Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

Fraktur Patologis Femur Sinistra 1/3 Proksimal


Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Bedah

Diajukan Kepada :
Pembimbing : dr. Rudiansyah, Sp.OT

Disusun Oleh :
Harits Hammam Adhadi

H2A011023

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Bedah

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
RSUD Dr. ADHYATMA, MPH
2016

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN KLINIK


ILMU BEDAH

Laporan Kasus
Fraktur Patologis Femur Sinistra 1/3 Proksimal

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


di Bagian Ilmu Bedah
Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo
Disusun Oleh:
Harits Hammam Adhadi

H2A011023

Telah disetujui oleh Pembimbing:

Nama pembimbing

Tanda Tangan

dr. Rudiansyah, Sp.OT

.............................

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi,
tulang rawan epifise, baik yang bersifat total maupun parsial. Berbagai
penyebab fraktur diantaranya cidera atau benturan, faktor patologik, dan
yang lainnya karena faktor beban. Selain itu fraktur akan bertambah
dengan adanya komplikasi yang berlanjut diantaranya syok, sindrom
emboli lemak, sindrom kompartement, kerusakan arteri, infeksi, dan
avaskuler nekrosis. Komplikasi lain dalam waktu yang lama akan terjadi
mal union, delayed union, non union atau bahkan perdarahan.1
Fraktur patologis adalah yang terjadi pada tulang yang telah
melemah oleh kondisi sebelumnya. Kondisi yang paling sering
bertanggung jawab atas fraktur patologis diantaranya metastasis keganasan
atau multipel myeloma. Pada anak-anak, kondisi seperti osteogenesis
imperfekta, osteoporosis atau defisiensi nutrisi (penyakit Paget, scurvy)
bisa juga menyebabkan fraktur patologis. Bisa juga disebabkan oleh
penyakit-penyakit jinak pada tulang yang menyebabkan kelemahan,
seperti kiste, enchondroma, kiste aneurisma dan displasia fibrosa.
Kelainan metabolik yang menyebabkan hilangnya sebagian besar substansi
pada tulang seperti osteoporosis, osteomalasia, hyperthyroid juga
menyebabkan lebih mudah fraktur.1,2

BAB II
CATATAN MEDIS

I.

IDENTITAS PENDERITA
a. Nama
: Ny. S
b. Usia
: 50 tahun
c. Jenis kelamin
: Perempuan
d. Agama
: Islam
e. Suku
: Jawa
f. Alamat
: Senden, Jatiajar, Kab. Semarang
g. Pekerjaan
:h. Status
: Menikah
i. Nomor RM
: 504324
j. Tanggal masuk RS
: 30 Mei 2016

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 2 Juni 2016
pada pukul 14.00 WIB
a. Keluhan utama: nyeri pada paha kiri
b. RPS :
Pasien Ny. S datang ke poli bedah onkologi pada hari senin (30/5)
untuk kontrol sehabis operasi benjolan di leher. Kemudian pasien dirujuk
dari poli onkologi ke poli ortopedi karena paha kiri terasa nyeri dan tidak
bisa digerakkan.
5 bulan yang lalu pasien merasakan nyeri pada tungkai atas kanan
karena pasien terjatuh saat ingin ke kamar mandi. Setelah jatuh pasien
mengatakan kakinya nyeri dan bengkak, masih bisa berjalan tapi terseok
seok. Tidak ada keluhan BAB dan BAK. Pasien sudah mencoba berobat ke
Rumah sakit di Salatiga, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Ken Saras.
Pasien disarankan operasi tapi dengan syarat pasien harus naik kelas.
Kemudian pasien menolak dan pulang atas keinginan sendiri.
2 minggu yang lalu, pada hari rabu ( 18/5 ) pasien menjalani operasi
tumor di leher di RS Tugu. Setelah di PA hasilnya adalah follicular
carcinoma thyroid. Setelah operasi pasien merasakan sakit sekali pada paha
kirinya. Pasien tidak bisa lagi menggerakkan kaki kirinya karena nyeri dan
tidak bisa berjalan.
c. RPD :
Riwayat fraktur
Riwayat operasi
Riwayat Hipertensi

: disangkal
: Operasi tumor di leher ( 18 - 05 - 2016 )
: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung


: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
d. RPK :
Riwayat Hipertensi
: disangkal
Riwayat Penyakit Jantung
: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
e. Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien sudah tidak bekerja, biaya pengobatan menggunakan BPJS,
kesan ekonomi kurang.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 2 Juni 2016 pukul 14.30 WIB
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran

: GCS 15 (E4M6V5)

Tanda vital

TD
Nadi
RR
T

: 110/70 mmHg
: 90 x / menit (reguler, isi dan tegangan cukup)
: 22 x /menit (reguler)
: 37C (axiler)

