Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses perkembangan manusia tidak lepas dari sejarahnya. Berawal dari
yang paling kecil dan terkesan kekanak-kanakan sampai besar dengan
kedewasaan. Semua berjalan beriringan mengikuti alurnya waktu dan kebutuhan
yang harus dipenuhinya. Kebutuhan ini bisa berupa kebutuhan jasmani atau
rohani yang mewarnai corak perkembangannya masing-masing mengantarkan
manusia ke pintu kesempurnaan.
Dalam sejarah peradaban, dikenal beberapa zaman dalam pemetaan. Ada
zaman batu, perunggu sampai pada zaman kontemporer yang segalanya tampak
serba mudah dan terpenuhi. Begitulah manusia dengan ketidakpuasannya
melakukan perubahan dalam efisiensi dan pemenuhan kebutuhan sesuai harapan.
Meskipun di balik semua itu banyak juga yang dikorbankan sebagai nilai tukar
dari perubahan dalam progresifitas sejarah kehidupan.
Selain perkembangan peradaban, perkembangan kepercayaan atau
keyakinan dalam ranah spiritual juga tida bisa terpisahkan sebagai roh dari sekian
perubahan. Kepercayaan ini juga beralan seiring perkembangan pola piker
manusia. Dan semakin maju manusia, maka semakin sedikit Tuhan-Tuhan yang
dipercayainya sebagai jawaban dari kelemahannya.
Dalam sejarahnya banyak ditemukan berbagai kepercayaan sesuai
kebutuhan dalam perkembangan manusia. Berawal dari banyak Tuhan dalam
menerangkan ketidakmampuan dan kebodohan sampai pada kepercayaan akan
satu Tuhan yang mengungguli segalanya. Namun, akankah semua konsep
kepercayaan lama ikut terpendam dan tinggal sejarahnya?. Animisme dan
Dinamisme misalnya, tidak adakah pengaruh dan praktik-praktik mereka sekarang
walau tidak dalam bungkus aliran lamanya?. Terkait hal ini, kami merasa tertarik
untuk menulis sebuah makalah yang mencoba membongkar konsep-konsep
ketuhanan lama, khususnya Teisme, Deisme dan Ateisme agar apa yang

dijalankan sekarang menjadi semakin jelas dan terlepas dari kepercayaan lama
yang tidak diperlukan dengan wajah-wajah barunya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah makalah ini, kami akan membahas sedikit banyak
tentang:
1. Definisi Konsep Tuhan dan Ketuhanan?
2. Apa itu Teisme, Deisme dan Ateisme?
3. Pandangan Para Filosuf Mengenai Konsep Ketuhanan?
1.3 Tujuan
Setelah membaca makalah ini, kami mengharapkan pembaca mengerti
sedikit banyak tentang:
1. Konsep Tuhan dan Ketuhanan.
2. Teisme, Deisme dan Ateisme
3. Pandangan Para Filosof Mengenai Konsep Ketuhanan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Konsep Tuhan dan Ketuhanan
Kepercayaan adanya Tuhan adalah dasar utama dalam paham keagamaan.
Ketika seseorang mulai menyadari eksistensi dirinya, maka timbullah tanda tanya
dalam hatinya tentang berbagai hal. Dalam hatinya yang dalam memancar
kecenderungan untuk tahu berbagai rahasia yang merupakan bentuk misteri yang
terselubung. Filsafat ketuhanan berhubungan dengan pembuktian kebenaran
adanya Tuhan yang didasarkan pada penalaran manusia.
Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan
akal budi (filosofis). Bagi penganut agama tertentu terutama agama Islam,
Kristen, Yahudi, akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha
memikirkannya. Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran manusia dengan
pendekatan akal budi tentang Tuhan. Dari filsafat ketuhanan, Anda beralih ke
pemahaman Tuhan. Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah
oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dan sebagainya. Tuhan juga
diartikan sebagai segala sesuatu yang dianggap penting dan dipentingkan sehingga
dirinya rela didominirnya
2.2 Aliran Ketuhanan
2.2.1

