Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

Disusun Oleh
GUSTADINO
015.02.0186

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN XI B


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
MATARAM
2016

LAPORAN PENDAHULUAN
A. Masalah Utama Klien : Halusinasi pendengaran
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian.
a. Perubahan Sensori Persepsi
Adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan
dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekati (yang
diprakarsai
suatu

secara

pengurangan

internal

eksternal)disertai

berlebih-lebihan

distorsi

atau

dengan
kelainan

berespon terhadap suatu stimulus. (Townsend, 1998)


b. Halusinasi
Adalah

persepsi

klien

terhadap

lingkungan

tanpa

stimulus

yang nyata artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang


nyata tanpa stimulus / rangsangan dari luar. (Maramis, 1980)
c. Halusinasi
Merupakan reaksi terhadap stress dan usaha dari alam tak
sadar untuk melindungi egonya atau pernyataan simbolik dari
gangguan

psikotik

individu.

Halusinasi

adalah

gejala

sekunder dari Skizofrenia dank lien dengan skizofrenia 70 %


mengalami halusinasi pendengaran dan 20 % mengalami campuran
antara

halusinasi

pendengaran

dan

halusinasi

penglihatan.

(Stuart dan Sundeen, 1995).


Pada

klien

dengan

gangguan

jiwa

ada

beberapa

jenis

halusinasi dengan karakteristik tertentu, diantaranya :


1) Halusinasi pendengaran
Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama
suarasuara orang, biasanya klien mendengar suara orang
yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya
dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.
2) Halusinasi penglihatan
Karakteristik ditandai dengan adanya stimulus penglihatan
dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar
kartun

dan

atau

panorama

yang

luas

dan

kompleks.

Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.


3) Halusinasi penghidu
Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan
bau yang menjijikkan.

seperti: darah, urine atau feses. Kadangkadang terhidu


bau

harum.

Biasanya

berhubungan

dengan

stroke,

tumor,

kejang dan dementia.


4) Halusinasi peraba
Karakteristik

ditandai

dengan

adanya

rasa

sakit

atau

tidak enak tanpa stimulus yang terlihat.


Contoh:

merasakan

sensasi

listrik

datang

dari

tanah,

benda mati atau orang lain.

5) Halusinasi pengecap
Karakteristik

ditandai

dengan

merasakan

sesuatu

yang

busuk, amis dan menjijikkan.


6) Halusinasi sinestetik
Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh.
Seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan
dicerna atau pembentukan urine.
2. Etiologi
Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi
pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi
atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan
dengan

penggunaan

alkohol

dan

substansi

lainnya.

Halusinasi

adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik


dengan

gangguan

metabolik.

Halusinasi

juga

dapat

dialami

sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi


anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik,
sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya
halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat
juga

terjadi

individu

yang

pada

saat

mengalami

keadaan

individu

isolasi,

normal

perubahan

yaitu

sensorik

pada

seperti

kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada


pembicaraan.
Penyebab
diketahui
faktor

halusinasi

namun

biologis,

banyak

pendengaran
faktor

psikologis,

yang

secara

spesifik

mempengaruhinya

sosial

budaya,dan

tidak
seperti

stressor

pencetusnya adalah stress lingkungan, biologis, pemicu masalah


sumber-sumber koping dan mekanisme koping.
a. Faktor Predisposisi
1) Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak / susunan saraf
pusat dapat menimbulkan gangguan realita

Gejala

yang

belajar,

mungkin

berbicara,

muncul
daya

adalah:

ingat

dan

hambatan
muncul

dalam

perilaku

menarik diri dan prilaku kekerasan.


2) Psikologis
Sikap dan keadaan keluarga juga lingkungan
Psikologis klien : pola asuh pada usia kanak-kanak
yang tidak adekuat, misalnya tidak ada kasih sayang
dan diwarnai kekerasan dalam keluarga.
Orientasi

realita

adalah:

penolakan

atau

tindakan

kekerasan dalam rentang hidup klien.


3) Sosial budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi
realita
Kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan,
bencana alam, kerawanan keamanan)
Kehidupan yang terisolir disertai stress yang menumpuk
b. Faktor Presipitasi
a.

Proses pengolahan informasi yang berlebihan

b. Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal


c. Adanya gejala pemicu
c. Patopsikologi
Proses terjadinya halusinasi
Halusinasi

berkembang

melalui

empat

fase,

yaitu

sebagai

berikut :
1) Fase pertama / Tahap comforting (ansietas sedang)
Yaitu fase menyenangkan
a. Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.
b. Karakteristik : Klirn mengalami stress, cemas ringan,
perasaan perpisahan, kesepian yang memuncak, dan tidak
dapat diselesaikan.
c. Gejala : Klien mulai melamun, memikirkan hal-hal yang
menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara.
d. Perilaku klien : Tersenyum atau tertawa yang tidak
sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, menggerakkan
mata

cepat,

respon

verbal

yang

lambat

jika

asyik dengan halusinasinya, dan suka menyendiri.


2) Fase kedua / Tahap condemming (ansietas berat)
Yaitu halusinasi menjadi menjijikkan

sedang

a. Pada tahap ini termasuk dalam psikotik ringan


b. Karakteristik

Pengalaman

sensori

menjijikkan

dan

menakutkan, kecemasan meningkat, melamun, dan berfikir


sendiri jadi dominan.
c. Gejala : Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas,
klien tidak ingin ada orang lain tahu, dan ia tetap
dapat mengontrolnya.
d. Perilaku klien : Meningkatnya tanda-tanda system saraf
otonom seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan
darah,

klien

asyik

dengan

halusinasinya,

dan

tidak

bisa membedakan realitas.


3) Fase ketiga / Tahap controling (ansietas berat)
Yaitu pengalaman sensori menjadi berkuasa.
a. Pada tahap ini termasuk dalam gangguan psikotik
b. Karakteristik : Klien mendengar bisikan, suara, isi
halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol
klien
c. Gejala

: Klien

menjadi terbiasa,

dan tidak

berdaya

terhadap halusinasinya.
d. Perilaku
rentang

klien

perhatian

tanda-tanda

fisik

Kemauan
hanya

dikendalikan

beberapa

berupa

klien

menit

halusinasi,
atau

berkeringat,

detik,
tremor,

dan tidak mampu mematuhi perintah.


4) Fase keempat / Tahap conquering (panik)
Yaitu Klien lebur dengan halusinasinya
a. Pada tahap ini termasuk dalam psikotik berat
b. Karakteristik

Halusinasinya

berubah

menjadi

mengancam, memerintah, dan memarahi klien


c. Gejala : Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang
kontrol,

dan

tidak

dapat

berhubungan

secara

nyata

dengan orang lain dan lingkungan.


d. Perilaku klien : Perilaku teror akibat panik, potensi
bunuh diri, perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri
tau katatonik, tidak mampu merespon terhadap perintah
kompleks,

dan tidak

mampu berespon

orang.
Identifikasi adanya perilaku halusinasi
a. Isi halusinasi
Menanyakan suara siapa yang didengar

lebih dari

satu

Apa bentuk bayangan yang dilihat


Bau apa yang tercium
Rasa apa yang dikecap
Merasakan apa dipermukaan tubuh
b. Waktu dan frekuensi halusinasi
Kapan pengalaman halusinasi itu muncul
Bila mungkin klien diminta menjelaskan kapan persis waktu
terjadinya halusinasi tersebut
c. Situasi pencetus halusinasi
Menanyakan kepada klien peristiwa atau kejadian yang dialami
sebelum halusinasi muncul
Mengobservasi

apa

yang

dialami

klien

menjelang

munculnya

halusinasi
d. Respon klien
Apa

yang

dilakukan

oleh

klien

saat

mengalami

pengalaman

halusinasi
Apakah masih bisa mengontrol stimulus halusinasi atau sudah
tidak berdaya lagi terhadap halusinasi.
3. Rentang respon halusinasi / neurobiologik
R. Adaptif

R. Maladaptif

a.Pikiran logis
b.Persepsi akurat
c.Emosi konsisten
d.Dengan pengalaman
e.Perilaku sesuai
f.Berhubungan
sosial

a. Distorsi pikiran
b. Ilusi
c. Reaksi
emosi
berlebihan
atau
kurang
d. Perilaku
yang
tidak biasa
e. Menarik diri

a.Gangguan pikiran
b.Halusinasi
c.Kesukaran proses
d.Emosi
e.Perilaku
disorganisasi
f.Isolasi sosial

(Stuart dan Laraia, 1998)


4. Tanda dan Gejala
a.

Bicara dan senyum sendiri

b.

