Anda di halaman 1dari 5

Marhaban Ya Ramadhan

Sahabatku,
Bulan kecintaan Allah, yakni Bulan Ramadhan sudah dimulai. Sudah selayaknya kita
sebagai Hamba Allah menyambut Bulan Ramadhan dengan penuh suka cita.
Amalan kita akan diganjar 10 kali lipat pada bulan ini. Bukankah itu suatu hal yang
sangat menggembirakan?
Sahabatku, resolusi terbaik justru kita bangun saat bulan Ramadhan. Saat itu pintu
surga terbuka lebar, pintu neraka terkunci rapat. Bahkan setan-setanpun terborgol
ketat dan malaikatpun berhamburan di muka bumi. Tiada
Oleh karena itu Sahabatku, mari kita sambut Bulan Ramadhan ini dengan sajiansajian amal ibadah terbaik kita. Kita berlomba-lomba dalam kebaikan untuk meraih
derajat taqwa yang telah Allah janjikan.

Makna Ketekunan
Sahabatku,
Menjadi orang tekun berbeda dengan menjadi orang rajin. Orang yang rajin
biasanya melakukan sesuatu pada waktu-waktu tertentu saja. Contoh sederhanya
adalah, rajin mengaji saat Bulan Ramadhan saja atau rajin belajar saat ujian saja.
Jika sifat rajin tersebut kita teruskan maka akan berkembang menjadi sebuah
ketekunan.
Ketekunan identik dengan keistiqomahan. Misalnya ketika Ramadhan telah usai dia
tetap mengaji selepas Maghrib atau dia tetap belajar walaupun sedang hari libur
atau tidak ujian. Itulah makna ketekunan.
Oleh karena itu sahabatku, mari kita bersegera melatih diri menjadi pribadi yang
tekun khususnya dalam amal ibadah. Kita jadikan Bulan Ramadhan sebagai sarana
pengembangan pribadi yang lebih tekun.

Pemimpin yang Sederhana


Sahabatku,
Indonesia di era ini sedang memimpikan seorang pemimpin yang sederhana. Kita
berfikir bahwa pemimpin yang sederhana tidak akan melakukan tindakan tidak
terpuji, seperti korupsi.
Apa maksud dari pemimpin yang sederhana itu?

Sederhana bisa kita tafsirkan sebagai ketidakberlebihan. Pemimpin yang sederhana


tidak hanya yang sederhana penampilannya. Namun jauh dibalik itu, dia sederhana
dalam perkataanya, pikiran, dan tindakannya. Pemimpin yang sederhana tidak
pernah muluk-muluk atau berlebihan dalam berucap. Dia berkata jujur dan apa
adanya. Dia berfikir dan bertindak seperlunya.
Pada dasarnya kita semua adalah seorang pemimpin. Pemimpin diri kita sendiri,
pemimpin keluarga, pemimpin organisasi, dan lain sebagainya. Mari kita bersama
belajar menjadi seorang pemimpin yang sederhana. Sederhana perkataan, pikiran,
dan perbuatan. Dengan langkah kecil ini Insya Allah kita bisa melahirkan pemimpinpemimpin sederhana yang menggaung harum namanya.

Mengutamakan Kepentingan Rakyat


Sahabatku,
Menjadi personal yang menempatkan kepentingan rakyat diatas kepentingan
pribadi merupakan perbuatan yang agung mulianya. Sifat mengutamakan
kepentingakn rakyat sudah sewajarnya harus dipunyai oleh setiap pemimpin.
Sifat mengutamakan kepentingan rakyat berarti kita berfikir dan bertindak untuk
mengkayakan rakyat bukan mengkayakan kelompok tertentu.
Oleh karena itu Sahabat, marilah kita belajar untuk menjadi pribadi yang
mengkayakan. Insya Allah jika kita hidup untuk mengkayakan, maka Insya Allah kita
akan dikayakan oleh Allah.

Makna Pengorbanan
Sahabatku yang berbahagia,
Hidup kita tak pernah lepas dari kata berkorban. Bentuk pengorbanan yang kerap
kita lakukan adalah berkorban waktu, tenaga, pikiran, perbuatan, bahkan materi.
Kita ikhlas bangun dipagi buta mencari nafkah untuk keluarga adalah salah satunya.
Berkorban maksudnya kita ikhlas melakukan atau memberikan sesuatu demi orang
lain.
Pada dasarnya menyejahterakan orang lain adalah tugas Allah. Namun jika kita
berkorban demi kesejahteraan atau kebahagiaan pihak lain, maka kita akan
disejahterakan dan dibahagiakan oleh Allah dan tentu saja dengan cara-cara yang
mengagumkan.