Teisme
Teisme adalah faham yang mempercayai adanya Tuhan. Berasal
dari bahasa Yunani =Teos dan =hukum=aturan=paham, jadi
sebuah aturan atau paham tentang Tuhan atau pengakuan adanya Tuhan.
Theisme merupakan aliran dalam filsafat ketuhanan yang
mengandung pengertian bahwa adanya Tuhan bukan hanya sesuatu ide
yang terdapat dalam pikiran (mind) manusia, akan tetapi menunjukkan
bahwa zat yang dinamakan Tuhan itu berwujud obyektif. Zat Tuhan telah
ada jauh sebelum kita sadar akan eksistensi Tuhan sebagai ide bawaan

dalam diri kita sebagaimana diungkapkan oleh Plato dan Descartes.


Artinya Konsep tentang Tuhan itu merupakan suatu keniscayaan.
Titik tekan kajian theisme bahwa Tuhan dipandang sebagai wujud
personal, tempat sasaran yang layak untuk disembah dan dipuja, esensinya
yang berbeda atau terpisah dari dunia, tetapi juga secara aktif berhubungan
dengan dunia. Dengan kata lain, eksistensi Tuhan dalam pandangan
theisme bersifat immanen sekaligus transenden. Disamping itu, Tuhan juga
dianggap sebagai pencipta, pemelihara dan penguasa dunia.
2.2.2

Deisme
Deisme adalah pandangan khas tentang Allah di masa pencerahan,
berasal dari deus yang artinya Allah. Namun pandangan ini berbeda
dengan teisme, sebab Allah dipercaya hanya pada waktu penciptaan,
selanjutnya tidak berhubungan dengan dunia lagi karena dunia yang sudah
teratur dari semula. Allah dianalogikan seperti pencipta arloji yang bisa
berjalan sangat teratur tanpa campur tangan penciptanya. Jadi deisme
hanya percaya Tuhan pertama kali, setelah itu dianggap tidak ada. Paham
ini dianggap sebagai benih dari munculnya pandangan ateisme yang secara
terbuka menyangkal adanya Tuhan. Pandangan yang muncul pada abad 18
di Prancis.
Deisme merupakan paham ketuhanan yang hampir sama dengan
theisme, yaitu sama-sama mempercayai adanya Tuhan dalam perspektif
natural atau agama natural. Secara prinsip antara theisme dan Deisme
sangat berbeda. Theisme beranggapan bahwa Tuhan adalah transenden
sekaligus immanen, sedangkan Deisme berpandangan bahwa Tuhan
setelah menciptakan alam ini kemudian membiarkannya secara mekanis
berjalan sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan lagi.
Dengan demikian, Tuhan bersifat transenden terhadap alam. Tuhan
berada di luar alam. Karena itu, para penganut Deisme tidak akan
mempercayai adanya mujizat dan arti doapun tidak ada manfaatnya. Alam
telah tersusun secara rapi dan teratur sehingga tidak memungkinkan
adanya perubahan baik dari akibat mujizat maupun dari doa. Deisme

sebagai paham ketuhanan menyebabkan para penganutnya tidak mengikuti


salah satu agama atau kepercayaan, sekalipun mengakui adanya Tuhan.
2.2.3

Ateisme
Ateisme berari penyangkalan adanya Allah. Namun arti tentang
Allah yang disangkal adanya, tidak sama dengan pandangan semua orang,
oleh karenanya arti ateisme berbeda-beda juga.
Atheisme

merupakan

antitesis

dari

konsep

theisme

yang

berpandangan tentang pengingkaran adanya Tuhan yang berarti menolak


terhadap kepercayaan adanya Tuhan. Penolakan terhadap Tuhan termasuk
di dalamnya adalah pengingkaran terhadap wujud Tuhan yang personal,
pencipta, pemelihara dan penguasa. Dengan demikian, atheisme dapat
dikatakan: pertama, paham-paham yang mengingkari adanya Tuhan
seperti materialisme, sebagian Naturalisme. Paham-paham ketuhanan yang
tidak menggambarkan Tuhannya bersifat personal seperti Deisme,
Pantheisme dan lain sebagainya.
2.3 Pandangan Para Filosof Mengenai Konsep Ketuhanan
2.3.1

