Anda di halaman 1dari 9

Struktur dan

Perkembangan
Hewan I
Biologi 2009

Hemopoiesis (hematopoiesis) merupakan proses


pembentukan darah. Unsur darah yang berbentuk Burhansyah
dapat dibagi dalam dua golongan menurut tempat
berkembang dan berdiferensiasi pada orang dewasa
M 0409011
HEMOPOIESIS

Unsur darah yang berbentuk umurnya pendek dan terus menerus dirusak. Jumlah
unsur yang berbentuk di dalam darah dipertahankan pada suatu jumlah yang tetap dengan
pembentukan sel-sel baru. Proses pembentukan darah disebut Hemopoiesis (atau
hematopoiesis), dan ini terjadi di dalam jaringan hemopoietik. Unsur darah yang berbentuk
dapat dibagi dalam dua golongan menurut tempat berkembang dan berdiferensiasi pada orang
dewasa. Limfosit dan monosit berkembang di dalam jaringan limfoid dan disebut unsur-unsur
limfoid. Eritrosit dan granulosit dalam keadaan normal dihasilkan di dalam sumsum tulang
(jaringan mieloid) dan disebut sebagai unsur-unsur mieloid. Namun pemisahan tersebut tidak
mutlak. Sekarang terdapat bukti nyata, terutama dengan teknik radioautografi dan penanda
kromosom, bahwa monosit dan beberapa limfosit timbul dari sel-sel prekursor pemula di
dalam sumsu tulang. Lagi pula, pemisahan tidak terlihat pada janin, sewaktu pembentukan sel
darah pada berbagai tempat pada bermacam-macam umur (diferensiasi) dan nampak secara
berurutan dalam kantung kuning telur, mesenkim, dan pembuluh darah, hati, limfe, dan
limfonodus. Pada orang dewasa, dalam keadaan patologis tertentu, unsur mieloid dapat
dibentuk lagi dalam limfa, hati, dan limfonodus, keadaan tersebut dikenal sebagai
hemopoiesis ektra-medular. Macam-macam teori yang menyatakan pembentukan darah :

1. Teori Unitaris atau Teori Monofiletik


Menyatakan bahwa semua sel darah, sel darah merah, sel darah putih, berasal dari sel
induk, yaitu hemositoblas.
2. Teori Dualistik atau Teori Difiletik
Menyatakan bahwa monosit dan limfosit berasal dari satu sel induk (disebut
limfoblas). Dan leukosit granular dan eritrosit berasal dari mieloblas.
3. Teori Polifiletik
Menyatakan bahwa ada sel induk primitif untuk setiap jenis sel darah.

Terdapat salah pengertian pada waktu-waktu yang lalu mengenai teori-teori tersebut,
yang kebanyakan disebabkan pemakaian terminologi berbeda-beda dari penganjur teori yang
berbeda-beda.

PERKEMBANGAN UNSUR-UNSUR MIELOID

Dalam keadaan normal jaringan mieloid terdapat di dalam rongga-rongga sumsum


tulang yaitu disebut sumsum tulang. Sumsum tulang adalah organ terbesar dalam tubuh,
terdiri atas kira-kira 4,5% dari jumlah seluruh berat tubuh. Pada orang dewasa ada dua macam
sumsum tulang yaitu sumsum tulang merah dan sumsum tulang kuning. Sumsum tulang
merah merupakan jaringan hemopoitik yang aktif, sedangkan di dalam sumsum tulang kuning
kebanyakan jaringan hemopoitik diganti oleh lemak. Pada orang dewasa, sumsum tulang
merah terutama terdapat di dalam tulang dada, iga, ruas tulang belakang, tempurung kepala,
dan epifisis proksimal dari beberapa tulang panjang.

Jaringan mieloid terdiri atas suatu kerangka atau stroma, pembuluh darah, dan sel-sel
bebas terletak di dalam jala-jala stroma.
Stroma

Kerangkanya adalah jaring-jaring longgar terdiri atas serat retikulin (argirofil) yang
erat hubungannya dengan sel retikular primitif dan fagositik. Sel-sel lemak tersebar satu-satu
di dalam stroma, tidak seperti pada sumsum tulang kuning yang sel-sel lemaknya begitu
banyaknya sehingga seakan-akan tak ada lagi tempat untuk unsur yang lain.

