Anda di halaman 1dari 31

BAB II

PEMBAHASAN

PENELITIAN
KESEHATAN

Metode Penelitian

Metode Penilitian

Surveilans

Penelitian
yang dilakukan
Survei

Penelitian
yang penelitinya
Eksperimen

Pengamatan terus-menerus

melakukan percobaan atau

terhadap suatu penyakit

perlakuan terhadap variabel

atau suatu kelompok

tanpa melakukan intervensi


terhadap subjek penelitian

(masyarakat).

independenya, kemudian
mengukur akibat atau pengaruh

masyarakat.

percobaan tersebut pada


dependen variabel.

DESKRIPTI

ANALITI

Cross

Retrospekt

sectional

if

Cohort

2.1 Survey
2.1.1 Definisi Survey

Suatu penelitian yang tidak dilakukan intervensi atau


perlakuan terhadap variable lain, kemudian dilihat
perubahannya pada variable yang lain, tetapi sekedar
mengamati terhadap fenomena alam atau social yang
terjadi atau mencari hubungan fenomena tersebut
dengan variable yang lain. Survey dilakukan pada
sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam
jangka waktu tertentu, tapi tidak seluruh objek diteliti,
tetapi melalui perwakilan dari seluruh objek tersebut
yang disebut sampel. Oleh karena itu, penelitian
survey selalu melakukan pengambilan sample .
1

Pengamatan adalah suatu prosedur yang berencana


yang antara lain meliputi, mendengar, dan mencatat
sejumlah dan taraf aktivitas tertentu atau situasi
tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang
diteliti. (Notoatmodjo)

2.1.2 Langkah-langkah Survey


1. memilih masalah yang akan diteliti
2. merumuskan dan mengadakan pemberantasan masalah,
kemudian berdasarkan salah satu masalah tersebut diadakan
studi pendahuluanuntuk menghimpun informasi dan teoriteori sebagai dasar menyusun kerangka konsep penelitian.
3. Mengidentifikasi variable-variabel yang akan diamati atau
dikumpulkan
4. Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data
5. Menentukan

criteria

atau

kategori

untuk

mengadakan

klasifikasi data
6. Menentukan teknik dan alat pengumpul data yang akan
digunakan
7. Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data
8. Melaksanakan pengolahan dan analisis
9. Menarik kesimpulan atau generalisasi
10. Menyusun dan mempublikasikan laopran penelitian
2.1.3 Tujuan Survey
1. Menetukan status kesehatan gigi masyarakat , baik macam
penyakit gigi, pevelansi penyakit gigi, dan pola penyakit gigi
dan mulut
2. Mengumpulkan informasi/ keterangan
dengan kesehatan

gigi

sebagai

yang berhubungan

dasar

suatu

program

pencegahan, misalnya kebiasaan makanan, kebersihan dan


kepercayaan.
2.1.4 Jenis Survey

Jenis Survei (Metode)


Deskriptif
Penelitian Survei

Cross

Sectional
Analitik

Retrospectiv

e
Prospektif

(kohort)

1. Deskriptif
Peneliti diarahkan untuk mendeskripsikan atau menguraikan
suatu keadaan dalam komunitas atau masyarakat. Misalnya:
distribusi penyakit yang ada kaitannya dengan usia, jenis
kelamin dan karakteristik lain. Oleh karena itu, penelitian
deskriptif ini sering disebut penelitian penjelajahan. Dalam
survey umunya peneliti menjawab pertanyaan bagaimana.
Jenis survey deskriptif:
1. Survei Rumah Tangga ( Household Survey )
Ditujukan kepada rumah tangga. Biasanya pengumpulan
data dilakukan dengan wawancara kepada kepala rumah
tangga. Informasi biasanya mengenai keadaan kepala
rumah tangga, anggota keluarga yang lain, rumah, serta
lingkungannya.
2. Survey Morbiditas ( Morbidity Survey )
Bertujuan untuk mengetahui kejadian dan distribusi
penyakit dalam masyarakat atau populasi. Survey ini
dapat sekaligus digunakan untuk mengetahui insiden atau
kejadian suatu penyakit maupun prevalensi
3. Survei Analisis Jabatan ( Functional Analysis Survey )
Bertujun untuk mengetahui tentang tugas dan tanggung
jawab serta kegiatan-kegiatan para petugas tersebut
sehubungan dengan pekerjaan mereka. Juga dapat
mengetahui status dan hubungan antara satu dengan

lainnya, atau atasan dan bawahan, kondisi kerja atau


fasilitas lainnya
4. Survei Pendapat Umum ( Public Opinion Survey )
Bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pendapat
u7mum suatu program pelayanan kesehatan yang sedang
berjalan

dan

yang

menyangkut

seluruh

lapisan

masyarakat.
2. Analitik
Peneliti diarahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau
situasi. Misalnya: mengapa suatu penyakit menyebar di
masyarakat, mengapa penyakit terjadi kepada sekelompok
orang, mengapa masyarakat tidak menggunakan fasilitas yg
telah disediakan, mengapa masyarakat tidak mau membuat
jamban keluarga, dan sebagainya. Survey analitik umumnya
berusaha menjawab pertanyaan mengapa.
a. Cross Sectional
Dalam penelitian ini, variable sebab atau resiko dan akibat
atau kasus yang terjadi pada objek penelitian di ukur atau
dikumpulkan

secara

simultan

(dalam

waktu

yang

bersamaan). Misalnya: penelitian tentang hubungan antara


bentuk tubuh dengan hipertensi, hubungan antara sanitasi
lingkungsn dengan penyakit menular, dan lain sebagainya.
b. Studi retrospektif
Penelitian ini adalah penelitian yang berusaha melihat
kebelakang. Artinya pengumpulan data dimulai dari efek atau
akibat yang telah terjadi kemudian efek tersebut ditelusuri ke
belakang tentang penyebabnya atau variable-variabel yang
mempengaruhi akibat tersebut.
c. Studi prospektif (kohort)
Penelitian ini bersifat ke depan, artinya dimulai dari variable
penyebab/factor resiko, kemudian diikuti akibatnya pada
waktu yang akan datang.
2.2 Perencanaan Program Kesehatan
2.2.1 Definisi

Merumuskan dan melaksanakan kegiatan masa mendatang


dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan.