Status Gizi

BB

: 51 kg

TB

: 150 cm

IMT

: 22,7 kg/m2

Kesan gizi : normoweight


Status interna
Kepala
Mata
Hidung
Telinga

: kesan mesocepal
: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/: nafas cuping (-), deformitas (-), secret (-)
: serumen ( - ), nyeri tekan mastoid ( - ), nyeri tekan

tragus ( - )
Mulut

: sianosis (-), bibir pecah pecah (-)

Leher

: Pembesaran tiroid (-), Luka bekas operasi (+)

penggunaan otot bantu nafas (-)


Thorax
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: ictus cordis tidak tampak


: ictus cordis teraba, nyeri tekan (-)
:

Batas kanan bawah jantung

: ICS 5 linea parasternal

dextra
Batas kiri bawah jantung

: ICS 5 linea mid clavicula

sinistra
Pinggang jantung

: ICS 3 linea parasternal

sinistra
batas atas jantung

: ICS 2 linea parastrenal

sinistra
Auskultasi
: bunyi jantung dalam batas nomal, tidak ada suara
tambahan.

Pulmo
Tampak Depan

Tampak Belakang

SD Vesikuler

SD

Vesikuler
Wheezing (-), ronki (-)
Paru
Depan
Inspeksi

Wheezing (-), ronki (-)

Dextra

Sinistra

Normochest, simetris, kelainan Normochest, simetris, kelainan


kulit (-), sudut arcus costa dalam kulit (-), sudut arcus costa dalam
batas normal, SIC dalam batas batas normal, SIC dalam batas

Palpasi

normal
normal
Pengembangan pernafasan paru Pengembangan pernafasan paru
normal
normal
Simetris, nyeri tekan (-), SIC Simetris, nyeri tekan (-), SIC
dalam

batas

normal,

taktil dalam

batas

normal,

taktil

Perkusi
fremitus normal. Gerak dada tidak fremitus normal. Gerak dada
Auskultasi
ada yang tertinggal, massa (-)
tidak ada yang tertinggal, massa

Sonor seluruh lapang paru


(-)
Suara dasar vesicular, wheezing Sonor seluruh lapang paru
Suara dasar vesicular, wheezing
(-), ronki (-)
(-), ronki (-)
Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

Ekstremitas
Warna kulit

: datar, warna kulit sama dengan sekitar


: bising usus normal
: timpani seluruh regio abdomen
: nyeri tekan (-)

:
Superior
Sama
daerah

Inferior
dengan Sama
sekitas

sama

/ sekitar

dengan
/

sama

dengan dengan sekitar

Vulnus laserasi

sekitar
-/-

-/-

Hematom

-/-

-/-

Deformitas

-/-

-/+

Oedem

-/-

-/-

Parestesi

-/-

-/-

Nyeri

-/-

-/+

Gerak aktif

Bebas/bebas

bebas / Terbatas

Gerak pasif

Bebas/bebas

bebas / Terbatas

Capillary Refill

< 2 detik/< 2 detik

< 2 detik/< 2 detik

Akral dingin

-/-

-/-

Status Lokalis
Regio femoris sinistra
a. Inspeksi
Look :
Pemendekan 4 cm, luka (-), edema (-), tak tampak sianosis pada bagian

distal lesi.
b. Palpasi
Feel :
Nyeri tekan setempat (+),vaskularisasi baik a.dorsalis pedis (+) ,
capillary refil (+) < 2 detik, sensibilitas baik.
c. Movement
Nyeri pada saat digerakan (+) sendiri maupun saat digerakan oleh
pemeriksa. Gerakan aktif dan pasif terhambat nyeri

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
Pemeriksaan
Hematologi
darah rutin :
Hemoglobin
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit

Hasil

Nilai Rujukan

11,50 L
9,23
3,86
34,80 L

11,7-15,5 g/dl
3,6-11 ribu
3,8-5,2 juta
35 47 %

MCV
MCH
MCHC
Trombosit
Calsium
T3
T4
TSH
b.

90,20
29,80
33,00
560 H
9,4
2,79 H
187,44 H
< 0,05 L

80 100
26 34
32 36
150 440 ribu
8,1-10,4 mg/dL
0,92-2,33 nmol/L
60-120 nmol/L
Euthyroid : 0.25 5
Hipothyroid : > 7
Hiperthyroid : < 0.15

Radiologi
X-foto pelvis

Struktur tulang normal


Tampak discontinuitas dan detruksi Femur kiri 1/3

proksimal
Sela sendi tak menyempit
Sacro illiac joint (+)
Coxae tampak normal

Kesan : Destruksi dan fraktur patologis femur kiri 1/3


proksimal
II.

RESUME
5 bulan SMRS pasien terjatuh dirumahnya saat ingin ke kamar
mandi. Setelah terjatuh pasien merasakan nyeri pada paha kirinya.
Pasien masih dapat berjalan walaupun terseok seok. 2 minggu SMRS
pasien menjalani operasi benjolan pada leher dan setelah dioperasi
pasien merasakan nyeri sekali pada paha kirinya sehingga membuat
pasien tidak bisa menggerakkan kaki kirinya dan tidak bisa berjalan.
Pada pemeriksaan status lokalis didapatkan pemendekan 4 cm,

nyeri tekan (+), Nyeri pada saat digerakan (+) sendiri maupun saat
digerakan oleh pemeriksa. Gerakan aktif dan pasif terhambat nyeri,
Pada X-foto pelvis didapatkan discontinuitas dan detruksi Femur kiri
1/3 proksimal, kesan Destruksi dan fraktur patologis femur kiri 1/3
proksimal.
III.

