasi pada suhu kamar

bioinsektisida

Pengambilan Sampel
pH
sampel

diukur dengan pH meter

nilai pH

OD 660 nm
sampel

diukur dengan spektrofotometer

nilai OD

Biomassa Kering
sampel

disentrifugasi 13.000
rpm selama 15 menit

endapan

diambil dan dikeringkan


pada oven suhu 50 oC
selama 24 jam

biomassa kering

Viable Spore Count (VSC)


sampel

dilakukan renjatan panas pada


suhu 70 oC selama 15 menit

dilakukan pengenceran
berseri

diinokulasi 0,1 ml ke dalam


Nutrient Agar

diinkubasi selama 24 - 48 jam

dihitung jumlah koloni yang


tumbuh

nilai vsc

Produksi Bioetanol dengan Teknik Kultivasi Substrat Padat


onggok + limbah cair

ditambah kapur hingga pH 6 8


diratakan dalam erlenmeyer
dan ditutup dengan
alumunium foil
diotoklaf pada suhu 120
selama 15 menit

media steril

diinokulasi dengan 10% media


propagasi

diinkubasi pada suhu ruang

dipanen pada jam 0, 24, 48,


72, 96

dikeringkan dalam oven suhu


50 oC

dihaluskan dengan alat


penumbuk

produk kering
bioinsektisida

HASIL PENGAMATAN
[Terlampir]

PEMBAHASAN
Bioinsektisida merupakan salah satu dari beberapa jenis pestisida yang dapat
digunakan untuk mengendalikan hama berupa serangga dan vektor pembawa penyakit,
karena insectisida microbial atau bioinsektisida sebagai racun biologis yang dihasilkan
oleh mikroorganisme yang dapat membunuh serangga (entomopatogen), sebagai
entomopatogen, bioinsektisida dapat dikembangkan dari bakteri, virus, fungi, dan protozoa
(Wahid 2010). Bioinsektisida juga merupakan insektisida generasi baru dan sangat
dianjurkan untuk digunakan dalam PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu ovisida dan larvisida. Ovisida khusus digunakan untuk
mengendalikan telur serangga, sedangkan larvisida khusus digunakan
untuk
mengendalikan larva serangga. Bioinsektisida memanfaatkan bakteri, cendawan,
jamur, nematoda untuk membunuh hama serangga (Djojosumarto 2008). Bioinsektisida
mengandung senyawa toksik yang berfungsi untuk membunuh atau menghambat
perkembangan spesies insekta yang dapat dihasilkan oleh tumbuhan maupun yang
menggunakan organisme hidup seperti virus, bakteri, dan jamur (Djojosumarto 2008).
Penggunaan bioinsektisida ditujukan untuk menggantikan insektisida kimia yang
banyak digunakan selama ini. Adapun keuntungan penggunaan bioinsektisida adalah tidak
menimbulkan kekebalan terhadap serangga, cukup aman karena tidak meninggalkan residu
pada lingkungan dan cukup aman bagi makhluk hidup seperti manusia, binatang, tanaman
serta serangga-serangga lainnya yang bukan merupakan serangga target. Penggunaan
insektisida kimia jelas tidak menguntungkan, karena harganya mahal dan dapat
membahayakan kesehatan manusia, dan penggunaan insektisida kimia yang kurang
bijaksana dapat menyebabkan resistensi serangga vektor pembawa penyakit yaitu serangga
dan hama yang menyerang tanaman (Wahid 2010).
Bioinsektisida adalah jenis pestisida yang bahan aktifnya merupakan
mikroorganisme seperti bakteri Bacillus thuringiensis, cendawan Beaveria sp,
Metarrhizium sp, dan virus S podotera lituranuclea polyhidrosis. Bacillus thuringiensis
(B.t) yang bersifat aman karena memiliki derajat spesifisitas yang tinggi dan relatif kecil
terjadinya resistensi (kekebalan) pada serangga hama. Bacillus thuringiensis aizawai
merupakan salah satu jenis bakteri yang banyak dimanfaatkan dalam produksi
bioinsektisida microbial (Djojosumarto 2008).
Mikroba yang digunakan dalam pembuatan bioinsektisida adalah Bacillus
thuringiensis (B.t ) yaitu bakteri bersel vegetatif berbentuk batang, gram positif, bersifat
aerob tapi umumnya anaerob fakultatif, mempunyai flagela dan membentuk spora. Koloni
Bacillus thuringiensis berbentuk bulatdengan tepian berkerut, memiliki diameter 5 10
milimeter, berwarna putih, elevasi timbul dan permukaan koloni kasa. Banyak strain dari
bakteri ini yang menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Bacillus thuringiensis
membentuk kristal protein (-endotoksin) bersamaan dengan terbentuknya spora. Bakteri
ini mempunyai endospora subterminal berbentuk oval dan selama sporulasi menghasilkan
satu kristal protein dalam setiap selnya (Djojosumarto 2008).