Mendengar suara-suara

c.

Marah-marah, gelisah

d.

Merusak / menyerang, bermusuhan

e.

Menarik diri dan menghindar dari orang lain

f.

Lebih banyak berdiam diri / menyendiri

g.

Tidak bisa membedakan hal-hal (stimulus) nyata dan


tidak nyata.

h.

Tidak dapat memusatkan perhatian / konsentrasi

i.

Ekspresi muka tegang dan mudah tersinggung

5. Akibat
a. Mencederai diri / orang lain / lingkungan
b. Bermusuhan dan perilaku kekerasan
C. Pohon Masalah
Risiko menciderai diri sendiri
dan orang lain

Ketidak
efektifan
penatalaksan
aan program
terapeutik

Isolasi sosial :
menarik diri
Ketidak
efektifan
koping keluarga
: ketidak
mampuan
keluarga
merawat klien
di rumah

Gangguan
pemelihar
aan
kesehatan

perubahan
sensori/persepsi :
halusinasi pend

Defisit
perawatan
diri :
mandi dan
berhias

Gangguan konsep
diri : harga diri
rendah kronis

D. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji


1. Isolasi sosial: menarik diri
2. Gangguan sensori persepsi:

halusinasi pendengaran

3. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri, orang lain dan


lingkungan
4. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
5. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik
6. Defisit perawatan diri: mandi dan berhias
7. Ketidakefektifan

keluarga:

ketidakmampuan

klien dirumah
8. Gangguan pemeliharaan kesehatan

keluarga

merawat

E. Diagnosa keperawatan dan prioritas


1. Resiko menciderai

pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan

berhubungan dengan halusinasi


2. Perubahan

persepsi

sensorik:

halusinasi

berhubungan

dengan

menarik diri
3. Isolasi

sosial:

menarik

diri

berhubungan

dengan

harga

diri

rendah
4. Defisit

perawatan

diri:

Mandi/kebersihan

berhubungan

dengan

ketidakmampuan dalam merawat diri


5. Perubahan proses pikir: Waham berhubungan dengan harga diri
rendah kronis
6. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif berhubungan dengan
koping keluarga tak efektif
7. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan menarik diri.
8. Gangguan pola tidur berhubungan dengan halusinasi
9. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan harga diri
rendah.
F. Rencana tindakan keperawatan
1. Resiko menciderai

diri sendiri, orang lain dan

lingkungan

berhubungan dengan halusinasi


a.

Tujuan Umum : klien tidak menciderai

diri sendiri, orang

lain dan lingkungan.


b. Tujuan khusus :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria evaluasi:
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa senang, ada
kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama,
menjawab salam, duduk berdampingan dengan perawat, dan
mau mengutarakan masalah yang dihadapinya.
Intervensi :
Bina

Hubungan

saling

percaya

dengan

menggunakan

prinsip komunikasi terapeutik


1. Sapa

klien

dengnramah

baik

verbal

maupun

non

verbal
2. Perkenalkan diri dengan sopan
3. Tanyakan

nama

disukai klien

lengkap

dan

nama

panggilan

yang

4. Jelaskan tujuan pertemuan


5. Tunjukan

sikap

empati

dan

memerima

klien

apa

danya
6. Beri

perhatian

pada

klien

dan

perhatikan

kebutuhan dasar klien


2) Klien dapat mengenal halusinasinya
Kriteria hasil:
a.) Klien

dapat

menyebutkan

waktu,

isi,

frekuensi

perasaan

terhadap

timbulnya halusinasi
b.) Klien

dapat

mengungkapkan

halusinasinya
Intervensi:
a) Adakan kontak sering dan singkat
b) Observasi

perilaku

(verbal/non

verbal)

yang

berhubungan dengan halusinasinya


c) Bantu klien mengenal halusinasinya
1

Jika

menemukan

klien

yang

sedang

halusinasi,

tanyakan apakah ada suara yang terdengar


2

Jika

klien

menjawab

ada,

lanjutkan

apa

yang

dikatakan oleh suara tersebut

Katakan

bahwa

perawat

percaya

klien

mendengar

suara itu, namun perawat tidak mendengar


4

Katakan

bahwa

klien

yang

lain

juga

ada

yang

seperti klien
5

Katakan bahwa perawat akan membantu klien

d) Diskusikan dengan klien


1. situasi

yang

menimbulkan

dan

tidak

menimbulkan

halusinasi
2. waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi,
siang,

malam,

atau

jika

sendiri,

jengkel

atau

sedih)
3. diskusikan dengn klien apa yang dirasakan jika
terjadi

halusinasi

(marah,

sedih,

kesemapatan mengungkapkan perasaanya.


3) Klien dapat mengontrol halusinasinya
Kriteria hasil:

senang)

beri

a.) Klien dapat menyebutkan tindakan yang bisa dilakukan


untuk mengontrol halusinasinya
b.) Klien dapat menyebutkan cara baru
c.) Klien dapat memilih cara untuk mengatasi halusinasi
seperti yang telah didiskusikan dengan klien
d.) Klien

dapat

melaksanakan

cara

yang

dipilih

untuk

mengendalikan halusinasinya
e.) Klien dapat mengikuti TAK
Intervensi:
a. Identifikasi

bersama

klien

tindakan

yng

bisa

dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya


b. Diskusikan

manfaat

dan

cara

yang

digunakan

klien,

jika bermanfaat beri pujian


c. Diskusikan

cara

baru

untuk

mengontrol

timbulnya

halusinasi:
1

Katakan saya tidak mau dengan kamu (nada saat


halusiansi terjadi)

Menemui

perawat

bercakap-cakap

atau
dan

teman

untuk

dan

keluarga

mengatakan

untuk

halusinasi

yang didengar
3

Membuat

jadwal

kegiatan

sehari-hari

agar

halusinasi tidak muncul


Bantu klien untuk memilih dan melatih cara memutus
halusinasi secara bertahap
Beri

kesempatan

dilatih,

untuk

evaluasi

melakukan

hasilnya

dan

cara
beri

yang
pujian

telah
jika

berhasil
Anjurkan klien mengikuti TAK
4) Klien

mendapat

dukungan

keluarga

dalam

mengontrol

halusinasinya
Intervensi:
a) Anjurkan

klien

untuk

memberitahu

keluarga

ketika

mengalami halusinasi
b) Lakukan kunjungan rumah: Diskusikan dengan keluarga
tentang:
1. Halusinasi klien
2. Cara memutuskan hausinasi
3. Cara merawat anggota keluarga halusinasi

4. Cara

memodifikasi

lingkungan

untuk

menurunkan

kejadian halusinasi
5. Cara

memanfaatkan

fasilitas

pelayanan

kesehatan

pada saat mengalami halusinasi


5) Klien

dapat

menggunakan

obat

untuk

mengontrol

halusinasinya
Intervensi:
a) Diskusikan dengan klien tentang manfaat obat untuk
mengontrol halusinasi
b) Bantu klien menggunakan obat secara benar

DAFTAR PUSTAKA
Directorat

Kesehatan

Jiwa,

Dit.

Jen

Yan.

Kes.

Dep.

Kes

R.I.

Keperawatan Jiwa. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa, Jakarta,


2000.
Keliat

Budi,

Anna,

Peran

Serta

Keluarga

Dalam

Perawatan

Klien

Gangguan Jiwa, EGC, Jakarta, 1995.

Keliat. B. A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC.


Keliat. B. A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Maramis,

W.F,

Ilmu

Kedokteran

Jiwa,

Erlangga

Universitas

Press,

Surabaya, 1990.
Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan
Keluarga, CV. Sagung Seto, Jakarta, 2001.
Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri, EGC, 1997
Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, Jakarta,
1998.