Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
I.I

Latar Belakang
Surakarta atau yang biasa disebut Solo merupakan salah satu kota besar yang ada
di propinsi Jawa Tengah. Secara geografis kota ini terletak pada jalur yang strategis,
yaitu pertemuan jalur dari Semarang dan dari Yogyakarta menuju Surabaya dan Bali.
Karena letaknya yang strategis inilah, maka menjadikan Solo sebagai kota yang
berpotensi untuk melakukan berbagai aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Jika dilihat
dari batas kewilayahan, Kota Surakarta dikelilingi oleh 3 kabupaten. Sebelah utara
berbatasan dengan kabupaten Karanganyar dan Boyolali, sebelah timur dibatasi dengan
kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar, sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten
Sukoharjo, dan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar.
Kota ini mempunyai luas wilayah 44.04 km2 terdiri atas 5 (lima) kecamatan, 51
kelurahan, 602 Rukun Warga (RW) dan 2.708 Rukun Tetangga (RT).
Kelima kecamatan tersebut adalah Kecamatan Laweyan, Serengan, Pasarkliwon, Jebres
dan Banjarsari. Kecamatan Banjarsari merupakan kecamatan terbesar dengan luas
wilayah 14,81 km2. atau 33,63 persen dari luas Kota Surakarta, sedangkan Kecamatan
Serengan merupakan Kecamatan dengan luas wilayah terkecil yaitu 3,19 km2.
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil pada tahun 2014 jumlah
penduduk Solo adalah 552.650 jiwa dengan rincian sebagai berikut :

Kota Surakarta memiliki potensi budaya dan ekonomi yang telah dikenal sampai
keluar daerah terutama di bidang pariwisata dan perdagangan. Surakarta terkenal
dengan julukannya sebagai The Spirit Of Java. Kota Surakarta terkenal sebagai Kota
Budaya karena nuansa budaya yang melekat pada perkembangan kota dan
pariwisatanya. Potensi wisata di Surakarta tidak hanya meliputi wisata sejarah seperti

Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran dan Museum Radyapustaka, ataupun wisata


belanja terutama batik di Pasar Klewer, Kampung Batik Laweyan, Kampung Batik
Kauman, Pusat Grosir Solo dan Beteng Plaza, tetapi juga event-event wisata yang telah
menjadi acara tahunan di kota ini, seperti Solo Batik Carnival, Sekatenan, Karnaval
Wayang dan lain-lain.
I.II
I.II.I

Rumusan Masalah
Bagaimana perkembangan yang terjadi di Kota Surakarta?

I.II.II Bagaimana pola perkembangan kotanya?


I.II.III Bagaimana manajemen kota Surakarta?
I.III

Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian mengenai manajemen perkotaan di Kota
Surakarta adalah :

I.III.I

Untuk mengetahui bagaimana perkembangan Kota Surakarta.

I.III.II Untuk mengetahui bagaimana manajemen Kota Surakarta.


I.III.III Untuk mengetahui apakah perkembangan dan manajemen Kota Surakarta
memberikan manfaat kepada penduduknya.
I.III.IV Untuk mengetahui apakah kekurangan dan kelebihan dari manajemen Kota Surakarta.
I.III.V Untuk mengetahui solusi atau pembenahan apa yang perlu dilakukan pemerintah Kota
Surakarta.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.I

Pengertian Manajemen Perkotaan


Manajemen adalah penggunaan sumberdaya organisasi untuk
mencapai sasaran dan kinerja yang tinggi lewat perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam berbagai
macam organisasi profit maupun non-profit.
Kota adalah tempat dengan konsentrasi penduduk lebih padat
dari wilayah sekitarnya karena terjadi pemusatan kegiatan fungsional
yang berkaitan dengan kegiatan atau aktivitas penduduknya.
Sedangkan perkotaan (urban) menunjukkan ciri/karakteristik/sifat
kekotaan. Dalam hal ini perkotaan atau kawasan perkotaan adalah
pemukiman yang meliputi kota induk dan daerah pengaruh diluar
batas administratifnya yang berupa daerah pinggiran
sekitarnya/kawasan sub-urban. Undang-undang No. 24 tahun 1992
mendefinisikan kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai
kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan
sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribuusi
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan
ekonomi.
Manajemen perkotaan (urban management) merupakan
pendekatan kontemporer untuk menganalisa permasalahan yang
terjadi di perkotaan. Manajemen kota adalah suatu upaya
pengelolaan pembangunan kota yang berkelanjutan yang dilakukan
dengan sistem dan strategi yang
terintegrai, holistik, komprenhensif sehingga dapat mencapai tujuan
dan sasaran sesuai dengan rencana dan tahapan yang ditetapkan
dan pada akhirnya akan mensejahterakan penduduk kota. Menurut
SK Mendagri No. 65 tahun 1995. Manajemen perkotaan adalah
pengelolaan sumber daya perkotaan yang berkaitan dengan bidangbidang tata ruang, lahan, ekonomi, keuangan, lingkungan hidup,