Berbagai isolate Bacillus thuringiensis dengan berbagai jenis kristal protein yang
dikandungnya telah teridentifikasi setelah diketahui besarnya potensi dari protein kristal
Bacillus thuringiensis sebagai agen pengendali serangga. Sampai saat ini telah
diidentifikasi kristal protein yang beracun terhadap larva dari berbagai ordo serangga yang
menjadi hama pada tanaman pangandan hortikultura. Kebanyakan dari kristal protein
tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai target yang spesifik sehingga tidak
mematikan serangga bukan sasaran dan mudah terurai sehingga tidak menumpuk dan
mencemari lingkungan.
B. thuringiensis adalah bakteri yang sudah banyak digunakan dalam pembuatan
bioinsektisida dengan menghasilkan kristal protein yang bersifat membunuh serangga
(insektisidal) sewaktu mengalami proses sporulasinya (Hofte dan Whiteley, 1989). Kristal
protein yang bersifat insektisidal ini sering disebut dengan -endotoksin. Kristal ini
sebenarnya hanya merupakan pro-toksin yang jika larut dalam usus serangga akan berubah
menjadi poli-peptida yang lebih pendek (27-149 kd) serta mempunyai sifat insektisidal.
Pada umumnya kristal Bt di alam bersifat protoksin, karena adanya aktivitas proteolisis
dalam sistem pencernaan serangga dapat mengubah Bt-protoksin menjadi polipeptida yang
lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang telah aktif berinteraksi dengan sel-sel
epithelium di midgut serangga. Toksin Bt ini menyebabkan terbentuknya pori-pori (lubang
yang sangat kecil) di sel membran di saluran pencernaan dan mengganggu keseimbangan
osmotik dari sel-sel tersebut. Karena keseimbangan osmotik terganggu, sel menjadi bengkak dan pecah dan menyebabkan matinya serangga (Hofte dan Whiteley, 1989).
Kendala dalam produksi bioinsektisida di Indonesia adalah bahan baku fermentasi
yang masih impor. Namun, proses produksi bioinsektisida sendiri masih dipengaruhi
beberapa faktor lain. Menurut Gumbira Sa'id (1987), faktor lingkungan yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan sel dan pembentukan produk adalah suhu dan pH awal media. Nilai
pH mempengaruhi fungsi membran/permeabilitas sel, sintesis enzim, dan komponen sel
lainnya. Sebagai contoh pH dapat menggumpalkan protein pada tirik isoeleklrik. Morris et.
al. (1996) mengatakan bahwa kondisi kultur dalam media kultivasi berpengaruh terhadap
pembentukan spora dan kristal protein. Selain itu, nilai pH awal media yang rendah akan
menyebabkan produksi kristal protein yang rendah, sedangkan pH yang tinggi
menghasilkan bobot kering biomassa yang tinggi.
Kondisi kultivasi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan sel adalah suhu. Di atas
suhu optimum untuk pertumbuhan, laju pertumbuhan akan menurun. Hal tersebut
disebabkan oleh meningkatnya laju kematian akibat terjadinya denaturasi protein yang
berakhir dengan terjadi lisis termal pada sel. Sebaliknya, dibawah suhu minimum akan
terjadi penggumpalan membran yang mengganggu proses transport substrat sehingga
proses pertumbuhan terganggu. Suhu optimum akan memberikan kondisi terbaik untuk
aktivitas enzim yang terlibat dalam metabolisme sel. Sikdar et. al. (1991) menyatakan
bahwa dalam kultivasi bioinsektisida oleh Bacillus thuringiensis suhu tidak berhubungan
secara langsung denga pertumbuhan sel dan produksi kristal protein. Di lain pihak, hasil
penelitian Schnepf et. al. (1998) menunjukan bahwa struktur dan susunan asam-asam
amino di dalam toksin berpengaruh terhadap toksisitas bioinsektisida. Keberhasilan
produksi bioinsektisida dipengaruhi oleh terbentuknya kristal protein selama proses
sporulasi. Berdasarkan fenomena tersebut, pH dan suhu akan memberikan pengaruh yang
nyata karena produknya adalah protein dan spora.
Parameter yang diukur untuk menentukan efisiensi dan produktivitas fermentasi
bioinsektisida mengikuti prosedur standar dalam rekayasa biokimia/rekayasa bioproses

