Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK

TOPIK : METODE SURVEI, PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN


EVALUASI PROGRAM KESEHATAN GIGI DAN MULUT
SKENARIO 1
BLOK 4.7.13

Nama Fasilitator

: drg. Yully E.H.M., MKes

Tanggal DK 1 / DK 2

: 20 September / 27 September 2011

Kelompok 2
Ketua

: Dwita Budiarti

(0810740018)

Sekretaris : Ferdian Rizky Hutomo

(0810740024)

Anggota

(0810740020)

: Etika Sari
Felix Alexander K.

(0810740023)

Gissa Khenia Veraya

(0810740026)

Mas Sofiatul L.

(0810740032)

Nimas Aminah A.

(0810740036)

Nungky D.

(0810740038)

Nuzulya Puspasari

(0810740040)

Sri Nurul Laila

(0810740051)

Timotius Arif G.

(0810740052)

Imania Purbaning Puri

(0810743010)

Vivi Margono

(0810743018)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011

DAFTAR ISI
BAB I

Pendahuluan
Batasan Topik

BAB II

Pembahasan
Survei
Perencanaan
Pelaksanaan
Evaluasi

Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua pihak. Tidak hanya oleh orang
perorang, tetapi juga oleh keluarga, kelompok dan bahkan oleh masyarakat. Untuk
dapat mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak hal yang perlu dilakukan. Salah
satu di antaranya yang dinilai mempunyai peranan yang cukup penting adalah
menyelenggarakan pelayan kesehatan (Blum, 1974)
Untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan dibutuhkan ilmu manajemen agar
pelayanan tersebut dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Yaitu dengan
melakukan langkah-langkah survei, diantaranya perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi.

BATASAN TOPIK
1. Studi Survei Metode :
a. Pengertian
b. Indikasi
c. Langkah-langkah
d. Kelemahan
e. Interaksi sasaran
f. Jenis-jenis
g. Teknik penyusunan instrumen studi survei
2. Manajemen Kesehatan (Program Kesehatan Gigi dan Mulut)
a. Perencanaan
- Definisi
- Ciri-ciri
- Macam
- Unsur
- Langkah-langkah dan teknik
b. Pelaksanaan
- Definisi
- Jenis
- Keuntungan dan kerugian
- Ruang lingkup
- Metode pembuatan alat bantu peraga
c. Evaluasi
- Definisi
- Tujuan
- Ruang lingkup
- Jenis

Aspek
Langkah-langkah
Indikator
Metode evaluasi

BAB II
PEMBAHASAN

Studi survei
Definisi
Survei, adalah penelitian yang diadakan untuk memperoleh fakta dari
gejala- gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual.
Indikasi

(1) Populasi sangat besar, sehingga tidak ekonomis kalau mengambil


responden dalam jumlah yang besar pula
(2) Informasi yang diteliti dapat diperoleh dengan wawancara
(3) Objek penelitian telah terdefinisikan dan dirumuskan dengan jelas
(4) Penelitian dilakukan meliputi daerah penelitian yang amat luas dengan
struktur populasi yang sangat bervariasi
(5) Adanya kendala biaya dan waktu batasan penelitian
Kelemahan
(1) Tingkat keberhasilan sangat tergantung lengkapnya perilaku verbal,
artinya sikap, tanggapan dan perilaku responden sangat menenyukan
kesuksesan memperoleh kualitas informasi yang akurat.
(2) Responden mungkin akan memberikan jawaban yang tidak benar atau
meleset
(3) Kemampuan pewawancara dan bentuk pertanyaan mungkin menjadi
penyebab distorsi terhadap jawaban responden
Jenis
(1) Survei rumah tangga
Ditujukan ke rumah tangga.
(2) Survei morbiditas
Survei yang memiliki tujuaj untuk mengetahui kejadian dan distribusi
penyakit..
(3) Survei analisis jabatan
Survei yang memiliki tujuan untuk mengetahui tugas dan tanggung
jawab para petugas kesehatan.
(4) Survei pendapat umum
Untuk mengetahui gambaran tentang program pelayanan kesehatan.
Langkah-langkah survei
(1) Perencanaan
(a) Analisis Situasi
Bisa berupa analisis permasalahan yang ada kaitannya dengan
sumber daya yang tersedia maupun analisis keadaan umum dan
lingkungan meliputi keadaan umum daerah, geografi, pemerintah,
lingkungan sosial ekonomi dan budaya, lingkungan fisik dan
biologic, keadaan komunikasi, transportasi, dsb.
(b) Menetapkan Prioritas Masalah

Menetapkan prioritas masalah adalah suatu proses yang dilakukan


oleh sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu,
untuk menentukan urutan masalah dari yang paling penting sampai
dengan yang kurang penting. Adapun cara menetapkan prioritas
masalah :
(i) Melakukan pengumpulan data
Data adalah suatu pengkuran dan ataupun pengamatan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Jenis data
a. Keadaan geografis
Meliputi luas dan batas wilayah, keadaan tanah, keadaan
iklim dan cuaca, keadaan flora dan fauna. Keadaan geografis
berperan besar memberikan arah ada tidaknya suatu masalah
kesehatan.
b. Pemerintahan
Meliputi bentuk pemerintahan, peraturan undang-undang
yang berlaku, anggaran pendapatan dan belanja kesehatan,
serta mekanisme dan proses pengambilan keputusan.
c. Kependudukan
Meliputi jumlah, penyebaran ( susunan umur, jenis
kelamin dan geografis ), angka pertambhan serta angka
kelahiran penduduk.
d. Pendidikan
Meliputi tingkat pendidikan serta fasilitas pendidikan yang
tersedia.
e. Pekerjaan dan mata pencaharian
Data meliputi pekerjaan dan mata pencaharian penduduk.
f. Keadaan sosial dan budaya
Meliputi pandangan, kebiasaan, larangan dan anjuran
yang ada kaitannya dengan bidang kesehatan.
g. Kesehatan
i. Data kesehatan penduduk :
Angka kematian ( umum, bayi dan penyakit
tertentu )
Angka harapan hidup rata-rata
Angka penyakit
ii. Data kesehatan lingkungan :
Penduduk yang mempunyai sumber air bersih
Mempunyai jamban
Mempunyai tempat sampah
Mempunyai rumah sehat
iii. Data keadaan fasilitas dan pelayanan kesehatan :

Rasio penduduk/sarana kesehatan


Jumlah dokter
Jumlah para medis
Jumlah kunjungan
2. Sumber Data
a. Sumber primer
: hasil wawancara langsung dengan
masyarakat
b. Sumber sekunder

: laporan bulanan puskesmas dan

kecamatan
c. Sumber tersier

: publikasi badan resmi seperti kantor

data statistic, dinas kesehatan dan kantor kabupaten


3. Jumlah responden
Ditentukan dengan rumus
n1 = 4pq
L2
n2 =
n1

n1 : jumlah sampel awal

1+n1
n2 : jumlah sampel akhir
p : sifat Nsuatu keadaan dalam %

q : 100%-p
L : derajat ketepatan yang dipergunakan
N : jumlah penduduk
4. Cara mengambil sampel
Dengan cara simple random sampling, systematic random
sampling, stratified random sampling dan cluster random
sampling.
5. Cara mengumpulkan data
Dengan wawancara, pemeriksaan, pengamatan, dan
peranserta.
(c) Menetapkan Tujuan
(d) Menetapkan Sasaran
(e) Menetapkan Metode
Menetapkan metode survey yang akan digunakan.
(f) Menetapkan Rencana Evaluasi
Perlu dinilai apakah rencana itu dapat menjadi pedoman, acuan
pelaksanaan kegiatan, pengendalian, evaluasi, dalam pencapaian
tujuan, perlu dilakukan terhadap rencana itu.
(g) Menetapkan Jadwal kegiatan
(2) Pelaksanaan
(a) Berdasarkan sasaran
(b) Berdasarkan penyampaian
(c) Berdasarkan sifat
(3) Evaluasi
Sesuai dengan indikator dalam pencapaian tujuan.
Interaksi dengan Responden

(1) Model Komunikasi dalam Survei


Persoalan yang muncul dalam model komunikasi adalah
(a) Model hubungan personal
Bersifat hubungan orang per orang, dilakukan dengan interview
schedule atau interview guide. Daftar interview adalah daftar yang
berisi pertanyaan terstruktur yang biasanya akan ditanyakan secara
lisan dan akan dicatat oleh pewawancara.
(b) Model hubungan impersonal
Model ini membutuhkan alat perantara antara pewawancara
dengan responden yang biasanya berwujud daftar pertanyaan
tercetak. Dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan bantuan pos,
namun

intruksi

tertulis

responden harus jelas.