Pembuluh-pembuluh darah

Gambaran khusus pendarahan jaringan mieloid adalah adanya sinusoid yang berkelok-
kelok lebar dan yang dapat dibedakan dari kapiler oleh diameternya yang besar dan
hubungannya yang erat dengan sel-sel retikular adventisia yang fagositik secara minimal.
Dinding sinusoid mempunyai lubang-lubang lebar dan lamina basal yang mengelilinginya
tidak sempurna. Lubang-lubang dalam dinding tersebut, memungkinkan sel darah yang baru
dibentuk dengan mudah masuk ke dalam sirkulasi. Arteriol-arteriol berhubungan langsung
dengan sinusoid-sinusoid, dan dari sinusoid-sinusoid sendiri darah dialirkan oleh vena-vena
yang berdinding tipis, yang meninggalkan sumsum tulang lewat banyak tempat.

Sel-sel Bebas

Sel-sel yang terletak bebas di dalam jala stroma mewakili semua tahap pendewasaan
sel-sel darah merah dan sel-sel darah putih. Eritrosit dewasa, ketiga jenis leukosit granular,
dan leukosit agranular (limfosit, monosit, dan beberapa sel plasma) terdapat di antara unsur-
unsur yang belum dewasa (imatur).
Gambar. Skema Hemopoiesis

Sel Induk (stem cell) : Hemositoblas

Hemositoblas adalah suatu sel amuboid yang bersifat limfoid. Sel ini relatif besar
dengan diameter sekitar 10-14µm. Intinya relatif tak berdiferensiasi dan mengandung satu
atau dua anak inti. Pada sediaan hapus intinya memperlihatkan timbunan bahan kromatin
yang padat. Pada sajian sumsum tulang inti tampak vesikular, dengan beberapa kondensasi
heterokromatin di bagian tepi pifer, dan anak intinya jelas. Granula-granula azurofil kadang-
kadang terlihat di dalam sitoplasma basofil yang sedikit itu.

Hemositoblas timbul terutama dengan pembelahan mitosis dari jenisnya sendiri. Sel
itu terdapat dalam jumlah kecil di dalam sumsum, dan dianggap sangat lambat dalam
perubahannya. Sel-sel tersebut menghasilkan semua unsur mieloid dan disamping itu menurut
teori unitaris dari hemopoiesis menghasilkan pula unsur-unsur limfoid.

Eritrosit

Walaupun eritrosit mewakili bagian terbesar unsur darah yang berbentuk, eritrosit
yang sedang berkembang dan eritrosit dewasa hanya merupakan bagian kecil sel-sel darah
yang ada di dalam jaringan mieloid. Dua alasan utama untuk itu adalah bahwa perkembangan
pendewasaan eritrosit mengambil waktu hanya sekitar 3 hari, sedangkan leukosit granular
untuk perkembangannya memerlukan 14 hari atau lebih, dan umurnya singkat. Harus diingat
bahwa proses utama yang berhubungan dengan diferensiasi eritrosit adalah pengurangan
dalam ukuran, kondensasi kromatin inti dan mungkin hilangnya inti dan organel selular, serta
memperoleh hemoglobin.

Untuk tujuan uraian perkembangan eritrosit dibagi dalam sejumlah tahapan, tetapi
harus ditekankan bahwa proses tersebut merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Tahapan
perkembangan eritrosit, dalam derajat diferensiasi dari hemositoblas, yaitu proeritroblas,
eritroblas basofil, eritroblas polikromatofil, normoblas (Eritroblas ortokromatik), retikulosit,
dan eritrosit. Terminologi yang dipakai di sini mempunyai keuntungan bahwa kebanyakan
tahapan adalah deskriptif.

Proeritroblas (Rubriblas)

Ini adalah sel yang paling awal dikenal dari seri eritrosit dan dianggap sebagai hasil
diferensiasi hemositoblas atau sel induk pluripoten, dengan cara terlibatnya sel progenitor
eritroid. Proeritroblas adalah sel yang terbesar, dengan diameter sekitar 15-20µm. Inti
mempunyai pola kromatin yang seragam, yang lebih nyata daripada pola kromatin
hemositoblas, serta satu atau dua anak inti yang mencolok. Jumlah sitoplasma lebih banyak
daripada hemositoblas, dan bersifat basofil sedang. Sejumlah kecil hemoglobin dapat dikenal
dalam sitoplasma dengan teknik-teknik khusus, tetapi tertutup oleh adanya sitoplasma yang
basofil pada sediaan yang terwarna. Setelah mengalami sejumlah pembelahan mitosis,
proeritroblas menjadi eritroblas basofil.
Eritroblas Basofil (Prorubrisit)

Eritroblas basofil agak lebih kecil daripada proeritroblas, dan diameternya rata-rata
10µm. Intinya mempunyai heterokromatin padat dalam jala-jala kasar, dan anak inti biasanya
tidak jelas. Sitoplasma yang jarang nampak basofil sekali, menunjukkan peningkatan lebih
lanjut dari jumlah ribosom bebas dan polirobosom. Hemoglobin terus dibentuk, tetapi tertutup
oleh basofil.

