Anda di halaman 1dari 3

KULTUM

Bersyukur di setiap keadaan, di segala perkara

Ada sebuah hadits bahwa seorang muslim itu ajaib. Bila mendapat nikmat bersyukur, bila mendapat
musibah dia bersabar. Bila kita dengarkan, para mubalig selalu mengucapkan syukur, karena kesehatan, karena
iman.
Musibah terkadang datang, tidak setiap saat, mungkin dalam bentuk berpisah, kehilangan sesuatu,
sakit, dimusuhi, dihina, terkapar, ditipu, dikhianati, dan semacamnya.
Bagaimana dengan nikmat ? ia datang setiap saat. Bila kita kehilangan sesuatu, kehilangan barang
misalnya. Pada saat yang bersamaan, kita masih diberi kesehatan, iman, kesadaran, serta kemampuan berpikir,
merindu dan mencinta. Jadi pada dasarnya, musibah itu datang hanya sekedar menumpang, tapi entah
bagaimana tumpangan bernama musibah itu terasa sangat menyakitkan, menyesakkan. (nanti berusaha di
analaisia, ada dugaan ada pihak-pihak tertentu lain yang menusuk-nusukkan kesakitan ini). Bahkan pada orangorang tertentu, ia tidak ingat nikmat yang saat itu juga sedang turun kepadanya.
Nah perlu juga ditekankan, bahwa pada tingkat pemahaman tertentu, sakit, sulit, atau pahit, itu tidak lagi
dianggap musibah, itu anugerah. (andaikan di sini ada pak joko, maka saya akan mengungkap, bahwa dengan
sakit itu diperingatkan, beliau semacam berterima kasih dengan dengan sakit). Sakit diterima dengan rasa
syukur, Kenapa? Ia telah diperingatkan bahwa dirinya lemah, ia diingatkan untuk berdoa, ia diingatkan bahwa
dirinya sama sekali tidak hebat. Sakit menjadi media menata diri, menata keluarga, mendekat kepada Allah.

Sakit tidak berbeda dengan tubuh yang semakin tua, semakin lemah, mudah masuk angin, mudah lelah.
Kalau dulu di dalam saku itu terselip sisir agar selalu rapi, hari ini yang ada di saku kita rheumason, balsem,
obat anti nyeri, oskadon, dsb.
Mari bersyukur untuk itu.
Sakit, tua, letih, ngantuk , lapar, adalah ketentuan Allah (sunatullah) yang pasti akan kita alami. Juga
perpisahan, kehilangan, luka, lelah, bingung, dimusuhi, dihina, sedih, semuanya adalah bagian hidup kita. Tak
mungkin kita menghindarinya. Semua hal-hal yang tak nyaman itu pasti terjadi kepada kita. Rasulullah pernah
sakit, pernah meneteskan air mata ketika putranya meninggal. Itu sunatullah.
Sahebat apapun kita sebagai manusia, meski dengan makanan bergizi dan vitamin yang terkontrol rapi,
tak perduli presiden atau jago tinju, sakit, lapar, tua, marah, bingung tersinggung, takut dan sedih pasti datang.
Mari kita bedakan, antara tak nyaman dengan buruk. Sakit, lelah, tua, sedih takut, gelisah bukanlah
kejahatan, buka keburukan.

Itu sunatullah. Tapi mencari sakit, itu kejahatan. Lelah, gelisah, dimusuhi,

perpisahan adalah ketentuan Allah yang kita tidak bisa menghindar, tetapi tidak berobat saat sakit, itu dosa,
buruk. Dimusuhi tidaklah membuat kita berdosa, tapi gelap mata lalu hantem kromo, itu berdosa. Ngantuk atau
lapar itu tidak berdosa, tapi karena lapar masuk warung dan makan apa saja dan tidak bayar, itu yang berdosa.
Apa artinya ? di setiap peristiwa, di setiap titik kehidupan, anugerah Allah itu selalu tercurah, mungkin
berupa sehat, kenyang, lapar, tegak, lelah, muda atau tua, itu semua sunatullah. Dan di san setan itu meliuk-liuk,
ketika sakit kita tidak mencari obat, ketika sehat kita banyak diam sama sekali tidak berbuat untuk agama,
untuk kemanfaatan orang banyak. Ketika lapar, setan meliuk untuk marah kepada istri, ketika kenyang kita
tidur saja membuat istri marah.
(ini yang tadi dikatakan, ada pihak-pihak tertentu mengambil kesempatan. Ketika musibah datang, ketika
ketidak nyamanan datang, sakit itu terasa menusuk menyakitkan, itu karena setan yang menusuk-nusuk,
sampai kita lupa masih banyak anugerah yang dicurahkan.
Begitu banyak keajaiban di muka bumi ini, begitu banyak kesempatan berbua baik, tapi begitu banyak
setan memdorong kepada keburukan
***
Kembali pada urusan bersyukur.
Marilah bersyukur kita sudah diberi nikmat umur, kesehatan, nikmat cinta, rindu dan kemesaraan.
Bayangkan bila kita tidak cinta kepada istri atau cucu, juga tidak rindu kepadanya. Yang ada hanya sebel,
melihat saja sudah mblenger, jengkel. Bukankah n itu siksaan? dan di sana setan menari-nari menusuk-nusuk
kita.
Tapi..... Hati-hati pula dengan anugerah cinta, menjadi buruk bila kita obral, lalu sms-an dengan
tetangga.
Marilah bersukur di setiap saat, di segala perkara.

Iman dan Islam menuntun agar nikmat yang

dicurahkan oleh Allah dimanfaatkan untuk kebaikan dan membuat kebahagiaan. Bukan siksaan.

Karena itu tiada ada doa yang paling indah dan paling berharga, kecuali adalah doa diajarkan Allah,
yang kita ucapkan di setiap shalat kita. ............Tunjukkan kami ke jalan yang lurus. Amin.