Anda di halaman 1dari 16

Pemeriksaan Ambang Audiometri Pada Siswa yang

Berusia 10 - 17 Tahun di Canada


Oleh: Andrew M. Marcoux, Katya Feder, Stephen E. Keith, Leonora Marro, Marianne E. James dan
David S. Michaud

Abstrak
Total 237 pelajar, usia 10 sampai 17 tahun, dari 14 sekolah yang menjalani evaluasi
pendengaran. Pemeriksaan otoskopi, timpanometri dan audiometri nada murni dilakukan dengan
frekuensi rendah (0.5,1,2 kHz) dan tinggi (4 dan 8 kHz). Disemua sekolah, ambang pendengaran
diukur dengan headphone dalam portable audiometrik. Informasi sosial demografik dari pelajar
dan orang tua mereka diperoleh dengan kuesioner. Secara keseluruhan prevalensi dari beberapa
gangguan pendengaran lebih besar dari 15 DB adalah 22.3 % rata-rata pada pemeriksaan nada
murni untuk frekuensi tinggi dan rendah. Gejala yang dilaporkan dari gangguan pendengaran
yaitu tinnitus, kesulitan mengikuti percakapan dalam suasana berisik dan dulu sering menonton
atau mendengarkan TV/radio dengan volume keras, berhubungan dengan ambang audiometri,
terutama pada 4 kHz. Ini adalah penelitian yang pertama kali memaparkan tentang karakteristik
kemampuan mendengar dari sampel yang berasal dari pelajar kanada.
I.

PENDAHULUAN
Gangguan pendengaran adalah gangguan sensorik yang umumnya dapat menyebabkan

penurunan kinerja baik disekolah dan interaksi sosial. Digital audio player sangat popular
dikalangan

remaja dan merupakan resiko dari penurunan pendengaran yang mungkin

berhubungan dengan penyalahgunaan alat tersebut dan telah menjadi perhatian dari kesehatan
masyarakat. Review dari Fligor (2009), bukti dari beberapa penelitian menyarankan risiko
kehilangan pendengaran dini diantara sebagian kecil disebabkan oleh pengguna media player.
Namun penelitian yang berhubungan status pendengaran pada anak dan remaja dengan
menggunakan tekni evaluasi audiometrik masih jarang. Seringkali prevalensi gangguan
pendengaran diketahui berdasarkan laporan pribadi atau melalui interview yang dilakukan pada
orang tua, sebuah praktek yang mungkin mengabaikan angka kejadian dari gangguan
pendengaran >15 dB, diukur dengan standar audiometric. Tidak ada data yang melaporkan
tentang status pendengaran anak dan remaja Canada yang mengunakan objektif pengukuran.
1

Mehra et al. (2009) review dari US penelitian representative survey tentang gangguan
pendengaran (1964-2004) dari usia 18 tahun kebawah. Rata-rata pengakuan tentang gangguan
pendengaran dari penelitian ini (dari anak dan pengasuh) adalah 1.9 % (range: 1.3 - 4,9%) yang
menjadi responden mengatakan bahwa mereka mengalami masalah pendengaran 0.27 % dari
mereka mengalami keterbatasan pendengaran atau memahami percakapan. Angka kejadian
sejauh ini masih terbatas. Angka prevalensi sejauh ini masih terbatas hanya atas keluhan
penderita yang memiliki indikasi untuk mengalami gangguan pendengaran yang lebih serius.
Survei tentang gangguan pendengaran tidak dapat diandalkan. Untuk anak dan remaja, gangguan
pendengaran dari 15 dB dapat mempengaruhi perkembangan bahasa dan prestasi akademik (Bess
et al., 1998; Crandell, 1993; Tharpe and Bess, 1991). Pedoman WHO untuk komunikasi bising
memaparkan tentang ambang serendah 10 dB rata-rata lebih dari 2 dan 4 kHz dapat
mempengaruhi pemahaman bekomunikasi di lingkungan yang bising. (WHO, 1999;
Smoorenburg, 1986, 1992). Beberapa penelitian memeriksa status pendengaran anak dan remaja
yang memiliki ambang pendengaran 15 dB untuk mengidentifikasi individu dengan gangguan
pendengaran sensorineural ringan hingga sedang (Berg and Serpanos 2010; Niskar et al.,1998,
2001; Cone et al., 2010; Shargorodsky et al., 2010). Ini juga sesuai dengan American Speech Language - Hearing Association yang mendefinisikan gangguan pendengaran dalam beberapa
kategori yaitu: 16-25dB (ringan), 26-40 dB (sedang), dan 41-55 dB (berat) (Clark,1981).
Kategori gangguan pendengaran juga diataptasi dari Canadian Academy of Audiologists (2011),
yang akan digunakan untuk penelitian ini.
Penelitian oleh Niskar et al. (1998), memperoleh hasil dari standar evaluasi audiomertri
dari 6166 anak dan remaja (6 - 19 tahun) yang merupakan bagian dari U.S. National Health and
Nutrition Examination Survey (NHANES) yang memiliki data hasil dari 1988-1994. Selama
periode tersebut ditemukan hanya dibawah 15 % yang rata-rata memiliki frekuensi nada murni
yang rendah (0.5, 1, 2 kHz) atau frekuensi nada murni yang tinggi (3, 4, 6 kHz) gangguan
pendengaran paling sedikit 16 dB salah satu atau kedua telinga. Dari data tahun 2005-2006,
penelitian baru oleh survey NHANES dengan 2288 subjek Shargorodsky et al. (2010) ditemukan
bahwa prevalensi antara unilatelar atau bilateral LFPTA (0.5, 1, 2 kHz) atau HFPTA (3, 4, 6, 8
kHz) gangguan pendengaran lebih besar dari 15 dB dikalangan remaja US, meningkat kurang
lebih 31 %, jika dibadingkan dari hasil yang mereka analisis ulang dari data (n=3211) diperoleh
selama tahun 1988-1994 NHANES penelitian dari Niskar et al. (1998). Para penulis berspekulasi
2

