Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Gagal Jantung
a. Definisi Gagal Jantung
Gagal jantung adalah sindrom klinik yang disebabkan oleh ketidakmampuan jantung
dalam memompa darah pada jumlah yang cukup bagi kebutuhan metabolisme tubuh.
Gagal jantung dapat disebabkan oleh gangguan yang mengakibatkan terjadinya
pengurangan pengisian ventrikel (disfungsi diastolik) dan atau kontraktilitas
miokardial (disfungsi sistolik).
b. Patofisiologi Penyakit Gagal Jantung
Penyebab umum teradinya gagal jantung adalah penyakit jantung iskemik dan
hipertensi. Selain dua hal utama tersebut berikut adalah hal-hal yang dapat
menyebabkan penyakit gagal jantung:
1. Disfungsi Sistolik (Penurunan Kontraktilitas)
2. Disfungsi Diastolik (Retriksi pada Pengisian Ventrikel)
3. Mekanisme kompensatori
4. Model Neurohormonal Gagal Jantung
5. Ketidak patuhan pada medikasi, iskemi koroner, penggunaan medikasi yang
kurang tepat, kejadian kardiak (misalnya IM, fibralasi atrial) dan infeksi
pulmonary
6. Obat yang memperparah gagal jantung karena sifat inotropik negatif,
kardiotoksik, maupun sifat resistensi natrium yang dimilikinya.
Resep

R/ Captopril 25

XLV

S 3 dd 1
R/ HCT

XV

S 1-0-0
R/ Bisoprolol

XV

S 1 dd 1
R/ ISDN 5

XV

S 1 dd 1 SL bila nyeri dada


R/ B1

XLV

S 3 dd 1
R/ Meloxicam 15

XV

S 2 dd 1
R/ Antasida fls

S 4 dd 1
Pro

: Ny. N (61 th)

a. Anamnesa
Pasien mengeluh nyeri dada, tekanan darah tinggi, sering tremor, dan pegal-pegal
pada sekujur badan

b. Analisa
Dalam kasus ini pasien menerima 7 item obat dalam sekali waktu konsumsi 7 item
obat tersebut yaitu ;
1. Captopril yang merupakan antihipertensi golongan inhibitor enzim pengkonversi
angiotensin (ACEI).
2. Hidroklorotiazid (HCT) yang merupakan diuretic golongan tiazid.
3. Bisoprolol, suatu agen antihipertensi golongan pemblok yang kardioselektif.
4. Isosorbid dinitrat (ISDN), antiangina golongan nitrat
5. Tiamin (Vitamin B1) , untuk terapi defisiensi Vitamin B1.
6. Meloxicam, obat antiiflamasi nonsteroid, yang memiliki sifat antinyeri.
7. Antasida, untuk menetralkan asam lambung.
Dengan memperhatikan keluhan yang disampaikan oleh pasien dan obat-obat yang
diresepkan oleh dokter dapat diduga pemberian captopril, HCT, bisoprolol, dan ISDN
berhubungan dengan hipertensi dan keluhan nyeri dada. Nyeri dada sering menjadi
indikasi adanya ganguan jantung. Meski tidak semua nyeri dada diakibatkan oleh
kelainan jantung. Meloksikan dan vitamin B1 ditujukan untuk mengatasi keluhan
nyeri badan. Pasien tidak secara langsung mengeluhkan kondisi yang berhubungan
dengan kelebihan asam lambung, namun dokter mresepkan antasida, hal ini mungkin
ditujukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya iritasi lambung yang dapat
memicu peningkatan asam lambung.
Jika benar, keluhan nyeri dada pada kasus ini berhubungan dengan gangguan
sistem jantung seperti halnya angina, maka pemilihan kombinasi antihipertensi
berupa captopril (ACE inhibitor), HCT (diuretik tiazid), dan bisoprolol (-bloker

kardioselektif) relatif merupakan pilihan yang tepat. Kombinasi tersebut sebagaimana


disarankan oleh JNC7. Kecuali pasien tersebut memiliki riwayat infark miokardiak,
penggunaan diuretik tidak disarankan.
Disamping diagnosa penyerta dalam kasus hipertensi ini yang harus menjadi dasar
pemilihan terapi, faktor usia juga harus dipertimbangkan. Dalam hal ini, pasien telah
cukup lanjut usia, yaitu 61 tahun. Faktor usia lanjut sangat memungkinkan terjadinya
pengaruh hipertensi terhadap kerusakan berbagai organ seperti jantung, hati, ginjal,
dan otak. Sehingga pemilihan terapinya harus benar-benar diperhatikan.
Dosis captopril, pasien menerima captopril 75 mg/hr dalam dosis terbagi tiga, maka
dosis tersebut masih dapat diterima sebagai dosis aman. Begitu pun dengan HCT satu
kali sehari pada pagi hari, merupakan dosis yang lazim. Dalam hal ini perlu
diingatkan pada pasien, agar jangan sampai mengkonsumsi HCT ini pada waktu sore
atau malam hari, karena dapat menimbulkan efek diuresis nokturnal, yang akan
sangat mengganggu waktu istirahat pasien pada malam hari. Bisoprolol 5 mg satu kali
sehari juga merupakan dosis aman. Namun pasien harus diingatkan untuk tidak
menghentikan penggunaan obat ini secara mendadak, karenadapat menyebabkan
kambuhan hipertensi. (Dipiro; 221).
Pemberian ISDN yang bersifat insidental, yaitu saat terjadi gejala sesak nafas secara
sublingual cukup tepat. Pemberian secara sublingual dapat memberikan efek yang
lebih cepat daripada secara oral. ISDN akan dengan cepat mengakhiri serangan
angina akut yang ditandai gejala sesak nafas dan nyeri dada. Terapi captopril akan
membantu mencegah serangan angina yang berulang. Pasien yang menjalani terapi
ISDN juga harus diapantau konsentrasi kreatinin serumnya, terutama pada pasienpasien yang terindikasi mengalami kerusakan ginjal.
Peresepan vitamin B1, kemungkinan berhubungan dengan penanganan keluhan
tremordan salah satu efek obat (bisoprolol).

Meloksikam diberikan untuk mengobati rasa nyeri. Meloksikam merupakan salah


satuanti inflamasi nonsteroid yang relatif selektif pada COX-2. Sehingga obat ini
relative amanterhadap lambung. Namun harus diwaspadai efeknya terhadap ginjal.
(Dipiro; 688, 916)
Dosis meloksikam yang diresepkan tampaknya berlebih. Pada kasus nyeri
osteoarthritis meloksikam hanya digunakan untuk terapi jangka pendek, kecuali pada
penanganan rheumatoid arthritis dapat digunakan sebagai terapi jangka panjang.
Dosis yang dianjurkan hanya 7,5 mg/hari, maksimum 15 mg/hari. Apalagi dalam
kasus ini pasien telah lanjut usia,dosis yang disarankan hanya 7,5 mg/hari. Sedangkan
pada resep tersebut dokter menuliskan 2 kali sehari masing-masing 15 mg, atau 30
mg/hari. BNF maupun Pharmacotherapy-Dipiromenyebutkan bahwa pemberian
meloksikam hanya sekali sehari. (BNF 57; 552, 559)
Pemberian antasida tampaknya kurang signifikan. Pasien tidak mengeluhkan gejala
yang menunjukan adanya kelebihan asam lambung sehingga perlu mengkonsumsi
antasida. Meskipun antasida ini hanya bekerja secara local pada lambung, namun
tetap perlu diwaspadai interaksinya. Interaksi mungkin terjadi dengan captopril,
dimana absorpsi captopril dapat terhambat, yang mengakibatkan bioavailabilitasnya
rendah, dan konsentrasi efektif minimumnya dalam darah tak tercapai, sehingga
terapi yang optimum juga tidak tercapai. Disamping itu, akumulasi kation Mg 2+ dan
Al3+ sangat mungkin berikatan dengan senyawa-senyawa phosphate, sehingga
absorpsi phophat menurun dan mengakibatkan hipophosphatemia. Terlebih pasien
juga mengkonsumsi diuretik, yang akan meningkatkan aktivitas urinari, yang
dapat semakin meningkatkan resiko hipophosphatemia. (Dipiro; 996).
Penggunaan beberapa item obat secara bersamaan, sangat memungkinkan terjadinya
interaksi. Interaksi yang mungkin terjadi :
1. Captopril dapat berinteraksi dengan antasida. Antasida dapat menurunkan
absorpsi captopril,sehingga antasida dan captopril tidak boleh dikonsumsi

bersamaan. Harus ada jarak waktu yang cukup antara saat konsumsi antasida dan
captopril, sehingga interaksi keduanya dapat dihindarkan.
2. ISDN meningkatkan efek hipotensif dari captopril dan bisoprolol.
3. Efek hipotensif ISDN diantagonis oleh AINS (meloksikam) (BN7 57; Appendix).
Saran
Berdasarkan hasil penelusuran pustaka diatas, maka:
Dosis meloksikam sebaiknya dikurangi, yaitu hanya 7,5 mg/hari, mengingat pasien
telah lanjut usia, kemungkinan resiko reaksi obat merugikannya akan meningkat yang
berupa kerusakan atau penurunan fungsi ginjal. Begitu pun dengan lama terapinya
sebaiknya dibatasi. Sampaikan pada pasien untuk segera menghentikan konsumsi
meloksikam ini bila gejala nyeri pada badan telah mereda.saat pasien merasa nyeri
dada, dan menggunakan ISDN, hindari mengkonsumsi meloksikam juga, karena
meloksikam dapat mengantagonis kerja ISDN-Antasida sebaiknya tidak digunakan.