Santo Agustinus (354-430)


Santo Agustinus percaya bahwa Allah ada dengan melihat sejarah
dari drama penciptaan, yang melibatkan Allah dan manusia. Allah
menciptakan daratan untuk manusia, menciptakan manusia (Adam) yang
berdosa melawan Allah. Lalu Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden.
Kemudian setelah manusia berkembang, mereka berdosa lebih lagi dan
dihukum dengan air bah dalam sejarah Nuh. Orang-orang Yahudi yang
diberikan perjanjian Allah ternyata tidak dapat memeliharanya sehingga
dihukum melalui bangsa-bangsa lain. Lalu Allah yang maha kasih
menebus manusia melalui Yesus Kristus. Dari sejarah ini Allah dapat
selalu ada di tengah-tengah manusia. Memang Agustinus adalah Bapa
gereja, Uskup dari Hippo yang membela eksistensi Allah dari pandanganpandangan lain yang

ingin meruntuhkan paham

teisme. Tuhan

didefinisikan dari sifat-sifatnya; maha tahu, maha hadir, kekal, pencipta


segala sesuatu. Namun lebih lagi, Tuhan bukan ada begitu saja, namun
selalu terhubung dalam peristiwa-peristiwa besar manusia.
2.3.2

Thomas Aquinas (1225-1274)


Thomas Aquinas menggabungkan pemikiran Aristoteles dengan
Wahyu Kristen. Kebenaran iman dan rasa pengalaman bukan hanya cocok,
namun juga saling melengkapi; beberapa kebenaran, seperti misteri dan
inkarnasi dapat diketahui melalui wahyu, sebagaimana pengetahuan dari
susunan benda-benda di dunia, dapan diketahui melalui rasa pengalaman;
seperti kesadaran manusia akan eksistensi Allah, baik wahyu maupun rasa
pengalaman dipakai untuk membentuk persepsi tentang adanya Allah.
Thomas Aquinas terkenal dengan lima jalan (dalam Bahasa Latin;
quinque viae ad deum) untuk mengetahui bahwa Allah benar-benar ada.
1. Jalan 1 adalah gerak, bahwa segala sesuatu bergerak, setiap gerakan
pasti ada yang menggerakkan, namun pasti ada sesuatu yang
menggerakkan sesuatu yang lain, namun tidak digerakkan oleh sesuatu
yang lain, Dialah Allah.
2. Jalan 2 adalah sebab akibat, bahwa setiap akibat mempunyai
sebabnya, namun ada penyebab yang tidak diakibatkan, Dialah sebab
pertaman, Allah.
3. Jalan 3 adalah keniscayaan, bahwa di dunia ini ada hal-hal yang bisa
ada dan ada yang bisa tidak ada (contohnya adalah benda-benda yang
dahulu ada ternyata ada yang musnah, namun ada juga yang dulu tidak
ada ternyata sekarang ada), namun ada yang selalu ada (niscaya)
Dialah Allah.
4. Jalan 4 adalah pembuktian berdasarkan derajat atau gradus melalui
perbandingan, bahwa dari sifat-sifat yang ada di dunia ( yang baikbaik) ternyata ada yang paling baik yang tidak ada tandingannya (sifat
Allah yang serba maha) Dialah Allah.