Eritroblas polikromatofil (Rubrisit)

Eritroblas basofil membelah berkali-kali secara mitosis, dan menghasilkan sel-sel


yang memerlukan hemoglobin yang cukup untuk dapat diperlihatkan di dalam sediaan yang
diwarnai. Setelah pewarnaan Leishman atau Giemsa, sitoplasma warnanya berbeda-beda, dari
biru ungu sampai lila atau abu-abu karena adanya hemoglobin terwarna merah muda yang
berbeda-beda di dalam sitoplasma yang basofil dari eritroblas. Jadi mereka adalah
polikromatofil. Inti eritroblas polikromatofil mempunyai jala kromatin lebih padat daripada
eritroblas basofil, dan selnya lebih kecil.

Normoblas (Metarubrisit)

Eritroblas polikromatofil membelah beberapa kali secara mitosis. Sifat basofil


sitoplasma berkurang dan jumlah hemoglobin bertambah sampai mencapai suatu jumlah
sehingga sitoplasmanya terpulas kurang lebih semerah seasidofil seperti eritrosit dewasa. Sel-
sel yang menunjukkan derajat asidofil yang demikian disebut Normoblas. Normoblas lebih
kecil daripada eritroblas polikromatofil dan mengandung inti yang lebih kecil yang terwarnai
basofil padat. Intinya secara bertahap menjadi piknotik. Tidak ada lagi aktivitas mitosis.
Akhirnya inti dikeluarkan dari sel bersama-sama dengan pinggiran tipis sitoplasma. Inti yang
sudah dikeluarkan dimakan oleh makrofag-makrofag yang ada di dalam stroma sumsum
tulang.

Retikulosit

Retikulosit atau eritrosit dianggap bahwa kebanyakan retikulosit kehilangan susunan


retikularnya sebelum meninggalkan sumsum tulang, karena jumlah retikulosit dalam darah
perifer normal kurang dari satu persen dari jumlah eritrosit.

Tahapan-tahapan yang baru diuraikan dalam proses eritropoiesis sebagian besar


merupakan manifestasi morfologi sintesis hemoglobin. Konsentrasi RNA dalam kelompok
ribosom (poliribosom) yang mensintesis hemoglobin, menyebabkan sitoplasma bersifat
basofil, yang paling nyata pada eritroblas basofil. Adanya RNA dapat dihubungkan dengan
aktivitas sintesis nukleotida dan hemoglobin.

Perkembangan normal eritrosit tergantung pada banyak macam-macam faktor,


termasuk adanya substansi asal (terutama globin, hem, dan besi). Faktor-faktor lain, seperti
asam askorbat, vitamin B12, dan faktor intrinsik (normal ada dalam getah lambung), yang
berfungsi sebagai koenzim pada proses sintesis, juga penting untuk pendewasaan normal
eritrosit.

Stimulasi paling potent untuk perkembangan eritrosit adalah jaringan yang mengalami
hipoksia (kekurangan oksigen) yang menginduksi pembentukan faktor humoral, eritropoietin,
yang ada di dalam plasma ke tulang rawan, dan ia merangsang pembentukan eritrosit yang
banyak. Eritropoietin dihasilkan terutama dalam ginjal dan nampak bertindak dengan
merangsang sel progenitor eritroid yang terlibat untuk berdiferensiasi menjadi proeritroblas
dan eritroblas. Nilai-nilai pembelahan sel juga meningkat, sama dengan nilai-nilai
penglepasan retikulosit dari sumsum tulang. Jadi sintesis dan penglepasan eritropoietin adalah
langsung berhubungan dengan tersedianya oksigen dalam jaringan, dan dengan jumlah
eritrosit yang beredar dengan kandungan oksigen.

