Anda di halaman 1dari 11

Tugas

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Definisi pencabutan gigi dan komplikasinya?


Tehnik anestesi pada pencabutan gigi dan bahannya?
Penanganan proses pencabutan gigi pada pasien hipertensi dan diabetes mellitus?
Proses karies pada gigi?
Anatomi gigi?
Apa yang dimaksud dengan DHE?
Penanganan pada stomatitis rekuren dan stomatitis traumatic?

Jawaban
1) Ekstraksi gigi adalah suatu tindakan bedah pencabutan gigi dari soket gigi dengan alatalat ekstraksi (forceps). Kesatuan dari jaringan lunak dan jaringan keras gigi dalam
cavum oris dapat mengalami kerusakan yang menyebabkan adanya jalur terbuka untuk
terjadinya infeksi yang menyebabkan komplikasi dalam penyembuhan dari luka
ekstraksi. Oleh karena itu, tindakan aseptik merupakan aturan perintah dalam bedah
mulut.
Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, di mana
pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Pencabutan gigi juga
merupakan operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari
rongga mulut, akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi, dan pencabutan selanjutnya
dihubungkan/disatukan oleh gerakan lidah dan rahang. Definisi pencabutan gigi yang
ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma
minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat sembuh
dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa mendatang.7
Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sangat komplek yang melibatkan
struktur tulang, jaringan lunak dalam rongga mulut serta keseluruhan bagian tubuh. Pada
tindakan pencabutan gigi perlu dilaksanakan prinsip-prinsip keadaan suci hama (asepsis)
dan prinsip-prinsip pembedahan (surgery). Untuk pencabutan lebih dari satu gigi secara
bersamaan tergantung pada keadaan umum penderita serta keadaan infeksi yang ada
ataupun yang mungkin akan terjadi.
Komplikasi perioperatif
1

a. Perdarahan
Perdarahan adalah komplikasi umum di bedah mulut, dan mungkin terjadi
selama pencabutan gigi yang sederhana atau selama prosedur bedah lainnya. Dalam
semua kasus, perdarahan terjadi karena trauma pada pembuluh darah dan adanya
masalah pada system pembekuan darah.
Untuk menanggulangi terjadinya pendarahan lebih lanjut, cara yang dapat
dilakukan antara lain : dengan kompresi, ligase, suturing, electrocoagulasi, dan
menggunakan berbagai macam agen pembekuan darah
b. Fraktur Mahkota dan goyangnya gigi tetangga.
Fraktur mahkota merupakan komplikasi umum saat melakukan ekstrkasi
dimana gigi yang di ekstraksi mempunyai karies atau daerah tambalan yang luas.
Dan kegoyangan gigi tetangga biasanya terjadi karena tenaga yang digunakan saat
pencabutan sangat besar dan bias juga terjadi karena gigi tersebut digunakan untuk
tumpuan saat pencabutan.
c. Cedera pada daerah jaringan lunak.
Cedera pada daerah jaringan lunak merupakan komplikasi umum pada saat
ekstraksi gigi dan biasanya disebabkan oleh kesalahan yang tidak disengaja oleh
operator contohnya elevator yang terpeleset dan mengenai jaringan lunak. Daerah
yang paling sering terluka adalah pipi, dasar mulut, palatum, dan daerah retromolar.
d. Fraktur Procesus alveolaris
Komplikasi ini dapat terjadi jika gerakan ekstraksi biasanya mendadak dan
ceroboh, dapat terjadi juga apabila terdapat gigi yang ankilosis pada tulang alveolar,
sehingga menyebabkan bagian lingual, palatal, labial atau bukal ikut tercabut
bersama-sama dengan gigi.
e. Fraktur Mandibula
Komplikasi ini jarang terjadi. Biasanya terjadi saat pecabutan molar tiga
bawah dengan menggunakan elevator dan menggunakan kekuatan yang besar.
f. Patahnya instrument pada jaringan
Patahnya suatu instrument di dalam jaringan bias terjadi karena kesalahan
yang tidak disengaja oleh operator. Instrument yang patah bisanya seperti jarum
anastesi dan bur tualang serta blade bedah.
g. Dislokasi Temporomandibular Joint
Biasanya terjadi pada proses bedah yang lama dan dengan pasien yang
mempunyai fossa yang dangkal pada tulang temporal, articular tuberkulum anterior
yang rendah, dan mempunyai kepala kondilus yang bulat.