yang meliputi pengukuran dan penghitungan jumlah sel dengan pengukuran total sel (N)
(Benoit et al. 1990), jumlah spora hidup yang menggambarkan jumlah produk kristal
protein toksin yang dihasilkan (P), dan jumlah substrat yang dikonsumsi (S). Data tersebut
digunakan untuk menghitung laju pertumbuhan spesifik maksimum (maks), efisiensi
penggunaan substrat, rendemen substrat terhadap jumlah sel (Yn/s) dan terhadap produk
(kristal protein atau spora) yang dihasilkan (Yp/s), serta rendemen antara produk terhadap
jumlah sel (Yp/n).
Selain itu, penelitian skala laboratorium telah mendapatkan nisbah karbon dan
nitrogen dengan media onggok tapioka dan urea optimum sebesar 7:1, pH dan suhu sebesar
6,90 0,10 dan 26,35 1,50 C serta laju agitasi dan laju aerasi optimum, yaitu 200 rpm
dan 1 wm (Rahayuningsih et al. 2005).
pH larutan merupakan minus logaritma konsentrasi ion hidrogen yang ditetapkan
dengan metode pengukuran secara potensiometri. Pengukuran PH dapat dilakukan dengan
2 cara yaitu pH meter dan kertas pH. Untuk pengukuran yang indikator pH merupakan
indikator yang sangat penting lebih baik menggunakan pH meter karena hasilnya lebih
detail daripada kertas pH,Sehingga mengurangi risiko kesalahan. Prinsip cara uji derajat
keasaman (pH) dengan menggunakan alat pH meter adalah sebuah Metode pengukuran pH
berdasarkan pengukuran aktifitas ion hidrogen secara potensiometri/elektrometri dengan
menggunakan pH meter (Waluyo 2008).
Menurut Gumbira (1987) optical density adalah suatu unit yang sebanding dengan
persen cahaya yang diteruskan (% T). Pada metode ini digunakan alat colorimeter atau
spektrofotometer. Alat ini akan mendeteksi jumlah sinar yang diserap dan diteruskan oleh
suatu suspensi. Alat ini terdiri dari sumber cahaya, tempat untuk meletakkan sampel, dan
photoreseptor untuk mengukur jumlah cahaya yang diteruskan. Nilai OD yang dihasilkan
tidak dapat langsung memberikan informasi bagi kita mengenai jumlah sel yang terdapat
dalam suspensi. Nilai OD akan diubah menjadi jumlah sel ataumassa sel menggunakan
kurva kalibrasi, yang dibuat dengan cara menghubungkan nilai OD terhadap beberapa
parameter yang menggambarkan populasi mikroba seperti total viable count. Bakteri
menyerap cahaya sebanding dengan volume total sel (ditentukan oleh ukuran dan
jumlah). Ketika mikroba bertambah jumlahnya atau semakin besar ukurannya dalam
biakan cair, terjadi peningkatan kekeruhan dalam biakan. Kekeruhan dapat disebut optical
density (absorbsi cahaya, biasanya diukur pada panjang gelombang 520 nm 700 nm.
Sentrifus merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan organel berdasarkan
massa jenisnya melalui proses pengendapan. Alat ini digunakan untuk menghitung atau
mendapatkan biomassa dari mikroorganisme.Dalam prosesnya, sentrifus menggunakan
prinsip rotasi atau perputaran tabung yang berisi larutan agar dapat dipisahkan berdasarkan
massa jenisnya. Larutan akan terbagi menjadi dua fase yaitu supernatant yang berupa
cairan dan pellet atau organel yang mengendap. Peralatan sentrifus terdiri dari sebuah rotor
atau tempat untuk meletakan larutan yang akan dipisahkan. Rotor ini nantinya akan
berputar dengan cepat yang akan mengakibatkan larutan akan terpisah menjadi dua fase.
Semakin cepat perputaran yang dilakukan, semakin banyak pula organel sel yang dapat
diendapkan begitu juga sebaliknya (Waluyo 2008).
VSC merupakan analisa untuk mengetahui jumlah spora hidup yang terkandung
dalam serbuk campuran spora kristal. VSC ditentukan dengan mengikuti metode
Mummigatti dan Raghunathan (1990), yaitu dengan melakukan sederetan pengen-ceran
dan dicawankan pada medium nutrient agar.