bahwa penggunaan pemutar audio digital portabel pada periode 10 tahun yang memisahkan 2
survey menjelaskan tentang peningkatan besar dari prevalensi gangguan pendengaran. Namun,
Henderson et al. (2011) baru-baru ini menganalisis dua data survei NHANES dan menyimpulkan
bahwa, meskipun diduga perubahan ambang kebisingan yang diinduksi (NITS) selama periode
penelitian, peningkatan tidak langsung berhubungan laporan pribadi terkait kebisingan, selain
pada wanita muda. Menariknya, peningkatan NITS di perempuan muda, prevalensi Nits pada
wanita muda hampir sama dengan yang terlihat pada laki-laki muda. Henderson et al. (2011)
menyimpulkan mungkin indikasi dari subkelompok wanita mungkin sekarang memiliki hobby
yang hampir sama dengan teman pria mereka. Hal ini dapat mempengaruhi penelitian yang ingin
menguji hipotesis.
Dalam sebuah meta-analisis dari penelitian - penelitian yang dilakukan di USA
mengunakan audiometri pada anak - anak, rata - rata dari prevalensi dari gangguan ringan
unilateral atau bilateral LFPTA (0.5,1,2 kHz dan > 25 dB) hasilnya adalah 3.1% (Mehra et al.,
2009). Sebuah penelitian di finlandia memasukan beberapa kelompok umur ditemukan bahwa
prevalensi penurunan pendengaran lebih rendah dari 25 dB untuk LFPTA adalah 0.2 % dan
0,7 % untuk kelompok umur 10 sampai 15 tahun, masing-masing (Uimonen et al., 1999). Cone
et al. (2010) melaporkan sebuah prevalensi dari 0,88 % dari gangguan pendengaran ringan (16
sampai 40 dB) antara 0.5 dan 6 kHz

pada anak - anak smp di Australia Namun, 6,3%

menunjukkan gangguan pendengaran konduktif dan tidak dimasukkan dalam analisis. Karena
kedua ( Mehra et al. 2009) dan (Uimonen et al. 1999) telah mencatat, prevalensi gangguan
pendengaran sangat bervariasi dari studi ke studi dan tergantung pada definisi gangguan
pendengaran yang digunakan dan umur subyek. Ringkasan dari penelitian berbasis audiometri
pada anak dan remaja disajikan pada Tabel I.
Secara khusus frekuensi yang digunakan sebagai standar evaluasi audiometrik, tanda
pertama dari NITS penurunan pada 3,4 atau 6 kHz (Brookhouser et al., 1992); namun dengan
pengulangan yang berbahaya dari kebisingan, NITS dapat memperpanjang frekuensi rendah
maupun tinggi dan dapat kehilangan peningkatan (Serra et al., 2007). Penelitian yang dilakukan
kepada pilot menyediakan hasil dari evaluasi audiometrik pada 5 standar frekuensi (0.5, 1, 2, 4,
8 kHz). Rata-rata diatas ambang 0.5,1,2 kHz diartikan dalam penelitian ini sebagai LFPTA dan
rata-rata diatas 4 dan 8 diartikan sebagai HFPTA. Tujuan primer dari penelitian ini adalah
evaluasi status pendengaran dan deskripsi profil audiometrik dari sampel, usia 10 - 17 tahun. Dan
3

tujuan sekunder adalah untuk menjelaskan hubungan antara status pendengaran sendiri (seperti
yang ditunjukkan oleh respon kuesioner) dan tes audimeri yang kami lakukan.
II. Metode
A. Subyek
Penelitian ini mencakup 237 subyek 10 - 17 tahun (laki-laki:103, x = 12.80, SD = 1.63;
Wanita = 134, x = 12.50, SD = 1.64). Partisipan termasuk dalam kelompok umur (10 11,
12 13, dan 14 17 tahun) anak kelas (5 - 6, 7 - 8 dan 9 - 12); usia 12 - 13 tahun adalah
kelompok umur dari penelitian ini (138, 56.2%) kelas 7 dan 8. 18 partisipan berasal dari OttawaCarleton Catholic School Board schools, 7 partisipan berasal dari sekolah private, dan sisanya
berjumlah 212 berasal dari Ottawa-Carleton District School Board. Hanya 23 partisipan berasal
dari sekolah lainnya yaitu dari sekolah alternative. Sebuah sekolah yang berasal dari 12 kunci
indilator. Sekolah di distrik Ottawa-Carleton memiliki substansial murid yang berisiko dari
sekolah gagal diambil hasil faktor sosioekonomi. Subjek dari karakteristik orang tua terdapat
pada table II.
1. Pengerahan
Subjek dari penelitian ini berasa dari sekolah yang berada di distrik Ottawa-Carleton,
Sekolah Catholic adalah sekolah private di daerah Ottawa. Sekolah di distrik Ottawa - Carleton
menyiapkan 12 zona geografik yang berbeda. Dari 12 zona, 8 terpilih dari representasi maksimal
disekitar daerah. Dari 8 zona, sekolah memasukan murid paling tidak kelas 5 yang diidentifikasi.
Dari daftar , setiap keempat maupun kelima sekolah dari 8 zona tersbut telah dihubungi terkait
penelitian ini. Metode seleksi yang sama digunakan untuk merekrut pelajar dari sekolah privat di
daerah Ottawa. Sebuah perekrutan yang sedikit berbeda metode yang diperlukan untuk
sekolah - sekolah di bawah sekolah Katolik. Seorang petugas penelitian dari Dewan Sekolah
Katolik didistribusikan deskripsi penelitian kami ke sekolah - sekolah yang memenuhi kriteria
usia. Kami kemudian diberi izin untuk merekrut subjek dari sekolah yang diinformasikan
petugas penelitian yaitu mereka yang tertarik untuk berpartisipasi. Sebanyak 35 sekolah
dihubungi untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, termasuk Sekolah Katolik maupun swasta.
Dari 35 sekolah, 19 sekolah menolak partisipasi. Beberapa alasan yang diberikan meliputi:
komitmen sebelumnya dengan penelitian lain, tidak ada ketersediaan dari subjek yang tidak
4

