Anda di halaman 1dari 11

SIKAP EKSTRIM TERHADAP SHALAT TARAWIH

fitnah di antara umat Islam. Marilah kita dengan jernih mensikapinya


dengan bijak karena telah kita ketahui hal ini adalah perkara khilafiyah dari
para kalangan ulama salafush-shalih.

Seperti biasa menjelang bulan ramadhan hal yang paling banyak


diperbincangkan baik di forum-forum atau di website-website ilmiah dan
semisalnya adalah permasalahan mengenai bilangan jumlah rakaat dalam
sholat tarawih, mereka berpendapat bahwa bilangan yang sesuai sunnah
adalah 11 rakaat tidak boleh kurang atau lebih dan yang lainnya
berpendapat boleh mengurangi atau menambah jumlah rakaat karena
ulama-ulama salaf pernah melaksanakannya lebih dari 11 rakaat.

Ada dua kelompok ekstrim dalam masalah ini;

Mengenai jumlah rakaat sholat tarawih ada baiknya membaca tulisan kecil
dari al-ustadz abul jauza hafidzahullahu mengenai hal ini dimana dari
tulisannya saya sendiri memahami bahwa yang shahih adalah 11 rakaat[1].

Mari kita simak nasehat dari syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu tatkala
beliau melihat fenomena ini terjadi dalam masyarakat islam saat ini ;

Nah, selanjutnya bagaimana dengan mereka yang


melaksanakan lebih dari itu ( 23 rakaat , dan
selainnya ) ? sedangkan tidak ada satupun
dalil/nash yang menerangkan bahwa sholat tarawih
adalah 23 rakaat dan selainnya ?

Tidak ada masalah ijtihadiyah di antara ahli ilmu yang disikapi dengan
sensitif sedemikian rupa selain masalah ini ( jumlah rakaat sholat
tarawih), sehingga nantinya menjadi sebab terjadinya perpecahan dan

Kelompok pertama, mereka yang mengingkari orang yang menambah


(rakaat Taraweh) dari sebelas rakaat dan membidahkan prilakunya.
Kelompok kedua, mereka yang mengingkari orang yang hanya
menunaikan sebelas rakaat dan mengatakan, Mereka telah menyalahi
ijma (konsensus para ulama).

:
:

.

:


:
.


:
.




( 646 ) ( 806 )

.
:
} : :
{
.
( 75 73 / 4 )
Tidak selayaknya kita bersikap berlebih-lebihan atau terlalu meremehkan.
Sebagian orang berlebih-lebihan untuk konsisten dalam memegang sunnah
dari sisi bilangan (rakaat qiyam), dia mengatakan: Tidak dibolehkan
menambah bilangan melebihi apa yang telah ada dalam sunnah. Dia sangat
mengingkari orang yang menambahnya sambil mengatakan, bahwa orang
tersebut telah berbuat dosa dan maksiat. Tidak diragukan lagi bahwa sikap
ini merupakan kekeliruan. Bagimana orang itu dikatakan berdosa dan
bermaksiat, padahal Nabi sallallahualaihi wasallam pernah ditanya tentang
shalat malam, maka beliau bersabda, Dua (rakaat)-dua (rakaat) tanpa
menentukan bilangan. Dapat dipahami bahwa sang penanya tentang shalat
malam tersebut tidak mengetahui bilangannnya, karena orang yang tidak
tahu tata caranya, maka mestinya dia lebih tidak tahu bilangannya,
sedangkan dia bukan termasuk orang yang melayani Nabi sallallahu alaihi
wa sallam sehingga kita dapat mengatakan dia telah mengetahui apa yang
terjadi dalam rumahnya. Maka, jika Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah
menjelaskan tata cara tanpa membatasi jumlah bilangan, dapat dikatakan

bahwa masalah ini bersifat luas. Seseorang dibolehkan shalat seratus rakaat
dan shalat witir satu rakaat.

Adapun sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam: Shalatlah kalian


sebagaimana kalian melihat aku shalat. Hadits ini tidak bersifat umum,
bahkan juga bagi mereka. Oleh karena itu mereka tidak mewajibkan
seseorang untuk shalat witir sesekali lima rakaat, sesekali tujuh (rakaat),
dan sesekali sembilan (rakaat). Kalau kita mengambil akan keumuman
hadits ini, pasti kita katakan, seharusnya engkau witir sesekai lima
(rakaaat), sesekali tujuh (rakaat) dan sesekali sembilan (rakaat) secara
langsung. Akan tetapi maksudnya adalah shalatlah kalian seperti kalian
melihat aku menunaikan shalat dalam tata caranya. Adapun dalam hal
bilangan (rakaat) tidak (termasuk dalam pemahaman hadits ini) melainkan
apa yang telah ditetapkan dalam nash terkait penentuan bilangannya.