(c) Model campuran
Merupakan gabungan

sebagai

antara

bentuk

model

komunikasi

personal

dan

dengan

model

impersonal. Dilakukan bila membutuhkan detail informasi yang


semakin lengkap.
(2) Struktur Proses
Instrument penelitian harus memperhatikan struktur kuesioner dan
struktur jawaban.
(a) Kuesioner terstruktur
Mengharuskan adanya standarisasi pertanyaan baik dari segi
format maupun sekuennya. Hal ini memberi jaminan bahwa setiap
pertanyaan akan dijawab dengan cara yang sama sehingga
pengukuran lebih dapat dipercaya.
(b) Kuesioner tidak terstruktur
Sangat berguna untuk penelitian dengan basis eksploratoris yang
tidak menegaskan pokok masalah yang akan diselidiki, justru ingin
mencari permasalahan yang mungkin muncul.
(3) Tujuan terselubung ( objective disguise )
Pertanyaan terselubung untuk hal-hal yang bersifat sensitive bagi
masyarakat.
Teknik Penyusunan Instrumen
Pertanyaan yang diajukan dalam survey harus jelas rumusannya,
sehingga peneliti akan memperoleh informasi dengan tepat dari
responden.struktur pertanyaan basis dalam penelitian bisnis terdiri dari 4
unsur yaitu :
(1) The management question
Problem harus dijawab oleh manager karena bagian pertanyaan ini
tidak mungkin dijawab oleh pelaksana karena pertanyaan menyangkut

kebijaksanaan pimpinan dalam perencanaan dan pengendalian


operasi perusahaan.
(2) The research question
Pertanyaan informasi dasar yang harus dijawab oleh peneliti,
pertanyaan tersebut merupakan kunci untuk memecahkan masalah
bisnis yang dihadapi manajemen.
(3) The investigative question
Pertanyaan yang bersifat spesifik untuk menggali kemungkinan
mengidentifikasi permasalahan dengan lebih detail.
(4) The measurement question
Semua pertanyaan yang harus dijawab oleh responden guna
memperoleh informasi yang bersifat pengkuran.

Manajemen Kesehatan (Program Kesehatan Gigi dan Mulut)


Perencanaan

Definisi
Menurut Levey dan Loomba
Perencanaan adalah suatu proses menganalisis dan memahami
sistem yang dianut, merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus
yang ingin dicapai, memperkirakan segala kemampuan yang
dimiliki, menguraikan segala kemungkinan yang dapat dilakukan
untuk

mecapai

tujuan

yang

telah

ditetapkan,

menganalisis

efektivitas dari berbagai kemungkinan tersebut, mengikatnya dalam


suatu sistem pengawasan yang terus menerus sehingga dapat
dicapai hubungan yang optimal antara rencana yang dihasilkan
dengan sistem yang dianut.

Ciri-ciri
Bagian dari sistem administrasi
Dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan
Berorientasi masa depan
Mampu menyelesaikan masalah
Mempunyai tujuan
Bersifat mampu kelola

Macam Perencanaan

Penjelasan
(1) Perencanaan jangka panjang (longe-range planning)
Masa berlaku 12 sampai 20 tahun.
(2) Perencanaan jangka menengah (medium-range planning)
Masa berlaku 5 sampai 7 tahun.
(3) Perencanaan jangka pendek (short-range planning)
Masa berlaku 1 tahun.
(4) Digunakan 1 kali (single-use planning)

Perencanaan ini dapat secara sengaja dilakukan, atau karena


memang telah tidak dapat digunakan lagi.

(5) Digunakan berulang kali (repeat-use planning/ standard planning)

Menurut Newman, perencanaan ini hanya dapat dilakukan apabila

situasi dan kondisi lingkungan normal serta tidak terjadi perubahan yang
terlalu mencolok.
(6) Perencanaan induk (master planning)

Menitikberatkan pada aspek kebijakan

Ruang lingkup amat luas

Jangka waktu panjang

(7) Perencanaan operasional (operational planning)


Menitikberatkan pada aspek pedoman pelaksanaan.

(8) Perencanaan harian (day-to-day planning)


Untuk program yang telah bersifat rutin
(9) Perencanaan memuaskan (satisfying planning)
Tidak terlalu mementingkan keuntungan golongan, melainkan

kepuasan semua pihak yang terlibat.


(10)

Perencanaan optimal (optimizing planning)


Mementingkan pencapaian tujuan.

(11)

Perencanaan adaptasi (adaptivizer planning)


Menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

(12)

Perencanaan berorientasi masa lalu-kini (past-present planning/

ameliorative planning)

Bertitik tolak dari pengalaman masa lalu.

Dilakukan bila menghadapi keadaan darurat serta waktunya


singkat, misalnya: wabah.

(13)

Perencanaan berorientasi masa depan (future-oriented planning)


Memperhitungkan perkiraan yang akan terjadi pada masa depan.

a. Perencanaan redistributif (redistributive planning)

Disusun tidak atas kajian masa depan yang terlalu mendalam.

Karena kebutuhan mendesak.

Umumnya kelanjutan dari past-present planning.

b. Perencanaan spekulatif (speculative planning)

Kajian tentang masa depan, sekalipun mungkin dilakukan dengan


mempergunakan data, tetapi terlalu berani.

c. Perencanaan kebijakan (policy planning)

Sangat berorientasi masa depan.

Disusun atas kajian seksama dan mendalam.

(14)

Perencanaan strategik (strategic planning)


Menguraikan lengkap kebijakan jangka panjang, tujuan jangka
panjang, serta rangkaian dan pentahapan kegiatan.

(15)

Umumnya sulit diubah.


Perencanaan taktis (tactical planning)
Hanya mengandung uraian tentang kebijakan, tujuan, serta
kegiatan jangka pendek.

(16)

Mudah menyesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi.


Perencanaan menyeluruh (comprehensive planning)
Mengandung uraian bersifat menyeluruh, mencakup seluruh aspek
dan ruang lingkup berbagai kegiatan.

(17)

Perencanaan terpadu (integrated planning)


Jelas menggambarkan keterpaduan antarkegiatan yang akan
dilakukan.

Unsur Perencanaan

Penjelasan:
(1)

Rumusan misi (mission formulation)


Ruang lingkup mencakup latar belakang, cita-cita, tujuan pokok,

tugas pokok, serta ruang lingkup kegiatan organisasi.


Peranan penting: sebagai pedoman dan untuk memperoleh

dukungan pihak ketiga, misal: dukungan dana dari pihak donor, dan ataupun
dukungan izin dari petugas pemerintah.
(2)

Rumusan masalah (problem statement)


Syarat rumusan masalah yang baik:

Punya tolak ukur


Mencakup 5 hal pokok, yakni tentang apa masalahnya, siapa yang
terkena masalah, di mana masalah ditemukan, bilamana masalah terjadi,
serta berapa besar masalahnya.

Bersifat netral
Tidak mengandung uraian yang dapat diartikan sebagai menyalahkan
orang lain, menggambarkan penyebab timbulnya masalah dan ataupun
cara mengatasi masalah.

(3)

Rumusan tujuan umum dan khusus (goal and objective formulation)

Syarat rumusan tujuan umum (goal) yang baik:

Jelas keterkaitannya dengan misi organisasi

Jelas keterkaitannya dengan masalah yang ingin diatasi

Menggambarkan keadaan yang ingin dicapai

Menggunakan kata benda bukan kata kerja


Syarat rumusan tujuan khusus (objective) yang baik

(4)

Memenuhi semua syarat rumusan tujuan umum

Mempunyai tolak ukur

Rumusan kegiatan (activities)


Ditinjau dari perannya dalam mengatasi masalah serta mencapai

tujuan:
-

Kegiatan pokok (mollar activities)


Kegiatan bersifat mutlak dan merupakan kunci keberhasilan rencana.

Kegiatan tambahan (molucular activities)


Bersifat fakultatif, yaitu bila tidak dilaksanakan tidak akan menentukan
keberhasilan rencana, tetapi jika dilaksanakan maka pelaksanaan
rencana akan lebih sempurna.
Ditinjau dari kepentingan praktis:

(5)

Kegiatan persiapan (preparation activities)

Kegiatan pelaksanaan (implementation activities)

Kegiatan penilaian (evaluation activities)

Asumsi perencanaan (planning asumption)


Asumsi perencanaan bersifat positif

Adalah uraian tentang berbagai faktor penunjang yang


diperkirakan ada yang berperanan dalam memperlancar pelaksanaan
rencana.

Contoh: adanya kerja sama yang baik dengan berbagai


instansi pemerintah dan institusi masyarakat, tersedia tenaga pelaksana
yang terampil dengan jumlah yang cukup, tingginya kemampuan
masyarakat membiayai pelayanan kesehatan.
Asumsi perencanaan bersifat negatif

Adalah uraian tentang berbagai faktor penghambat yang


diperkirakan ada yang berperan sebagai kendala pelaksanaan rencana.

Contoh: keadaan alam dan lingkungan yang sulit,


dedikasi tenaga pelaksana yang kurang, tingkat pendidikan penduduk
yang rendah.

(6)

Strategi pendekatan (strategy of approach)


Pendekatan institusi (institutional approach)

Menerapkan prinsip-prinisip kekuasaan dan kewenangan.


(+)

Dapat mempercepat pelaksanaan program

(-)

Hasil yang dicapai tidak langgeng


Pendekatan komunitas (community approach)

Bertujuan menimbulkan kesadaran dalam diri masyarakat.

(7)

(+)

Perubahan yang dicapai akan bertahan lama

(-)

Pelaksanaan program membutuhkan waktu lebih lama

Kelompok sasaran (target group)


Kelompok sasaran langsung (direct target group)

Adalah anggota masyarakat yang memanfaatkan langsung program


kesehatan. Contoh: bayi-bayi untuk program imunisasi dasar.
Kelompok sasaran tidak langsung (indirect target group)

Adalah kelompok sasaran antara. Contoh: ibu-ibu untuk program imunisasi


dasar bayi.
(8)

Waktu (time)
Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan jangka waktu:

Kemampuan organisasi dalam mencapai target

Strategi pendekatan yang akan diterapkan


Uraian tentang jangka waktu yang dikaitkan dengan kegiatan dapat

disusun dalam diagram khusus yang disebut Gannt chart.

Gambar: Gantt chart1


(9)

Organisasi dan tenaga pelaksana (organization and staff)


Sangat dianjurkan, uraian tenaga kerja pelaksana dapat dilengkapi
pembagian tugas serta kewenangan masing-masing (job description and
authority)

(10) Biaya (cost)


Patokan yang dapat dipergunakan untuk menghitung biaya:

(11)

Jumlah serta penyebaran sasaran

Jumlah dan jenis kegiatan

Jumlah dan jenis pelaksana yang terlibat

Waktu pelaksanaan program

Jumlah dan jenis sarana

Metode penilaian dan kriteria keberhasilan


Metode penilaian yang baik sebaiknya berdasarkan data, untuk itu

diuraikan metode pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data,


serta interpretasi data yang dipergunakan.
Kriteria keberhasilan:

Unsur masukan
Menunjuk pada terpenuhinya unsur masukan, misalnya tersedianya
tenaga, dana, dan sarana sesuai dengan rencana.

1 http://www.java2s.com/Code/JavaImages/JFreeChartGanttChart.PNG

Unsur proses
Menunjuk

pada

terlaksananya

proses,

misalnya

terselenggaranya

penyuluhan kesehatan sesuai rencana.


-

Unsur keluaran
Menunjuk pada tercapainya tujuan yang telah ditetapkan, misalnya
berhasil menurunkan angka komplikasi sesuai target yang ditetapkan.

Perencanaan yang Baik


(1) Bagian dari sistem administrasi
Berhasil menempatkan pekerjaan perencanaan sebagai bagian dari sistem
administrasi secara keseluruhan.
(2) Dilaksanakan etrus menerus
Jika dilakukan hanya sekali bukanlah perencanaan yang dianjurkan
(3) Berorientasi pada masa depan
Hasil dari pekerjaan perencanaan tersebut, apabila dapat dilaksanakan akan
mendatangkan berbagai kabaikan tidak hanya saat ini tapi juga masa yang
akan datang
(4) Mampu menyelesaikan masalah
Harus disesuaikan dengan kemampuan dan dilakukan secara bertahap yang
harus tercermin pada pentahapan perencanaan yang dilakukan
(5) Mempunyai tujuan
Mempunyai tujuan yang dicantumkan secara jelas. Biasanya tujuan umum
yang berisikan uraian secara garis besar serta tujuan khusus yang berisikan
uraian lebih spesifik
(6) Bersifat mampu kelola
Yaitu bersifat wajar, logis, objektif, jelas, runtut,fleksibel serta telah
disesuaikan dengan sumber daya.

Langkah-langkah dan Teknik


Menurut Muninjaya:
Analisis situasi

Langkah-langkah

Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya

PERENCANAAN 2Menentukan tujuan program


Mengkaji hambatan dan kelemahan program
Menyusun rencana kerja operasional (RKO)

Menurut Azwar:
Menetapkan prioritas masalah
Menetapkan prioritas jalan keluar
Analisis SWOT
Langkah-langkah

Perencanaan anggaran

PERENCANAAN 3PPBS
Analisis manfaat biaya dan ketepatan biaya
Teknik kesepakatan kelompok
Merumuskan kesepakatan
Rencana pelaksanaan

Penjelasan:
(1)

Analisis situasi
Adalah langkah pertama proses penyusunan perencanaan.

2 Muninjaya, AA Gde. 2004. Manajemen Kesehatan 2. Jakarta: EGC.


3 Azwar, Azrul. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan ed 3. Tangerang: Bina
Rupa Aksara.

Dilakukan dengan analisis data laporan yang dimiliki organisasi

(data primer) atau mengkaji laporan lembaga lain (data sekunder) yang
datanya dibutuhkan, observasi, dan wawancara.

Tujuan: identifikasi masalah

Hasil: rumusan masalah

Data yang diperlukan:


-

Data tentang penyakit dan kejadian sakit (diseases and


illnesess)

(2)

Data kependudukan

Data potensi organisasi kesehatan

Keadaan lingkungan dan geografi

Data sarana dan prasarana


Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya

Masalah adalah kesenjangan yang dapat diamati antara situasi/


kondisi yang terjadi dengan situasi/ kondisi yang diharapkan, atau
kesenjangan yang dapat diukur antara hasil yang mampu dicapai dengan
tujuan/ target yang ingin dicapai.

(3)

Menetapakan Prioritas masalah


Alasan menetapkan prioritas sangat penting karena keterbatasan sumber

daya yang tersedia, tidak mungkin menyelesaikan semua masalah dalam waktu
yang bersamaan, dan karena adanya hubungan antar masalah, bila masalah satu
terselesaikan akan diikuti selesainya masalah yang lain.
Menggunakan teknik kajian data dalam menetapkan prioritas masalah :
(a) Melakukan pengumpulan data
Jenis data
Menurut Blum (1976), jenis data yang perlu dikumpulkan untuk data kesehatan
ada 4 macam, yakni perilaku (behaviour), linkungan (environment), pelayanan
kesehatan (health service) dan keturunan (heredity). Jika waktu, tenaga, sarana
dan dana yang tersedia cukup, tidak ada salahnya mengumpulkan data yang
lebih lengkap. Data lengkap yang dimaksud adalah :
i. Keadaan geografis
ii. Pemerintahan
iii. Kependudukan

iv. Pendidikan
v. Mata pencaharian
vi. Keadaan sosial budaya
vii. Kesehatan
Sumber data
Primer, di dapat melalui pemeriksaan atau wawancara langsung
Sekunder, di dapat dari laporan bulanan puskesmas
Tersier, di dapat dari hasil publikasi badan badan resmi seperti kantor dinas
statistik, dinas kesehatan, kantor kabupaten,dll.
Jumlah responden, dapat dicari dengan rumus :
n1 =

4pq
L2
n2 =

n1
1

n1
N

+
jumlah
sampel awal
n2 : jumlah sampel akhir
p : sifat suatu keadaan dalam % (jika tidak tahu dianggap 50%)
q : 100% - p
L : derajat ketepan yang dipergunakan (0,005)
N : jumlah penduduk
Cara mengambil sampel
dapat menggunakan metode simple random sampling, sistematik random
sampling, stratified random sampling atau stratified random sampling
Cara mengumpulkan data, ada 4 cara :
Pemeriksaan
Observasi, terdiri dari 3 jenis :
o Observasi partisipatif : pengamat (obserber) ikut mengambil bagian dalam
n1

kegiatan kegiatan yang dilakukan sasaran pengamatan (observee).


Jenis observasi ini sering digunakan dalam penelitian yang bersifat
eksploratif atau dalam penelitian kualitatif.
Agar observasi partisipatif ini berhasil, perlu diperhatikan hal hal sebagai
berikut :
- Perlu dirumuskan gejala apa yang harus diobservasi
- Diperhatikan batas intensitas partisipasi
- Memelihara hubungan baik dengan sasaran pengamatan
- Mengetahui batas intensitas partisipasi
- Menjaga agar siutasi dan iklim psikologis tetap wajar
- Sebaiknya pendekatan pengamatan dilakukan melalui tokoh tokoh
masyarakat setempat
Digolongkan menjadi 2 :
- Observasi partisipatif partial (sebagian)
pengamat hanya mengambil bagian pada kegiatan kegiatan
-

tertentu saja
Observasi partisipatif penuh
pengamat ikut serta dalam semua kegiatan sosial yang ada

o Pengamatan sistematis
pengamatan yang mempunyai kerangka atau struktur jelas, di
dalamnya berisi faktor faktor yang diperlukan dan sudah dikelompokkan
ke dalam kategori kategori
pada umumnya sudah didahului observasi pendahuluan (observasi
partisipatif) untuk mencari penemuan dan perumusan masalah yang akan
dijadikan sasaran observasi
o Observasi eksperimental
Observe dicoba atau dimasukkan ke suatu kondisi atau situasi tertentu
yang diciptakan sedemikian rupa sehingga gejala atau perilaku yang akan
dicari atau diamati akan timbul
Kelemahan teknik observasi :
- Banyak kegiatan physic tertentu yang tidak dapat diamati.
- Memerlukan waktu yang lama sehingga membosankan.
- Jika sasaran mengetahui sedang diamati, maka mereka akan dengan
sengaja menimbulkan kesan kesan yang dibuat buat.
- Sering subjektivitas dari observer tidak dapat dihindari
Alat alat observasi :
- Check list berisi nama subjek dan beberapa gejala serta identitas

lainnya dari sasaran


kelemahan :
hanya dapat menyajikan data yang kasar saja
hanya mencatat ada atau tidaknya suatu gejala
Skala penilaian (rating scale)
berisi ciri ciri tingkah laku yang dicatat secara bertingkat,untuk

mengelompokkan dan menggolongkan


macam :
Bentuk kuantitas yang menggunakan skor atau ranking
Dalam bentuk deskripsi
Dalam bentuk grafis
- Daftar riwayat kelakuan (anedoctal record)
catatan mengenai tingkah laku seseorang (observee) yang khas.
- Alat alat mekanik (electronic)
Wawancara
adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, dimana
peneliti mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari sasaran
penelitian (responden), atau bercakap cakap berhadapan muka dengan
orang tersebut.
Macam :
Wawancara tidak terpimpin (non directive/unguided interview)

tidak ada pokok persoalan sehingga dalam wawancara pertanyaan


pertanyaan yang dikemukakan tidak sistematis, melompat lompat dari 1
topik ke topik lain yang tidak berkaitan
digunakan untuk memperoleh data data khusus yang mendalam dan
digunakan dalam penelitian kualitatif.
Kelemahan :
o Kurang efisien
o Tidak ada pengecekan secara sistematis sehingga realibilitasnya
kurang
o Memboroskan tenaga, pikiran, biaya, waktu, dsb
Wawancara terpimpin (structured interview)
interview dilakukan berdasarkan pedoman pedoman berupa
kuisioner yang sudah disiapkan sebelumnya
Kelemahan :
o Pelaksanaan kaku
o Interviewer selalu dibayangi pertanyaan pertanyaan yang sudah
tersusun
o Interviewer menjadi terlalu formal sehingga hubungannya dengan
responden kurang fleksibel
Wawancara bebas terpimpin
gabungan wawancara tidak terpimpin dengan wawancara terpimpin
sering digunakan untuk menggali gejala gejala kehidupan psikis
antropologis seperti latar belakang keyakinan, motivasi suatu perbuatan,
harapan harapan dan unsur unsur terpendam lainnya yang sangat
terpendam.
Free talk dan diskusi
pada free talk, peneliti bukan saja sebagai pencari data, tetapi juga
sebagai partisipan yang aktif dalam proses situasi social yang sedang
diteliti.
Kelemahan :
Kurang efisien
Member kemungkinan interviewer dengan sengaja memutarbalikkan
jawaban
Jika ada perbedaan mencolok antara interviewer dan interviewee, akan
sulit mengadakan hubungan sehingga data menjadi kurang akurat
Survey
pengumpulan data melalui permintaan keterangan atau jawaban kepada
sumber data dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuisioner atau
angket sebagai alatnya.
Kelemahan :

Ada informasi tersembunyi dari responden terutama untuk informasi yang


berkaitan dengan hal hal yang bersifat pribadi
Responden terkadang menjawab bukan yang seharusnya tetapi yang
sebaiknya
Responden terlalu dibatasi pada jawaban jawaban tertentu
Sering muncul jawaban jawaban yang tidak diinginkan da tidak sesuai
dengan yang diinginkan
Metode :
- Survey deskriptif
suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau
menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam masyarakat
Jenis :
Survey rumah tangga (Household survey)
ditujukan kepada rumah tangga, pengumpulan data dilakukan

dengan wawancara kepada kepala keluarga


Survey morbiditas
bertujuan untuk mengetahui kejadian dan distribusi penyakit dalam
masyarakat atau populasi
juga untuk mengetahui insiden atau kejadian suatu penyakit

maupun prevalensi
Survey analisis jabatan (functional analysis survey)
untuk mengetahui tentang tugas dan tanggung jawab para petugas
kesehatan

serta

kegiatan

kegiatan

para

petugas

tersebut

sehubungan dengan pekerjaan mereka.


Survey pendapat umum (public opinion survey)
- Survey analitik
(b) . Melakukan pengolahan data data disusun sedemikian rupa sehingga jelas
sifat sifatnya.
(c) . Melakukan penyajian data, ada 3 macam penyajian data yaitu tekstual,
grafikal dan tabular
(d) . Memilih prioritas masalah ada banyak cara, tetapi yang paling sering
digunakan adalah teknik kriteria matriks
Secara umum, kriteria dalam menentukan masalah sebagai berikut :
- Pentingnya masalah (Importancy) makin penting masalah tersebut, makin

diprioritaskan penyelesainnya. Ukuran penntingnya masalah dapat dilihat dari :


Besarnya masalah
Kenaikan besarnya masalah
Derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi
Keuntungan sosial jika masalah tersebut tidak terselesaikan
Rasa prihatin masyarakat
Suasana politik
Kelayakan teknologi (Technical Feasibility)

makin layak teknologi yang tersedia untuk menyelesaikan masalah maka


makin diprioritaskan masalah tersebut.
Sumber daya yang tersedia (Resources Availability)
makin tersedia sumber daya yang dipakai untuk mengatasi masalah maka

makin diprioritaskan masalah tersebut.


Contoh teknik kriteria matriks :
N

Daftar

o
1
2
3

masalah
X
Y
Z

I
A
2
4
2

B
4
2
5

C
1
3
4

D
1
5
2

E
4
2
1

F
3
1
3

G
3
4
3

Jumlah
IxTxR

2
2
4

3
1
1

1728
1920
2880

Keterangan :
I : Importancy, T = Tecnology Feasibility, R = Resource Availability
Beri nilai 1 (tidak penting) 5 (sangat penting) untuk setiap criteria yang
dianggap sesuai. Prioritas masalah adalah yang nilai totalnya paling besar
(prioritas masalahnya : Z)
4. Menetapkan Prioritas Jalan Keluar
Setelah prioritas masalah ditentukan, maka berikutnya ditetapkan prioritas jalan
keluar (solution priority). Untuk itu ada beberapa kegiatan pokok yang harus
dilakukan :
- Menyusun alternatif jalan keluar
Kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah menyusun alternatif jalan
keluar untuk mengatasi prioritas masalah yang telah ditetapkan. Menyusun
alternatif jalan keluar dipandang penting, karena terkait dengan upaya
memperluas wawasan, yang apabila berhasil diwujudkan akan besar
peranannya dalam membantu kelancaran pelaksanaan jalan keluar.
Untuk dapat menyusun alternatif jalan keluar, dapat dicoba berpikir kreatif
(creative thinking). Teknik berpikir kreatif banyak macamnya. Salah satu
diantaranya dikenal dengan teknik analogi atau popular dengan sebutan
synthetic technique. Jika dengan teknik berpikir kreatif masih belum dapat
dihasilkan alternatif masih belum dapat dihasilkan alternatif jalan keluar, dicoba
-

ditempuh langkah langkah sebagai berikut :


Menentukan berbagai penyebab masalah
Dalam menentukan berbagai penyebab masalah, lakukanlah curah
pendapat

(brainstorming)

dengan

membahas

data

yang

telah

dikumpulkan. Gunakan alat bantu diagram sebab-akibat (cause-effect

diagram) atau popular dengan sebutan diagram tulang ikan (fishbone


diagram). Dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman yang
ada, serta dibantu oleh data yang tersedia, dapat disusun berbagai
penyebab masalah secara teoritis.
Diagram tulang ikan (fishbone diagram) pertama kali ditemukan oleh
seorang ahli berkebangsaan jepang yang bernama Kaoru Ishikawa pada
tahun 1943, sehingga diagram ini disebut juga Diagram Ishikawa. Diagram
ini digunakan untuk mengungkap semua kemungkinan faktor yang
menjadi penyebab masalah sehingga disebut juga diagram sebab-akibat.
untuk mencari akar masalah, penyebab digolongkan ke dalam
beberapa faktor yang diyakini sebagai penyebab utama dari masalah.
Untuk

mendapatkan

penyebab

utama

dapat

digunakan

metode

brainstorming dari semua yang terlibat dalam proses tersebut.


Hal yang menjadi masalah diletakkan pada bagian kepala, kemudian
penyebab masalah dilambangkan dengan tulang tulang ikan yang
dihubungkan menuju kepala ikan.
Tulang paling kecil adalah penyebab paling spesifik yang bisa membuat
suatu penyebab menjadi lebih besar. Contohnya adanya suatu masalah
atau penyebab juga bisa digolongkan menjadi 4 golongan utama yaitu :1.
Sumber daya manusia itu sendiri, 2. Metoda, 3. Material ,4. Mesin. dari
keempat golongan penyebab ini golongan tersebut membentuk suatu
golongan 4 tulang ikan yang paling utama (tulang primer). Masing-masing
golongan tulang utama kemudian dapat diuraikan menjadi tulang sekuder.
Pada golongan tulang primer sudah ada SDM ,maka untuk golongan
tulang sekuder terdiri :1. Pendidikan ,pengalaman dan mengenai
kedisplinan

,2.

Pendidikan

dan

keterampilan,

3.

Prosedur

kerja

,lingkungan dan adanya bonus.keempat penyebab utama ini merupakan


faktor paling utama yang sering terjadi didalam menyusun suatu diagram
Ishikawa yang bersifat sebagai analisis manufakturing. Sedangkan untuk
analisis sistem sosial banyak menggunakan faktor peralatan ,kebijakan ,
Prosedur dan manusia itu sendiri . maka perlu adanya diagram affinity
atau tree diagram untuk membantu dalam menggolongkan penyebabpenyebab itu.
TABEl AFFINITY

Mesin
pengukuran
Material
Operator
Penyebab
Penyebab
Penyebab
Penyebab
Selain tabel affinity dapat juga menggunakan diagram pohon seperti berikut ini :

DIAGRAM POHON
Mesin

Pengukura
n
Penyebab
1

Penyebab
1

Penyebab
2

Penyebab 2

Penyebab
1
Penyebab 2

Penyebab
1
Penyebab 2

Material

Operator

ISHIKAWA DIAGRAM /FISHBONE CHART


material

personnel

Cosidelta actual vs
standard

Processes
-

external faktor

Memeriksa kebenaran penyebab masalah

Dalam menyusun daftar masalah hendaknya telah di susun sedemikian rupa


sehingga dapat bersifat teoritis. Maka perlu digunakan pemeriksaan tentang
kebenaran penyebab masalah. Dapat juga menggunakan uji statistik untuk Dapat
mengidentifikasi penyebab masalah yang sebenarnya.
- mengubah penyebab masalah kedalam bentuk kegiatan
- apabila daftar penyebab masalah yang hasil uji statistiknya telah berhasil . dengan
menggubah daftar penyebab itu kedalam bentuk kegiatan. Diusahakan untuk bisa
menjadi satu penyebab masalah yang tersusun dalam satu penyelesian masalah.
Contoh penyusunan alternatif jalan keluar menggunakan ketiga langkah ini bisa
dilihat sebagai berikut ini :

TABEL ALTERNATIF JALAN KELUAR


Masalah

Penyebab (statistik yang

Alternatif

bermakna )
Tingginya

Persalinan bisa di

angka

tolong dukun bayi

kematian

yang belum terlatih

Kursus dukun bayi

bayi

Cakupan imunisasi ibu

Membuat cakupan

penyebabny

hamil sangat terbatas

ibu hamil meningkat

Pengetahuan ibu

Menggunakan

mengenai penyakit

kegiatan bakti sosial

tetanus buruk

seperti penyuluhan

a karena
terkena
tetanus

kesehatan ibu hamil

Memilih menggunakan prioritas jalan keluar

Dalam memilih alternatif jalan keluar , hendaknya mengetahui letak masalah yang
akan di hadapi ,karena kemampuan yang dimiliki oleh organisasi selalu bersifat
terbatas. Untuk bisa mengatasinya ,maka terpililah salah satu alternatif yang paling
menjanjikan pekerjaan ini maka di dengan nama memilih prioritas jalan keluar.
Setelah memilih prioritas jalan keluar tersebut , sebaiknya pelajari dengan seksama
dan teliti atau juga bisa melakukan pilihan , sebaiknya diuji cobakan dulu. Apabila
keterbatasan sulit untuk di lakukan , bisa juga menggunakan alternatif prioritas jalan
keluar lainnya. Karena prioritas jalan keluar banyak macamnya.

Cara yang dianjurkan adalah memakai teknik kriteria matriks, untuk itu ada dua
kriteria yang lazim digunakan,
Kriteria tersebut adalah :
-

Efektivitas jalan keluar

Untuk menetapkan jalan keluar dapat dipergunakan criteria sebagai berikut :


Besarnya masalah yang dapat diselesaikan
Hitunglah besarnya masalah yang dapat diatasi apabila jalan keluar tersebut
dilaksanakan, untuk setiap alternative. Makin besar masalah itu dapat diatasi,
makin tinggi prioritas jalan keluar tersebut.
Pentingnya jalan keluar
Hitunglah pentingnya jalan keluar dalam mengatasi masalah yang dihadapi.
Pentingnya jalan keluar disini dikaitkan dengan kelanggengan selesainya

masalah. Makin langgeng selesainya masalah, makin penting jalan keluar


tersebut.
Sensitivitas jalan keluar
Sensitivitas dikaitkan dengan kecepatan jalan keluar mengatasi masalah.
Makin cepat masalah teratasi, makin sensitive jalan keluar tersebut.
-

Efisiensi jalan keluar


Tetapkan nilai efisiensi untuk tiap alternative jalan keluar, yaitu dengan
memberikan angka 1 ( paling tidak efisien) sampai 5 ( paling efisien). Nilai
efisiensi ini biasanya dikaitkan dengan biaya yang diperlukan untuk
melaksanakan jalan keluar. Lalu hitunglah nilai prioritas(P) untuk setiap
alternative jalan keluar dengan membagi hasil perkalian nilai MxIxV dengan
nilai C. Jalan keluar dengan nilai P tertinggi adalah prioritas jalan keluar

terpilih.
Melakukan uji lapangan
Yang harus diperhatikan saat uji lapangan adalah adanya faktor pendukung

maupun faktor peghambat dalam terlaksananya jalan keluar.


Memperbaiki prioritas jalan keluar
Setelah melakukan uji lapangan, kemudian memperbaiki prioritas jalan keluar
dengan

memanfaatkan

faktor

pendukung

dan

meniadakan

faktor

penghambat.
Menyusun uraian rencana prioritas keluar
Semua unsur ditulis selengkapnya.

(e) Perencanaan Anggaran


Anggaran ialah suatu rencana yang uraian tentang kegiatan yang akan dilaksanakan
dinyatakan dalam bentuk uang.
Manfaat:

Membantu pengaturan dalam pemanfaatan sumber daya


Membantu pengambilan keputusan
Membantu pemantauan dan pengawasan
Membantu penyempurnaan masalah
Memperjelas pendelegasian wewenag

Macamnya

Biaya personalia
Biaya operasional

Biaya sarana dan fasilitas


Biaya penilaian

TEKNIK KESEPAKATAN KELOMPOK


Pada teknik ini, penetapan prioritas masalah dan prioritas jalan keluar tidak
dilakukan dengan menganalisis data yang dikumpulkan, melainkan dari kesepakatan
pihak ketiga, yaitu sekelompok Orang tertentu yang dimintakan khusus untuk itu.
Macamnya:
1. Untuk mengumpulkan pendapat:
Dapat digunakan teknik:
a. Synthetic Group Technique
Responden para ahli, dari berbagai pendapat yang dikemukan dapat
ditetapkan pririotas masalah.
b. Delphi Technique
Teknik ini menggunakan teknik survey dari sekelompok ahli. Dibuat seri
pertanyaan secara berurutan, masalah yang paling banyak dipilih adalah
prioritas masalah.
c. Interacting Group Technique
Identik dengan pertemuan biasa. Pada akhirpertemuan, pimpinan
mengambil kesimpulan yaitu prioritas masalah.
d. Formal palnning Group technique
Identik dengan Interacting Group Technique hanya pimpinan siding
menjelaskan lebih dahulu latar belakang masalah.
e. Brainstorming Technique
Identik juga dengan Interacting Group Technique hanya peserta ditantang
untuk berpendapat sebebas-bebasnya
f. Delbec Technique
Peserta menulis pendapat tentang permasalahan di kertas, dikumpulkan
oleh pimpinan mengumpulkan dan menuliskan semua pendapat peserta,
pimpinan memimpin diskusi dan kemudian melakukan pemungutan suara
untuk menentukan prioritas masalah
g. Brainwriting Technique
Pesertadiberikan masalah secara tertulis di meja, kemudian menuliskan
pendapatnya di kertas, dikumpulkan oleh pimpinan dan dibagi kepada
peserta yang berbeda. Pendapat yang paling banyak mendapat
dukungansuara adalah prioritas masalah.
h. Nominal Interacting Technique

Identik dengan delbec atau brainwriting technique Bedanya pada teknik ini
ditemukan adanya lobi antar peserta setiap selesai satu tahap. Pendapoat
yang paling banyak dipilih adalah prioritas masalah
i. Estimate discuss estimate technique
Pungutan suara secaratertulis,kemudian diskusi, kemudian pungutan
suaralagi, diikuti diskusi lagi, hingga dipandang cukup. Punggutan suara
akhir merumuskan masalah.

2. Untuk merumuskan gagasan baru:


a. synetic technique
b. Lateral thinking technique
Gagasan dirangsang dengan mendiskusikan secara mendalam dan tuntas masalah
yang sedang dicarikan jalan keluarnya daris udut pandang berbeda. Prosesnya ada
3 langkah yaitu intermediate imposible, juxtapossition dan challlenge for change.
(f). Merumuskan Masalah
Untuk merumuskan masalah kesepakatan berdasar teknik kesepakatan kelompok
digunakan beberapa teknik, diantaranya Teknik Kriteria Matrik
Macamnya antara lain:
1. Q sort technique
Peserta mengelompokkan berbagai masalah menurut urutan dan kriteria
tertentu, misalnya sangat penting, penting, tidak penting. Masalah yang paling
sering masuk kriteria sangat penting adalah prioritas masalah yang dicari.
2. Ranking and rating technique
a. Anchoring rating scale technique
b. Paired comparation technique
c. Rank weigt technique
d. Direct assignment technique
e. Pooled rank technique
(g). Rencana Pelaksanaan
Definisi yaitu suatu uraian rinci dari suatu rencana yang didalamnya terkandung
keterangan tentang kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan, waktu serta sumber

yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap kegiatan guna mencpai tujuan yang
etlah ditetapkan.
Manfaat
1. Dapat membantu administrator mengenal berbagai kegiatan yang akan
dilakukan sesuai urutannya.
2. Dapat membantu administrator mengetahui waktu yang diperlukan untuk
emlaksanakan suatu kegiatan dan atau rencana secara keseluruhan.
3. Dapat membantu administrator mengawasi pelaksanaan rencana, terutama
pengawasan kegiatan,waktu dan sumber
Langkah-langkah
1.
2.
3.
4.
5.

Memahami selengkapnya rencana yang akan dilaksanakan


Memahami selengkapnya kemampuan yang dimiliki
Menyusun jariangan kegiatan yang akan dilaksanakan
Menetapkan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan
Menetapkan sumber yang diperlukan untuk melaksanakan setiap kegiatan

Macam Teknik:
1. Teknik Bagan (Chart)
Diperkenalkan pertama kali oleh H.L. Gantt sehingga sering disebut Gantt
Chart. Bagan hanya berisikan daftar kehiatan yang akan dilaksanakan
lengkap dengan urutan serta hubunganya dengan waktu yang diperlukan. Sisi
tegak berupa keterangan tentang kegiatan dan sisi mendatar berupa
keterangan tentang waktu. Pada bentuk yang kompleks, pada sisi mendatar
dapat berisi tenaga pelaksana, biaya, sasaran, tempat, instansi yang terlibat,
kriteria keberhasilan.
2. Teknik Jaringan
Ada dua yang terkenal: Program Evaluation Review Technique (PERT) yang
lebih mengutamakan waktu dan Critical Path Method (CPM) yang lebih
mengutamakan aspek biaya.
Langkah PERT:
a. Menyusun jaringan kegiatan

5
4

b. Menaksir waktu untuk tiap kegiatan


c. Menghitung waktu tercepat untuk menyelesaikan seluruh kegiatan
d. Menghitung waktu terlambat yang dipekenankan
Langkah CPM:
Disamping dilakukan taksiran waktu, CPM juga dilakukan taksiran biaya. Dalil
yang dipergunakan: makin dipercepat waktu pelaksanaan, makin besar biaya
yang dibutuhkan.

Pelaksanaan Program
One Way Methode
- Definisi
Adalah metode yang menitik beratkan pendidik yang aktf, sedangkan pihak
sasaran tidak diberi kesempatan untuk aktif
-

Jenis:

One way method : metode dimana yang aktif mendidik adalah pendidiknya
sedangkan sasaran tidak aktif
a. Ceramah : salah satu metode yang menjelaskan sesuatu secara lisan
dengan Tanya jawab
b. Siaran, pemutaaran film dan penyebaran selebaran
c. Pameran
Two way method : metode yang adanya hubungan komunikasi antara
sasaran dan pendidik
d. Wawancara : mengadakan Tanya jawab
e. Demonstasi : memperlihatkan cara suatu prosedur
f. Sandiwara :meniru kejadian di masyarakat
g. Permainan :
h. Curah pendapat : mengungkapkan pendapat.

Curah Pendapat

Kerugian:

Pendapat yang dikemukakan beragam sehingga sulit mendapatkan kesatuan

pendapat
Terkadang diperlukan waktu lama untuk mendapat analisis yang tajam
Role Play

Adalah

salah

satu

metode

yang

di

dalam

pelaksanaannya

sasaran

mengaktualisasikan perilaku spesifik tertentu sesuai dengan tujuan belajar yang


ditentukan.
Keuntungan:

Semua atau sebagian besar peserta dapat ikut aktif mengamati, mengalami

dan mengahayati perilaku tertentu


Suasana penyuluhan menjadi hidup
Memperoleh bahan diskusi langsung dari sesuatu yang baru saja dialami
Dapat dipakai untuk memperjelas berbagai bahan
Lebih mudah memusatkan perhatian sasaran
Tumbuh sikap kritis dari warga belajar

Kerugian:

Terkadang peserta kurang mampu membawakan peranannya


Sulit mendekati situasi yang sebenarnya
Tumbuh sikap kritis dari sasaran
Ruang Lingkup

Ruang lingkup atau sasaran untuk penyampaian metode one way atau two way
adalah:
1. Perorangan/individual, dapat dikatakan secara:
- Formal dengan wawancara
- Informal dilakukan di sela obrolan dan bersifat tidak resmi
2. Kelompok sekelompok individu yang mempunyai ciri-ciri khusus yaitu
jumlah orangnya dapat dihitung
3. Massa orang yang jumlahny tidak terhitung dan bisa terdiri atas bermacam
kelompok

Metode Pembuatan Alat Bantu Peraga


a. Metode satu arah (one way):
- Audio visual (film, slide)
- Visual (leaflet)
b. Metode dua arah ( two way):
- Sandiwara boneka
- Permainan peran/role play
- Simulasi/demonstrasi

Evaluasi Program Kesehatan Gigi dan Mulut


Definisi
Kegiatan untuk membandingkan antara hasil yang telah dicapai dengan

rencana yang telah ditentukan (Wijono, djoko.1999)


Prosedur penilaian pelaksanaan kerja dan hasil kerja secara menyeluruh
dengan cara sistematik dengan membandingkan kriteria atau tujuan yang

telah ditetapkan guna pengambilan keputusan (Supriyanto.2007)


Tujuan
a. Menganalisis berbagai macam aspek perkembangan dan pelaksanaan
program dengan mempelajari relevansi, adequai, progres, efektifitas,
efisisensi dan dampak dari program
b. Mengukur pencapaian hasil kerja atau kegiatan pelaksanaan program
terhadap tujuan yang telah ditetapkan, sehingga didapatkan informasi yang
relevan guna pengambilan keputusan untuk memperbaiki, mempertahankan
ataupun mengakhiri program
c. Meningkatkan daya guna dan hasil guna perencanaan dan pelaksanaan
program serta memberikan petunjuk dalam pengelolaan tenaga, dana dan
fasilitas untuk memperbaiki program-program kesehatan dan pelayanannya
yang ada sekarang dan yang akan datang
Ruang Lingkup
Untuk mendapatkan gambaran ruang lingkup evaluasi, maka harus diketahui:
1. Jenis evaluasi
Menggunakan jenis evaluasi jenis evaluasi sumatif/formatif
2. Program yang akan dievaluasi
a. Program-program potensial yang memberikan keuntungan

untuk

masyarakat luas
b. Program-program potensial yang memberikan efek samping yang kurang
menguntungkan untuk masyarakat

c. Proyek paduan diharapkan dapat digunakan pada tempat lain


3. Tanggung jawab evaluasi
Terletak pada orang/kelompok terhadap penerapan dan pengembangan dari
proses manajerial pada berbagai tingkat kebijaksanaan dan operasional. Mis:
tingkat desa, kecamatan kota/kabupaten, propinsi maupun tingkat pusat
4. Tingkatan pengambilan keputusan
Ditentukan oleh tingkat organisas kesehatan yang memerlukan atau
memanfaatkan hasil evaluasi
Ruang lingkup penilaian:
Deniston:
- Kelayakan program
- Kecukupan program
- Efektifitas program
- Efisiensi program
George James:
- Upaya program
- Penampilan program
- Ketetapan penampilan
- Efisiensi program
Roemer
- Status kesehatan
- Kualitas program
- Kuantitas program
- Sikap masyarakat
- Sumber program
- Biaya program
Blum
- Pelaksanaan program
- Pemenuhan kriteria
- Efektifitas program
- Efisiensi program
- Keabsahan hasil
- Sistem
Jenis Evaluasi
1. Pendekatan evaluasi program kesehatan menurut Dr. George James yang
telah disarikan oleh Schullberg dkk:
- Evaluasi usaha
- Evaluasi penampilan
- Kecakupan penampilan
- Evaluasi efisiensi
2. Evaluasi formatif dan sumatif
a. Evaluasi formatif
Evaluasi yang dilakukan pada tahap pelaksanaan program yang sedang
berjalan

- Evaluasi proses
- Evaluasi Review
b. Summative evaluation
Evaluasi yang digunakan untuk melihat hasil keseluruhan pada akhir
program
-

Effort Evaluation
Berupa input dan sarana prasarana

Performance Evaluation
Bersifat kuantitatif

Evaluasi kelayakan hasil usaha (hasil guna) atau efektifitas


Perbandingan antara hasil yang diharapkan dan hasil yang dicapai

Evaluasi guna atau efisiensi


Perbandingan antara output dan input

Evaluasi proses
Berupa SWOT setelah akhir kegiatan

Impact Program Evaluation


Melihat dampak dari program

3. Menurut Azwar
a. Penilaian pada tahap awal program (Formative evaluation)
Untuk mengetahui rencana yang disusun sesuai dengan masalah dan
masalah tersebut dapat diatasi.
b. Penilaian pada tahap pelaksanaan program(Promotive evaluation)
Untuk mengukur kesesuaian dan penyimpangan pada pelaksanaan
program (Monitoring dan Periodic evaluation)
c. Penilaian pada tahap akhir program (Summative Program)

Untuk mengukur output dan impact

Aspek Evaluasi
a. Objective
Sasaran meningkatkan mutu kehidupan
b. Needs
Suatu metode untuk menentukan adanya kebutuhan yang tidak dirasakan
tanpa menuntut pemeliharaan kesehatan untuk suatu kondisi yang mungkin
diketahui atau dirasakan namun tidak menjadi permintaan atau tuntutan.
c. Want
Saat individu sadar akan kebutuhan pemeliharaan kesehatan
d. Demand
Mencari pelayanan atau pemeliharaan kesehatan
e. Utilization
Untuk mengetahui keefektifan dan keefisienan penggunaan fasilitas
kesehatan
f. Acceptance
Proses psikososial dari penerimaan pelayanan kesehatan
g. Acceptability
Beruhubungan dengan orang yang layak dan seharusnya menerima
pelayanan kesehatan atau paparan terhadap resiko kesehatan

Langkah-langkah evaluasi
Program terdiri atas:
Sasaran, kondisi dimana personil bertanggung jawab untuk tercapainya tujuan

Kegiatan, pekerjaan yang dilakukan untuk mencapai sasaran


Sumber daya, tenaga kesehatan, dana, fasilitas, dll.
Langkah yang harus diikuti
1. Membuat sasaran yang jelas berdasarkan kriteria yang digunakan dan sesuai
dengan sasaran yang ingin dicapai
2. Mengadakan ukuran dasar tentang situasipada saat sasaran dibuat
3. Mengetahui status program terhadap sasaran
Langkah-langkah melakukan penilaian
Menurut Mac Mahon
1. Menentukan macam dan ruanglingkup penilaian
2. Pemahaman program
3. Melaksanakan penlaian dan menarik kesimpulan
Menurut Audie Knutson
1. Pemahaman program
2. Mengembangkan rencana penilaian dan melaksanakannya
3. Menarik simpulan
Menurut Lavey dan Loomba
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menetapkan tujuan penelitian


Melengkapi tolok ukur
Mengembangkan model, rencana, dan program penilaian
Melaksanakan penilaian
Menjelaskan derajat keberhasilan
Menarik simpulan dan menyusun saran

Menurut WHO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Menentukan hal yang dinilai


Melengkapi keterangan
Memeriksa hubungan keterangan dengan tujuan penilaian
Menilai kecukupan keterangan
Menetapkan kemajuan program
Menetapkan efektifitas program
Menetapkan efisiensi program
Menetapkan dampak program
Menarik kesimpulan dan menyusun saran

Kriteria Evaluasi
Norms adalah terminology atau istilah umum yang digunakan sebagai pengganti
goal, standard, kebijakan dan lain-lain. Apabila norms dijabarkan dalam bentuk yang
lebih spesifik dan dapat dioperasionalkan sehingga dapat digunakan sebagai alat
evaluasi disebut criteria.
Kriteria yang dianjurkan WHO dalam evaluasi adalah :
1. Relevansi
Rasionalisasi kesesuaian program dengan kebijakan umum yang
dikaitkan kebijakan social dan ekonomi dengan kebutuhan prioritas kebijakan
kesehatan untuk masyarakat. Relevansi merupakan tingkat keterkaitan tujuan
maupun hasil/keluaran program layanan dengan kebutuhan masyarakat di
lingkungannya, baik local maupun global.
2. Adequacy of effort (kecukupan)
Kecukupan menunjukkan berapa besar perhatian yang diberikan
dalam program kegiatan untuk mengatasi masalah. Kecukupan program juga
berhubungan dengan sampai seberapa besar masalah yang dapat diatasi melalui
program kegiatan yang dilaksanakan/ kecukupan menunjukkan tingkat ketercapaian
persyaratan ambang yang diperlukan untuk penyelenggaraan suatu program untuk
mengatasi masalah yang sebenarnya di masyarakat.
Evaluasi kecukupan lebih banyak berkaitan dengan keluaran (hasil) terhadap
kebutuhan atau sasaran seharusnya atau masalah kesehatan yang harus
ditanggulangi.
Adequacy dibedakan atas: Adequacy of effort dan Adequacy of performance
- Adequacy of effort
Effort = the amount of actions (input)
Adequacy of effort = jumlah kegiatan dilaksanakan X 100%
Jumlah kegiatan direncanakan

- Adequacy of performance
Performance = activity + achievement (output)
Adequacy of performance = pencapaian hasil kegiatan X 100%
Sasaran (kebutuhan)
3. Progres
Adalah perbandingan antara rencana dan kenyataan yang ada, perlu
dilakukan analisis usaha yang telah dilakukan dan sumber-sumber yang digunakan
dalam

pelaksanaan

dibandingkan

dengan

rencana

yang

telah

ditetapkan

sebelumnya. Tujuannya adalah pengawasan jalannya usaha kegiatan atau melihat


kemajuan yang telah dicapai. Progress dilaksanakan pada saat kegiatan program
sedang berjalan karena itu identitas dan tindakan koreksi terhadap penyebab
hambatan akan selalu dijumpai pada evaluasi progress.
4. Pemerataan dan keadilan (equity)
Adalah kemampuan akses dari organisasi bisnis dalam memberikan
layanan baik dari aspek distribusi layanan (geografi), aspek sosio-ekonomi
masyarakat maupun aspek epidemiologi penyakit (berat ringan dan jenis penyakit).
Mereka memiliki akses yang sama dalam mendapatkan layanan sesuai dengan
kebutuhan tanpa membedakan status social-ekonominya. Equity banyak digunakan
pada layanan social seperti kesehatan masyarakat. Karena itu equity merupakan
indicator kunci (tolok ukur) keberhasilan layanan kesehatan.
5. Efisiensi
Efisiensi menggambarkan hubungan antara hasil yang dicapai suatu
program kesehatan dengan usaha-usaha yang diperkirakan dalam pengertian :
tenaga manusia (sumber-sumber lain, keuangan, proses-proses di bidang
kesehatan, teknologi dan waktu). Efisiensi merujuk pada tingkat pemanfaatan
masukan (sumber daya) yang digunakan dalam proses pelayanan.
Dibedakan efisiensi teknis dan biaya. Efisiensi biaya bila hasil suatu unit pelayanan :
misalnya kunjungan, vaksinasi dan lain-lain dikaitkan dengan uang. Efisiensi teknis

bila hasil suatu unit pelayanan dikaitkan dengan waktu, metode, sumber daya dan
sumber lain.
6. Efektivitas
Efektivitas menggambarkan akibat atau efek yang diinginkan dari suatu
program, kegiatan, institusi dalam usaha mengurangi masalah kesehatan. Efektivitas
juga dipergunakan untuk mengukur derajat keberhasilan dari suatu usaha tersebut
dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas adalah tingkat pencapaian
tujuan program (target) yang telah ditetapkan yang diukur dari hasil/keluaran nyata
dari program. Efektivitas juga dapat ditentukan dari perbandingan efek (outcome)
dibandingkan dengan keluaran (output).
7. Kualitas
Criteria kualitas dapat meliputi kualitas komponen masukan, proses
dan hasil layanan masing-masing dari sistem layanan. Selain itu masing-masing
komponen juga memiliki standar. Criteria komponen masukan antara lain suatu
sumber

daya

(bukti

fisik),

akreditas.

Komponen

proses

meliputi

criteria

keterhandalan (reliabilit), jaminan (assurance), bukti fisik (tangiable), empati,


ketanggapan (responsiveness). Komponen luaran dapat meliputi criteria kepuasan,
manfaat yang dirasakan, sembuh, loyalitas.
Bila selain unsure masukan, proses dan keluaran juga mempertimbangkan outcome
maka dikenal dengan istilah Total Quality Management (TQM).
8. Kepuasan
Adalah tingkat kesempurnaan layanan dalam memenuhi kebutuhan,
keinginan dan harapan pelanggan. Apabila apa yang diharapkan terpenuhi, bahkan
melebihi, maka pasien tersebut dikategorikan puas dan sangat puas.
9. Loyalitas
Adalah tingkat partisipasi dan ketergantungan pelanggan untuk
menggunakan kembali bila membutuhkan dan atau partisipasi pelanggan untuk
menjadi advocator, pemasar bisnis layanan yang tanpa dibayar. Loyalitas terjadi bila
kepuasan sudah terjadi.

10. Transformasi
Adalah criteria yang menunjukan tingkat perubahan yang sesuai
dengan tujuan individu menggunakan layanan. Transformasi di rumah sakit adalah
perubahan dari kondisi sakit menjadi sembuh, demikian ini berlaku pada pendidikan.
11. Kewajaran
Merupakan tingkat ketepatan unsure masukan, proses, keluaran
maupu tujuan program ditinjau dari ukuran ideal secara ukuran normative. Indicator
standard operating procedure (SOP) bentuk normative kewajaran. Bila layanan tidak
sesuai (aspek medis, perawatan, administrasi) dengan SOP maka keadaan tersebut
tidak wajar.
12. Budaya organisasi
Merujuk pada iklim organisasi yang mendukung interaksi antara
komponen sistem dalam menoptimalkan pelayan.
13. Keberlanjutan
Menggambarkan keberlangsungan penyelenggaraan program/layanan
yang mebcakup ketersediaan masukan, aktivitas layanan maupun pencapaian hasil
yang optimal. Umumnya dikaitkan dengan sumber daya keuangan.
14. Produktivitas
Menunjukkan tingkat keberhasilan program/proses layanan yang
dilakukan dalam memanfaatkan masukan.
15. Dampak
Menggambarkan akibat keseluruhan dari program , kegiatan, institusi
dalam pengembangan kesehatan masyarakat dan pengembangan sosio-ekonomi.
Penilaian dampak di bidang kesehatan, terutama ditujukan untuk menentukan
perubahan akibat pelaksanaan program agar dapat memberikan keuntungan kepada
derajat kesehatan(Health Status). Angka kematian, angka kesakitan dan angka
kecacatan adalah komponen yang ada pada health status.

Indikator Evaluasi
Adalah suatu alat manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan
dan

akuntabilitas.

Pengukuran

indicator

juga

digunakan

untuk

penilaian

pertanggungjawaban pencapaian tujuan dan sasaran oleh manajemen. Imdikator


dinyatakan dalam ukuran kuantitatif dan kualitatif.
Indicator adalah petunjuk atau pedoman yang dapat memberikan gambaran tentang
keadaan kesehatan atau keberhasilan suatu kegiatan pelayanan kesehatan yang
nantinya digunakan untuk dasar pengambilan keputusan.
Guna indicator adalah :
1. Alat analisis/interpretasi situasi saat ini
2. alat perbandingan
3. ukuran perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu indicator yang baik harus dapat mengukur suatu keadaan secara
sah (valid), objektif, sensitive dan spesifik (Pedoman WHO)
Indicator juga menunjukan informasi langsung akan situasi kesehatan (IMR), namun
juga bisa merupakan ukuran tidak langsung dari situasi yang lain (salah satu
indicator kesejahteraan).
Indicator dinyatakan dalam bentuk rate (IMR,MMR), rasio (rasio dokter dengan
pendudukan), angka absolute, porposi, persentase. Setiap indicator memiliki nilai
ambang toleransi atau standar. Dua atau lebih indicator membentuk indeks. Indeks
mutu hidup adalah integrasi dari indicator melek huruf, pendapatan dan angka
kematian bayi.
Indikator Manajemen
1. Indikator Kesehatan Masyarakat
a. Indikator Kesejahteraan
b. Indikator Status Kesehatan
c. Indikator Manajemen Kesehatan

d. Indikator Gizi, Kesehatan Lingkungan dan lain-lain


2. Beberapa indeks dalam kaitannya dengan penduduk
a. Admission Rate
b. Hospitalization rate per person
c. Bed occupancy ratio
d. Bed population index
3. Indikator Manajemen
Indikator struktur/input
- akses
-avalaibility
Indikator proses
- Aktivitas
- Produktivitas SDM
- Supervisi
- Kapasitas pelayan
- Drop out rate
- Beban kerja
- Rujukan kesehatan
- Mutu layanan
Indikator output
- Efisiensi
- Efficacy
- Coverage or adequacy of performance

Indikator efek/hasil
- Persalinan tenaga kesehatan dibandingkan dukun
- Kepuasan pasien, loyalitas
- Efektivitas
Indikator Impak
- MMRm IMR, BBLR, kurang gizi, insiden dan prevalensi

Langkah Penilaian
Pahami

Tetapkan

Susunlah

Laksanakan

Tarik

Program

Macam dan

Rencana

Penilaian

Kesimpulan

Lingkup

Penilaian

-latar

Penilaian
Macam

-tujuan

-Pengumpulan

-keberhasilan

-susun

belakang

-awal

-macam data

data

-nilai

-saran

-masalah

-saat

-sumber data

-pengolahan

-tujuan

-akhir

-cara

data

-kegiatan

Lingkup

mendapatkan

-sumber

-masukan

data

-organisasi

-proses

-cara menarik

-waktu

-keluaran

kesimpulan

-tolok ukur
Pertama

-dampak
Kedua

Ketiga

Kelima

Keenam

Keempat

Saran-saran

Teknik Penilaian
Teknik penilaian banyak macamnya karena kesemuanya tergantung dari program
yang akan dinilai. Dalam praktek sehari-hari yang sering dipergunakan adalah teknik
Ragpie Program Matrix (RPM)
Prinsip Ragpie Program Matrix :

Perencanaan

Pelaksanaan

Penilaian (akhir)

Sumber
Uraikan dengan

Kegiatan
Uraikan dengan

Tujuan
Uraikan dengan

lengkap sumber

lengkap kegiatan

lengkap tujuan

yang direncanakan
Uraikan dengan

yang direncanakan
Uraikan dengan

yang direncanakan
Uraikan dengan

lengkap sumber

lengkap kegiatan

lengkap tujuan

yang berhasil

yang berhasil

yang berhasil

disediakan
Uraikan dengan

dilaksanakan
Uraikan dengan

dicapai
Uraikan dengan

lengkap sumber

lengkap kegiatan

lengkap tujuan

yang telah

yang telah

yang telah dicapai

dimanfaatkan

dilaksanakan

Daftar Pustaka

Adisasmito, Wiku. 2007. Sistem Kesehatan. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.


Azwar, Azrul. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi Ketiga. Jakarta: Binarupa
Aksara.
Hasibuan, Malayu S.P. 2005. Manajemen : Dasar, Pengertian dan Masalah. Edisi Revisi.
Jakarta
: Bumi Aksara.
Herijulianti, E., Indriani, T.S., Artini, S. 2002. Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta : EGC.
Muninjaya, A.A. Gde. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta : EGC.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi Penelititan Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta :
Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu & Seni. Jakarta : Rineka Cipta.
Subiyanto, Ibnu. 1987. Metodologi Penelitian. Edisi 3. Yogyakarta : UPPAMP YKP .
Supriyanto, S., Damayanti N.A. 2007. Perencanaan & Evaluasi. Surabaya : Airlangga
University
Press.
Tjitarsa, Ida Bagus. 1992. Pendidikan Kesehatan. Bandung : ITB.
Wijono, Djoko. 1997. Manajemen Kepemimpinan dan Organisasi Kesehatan. Surabaya :
Airlangga University Press.