Sebuah

proses

untuk

merumuskan

masalah-masalah

kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentuka


kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan
tujuan program yang paling pokok dan menyusun langkahlangkah praktis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
tersebut.

Perencanaan adalah fungsi dari seorang manager yang


meliputi pemilihan berbagai alternatif tujuan-tujuan ,
kebijaksanaan, prosedur, dan program.

Rumusan perencanaan oleh Bintaro Tjokrosmidjojo:


o Perencanaan dalam arti luas adalah suatu proses
mempersiapkan secara sistematis kegiatan yang akan
dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
o Perencanaan adalah suatu cara bagaimana mencapai
tujuan sebaik-baiknya dengan sumber yang ada supaya
efisien dan efektif.
o Perencanaan adalah penentuan tujuan yang akan
dicapai atau yang akan dilakukan bilaman, bagaimana
dan oleh siapa.
o Albert Waterston
Perencanaan

adalah

melihat

kedepan

dengan

mangambil pilihan berbagai alternatif dari kegiatan untuk


mencapai tujuan masa depan tersebut dengan terus
mengikuti agar pelaksanaannya tidak menyimpang dari
tujuan.
o Perencanaan pembangunan adalah suatu pengarahan
penggunaan

sumber

sumber

pembangunan

yang

terbatas adanya untuk mencapai tujuan keadaan sosial


ekonomi yang lebih baiksecara lebih efisien dan efektif.
2.2.2 Tujuan
Mendefinisikan target sasaran yang perlu dicapai dalam lingkup
misi untuk merealisasi visi. Tujuan hendaknya memenuhi kriteria
5

SMART (spesicif, measurable, attainable, realitic, time bound)


dan konsisten dengan prioritas organisasi.
SMART meliputi
Spesific : Hasil yang ingin dicapai memang relevan dengan
permasalahan yang ada
Measurable : Indikator dari input-proses-output dan outcome bisa
diukur
Attainable : Hasil bisa dicapai dengan kemampuan sumberdaya
yang ada/dimiliki saat ini
Time bound : Ada batas waktu yang jelas untuk bisa dicapai
2.2.3 Ciri Perencanaan
1. Mempunyai tujuan yang jelas, yaitu tujan umum dan tujuan
khusus.
2. Uraian kegiatan lengkap, meliputi kegiatan pokok dan
kegiatan tambahan.
3. Ditetapkan jangka waktu pelaksanaannya
4. Dijelaskan macam organisasi yang akan melaksanakan
rencana tersebut, siapa saja yang akan melaksanankan, dan
wewenang yang jelas, juga mengenai hak dan kewajibannya
5. Perkiraan faktor-faktor apa saja dan pendekatan apa saja
yang dapat menunjang atau menghambat pelaksanaan.
6. Sebuah rencana hendaknya tidak terlepas dari system yang
ada dan diketahui kaitannya dengan elemen-elemen system
lainnya.
7. Sebuah rencana harus mencantumkan standard yang dipakai
untuk

mengukur

keberhasilannya

dan

menjelaskan

mekanisme control yang dipakai.


8. Rencana seharusnya flexible dapat disesuaikan situasi dan
kondisi.
2.2.3 Unsur Perencanaan

Waktu
Suatu rencana yg baik harus mencantumkan uraian tentang
jangka waktu pelaksanaan rencana. Faktor-faktor yang
mempengarui penetapan jangka waktu banyak macamnya:

a) Kemampuan organisasi dalam mencapai target


b) Strategi pendekatan yang akan diterapkan
Organisasi dan tenaga pelaksana
Suatu rencana yang baik harus mencantumkan uraian
tentang organisasi serta susunan tenaga pelaksana yang
akan menyelenggarakan rencana.

Biaya
Suatu rencana yang baik harus mencantumkan uraian
tentang

biaya

yang

diperlukan

dalam

melaksanakan

rencana. Besarnya biaya sangat bervariasi sekali. Karena


semua sangat tergantung dari jenis serta jumlah kegiatan
yang akan dilakukan.

Metode penilaian dan criteria keberhasilan


Suatu rencana yang baik harus mencantumkan metode
penilaian dan criteria keberhasilan yang akan diperguankan.
Kriteria keberhasilan yang dapat dipergunakan banyak
macamnya.
a) Kriteria keberhasilan unsur masukan
b) Kriteria keberhasilan unsur proses
c) Kriteria keberhasilan unsur keluaran

Rumusan kegiatan
Kegiatan yang dimaksudkan disini adalah di satu pihak,
dapat mengatasi masalah yang dihadapi, dan dapat
mencapai tujuan (target) yang telah ditetapkan. Berbagai
kegiatan tersebut, jika ditinjau dari peranannya dalam
mengatasi

masalah

serta

mencapai

tujuan,

dapat

dibedakan atas dua macam:


Kegiatan pokok
Disebut sebagai kegiatan pokok (molar activities) apabila
kegiatan tersebut bersifat mutlak dan merupakan

kunci

bagi keberhasilan rencana.


Kegiatan tambahan
Disebut sebagai kegiatan tambahan (molecular activities)
apabila kegiatan tersebut bersifat fakultatif. Artinya apabila
kegiatan

tersebut

tidak

dilaksanakan,

menentukan keberhasilan suatu rencana.


Strategi pendekatan

tidak

akan

Strategi pendekatan yang dapat dipergunakan banyak


macamnya. Secara umum strategi tersebut berkisar antara
dua kutub utama sebagai berikut:
a) Pendekatan institusi
Kutub utama pertama dari strategi pendekatan adalah
pendekatan institusi . Pada strategi ini, pendekatan
yang

dilakukan

sangat

memerlukan

dukungan

legalitas, dank arena itu lazimnya sering menerapkan


prinsip-prinsip

kekuasaan

dan

kewenangan.

Keuntungan dari penerapan strategi ini adalah dapat


mempercepat

pelaksanaan

program.