Pada praktikum kali ini, kami melakukan uji pH menggunakan pH meter baik pada
media kultivasi padat ataupun cair. Hasil pembacaan pH yang didapatkan adalah 7 untuk
media kultivasi cair kelompok 1, 2, dan 4. Sedangkan pada kelompok 3, 5, dan 6 hasil
pembacaan pH pada media kultivasi cair adalah 8. Untuk media kultivasi padat, pH yang
didapatkan kelompok 1 dan 6 adalah 6. Sementara pH 6.5 bagi kelompok 2 dan 3 serta pH
8 bagi kelompok 4 dan 5. Menurut Morris et. al. (1996), pH merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi keberhasilan produk bioinsektisida. Hal ini dikarenakan Bacillus
thuringiensis dapat tumbuh pada kisaran pH 5.5 8.5 dan tumbuh optimum pada pH 6.5
7.5. berdasarkan literatur tersebut, maka medium yang kami sediakan dapat digunakan
dengan baik karena memiliki pH dalam kisaran tersebut.
Selanjutnya, uji yang dilakukan pada kultivasi cair adalah optical density (OD)
dengan panjang gelombang 660 nm. Uji ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan sel.
Hasil yang didapatkan secara berurutan mulai dari jam ke-0 sampai jam ke-96 adalah 0,0.856, -0.54, 0.87, -0.174, dan -0.2 untuk kultivasi cair. Data yang didapatkan ini dapat
terbilang data janggal karena terdapat nilai negatif. Pada pengujian OD, nilai negatif hanya
didapatkan jika sampel lebih jernih dibandingkan blanko. Sementara pada sampel yang
diujikan seharusnya warnanya lebuh keruh karena mengandung sel bioinsektisida. Hal ini
dapat terjadi karena adanya kesalahan praktikan dalam menentukan nilai OD. Menurut
Gumbira (1987), seharusnya nilai OD tertinggi pada jam ke-30. Berdasarkan praktikum
yang dilakukan nilai OD pada jam ke-48 adalah nilai OD paling tinggi. Dapat disimpulkan
hasil yang didapatkan telah sesuai literatur.
Kemudian dilakukan uji biomassa. Pada kultivasi cair hanya sampel 1 dari
kelompok 4 yang hasilnya tidak 0, yaitu 6 gr/L. Sementara pada sampel 2, semua sampel
nilai yang didapatkan adalah 0. Untuk sampel padat, nilai biomassa berurut dari kelompok
1 sampai 6 adalah 56.58, 17.09, 16.54, 25.91, 49.30, dan 15.02. Data yang didapatkan tidak
sama dengan literatur karena cenderung naik turun. Menurut Gumbira (1987), semakin
lama produk terfermentasi maka akan terbentuk hasil biomassa yang semakin banyak pula
hingga mulai memasuki tahap stasioner, dimana pertumbuhan sel mulai statis. Kesalahan
data yang didapatkan dapat dikarenakan kesalah praktikan dalam melakukan uji seperti
lupa menimbang leher angsa ataupun peralatan gelas lainnya sehingga berat dari leher
angsa termasuk dalam nilai akhir biomassa. Berat biomassa yang diperoleh berasal dari
kultivasi padat. Adapun nilai dari kultivasi cair tidak diperoleh karena tidak dilakukan
pengujian.
Terakhir dilakukan pengujian untuk mencari nilai Viable Spore Count (VSC). Uji
ini dilakukan untuk menganalisa jumlah spora hidup yang terkandung dalam campuran
spora kristal. Uji ini dilakukan pada empat sampel pengenceran yaitu 10 -4, 10-5, 10-6, dan
10-7. Pengujian hanya dilakukan pada waktu ke-24, ke-48, dan ke-72, karena pada waktu
ke-0 spora belum tumbuh dan waktu ke-96 pertumbuhan spora telah menurun. Pada waktu
ke-24, pada pengenceran 10-4 didapatkan koloni sebanyak 160, pada pengenceran 10 -5
didapatkan koloni sebanyak 33, pada pengenceran 10 -6 didapatkan koloni sebanyak 6, dan
pada pengenceran 10-7 didapatkan koloni sebanyak 0. Pada waktu ke-48, pada pengenceran
10-4 didapatkan koloni sebanyak 208, pada pengenceran 10-5 didapatkan koloni sebanyak
37, pada pengenceran 10-6 didapatkan koloni sebanyak 6, dan pada pengenceran 10 -7
didapatkan koloni sebanyak 1. Pada waktu ke-72, pada pengenceran 10 -4 didapatkan koloni
sebanyak 38, pada pengenceran 10-5 didapatkan koloni sebanyak 7, pada pengenceran 10 -6
didapatkan koloni sebanyak 0, dan pada pengenceran 10 -7 didapatkan koloni sebanyak 1.
Berdasarkan Mummigatti dan Raghunathan (1990), nilai tertinggi spora terjadi pada waktu

ke-30, dan berdasarkan praktikum yang dilakukan nilai spora tertinggi pada waktu ke-48,
tidak jauh berbeda dengan literatur.