DIAGNOSIS
Fraktur patologis femur kiri 1/3 proksimal

IV.

INNISIAL PLAN
Diagnosis kerja : Fraktur patologis femur kiri 1/3 proksimal
a. Ip Terapi :
- Infus RL 20 tpm
- Propiltiourasil 3 x 100
- Inj. Dexketoprofen (3 x 1 ampul)
- Rujuk spesialis penyakit dalam Hipertiroid
- Rujuk spesialis onkologi Follicular carcinoma thyroid
- Rujuk bedah ortopedi pro ORIF
b. Ip Monitoring :
- Keadaan umum
- Tanda vital
c. Ip. Edukasi :
- Menjelaskan kepada keluarga dan pasien tentang penyakit
yang dialami pasien
- Menjelaskan kemungkinan perlunya tindakan operasi.
- Menjelaskan komplikasi jika patah tulang tidak segera
diperbaiki

V.

VI.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad sanam
Quo ad fungsionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

RONTGEN POST OP
06 06 2016

10

Post internal fiksasi


Posisi baik
Garis fraktur (+)
Tampak reaksi litik pada
femur 1/3 proksimal dan
1/3 distal

PA 06 06 2016
- Metastase
karsinoma
thyroid
pada
subtrochanter
femur
sinistra

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A.

Definisi3
Fraktur patologis adalah fraktur akibat lemahnya struktur tulang oleh
proses patologik, seperti neoplasia, osteomalasia, osteomielitis, dan penyakit

B.

lainnya. Disebut juga secondary fracture dan spontaneous fracture.


Anatomi dan Fisiologi4,5
Tulang dideskripsikan sebagai jaringan. Disebut juga dengan sel
tulang yang dikenal dengan nama osteosit, dan matriks tulang terbuat dari
garam kalsium dan kolagen. Garam kalsium merupakan kalsium karbonat
dan kalsium fosfat, yang memberikan kekuatan pada tulang yang
membutuhkan untuk berfungsi sebagai penyokong dan pelindung. Matriks
tulang tidak menetap, tetapi terus berganti secara konstan, dengan kalsium
yang diambil dari tulang kedalam darah digantikan dengan kalsium diet.
Dalam keadaan normal, jumlah kalsium yang berkurang digantikan dengan

11

jumlah yang sama oleh kalsium yang tersimpan. Osteosit dapat bertindak
sebagai mekanosensor yang memberikan signal yang dibutuhkan untuk
pemodelan tulang dan pembentukan kembali sebagai perbaikan dari
perubahan mikroarsitektural didalam matriks tulang. Osteosit dapat
mendeteksi level perubahan hormon, seperti esterogen dan glukokortikoid
yang berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup.
Tulang sebagai organ, dua tipe dari jaringan tulang yang selalu ada,
yaitu tulang kompakta yang bentuk sangat padat tetapi sangat terstruktur.
Tulang kompakta terbuat dari osteon atau sistem havers, keadaan
mikroskopik dari silinder tulang matriks dengan osteosit dalam cincin
konsentris mengelilingi kanalis havers sentralis. Didalam kanalis havers
terdapat pembuluh darah, osteosit terhubung dengan pembuluh darah dari
satu dengan yang lainnya sepanjang mikroskopis dari canaliculi pada
matriks.

Tipe kedua dari jaringan tulang adalah tulang spons, terdapat

osteosit, matriks,dan pembuluh darah tetapi tidak tersusun dalam sistem


havers.
Osteoblas merupakan sel mesenchymal yang berlokasi pada
permukaan mineral matriks dan bertanggung jawab sebagai pembentukan
tulang baru. Dan juga sebagai sintesis dan pengatur regulasi dan juga
mineralisasi dari matriks ekstraselular. Sedangkan osteoklas merupakan
polikaryon besar yang berisi 3 sampai 30 nuklei. Tipikal sel ini mengandung
banyak lisosom, mitokondria, dan kompleks golgi yang luas. Dibawah
kondisi normal, osteoklas jarang ditemukan di tulang, tetapi terlihat banyak
pada tulang metafisis yang berkembang atau pada tulang trabekular pada
postmenopausal osteoporosis.
Klasifikasi dari tulang :

Tulang panjang tulang dari lengan, paha, tangan, dan kaki


(tetapi tidak termasuk pergelangan tangan dan pergelangan
kaki). Batang dari tulang panjang merupakan diafisi dan
ujungnya disebut epifisi. Diafisis terbentuk dari tulang

12

kompkta. Canalis medulary terdiri dari sumsum tulang

belakang kuning yang merupakan jaringan adipose.