Jalan 5 adalah penyelenggaraan, bahwa segala ciptaan berakal budi


mempunyai tujuan yang terarah menuju yang terbaik, semua itu pastilah
ada yang mengaturnya, Dialah Allah.
2.3.3

Descartes (1596-1650)
Rene Descartes memikirkan Tuhan bermula dari prinsip utamanya
yang merupakan gabungan antara pietisme Katolik dan sains. Descartes
adalah seorang filsuf rasionalis yang terkenal dengan pemikiran ide Allah.
Tantangan yang mendorong Descartes adalah keragu-raguan radikalnya,
The Methode of Doubt , bahkan menurutnya,"indera bisa saja menipu,
Yang Maha Kuasa dalam bayangan kita juga bisa saja menipu, sebab kita
yang membayangkan". Dalam menjawab skeptisisme orang-orang pada
masanya, maka dalam tinggalnya di Neubau, dekat kota Ulm - Jerman,
disebut sebagai perjalanan menara, kata lain dari meditasi yang
dilakukan, dia menemukan Cogito, ergo sum tahun 1618. Karena orang
pada zamannya meragukan apa yang mereka lihat, maka hal ini dipatahkan
oleh Descartes bahwa apa yang dipikirkan saja sebenarnya sudah ada,
minimal di pikiran. Orang bisa menyangkal segala sesuatu, namun ia tidak
bisa menyangkal dirinya sendiri. Jadi Allah di sini juga demikian, Allah
sudah ada dengan sendirinya, bahkan lebih jauh Descartes mencari buktibukti empiris yang dia warisi dari para pendahulunya. Keterbukaan untuk
mengemukakan ide dalam pikiran, maka segala sesuatu yang dapat
dipikirkan pasti bisa ada. Alkitab salah satu bukti eksistensi Allah,
kemudian juga relasi bahwa manusia, binatang, malaikat, dan obyekobyek lain ada karena natural light yang adalah Allah sendiri.
Filsafat Ketuhanan menurut Descartes adalah berawal dari fungsi
iman, yang pada akhirnya berguna untuk menemukan Allah. Tanpa iman
manusia cenderung menolak Allah. Ada dua hal yang bisa ditempuh agar
Aku sampai pada Allah:
1. Jalan yang pertama adalah sebab akibat, bahwa dirinya sendiri
(manusia) pasti diakibatkan oleh penyebab pertama, yaitu Allah.

2. Jalan yang kedua adalah secara ontologis, yang diwarisinya dari


Anselmus. Allah yang ada itu tidak mungkin berdiri sendiri, tanpa ada
kaitan dengan suatu entitas lain, maka Allah pasti ada dan
bereksistensi. Maka Allah yang ada dalam ide Descartes sempurna
sudah, bahwa Dia ada dan dapat diandalkan dalam relasi dengan
entitas lainnya itu.
2.3.4

Imanuel Kant (1724-1804)


Ajaran Kant tentang Allah ditemui dalam hukum moralnya melalui
beberapa tahap:
1. Allah adalah suara hati,
2. Allah adalah tujuan moralitas,
3. Allah adalah pribadi yang menjamin bahwa orang yang bertindak baik
demi kewajiban moral akan mengalami kebahagiaan sempurna.
Menurut Kant ada tiga jalan untuk membuktikan adanya Allah di
luar spekulasi belaka, dan hal ini dimungkinkan:
1. dimulai dari menganalisa pengalaman kemudian menemui kualitas dari
sense dunia kita, lalu meningkat menjadi hukum kausalitas mencapai
penyebab di luar dunia.
2. berdasar hal pertama, kita masih pada tataran pengalaman yang tidak
bisa dijelaskan.
3. di luar konsep-konsep itu, manusia memiliki a priori dalam rasionya,
dan itu menjadi penyebab yang memang ada.
Lalu dari usaha dari pengalaman dianalisa dengan a priori
(pemikiran awal sebelum membutktikan sesuatu) dalam otak kita, kita
membagi tiga bentuk definisi atas pengalaman; Psikologi-teologi,
kosmologi dan ontologi. Dari hal yang dialami (empiris) menuju
transendensi; bahwa manusia hanya akan berspekulasi saja. Kritik Kant
terhadap Thomas Aquinas juga mengenai hal-hal spekulatif, padahal Allah
nyata adanya. Di sini Kant kemudian mengakui bahwa Allah sebagai
pemberi a priori dan pengalaman itu sendiri tidak terdapat dalam baik

pengalaman maupun a priori, namun melampaui hal itu. Maka Kant sangat
terkenal dengan kata-katanya '"Langit berbintang di atasku dan hukum
moral di dalam batinku". Di sinilah iman diperlukan, sebab Allah pada
kenyataannya tidak bisa dibuktikan hanya dengan pengalaman inderawi
semata. Allah melampaui hal-hal rasio murni.
2.3.5

Hegel (1770-1831)
Hegel juga disebut filsuf idealisme Jerman. Ajaran yang terkenal
dari Hegel adalah dialektika, di mana ada dua hal berbeda (bahkan
kontras) yang bertemu dan membentuk hal baru. Pertama-tama Hegel
membedakan antara rasio murni (dalam Kant) sebagai kesadaran manusia,
namun ada yang lebih dari itu yaitu intelek. Intelek itu senantiasa
mengerjakan kinerja rasio dan intelektualitas sehingga dialektika terus
terjadi. Roh Absolut yang adalah intelek itu bekerja dan menyatakan
dirinya dalam proses sejarah manusia. Pekerjaan Roh itu dapat mencapai
tujuannya dalam alam semesta ketika terjadi dialektika antara subjek dan
objek, antara yang terbatas dan tidak terbatas, dan yang paling bisa
dimengerti adalah antara yang imanen dan transenden. Hegel berpendapat
Allah di dalam agama Kristen juga bekerja seperti peristiwa reformasi
yang sebenarnya merupakan peristiwa pemulih atau pengembali keadaan
manusia menjadi baik kembali. Dari peristiwa-peristiwa itu maka Allah
menurut Hegel dapat diartikan dalam tiga tahap: 1. Segala sesuatu yang
terjadi dalam sejarah adalah proses perjalanan Roh (Allah) yang
menemukan dirinya sendiri 2. Melalui manusia dengan kesadarannya, Roh
itu menemukan dirinya (peristiwa revolusi oleh Napoleon misalny) 3.
Sehingga terjadi keselarasan arah gerak manusia dan arah gerak Roh
dalam emansipasi dan kebebasan manusia, untuk itu Roh akan memakai
nama "Akal budi".Namun Allah yang dinyatakan Hegel sebenarnya terikat
pada manusia yang berproses dalam sejarah.

10

2.3.6

Schleiermacher (1768-1834)
Schleiermacher adalah penganut Kant, namun baginya Allah lebih
baik tidak ditelusuri dengan metafisika belaka, namun perlu dihayati
kehadirannya, yaitu dengan kontemplasi. Baginya, Allah yang tidak bisa
ditangkap inderawi tidak bisa juga dilacak dengan rasio murni. Istilah
yang dipakai oleh Schleiermacher untuk Allah adalah "Sang Universum".
Jika Kant mengenal Allah sebagai pemberi hukum moral yang melampaui
rasionya, Schleiermacher menganggap Allah yang dimaksud Kant tidak
memadai dalam kehidupan manusia, sebab Allah hanya pemberi ganjaran
kepada orang yang baik dan penghukum orang yang kurang baik. Sebab
Allah, bagi Schleiermacher tidak mungkin memberi hukuman kekal
kepada manusia lantaran ia tidak sempurna, hal ini dikarenakan bahwa
manusia diciptakan Allah bukan agar ia sempurna, melainkan agar ia
berikhtiar mencapai kesempurnaan itu.
Scleiermacher mendekati Allah bukan dari teori spekulatif, bukan
dengan pendekatan moral-praktis, melainkan pendekatan intuitif-batin,
dalam bahasanya melalui kontemplasi dan perasaan. "Di sinilah agama
merenungkan Sang Universum, di dalam caranya mengekspresikan diri
dan tindakannya, agama ingin mendegarkan bisikan suara Sang
Universum itu dengan khidmat,... Dalam kepasifan anak-anak, agama
ingin ditangkap dan dipenuhi oleh daya pengaruhnya. Agama adalah
Sang Universum sendiri. Sang Universum ditangkap dari alam dunia yang
manifestasikannya. Namun alam dunia bukanlah Sang Universum yang
berdiri sendiri, namun tetap memanifestasikan alam. Pembedaan ini
melaui dua tahap;
1. Alam adalah wahyu Allah, dan ditangkap oleh sanubari manusia,
2. wahyu yang lebih tinggi dan lebih baik adalah manusia yang menurut
Schleiermacher

