Anda di halaman 1dari 3

REACTION PAPER

SEMINAR AKUNTANSI MANAJEMEN


KELOMPOK 7
ANITA DIANA SARI

1310531001

RIZKA RIMASDA

1310532002
ACTIVITY BASED MANAGEMENT

Pelaksanakan pertanggungjawaban atas biaya terdapat dua pertanggungjawaban


yaitu tradisional dan modern. Pada perusahaan di lingkungan tradisional yang beroperasi
dengan jumlah produksi yang jelas dan stabil biasanya lebih menekankan pada bagaimana
caranya dalam mempertahankan pangsa pasar, kestabilan pertumbuhan produksi, dan
efisiensi produk. Namun, pada perusahaan yang berada pada lingkungan yang lebih
modern dalam artian lebih dinamis dimana perusahaan bergerak dalam lingkungan yang
berubah dengan cepat maka biasanya lebih menekankan bagaimana caranya mengeliminasi
biaya yang menyebabkan pemborosan. Penurunan pemborosan ini dapat dilakukan dengan
metode JIT, rekayasa ulang, TQM, pelatian karyawan, dan produksi dengan menggunakan
computer.
Lingkungan yang berbeda antara perusahaan tradisional dan perusahaan modern
menyebabkan perbedaan dalam system pengendalian diantara kedua jenis perusahaan
tersebut. Dalam mengendalikan dan mengukur kegiatan, hasil, dan juga pemberian
imbalan digunakanlah alat yang disebut akuntansi pertanggungjawaban.
Unsur-unsur dalam akuntansi pertanggungjawaban ada 4 unsur yaitu
1. Tanggung jawab
Pada akuntansi tradisional tangugng jawab dititik beratkan pada tiap unit organisasi
(dalam artian departemen, lini produksi, atau tim kerja) dan individual. Sementara itu,
pada akuntansi modern tanggung jawab dititikberatkan kepada proses dan tim hal ini
dikarenakan prinsip perbaikan berkelanjutan pada perusahaan yang dinamis.
2. Penetapan ukuran kinerja
Tolak ukur akuntansi tradisional dalam pengukuran aktivitas merupakan
penganggaran dan kalkulasi biaya standar. Standar biaya tersebut bersifat tetap dan
stabil sepanjang waktu. Beda halnya pada akuntansi modern standar biaya dinilai lebih
dinamis (berubah) dimana standar tersebut berorientasi pada proses.
3. Evaluasi kinerja

Evaluasi kinerja pada akuntansi tradisional tiap kinerja individu dinilai dari
perbandingan hasil actual dengan hasil yang dianggarkan. Pada akuntansi modern
evaluasi kinerja dinilai berdasarkan waktu, kualitas, dan efisiensi.
4. Pemberian imbalan
Pemberian imbalan pada akuntansi tradisional diberikan kepada individu yang
dapat meminimalkan biaya dari biaya yang dianggarkan. Namun pada akuntasi
modern, pemberian imbalan diberikan kepada tim yang dapat mempertahankan
kinerjanya.
Dari perbedaan unsur diatas, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan perusahaan
pada masa sekarang lebih cocok menggunakan akuntansi modern dari pada akuntansi
tradisional. Oleh karena itu lah muncul Activity Based Management.
Activity Based Management
Activity Based Management merupakan pengelolaan yang berpusat terhadap
proses aktivitas produksi perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai pelanggan
dan laba. Ada dua dimensi dalam ABM yaitu dimensi biaya dan dimensi proses. Dimensi
biaya merupakan dimensi yang memberikan informasi sumber daya, aktifitas, produk, dan
pelanggan dengan tujuan memperbaiki keakuratan pembebanan biaya dengan cara
dibebankan kepada produk dan pelanggan. Dimensi proses merupakan dimensi yang
memberikan informasi mengenai aktifitas apa yang akan dikerjakan, mengapa aktifitas
tersebut dikerjakan dan seberapa efisien aktifitas tersebut dikerjakan. Tujuan dari dimensi
proses ini adalah pengurangan biaya dengan cara mengeliminasi aktivitas yang tidak
bernilai tambah.
ABM perlu menganalisis aktivitas yang ada dalam proses produksi. Apakah
aktivitas tersebut dapat menghasilkan nilai tambah atau tidak. Aktivitas bernilai tambah
(value added activity) merupakan aktivitas yang dibutuhkan perusahaan dalam
mempertahankan bisnis dan menigkatkan nilai pelanggan. Contoh dari aktivitas yang
bernilai tambah ini adalah merancang produk, pemrosesan produksi, dan pengiriman
produk. Sementara itu, aktivitas yang tidak bernilai tambah (non value added activity)
merupakan aktivitas yang tidak memberikan kontribusi terhadap pertahanan bisinis dan
peningkatan nilai pelanggan. Contoh dari aktivitas yang tidak bernilai tambah ini adalah
penjadwalan, pengerjaan ulang, persediaan berlebihan, waktu tunggu, perpindahan, dan
pengawasan.
ABM ini merupakan alat pengendalian yang lebih komplek dibandingkan dengan
FBM karena ABM juga memperhatikan kualias, efisiensi, dan perbaikan yang

berkelanjutan berbeda dengan FBM yang hanya memperhatikan biaya. Pada ABM
manajemen bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan konsumen dengan hanya
menggunakan aktivitas yang bernilai tambah.
Sehingga, dilihat dari dunia bisnis yang cerderung berubah mengikuti perubahan
zaman maka ABM lebih cocok digunakan pada perusahaan-perusahaan yang memproduksi
produk sesuai keinginan konsumen seperti Toyota, Yamaha, Samsung yang menciptakan
produk-produk yang selalu berubah dan berkembang. Dibandingkan dengan FBM yang
cocok digunakan pada perusahaan yang hanya memproduksi 1 lini produk seperti pabrik
rokok.
Dengan ABM perusahaan dapat mengevaluasi biaya dan nilai dari suatu aktivitas
proses yang memiliki peluang dan meningkatkan efisiensi proses dalam keunggulan
bersaing pada persaingan global.