Postoperative Komplications
a. Trismus
Trismus biasanya terjadi pada kasus ekstraksi molar ketiga rahang bawah,
dan ditandai oleh pembatasan membuka mulut karena tegangnya otot-otot
pengunyahan. Tegangnya otot biasanya disebabkan akibat dari cedera pada otot
pterygoideus medial disebabkan oleh jarum yang suntikan berulang-ulang selama
blok saraf alveolar (blok Mandibula).
b. Hematoma
Ini merupakan komplikasi pasca operasi yang cukup sering terjadi karena
perdarahan berkepanjangan dikarenakan langkah-langkah yang benar untuk kontrol
perdarahan tidak lakukan. Dalam kasus ini darah terakumulasi didalam jaringan dan
tidak terdapat jalan keluar karena luka telah tertutup atau jahitan yang sangat kuat.
c. Edema
Edema merupakan salah satu komplikasi pasca pencabutan gigi yang terjadi.
Edema merupakan kelanjutan normal dari setiap tindakan pencabutan dan
pembedahan gigi, dan merupakan reaksi normal dari jaringan terhadap cedera.
Besarnya edema yang terjadi bervariasi setiap individu dan tidak selalu sama,
yaitu trauma yang besarnya sama, tidak selalu mengakibatkan derajat edema yang
sama baik pada tiap-tiap pasien. Pembengkakan yang terjadi biasanya dapat
menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien
Edema lebih sering terjadi pada gigi yang dicabut dengan menggunakan open
view method daripada dengan yang menggunakan forceps technique. Penyebab
umum terjadinya edema adalah laserasi jaringan lunak, retraksi flap yang dilakukan
dengan tidak hati- hati, dan adanya iritasi dari fragmen-fragmen tulang. Edema
merupakan suatu respon normal terhadap cedera. Edema merupakan salah satu tanda
terjadinya inflamasi.
d. Dry Socket
2) Teknik Anestesi Blok Rahang Bawah
Anestesi Blok Fishers
Teknik anestesi blok rahang bawah yang paling sering digunakan adalah blok
saraf alveolaris inferior atau lebih dikenal dengan blok Fishers. Teknik blok anestesi
blok rahang bawah ini sangat berguna untuk anestesi satu regio pada rahang bawah.
Pada teknik anestesi blok Fishers ini, saraf yang teranestesi meliputi N.
Alveolaris inferior, cabang dari N. V3, N. Insisivus, N. Mentalis, dan N. Lingualis.

Area yang teranestesi dengan teknik blok Fishers adalah geligi mandibular
sampai midline, corpus mandibula, ramus inferior, mukoperiosteum bukal, mukus
membrane anterior pada mandibula gigi molar pertama, dua pertiga anterior lidah dan
dasar mulut, serta jaringan lunak lingual dan periosteum.
Daerah yang teranestesi pada blok Fishers
Indikasi teknik anestesi blok Fishers adalah untuk prosedur pada gigi rahang
bawah multiple pada satu region, anestesi jaringan lunak buccal, anestesi jaringan lunak
lingual. Sedangkan kontraindikasi blok Fishers adalah adanya infeksi atau inflamasi akut
pada area injeksi, serta pasien dengan kemungkinan untuk menggigit jaringan lunak yang
teranestesi.
Keuntungan anestesi blok Fishers adalah injeksi anestesi di satu tempat
memberikan anestesi pada area yang luas pada satu region. Namun, area yang luas pada
anestesi blok Fishers ini tidak diperlukan untuk keperluan prosedur lokal. Kerugian lain
anestesi blok Fishers ini adalah adanya persentase anesthesia yang tidak cukup, intraoral
landmark yang menjadi acuan penyuntikan kadang tidak terlihat, kadang terjadi aspirasi
positif, anestesi lingual dan bibir bawah menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien.