Epifisis terbentuk dari tulang spons yang terlindungi oleh
lapisan tipis dari tulang kompakta. Meskipun sumsung tulang
merah paling banyak pada epifisis anak-anak, tetapi ketika

dewasa terganti dengan sumsum tulang kuning.


Tulang pendek tulang ini terdiri dari pergelangan tangan
dan pergelangan kaki

C.

Etiologi5
Suatu fraktur yang terjadi pada tulang yang abnormal. Hal ini dapat di
karenakan oleh:5

Kongenital : misalnya osteogenesis imperfekta, displasia fibrosa.


Peradangan : misalnya osteomielitis.
Neoplastik : benigna : misalnya enkhondroma,
maligna : primer, misalnya osteosarkoma, mieloma
sekunder, misalnya paru-paru, payudara, tiroid, ginjal, prostat
Metabolik : misalnya osteomalasia, osteoporosis, panyakit Paget.

D.

Diagnosis1,6,7,8,9,10
1. Osteogenesis Imperfekta

Golongan ini terdapat pada bayi yang lahir telah mati dengan tulang-

13

tulang diseluruh kerangka mengandung fraktura-fraktura banyak sekali.


Mayat bayi tadi seakan-akan merupakan suatu kantongan kulit yang
berisikan pecahan-pecahan tulang.
Osteogenesis Imperfekta Infantilis : Pada jenis ini bayi masih lahir
hidup, akan tetapi mengandung kelainan-kelainan berat diantaranya pada
bayi ini juga terdapat beberapa fraktura. Bentuk kepala besar sedang
tulang-tulangnya tidak kuat. Setiap kali tumbuh fraktura-fraktura baru,
akhirnya anak tadi meninggal sesudah hidup 1 atau 2 tahun.
Osteogenesis Imperfekta Tarda : Pada jenis ini anak pada waktu
lahir belum menunjukkan gejala-gejala yang menonjol. Setelah bayi
tumbuh menjadi anak, misalnya pada umur 4, 5, 6 tahun, maka semakin
jelas adanya gejala-gejala, berupa :
a.
b.
c.

Tulang tumbuhnya terbelakang.


Selaput mata tidak putih tetapi biru.
Mudah timbul fraktura walaupun hanya dengan trauma yang

d.

sangat kecil.
Tulang kepala lebar pada kening kepala. Pada jenis ini anak
mungkin dapat mencapai umur belasan tahun, akan tetapi

2.

kebanyakan dari mereka tidak akan hidup lama.


Displasia Fibrosa
Merupakan kelainan kongenital yang tak diketahui etiologinya. Bisa
poliostotik atau monostatik. Terdapat proliferasi osteoklast dengan
destruksi tulang dan diganti dengan jaringan fibrosa. Tak ada perubahan
biokimia selain dari peningkatan fosfatase alkali. Bentuk monostatik lebih
lazim mengenai femur, iga-iga, tibia dan tulang wajah. Sindroma Albright
merupakan displasia fibrosa dengan lesi kulit berpigmentasi dan pubertas
prekok atau perubahan endokrin lain oleh terkenanya regio sella.

3.

Osteomielitis
Osteomielitis primer dapat dibagi menjadi osteomielitis akut dan
kronik. Fase akut ialah fase sejak terjadinya infeksi sampai 10-15 hari.
Pada fase ini anak tampak sangat sakit, panas tinggi, pembengkakan dan
gangguan fungsi anggota gerak yang terkena. Pada pemeriksaan

14

laboratorium ditemukan laju endap darah yang meninggi dan lekositosis,


sedang

gambaran

radiologik

tidak

menunjukkan

kelainan.

Pada

osteomielitis kronik biasanya rasa sakit tidak begitu berat, anggota yang
terkena merah dan bengkak atau disertai terjadinya fistel. Pemeriksaan
radiologik ditemukan suatu involukrum dan sequester.
4.

Enkhondroma
Merupakan tumor benigna sejati, terdiri dari sel-sel kartilago yang
timbul pada tulang walau asalnya kartilago epifisis. Paling sering pada
tulang panjang yang berukuran `pendek` pada tangan yang cenderung
memasuki medulla dan dikenal sebagai enkhondroma. Kadang-kadang
timbul pada tulang yang datar seperti pada ileum, yang menonjol kea rah
luar membentuk suatu ekkondroma. Secara klinis enkhondromata pada
tulang tangan sering terlewatkan kecuali korteks yang menipis
menyebabkan fraktura.
Khondroma

pada

tulang

panjang

utama

bisa

menjadi

khondrosarkoma bila mengalami perubahan menjadi ganas. Ini sebaiknya


diduga jika tumor kartilago pada orang dewasa mulai membesar. Massa
kartilago multipel pada tulang panjang utama akibat kegagalan barisan
kartilago epifisis menjadi tulang.
5.