tidak terbagi-bagi dan tidak

terbatas,

namun

bereksistensi.
Dalam aktivitas umat manusia itulah Allah menyatakan diri, alam
diresapi oleh Yang Ilahi. Namun manusia bukanlah Allah sendiri. Maka

11

tugas agama adalah mencari menemukan Allah yang ada di luar dirinya.
Agama harus tinggal dengan pengalaman-pengalaman langsung untuk
mencari Allah dan mencari keterhubungannya secara menyeluruh, bukan
berfilosofi.
2.4 Perbedaan Antara Aliran Ketuhanan
Secara prinsip antara teisme dan deisme sangat berbeda. Teisme
beranggapan bahwa Tuhan adalah transenden dan immanen, sedangkan deisme
berpandangan

bahwa

Tuhan

setelah

menciptakan

alam

ini

kemudian

membiarkannya secara mekanis berjalan sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan
lagi. Sedangkan Atheisme merupakan antitesis dari konsep theisme yang
berpandangan tentang pengingkaran adanya Tuhan yang berarti menolak terhadap
kepercayaan adanya Tuhan.
Transenden adalah sesuatu yang di luar batas pengetahuan dan kesanggupan
manusia normal yang menunjukkan kepada kebesaran, keagungan Tuhan. Tuhan
yang imanen berarti Tuhan berada di dalam struktur alam semesta serta turut serta
mengambil bagian dalam proses-proses kehidupan manusia.



Artinya : dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan
melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2.5 Konsep Tentang Apa dan Siapa Tuhan
Tuhan dipahami sebagai Roh Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan.
Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada
berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, panteisme, dan lain-lain.
Dalam pandangan teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur segala
kejadian di alam semesta. Menurut deisme, Tuhan merupakan pencipta alam
semesta, namun tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. Menurut
panteisme, Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri. Para cendekiawan

12

menganggap berbagai sifat-sifat Tuhan berasal dari konsep ketuhanan yang


berbeda-beda. Yang paling umum, di antaranya adalah Mahatahu (mengetahui
segalanya), Mahakuasa (memiliki kekuasaan tak terbatas), Mahaada (hadir di
mana pun), Mahamulia (mengandung segala sifat-sifat baik yang sempurna), tak
ada yang setara dengan-Nya, serta bersifat kekal abadi. Penganut monoteisme
percaya bahwa Tuhan hanya ada satu, serta tidak berwujud (tanpa materi),
memiliki pribadi, sumber segala kewajiban moral, dan "hal terbesar yang dapat
direnungkan".Banyak filsuf abad pertengahan dan modern terkemuka yang
mengembangkan argumen untuk mendukung dan membantah keberadaan Tuhan.
Ada banyak nama untuk menyebut Tuhan, dan nama yang berbeda-beda
melekat pada gagasan kultural tentang sosok Tuhan dan sifat-sifat apa yang
dimilikinya. Atenisme pada zaman Mesir Kuno, kemungkinan besar merupakan
agama monoteistis tertua yang pernah tercatat dalam sejarah yang mengajarkan
Tuhan sejati dan pencipta alam semesta, yang disebut Aten. Kalimat "Aku adalah
Aku" dalam Alkitab Ibrani, dan "Tetragrammaton" YHVH digunakan sebagai
nama Tuhan, sedangkan Yahweh, dan Yehuwa kadangkala digunakan dalam
agama Kristen sebagai hasil vokalisasi dari YHVH. Dalam bahasa Arab, nama
Allah digunakan, dan karena predominansi Islam di antara para penutur bahasa
Arab, maka nama Allah memiliki konotasi dengan kepercayaan dan kebudayaan
Islam. Umat muslim mengenal 99 nama suci bagi Allah, sedangkan umat Yahudi
biasanya menyebut Tuhan dengan gelar Elohim atau Adonai (nama yang kedua
dipercaya oleh sejumlah pakar berasal dari bahasa Mesir Kuno, Aten). Dalam
agama Hindu, Brahman biasanya dianggap sebagai Tuhan monistis. Agamaagama lainnya memiliki panggilan untuk Tuhan, di antaranya: Baha dalam agama
Baha'i, Waheguru dalam Sikhisme, dan Ahura Mazda dalam Zoroastrianisme.
Banyaknya konsep tentang Tuhan dan pertentangan satu sama lain dalam
hal sifat, maksud, dan tindakan Tuhan, telah mengarah pada munculnya
pemikiran-pemikiran seperti omniteisme, pandeism, atau filsafat Perennial, yang
menganggap adanya satu kebenaran teologis yang mendasari segalanya, yang
diamati oleh berbagai agama dalam sudut pandang yang berbeda-beda, maka