Betapa indah jika kita hidup dibawah naungan payung kesejahteraan dan
kebahagian Allah. Rezeki dicukupkan. Sakit dijarangkan. Anak-anak dicerdaskan.
Oleh karea itu Sahabatku, mari kita bersama ikhlas berkorban untuk orang lain yang
membutuhkan. Kita tidak pernah tahu bahwa satu tindakan kecil bisa bermakna luar
biasa bagi orang lain. Dan kita juga tidak tahu bahwa satu tindakan kecil ternyata
mengandung pahala yang luar biasa.
Kewajiban Menghormati Tamu
Sahabatku yang dimuliakan oleh Allah,
Menghormati tamu adalah salah satu perintah Allah yang wajib kita laksanankan.
Bahkan hal tersebut menjadi sala satu ciri orang beriman.
Tamu hendaknya kita sambut dengan ramah dan bila memungkinkan kita beri
suguhan. Apalagi jika kita melakukannya dengan ikhlas mencari ridha Allah, maka
Insya Allah akan berbuah pahala.
Hadirnya tamu membawa banyak manfaat oleh karena itu kita wajib
menghormatinya. Dengan hadirnya tamu menjadi salah satu kesempatan untuk
membangun atau mempererat tali persaudaraan. Apalagi jika tamu tersebut adalah
orang shaleh, tentu menjadi kesempatan bagi kita untuk bersaudara dengan orangorang shaleh.
Maka dari itu Sahabatku, hormatilah tamu kita. Karena kita tidak pernah tau rezeki
apa yang dibawa oleh tamu kita kepada kita.

Memanfaatkan Waktu dan Kesempatan dengan Baik


Sahabatku,
Di Bulan Ramdhan yang mulia ini, alangkah baiknya jika kita mulai merenungi
waktu. Merenungi waktu berarti meninjau kembali untuk apa saja waktu kita
habiskan. Puji syukur apabila waktu selalu kita isi dengan hal-hal yang membangun.
Namun apabila sebaliknya, maka baiknya kita mulai berbenah.
Salah satu hukum yang kita jarang sadari adalah, didalam waktu yang baik lahirlah
kesempatan-kesempatan baik. Waktu yang baik adalah waktu yang habis karena
perbuatan baik. Tidak akan datang pada kita kesempatan baik apabila kita tak bisa
menggunakan dan memanfaatkan waktu dengan baik.
Sahabatku, mulailah manfaatkanlah waktu sebaik mungkin niscaya kesempatankesempatan baik akan datang kepada kita.

Kewajiban Membantu Anak Tidak Mampu dan orang Miskin


Sahabatku yang mulia,
Allah, Dia lah yang mengatur rezeki setiap hamba Nya. Namun betapa bahagianya,
jika Allah memilih kita untuk menjadi jalan rezeki bagi orang-orang yang
membutuhkan.
Membantu saudara yang membutuhkan, tidak terbantah lagi, sudah menjadi salah
satu kewajiban bagi kita yang dilebihkan rizkinya. Apalagi jika yang membutuhkan
adalah anak kurang mampu atau orang miskin, terlebih yang kita kenal.
Rizki yang dilebihkan, bukanlah alat untuk berfoya atau berbangga ria. Allah
melebihkan rizki berarti kita adalah salah satu orang pilihan Allah untuk menjadi
jalur rizki bagi orang lain dengan cara membantu mereka. Jika kita dilebihkan dalam
materi, sedekahilah mereka. Jika dilebihkan dalam ilmu, ajarkanlah.
Jika ada saudara atau tetangga, terlebih anak kurang mampu dan orang miskin,
hidupnya terlunta karena kita tak mau membantunya, hal tersebut bisa jadi diganjar
dosa oleh Allah.
Oleh karena itu Sahabatku, dibulan mulia ini, mari kita upayakan membantu dan
bersedekah, niscaya kita akan selalu dicukupkan.

Meninggalkan Sikap Berkhianat


Sahabatku,
Salah satu ciri orang munafik adalah saat berkata dia berkhianat. Dan Allah tentu
amat tidak senang dengan orang yang munafik. Maka dari itu, marilah kita
merenungi segala tindakan buruk yang mungkin pernah kita perbuat. Bisa jadi kita
pernah berkhianat kepada saudara kita bahkan hal kecil sekalipun.
Berkhianat tidak akan menguntungkan kita. Justru orang lain yang dirugikan dan
bisa menjadi celah lahirnya dosa baru untuk kita.
Puji syukur kita dibekali umur panjang sehingga bisa kembali menikmati Bulan
Ramadhan ini. Marilah dibulan ramadhan ini kita berhijrah dari pribadi yang
senang berkhianat, menjadi pribadi yang lebih amanah. Karena saat ada setitikpun
sifat khianat pada diri kita, maka lepaslah sifat amanah dari diri kita.

Mengemban Amanah
Sahabat saya yang damai hatinya,

Salah satu tugas berat yang sedang kita lalui adalah mengemban amanah.
Mengemban amanah berarti menjalankan amanah. Kita dipredikat amanah jika bisa
mengembannya dengan baik. Setiap dari kita sedang mengemban amanah. Seperti
amanah diberikan pangkat, harta, maupun nyawa.
Amanah yang sedang kita jalankan tidak bersifat abadi. Amanah bisa mengangkat
derajat pribadi kita dihadapan Allah dan manusia, atau justru membuat kita
bertekuk lutut malu tak berdaya.
Mengemban amanah dengn baik harus menjadi prinsip setiap insan. Tanpa adanya
itu, pupus sudah kualitas diri manusia dihadapan Allah. Hilang pula kepercayaan
manusia kepada kita.
Maka dari itu Sahabatku, berhati-hatilah ketika menerima amanah dan berhatihatilah ketika mengemban nya. Mengemban amanah bukan suatu kebanggaan
untuk disombongkan, namun ujian untuk diselesaikan.