Osteosarkoma
Gejala yang ditampilkan berupa nyeri yang bersifat tumpul dan
menetap dan ini sebaliknya bisa menarik perhatian ke pembengkakan
tulang. Kemudian karena pertumbuhan progresif dan destruksi tulang yang
normal meningkat, bisa terjadi fraktura patologik. Penyebaran metastatik
paru-paru tetapi kadang-kadang menyebar ke tulang yang lain. Prognosa
jelek, hanya kira-kira seperlima pasien dapat bertahan hidup untuk lima
tahun.

6.

Mieloma Multipel
Pasien biasanya orang dewasa usia pertengahan dan nyeri
merupakan gejala yang lazim. Bisa berupa nyeri yang tersebar karena
deposit tulang yang multipel atau timbul mendadak pada satu tempat,

15

karena fraktura patologik terutama pada pinggang sebagai akibat


kolapsnya korpus vertebrae. Kemudian destruksi sumsum tulang merah
menyebabkan anemia berat .
7.

Osteomalacia
Osteomalasia adalah karakteristik yang ditandai oleh kerusakan
mineralisasi dari kekurangan kalsium dan fosfat. Hal ini mengakibatakan
tidak cukupnya penyerapan oleh traktus gastrointestinal, kurangnya
paparan sinar matahari, dan gangguan metabolism vitamin D seperti
kekurangan

hydroxylase,

peningkatan

ekskresi

renal,

peningkatan

katabolisme, atau induksi obat (contoh: fluoride, etidronate). Kurangnya


vitamin D dari hasil penurunan konsentrasi serum kalsium dan kerusakan
mineralisasi tulang. Dalam beberapa kasus osteomalasia juga dapat terjadi
karena kurangnya mineralisasi.
Gambaran klinis pesien biasanya mengeluh nyeri tulang, kelemahan
otot dan adanya fraktur tulang yang terjadi dengan cedera yang kecil,
peningkatan serum alkalin fosfat. Gambaran radiologis, penyebab paling
umum adalah karena osteodistrofi ginjal. Melalui foto polos ditemukan
penyebabnya hampir identik dengan osteoporosis, dan hampir tidak dapat
dibedakan. Dari foto polos untuk osteomalacia dapat ditemuakan
penurunan densitas tulang secara umum, Loosers zone (pseudofraktur)
pita translusen yang sempit pada tepi kortikal yang merupakan fraktur
pada lapisan osteoid besar. Penyakit ini sangat jarang terjadi tetapi
cenderung terjadi pada tulang paha, panggul, dan scapula.

Gambar 12

16

Foto polos pelvic menunjukkan bilateral


lucencies pada leher inferomedial femoralis
(panah), dengan patah tulang insufisiensi

8.

Osteoporosis
Gambaran Klinis :
Tidak ditemukan manifestasi klinis sampai ditemukan adanya
fraktur. Osteoporosis yang terkait dengan fraktur paling sering terjadi
pada daerah yang mempunyai massa tulang rendah.
Gambaran Radiologis :
Penilitian kepadatan tulang menggunakan dual foton X-ray
absorptiometry

(DEXA)

dapat

mengkonfirmasi

kehadiran

osteoporosis dan mengukur tingkat keparahan dari osteoporosis.


Gambaran radiologis osteoporosis umum dengan penonjolan
pola trabecular tulang terutama pada tulang belakang, hilangnya
densitas tulang, fraktur patologis sering dijumpai.
Film polos tidak sensitif dan tetap normal pada tahap awal
osteoporosis. 50-70% dari kehilangan tulang dapat terjadi sebelum
osteoporosis terdeteksi pada film biasa. Fitur utama dari osteoporosis
adalah penipisan tulang kortikal dan resorpsi tulang trabekula dapat
terlihat pada X-ray dengan kepadatan tulang yang menurun. Tulang
tampak lebih radiolusen, gelap pada film polos.

Penipisan dari

tulang kortikal dapat dengan mudah diidentifikasikan pada gambar


CT. Dimana resorpsi tulang trabekular terjadi pada tahapan
kepadatan tulang rendah karena perubahan hubungan antara
kuantitas tulang dan susmsum tulang.
9.

Penyakit Paget
Penyakit ini dinamakan juga osteitis deformans dan walaupun
gejala-gejalanya jelas, tetapi sebab musababnya belum diketahui. Penyakit
ini dapat bersifat monostotic atau poliostotic. Monostotic ialah jika gejalagejala terdapat pada satu tulang tertentu dan poliostotic jika gejala-gejala
terdapat pada beberapa tulang dari tubuh. Pada tulang yang terkena

