Anda di halaman 1dari 3

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penderita thalasemia
terbesar di dunia, diperkirakan prevalensi carier di Indonesia sekitar 3-8%, artinya 3-8
dari 100 orang penduduk Indonesia berpotensi sebagai pembawa sifat thalasemia.
Pada tahun 2016 prevalensi tertinggi thalasemia Indonesia terjadi di Jawa barat yaitu
sekitar 42,8% dari total kasus thalasemia di Indonesia.(1,2)
Thalasemia merupakan kelaianan herediter yang umumnya terjadi pada anak-anak
ditandai dengan penurunan sintesis rantai globin (alfa atau beta) yang menyebabkan
terjadinya penurunan sintesis hemoglobin. Kelainan pada hemoglobin ini dapat
menyebabkan terjadi anemia mikrositik hipokromik yang disebabkan oleh
hemoglobinisasi yang tidak efektif. Secara klinis thalasemia dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu thalasemia mayor, minor dan intermedia. Pada thalasemia mayor
terjadi eritropoiesis yang tidak efektif sehingga pada penderita ini membutuhkan
tranfusi darah yang intensif sepanjang hidupnya. Transfusi darah ini bertujuan untuk
mempertahankan fungsi dan kualitas sel darah merah serta memastikan transport
oksigen yang maksimal keseluruh organ tubuh. (3, 4, 5)
Namun transfusi darah yang intensif pada penderita thalasemia mayor dapat
menyebabkan berbagai komplikasi pada organ tubuh. Komplikasi terjadi ketika
adanya penimbunan zat besi yang ditinggalakan sel darah merah rusak yang
menumpuk pada hati sehingga menganggu fungsi hati. Disamping itu, penumpukan
zat besi dapat menimbulkan gangguan otot jantung dan irama jantung menyebabkan
terganggunya fungsi organ jantung, komplikasi juga terjadi pada organ ginjal yang
berfungsi menyekresi eritropoietin. Pada penderita thalasemia mayor pembentukan
sel darah merah lebih cepat sehingga ginjal akan lebih mengeksresikan eritropoietin

untuk pembentukan sel darah merah baru, semakin lama hal ini dapat menyebabkan
kerusakan ginjal. Pada thalasemia mayor juga terjadi pembesaran limfa yang
disebabkan oleh kerusakan sel darah merah yang berlebih sehingga kerja limfa lebih
berat selain itu tugas limfa diperberat untuk memproduksi sel darah merah lebih
banyak.
Banyaknya komplikasi organ tubuh yang disebabkan karena tranfusi darah pada
penderita thalasemia mayor, menyebabkan diperlukan berbagai pemeriksaan
laboratorium sebagai deteksi dini untuk mencegah terjadinya komplikasi berbagai
organ yang dapat mengakibatkan kematian. Berdasarkan latar belakang diatas, kami
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Deteksi dini komplikasi organ
akibat transfusi darah pada penderita thalasemia mayor

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan sebagai deteksi dini
komplikasi pada berbagai organ penderita thalasemia mayor?
2. Bagaimana pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan sebagai deteksi
dini komplikasi pada berbagai organ penderita thalasemia mayor?
3. Berapakah periode waktu pemantauan fungsi organ secara berkala agar
berbagai dampak transfuse dapat dideteksi secara dini?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan sebagai deteksi


dini komplikasi pada berbagai organ penderita thalasemia mayor
2. Mengetahui pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan sebagai deteksi
dini komplikasi pada berbagai organ penderita thalasemia mayor?
3. Mengetahui periode waktu pemantauan fungsi organ secara berkala agar
berbagai dampak transfuse dapat dideteksi secara dini
1.4 Manfaat Penelitian
1. Agar dapat dilakukan pencegahan terjadinya komplikasi fungsi organ akibat
transfuse darah pada penderita thalasemia mayor.
2. Memberikan informasi bagi penderita thalasemia mayor untuk melakukan tes
laboratorium yang dapat mendeteksi secara dini komplikasi fungsi organ
3. Memberikan informasi bagi penderita thalasemia mayor untuk melakukan tes

laboratorium secara berkala sesuai periode pemeriksaan yang disarankan.