Secara umum, seyogyanya bagi seseorang janganlah terlalu keras kepada


orang-orang dalam masalah yang luas. Sampai kami melihat di antara
saudara-saudara yang ekstrim dalam masalah ini, sehingga ada yang
membidahkan para ulama yang berpendapat (bolehnya shalat malam)
lebih dari sebelas (rakaat). Lalu mereka meninggalkan masjid (sebelum
shalat taraweh selesai) sehingga dia luput mendapatkan apa yang Nabi
sallallahu alaihi wa sallam sabdakan:

806 (
646 )

Sesungguhnya orang yang melakukan shalat bersama imam hingga


selesai, maka akan dicatat baginya sebagai shalat malam. (HR. Tirmizi,
806. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Tirmizi, no. 646)

Terkadang mereka duduk-duduk setelah menyelesaikan sepuluh rakaat,


hingga barisan shalat terputus karena duduknya mereka. Bahkan kadang
mereka saling berbicara sehingga mengganggu orang-orang yang (sedang)
shalat. Tidak kami ragukan, bahwa mereka ingin kebaikan, dan mereka
berijtihad. Akan tetapi tidak setiap orang yang berijtihad itu tepat.

Kelompok kedua, kebalikan dari mereka (kelompok pertama), yaitu


yang mengingkari dengan keras mereka yang hanya menunaikan shalat
sebelas rakaat. Mereka mengatakan: Engkau telah keluar dari ijma
(konsensus para ulama), padahal Allah Taala berfirman:



Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya,
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan
ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali. (QS. An-Nisa: 115)

Orang-orang sebelum kalian tidak mengenal (bilangan rakaat) selain dua


puluh tiga rakaat. Maka dengan ekstrim mereka mengingkarinya (yang
shalat sebelas rakaat). Ini juga suatu kesalahan. (As-Syarhu Al-Mumti,
4/73-75)


:


.

.
( 225 / 4 )
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata berkenaan dengan
permasalahan orang yang shalat bersama imam sepuluh rakaat kemudian
duduk dan menunggu shalat witir (sementara) dia tidak menyempurnakan
shalat Taraweh bersama imam: Yang sangat kami sayangkan sekali, di
tengah umat Islam yang kian terbuka, ada segolongan orang yang bertikai
dalam masalah-masalah yang masih dibolehkan adanya perbedaan
pendapat. Dan menjadikan perbedaan tersebut sebagai sebab hilangnya
kesatuan hati.

Perbedaan dalam umat ini telah ada sejak masa para shahabat, meskipun
begitu, hati mereka tetap menyatu. Maka seharusnya, khusus kepada para
pemuda dan setiap orang yang konsisten dalam memegang agama,
hendaklah dalam satu langkah dan satu sikap. Karena di sana banyak
musuh mereka yang mencari-cari kesempatan. (As-Syarhu Al-Mumti,
4/225)

Adapun dalil kelompok yang mengatakan tidak boleh menambah dari


delapan rakaat dalam shalat Taraweh adalah hadits Abu Salamah bin
Abdurrahman bahwa beliau bertanya kepada Aisyah radhiallahuanha:
:


( 738 ) ( 1909 ) . .
Bagaiamana cara shalat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pada bulan
Ramadan? Beliau menjawab: Beliau tidak pernah menambah di bulan
Ramadan dan selain Ramadan dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat
(rakaat), jangan tanya bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi
empat (rakaat), jangan tanya bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat
tiga (rakaat). Maka aku (Aisyah) berkata: Wahai Rasulullah! Apakah
engkau tidur sebelum shalat witir? Beliau menjawab: Wahai Aisyah
sesungguhnya kedua mataku terpejam (akan tetapi) hatiku tidak tertidur.
(HR. Bukhari, no. 1909, Muslim, no. 738)

Mereka mengatakan: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah selalu


melaksanakan demikian dalam shalat malam, baik di bulan Ramadan
maupun selain Ramadan.