Teknik Penyuntikan Anestesi Blok Rahang Bawah


Tahapan penyuntikan anestesi blok Fishers adalah :
Jari telunjuk diletakkan di belakang gigi molar ketiga kemudian digeser ke lateral
untuk mencar linea oblique eksterna lalu digeser ke median untuk mencari linea oblique
interna melalui trigonum retromolar.
Punggung jari harus menyentuh bucooklusal gigi yang terakhir, lalu jarum
dimasukkan kira- kira pada pertengahan lengkung kuku dari sisi rahang yang tidak
dianestesi yaitu region premolar sampai terasa kontak dengan tulang.
Syringe kemudian digeser kea rah sisi yang akan dianestesi, harus sejajar dataran
oklusal, jarum ditusukkan lebih lanjut sedalam 6mm lalu lakukan aspirasi. Bila aspirasi
negative, larutan anestesi lokal dikeluarkan cc untuk menganestesi N. Lingualis.
Syringe digeser lagi kea rah posisi pertama namun tidak peuh, sampai region
caninus, kemudian jarum ditusukkan lebih dalam menyusuri tulang kurang lebih 10- 15
mm sampai terasa konta jarum dengan tulang terlepas. Lakukan kebali aspirasi, bila

negative, larutan anestetikum dikeluarkan 1cc untuk menganestesi N. Alveolarius


inferior.
Anestesi Blok N. Buccinatorius (Buccal Nerve Block)
Blok N. Buccinatorius ditujukan untuk menganestesi daerah pipi dan membrane
mukosa bukal pada region gigi molar.
Saraf yang teranestesi pada blok ini adalah N. Buccal yang merupakan cabang
dari N. V3 yang mempersarafi jaringan lunak dan periosteum buccal sampai gigi molar
mandibular.
Anestesi blok N. Buccinatorius diindikasikan untuk prosedur dental pada region
gigi molar rahang bawah. Namun blok ini merupakan kontraindikasi untuk infeksi atau
terdapat inflamasi akut pada area injeksi

Teknik Penyuntikan Anestesi Blok N. Buccinatorius


a. Penyuntikan anestesi blok buccal dilakukan pada coronoid notch, sedikit ke median
dari linea oblique ramus mandibula. Mukosa bukal dan pipi ditarik kemudian jarum
ditusukkan kea rah lateral dan distal di gigi molar ketiga setinggi 2-3 mm di sekitar
oklusal.
b. aspirasi, bila negative, cairan anestetikum dikeluarkan 0,5 cc.
Bahan Anestesi untuk Pencabutan Gigi molar
Untuk pencabutan gigi biasanya menggunakan anestesi lokal. Anestesi lokal
digunakan untuk menghilangkan rasa sakit pada bagian tubuh tertentu tanpa disertai
dengan hilangnya kesadaran. Bahan anestesi pada kedokteran gigi.
1. Golongan ester.
Anestesi golongan ini kurang stabil dan metabolismenya lebih mudah.
Contohnya: Prokain, kokain dan tetrakain.
2. Golongan amida.
Anestesi golongan amida lebih stabil dan metabolismenya lambat.
Contohnya: Lignokain, prilokain, mervakain.
3) Pencabutan Gigi pada Penderita Hipertensi
Penderita Hipertensi yang masuk dalam stage I dan stage II masih memungkinkan
untuk dilakukan tindakan pencabutan gigi karena resiko perdarahan yang terjadi pasca
pencabutan relatif masih dapat terkontrol .
Pencabutan Gigi pada Penderita DM
Melakukan pemeriksaan kadar gula darah. Kadar gula darah harus dalam batas
normal : GDP 70-110 mg/dL dan GDS 100-140 mg/dL. Apabila didapatkan angka diluar

