Anda di halaman 1dari 3

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. (editor). 2002. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJIII. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya
2. Miret S, Fatj-Vilas M, Peralta V, Fanans L. Basic symptoms in schizophrenia, their
clinical study and relevance in research. Rev Psiquiatr Salud Ment (Barc.).
2016;9(2):111-122
3. Oru L, Kapur-Pojski L, Rami J, Pojski N, Bajrovi K. Assessment of relatedness
between neurocan gene as bipolar disorder susceptibility locus and schizophrenia.
Bosn J Basic Med Sci. 2012 Nov;12(4):245-8
4. Uhlhaas P, Pipa G, Lima B, Melloni L, Neuenschwander S, Nikolic D, et all. Neural
synchrony in cortical networks: history, concept and current status. Frontiers in
Integrative Neuroscience. 2009;3:1-19
5. Maslim R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya
1. Tipe I dan tipe II
Ditahun 1980 T.J.Crown mengajukan suatu klasifikasi pasien skizofrenik ke dalam
tipe I dan tipe II. Perbedaan klinis dari kedua tipe tersebut telah secara bermakna
mempengaruhi penelitian psikiatrik. Gejala negatif yang timbul yaitu afek datar
atau tumpul, kemiskinan pembicaraan atau isi pembicaraan, penghambatan
(blocking), penampilan yang buruk, tidak adanya motivasi, anhedonia, penarikan
sosial, defek kognitif dan defisit perhatian. Gejala positif adalah asosiasi longgar,
halusinasi, perilaku aneh dan bertambah banyaknya pembicaraan. Pasien tipe I
cenderung memiliki sebagian besar gejala positif, struktur otak yang normal pada
CT, dan respons yang relatif baik terhadap pengobatan. Pada pasien tipe II
cenderung memiliki sebagian besar gejala negatif, kelainan struktural otak pada
pemeriksaan CT dan respon yang buruk terhadap pengobatan.
mempunyai kriteria diagnosis resmi dari American Psychiatric Association untuk
skizofrenia: 1
Kriteria Diagnostik Skizofrenia
Gejala karakteristik: Dua atau lebih berikut,masing-masing ditemukan untuk bagian
waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika pengobatan berhasil):
(1) Waham

(2) Halusinasi
(3) Bicara disorganisasi (misalnya, sering menyimpang atau inkoheren)
(4) Perilaku disorganisasi atau katatonik yang jelas
(5) Gejala negatif, yaitu afk datar, alogia atau tidak ada kemauan (avolition)
Catatan : hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah bizzare (kacau) atau
halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengomentari perilaku atau pikiran pasien
atau dua atau lebih suara yang saling bercakap-cakap satu sama lainnya.
B. Disfungsi sosial/pekerjaan: Untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan,
satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal atau perawatan diri
adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau jika onset pada masa anakanak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat pencapaian interpersonal, akademik atau
pekerjaan yang diharapkan)
C. Durasi: tanda gangguan terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan. Periode 6
bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika pengobatan berhasil)
yang memenuhi kriteria A (yaitu gejala fase aktif) dan mungkin termasuk periode gejala
prodomal atau residual. Selama periode prodomal atau residual tanda gangguan mungkin
hanya gejala negatif saja atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam
bentuk yang lebih lemah (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman atau persepsi yang
tidak lazim)
D. Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood. Gangguan skizoafektif dan
gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena: (1) tidak ada episode depresif
berat, manik atau campuran yang telah terjadi bersama-sama dengan gejala fase aktif atau (2)
jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah relatif singkat
dibandingkan durasi periode aktif dan residual.
E. Penyingkiran zat/kondisi medis umum: gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis
langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalah gunakan) atau suatu kondisi medis
umum
F. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif. Jika terdapat adanya riwayat
gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosis tambahan
skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan untuk
sekurangnya satu bulan (atau kurang jika diobati secara berhasil).
Klasifikasi perjalanan penyakit longitudinal (dapat diterapkan hanya setelah sekurangnya 1
tahun sejak onset awal gejala fase aktif);

Episodik dengan gejala residual antar episode (episode didefinisikan oleh timbulnya
kembali gejala psikotik yang menonjol), juga sebutkan jika dengan gejala negatif yang
menonjol
Episode tanpa gejala residual antar episodik
Episode tunggal dalam remisi parsial, juga dengan gejala negatif yang menonjol
Episode tunggal dalam remisi penuh
Pola lain atau tidak ditentukan
Nama Obat Sediaan Dosis Anjuran
Haloperidol (Haldol) Tab. 2 5 mg 5 15 mg/hari
Risperidone (Risperdal) Tab. 1 2 3 mg 2 6 mg/hari
Olanzapine (Zyprexa) Tab. 5 10 mg 10 20 mg/hari
Clozapine (Clozaril) Tab. 25 100 mg 25 100 mg/hari
Quetiapine (Seroquel) Tab. 25 100 mg
200 mg 50 400 mg/hari
Aripiprazole (Abilify) Tab. 10 15 mg 10 15 mg/hari

- Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens (pertahanan) pasien


terhadap stres.
- Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien terhadap
penyakitnya serta mengembangkan kemampuannya untuk menunjang penyembuhan dirinya.
Selain itu juga meningkatkan pengetahuan keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien.
Peningkatan pengetahuan dilakukan dengan edukasi baik terhadap pasien maupun keluarga.
- Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk dicapainya tilikan akan konflik-konflik nirsadar
dengan usaha untuk mecapai perubahan struktur luas kepribadian.