tertarik dalam studi. Ada beberapa sekolah yang tidak menanggapi panggilan email / telepon
kami.
Informasi dari orang tua mengenai persetujuan dikirimkan ke sekolah - sekolah target.
Sekolah menginstruksikan untuk memilih 3 atau 4 murid dari list mereka dan disebarkan form
kepada subjek laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang sama di kelas 5 sampai12. Para
siswa diinstruksikan untuk membawa pulang lembar persetujuan untuk ditandatangani oleh
orang tua dan para siswa menandatangani lembar persetujuan jika mereka tertarik untuk
mengikuti penelitian. Para partisipan diminta untuk mengembalikan form yang telah
ditandatangani kepada Health Canada sebelum batas waktu mengunakan amplop yang
distempel. Hanya dua sekolah yang tertarik seperti Catholic School Board dan mereka
mengontak kami untuk informasi detailnya. Total terdapat 2337 form didistribusi kepada 16
sekolah. Satu sekolah tidak termasuk karna mengembalikan form sedikit (hanya 2 subjek yang
mengembalikan inform consent). Oleh karena itu hanya satu sekolah Katolik yang termasuk
dalam penelitian ini.
2. Tingkat partisipasi
Sampel terakhir dari subjek adalah 14 form, jumlah keseluruhan yang dikeluarkan dari
analisis dari 1 sekolah adalah 10 subjek. Alasan untuk dikeluarkan adalah audiometrik yang tidak
tersedia selama tes pendengaran dan disana ribut sehingga dikhawatirkan berpengaruh dengan
hasil. 237 subjek berpartisipasi, 34 subjek ingin untuk berpartisipasi, tapi tidak bisa karena
mereka : (1) tidak berusia 10 - 17 tahun, (2) tidak hadir di hari pemeriksaan (n=12) dan hanya
mengembalikan form setelah test di sekolah mereka (n=16). Ada sebuah kandidat dari faktor
yang termasuk dari penelitian ini rendah partisipasi kira - kira 11 %. Pertama nomor dari
distribusi dari lembar persetujuan yang disampaikan kepada orang tua dan anak-anak pada
distribusi yang diperlukan tidak langsung dalam jalur ini. Nampaknya ada beberapa lembar
persetujuan yang hilang saat dibagikan. Juga, tingkat partisipasi dapat bepengaruh jika lembar
persetujuan berasal dari siswa dan orang tua mereka (contoh: jika hanya 33 % dari subjek yang
setejuh dan 33 % orang tua responden setuju biasanya akan menjadi 11 %). Penelitian ini dapat
disetujui oleh badan etik dari health Canada. pengumpulan data berlangsung antara Oktober
2009 dan Mei 2010.

B. Tindakan
1. Permohonan tympanometric dan pengukuran audiometri
Subyek sendiri di sebuah ruangan (dengan tingkat suara antara 40 dan 52 dBA) di
masing-masing sekolah, pada waktu yang ditentukan oleh guru atau administrator sekolah.
Sebuah tes pendengaran dilakukan oleh seorang spesialis instrument pendengaran. Dilatih dan
diawasi oleh audiolog bersertifikat. Sebuah audiometri portabel modular booth (Eckel, AB-4230)
digunakan dalam semua 14 sekolah. Evaluasi audiometri dilakukan di booth audiometri untuk
mengoptimalkan kondisi pengujian dan penurunan akibat gangguan dari sumber - sumber
kebisingan. Segera setelah pengujian, pelajaran diberikan keterangan yang mudah dipahami
tentang deskripsi verbal dari hasil tes pendengaran mereka. Surat itu dikirim ke orang tua berisi
gambaran audiolog interpretasi hasil tes pendengaran anak mereka. Orang tua subyek dengan
mendengar hasil pendengaran diluar batas normal diminta untuk difollow up oleh dokter keluarga
mereka. Tingkat suara di audiometri tidak langsung diukur selama pengujian di masing-masing
sekolah. Mereka diperkirakan dari data transmisi dan diukur tingkat suara di masing-masing
sekolah. latar belakang tingkat kebisingan yang biasanya diuji dua kali untuk setiap subjek
menggunakan Bruel & Kjaer Jenis 4128 kepala dan dada simulator. Rincian mengenai
pengukuran ini dijelaskan dalam publikasi terpisah.
Kehilangan transmisi dapat diukur dalam fasilitas menggunakan Bruel & Kjaer 2270
meteran tingkat suara di kepala subjek. Itu ditentukan bahwa audiometri booth yang tersedia
setidaknya 20 dB loss transmisi pada semua frekuensi 1/3 band oktaf di atas 160 Hz dengan
lengkap segel di sekitar pintu bilik audiometri, untuk mengizinkan kabel akses ke headphone. Di
semua sekolah, diperkirakan latar belakang tingkat kebisingan yang cukup untuk memberikan
ketidakpastian maksimum +5dB di 0,5 sampai 8 kHz untuk batas bawah 0 dB, menurut ISO
(2010). Dalam 9 dari 14 tingkat kebisingan sekolah yang cukup rendah sehingga ketidakpastian
ini adalah maksimum +2 dB; untuk lima sekolah, ketidakpastian maksimum sekitar +5 dB.
Langkah-langkah

evaluasi

pendengaran

berikut

dilakukan

pada

kedua

telinga:

(A) pemeriksaan otoscopik terdiri dari pemeriksaan saluran dan gendang telinga. (B)
Timpanometri dilakukan menggunakan GSI37 Auto Tympanometer. Tympanograms dicatat
seperti biasa ketika kepatuhan antara 0,3 dan 1,5 cm3, dengan tekanan telinga tengah antara -100
dan +50 dapat dalam volume saluran telinga setara antara 0,5 dan 2,0 cm 3. (C) Konduksi udara
6