Tetapi

kekurangannya hasil yang dicapai tidak langgeng,


karena seolah-olah ada pemaksaan.
b) Pendekatan komunitas
Kutub utama kedua dari strategi pendekatan adalah
pendekatan komunitas (community approach). Pada
strategi ini pendekatan yang dilakukan bertujuan
untuk menimbulkan kesadaran dalam diri masyarakat
sendiri. Untuk ini dilaksanakan berbagai program
komunikasi, informasi dan edukasi yang maksudnya
agar masyarakat dengan kesadaran sendiri mau
melaksanakan
direncanakan

berbagai
secara

kegiatan

mandiri.

yang

Keuntungan

telah
dari

penerapan strategi ini ialah perubahan yang dicapai


akan bertahan lama, karena memang bertolak dari
adanya

kesadaran.

Kerugiannya,

pelaksanaan

program akan membutuhkan waktu yang lebih lama.


Kelompok sasaran
Kelompok sasaran tersebut banyak macamnya. Jika
disederhanakan dapat dibedakan atas dua macam:
a) Kelompok sasaran langsung
Yang dimaksud dengan kelompok sasaran langsung
(direct target group) adalah anggota masyarakat yang
memanfaatkan langsung program kesehatan. Contoh
kelompok sasaran langsung adalah bayi-bayi untuk
program imunisasi dasar, dan atau ibu-ibu hamil untuk
program antenatal.
b) Kelompok sasaran tidak langsung

Yang dimaksud kelompok sasaran tidak langsung


(indirect target group) adalah kelompok sasaran
antara. Contonya adalah ibu-ibu untuk program
imunisasi dasar bayi. Pada contoh ini, program
imunisasi dasar tidak akan berhasil jika ibu-ibu tidak
diikutsertakan.

2.2.4 Macam Perencanaan


Pembagiannya berdasarkan corak dan isi perencanaan,maka
dibagi menjadi 3 macam perencanaan :
1. Perencanaan Ditinjau dari Segi Jangka Waktu

Perencanaan Jangka Pendek (Kurang 1 tahun)


Perencanaan disini melihat pada sasaran yang lebih
mudah diwujudkan, dan faktor ketidak pastian ditekan
serendah mungkin. Perencanaan ini sering disebut
perencanaan kegiatan kegiatan operasional, karena
rencana ini dapat langsung dilaksanakan. Perencanaa
jangka pendek juga disebut strategi Cash Flow dimana
keuntungan jangka pendek dapat dicapai.

Perencanaan Jangka Menengah (2-5 tahun)


Perencanaan jangka menengah diperuntukkan untuk
perencanaan program, bukan obyek.

Perencanaan Jangka Panjang (Lebih dari 5 tahun)


Merupakan perencanaan strategi organisasi, yang akan
menjadi acuan dan pedoman perencanaan jangka
menengah dan pendek. Hasil perencanaan jangka
panjang disebut rencana strategi /renstra.

2. Perencanaan Ditinjau dari Lingkup Kajian Masalah

Perencanaan Strategi
Strategi

adalah

tindakan

penyesuaian

untuk

mengadakan reaksi terhadap situasi lingkungan tertentu


(baru & khas) yg dianggap penting. Strategi erat
kaitannya dengan perencanaan (POA : 5W + 1H).
Strategi

bertujuan

untuk

mewujudkan

kesehatan

masyarakat, maka kebijakan melenyapkan faktor-faktor


yang mengganggu kesehatan.

Perencanaan Program
Terbagi menjadi perencanaan program sekali pakai
(single use)dan program berkesinambungan (standing
use). Dalam penyusunan standing use harus disusun
dengan

sungguh-sungguh

dan

melibatkan

banyak

aspek, sehingga nanti bisa dipergunakan sebagai acuan


/ panduan standar program-program tahun berikutnya.
3.Perencanaan Ditinjau dari Evolusi Perkembangan
Pada

tahun

1970-an

Perencanaan

harus

mempertimbangkan anggaran yang ada dan program apa


yg bisa dikerjakan dengan anggaran tersebut. Perencanaan
tersebut dikenal dengan Budget Based Program .Pada
abad 1990-an ada pemahaman bahwa perencanaan juga
harus memperhatikan perubahan lingkungan,dan pada
abad inilah muncul konsep perencanaan strategi.
Pada akhir tahun 2000 dan abad ke-21 fungsi perencanaan
sebagai integral dan amanjemn. Fungsi manajemen sudah
harus ada pada dokumen perencanaan, indicator dan
standar pelaksanaan, dab fungsi pengendalian juga sudah
harus diatasi saat membuat perencanaan.
1. Ditinjau dari jangka waktu berlakunya rencana
a. Rencana jangka panjang = 12-20 tahun
b. Rencana jangka menengah = 5-7 tahun
c. Rencana jangka pendek = hanya untuk 1 tahun
2. Ditinjau dari frekuensi penggunaan
a. Digunakan satu kali (single use planning)
b. Digunakan berulang kali (repeat use planning)
Disebut juga perencanaan standard
3. Ditinjau dari tingkatan rencana/level
a. Induk (master planning)

10

Mengandung tujuan dan kebijaksanaan yang bersifat


luas yang digunakan sebagai pedoman untuk menyusun
rencana lain yang lebih detail
b. Operasional
Lebih mengutamakan pedoman atau tata kerja
c. Harian (day to day planning)
Dari hari ke hari untuk melaksanakan program yang
sifatnya rutin
4. Ditinjau dari filosofi perencanaan
a. Perencanaan memuaskan (satisfying planning)
Apabila filosofi yang dianut pada waktu melakukan
perencanaan tidak terlalu mementingkan keuntungan
golongan, melainkan kepuasan semua pihak yang
terlibat
b. Perencaan optimal (optimizing planning)
Apabila filosofi yang dianut sangat mementingkan
pencapaian tujuan. Pada perencanaan ini ukuranukuran kuantitas menjadi penting, dank arena itu
perhatian lebih diutamakan pada bagian-bagian yang
produktif
c. Perencanaan adaptasi (adaptivizer planning)
Apabila filosofi yang dianut cenderung berupaya untuk
selalu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi
yyang dihadapi
5. Ditinjau dari orientasi waktu
a. Perencanaan berorientasi masa lalu-kini (past-present
planning)
Apabila rencana yang dihasilkan semata-mata bertitik
tolak dari pengalaman yang pernah diperoleh pada
masa lalu saja. Biasanya dilakukan apabila menghadapi
keadaan darurat serta waktu yang dimiliki sangat singkat
b. Perencanaan berorientasi masa depan (future oriented
planning)