Para ulama menolak menjadikan hadits ini sebagai dalil (tidak bolehnya
shalat malam lebih dari sebelas rakaat), sebab hal ini adalah perbuatan
beliau sallallahu alaihi wa sallam, sedangkan perbuatan tidak
menunjukkan kewajiban. Di antara dalil yang jelas bahwa shalat lail, di
antaranya shalat Taraweh, tidak ditentukan bilangan rakaatnya, adalah
hadits Ibnu Umar radhiallahuanhuma sesungguhnya seseorang bertanya
kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tentang shalat malam. Maka
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menjawab: Shalat malam dua
(rakaat) dua (rakaat), kalau di antara kalian khawatir (datang waktu)
subuh, maka shalatlah satu rakaat untuk witir dari shalat yang telah
dilaksanakan. (HR. Bukhari, 946. Muslim, 749)

:
.
( 145 / 2 )
As-Sarkhasi, beliau termasuk tokoh dalam mazhab Hanafi, berkata:
Sesungguhnya (shalat malam) dalam (mazhab) kami adalah dua puluh
rakaat selain witir. (Al-Mabsuth, 2/145)

:
) (
: .

Sebagian salaf pun ada yang melaksanakan shalat malam sampai 40


rakaat, lalu mereka berwitir dengan 3 rakaat. Ada lagi ulama yang
melaksanakan shalat malam dengan 36 rakaat dan berwitir dengan 3
rakaat.

( 457 / 1 )
Ibnu Qudamah berkata: Yang dipilih menurut Abu Abdullah (yakni Imam
Ahmad) rahimahullah dalam (shalat malam) adalah dua puluh rakaat.
Pendapat juga dipilih oleh Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan Asy-Syafii.
Sedangkan Imam Malik mengatakan: Tiga puluh enam (rakaat). (AlMughni, 1/457)

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Majmu alFatawa 22/272
Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu
alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi
shallallahu alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan
Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 rakaat. Akan tetapi shalat
tersebut dilakukan dengan rakaat yang panjang. Tatkala Umar
mengumpulkan manusia dan Ubay bin Kaab ditunjuk sebagai imam, dia
melakukan shalat sebanyak 20 rakaat kemudian melaksanakan witir
sebanyak tiga rakaat. Namun ketika itu bacaan setiap rakaat lebih
ringan dengan diganti rakaat yang ditambah. Karena melakukan
semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu rakaat
dengan bacaan yang begitu panjang.

Semua jumlah rakaat di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat


malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat
bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam
sesuai dengan kondisi para jamaah. Kalau jamaah kemungkinan senang
dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat
malam dengan 10 rakaat ditambah dengan witir 3 rakaat, sebagaimana
hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri di
bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah
yang terbaik.

Namun apabila para jamaah tidak mampu melaksanakan rakaat-rakaat


yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 rakaat itulah
yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak
ulama. Shalat malam dengan 20 rakaat adalah jalan pertengahan antara
jumlah rakaat shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh.
Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 rakaat atau
lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun.
Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal
Imam Ahmad dan ulama lainnya.[2]

:
: :

.
( 64 )
Sykehul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Taraweh kalau dilaksanakan cara
shalatnya seperti madzhab Abu Hanifah, Syafii dan Ahmad dua puluh
rakaat atau seperti madzhab Malik tiga puluh enam (rakaat) atau tiga belas
atau sebelas, maka itu bagus. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Imam
Ahmad bahwa masalah ini bukan perkara tauqifi (baku), maka boleh
memperbanyak atau menyedikitkan rakaat, sesuai dengan panjang dan
pendeknya qiyam. (Al-Ikhtiyarat, hal. 64)

Dari pendapat para ulama dalam berbagai madzhab yang diakui, jelas
bahwa perkara ini sangatlah luas. Maka tidak mengapa menambah rakaat
lebih dari sebelas rakaat. Adapun yang shalat sebelas rakaat sesuai dengan
sifat yang dilakukan Nabi sallallahu alaih wa sallam maka dia telah sesuai
dengan sunnah. Dan tidak seharusnya mengingkari orang yang melakukan
salah satu dari dua amalan tersebut.

Selanjutnya timbul pertanyaan lagi, apakah sholat


tarawih dilakukan berjamaah atau sendiri-sendiri ?