nada murni audiometri dilakukan dengan subjek duduk di bilik audiometri menggunakan Essilor
Audioscreen Audiometer dan Beyerdynamic DT48A supra-aural headphone. pendengaran
konduksi udara ambang dinilai pada 0,5, 1, 2, 4, dan 8 kHz menggunakan sepuluh kebawah. The
Audioscreen dari Essilor dikalibrasi menggunakan perangkat fungsi. Di mana Audiometer akan
menyesuaikan pengaturannya berdasarkan internal disimpan referensi setara ambang suara.
Tekanan Tingkat (RETSPL) (Meyer Bisch, 2009). Kalibrasi dilakukan mengikuti IEC 60318-1.
Untuk frekuensi hingga 8 kHz, audiometer itu dikalibrasi dengan transduser ditempatkan pada
Bruel & Kjaer 4153 telinga simulator dan terkait dengan Bruel & Kjaer 2610 pengukuran
amplifier. Sinyal diperkuat disalurkan langsung ke Audioscreen dengan garis ac / dc. The
Audioscreen awalnya mengukur nada 1 kHz pada 94 dB SPL seperti yang dihasilkan oleh Bruel
& Kjaer 4231 tingkat suara kalibrator. Cermat perhatian diberikan kepada penempatan
headphone sebelum pengujian audiometri. Subjek diminta untuk melepas hiasan rambut, bando
atau apa pun yang mungkin mengganggu penempatan headphone. Headphone ditempatkan pada
setiap subjek dengan hati-hati untuk memastikan yang tepat Penempatan atas telinga. Subjek
diinstruksikan untuk tidak mengerakkan headphone sampai setelah pengujian selesai.
2. Inklusi dan eksklusi kriteria
Untuk dimasukkan dalam penelitian ini, siswa yang berusia 10 hingga 17 tahun dan telah
menandatandatangani dan mengirim serta menyampaikan bentuk persetujuan mereka sebelum
pengujian. Subjek dikeluarkan dari pengujian jika mereka diobservasi dan ditemukan serumen
benar-benar menyumbat saluran telinga saat dilakukan otoskopi.
C. Statistik
Sebuah standar rata - rata nada murni dihitung untuk masing - masing telinga dengan
rata - rata ambang konduksi udara untuk masing-masing telinga diperoleh lebih dari 0,5, 1, dan 2
kHz. Nada murni rata-rata ini menggambarkan lebih rendah sensitivitas frekuensi pendengaran
dan akan disebut sebagai frekuensi rendah nada murni rata - rata (LFPTA). Sebuah rata-rata
frekuensi tinggi nada murni (HFPTA) dihitung untuk masing - masing telinga dengan rata - rata
ambang konduksi udara lebih dari 4 dan 8 kHz. Untuk studi ini, status pendengaran, baik
bilateral atau unilateral, didefinisikan menggunakan tiga klasifikasi. Untuk audiometri setiap
mengukur dijelaskan dalam kertas saat ini, normal mendengar didefinisikan sebagai 15 dB.
Sedikit gangguan pendengaran ringan dianggap hadir ketika ambang batas adalah 16 untuk 24
7

dB. Ringan atau gangguan pendengaran berat ketika ambang batasnya adalah 25 dB. Oleh
karena itu, setiap gangguan pendengaran mengacu pada ambang batas di atas 15 dB. Kiri dan
telinga kanan data audiometri dianalisis secara terpisah untuk perbandingan dengan analisis studi
NHANES Sementara ringkasan statistik, seperti data prevalensi, termasuk orang-orang dengan
tympanograms normal dan abnormal, analisis statistik dilakukan hanya bagi mereka dengan yang
normal. Hasil tympanometric untuk menargetkan mereka dengan gangguan pendengaran
sesorineural. Satu pengecualian untuk aturan ini adalah ketika membandingkan ambang
audiometri antara peserta dengan normal dan abnormal tympanograms.
Analisis varians (ANOVA) digunakan untuk membandingkan ambang batas pendengaran
dengan tanggapan terhadap pertanyaan dalam kuesioner. Ukuran sampel dalam setiap kelompok
dari pertanyaan tertentu itu setidaknya 10 untuk dimasukkan dalam analisis. Grup setelah kurang
dari sepuluh pengamatan baik dikombinasikan dengan kelompok yang berdampingan bila
memungkinkan, atau dikecualikan jika tidak memungkinkan. Asumsi dari ANOVA (residual
biasanya didistribusikan dan varians yang sama di antara kelompok) yang divalidasi
menggunakan uji Anderson Darling normalitas dan uji Bartlett x2 untuk varians yang sama. Jika
keseluruhan ANOVA signifikan (p <0,05) maka beberapa perbandingan Tukey tes diaplikasikan
untuk mengontrol tipe I secara keseluruhan tingkat kesalahan kurang dari 0,05. Ketika asumsi
yang tidak puas maka nonparametrik test Kruskal-Wallis (KW) x2 diaplikasikan pada data. Sekali
lagi, jika tes KW x2 adalah signifikan (p <0,05) maka Bonferroni koreksi yang diterapkan untuk
beberapa perbandingan untuk mengontrol keseluruhan Jenis tingkat kesalahan menjadi kurang
dari 0,05. Non - parametrik tes setara dengan membandingkan median sebagai lawan mean. tes
non - parametrik lebih kuat dari parametrik tes (seperti ANOVA) ketika asumsi normalitas dan
varians yang sama tidak puas keuntungan lain dari tes non - parametrik adalah bahwa mereka
mengambil memperhitungkan ukuran sampel yang tidak sama dalam kelompok yang
dibandingkan (Conover, 1980). Hubungan antara tingkat prevalensi pendengaran kerugian atau
gejala gangguan pendengaran yang dilaporkan sendiri dan orangtua data sosiodemografi, juga
dipertimbangkan. Uji chi-square digunakan untuk menilai hubungan antara dua variabel dalam
tabel kontingensi. Jika tabel kontingensi itu 2x 2, maka koreksi Yates kontinuitas diterapkan.
Ketika frekuensi yang diharapkan dalam satu atau lebih kelompok itu kurang dari 5, uji Fisher
digunakan untuk membandingkan dua kelompok data quantal, dan x2 rasio kemungkinan tes
adalah digunakan untuk membandingkan lebih dari dua kelompok data quantal.
8