batas normal, pencabutan gigi harus ditunda, pasien dirujuk ke dokter spesialis penyakit
dalam untuk mengontrol kadar gula darah sebelum pencabutan dilakukan.
4) Karies Gigi
Patofisiologi karies gigi menurut Miller, Black dan William adalah awalnya asam
terbentuk karena adanya gula (sukrosa) dan bakteri dalam plak (kokus). Gula (sukrosa)
akan mengalami fermentasi oleh bakteri dalam plak hingga akan terbentuk asam dan
dextran. Desxtran akan melekatkan asam yang terbentuk pada permukaan email gigi.
Apabila hanya satu kali makan gula (sukrosa), maka asam yang terbentuk hanya sedikit.
Tapi bila konsumsi gula (sukrosa) dilakukan berkali-kali atau sering maka akan terbentuk
asam hingga pH mulut menjadi 5
5) Anatomi gigi
Sebuah gigi mempunyai mahkota, leher, dan akar. Mahkota gigi menjulang di atas
gusi, lehernya dikelilingi gusi dan akarnya berada di bawahnya. Gigi dibuat dari bahan
yang sangat keras, yaitu dentin. Di dalam pusat strukturnya terdapat rongga pulpa.

Gambar 2. 4 Diagram potongan sagital gigi molar pertama bawah manusia (Fawcett, 2002)
Orang dewasa memiliki 32 gigi, 16 tertanam di dalam proses alveolaris maksila
dan 16 di dalam mandibula. Yang disebut gigi permanen ini didahului oleh satu set
sebanyak 20 gigi desidua, yang mulai muncul sekitar 7 bulan setelah lahir dan lengkap
pada umur 6-8 tahun. Gigi ini akan tanggal antara umur enam dan tiga belas, dan diganti
6

secara berangsur oleh gigi permanen, atau suksedaneus. Proses penggantian gigi ini
berlangsung sekitar 12 tahun sampai gigi geligi lengkap, umumnya pada umur 18, dengan
munculnya molar ketiga atau gigi kebijakan.
Semua gigi terdiri atas sebuah mahkota yang menonjol di atas gusi atau gingival,
dan satu atau lebih akar gigi meruncing yang tertanam di dalam lubang atau alveolus di
dalam tulang maksila atau mandibula. Batas antara mahkota dan akar gigi disebut leher
atau serviks.

Manusia memiliki susunan gigi primer dan sekunder, yaitu:


a. Gigi primer, dimulai dari tuang diantara dua gigi depan yang terdiri dari 2 gigi seri, 1
taring, 3 geraham dan untuk total keseluruhan 20 gigi
b. Gigi sekunder, terdiri dari 2 gigi seri, 1 taring, 2 premolar dan 3 geraham untuk total
keseluruhan 32 gigi.

Fungsi gigi adalah dalam proses matrikasi (pengunyahan).


Mengunyah ialah menggigit dan menggiling makanan di antara gigi atas dan
bawah. Gerakan lidah dan pipi membantu dengan memindah-mindahkan makanan linak
ke palatum keras ensit gigi-gigi.
Makanan yang masuk kedalam mulut di potong menjadi bagian-bagian kecil dan
bercamput dengan saliva unutk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan.

Komponen-komponen gigi meliputi:


a

Email

Email gigi adalah substansi paling keras di tubuh. Ia berwarna putih kebiruan dan hampir
transparan. Sembilan puluh smebilan persen dari beratnya adalah mineral dalam bentuk
Kristal hidroksiapatit besar-besar. Matriks organic hanya merupakan tidak lebih dari 1%
massanya.
b

Dentin
Dentin terletak di bawah email, terdiri atas rongga-rongga berisi cairan. Apabila lubang
telah mencapai dentin, cairan ini akan menghantarkan rangsang ke pulpa, sehingga pulpa
yang berisi pembuluh saraf akan menghantarkan sinyal rasa sakit itu ke otak.
Dentin bersifat semitranslusen dalam keadaan segar, dan berwarna agak
kekuningan. Komposisi kimianya mirip tulang namun lebih keras. Bahannya 20%
organic dan 80% anorganik.

Pulpa
Pulpa merupakan bagian yang lunak dari gigi. Bagian atap pulpa merupakan bentuk
kecil dari bentuk oklusal permukaan gigi. Pulpa mempunyai hubungan dengan jaringan
peri- atau interradikular gigi, dengan demikian juga dengan keseluruhan jaringan tubuh.
Oleh karena itu, jika ada penyakit pada pulpa, jaringan periodontium juga akan terlibat.
Demikian juga dengan perawatan pulpa yang dilakukan, akan memengaruhi jaringan di
sekitar gigi.
Bentuk kamar pulpa hampir menyerupai bentuk luar dari mahkota gigi, misalnya
tanduk pulpa terletak di bawah tonjol gigi. Pada gigi dengan akar lebih dari satu, akan
terbentuk lantai kamar pulpa yang mempunyai pintu masuk ke saluran akar, disebut
orifisum. Dari orifisum ke foramen apical disebut saluran akar. Bentuk saluran akar ini
sangat bervariasi, dengan kanal samping yang beragam, selain kadang-kadang juga
ditemukan kanal tambahan (aksesori) yang ujungnya buntu, tidak bermuara ke jaringan
periodontal.
Bahan dasar pulpa terdiri atas 75% air dan 25% bahan ensiti, yaitu:
8

Glukosaminoglikan

Glikoprotein

Proteoglikan

Fibroblas sebagai sintesis dari kondroitin sulfat dan dermatan sulfat.


Pulpa gigi berisi sel jaringan ikat, pembuluh darah, dan serabut saraf. Pada

saluran akar ditemui pembuluh darah, jaringan limfe, juga jaringan saraf, yang masuk ke
rongga pulpa dan membentuk percabangan jaringan yang teratur serta menarik. Jaringan
yang memasok darah dari pulpa, masuk dari foramen apical, tempat arteri dan vena
masuk serta keluar. Selain pembuluh darah dan jaringan limfe, jaringan saraf masuk juga
ke pulpa melalui foramen ensit.
d

Cementum
Akar gigi ditutupi lapisan sementum tipis, yaitu jaringan bermineral yang sangat mirip
tulang. Melihat sifat fisik dan kimiawinya, sementum lebih mirip tulang dari jaringan
keras lain dari gigi. Ia terdiri atas matriks serat-serat kolagen, glikoprotein, dan
mukopolisakarida yang telah mengapur. Bagian servikal dan lapis tipis dekat dentin
adalah sementum aselular. Sisanya adalah sementum selular, dimana terkurung sel-sel
mirip osteosit, yaitu sementosit, dalam ensit dalam matriks.

6) DHE (Dental Health Education)


Dental Health Education atau Pendidikan Kesehatan Gigi adalah suatu proses belajar
yang ditujukan kepada individu dan kelompok masyarakat untuk mencapai derajat
kesehatan gigi yang setinggi-tingginya.
a. Menurut Prof. Soeria Soemantri
Pendidikan kesehatan gigi adalah suatu usaha atau aktivitas yang mempengaruhi orangorang untuk bertingkah laku sedemikian rupa sehingga baik untuk kesehatan gigi dan
mulut pribadi maupun masyarakat.
b. Menurut Bastian
Semua aktivitas yang membantu menghasilkan penghargaan masyarakat akan kesehatan
gigi dan memberikan pengertian akan cara-cara bagaimana memelihara mulut.
9

7) Perawatan stomatitis rekuren


Dalam upaya melakukan perawatan terhadap pasien SAR, tahapannya adalah :
1. Edukasi bertujuan untuk memberikan informasi mengenai penyakit yang dialami
yaitu SAR agar mereka mengetahui dan menyadarinya.
2. Instruksi bertujuan agar dapat dilakukan tindakan pencegahan dengan
menghindari faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya SAR.
3. Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala yang dihadapi agar pasien dapat
mendapatkan kualitas hidup yang menyenangkan.
Tindakan pencegahan timbulnya SAR dapat dilakukan diantaranya dengan
menjaga kebersihan rongga mulut, menghindari stres serta mengkonsumsi nutrisi yang
cukup, terutama yang mengandung vitamin B12 dan zat besi. Menjaga kebersihan rongga
mulut dapat juga dilakukan dengan berkumur-kumur menggunakan air garam hangat atau
obat kumur. SAR juga dapat dicegah dengan mengutamakan konsumsi makanan kaya
serat seperti sayur dan buah yang mengandung vitamin C, B12, dan mengandung zat besi.
Karena penyebab SAR sulit diketahui maka pengobatannya hanya untuk
mengobati keluhannya saja. Perawatan merupakan tindakan simtomatik dengan tujuan
untuk mengurangi gejala, mengurangi jumlah dan ukuran ulkus, dan meningkatkan
periode bebas penyakit.
Bagi pasien yang mengalami stomatitis aftosa rekuren mayor, perawatan
diberikan dengan pemberian obat untuk penyembuhan ulser dan diinstruksikan cara
pencegahan. Bagi pasien yang mengalami SAR akibat trauma pengobatan tidak
diindikasikan.
Pasien yang menderita SAR dengan kesakitan yang sedang atau parah, dapat
diberikan obat kumur yang mengandung benzokain dan lidokain yang kental untuk
menghilangkan rasa sakit jangka pendek yang berlangsung sekitar 10-15 menit. Bagi
menghilangkan rasa sakit yang berlangsung sehingga enam jam, dapat diberikan zilactin
secara topikal. Zilactin dapat lengket pada ulser dan membentuk membran impermeabel
yang melindungi ulser dari trauma dan iritasi lanjut. Dapat juga diberikan ziladent yang
juga mengandung benzokain untuk topikal analgesia. Selain itu, dapat juga menggunakan
10

larutan betadyne secara topikal dengan efek yang sama. Dyclone digunakan sebagai obat
kumur tetapi hanya sebelum makan dan sebelum tidur. Aphthasol merupakan pasta oral
amlexanox yang mirip dengan zilactin yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit
dengan membentuk lapisan pelindung pada ulser.
Bagi mempercepat penyembuhan ulser, glukokortikoid, baik secara oral atau
topikal adalah andalan terapi. Topikal betametason yang mengandung sirup dan
fluocinonide ointment dapat digunakan pada kasus SAR yang ringan. Pemberian
prednison secara oral ( sampai 15 mg / hari) pada ksaus SAR yang lebih parah. Hasil
terapeutik dalam dilihat dalam satu minggu.
Klorheksidin adalah obat kumur antibakteri yang mempercepatkan penyembuhan
ulser dan mengurangi keparahan lesi SAR. Selain itu, tetrasiklin diberikan sesuai dengan
efek anti streptokokus, tetrasiklin 250mg dalam 10 cc sirup direkomendasikan sebagai
obat kumur, satu kali sehari selama dua minggu.
Levamisol telah dianjurkan sebagai perawatan yang mungkin untuk SAR, namun
oleh karena efek samping immunostimulatornya, pemakaian obat ini kurang
diindikasikan.

Refrensi

Jonatahan Pedlar, John W Frame. Oral and maxillofacial surgery 2nd ed. Elseiver: Churchill
Livingstone. 2007, p. 24
Mohamad Loekman. Teknik dasar pencabutan gigi, Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran
Gigi; 2006: 3: 82-4
Depkes R.I. 1990. Pedoman Penyelenggara Upaya Kesehatan Gigi di PUSKESMAS. Jakarta:
Direktorat Kesehatan Gigi, DEPKES R.I.
Fawcett, Don W. 2002. Buku Ajar Histologi Edisi 12. Jakarta: EGC.
Harshanur, Itjiningsih Wangidjaja. 1991. Anatomi Gigi. Jakarta: EGC.

11