Anda di halaman 1dari 4

PLATE AND SCREW

Plate and screw adalah suatu alat untuk menstabilkan patah tulang panjang yang
menggunakan lempeng dan sekrup yang dipasang diluar tulang.
Pemasangan plate pada fraktur terbuka diketahui telah memperbaiki fraktur dengan
penyambungan kortek langsung tanpa pembentukan kalus. Osteosit langsung menyebrangi
gap antar fraktur.
Pemasangan screw banyak digunakan dalam fiksasi fraktur intraartikuler dan periartikuler
baik digunakan secara tunggal atau kombinasi bersamaan dengan pemasngan plate atau
external fixation device (Behrens, 1996)
Ada 4 desain utama:
a. Butter plates, biasa digunakan disekitar sendi untuk menyokong fraktur intraartikuler
b. Compression plates, digunakan pada tulang panjang dan pada operasi non union atau mal
union
c. Neutralization plates, digunakan pada fraktur yang mencakup fibula, radius, ulna, humerus
d. Bridges plates, manajemen fraktur artikular (Behrens, 1996).
Indikasi pemakaian plat and screw :
a. Fraktur yang tidak dapat direduksi kecuali dengan opersi
b. Fraktur yang tidak stabil secara bawaan dan cenderung mengalami pergeseran kembali
setelah reduksi (misalnya fraktur pertengahan batang pada lengan bawah dan fraktur
pergelangan yang bergeser
c. Fraktur yang penyatuannya kurang baik dan perlahan-lahan, terutama fraktur pada leher
femur
d. Fraktur patologik, dimana penyakit tulang dapat mencegah penyembuhannya.
Kebanyakan komplikasi yang terjadi pada pemasangan plat and screw adalah akibat dari
teknik yang buruk dan proses pembedahan yang buruk.
a. Infeksi, infeksi iatrogenic sekarang merpakan penyebab osteitis kronis yang paling sering
ditemukan. Logam bukan merupakan predisposisi untuk infeksi melainkan pembedahan
yang merupakan presdisposisi
b. Non-union, jika tulang telah terikat kuat dengan ujung-ujung yang terpisah, fraktur
mungkin gagal menyatu. Ini lebih sering ditemukan pada kaki atau lengan bawah
c. Kegagalan implant, logam dapat keropos dan sbelum terjadi penyatuan tulang. Karena itu,
tekanan harus dihindari dan pasien dengan tibia yang diberi plat harus berjalan dengan
penopang dan harus menahan beban minimal saja selam beberapa bulan pertama. Nyeri
pada tempat fraktur merupakan tanda bahaya dan harus diperiksa
d. Fraktur ulang, tidak boleh melepas implant logam terlalu cepat atau tulang akan patah lagi
(Apley, 1995)
Modalitas yang digunakan untuk memeberikan terapi pada kondisi post operasi fraktur cruris
1/3 distal adalah penggunaan internal fiksasi berupa plate and screw dan menggunakan terapi
latihan sebagai modalitas fisioterapinya.
13. Terapi Latihan

Terapi latihan adalah suatu usaha pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaanya
menggunakan latihan-latihan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif (Gardiner, 1964)
Adapun indikasi dan kontra indikasi terapi latihan sebagai berikut :
a. Indikasi terapi latihan
1) Keterbatasan LGS
2) Kontraktur otot
3) Spasme
4) Kelemahan otot
5) Sesak nafas
6) Nyeri dada
b. Kontra indikasi terapi latihan
1) Nyeri hebat
2) Hipertensi
Tujuan terapi latihan antara lain :
a. Memajukan aktivitas penderita dimana dan bilamana perlu
b. Memperbaiki otot-otot yang tidak efisien dan memperoleh kembali jarak gerak sendi yang
normal tanpa memperlambat usaha mencapai gerakkan yang berfungsi dan efisien
c. Memajukan kemampuan penderita yang telah ada untuk dapat melakukan gerakan-gerakan
yang berfungsi serta bertujuan, sehingga dapat mengembalikan ke aktivitas normal.
Adapun tujuan dari terapi latihan adalah mencegah gangguan fungsi, mengembangkan,
memperbaiki, mengembalikan dan memelihara :
a. Kekuatan otot
b. Daya tahan dan kebugaran kardiovaskuler
c. Mobility dan flexibility
d. Stabilisatas
e. Rileksasi
f. Koordinasi, keseimbangan dan kemampuan fungsional.
Tehnik terapi latihan dan gerakan yang dipergunakan dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Active Movement
1) Free Active Movement