PENUTUP

Simpulan
Bioinsektisida merupakan pestisida yang mebunuh dan menghambat organisme
pengganggu tanaman seperti virus, bakteri, dan jamur. Bioinsektisida bekerja spesifik
sehungga hanya akan menyerang serangga yang menjadi sasaran. Oleh karena it
bioinsektisida lebih aman dibandingkan insektisida kimia. Diharapkan penggunaan
bioinsektisida dapat mengurangi pemakaian insektisida kimia yang telah banyak
menimbulkan kerugian bagi lingkungan.
Praktikum kali ini melakukan beberapa uji paramater, pH, OD (optical density),
biomassa, dan VSC (Viable Spore Count). Uji pH dilakukan untuk melihat kesiapan media,
sementara uji OD, biomassa, dan VSC untuk melihat perkembangan sel. berdasarkan
praktikum yang dilakukan, uji pH telah sesuai dengan literatur karena pH media berada
dalam rentang 5.5 8.5. Sedangkan pada uji OD nilai yang didapatkan cenderung janggal
karena dalam rentang negatif, namun terdapat satu data yang sesuai dengan literatur karena
memiliki nilai positif dan paling tinggi dalam rentang waktu ke-30. Kemudian pada uji
biomassa, data yang didapatkan acak karena kegagalan dari pengujian. Terakhir pada VSC,
data yang didapatkan sesuai dengan literatur yaitu nilai koloni tertinggi pada kisaran waktu
ke-30.

Saran
Pengujian pH pada praktikum kali ini dilakukan pada setiap jam ke-24, ke-36, ke48, ke-72, dan ke-96 karena dari beberapa literatur yang didapatkan nilai pH dapat
mempengaruhi kondisi fermentasi.

DAFTAR PUSTAKA
Benoit TG, Wilson GR, Baugh CL. 1990. Fermentation during growth and sporulation of
Bacillus thuringiensis HD-1. Lett Appl Microbiol. 10: 15-18
Djojosumarto P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta (ID): Agromedia Pustaka.
Gumbira SE. 1987. Bioindustri. Jakarta (ID): Mediatama Sarana Perkasa.
Hofte H, Whiteley HR. 1989. Insecticidal crystal proteins of Bacillus thuringiensis.
Microbiol. Rev. 53: 42-255
Morris ON, Kanagaratnam P, Davies JS. 1996. Effect of culture condition spore crystal
yield and toxicity of Bacillus thuringiensis aizawai (HD 133). Pathol. 67: 129-136
Mummigati SG, Raghunathan. 1990. Influence of media composition on the production of
deltaendotoxin by Bacillus thuringiensis var israelensis. J. Invertebr. Pathol. 55 :
147-151
Rahayuningsih M, Syamsu K, Purnawati R, Yulianti F. 2005. Kajian Produksi
Bioinsektisida Bacillus thuringiensis israelensis untuk Pencegahan Wabah Demam
Berdarah. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Tahun I. Bogor (ID): Lembaga
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor
Schnepf E, Crickmore N, Van Rie J, Lereclus D, Baum J, Fietelson J, Zeigler DR, Dean
DH. 1998. Bacillus thuringiensis and its presticidal crystal proteins. Microbiology
and Molecular Biology Reviewers. 62: 775-806
Sikdar DP, Majumdar DK, Majumdar SK. 1991. Optimization of processor for production
of delta endotoxin by Bacillus thuringiensis israelensis in a 5 liters fermentor.
Biochemical Archieves. 9: 119-123
Wahid Abdul. 2010. Efikasi Bioinsektisida dan Kombinasinya terhadap serangan hama ulat
kantong Pagodiella spp. pada bibit mangrove Rhizophora spp. di persemaian. The
Efficacy of Some Bio-insecticides to Pagodiella spp. Bagworm Attacks on
Rhizophora spp. Seedling in Nursery. Jurnal Agroland.17 (2) : 162-168. ISSN :
0854 641X. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
Tadulako. Sulawesi Tengah
Waluyo L. 2008. Teknik dan Metode Dasar dalam Mikrobiologi. Malang(ID): Universitas
Muhammadiyah Malang Press