pelayanan jasa, investasi, prasarana dan sarana perkotaan; serta


disebutkan pula bahwa pengelola perkotaan adalah para pejabat
(Pemerintah) pengelola perkotaan.
II.II

Tata Ruang dan Wilayah Kota


Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang, baik
direncanakan maupun tidak yang menunjukkan adanya hirarki dan keterkaitan
pemanfaatan ruang.

Menurut Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, wilayah


didefinisikan sebagai ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait dengan batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau
aspek fungsional. Penataan ruang merupakan proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang yang dilaksanakan secara
sekuensial (berkesinambungan dari masa ke masa).
Alasan tumbuhnya kota adalah di pengaruhi oleh Competitive advantage, dimana
meliputi dua hal yaitu ; perbedaan ketersediaan sumber daya dan perbedaan akses.
Sedangkan urban growth biasanya dilihat dari; built up area (kawasan terbagun),
bersifat angka, bersifat lebih dari pada sekedar luas area, lalu adanya pertumbuhan yang
dipegaruhi oleh comparative advantages (baik alamiah maupun buatan).
Pertumbuhan sebuah kota dapat dilihat dari :
1. meningkatanya jumlah penduduk baik intensitas kegiatan sosial maupun
ekonomi.,
2. kepadatan bangunan tinggi,
3. adanya keterbatasan lahan versus highrise building yang man highrice building
ini dapat mengehemat penggunaan lahan,
4. adanya kebutuhan akan ruang yang semakin meluas,
5. akuisisi, invasi ke arah pinggiran.
Adapun unsur pembentuknya struktur tata ruang kota menurut para ahli adalah ;
1. Kevin Lynch, yang dimana beliau mengatakan bahwaa ada 5 unsur gambaran
mengenai ruang kota, yaitu path, edge, distric, node, dan landmarak.
2. Doxias dimana secara konsepsial perkotaan merupakan totalitas lingkungan yang
terbentuk oleh 5 unsur yaitu, alam, antropos, society, shells dan jaringan.
3. Kus Hadinoto mengadaotasinya menjadi 5 unsur pokok yaitu, wisma, karya,
marga, suka serta penyempurna.
4. Patrick Geddes, karakteristik permukiman memiliki unsur place. Work, dan folk.
Adapun struktur kota berdasarkan sifatnya ada :

1. konsenris yang mana CBD nya hanya di satu titik saja,


2. Sektoral yang dimana pusat kotanya mengikuti alur sektor-sektor yang
mempengaruhi,
3. multiple nuclei yang mana pusat kotanya menyebar ke beberapa arah, mengikuti
lajur akses transportasi.
Tata ruang kota sebagai titik pusat pertumbuhan baru, sebagai kawasan
pendukung industri, serta sebagai pengarah jaringan infrastruktur. Kriteria bentuk dan
struktur ruang kota berbeda-beda seperti contohnya eropa bentuk kotanya kompak
dengan efisiensi serta investasi jaringan terpadu, sedangkan indonesia memiliki
karakteristik permukiman kampung dengan perkarangan yang dimana bisa disebut
sebagai permukiman organik.
Struktur ruang memiliki sifat yang mapan, tidak berubah dalam jangka pendek
atau dapat diprediksi dalam jangan panjang, sedangkan bentuk kota memiliki sifat yang
sesuai dengan bentukan alam, pertumbuhan karakteristik sosioeko, serta
mengakomodasi kegiatan penduduk dengan efisien. Urban Spatial Structure ada 4 yaitu
the monocentric city, sectoral urban growth, urban multi nucleation, dan surbanization.
Permasalahan serta tantangan keberlanjutan tentang tata ruang kota yaitu
pembentukan kota yang efisien, mendukung masyarakat, serta bagaimana pelibatan
aktor pengembang, pengambil kebijakan, konsumen dalam membentuk struktur ruang
dan pembentukan kota yang berkelanjutan.

I.III.I
I.III.II

daftar pustaka
http://www.surakarta.go.id/