Free active movement adalah bentuk latihan dimana gerakan yang terjadi akibat
kontraksi otot yang bersangkutan tanpa pengaruh dari luar.
2) Assisted Active Movement
Assisted active movement adalah latihan dimana gerakan yang terjadi akibat kontraksi
otot yang bersangkutan dan mendapat bantuan dari luar, karena otot utama membutuhkan
bantuan untuk melengkapi gerakan. (Kisner, 1996).
b. Passive Movement
Bentuk passive movement yang dipakai dalam terapi post operasi fraktur cruris 1/3 distal
adalah relaxed passive movement yaitu gerakkan dilakukan dengan LGS penuh atau
sesuai dengan batas nyeri yang dirasakan penderita. Efek dan kegunaan relaxed passive
movement :
1) Mencegah proses perlengketan jaringan untuk memelihara kebebasan gerak sendi
2) Mendidik kembali pola gerakan dengan stimulasi pada propiosepsi
3) Memelihara ekstensibilitas otot dan mencegah pemendekan otot
4) Memperbaiki atau memperlancar sirkulasi peredaran darah
Apabila nyeri yang dirasakan tidak terlalu berat dapat dilakukan forced passive movement.
Efek dan kegunaan forced passive movement adalah :
1) Membebaskan perlenglengketan jaringan
2) Mencegah pemendekan struktur sekitar sendi
c. Hold Relax
Adalah suatu tehnik yang menggunakan kontraksi isometric yang optimal dari
kelompok otot antagonis yang memendek, yang dilanjutkan dengan rileksasi otot
tersebut. Cara pemberian hold relax :
1) Gerakan pasif atau aktif pada pola gerak agonis hingga batas keterbatasan gerak atau LGS
dimana nyeri mulai timbul
2) Terapis memberi tahanan meningkat secara perlahan pada pola antagonisnya, pasien mesti
melawan tahanan tersebut tanpa disertai adanya gerakan (dengan menggunakan aba-aba)
3) Diikuti rilaksasi dari antagonis tersebut, tunggu hingga benar-benar rileks
4) Gerakan secara aktif atau pasif kearah pola agonis
5) Ulangi prosedur diatas
6) Penguatan pola gerak agonis dengan cara menambah LGSnya
7) Selama fase rilaksasi, manual kontek tetap dipertahankan untuk mendeteksi bahwa pasien
mampu benar-benar rileks.
Tujauan pemberian hold relax :
1) Perbaikan rileksasi pola antagonis
2) Perbaikan mobilisasi
3) Penurunan nyeri
C. KERANGKA BERFIKIR
Pada pasien dengan kondisi post operasi fraktur cruris mempunyai problematic fisioterapi
sebagai berikut : terdapat nyeri didaerah incisi akibat pembedahan, oedem akibat
peredaran darah darah yang tidak normal di area ankle, spasme otot pada daerah tungkai
bawah dan kaki, penurunan kekuatan otot dan keterbatasan lingkup gerak sendi ankle.

Problematik tersebut merupakan keluhan yang timbul pada suatu kondisi setelah
pembedahan.
Modalitas yang dapat digunakan dalam mengatasi probematik diatas sangat beragam, kerena
keterbatasan modalitas yang digunakan dalam terapi di bangsal, maka penulis mengambil
modalitas terapi latihan berupa latihan gerak aktif, gerak pasif isometric melawan tahan dan
hold relax.
Terapi menggunakan latihan gerak aktif yaitu bentuk latihan dimana gerakan yang terjadi
akibat kontraksi otot bersangkutan tanpa pengaruh dari luar. Gerakan dilakukan dalam LGS
penuh (full ROM) dan meliputi satu atau banyak sendi. Tujuan pemberian latihan gerak aktif
adalah untuk meningkatkan kekuatan otot karena otot bekerja secara maksimal untuk
mendapatkan lingkup gerak sendi yang maksimal.
Latihan gerak pasif adalah bentuk latihan dimana gerakan yang terjadi akibat kontraksi otot
bersangkutan yang mendapat pengaruh dari luar (dari terapis). Dilakukan dengan LGS penuh
sampai batas gerak sendi. Efek dan kegunaan dari latihan gerak pasif adalah membebaskan
perlengketan jaringan dan mencegah pemendekan struktur sekitar sendi sehingga latihan
gerak pasif mampu meningkatkan lingkup gerak sendi.
Hold relax adalah suatu tehnik yang menggunakan kontraksi isometric yang optimal
dari kelompok otot antagonis yang memendek, yang dilanjutkan dengan rileksasi otot
tersebut. Tujuan dari pemberian hold relax mampu mengurangi rasa nyeri.