13

sesungguhnya agama-agama di dunia menyembah satu Tuhan yang sama, namun


melalui konsep dan pencitraan mental yang berbeda-beda mengenai-Nya.
2.6 Pembuktian Adanya Tuhan
Ada banyak persoalan filosofis mengenai keberadaan Tuhan. Beberapa
definisi Tuhan tidak bersifat spesifik, sementara yang lainnya menguraikan sifatsifat yang saling bertentangan. Argumen tentang keberadaan Tuhan pada
umumnya meliputi tipe metafisis, empiris, induktif, dan subjektif, sementara yang
lainnya berkutat pada teori evolusioner, aturan, dan kompleksitas di dunia.
Pendapat yang menentang keberadaan Tuhan pada umumnya meliputi tipe
empiris, deduktif, dan induktif.
Ada banyak pendapat yang dikemukakan dalam usaha pembuktian
keberadaan Tuhan. Beberapa pendapat terkemuka adalah Quinque viae, argumen
dari keinginan yang dikemukakan oleh C.S. Lewis, dan argumen ontologis yang
dikemukakan

oleh

St.

Anselmus

dan

Descartes.

Bukti-bukti

tersebut

diperdebatkan dengan sengit, bahkan di antara para penganut teisme sekalipun.


Beberapa di antaranya, misalnya argumen ontologis, masih sangat kontroversial di
kalangan penganut teisme. Aquinas menulis risalah tentang Tuhan untuk
menyangkal bukti-bukti yang diajukan Anselmus.
Pendekatan yang dilakukan Anselmus adalah untuk mendefinisikan Tuhan
sebagai "tidak ada yang lebih besar daripada-Nya untuk bisa direnungkan". Filsuf
panteis Baruch Spinoza membawa gagasan tersebut lebih ekstrem: "Melalui
Tuhan aku memahami sesuatu yang mutlak tak terbatas, yaitu, suatu zat yang
mengandung atribut-atribut tak terbatas, masing-masing menyiratkan esensi yang
kekal dan tidak terbatas". Bagi Spinoza, seluruh alam semesta terbuat dari satu
zat, yaitu Tuhan, atau padanannya, yaitu alam. Bukti keberadaan Tuhan yang
diajukannya merupakan variasi dari argumen ontologis.
Fisikawan kondang, Stephen Hawking, dan penulis Leonard Mlodinow
menyatakan dalam buku mereka, The Grand Design, bahwa merupakan hal yang
wajar untuk mencari tahu siapa atau apa yang membentuk alam semesta, namun
bila jawabannya adalah Tuhan, maka pertanyaannya berbalik menjadi siapa atau