17

penyakit ini terdapat tempat-tempat di mana ada perlunakan dan


deformitas, di samping perluasan dan pertumbuhan tulang-tulang baru.
Histopatologis pada tulang-tulang tadi terdapat jaringan granulasi dan sel
osteoklast. Tulang-tulang terutama tulang panjang, dapat membengkok dan
dengan demikian menyukarkan fungsi tubuh. Gejala-gejala tadi disertai
rasa nyeri sehingga penderita pada umumnya terpaksa tinggal di tempat
tidur. Penyakit ini hanya terdapat pada orang-orang yang telah dewasa.1
10. Tumor Tulang Sekunder
Merupakan jenis tumor tulang ganas yang sering didapat.
Kemungkinan tumor tulang merupakan tumor metastatik harus selalu
difikirkan, pada penderita yang berusia lanjut. Pada usia dewasa/lanjut
jenis keganasan yang sering bermetastase ke tulang ialah karsinoma
payudara, paru-paru, lambung, ginjal, usus, prostat dan tiroid.
Sedang pada anak-anak ialah neuroblastoma. Penderita-penderita
yang meninggal akibat karsinoma, pada pemeriksaan bedah mayat ternyata
paling sedikit seperempatnya menunjukkan tanda-tanda metastase ke
tulang. Sel-sel anak sebar mencapai tulang dengan melalui jalan darah,
saluran limfe atau dengan cara ekstensi langsung. Sumsum tulang
merupakan tempat yang subur untuk pertumbuhan sel-sel anak sebar,
dengan demikian tulang vertebra, pelvis, iga dan bagian proksimal tulangtulang panjang merupakan tempat yang paling sering dihinggapi oleh selsel anak sebar. Pada penderita dengan kemungkinan keganasan tulang
metastatik, maka harus dilakukan pemeriksaan pada semua tulang
misalnya dengan bone survey atau bone scan. Keluhan penderita yang
paling menonjol ialah rasa sakit. Rasa sakit dapat diakibatkan oleh fraktur
patologis. Dalam beberapa keadaan justru lesi metastatik di tulang yang
terlebih dulu ditemukan dan didiagnosis, dimana hasil pemeriksaan
mikroskopik menunjukkan suatu jenis neoplasma tulang metastatik yang
kadang-kadang jaringan asalnya sulit ditentukan, sehingga harus dicari
dengan cermat lokasi daripada tumor primernya.
Pada umumnya tumor metastatik akan mengakibatkan gambaran

18

osteolitik, sedang pada metastase Ca prostat nampak gambaran


osteoblastik/osteoklerosis. Kadar Ca meninggi karena terjadi pelepasan
kalsium ke dalam darah akibat proses resorbsi osteoblastik pada tulangtulang. Adanya pembentukan tulang reaktif ditandai oleh kadar fosfatase
alkali yang meningkat. Pada metastase Ca prostat, kadar fosfatase asam
meninggi.
E.

Penatalaksanaan 7,8,13,14
1.

Osteogenesis Imperfekta
Pada kasus-kasus yang lebih ringan tak diperlukan pengobatan
spesifik. Fraktur yang terjadi akan menjalani jalan yang normal. Pada
kasus-kasus yang lebih berat, kadang-kadang mungkin mengkombinasi
koreksi deformitas dengan memperkuat tulang yaitu memasukkan pasak
intrameduler di seluruh panjang tulang.

2.

Displasia Fibrosa
Pengobatan penyakit ini berupa biopsi lesi diikuti tindakan
memadatkan defek ini dengan bone chips.

3.

Osteomielitis
Penatalaksanaan osteomielitis akut ialah :
a.
b.
c.
d.

Perawatan di rumah sakit.


Pengobatan suportif dengan pemberian infus dan antibiotika.
Pemeriksaan biakan darah.
Antibiotika yang efektif terhadap gram negatif maupun gram positif
(broad spectrum) diberikan langsung tanpa menunggu hasil biakan

darah, dan dilakukan secara parenteral selama 3-6 minggu.


e. Immobilisasi anggota gerak yang terkena.
f. Tindakan pembedahan.
Banyak peneliti yang melakukan tindakan pembedahan seperti yang
dilakukan oleh TRUETA dengan alasan :
a. Dapat menegakkan diagnosis dan untuk pemeriksaan sensitivitas.
b. Mengurangi gangguan vaskularisasi yang disebabkan oleh penekanan.
c. Mengurangi rasa sakit dengan melakukan dekompresi terhadap jaringan
yang terinfeksi.
Pembedahan pencegahan ini tidak memberi hasil memuaskan dan

19

tindakan bedah sebaiknya dilakukan bila telah teraba suatu abses.


Osteomielitis kronik tidak dapat sembuh sempurna sebelum semua
jaringan yang mati disingkirkan. Antibiotika dapat diberikan secara
sistemik atau lokal.
Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah :
a.
b.
c.
d.

Adanya sequester
Adanya abses
Rasa sakit yang hebat
Bila mencurigakan adanya perubahan kea rah keganasan (karsinoma
epidermoid).
Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan adalah

bila involucrum telah cukup kuat : mencegah terjadinya fraktur pasca


pembedahan.
4.

Enkhondroma
Di tempat enkhondroma menyebabkan erosi kortikal tulang besar,
sebaiknya dikuret ke luar dan kavitasnya diisi dengan cancellous bone
chips tetapi biasanya tak memerlukan pengobatan. Fraktura spontan
terjadi untuk merangsang pembentukan tulang baru, sehingga seringkali
tak hanya terjadi union tetapi juga diikuti regresi tumor.

5.

Osteosarkoma
Bergantung pada staging (dari Enneking) yaitu dinilai keganasan
tumor dan kompartemen yang terkena metastasis dapat dilakukan limb
salvage atau limb ablation/amputation.
Eradikasi dengan mempertahankan anggota gerak.
- Reseksi tulang dan rekonstruksi.
- Pemberian kemoterapi, radioterapi, obat simptomatis.
Eradikasi dengan amputasi.
- Amputasi, kemoterapi, radioterapi dan obat simptomatis (adjuvant
therapy).
Paliatif :
- Dengan pembedahan/amputasi, kemoterapi, obat simptomatis/ajuvan.
- Tanpa pembedahan, kemoterapi, obat simptomatis.

20

6.

Mieloma Multipel
Lesi lokal bereaksi baik terhadap radioterapi, yang pada kasus
fraktura patologik tulang panjang bisa dikombinasi dengan fiksasi interna.
Tindakan umum untuk memperpanjang usia berupa penggunaan obat
sitotoksik misalnya siklofosfamid atau melfalan dan pemberian steroid
dosis besar. Anemia bisa dikontrol dengan transfusi darah secara berulang.

7.

Osteomalasia
Dapat diberikan metabolit vitamin D yang aktif. Absorpsi kalsium
diintestin meningkat dan kadar kalsium serum kembali normal serta
terdapat penurunan kadar fosfatase alkali yang telah meningkat tinggi
sebelumnya dan hormon paratiroid.

8.

Osteoporosis
Prinsip pengobatan pada osteoporosis adalah :
-

Meningkatkan

pembentukan

tulang,

obat-obatan

yang

dapat

meningkatkan pembentukan tulang adalah : Na-fluorida dan steroid


anabolik.
- Menghambat resorbsi tulang, obat-obatan yang dapat menghambat
resorbsi tulang adalah : kalsium, estrogen, kalsitonin dan difosfonat.
Pencegahan terjadinya osteoporosis dapat dilakukan sedini mungkin,
yaitu sejak pada pertumbuhan/dewasa muda. Percegahan osteoporosis
pada usia muda, mempunyai tujuan :
- mencapai massa tulang dewasa (proses konsolidasi) yang optimal
- mengatur makanan dan kebiasaan gaya hidup yang menjamin seseorang
tetap bugar
contoh :

diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)

latihan teratur tiap hari

hindari : makanan tinggi protein, minum alkohol,


merokok,

minum

kopi,

mengandung aluminium.
9.

Penyakit Paget

21

minum

antasida

yang

Nyeri dapat dihilangkan dengan analgesik. Tetapi penggunaan


radioterapi ditolak karena ia kemudian bisa menyebabkan jeleknya
penyembuhan fraktura dan bisa meningkatkan sarkoma.
Mithramisin merupakan antibiotika sitotoksik yang mempunyai
efek langsung pada sel tulang. Telah dilaporkan untuk menghilangkan
nyeri pada penyakit Paget dan untuk mengurangi fosfatase alkali serum.
Tetapi menimbulkan efek samping gastrointestinal dan toksisitas.
Difosfonat telah diberikan per oral dan telah memperlihatkan
perbaikan parameter biokimia penyakit ini tetapi dapat menginduksi
osteomalasia.
Kalsitonin menghambat resorbsi tulang sehingga mengurangi
penggantian tulang yang meningkat secara abnormal. Akibatnya aktivitas
seluler menjadi lebih teratur dan terlihat juga penyembuhan dalam
radiograf skelet. Kalsitonin diberikan subkutan untuk masa tertentu dan
tak tercatat adanya efek samping yang serius. Sementara ini kalsitonin
merupakan pengobatan penyakit Paget yang paling rasional.12
10. Tumor Tulang Sekunder
Terapi bersifat paliatif, karena penderita sudah berada dalam
stadium lanjut. Terapi ditujukan pada jenis karsinoma primernya yang
dapat berupa radioterapi, kemoterapi ataupun hormon terapi. Terapi dari
segi bedah adalah terhadap fraktur patologis yang mungkin memerlukan
fiksasi secara eksternal atau internal, agar supaya penderita dapat
diimmobilisasi tanpa merasa kesakitan. Bila perlu dapat dilakukan fiksasi
internal terhadap tulang-tulang ekstremitas sebelum tulang tersebut
mengalami fraktur, jadi baru diperkirakan akan fraktur bila proses pada
tulang dibiarkan berjalan terus (impending fracture).
F.