11

Apabila rencana yang dihasilkan memperhitungkan


perkiraan-perkiraan yang akan terjadi pada masa akan
datang. Dibedakan atas 3 macam :
i. Perencanaan redistributive
Sekalipun orientasinya adalah masa depan, tetapi
rencana yang disusun tidak atas kajian masa depan
yang terlalu mendalam. Dilakukan karena kebutuhan
yang mendesak saja. Pada umumnya merupakan
kelanjutan dari past-present planning
ii. Perencanaan spekulatif
Kajian masa depan, sekalipun mungkin dilakukan
dengan mempergunakan data, tapi terlalu berani
iii. Perencanaan kebijakan
Perencanaan yang sangat berorientasi pada masa
depan, serta disusun atas kajian yang seksama dan
mendalam terhadap berbagai data yang tersedia
6. Ditinjau dari ruang lingkup
a. Strategik (strategic planning)
Dipakai sebagai pedoman pokok, berisikan tujuan utama
yang ingin dicapai, dan berlaku untuk jangka panjang.
Mengutamakan hasil dan cara pencapaian, sukar
diubah/disesuaikan
b. Taktis (tactical planning)
Lebih singkat masa berlakunya, mudah menyesuaikan
dengan situasi dan kondisi, asal tujuan dapat tercapai.
Lebih mengutamakan cara pencapaian hasil
c. Menyeluruh (comprehensive planning)
Bersifat menyeluruh, amat lengkap dan terperinci
dengan memasukkan berbagai faktor yang berhubungan
dengan rencana
d. Terpadu
Selain menyeluruh, juga saling berkaitan dengan faktor
yang bertujuan sama membentuk satu kesatuan

2.2.5 Langkah-langkah Perencanaan


12

1. Analisis situasi
Merupakan

langkah

pertama

proses

penyusunan

perencanaan. Langkah ini dilakukan dengan analisis data


laporan yang dimiliki oleh organisasi (data primer) atau
mengkaji laporan lembaga lain (data sekunder) yang datanya
dibutuhkan, observasi, dan wawancara. Data yang diperlukan
untuk menyusun perencanaan kesehatan terdiri dari:

Data tentang penyakit dan kejadian sakit

Data kependudukan

Data postensi organisasi kesehatan

Keadaan lingkungan dan geografi

Data sarana dan prasarana

2. Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya


Kriteria

penetapan

prioritas

masalah

kesehatan,

dapat

diketahui dengan mengajukan beberapa pertanyaan kritis


sebagai berikut:

Apakah masalah tersebut menimpa sebagian besar


penduduk?

Apakah masalah tersebut potensial sebagai penyebab


tingginya kematian bayi?

Apakah masalah tersebut memengaruhi kesehatan dan


kematian anak balita?

Apakah masalah tersebut mengganggu kesehatan dan


mengakibatkan kematian ibu hamil?

Apakah masalah kesehatan tersebut bersifat kronis


(endemic

di

suatu

wilayah

tertentu)

dan

dapat

mengganggu produktivitas kerja kelompok masyarakat


tertentu di suatu wilayah?

Apakah

masalah

tersebut

menyebabkan

kepanikan

msyarakat secara luas?


Jika jawabannya iya, skor keenam butir pertanyaan tersebut
tinggi.
3. Menentukan tujuan program

13

Beberapa penjelasan berikut ini perlu diperhatikan untuk


menyusun tujuan program:

Tujuan program adalah hasil akhir sebuah kegiatan. Oleh


karena itu, tujuan program dipakai untuk mengukur
keberhasilan kegiatan program

Tujuan harus sesuai dengan masalah, target ditetapkan


sesuai dengan kemampuan organisasi dan dapat diukur

Tujuan penting untuk menyusun perencanaan dan evaluasi


hasil akhir

Target operasional biasanya ditetapkan dengan waktu


(batas pencapaiannya) dan hasil akhir yang ingin dicapai
pada akhir kegiatan program (deadline).

Berbagai

macam

kegiatan

alternative

dipilih

untuk

masalah

serta

mencapai tujuan program

Masalah

dan

factor-faktor

penyebab

dampak masalah yang telah dan mungkin terjadi di masa


depan sebaiknya dikaji lebih dahulu sebelum tujuan dan
target operasionalnya ditetapkan.
4. Mengkaji hambatan dan kelemahan program
Jenis hambatan atau kelemahan program dapat dikategorikan
ke dalam:

Hambatan yang bersumber pada kemampuan organisasi:


misalnya motivasi kerja staf rendah, pengetahuan dan
ketrampilan

mereka

kurang,

staf

belum

mampu

mengembangkan partisipasi masyarakat setempat.

Hambatan

yang

terjadi

pada

lingkungan:

misalnya

hambatan geografis, iklim atau musim hujan, masalah


tingkat pendidikan masyarakat, dll.
5. Menyusun rencana kerja operasional (RKO)
Format RKO yang lengkap adalah:

Latar belakang penyusunan RKO

Tujuan yang ingin dicapai

Progam atau kegiatan apa yang akan dilaksanakan

Siapa pelaksana dan sasarannya

14

Sumber daya pendukung yang tersedia

Di mana kegiatan akan dilaksanakan (tempat)

Kapan kegiatan akan dilaksanakan (waktu)

2.2.6 Kegunaan dan Kelemahan Perencanaan


Kegunaan:

Tujuan menjadi jelas, obyektif, dan rasional dan dapat


menjadi acuan bagi fungsi manajemen lainnya.

Dapat

menggambarkan

hal-hal/kemungkinan

yang

diperkirakan akan terjadi yang akan dating.

Dapat

meggambarkan

kegiatan

program

secara

keseluruhan.

Kegiatan menjadi teratur, dan berdaya guna dan berhasil.

Kegiatan lebih terarah.

Memberikan dasar untuk pengawasan dan pengendalian.

Merangsang prestasi kerja.

Dapat memperkecil resiko, mengurangi ketidakpastian


dan

meminimalkan

kegiatan-kegiatan

yang

tidak

diperlukan.

Memberikan gambaran seluruh pekerjaan dengan jelas.

Memberikan

petunjuk

untuk

menggerakkab

dan

melaksanakan upaya yang efektif dan efisien.

Memudahkan pengawasan, pengendalian dan penilaian.

Dapat mendorong peningkatan upaya penelitian dan


pengembangan.

Memastikan maksud dan tujuan organisasi.

Menjelaskan rencana program secara sistematis.

Kelemahan/Kerugian Perencanaan

Perencanaan yang terbatas karena kurang lengkapnya


data dan informasi yang diperlukan dapat menghambat
pelaksanaan pekerjaan.

Perencanaan memerlukan biaya besar

15

Perencanaan

mempunyai

hambatan

penghalang

psikologis, karena orang lebih memperhatikan masa


sekarang dari pada masa yang akan dating.

Perencanaan

menyebabkan

terlambatnya

tindakan-

tindakan yang perlu dilakukan

Perencanaan

kadang-kadang

diperlakukan

secara

berlebihan

Perencanaan memiliki nilai praktis yang terbatas

Perencanaan dapat membatasi tindakan.

Rencana yang dibuat tidak tepat meramalkan suatu hasil


yang diharapkan, karena keterbatasan informasi

2.3 Pengumpulan Data


2.3.1 Pengukuran
Adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
mengukur orang atau objek mengenai hal yang dipelajari dengan
mempergunakan

berbagai

macam

alat

ukur

dan

hasil

pengukuran kemudian dicatat. Alat ukur yang dipakai harus


memenuhi syarat reabilitas dan validitas.
2.3.2 Metode Pengumpulan Data
2.3.2.1 Pengamatan (Observasi)

Pengamatan adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara


aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya
rangsangan.
rangsangan pengindraan menarik perhatian
pengamatan

Jadi pengamatan meliputi melihat, mendengar, dan


mencatat.
a. Pengamatan dan Ingatan

Ingatan adalah kekuatan jiwa untuk menerima,


menyimpan dan memproduksi kesan.

Dalam pengamatan diperlukan ingatan yang cepat,


setia, teguh, dan luas.

16

Cepat

: pengamatan dilakukan dalam waktu

singkat dan dapat memahami sesuatu hal tanpa


menjumpai kesukaran-kesukaran.

Setia : kesan-kesan yang telah diterimanya akan


disimpan sebaik-baiknya tidak akan berubah.

Teguh : dapat menyimpan kesan dalam waktu yang


lama, tidak mudah lupa.

Luas : dapat menyimpan kesan yang banyak.

Untuk mengatasi kelemahan ingatan dan untuk


mengurangi kesalahan, dapat dibantu dengan :
1. Mengklasifikasi gejala-gejala yang relevan
2. Observasi diarahkan pada gejala-gejala yang
relevan
3. Menggunakan frekuensi pengamatan yang lebih
sering
4. Melakukan pencatatan segera
5. Alat-alat mekanik, seperti alat pemotret, film,
tape recorder, dll.

b. Sasaran Pengamatan
Sebelum

melakukan

pengamatan,

peneliti

harus

menentukan apa yang harus diamati dan diperhatikan


dengan seksama, dan apa yang harus diabaikan. Hal
ini disebut dengan pembatasan sasaran. Dalam
pembatasan sasaran diperlukan kerangka teori atau
konsep-konsep dan hipotesis.
Apabila

observee

tau

mereka

sedang

diperhatikan

(diamati), maka akan terjadi kemungkinan-kemungkinan


sebagai berikut :
Tingkah laku mereka akan dibuat-buat
Kepercayaan mereka terhadap pengamat
hilang,

yang

akhirnya

menutupi

diri

dan

akan
selalu

berprasangka.
Dapat mengganggu situasi dan relasi pribadi

Akibat dari ini semua kemungkinan akan diperoleh


data

atau informasi yang bias


17

Agar observasi partisipatif ini berhasil, perlu diperhatikan


hal-hal sebagai berikut :

Dirumuskan gejala apa yang akan diobservasi


Diperhatikan cara pencatatan yang baik, sehingga

tidak menimbulkan kecurigaan


Memelihara hubungan baik dengan observee
Mengetahui batas intensitas interaksi
Menjaga agar situasi dan iklim psikologis tetap wajar
Sebaiknya pendekatan pengamatan dilakukan melalui
tokoh-tokoh masyarakat setempat (key person)

Dalam

hal

intensitasnya,

observasi

pasitpatif

dapat

Observasi parsitipatif partial (sebagian),

yang

digolongkan menjadi dua, yaitu :


1.

hanya

mengambil

bagian

pada

kegiatan-

kegiatan tertentu saja, dimana tingkahlaku2.

tingkahlaku yang akan diamati timbul.


Observasi partisipasi penuh, denngan ikut serta
pada semua kegiatan sosial yang ada.

c. Beberapa Alat Observasi


a. Check list
Adalah suatu daftar untuk mencek yang berisi
nama subyek dan beberapa gejala serta identitas
lainnya dari sasaran pengamatan. Pengamat
tinggal memberikan tanda check () pada daftar
tersebut yang menunjukkan adanya gejala atau ciri
dari sasaran pengamatan. Check list ini dapat
bersifat individual dan juga dapat bersifat
kelompok. Kelemahan check list adalah hanya
dapat menyajikan data yang kasar saja, hanya
mencata ada atau tidaknya gejala.
b. Skala Penilaian (rating scale)
Skala ini berupa daftar yang berisikan ciri-ciri,
tingkah laku yang dicatat secara bertingkat. Rating
scale ini dapat merupakan suatu pengumpulan
data untuk mengelompokkan, menggolongkan ,
menilai seseorang atau suatu gejala. Skala ini ada
bermacam bentuk, antara lain:

18

1. Bentuk kuantitas yang menggunakan skor atau


rating
2. Rating scale dalam bentuk deskripsi
3. Rating scale dalam bentuk grafis
c.

Daftar riwayat Kelakuan (anedoctal record)


Catatan mengenai tingkah laku daan lain-lain yang
sifatnya khas dan dilakukan oleh pengamat atau
observer.

d.

Alat mekanik atau elektronik


Dapat menggunakan alat-alat seperti handycamp,
camera, recorder, dll. Sehingga dapat diputar
kembali sewaktu untuk analisis secara teliti

d. Berbagai Jenis Pengamatan


a) Survey Langsung, dengan survey langsung kita
dapat melihat karakteristik tentang gaya hidup,
tempat tinggal dan tipe rumah dan lingkungan
rumah.
b) Informant Interviews, informasi yang diperoleh
dari informan adalah kunci melalui wawancara
atau focus group discussion sangat menolong
dalam mengatasi masalah
c) Participant Observation, kita dapat mengkaji dat
objektif berdasarkan orang, tempat dan social
system yang ada di komunitas. Informasi ini
dapat

membantu

kestabilan
dampak
d)

dan

mengidentifikasi

perubahan

kesehatan

Menggunakan

individu
media

yang
di

seperti

tren,
member

komunitas.
telephone

e) Diskusi panel pada komunitas promotor


berdiskusi

bersama

masyarakat

maslah yang sedang terjadi.


2.3.2.2 Wawancara (Interview)

19

mengenai

Adalah

suatu

mengumpulkan

metode
data,

di

yang
mana

dipergunakan
peneliti

untuk

mendapatkan

keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang


sasaran penelitian atau bercakap-cakap berhadapan muka
dengan orang tersebut.
Yang didapat peneliti antara lain:

Kesan langsung dari responden.


Menilai kebenaran yang dikatakan oleh responden.
Membaca mimik responden.
Memberi responden penjelasan jika tidak mengerti.
Memancing jawaban.
Dalam wawancara hendaknya:

Saling melihat, mendengar dan mengerti.


Percakapan tidak kaku atau formal.
Merencanakan pertemuan.
Menyadari adanya kepentingan yang berbeda.
1. Beberapa Jenis Wawancara
a. Wawancara Tidak Terpimpin
Tidak ada pokok persoalan yang menjadi
fokus, pertanyaan tidak sistematis dan tidak
menggunakan pedoman yang tegas. Hanya
cocok sebagai pengumpulan data khusus
yang mendalam untuk penelitian kualitatif
yang tidak didapat dalam waktu terpimpin.
Kelemahan:

Kurang efisien
Tidak ada pengecekan sistematis sehingga

reabilitasnya kurang.
Boros tenaga, pikiran, biaya, waktu dan
sebagainya.

b. Wawancara Terpimpin
Berdasar pedoman berupa kuisioner yang
berisi pertanyaan mencakup variable-variabel
yang berkaitan dengan hipotesis.
Keuntungan:

Pengumpulan data dan pengolahannya dapat


cermat dan teliti.

20

Hasil dapat disajikan secara kualitatif maupun

kuantitatif.
Interview dapat

dilakukan

oleh

beberapa

orang, karena pertanyaannya seragam.


Kelemahan:

Wawancara kaku.
Interviewer tampak formal hubungannya
dengan responden kurang fleksibel.

c. Wawancara Bebas Terpimpin


Kombinasi dari wawancara tidak terpimpin dan
terpimpin. Bebas, tetapi pembicaraannyategas
dan terarah, luwes tetapi tergantung interviewer.
Sering untuk menggali gejala-gejala kehidupan
psikis antropologis.
d. Free Talk dan Diskusi
Interviewer bertindak sebagai pencari data,
suggester, motivator, dan educator sekaligus.
Sering dipakai dalam suatu action research,
interaksi klinis dokter dengan pasien.
Kebaikan dari wawancara ini partisipasi aktif
dari

peneliti

dan

informan,

sedangkan

kelemahannya kurang relevan untuk penelitian


dalam rangka uji hipotesis.
Teknik Wawancara
a. Hubungan Baik antara Interviewer dengan Sasaran
(interviewee)
Hubungan baik anatara interviewer dan sasaran
disebut dengan rappart. Rappart dapat tercapai
dengan cara :
Melakukan percakapan pemanasan (warming up)
sebelum melakukan wawancara, dan menjelaskan
tujuan dilakukannya wawancara
Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti

21

Masalah yang sesuai dengan minat atau keahlian


responden karena akan meningkatkan antusiasme
responden saat menjawab pertanyaan
Menciptakan suasana yang bebas dan santai
sehingga responden tidak tertekan atau terpaksa
selam wawancara
Wawancara tidak boleh terburu-buru, tidak sabar,
kurang menghargai atau sinis
Memberikan sugesti kepada responden bahwa
keterangan yang diberikan berharga, tetapi jangan
sampai berlebihan karena responden akan
overacting
Melakukan probing (stimulasi percakapan) jika
mengalami kemacetan dalam wawancara
Hindari titik kritis yang menyinggung hal-hal yang
sensitif
Memegang teguh kode etik dengan tidak
menceritakan apa yang sudah responden
ceritakan.
b. Keterampilan Sosial Interviewer
Pewawancara

atau

interviewer

harus

memiliki

keterampilan sosial, antara lain :


Ramah, sopan, dan berpakaian rapi
Bahasa yang sopan, ringkas, dan mudah
ditangkap
Luwes, bijaksana, dan supel
Nada suara yang menarik, tidak keras tetapi tidak
terlalu lembut
Responsif
Dapat memberi sugesti untuk dapat menjawab
pertanyaan, tetapi tidak mempengaruhi jawaban
responden
Terbuka, setia dan sukarela

22

Bila dalam wawancara menggunakan alat


pencatat, sebisa mungkin tidak terlihat oleh
responden
Menatap wajah responden selama wawancara
Menyebut nama responden
c. Cara Pencatatan Wawancara
Cara pencatatan dalam wawancara ada 5, yaitu :
1. Pencatatan Langsung
adalah pencatatan data atau informasi yang
dilakukan selama wawancara.
Keuntungan dari cara pencatatan langsung
adalah interviewer belum lupa tentang jawaban
atau data-data yang diberikan responden,
sehingga kemungkinan hilangnya data akibat
lupa kecil.
Kerugiannya adalah hubungan antara interviewer
dan responden menjadi kaku karena interviewer
sibuk mencatat data ketika responden
memberikan info sehingga rappart terganggu.
2. Pencatatan dari Ingatan
adalah pencatatan yang dilakukan setelah
wawancara.
Keuntungannya rappart mudah dicapai karena
saat wawancara interviewer tidak disibukkan
dengan melakukan pencatatan data.
Kelemahannya banyak data yang mungkin hilang
karena lupa, dan ada kemungkin data terdesak
oleh keterangan-keterangan lain yang oleh
responden diceritakan secara menonjol atau
dramatis.
3. Pencatatan dengan Alat Recording
Pencatatan dengan cara ini lebih mudah, tepat,
dan detil.

23

Kelemahannya adalah peneliti kerja dua kali


karena harus menyalin data dari alat perekam,
dan pencatatan dengan cara ini lebih mahal.
4. Pencatatan dengan Angka (field rating)
5. Pencatatan dengan Kode (field coding)

Kelebihan dan Kekurangan Metode Wawancara


Kelebihan:
1. Tidak menemui kesulitan sekalipun responden buta huruf
2. Dapat untuk observasi perilaku pribadi
3. Dapat dipakai sebagai verifikasi data
4. Teknik efektif untuk menggali gejala psikis, atau bawah
sadar
5. Cocok untuk pengumpulan data sosial
Kekurangan:
1. Kurang efisien, boros waktu, tenaga, biaya, pikiran
2. Perlu ahli bahasa dari interviewer (bila sasaran dan
interviwer tidak dapat menggunakan bahasa yang sama)
3. Kesengajaan interviewer memanipulasi data
4. Bila rapport tidak tercapai, data kurang akurat
5. Interview dipengarui oleh situasi dan kondisi
6. Ada inflamasi tersembunyi dari responden terutama
untuk informasi yang berkaitan dengan sifat, motivasi
atau perilaku responden
7. Responden terkadang tidak menjawab apa adanya tetapi
apa yang sebaiknya dirasakan baik oleh koresponden
8. Responden terlalu dibatasi pada jawaban tertentu
9. Sering muncul jawabannya yang tidak diinginkan dan
tidak sesuai dengan yang diinginkan
2.3.2.3 Angket
Cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai
suatu

masalah

kepentingan

yang

umum.

umumnya
Angket

ini

banyak

menyangkut

dilakukan

dengan

mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulirformulir, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subyek
untuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban, dsb.
Tipe angket

24

1. Angket menurut sifat


a. Angket umum, yang berusaha sejauh mungkin untuk
memperoleh

selengkap

lengkapnya

tentang

kehidupan seseorang.
b. Angket khusus, hanya berusaha untuk mendapatkan
data-data mengenai sifat-sifat khusus dari pribadi
seseorang.
2. Angket menurut penyampaiannya
a. Angket langsung. Apabila disampaikan langsung
kepada orang yang dimintai informasinyabtentang
dirinya sendiri
b. Angket tak langsung, apabila pribadi yang disuruh
mengisi angket adalah bukan responden langsung. Ia
akan menjawab dan memberikan informasi tentang
diri orang lain.
3. Menurut bentuk strukturnya
a. Angket berstruktur.angket ini disusun sedemikian
rupa, tegas, definitive, terbatas dan konkret, sehingga
responden dapat dengan mudah mengisis atau
menjawabnya.
b. Angket tak berstruktur. Angket ini dipakai bila peneliti
menghendaki

suatu

uraian

dari

informan

atau

responden tentang suatu masalah sengan suatu


penulisan atau penjelasan yang panjang lebar. Jadi
pertanyaan bersifat terbuka dan bebas.
Berdasarkan bentuk pertanyaanya atau menurut jenis
penyusunan item yang diwujudkan, angket dibedakan
menjadi:
1. Angket berbentuk isian, dimana responden diberi
kebebasan untuk mengisi dengan jawaban yang sesuai
menurut responden.
2. Angket berbentuk pilihan, dimana jawabannya telah
disediakan , responden tingggal memilih jawaban yang
telah tersedia.
Kelebihan angket :

Dalam waktu singkat (serentak) dapat diperoleh data yang

banyak.
Menghemat tenaga, dan mungkin biaya

25

Responden

dapat

memilih

mengisinya,

sehingga

tidak

waktu

senggang

terlalu

terganggu

untuk
bila

dibandingkan dengan wawancara


Secara psikologis responden tidak merasa terpaksa, dan
dapat menjawab lebih terbuka, dan sebagainya
Kekurangan angket :

Jawaban akan lebih banyak dibumbui dengan sikap dan

harapan-harapan pribadi, sehingga lebih bersifat subjektif


Dengan adanya bentuk (susunan) pertanyaan yang sama
untuk respondeng yang sangat heterogen, maka penafsiran
pertanyaan

akan

berbeda-beda

sesuai

dengan

latar

belakang social pendidikan dan sebagainya dari responden


Tidak dapat dilakukan untuk golongan masyarakat yang buta

huruf
Apabila respondeng tidak memahami pertanyaan atau tidak
dapat menjawab, akan terjadi kemacetan, dan mungkin

responden tidak akan menjawab seluruh angket


Sangan sulit intik memutuskan pertanyaan-pertanyaan
secara cepat dengan mengguanakan bahas yang jelas atau
bahasa yang sederhana.
Persiapan dan penyusunan angket:

Pertanyaan harus singkat dan jelas, terutama jelas bagi

calon penjawan
Jumlah pertanyaan hendaknya dibuat sesedikit mungkin,

supaya penjawab tidak terlalu membuang waktu


Pertanyaan hendaknya cukup merangsang minat penjawab
Pertanyaan dapat memaksa penjawab untuk memberikan

jawaban yang mendalam, tetapi to the point


Pertanyaan jangan sampai menimbulkan jawaban yang

meragukan
Pertanyaan jangan bersifat interogatif, dan jangan sampai

menimbulkan kemarahan bagi penjawab


Pertanyaan jangan sampai menimbulkan kecurigaan pada
penjawab.
Di samping hal-hal tersebut, pada lembaran pertama dari
angket harus dijelaskan tentang tujuan penelitian, serta

26

petunjuk-petunjuk atau penjelasan tentang bagaimana cara


menjawab atau mengisi formulir (angket) tersebut.
2.3.2.4 Kuisioner
Alat pengumpulan data yang umum dipakai adalah kuisioner
Cara pembuatan kuisioner adalah sebagai berikut.
1. Membuat daftar variable yang akan diukur
2. Merumuskan pertanyaan yang sesuai dengan variable
tersebut. Pertanyaan harus merupakan pertanyaan yang
secara logis paling valid. Untuk meningkatkan validitas,
mungkin diperlukan lebih dari satu pertanyaan untuk
mengukur suatu variable.
3. Menentukan urutan pertanyaan.
Pertanyaan yang mudah dan menarik didahulukan
daripada yang sukar dan peka. Usahakan urutan
pertanyaan sealamiah dan selogis mungkin.
Apabila daftar pertanyaan merupakan angket, harus ada
pengantar dan pedoman yag jelas. Apabila digunakan
wawancara, pedoman yang jelas. Apabila digunakan
wawancara, pedoman yang memuat penjelasan dan
petunjuk wawancara harus pula disertakan.
4. Setelah rancangan akhir siap, kuisioner siap untuk diuji.
Pada tahap ini diperbolehkan untuk mencoba beberapa
bentuk pertanyaan yang sama. Setelah uji awal, baru
diketahui pertanyaan yang tidak perlu, yang perlu
ditambah, perubahan urutan pertanyaan, perubahan
pertanyaan dan sebagaiya.
Format

kuisioner

memudahkan

harus

pengisian

sederhana
dan

rupa

pengkodean.

sehigga
Bentuk

pertanyaan umumnya ada dua macam, yaitu terbuka


(responden menjawab dengan kata-kata sendiri) dan
tertutup (responden memilih alternative jawaban yang
disediakan)
Pertanyaan terbuka sering member jawaban-jawaban
yang sukar disimpulkan terutama karena kesulitan dalam
melakukan kategorisasi.
Persyaratan utama suatu pertayaan yang baik ialah

27

- Logis dan valid


- Responden diharapkan mengetahui jawaban
- Jelas dan tidak meragukan
Tidak menyudutkan
Netral

2.4 Evaluasi

Ialah menentukan pendapat berdasar penafsiran secara cermat dan


penilaian secara kritis mengenai keadaan tertentu yang harus
mengarah pada penarikan kesimpulan yang masuk akal, serta
pengujian usulan-usulan untuk tindak lanjut yang bermanfaat.
Tujuannya

untuk

meningkatkan

daya

guna

dan

hasil

guna

perencanaan dan pelaksanaan program serta memberikan petunjuk


dalam pengelolaan tenaga, dana, dan fasilitas untuk program yang
ada sekarang dan yang akan datang.
Macam evaluasi :
a) Formative Evaluation
Evaluasi
yang
dilaksanakan

selama

program

sedang

dilaksanakan, dengan tujuan memberikan umpan balik kepada


manajer program tentang hasil-hasil yang dicapai serta hambatan
dalam pelaksanaan program sehingga dapat diambil tindakan
tertentu supaya tujuan dapat dicapai.
- Evaluasi proses : untuk memberikan gambaran tentang SWOT.
- Dengan metode PERT atau CPM
b) Suumative Evaluation
Evaluasi dilaksanakan pada akhir program untuk melihat keadaan
keseluruhan selama program berjalan. Sasarannya sebagai
berikut :
- Evaluasi usaha : mengevaluasi input tanpa melihat output.
- Evaluasi hasil usaha : sifatnya kuantitatif
- Evaluasi kelayakan hasil usaha atau efektifitas

membandingkan antara hasil yang diperoleh dengan hasil


-

yang diharapkan.
Evaluasi daya guna atau efisiensi : apakah output sebanding

dengan input
Evaluasi proses : gambaran tentang faktor yang mendukung,
memperlemah, adanya peluang dan hambatan pencapaian

tujuan setelah kegiatan selesai.


Evaluasi dampak program : dampak dari program yang telah
dilaksanakan.

2.4.1 Penilaian
28

Ruang Lingkup Penilaian Program Kesehatan

Denniston
1.Kelayakan

George James
1. Upaya program

Roemer
1. Status

Blum
1. Pelaksanaan

program
2.

2. Penampilan

kesehatan
2. Kualitas

program
2. Pemenuhan

Kecukupan

program

program

kriteria

program
3.

3. Ketepatan

3. Kuantitas

3. Efektivitas

Efektivitas

penampilan

program

program

program
4. Efisiensi

4. Efisiensi program

4. Sikap

4. Efisiensi

masyarakat
5. Sumber

program
5. Keabsahan

program
6. Biaya program

hasil
6. Sistem

program

Langkah-langkah melakukan penilaian

Mac Mahon
1. Menent
ukan
macam
dan
ruang
lingkup
penilaia
n
2. Pemaha
man
program
3. Melaksa
nakan
penilaia
n
dan
menarik
kesimpu
lan

Audie Knutson
1. Pemaham
an
program
2. Mengemb
angkan
rencana
penilaian
dan
melaksan
akannya
3. Menarik
kesimpula
n

29

Levey dan
Loomba
1. Menetapk
an tujuan
penelitian
2. Melengka
pkan tolok
ukur
3. Mengemb
angkan
model
rencana
dan
program
penilaian
4. Melaksan
akan
penilaian
5. Menjelask
an derajat
keberhasil
an
6. Menarik
kesimpula
n
dan
menyusun
saran

WHO
1. Menentu
kan hal
yang
dinilai
2. Melengk
apkan
keterang
an
3. Memerik
sa
hubunga
n
keterang
an
dengan
tujuan
penilaia
n
4. Menilai
kecukup
an
keterang
an
5. Menetap
kan
kemajua
n
program

6. Menetap
kan
efektifita
s
program
7. Menetap
kan
efisiensi
program
8. Menetap
kan
dampak
program
9. Menarik
kesimpul
an dan
menyus
un saran

30

DAFTAR PUSTAKA
Herijulianti, Eliza, dkk. 2002. Pendidikan kesehatan Gigi. EGC: Jakarta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Jakarta : rineka cipta
Wiyono,

Djoko.

2009.

Manajemen

Program

Kesehatan. Surabaya: cv duta prima airlangga

31

dan

Kepemimpinan