Anda di halaman 1dari 5

REVIEW AKUNTANSI FORENSIK

MONEY LAUNDERING

DOSEN PENGAMPU:
Dr. Tarjo S.E., M.Si., CFE

R. Arif Kurniawan
110221100024
AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
TAHUN AJARAN 2014/2015

REVIEW
MONEY LAUNDERING

Pengertian Money Laundering


Menurut Iman Sjahputra, Sh, CN, LL.M, dalam bukunya Money Laundering Suatu
Pengantar, Money Laundering adalah kejahatan yang berupaya untuk menyembunyikan asalusul usang sehingga dapat dipergunakan sebagai uang yang diperoleh secara legal.
Pasal 1 Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pencucian uang adalah
perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan,
menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya
atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana
dengan maksud untuk menyembunyikan, atau menyamarkan asal ususl harta kekayaan
sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah.
Tahapan Pencucian Uang
1. Tahap Penempatan (Placement), merupakan tahap pengumpulan dan penempatan uang
hasil kejahatan pada suatu bank atau tempat tertentu yang diperkirakan aman guna
mengubah bentuk uang tersebut agar tidak teridentifikasi, biasanya sejumlah uang tunai
dalam jumlah besar dibagi dalam jumlah yang lebih kecil dan ditempatkan pada beberapa
rekening di beberapa tempat.
2. Tahap Pelapisan (Layering), merupakan upaya untuk mengurangi jejak asal muasal uang
tersebut diperoleh atau ciri-ciri asli dari uang hasil kejahatan tersebut atau nama pemilik
uang hasil tindak pidana, dengan melibatkan tempat-tempat atau bank di negara-negara
dimana kerahasiaan bank akan menyulitkan pelacakan jejak uang.
3. Tahap Penggabungan (integration), merupakan tahap mengumpulkan dan menyatukan
kembali uang hasil kejahatan yang telah melalui tahap pelapisan dalam suatu proses arus
keuangan yang sah.
Modus Tindak Pidana Pencucian Uang Berdasarkan Tipologinya
Tipologi Dasar
1. Modus orang ketiga, yaitu dengan menggunakan seseorang untuk menjalankan perbuatan
tertentu yang diinginkan oleh pelaku pencurian uang, dapat dengan menggunakan atau
mengatasnamakan orang ketiga atau orang lain lagi yang berlainan.

2. Modus topeng usaha sederhana, merupakan kelanjutan modus orang ketiga, dimana
orang tersebut akan diperintahkan untuk mendirikan suatu bidang usaha dengan
menggunakan kekayaan yang merupakan hasil tindak pidana.
3. Modus perbankan sederhana, merupakan kelanjutan modus pertama dan kedua, namun
juga dapat berdiri sendiri. Disini terjadi perpindahan sistem transaksi tunai yang berubah
dalam bentuk cek kontan, cek perjalanan, atau bentuk lain dalam deposito, tabungan
yang dapat ditransfer dengan cepat dan digunakan lagi dalam pembelian aset-aset.
4. Modus kombinasi perbankan atau usaha, yang dilakukan oleh orang ketiga yang
menguasai suatu usaha dengan memasukkan uang hasil kejahatan ke bank untuk
kemudian ditukar dengan cek yang kemudian digunakan untuk pembelian aset atau
pendirian usaha-usaha lain.
Tipologi Ekonomi
1. Model

smurfing, yakni pelaku menggunakan rekan rekannya yang banyak untuk

memecah sejumlah besar uang tunai dalam jumlah- jumlah kecil dibawah batas uang
tunai sehingga bank tidak mencurigai kegiatan tersebut untuk kemudian uang tunai
tersebut ditukarkan di bank dengan cek wisata atau cek kontan.
2. Model perusahaan rangka, disebut demikian karena perusahaan ini sebenarnya tidak
menjalankan kegiatan usaha apapun, melainkan dibentuk agar rekening perusahaannya
dapat digunakan untuk memindahkan sesuatu atau uang.
3. Modus pinjaman kembali, adalah suatu variasi dari kombinasi modus perbankan dan
modus usaha. Uang illegal tersebut telah berubah menjadi uang pinjaman yang bersih
dengan dokumen yang lengkap.
4. Modus menyerupai MLM.
5. Modus under invoicing, yaitu modus untuk memasukkan uang hasil tindak pidana dalam
pembelian suatu barang yang nilai jual barang tersebut sebenarnya lebih besar daripada
yang dicantumkan dalam faktur.
6. Modus over invoicing, merupakan kebalikan dari modus under invoicing.
7. Modus over invoicing II, dimana sebenarnya tidak ada barang yang diperjualbelikan,
yang ada hanya faktur-faktur yang dijadikan bukti pembelian (penjualan fiktif) sebab
penjual dan pembeli sebenarnya adalah pelaku pencucian uang.
8. Modus pembelian kembali, dimana pelaku menggunakan dana yang telah dicuci untuk
membeli sesuatu yang telah dia miliki.