14

apa yang menciptakan Tuhan. Terkait pertanyaan ini, lumrah terdengar bahwa ada
sesuatu yang tidak diciptakan dan tidak perlu pencipta, dan sesuatu itu disebut
Tuhan. Hal ini dikenal sebagai argumen sebab pertama untuk mendukung
keberadaan Tuhan. Akan tetapi, kedua penulis tersebut mengklaim bahwa pasti
ada jawaban masuk akal secara ilmiah, tanpa mencampur keyakinan tentang halhal gaib.
Beberapa teolog, misalnya ilmuwan sekaligus teolog A.E. McGrath,
berpendapat bahwa keberadaan Tuhan bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab
dengan metode ilmiah. Agnostik Stephen Jay Gould berpendapat bahwa ilmu
pengetahuan dan agama tidak bertentangan dan tidak saling menjatuhkan.
Beberapa kesimpulan yang diperoleh dari berbagai argumen yang
mendukung dan menentang keberadaan Tuhan adalah: "Tuhan tidak ada" (ateisme
kuat); "Tuhan hampir tidak ada" (ateisme de facto); "tidak jelas apakah Tuhan ada
atau tidak" (agnostisisme); "Tuhan ada, namun tidak bisa dibuktikan atau dibantah
(teisme lemah); dan "Tuhan ada dan dapat dibuktikan" (teisme kuat).

15

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tuhan merupakan dasar utama dalam paham keagamaan dan sesuatu yang
diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia. Sedangkan ketuhanan merupakan
pemikiran manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan
1. Teisme adalah faham yang mempercayai adanya Tuhan.
2. Deisme memiliki pandangan bahwa Tuhan dipercaya hanya pada waktu
penciptaan, selanjutnya tidak berhubungan dengan dunia lagi karena dunia
yang sudah teratur dari semula
3. Ateisme adalah seseorang yang berpandangan tentang pengingkaran adanya
Tuhan yang berarti menolak terhadap kepercayaan adanya Tuhan

15

16

DAFTAR PUSTAKA
Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1973)
Lihat, Encyclopedia of Philosophy, vol. 8
HM. Rasyidi, Filsafat Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1965)
Frederick Coplestone, A History of Philosiphy: Walff to Kant. Vol. 6, 1990
Antony Flew, A Dictionary of Philosophy, (New York : Santo Martins Press,
1984),
Steven M. Cahn, Reason at work : Introductory reading ini Philosophy, (FloridaUSA : Hacourt Brace, Jevenoivich, 1984)
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung : Rosda Karya, 1993)
Ahmad Hanafi, Theologi Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1974)
Majid Fakhri, A History Of Islamic Philosophy, (New York : Columbia
University Press and Longman, 1983
George.N.Atiyeh, Al-Kindi : The Philosopher Of The Arab, (Rawal Pindi : Islamic
Research Institue, 1996
Taib Thahir Abdul Muin, Ilmu Kalam, (Jakarta : Widjaya, 1992
Harun Nasution, Falsafah Dan Mistisisme Dalam Islam,(Jakarta:Bulan Bintang,
1990
Oliver Leamon, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, (Cambridge
Harvard: University Press, 1985
Sheeds, Dogmatic Theology, Vol. I-III (USA: Thomas Nelson Publisher, 1980
Anonimus, Encyclopedia of Philosophy, vol. 1-8 (New York-London : Macmillan
Publishing Co. In & The Free Press, 1972
The Lexicon Webster Dictionary, (USA : The English Language Institue of
America: 1977
the Encylopedi Americana, vol. II (USA : Americana Corporation, 1977
Louis Berkhof, Systematic Theology, (USA : WM.B. Eerdmans Publishing, 1981

17

Charles Hartshorne dan Willian Reese, Philosopher speak of God, (ChicagoLondon : The University of Chicago Press, 1976
Norman L. Geisler dan William Watkins, Perspective Understanding and
Evaluating Todays Views, (California : Heres Life Publishing, Inc., 1984