Shalat qiyam (Taraweh) disyariatkan pada bulan Ramadan, baik secara


berjamaah maupun seorang diri. Pelaksanaan secara berjamaah lebih
utama dibanding seorang diri. Terdapat riwayat yang telah tetap dalam
Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim), sesungguhnya Nabi
sallallahu alaihi wa sallam menunaikan shalat dengan para shahabat
beberapa malam. Ketika memasuki malam ke tiga atau keempat beliau
tidak keluar (untuk menunaikan shalat) bersama mereka. Ketika pagi hari
beliau bersabda:
1129 ) .

( 761 .
Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (menunaikan shalat) bersama
kalian semua, melainkan aku khawatir dia (qiyam) akan diwajibkan
kepada kalian. (HR. Bukhari, no. 1129)

Dalam redaksi Muslim, no. 761, (Beliau bersabda), Akan tetapi aku
khawatir (qiyamul lail) diwajibkan kepada kalian, sehingga kalian tidak
mampu (melaksanakannya).




.
( 78 / 4 )

Telah tetap bahwa berjamaah dalam Taraweh ada sunnah Nabi sallallahu
alaihi wa sallam, dan Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan
bahwa penghalang untuk meneruskan shalatnya secara berjamaah adalah
khawatir diwajibkan. Dan ketakutan tersebut kini telah hilang dengan
wafatnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Karena setelah beliau
sallallahu alaihi wa sallam wafat, wahyu terputus, maka dengan demikian
telah aman dari (turunnya wahyu) untuk mewajibkannya. Ketika illat
(sebab suatu hukum) telah hilang yaitu takut diwajibkan dengan
terputusnya wahyu, maka itu berarti harus kembali kepada ke sunnah
(semula). (Silakan lihat Syarhu Al-Mumti, karangan Syekh Ibnu
Utsaimin, 4/78).

:
:



:
.

( 109 108 / 8 )
Imam Ibnu Abdul Bar rahimahullah berkata: Hadits tersebut menunjukkan
bahwa qiyam Ramadan merupakan salah satu sunnah Nabi sallallahu
alaihi wa sallam, disunnahkan dan dianjurkannya. Bukan Umar bin
Khattab yang mengadakan sunnah tersebut, dia cuma sekedar
menghidupkannya. Sesuatu yang disukai dan diridai Rasulullah sallallahu
alaihi wa sallam, sebab tidak ada yang menghalangi beliau untuk terus

menerus melakukannya selain kekhawatirannya hal tersebut diwajibkan


kepada umatnya. Dan beliau sallallahu alaihi wa sallam dikenal sangat
mengasihi dan menyangi orang-orang mukmin.

Maka ketika Umar mengetahui hal tersebut dari Rasulullah sallallahu


alaihi wa sallam dan mengetahui bahwa kewajiban-kewajiban tidak boleh
ditambah dan tidak boleh berkurang sepeninggal beliau sallallahu alaihi
wa sallam, Maka beliau kembali melakukan dan menghidupkan shalat
Taraweh berjamah Hal itu terjadi pada tahun empat belas hijriyah, sebagai
karunia dan keutamaan Allah padanya. (At-Tamhid, 8/108-109)


:
( 1906 ) .
Abdurrahman bin Abdun Al-Qari berkata: Suatu malam di bulan
Ramadan, aku bersama Umar berangkat menuju ke masjid. Ternyata orangorang shalat berpencar-pencar. Ada yang shalat seorang diri, dan ada yang
shalat dengan sejumlah orang yang mengikuti. Maka beliau berkata: Demi
Allah, sesungguhnya aku berpandangan, lebih baik kalau mereka
dikumpulkan di belakang satu qari (imam). Setelah keinginan beliau bulat,
mereka dikumpulkan dengan imam Ubay bin Kab. Kemudian saya keluar
lagi bersama Umar pada malam lain. Sementara (kini) orang-orang
menunaikan shalat dengan satu qari (imam). Maka Umat berkomentar:

Inilah sebaik-baik bidah (sesuatu yang baru), waktu yang mereka


gunakan untuk tidur (akhir malam) lebih baik dibandingkan waktu yang
mereka gunakan untuk shalat maksudnya akhir malam-. Pada awalnya,
orang-orang waktu itu menunaikan shalat pada awal malam. (HR.
Bukhari, no. 1906)

:
:




:


:
( 235 234 / 22 ) .
Syaikhul Islam berkata ketika membantah orang membolehkan bidah
dengan argumen perkataan Umar: Inilah sebaik-baik bidah-, Adapun
qiyam Ramadan (Taraweh), sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa
sallam telah menganjurkan kepada umatnya. Beliau shalat dengan (para
shahabat) secara berjamaah beberapa malam. Mereka pada masanya
menunaikan (shalat qiyam) secara berjamaah dan seorang diri. Akan tetapi
beliau tidak terus menerus melaksanakan dalam satu jamaah agar tidak
diwajibkan kepada umatnya. Ketika beliau wafat, maka syariat menjadi
baku (tidak berubah). Pada masa (kekhalifahan) Umar radhiallahuanhu,
beliau mengumpulkan (jamaah shalat Taraweh) dengan satu imam, yaitu

Ubay bin Kab. Orang-orang shalat di belakangnya atas perintah Umar bin
Khatab radhiallahuanhu. Dan Umar radhiallahuanhu adalah salah seorang
Khulafaur Rasyidin, yang Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda
tentang mereka: Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku
dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku.
Peganglah dengan gigi geraham. Karena ia adalah pegangan yang sangat
kuat. Karena yang beliau laksanakan adalah sunnah Nabi, sedangkan beliau
berkata: Inilah sebaik-baik bidah. Maka yang dimaksud bidah di sini
adalah dari sisi bahasa, karena mereka melaksanakan apa yang tidak
mereka lakukan pada masa kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wa
sallam yaitu berkumpul seperti demikian. Maka dia termasuk salah satu
ajaran dalam syariat. (Majmu Fatawa, 22/ 234, 235)

806 )
(
Sesungguhnya orang yang melakukan shalat bersama imam hingga
selesai, maka akan dicatat baginya sebagai shalat malam. (HR. Tirmizi,
806. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab Shahih Tirmizi).

Bagaimana dengan wanita ?

Yang lebih utama bagi para wanita dalam qiyamul lail adalah
melakukannya di rumah, berdasarkan hadits berikut ini :

.



Dari Ummu Humaid, isteri Abu Humaid As-Saidy, sesungguhnya beliau
datang (menemui) Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan bertanya: Wahai
Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama anda engkau. Beliau
menjawab: Sungguh aku mengetahui bahwa engkau suka menunaikan
shalat bersamaku, akan tetapi shalatmu di kamar tidurmu lebih baik
dibandingkan shalatmu di ruang tengah rumahmu, dan shalatmu di ruang
tengah rumahmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid khusus
rumahmu, dan shalatmu di masjid khusus rumahmu, lebih baik
dibandingkan shalatmu di masjid di sekitar masyarakatmu, dan shalatmu di
masjid sekitar masyarakatmu lebih baik dibandingkan shalatmu di
masjidku. Kemudian dia (Ummu Humaid) minta dibangunkan baginya
masjid (tempat shalat) di tempat paling ujung rumahnya dan paling gelap.
Maka beliau shalat di sana sampai bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla
(wafat). (HR. Ahmad, para perawinya tsiqah/terpercaya).

Jangan kalian melarang isteri-isteri kalian ke masjid. Akan tetapi rumahrumah mereka lebih baik bagi mereka. (HR. Abu Daud, dalam sunannya,
tercantum dalam kitab Shahih Al-Jami, 7458)

Akan tetapi keutamaan semacam ini jangan sampai menjadi penghalang


untuk memberi izin kepada para wanita pergi ke masjid. Sebagaimana
hadits Abdullah bin Umar radhiallahuanhuma, dia berkata, saya
mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:



667
Janganlah kalian melarang para wanita pergi ke masjid jika mereka
mereka minta izin kepada kalian. Lalu Bilal bin Abdullah berkata: Demi
Allah, sungguh kami akan melarangnya. Kemudian Abdullah (bin Umar)
menemuinya dan mencelanya dengan celaan yang belum pernah aku
dengarkan (celaan) semacam itu, seraya beliau berkata, Aku beritahu
engkau ucapan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, tapi kamu justeru
mengatakan, Demi Allah sungguh kami akan melarangnya! (HR.
Muslim, no. 667)

Dan berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:


) .
(7458 . :

:

: :
: :

: : .