Tipologi IT
1. Modus E-Bisnis, hampir sama dengan modus menyerupai MLM, namun menggunakan
sarana internet.

2. Modus scanner merupakan tindak pidana pencucian uang dengan predicate crime berupa
penipuan dan pemalsuan atas dokumen-dokumen transaksi keuangan.
Tipologi Hitek
adalah suatu bentuk kejahatan terorganisir secara skema namun orang-orang kunci tidak
saling mengenal, nilai uang relatif tidak besar tetapi bila dikumpulkan menimbulkan kerugian
yang sangat besar. Dikenal dengan nama modus cleaning dimana kejahatan ini biasanya
dilakukan dengan menembus sistem data base suatu bank.
Tindakan Investigasi Money Laundering
Pendekatan follow the money ini bertitik tolak dari pandangan bahwa:
1. Hasil kejahatan (proceed of crime) merupakan liveblood dari kejahatan, uang/aset
adalah darah yang menghidupi kegiatan tersebut, maksudnya disini adalah setiap
kejahatan pasti didorong oleh motif, dan motif yang umum hanya ada dua, yaitu: sakit
hati / dendam dan motif ekonomi. Untuk tindak pidana asal yang manghasilkan harta
kekayaan yang akhirnya akan menjadi objek pencucian uang tentulah motif pokoknya
adalah ekonomi. Oleh sebab itu jika peluang untuk mendapatkan dan menempatkan
dalam rangka menyamarkan atau mengaburkan asal usul harta kekayaan tersebut dapat di
cegah atau dieliminasi, maka tentunya tindak pidana kejahatan bermotif ekonomi
tersebut akan tereliminasi atau setidaktidaknya jauh berkurang;
2. Hasil kejahatan (proceed of crime) adalah titik terlemah dari rangkaian kejahatan,
maksud pernyataan ini mengajak penegak hukum untuk memahami bahwa kejahatan
ekonomi akan dilakukan oleh orang-orang professional, bermodus canggih, kemudian
alat yang digunakan modern dan sulit dilacak serta pemilihan waktu dan sasaran yang
tepat. Kondisi tersebut tentu akan menyulitkan penegak hukum dalam mengungkap
kasus-kasus tersebut. Namun manakala para pelaku baik langsung atau melalui pihak ke3 memanfaatkan hasil kejahatan tersebut, misalnya:
a. menempatkannya ke perbankan, tentu bank akan melaporkan kepada PPATK karena
begitu besarnya hasil kejahatan yang ditempatkan tidak sebanding dengan profil;
b. merubah bentuk dengan membelanjakan pada bidang properti, kendaraan bermotor,
permata/perhiasan/logam mulia atau barang seni dan antik, tentu para penyedia barang
dan jasa akan melaporkan kepada PPATK karena sebagai pihak pelapor berkewajiban
menerapkan Prinsip Mengenal Pengguna Jasa (KYC) dan melaporkan sesuai tata cara
pelaporan.

Pendekatan follow the money, dapat mengejar hasil kejahatan; menghubungkan


kejahatan dengan pelaku intelektual; alat untuk asset recovery; menembus kerahasiaan bank;
menjerat pihak-pihak yang terlibat dalam menyembunyikan hasil kejahatan; dan terakhir
pendekatan follow the money dapat menekan nafsu orang untuk melakukan kejahatan
terutama kejahatan ekonomi.
Refrensi:
Tuanakotta, T.M , Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif, Edisi 2, Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2010.
Yusuf, Muhammad, Mengenal, Mencegah, Memberantas Tindak Pidana Pencucian Uang,
Penerbit: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. 2014
Pingkan, Roska L, Peran Pusat Pelaporan Dan Analisis Transaksi Keuangan. Lembaga
Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2009