Granulosit

Tahapan perkembangan granulosit, sesuai dengan urutan diferensiasi hemositoblas,


yaitu mieloblas, promielosit, mielosit, metamielosit, dan leukosit granular. Mielosit-mielosit
ketiga jenis (neutrofil, eosinofil, dan basofil) mengandung granula spesifik yang khas dan
diferensiasi lebih lanjut berhubungan dengan pengurangan besarnya yang progresif, dan
makin gelap dan bertambahnya segmen inti, dan pengumpulan granula spesifik lebih lanjut.

Mieloblas

Mieloblas adalah sel yang paling muda yang dapat dikenali dari seri granulosit, dan
diperkirakan berasal dari hemositoblas dengan perantaraan sel sejenis menengah. Besarnya
berbeda-beda dengan melalui bentuk peralihan diameter berkisar antara 10-15µm. Intinya
yang bulat dan besar memperlihatkan kromatin halus serta satu atau dua anak inti. Mikrograf
elektron menunjukkan bahwa sitoplasma, yang sedikit dan agak lebih basofil daripada
hemositoblas, mengandung banyak mitokondria dan ribosom bebas, tetapi sedikit unsur
retikulum endoplasma granular.

Promielosit

Sel ini agak lebih besar dari mieloblas. Intinya bulat atau lonjong, dengan
heterokromatin perifer padat, serta anak inti yang tak jelas. Pada umumnya sitoplasma basofil,
tetapi dapat memperlihatkan daerah yang asidofil setempat. Ciri-ciri sel tersebut adalah
adanya granula azurofil padat yang tersebar. Granula primer, atau granula non spesifik ini
dianggap merupakan suatu jenis khusus lisosom primer.

Mielosit

Promielosit berpoliferasi dan berdiferensiasi menjadi mielosit. Pada proses


diferensiasi, perubahan yang penting adalah timbulnya granula spesifik, dengan ukuran,
bentuk, dan sifat terhadap pewarnaan yang memungkinkan seseorang mengenalnya sebagai
neutrofil, eosinofil, atau basofil. Karena granula azurofil primer hanya dihasilkan dalam tahap
promielosit, jumlah dalam masing-masing selnya berkurang dengan pembelahan setiap
mielosit. Mielosit-mielosit juga memperlihatkan pengurangan ukuran, diameter berkisar
10µm dan berkurangnya sifat basofil sitoplasma. Di sini kandungan heterikromatin inti
meningkat dan pada mielosit akhir, inti mengadakan cekungan dan mulai berbentuk seperti
tapal kuda.

Metamielosit

Setelah mielosit membelah berulang-ulang, sel menjadi lebih kecil kemudian berhenti
membelah. Sel-sel hasil akhir pembelahan adalah metamielosit. Metamielosit adalah bentuk
muda leukosit granular, yang mengandung granula khas. Inti pada mulanya berbentuk tapal
kuda, kemudian lambat laun terbentuk cekungan. Pada akhir tahap ini, metamielosit dikenal
sebagai sel batang. Karena sel-sel bertambah tua, inti berubah, membentuk lobus khusus dan
jumlah lobi bervariasi dari 3 sampai 5. Metamielosit basofil berbeda dengan dua jenis
metamielosit yang lain dalam hal intinya tidak berdiferensiasi ke dalam lobus yang jelas. Jadi
sukar membedakan metamielosit basofil dengan leukosit basofil yang dewasa. Sel dewasa
(granulosit bersegmen) masuk sinusoid-sinusoid dan mencapai peredaran darah.

Pada masing-masing tahap mielosit yang tersebut di atas jumlah neutrofil jauh lebih
banyak daripada eosinofil dan basofil. Prekursor leukosit granular, jumlahnya jauh lebih besar
dari progenitor eritrosit. Jumlah leukosit muda yang lebih besar dari “leluhur” eritrosit adalah
berlawanan dengan jumlahnya di dalam darah. Perbedaan dalam hubungannya dengan jumlah
untuk sebagian dapat dijelaskan oleh kenyataan bahwa eritrosit dapat hidup lebih lama dalam
peredaran darah daripada leukosit.

Kehilangan leukosit dari peredaran darah menyebabkan peningkatan kecepatan


penglepasan sel tersebut dari sumsum tulang, dan kehilangan lebih besar menginduksi
kenaikan kecepatan diferensiasi sel induk seri granulosit. Ini memberi kesan bahwa produksi
granulosit diatur oleh suatu mekanisme humoral yang masih belum jelas.