III. HASIL
Sebanyak 229 orang menjalani timpanometri. Di luar dari 229 subyek, 1 memiliki
tympanogram abnormal pada sebelah kanan telinga saja, 5 memiliki tympanograms abnormal
hanya pada telinga kiri dan 6 ditemukan memiliki jenis kelainan di kedua telinga. Oleh karena
itu, total jumlah subjek dengan tympanograms abnormal pada satu atau kedua telinga adalah 12.
Otoscopik pengamatan terkait dengan impaksi serumen dan benda asing dalam liang telinga
serta jaringan parut dan perforasi gendang telinga. Ada lima subjek di mana terdapat impaksi
serumen adalah sebuah masalah di kedua telinga, sehingga tidak ada data audiometri yang
dikumpulkan. Subjek tambahan memiliki impaksi serumen hanya satu telinga, dan karena data
yang hanya dikumpulkan untuk telinga yang berlawanan. Selain 12 subyek dengan
tympanograms abnormal (dalam satu atau kedua telinga), ada juga 16 kasus di mana
timpanometri tidak bisa dilakukan dalam satu atau kedua telinga karena

disebabkan oleh

keadaan yang buruk . Data audiometri untuk kasus ini dipertahankan untuk statistik jika otoscopi
adalah normal, dan jika salah normal tympanogram diperoleh pada satu telinga, atau ambang di
0,5 kHz berada di bawah 15 dB, terdapat adanya penyakit otitis media.
Perbandingan statistik antara abnormal dan normal tympanograms di semua frekuensi tes
individu dan rata - rata nada murni disediakan untuk telinga kiri dan kanan di Tabel III dan IV.
Penjelasan visual ambang audiometri untuk kiri dan telinga kanan, dari subyek dengan
tympanograms normal, disediakan pada Gambar 1 dan 2. Penyebaran dan distribusi data
audiometri adalah diindikasikan untuk setiap frekuensi dengan memutar kotak 90o ke samping.
Misalnya, pada 8 kHz data untuk telinga kiri tepat miring (tidak terdistribusi normal),
menunjukkan variabilitas besar dibandingkan dengan 0,5 kHz. Demikian pula, data di 8 kHz
untuk telinga kanan juga benar miring dan menyebar, menunjukkan besar variabilitas,
dibandingkan dengan LFPTA. Prevalensi gangguan pendengaran pada setiap frekuensi yang diuji
0,5 - 8 kHz dan untuk rata - rata nada murni, disajikan pada Tabel V dan VI masing-masing. Usia
terkait dengan prevalensi gangguan pendengaran pada telinga kiri dan kanan untuk pendengaran
frekuensi rendah dan tinggi dalam Tabel VII. Ketika membandingkan subyek dengan
pendengaran unilateral atau bilateral, lebih besar dari 15 dB pada 4 kHz, untuk hasil untuk
frekuensi tinggi gangguan pendengaran pada 8 kHz, ditemukan bahwa subjek dengan setiap
gangguan pendengaran di 4 kHz yang 4,49 kali lebih mungkin untuk juga memiliki gangguan
9

pendengaran pada 8 kHz (95% CI 3,04-6,63). Disajikan dalam cara lain, jika subjek memiliki
pendengaran normal pada 4 kHz, mereka risiko relatif memiliki gangguan pendengaran pada 8
kHz berkurang faktor 0,22 (95% CI 0,15 - 0,33).
Karakteristik demografi yang berkaitan dengan nada murni dan rata-rata ambang
menggunakan uji KW x2. Penting pengamatan ditunjukkan pada Tabel VIII. Tidak ada yang
signifikan perbedaan antara ambang audiometri dari jenis kelamin, dan kelompok umur terhadap
HFPTA. Namun, nilai LFPTA secara statistik lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan untuk
perempuan untuk kedua kiri (KW x21 = 6.20, p=0.013) dan kanan (KW x21 =5.33, p=0.021)
telinga. Selanjutnya, LFPTA adalah sedikit lebih besar bagi siswa yang lebih tua dari 14 tahun
dibandingkan dengan mereka yang berusia 13 tahun ke bawah, tapi ini adalah untuk telinga kiri
saja (KW x22 =6.76, p=0.034). tingkat pendidikan orang tua secara statistik berkaitan dengan
ambang mendengar siswa. Secara khusus, HFPTA di sebelah kiri telinga (x23 =8.27, p=0.041)
dan pada 8 kHz (KW x23 =11.21, p=0.011) secara statistik terkait dengan pendidikan tingkat
ayah. Dalam kedua skenario, ambang batas yang sistematis lebih baik bila ayah memiliki
"beberapa perguruan tinggi / teknis" dan "Sarjana" dibandingkan dengan siswa yang ayahnya
memiliki "Pendidikan tinggi / universitas," meskipun variabel ini diwakili dalam kelompok lebih
kecil dalam sampel kami. Ambang pada frekuensi ini umumnya muncul lebih buruk ketika ayah
memiliki sekolah tinggi, perguruan tinggi atau universitas diploma (lihat Tabel VIII).
Ambang batas yang lebih tinggi juga diamati pada 2 kHz, telinga kiri (KW x21 =4.18,
p=0.041) dan pada HFPTA, telinga kanan (KW x21 =5.15, p=0.023) bagi siswa yang berasal dari
rumah dengan pendapatan keluarga kurang dari $ 100 000 per tahun. Proporsi subyek dengan
gangguan pendengaran (> 15 dB) di telinga setiap dibandingkan dengan yang tanpa gangguan
pendengaran ( 15 dB) di masing-masing dua pendapatan orangtua, pendapatan dari <$ 100 000
per tahun dan 100.000 hanya telinga kanan, statistik lebih subyek menunjukkan LFPTA
pendengaran loss terlihat di <$100.000 pendapatan (9/77 atau 11,7%) dibandingkan dengan
subyek dengan orang tua di pendapatan bracket $ 100.000 (3/110 atau 2,7%) (x21 =4.66,
p=0.031). Penelitian ini termasuk kuesioner dengan beberapa item bertujuan untuk
mengidentifikasi terkait kesulitan dilaporkan sendiri, termasuk tinnitus. Dalam satu pertanyaan,
subyek

ditunjukkan

apakah

mereka

pernah

mengalami

salah

satu

dari

berikut:

(1) kesulitan mencoba untuk mengikuti percakapan ketika ada keributan, seperti di kantin atau di
10

sebuah pesta; (2) meningkatkan volume radio dan TV (3) persepsi bahwa setiap orang di sekitar
mereka sedang bergumam; dan (4) dering, dan suara berdengung dalam telinga tanpa penyaba
yang jelas. Kemungkinan tanggapan yang "Ya," "tidak," "ya, setelah digunakan ipod / MP3
player," dan "tidak yakin." Beberapa kesulitan yang berhubungan dengan pendengaran ini secara
statistik terkait dengan langkah-langkah audiometri. Lebih dari satu sepertiga dari peserta
melaporkan bahwa mereka mengalami kesulitan mencoba mengikuti percakapan ketika latar
belakang kebisingan hadir, seperti di kantin atau di sebuah pesta yang bising (35,9%).
Kesulitan melaporkan hal ini terkait dengan tinggi ambang batas pada 4 kHz, baik kanan
(KW x21 =9.34, p=0.002) dan kiri (KW x21 =8.95, p=0.003) telinga. Sedikit kurang dari seperlima
dari peserta melaporkan harus menaikkan volume televisi atau radio lebih daripada di masa lalu
(18,1%). Kesulitan-kesulitan ini terkait dengan ambang batas yang lebih tinggi di LFPTA (KW
x21 =4.74, p=0.029) dan HFPTA (KW x11=5.77, p=0.016) di telinga kiri; dan untuk batas yang
lebih tinggi ada 4 kHz, baik kiri (KW x21 =9.55, p=0.002) dan kanan (KW x21 =6.58, p=0.010)
telinga. persepsi bahwa semua orang sedang bergumam statistik terkait dengan langkah-langkah
audiometri. Sekitar seperempat (26,2%) mengatakan mereka mengalami bunyi telinga tanpa
alasan yang jelas. Hal ini terkait dengan ambang batas yang lebih tinggi pada 4 kHz di kedua
kanan (KW x22 =6.67, p=0.036) dan kiri (KW x22 =6.96, p=0.031) telinga, serta di HFPTA telinga
kiri (KW x22 =7.04, p=0.030). Dalam pertanyaan terpisah, subjek diminta untuk mengidentifikasi
apa jenis masalah yang berhubungan dengan pendengaran yang telah mereka alami. Lima
kategori respon adalah: (1) liang telinga; (2) kesulitan pendengaran; (3) infeksi telinga; (4) bunyi
di telinga saya; dan (5) tidak ada. Ada 23,6% yang menunjukkan bahwa mereka mengalami
bunyid i telinga mereka. Untuk pertanyaan ini, subjek yang ditunjukkan yang pernah memiliki
pengalaman muncul bunyi di telinga mereka memiliki statistik HFPTA tinggi di telinga kiri (KW
x21 =4.27, p=0.039) dan ambang batas yang lebih tinggi pada 4 kHz di kedua (KW x21=3.89,
p=0.049) telinga kiri dan kanan (KW x21 =5.10, p=0.024) (lihat Tabel VIII). Pada pertanyaan
lain, subjek bisa pilih "ya" atau "tidak" untuk pertanyaan berikut: "Apakah Anda pernah
memiliki apapun masalah, seperti sakit telinga, bunyi di telinga Anda atau kesulitan
pendengaran? Contoh kesulitan pendengaran adalah ketika orang tampaknya bergumam dan
Anda memiliki kesulitan menanggapi apa yang mereka katakan.

11

"Bagi mereka yang merespon positif untuk kesulitan-kesulitan yang dirasakan (yaitu,
39,7%), lebih tinggi ambang batas yang diamati pada 2 dan 4 kHz di telinga kanan [KW x21
=4.29, p=0.038, dan (KW x21 =6.03, p=0.014), masing-masing]. Subyek juga diminta untuk
melaporkan terakhir kali mereka mendengarkan musik keras atau berada sekitar kebisingan
lainnya lebih dari 10 menit karena ini dianggap berpotensi pengaruh mendengar ambang pada
saat pengukuran kami. Subjek disajikan dengan pilihan jawaban berikut: "Hari ini," "kemarin,"
"sekitar seminggu yang lalu," dan "Aku tidak ingat. "Tidak ada hubungan statistik antara setiap
dari ambang batas diukur dan terakhir kali ditunjukkan mereka mendengarkan musik keras
selama lebih dari 10 menit.
IV. DISKUSI
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lain yang telah meneliti prevalensi
gangguan pendengaran pada anak-anak menggunakan evaluasi audiometri dalam frekuensi
standar berkisar antara 0,5 dan 8 kHz, meskipun perbedaan dalam sampel karakteristik dan
kriteria gangguan pendengaran. Dalam studi saat ini, gangguan pendengaran disebut nada rata
murni atau frekuensi individual ambang batas yang lebih besar dari 15 dB. Walaupun penelitian
kami tidak termasuk 3 dan 6 kHz frekuensi, yang prevalensi 22,3% untuk LFPTA unilateral atau
bilateral atau gangguan pendengaran HFPTA di atas 15 dB, tampaknya agak lebih tinggi dari
prevalensi 14,9% pada subjek, yang berusia 6 - 19 tahun, dilaporkan oleh Niskar et al. (1998),
tetapi lebih sebanding menjadi 19,5% ditemukan for12-19 tahun usia dilaporkan dalam lebih
survei NHANES terbaru oleh Shargorodsky et al. (2010). Di kedua laporan mereka, tiga jenis
prevalensi mengacu setiap unilateral atau bilateral nada murni rata-rata penurunan pendengaran
di atas 15 dB, yang difokuskan pada: (1) rentang frekuensi rendah (0,5, 1, 2 kHz); (2) rentang
frekuensi tinggi (3, 4, 6 kHz) di Niskar et al. (1998) dan (3, 4, 6, dan 8 kHz) di Shargorodsky et
al. (2010); dan (3) baik di atas frekuensi rendah atau frekuensi tinggi berkisar.
Ketika memeriksa HFPTA (>15 dB) dari saat ini belajar, yang terdiri dari rata-rata
ambang batas lebih dari 4 dan 8 kHz, prevalensi kami 14,4% mirip dengan prevalensi dicatat
oleh Niskar et al. (1998) dari 12,7% (HFPTA dari 3, 4, 6 kHz), Shargorodsky et al. (2010) dari
16,4% (HFPTA dari 3, 4, 6, 8 kHz) dan Berg dan Serpanos (2010) dari 12,3% (HFPTA dari 3, 4,
6 kHz), meskipun ada perbedaan dalam frekuensi termasuk dalam HFPTA. Oleh karena itu, tidak
jelas apakah dimasukkannya 3 kHz dan / 6 frekuensi kHz memberikan tambahan informasi di
12

luar yang ditawarkan oleh ambang 4 kHz. Memang, sebuah studi oleh McBride dan Williams
(2001) menemukan korelasi yang signifikan antara kedudukan 4 kHz dan paparan kebisingan,
sedangkan asosiasi ini tidak terlihat dalam mata pelajaran dengan torehan 6 kHz. Para penulis
menyimpulkan bahwa 6 kHz adalah variabel dan terbatas pentingnya, sedangkan 4 kHz takik
adalah tanda klinis mapan pendengaran kerugian yang berhubungan dengan paparan kebisingan.
Pada 17,0%, prevalensi setiap LFPTA gangguan pendengaran lebih besar dari 15 dB dari
penelitian kami lebih ditandai dari itu dilaporkan dalam penelitian lain Shargorodsky et al.
(2010) melaporkan prevalensi sebesar 6,1% antara subyek, usia 12-19 tahun dan Niskar et al.
(1998) melaporkan prevalensi sebesar 7,1% untuk subjek, yang berusia 6 19 tahun. Namun, juga
harus

mencatat

bahwa

perbedaan

dalam

prevalensi

sebagian

besar

dihasilkan

dari tingkat sedikit kerugian. Ketika perbandingan yang dibuat untuk LFPTA tingkat ringan atau
lebih buruk (mis > 25 dB), prevalensi dari penelitian kami adalah 1,8% dan yang dilaporkan oleh
Niskar et al. (1998) adalah 1,4% untuk ringan sampai sedang gangguan pendengaran (26 ke 65
dB) dan 0,3% untuk parah gangguan pendengaran yang mendalam (6696 dB), yang mirip
dengan 2,5% yang dilaporkan oleh Shargorodsky et al. (2010).
Tidak jelas mengapa prevalensi lebih tinggi dari sedikit LFPTA diamati dalam penelitian
ini. Kebisingan selama pengujian dapat menjadi masalah. Pengukuran tingkat suara kami di luar
stan audiometri menegaskan bahwa tingkat kebisingan direkam di luar bilik yang sedikit di
bawah tingkat disarankan oleh ISO 8253-1, untuk +5 tingkat dB ketidakpastian antara 0,5 dan 8
kHz untuk batas bawah untuk 0 dB, menurut ISO, (2010). Dalam 9 dari 14 sekolah, kebisingan
latar belakang tingkat yang cukup rendah sehingga ketidakpastian ini +2 dB. Akibatnya, tingkat
kebisingan latar belakang yang batas dapat diterima untuk

ambang 0 dB. Selain tester

melakukan evaluasi, ada di kali 2-3 lainnya peneliti dan satu untuk dua siswa di ruangan yang
sama. Komunikasi yang diperlukan antara peneliti lain atau subjek di ruang dilakukan dengan
berbisik. Namun, adalah masuk akal bahwa, meskipun upaya untuk menjaga lingkungan tenang
selama audiometri evaluasi, orang berbicara dan bergerak bisa memiliki peningkatan tingkat
suara latar belakang, yang mungkin telah mengangkat ambang batas kebisingan. Namun,
pemeriksaan ambang menunjukkan distribusi yang agak homogen di frekuensi diuji. Hal ini
menunjukkan bahwa kebisingan ambient tidak mungkin memiliki dampak besar pada 15 dB
ambang pendengaran digunakan dalam penentuan LFPTA. Secara keseluruhan, ada total dari 70
13

subjek yang diujikan di 6 sekolah di mana latar belakang tingkat kebisingan hanya memenuhi
persyaratan + 5 dB ketidakpastian bisa mengatasi masalah ini, dengan meminta subyek jika
mereka mengetahui adanya suara yang datang dari luar selama evaluasi audiometri mereka dan
jika inisuara yang mengganggu.
Sebuah studi oleh Kim et al. (2009) juga melaporkan berarti buruk nilai untuk LFPTA
(0,5, 1, 2 kHz) (telinga kanan: 13,9 dB, telinga kiri: 10,5 dB) dari pada 4 kHz saja (telinga kanan:
8.9 dB, telinga kiri: 5.7 dB). Meskipun menggunakan kelompok yang sedikit lebih tua dari siswa
(13 -18 tahun), temuan ini konsisten dengan orang-orang dari Penelitian ini, di mana rata-rata
LFPTA (0,5, 1, 2 kHz) adalah lebih tinggi (telinga kanan: 11.13 dB, telinga kiri: 11,25 dB) dari
ambang rata-rata pada 4 kHz (telinga kanan: 5,32 dB, telinga kiri: 6.31 dB). Tingginya kadar
gangguan pendengaran frekuensi tinggi juga telah dilaporkan oleh Berg dan Serpanos (2010)
dalam sampel remaja perempuan dari keluarga status sosial ekonomi yang lebih rendah. Laporan
ini juga menemukan bahwa gangguan pendengaran di atas 15 dB untuk nada rata-rata murni
lebih dari 3, 4, dan 6 kHz menjadi semakin marak, dengan persentase penggandaan dari 12,4%
pada tahun 2001 menjadi 19,2% pada tahun 2008. Para penulis melaporkan bahwa kehilangan
pendengaran frekuensi tinggi ini secara statistik terkait dengan peningkatan empat kali lipat
dalam mendengarkan pribadi perangkat prevalensi penggunaan selama periode waktu yang
sama, yang meningkat dari 18,3% pada tahun 2001 menjadi 76.4% pada tahun 2008.
Di sisi lain, penggunaan yang dilaporkan sendiri (yaitu, lebih atau kurang dari 3 jam per
hari) adalah statistik tidak berhubungan dengan gangguan pendengaran frekuensi tinggi (Berg
dan Serpanos, 2010). Terakhir, sebuah studi oleh Cone et al. (2010) menemukan prevalensi a dari
sedikit-ringan bilateral kehilangan sensorineural (LFPTA dan HFPTA antara 16 dan 40 dB pada
telinga yang lebih baik, dengan airbone kesenjangan konduksi kurang dari atau sama dengan 10
dB) yang sesuai 0,88% dari sampel mereka. Dalam penelitian ini, 8,8% dari

anak-anak

memiliki kerugian bilateral sedikit-ringan yang sesuai ke LFPTA atau HFPTA, antara 16 dan 40
dB HL, bagaimanapun, konduksi celah udara-tulang tidak diukur. Sangat mungkin bahwa
persentase dilaporkan dalam penelitian kami mungkin mencakup mata pelajaran yang memiliki
gangguan pendengaran konduktif, bukan sensorineural, meskipun pengecualian kami subyek
dengan tympanograms abnormal.Cone et al. (2010) melaporkan bahwa 6,3% dari subyek
menunjukkan gangguan pendengaran konduktif; Namun, pengecualian mereka kehilangan
14

pendengaran konduktif menggunakan pengukuran konduksi udara-tulang mungkin penjelasan


untuk prevalensi rendah mereka (0,88%) dari bilateral sedikit-ringan kehilangan sensorineural,
dibandingkan dengan penelitian ini.
Perbedaan penting antara penelitian ini dan Cone et al. (2010) studi adalah definisi
operasional yang berbeda gangguan pendengaran. Dalam studi oleh Cone et al. (2010), definisi
gangguan pendengaran adalah sedikit-ringan LFPTA bilateral dan HFPTA antara 16 dan 40 dB
pada telinga yang lebih baik, sedangkan definisi dalam penelitian ini adalah LFPTA bilateral
sedikit - ringan atau HFPTA antara 16 dan 40 dB. Akhirnya, subyek dalam Penelitian oleh Cone
et al. (2010) berada di kelas 1 dan 5, dan mewakili kelompok usia yang jauh lebih muda dari usia
10 -17 tahun berkisar dalam penelitian ini. Individu mungkin hanya menjadi sadar degradasi di
ketajaman pendengaran mereka setelah menjadi sedang sampai berat, yang dapat menjelaskan
perbedaan yang jelas antara dilaporkan sendiri gangguan pendengaran dan langkah-langkah
audiometri dibahas oleh Nondahl et al. (1998) dan Sindhusake et al. (2001). Namun, orang
mungkin melihat perilaku perubahan yang bisa menjadi gejala dari memburuknya pendengaran
dan karena itu pertanyaan yang menyelidiki gejala yang dilaporkan sendiri gangguan
pendengaran dapat berharga dalam memperkirakan lebih halus derajat penurunan.
Dalam penelitian ini, ada hubungan antara pertanyaan khusus yang berkaitan dengan
laporan sendiri terkait gangguan pendengaran dan gangguan pendengaran yang sebenarnya di
salah satu atau kedua telinga, yang diukur dengan evaluasi audiometri. Sebagai contoh, subyek
yang menunjukkan mereka memiliki kesulitan mengikuti percakapan ketika ada kebisingan,
memiliki statistik ambang buruk pada 4 kHz, dibandingkan dengan subyek yang tidak memiliki
kesulitan-kesulitan ini. Subyek yang melaporkan membesarkan volume televisi atau radio lebih
dari yang mereka lakukan di masa lalu memiliki ambang statistik lebih tinggi pada 4 kHz dan
juga menunjukkan ambang batas yang lebih tinggi ketika 4 dan 8 kHz yang rata-rata,
dibandingkan dengan subyek yang tidak. Selain itu, subyek yang melaporkan masalah
pendengaran terkait seperti telinga nyeri, dering di telinga mereka atau kesulitan mendengar,
memiliki lebih buruk ambang batas rata-rata pada 4 kHz (lihat Tabel VIII). Ini konsisten dengan
literatur yang menunjuk ke 4 kHz sebagai salah satu yang penting frekuensi berbicara diperlukan
untuk komunikasi, dengan kisaran 1 sampai 4 kHz menjadi terutama untuk kejelasan ucapan
(Brookhouser et al, 1992;. McBride dan Williams, 2001).
15

Prevalensi tinnitus pada anak-anak dengan gangguan pendengaran dilaporkan jauh lebih
tinggi dibandingkan pada mereka dengan pendengaran normal (Baguley dan McFerran 1999;
Mills dan Cherry 1984). Dalam penelitian kami, tinnitus dilaporkan oleh 23,6-26,2% dari kami
subyek, yang sebanding dengan studi sebelumnya dari keluhan tinnitus pada anak-anak dan
remaja yang dilaporkan oleh Savastano (2007) sebesar 23,6%, tapi tampaknya kurang dari 31,5%
- 36,8% dilaporkan oleh Bulbul et al. (2009). Melebar dan Erlandsson (2004) melaporkan
prevalensi tinnitus menjadi 8,7%. Perbedaan ini mungkin berhubungan dengan usia subyek dan
karakterisasi jenis pertanyaan tentang tinnitus. Selanjutnya, tergantung pada pertanyaan tinnitus
tanya, dalam penelitian kami, tinnitus dilaporkan sendiri dikaitkan dengan pendengaran yang
lebih buruk pada 4 kHz dan ketika 4 dan 8 kHz yang rata-rata (yaitu, HFPTA). Penelitian ini
adalah yang pertama untuk memeriksa pendengaran dalam kohort remaja Kanada di sekolah
menggunakan audiometri evaluasi, otoscopi dan timpanometri dalam kombinasi dengan
langkah-langkah dari gejala yang dilaporkan sendiri potensi pendengaran. Temuan kami bahwa
gejala yang dilaporkan sendiri potensi gangguan pendengaran yang, di kali, terkait dengan
ambang audiometri mendukung nilai laporan diri dalam studi berbasis populasi. Temuan dari
penelitian ini menambahkan data prevalensi ke tumbuh pemahaman status pendengaran pada
anak-anak dan remaja dalam rentang frekuensi standar.

16