Prognosis1
Kebanyakan fraktur patologis dapat menyatu, karena laju deposisi pada
penyembuhan fraktur lebih cepat daripada laju resorbsi penyakit yang
mendasari fraktur tersebut. Fraktur patologis pada osteomielitis tidak akan
menyatu sampai infeksi bisa terkontrol. Pada neoplasma ganas seperti

22

osteosarkoma, laju deposisi dan resorpsi tulang bisa sama cepat, sehingga
bisa terjadi delayed union dan merupakan suatu indikasi amputasi. Fraktur
patologis akibat metastasis neoplasma pada ekstrimitas biasanya memerlukan
G.

fiksasi internal dikombinasi dengan terapi radiasi dan hormonal.


Komplikasi
Komplikasi Dini
Syok: dapat terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat
tertutup.
Emboli lemak.
Trauma Pembuluh darah.
Trauma Saraf.
Infeksi.
Komplikasi Lanjut
Delayed union: fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam
4 bulan.
Nonunion: apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai
adanya nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft.
Malunion: bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, maka
diperlukan pengamatan terus menerus selama perawatan. Angulasi sering
ditemukan. Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai
sehingga dieprlukn koreksi berupa osteotomi.
Kaku sendi lutut: setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan
pergerakan pada sendi lutut. Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi
periartikuler atau adhesi intrmuskuler. Hal ini dapat dihindari apabila
fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal.

23

BAB IV
KESIMPULAN
5 bulan SMRS pasien terjatuh dirumahnya saat ingin ke kamar mandi.
Setelah terjatuh pasien merasakan nyeri pada paha kirinya. Pasien masih dapat
berjalan walaupun terseok seok. 2 minggu SMRS pasien menjalani operasi
benjolan pada leher dan setelah dioperasi pasien merasakan nyeri sekali pada paha
kirinya sehingga membuat pasien tidak bisa menggerakkan kaki kirinya dan tidak
bisa berjalan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pemendekan 4 cm, nyeri tekan (+), Nyeri
pada saat digerakan (+) sendiri maupun saat digerakan oleh pemeriksa. Gerakan
aktif dan pasif terhambat nyeri, Pada X-foto pelvis didapatkan discontinuitas dan
detruksi Femur kiri 1/3 proksimal, kesan Destruksi dan fraktur patologis femur
kiri 1/3 proksimal.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis sementara
suspek fraktur femur. Pasien dilakukan pemeriksaan X-foto pelvis .
Pada pemeriksaan penunjang X-foto pelvis didapatkan discontinuitas dan
detruksi Femur kiri 1/3 proksimal, kesan destruksi dan fraktur patologis femur kiri
1/3 proksimal. Diagnosis akhir didapatkan fraktur patologis femur kiri 1/3
proksimal. Pada Pasien dilakukan ORIF.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Soeharso, Penyakit-penyakit Orthopaedie dalam Pengantar Ilmu Bedah
Orthopaedie, Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta, 1993, hal : 53-207.
2. Eisenberg, RL, Fractures and Joint Injuries in Diagnostic Imaging in
Surgery, McGraw-Hill Book Company, New York, 1987, pp. 707.
3. Douglas, MA, Fracture in Dorland`s Illustrated Medical Dictionary, 28th
Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia, 1994, pp. 662.
4. Rasjad C, Trauma dalam Pengantar Ilmu Bedah Orthopaedi, Bintang
Lamumpatue Ujung Pandang, 1998, hal : 343-525
5. Carter MA, Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam Price SA,
Wilson LM, Patofisiologi Konsep-konsep Klinis Proses- proses Penyakit,
Buku II, edisi 4, EGC, Jakarta, 1994, hal 1175-80.
6. Ekayuda, I, Tumor Tulang dan Lesi yang Menyerupai Tumor Tulang
dalam Rasad, dkk, Radiologi Diagnostik, Gaya Baru, Jakarta, 2000, hal :
74-84
7. Aston, JN, Neoplasma dalam Kapita Selekta Traumatologik dan
Ortopedik, Edisi 3, EGC, Jakarta, 1983, hal :207-221,287-302.
8. Siregar, PUT, Osteomielitis dalam Reksoprodjo, S dkk, Kumpulan Kuliah
Ilmu Bedah FKUI, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta, 1995, hal : 472-484.
9. Enitza D. George, M.D., and Richard Sadovsky, M.D., M.S. Multiple
Myeloma: Recognition and Management, State University of New York
Health Science Center Brooklyn, New York,1999.
10. Aston, JN, Kelainan Metabolisme dalam Kapita Selekta Traumatologik
dan Ortopedik, Edisi 3, EGC, Jakarta, 1983, hal : 315-322.
11. Lee S. Simon, MD, Osteoporosis: Etiology and Pathogenesis, Associate
Professor of Medicine, Beth Israel Deaconess Medical Center, Harvard
Medical School, Boston, Massachusetts, 2004.
12. Aston, JN, Kelainan Kongenital dalam Kapita Selekta Traumatologik dan
Ortopedik, Edisi 3, EGC, Jakarta, 1983, hal : 207-221.
13. Nurhasan, Bedah Ortopedi dalam Standar Pelayanan Medik, Pengurus
Besar Ikatan Dokter Indonesia, Jakarta, 1998, hal : 65-97.

25