Pembentukan Megakariosit dan Keping-keping darah

Megakariosit adalah sel raksasa (diameter 30-100µm atau lebih), yang dianggap
berasal dari hemositoblas. Sel ini merupakan cirikhas untuk sumsum tulang mamalia dewasa,
dan dapat dijumpai juga dalam jaringan hemopoetik (hati,limfe) selama perkembangan
embrio. Inti berlobi secara kompleks, dan masing-masing lobus mungkin berhimpitan atau
dihubungkan dengan benang-benang halus dari bahan kromatin. Sitoplasma mengandung
banyak granula azurofil dan memperlihatkan sifat basofil setempat. Batas sel sering tidak
nyata, karena tonjolan-tonjolan sitoplasma semacam mirip meluas melewati dinding sinusoid.

Megakariosit dikatakan berasal dari hemositoblas melalui tahap peralihan yaitu


megakarioblas. Megakarioblas dapat dibedakan dari hemositoblas oleh sifat-sifat intinya,
yaitu inti besar, dan sering kali berlekuk, dan heterokromatin perifernya padat. Sitoplasma
homogen dan basofil. Megakarioblas berdiferensiasi menjadi megakariosit melalui cara
pembelahan inti yang aneh yaitu intinya mengalami banyak kali pembelahan mitosis tanpa
pembelahan sitoplasma. Jumlah mitosis tidak diketahui. Setelah mereka terbentuk,
megakariosit membentuk tonjolan-tonjolan sitoplasma yang akan dilepas sebagai keping-
keping darah.
Pengamatan dengan mikroskop elektron memperlihatkan perkembangan yang luas
dari membran-membran permukaan licin di dalam sitoplasma, jadi memisahkannya menjadi
bagian-bagian ruangan kecil dan menggambarkan jumlah keping-keping darah yang akan
datang. Granula sitoplasma azurofil membentuk kromomer keping darah itu. Sesudah
pembentukan saluran-saluran pembatas oleh membran-membran, bagian-bagian ruangan
tersebut dengan mudah berpisah untuk menjadi keping-keping darah bebas. Megakariosit
umurnya pendek, dan tahap-tahap degenerasi biasanya dapat dilihat. Setelah sitoplasma
perifer lepas sebagai keping-keping darah, megakariosit mengeriput dan intinya hancur.

Perkembangan Unsur-unsur Limfoid

Perkembangan limfosit dan monosit terjadi di dalam jaringan limfoid. Selain itu
sampai derajat tertentu, dapat terjadi juga dalam jaringan mieloid. Tetapi proses
perkembangan sel-sel tersebut tidak dapat diikuti semudah pada unsur-unsur mieloid. Bukti-
bukti morfologis tentang diferensiasi tidak jelas. Adanya sifat-sifat definitif seperti lenyapnya
inti atau inti berlobi, granulasi sitoplasma, dan hilangnya sifat basofil sitoplasma, tidak terjadi
pada limfosit dan monosit. Sel-sel tersebut tetap memiliki sifat basofil sitoplasma dan
umumnya bentuk primitif inti dari sel induk.

Stroma jaringan limfoid, seperti halnya stroma jaringan mieloid, mengandung


kerangka serat-serat retikular yang erat hubungannya dengan sel retikular primitif dan
makrofag terikat. Sinus-sinus yang terdapat di dalam jaringan limfoid dibatasi oleh sel-sel
littoral, dari sistem makrofag. Jala-jala stroma mengandung sel-sel bebas, megakariosit dan
beberapa sel lemak.

Limfosit

Sel-sel prekursor limfoit adalah limfoblas, yang merupakan sel berukuran relatif besar,
berbentuk bulat. Intinya besar dan mengandung kromatin yang relatif dengan anak inti
mencolok. Sitoplasmanya homogen dan basofil. Limfosit-limfosit muda ini menyerupai
hemositoblas sumsum tulang dan menurut teori perkembangan unitaris, adalah sel yang sama
tetapi pada tempat yang berbeda. (Berlawanan dengan teori dualistik yang menyatakan bahwa
limfoblas agak berbeda dari hemositoblas, dan hanya dapat berkembang menjadi unsur
limfoid). Ketika limfoblas mengalami diferensiasi, kromatin intinya menjadi lebih tebal dan
padat dan ganula azurofil terlihat dalam sitoplasma. Ukuran selnya berkurang dan diberi nama
prolimfosit oleh beberapa penulis. Sel-sel tersebut langsung menjadi limfosit yang beredar.

Pada mamalia pascanatal, kebanyakan limfosit berasal dari proliferasi limfosit yang
ada dalam jaringan limfoid, terutama di dalam limfonodus dan limpa. Hanya bila produksi
demikian tidak dapat mencukupi kebutuhan limfosit, maka agaknya terjadi diferensiasi nyata
dari sel induk yang akan memasuki peredaran dari sumsum tulang.

Perkembangan limfosit kecil, terutama di dalam limfonodus dan limpa, umumnya


menggambarkan reaksi tehadap penyusupan oleh protein asing. Suatu reaksi lebih lanjut
terhadap rangsangan yang demikian itu adalah pembentukan sel plasma, yang melakukan
sintesis antibodi. Sel-sel ini mungkin berasal langsung dari hemositoblas (limfoblas) atau dari
limfosit yang berkompeten imunologi. Pada proses tersebut terakhir, limfosit-limfosit kecil
(Sel B) melalui tahap-tahap peralihan (intermediate) yang tak dapat dibedakan dari limfosit
besar dan limfosit sedang.

Monosit

Monosit berkembang dari sel induk (“stem cell”) di dalam sumsum tulang. Tidaklah
mungkin membedakan sel induk tersebut, yaitu monoblas, dari mieloblas. Monoblas
berkembang menjadi promonosit yang diameternya sekitar 15µm. Inti lonjong atau berlekuk
dengan pola kromatin halus serta dua atau lebih anak inti. Sitoplasma basofil dan
mengandung granula azurofil halus denan jumlah yang bervariasi dapat berubah. Sel ini
berkembang menjadi monosit, yang terdapat baik dalam sumsum tulang maupun dalam darah.
Ia agak lebih kecil dari promonosit (10-12µm), dengan anak inti yang tidak jelas. Sitoplasma
mengandung banyak sekali granula azurofil halus, yang memberikan reaksi peroksidase
positif, tidak seperti granula azurofil pada limfosit yang memperlihatkan reaksi peroksidase
negatif, monosit meninggalkan darah lalu masuk ke jaringan; disitu jangka hidupnya sebagai
makrofag mungkin 70 hari.

Perkembangan embrional sel-sel darah

Ada tiga tahapan hemopoiesis yang tidak jelas batasnya semasa perkembangan
intrauterina, dan dalam semua tahapan itu hemopoiesisnya sama. Terjadi peristiwanya berupa
diferensiasi sel-sel mesenkim ke dalam sel-sel bebas yang sitoplasmanya mendapatkan sifat
basofil yang jelas. Sel-sel tersebut, sering disebut hemositoblas, berpoliferasi secara aktif.
Proses demikian terjadi mula-mula di dalam kuning telur selama perkembangan minggu
ketiga. Hemositoblas berubah menjadi eritroblas primitif dan mengumpulkan hemoglobin
dalam sitoplasmanya. Mereka berbeda dari eritrosit yang berasal dari sumsum tulang, karena
dalam hal ini mereka lebih besar dan tetap mempunyai inti.

Tahap kedua hemopoiesis terjadi di dalam hati dan limfa. Hemopoiesis mulai dalam
hati sampai pertengahan kehidupan janin. Hemositoblas berpoliferasi dan berkembang
menjadi sel-sel darah merah yang berinti dan yang tidak berinti, leukosit dan megakariosit.
Pembentukan sel darah merah yang inti secara bertahap berkurang sebelum pertengahan
kehidupan fetus dan aktivitas hemopoietik di dalam hati biasanya menghilang pada waktu
lahir. Hemopoiesis terjadi di dalam limfa antara bulan kedua dan bulan kedelapan.
Eritropoiesis berhenti pada saat lahir atau tepat sesudahnya, walaupun limfosit dan monosit
terus dihasilkan di dalam limfa pascanatal. Disamping itu, selama tahap kedua, timus mulai
memproduksi limfosit sejak bulan kedua.

Tahap ketiga meibatkan sumsum tulang dan limfonodus. Jaringan milenoid sumsum
tulang terlihat pada bulan ketiga masa janin ketika primordia tulang rawan dari tulang-tulang
mengalami perembesan mesenkim selama proses osifikasi. Sel mesenkim membulat lagi dan
menjadi hemositoblas, menghasilkan eritroblas, mielosit, monosit, limfosit, dan megakariosit.
Dengan munculnya sumsum tulang, produksi sel-sel darah merah berinti berhenti.
Limfonodus berkembnag relatif lambat selama kehidupan janin, dan produksi unsur-unsur
mieloid tidak pernah terlihat nyata didalamnya. Namun mereka terus berfungsi selama hidup,
seperti limfa dalam menghasilkan limfosit.