: .
Dari Abu Dzarr radliyallaahu anhu ia berkata : Kami pernah berpuasa
bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam pada bulan Ramadlan.
Tidaklah beliau shalat tarawih bersama kami hingga tersisa tujuh hari dari
bulan tersebut. Saat itu baru beliau shalat bersama kami hingga
berakhir/selesai pada sepertiga malam (yang terakhir). Pada saat malam
tersisa enam hari lagi, beliau kembali tidak shalat bersama kami. Ketika
malam tersisa lima hari lagi, maka beliau shalat bersama kami hingga
berakhir/selesai pada waktu tengah malam. Aku berkata : Wahai
Rasulullah, seandainya kita shalat kembali pada (sisa) malam ini ?. Maka
beliau menjawab : Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam
hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk. Ketika
malam tersisa empat hari lagi, beliau tidak shalat bersama kami. Namun
ketika malam tinggal tersisa tiga hari, beliau mengumpulkan keluarganya,
istri-istrinya, dan orang-orang yang ada; kemudian shalat bersama kami
hingga kami khawatir tertinggal waktu falah. Aku pernah bertanya : Apa
makna falah itu ?. Beliau shallallaahu alaihi wasallam menjawab :
Waktu sahur. Kemudian beliau kembali tidak shalat bersama kami pada
sisa malam di bulan Ramadlan tersebut.[Diriwayatkan oleh empat imam,
dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi] [3].
Didalam hadits diatas mengandung beberapa faidah dan salah satunya
dianjurkan bagi seorang wanita sholat taraweh berjamaah di
masjid[4]karena memang banyak manfaat yang didapat tanpa
mengesampingkan mudharatnya dan harus memperhatikan syarat-syarat
yang berlaku[5].

Demikian yang bisa tersampaikan mengenai beberapa pembahasan sholat


tarawih dan semoga menjadi bekal ilmu yang bermanfaat bagi kita sekalian
dan bijak dalam masalah khilafiyah.
Wallahu taala alam bish-showab.

Kesimpulan :
1. Hadist yang shahih mengenai jumlah tarawih adalah 11 rakaaat
2. Lebih utama bagi seorang laki-laki sholat tarawih berjamaah di masjid,
sedangkan bagi wanita lebih utama di rumah sendiri, namun dianjurkan
sholat berjamaah dimasjid dengan tetap pada kaidah-kaidah dan syarat
yang berlaku.
3. Para ulama salafush-shalih pernah melakukan sholat taraweh lebih dari
11 rakaat
4. Para ulama sangatlah bijak dan saling menghargai mengahadapi
permasalahan ini ( Masalah jumlah rakaat sholat tarawih, semestinya bagi
kita lebih bijak lagi mensikapinya dan tidak menjadikan perbedaan ini
sebagai sebab timbulnya perpecahan.

Catatan tangan :
[1].Bisa
dilihat
lebih
lanjut
(http://abuljauzaa.blogspot.com/2010/08/riwayat-shalat-taraawih-23-rakaatdi.html )
[2].Untuk
scan
kitabnya
(http://www.facebook.com/photo.php?

bisa

dilihat

disini

fbid=249140171770734&set=a.196477183703700.48366.1000002425900
79&type=1)

1.Banyak mengambil faidah dari website resmi Syaikh Muhammad Shalih


al-Munajjid hafidzahullahu (http://www.islamqa.com/) semoga Allah
membalas jerih payahnya menyebarkan ilmu dengan kebaikan

[3]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1375), At-Tirmidzi (no. 806) dan
ia berkata : Hasan shahih, An-Nasai (3/83), Ibnu Maajah (no. 1327),
Ahmad (5/163). Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 2205) dan Ibnu
Hibban (no. 2547).

2.Faidah yang sangat berharga dari artikel al-ustadz Abul Jauza


http://abul-jauzaa.blogspot.com/, semoga Allah membalas jerih
payahnya menyebarkan ilmu dengan kebaikan

[4].Selengkapnya
bisa
lihat
disini
(http://abuljauzaa.blogspot.com/2008/09/keutamaan-shalat-tarawihberjamaah.html)

3.Dan
dari
tulisan
al-ustadz
Muhammad Abduh
http://rumaysho.com/, semoga Allah membalas jerih
menyebarkan ilmu dengan kebaikan.

[5].Dalam
artikel
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2686shalat-tarawih-bagi-wanita-lebih-baik-di-masjid-ataukah-dirumah.html

4.Kitab Majmu al fatawa Syaikhul islam ibnu taimiyah.

Tuasikal
payahnya

http://gizanherbal.wordpress.com/2011/08/02/sikap-ekstrim-terhadapshalat-tarawih/

Referensi: