Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS

A. PENGERTIAN
Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang kaya akan vaskularisasi dan
aliran limpa berfungsi untuk membungkus organ perut dan dinding perut sebelah
dalam (Price & Wilson, 2006).
Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum suatu membrane yang melapisi
rongga abdomen. Peritonitis biasanya terjadi akibat masunya bakteri dari saluran
cerna atau organ-organ abdomen ke dalam ruang perotonium melalui perforasi usus
atau rupturnya suatu organ. (Corwin, 2000).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa peritonitis adalah radang selaput
perut atau inflamasi peritoneum baik bersifat primer atau sekunder, akut atau kronis
yang disebabkan oleh kontaminasi isi usus, bakteri atau kimia.
B. ANATOMI FISIOLOGI
Saluran pencernaan di tubuh manusia dimulai dari rongga mulut, esofagus,
lambung, usus halus hingga anus. Sistem pencernaan meliputi :
1. Rongga mulut
Rongga mulut merupakan awal saluran pencernaan, proses pencernaan dimulai
dengan aktivitas mengunyah dimana makanan dipecah ke dalam partikel kecil dan
dicampur dengan enzim-enzim pencernaan. Di dalam mulut terdapat saliva yang
mengandung mukus yang fungsinya membantu melumasi makanan saat dikunyah.
Kemudian saat makanan ditelan epiglotis bergerak menutup lubang trakea untuk
mencegah terjadinya aspirasi makanan ke paru-paru sehingga mengakibatkan bolus
makanan berjalan ke dalam esofagus.
2. Esofagus
Esofagus memiliki panjang + 25 cm dan terletak di mediastinum rongga thorakal,
anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. Otot

halus di dinding esofagus berkontraksi dalam urutan irama dari esofagus ke arah
lambung untuk mendorong bolus makanan sepanjang saluran. Selama proses
peristaltik esofagus, sfingter esofagus bawah rileks dan memungkinkan bolus
makanan masuk ke lambung kemudian sfingter esofagus menutup dengan rapat untuk
mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus.
3. Lambung
Lambung terletak di bagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh,
tepat di bawah diafragma kiri. Lambung adalah suatu kantong yang dapat berdistensi
dengan kapasitas + 1.500 ml. Lambung terdiri dari 4 bagian yaitu kardia (jalan
masuk), fundus, korpus, dan pilorus. Lambung mensekresi cairan yang sangat asam,
cairan ini mempunyai pH serendah 1 dan memperoleh keasamannya dari asam
hidrochlorida yang disekresikan oleh kelenjar lambung. Fungsi sekresi asam untuk
memecah makanan menjadi komponen yang lebih dapat diabsorbsi dan untuk
membantu destruksi bakteri pencernaan. Lambung dapat menghasilkan sekresi kirakira 2,4 liter/hari.
4. Usus halus
Usus halus adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada
pilorus dan berakhir pada sekum, memiliki panjang 2/3 dari panjang total saluran
pencernaan. Bagian permukaan usus halus untuk sekresi dan absorbsi. Usus halus
dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
a. Duodenum
Duodenum adalah bagian pertama usus halus yang panjangnya 25 cm berbentuk
sepatu kuda dan kepalanya mengelilingi kepala pankreas. Saluran empedu dan
saluran pankreas masuk ke dalam duodenum pada suatu lubang yang disebut
ampula hepatopankreatika 10 cm dari pilorus.
b. Yeyunum
Yeyunum menempati 2/5 sebelah atas dari usus halus.
c. Ileum
Ileum menempati 3/5 akhir dari usus halus.
Dinding usus halus terdiri atas 4 lapisan yang sama dengan lambung yaitu

a. Dinding lapisan luar adalah membran serosa, yaitu peritoneum yang membalut
usus dengan erat.
b. Dinding lapisan berotot terdiri atas 2 lapisan serabut yaitu lapisan luar terdiri
atas serabut longitudinal, dan di bawahnya yaitu lapisan tebal terdiri dari atas
serabut sirkuler. Diantara kedua lapisan serabut berotot terdapat pembuluh darah,
pembuluh limfe dan plexus saraf.
c. Dinding sub mukosa, terdapat antara otot sirkuler dan lapisan yang terdalam
yang merupakan perbatasannya. Dinding sub mukosa ini terdiri dari jaringan
areolar dan berisi banyak pembuluh darah, saluran limfe, kelenjar dan plexus
saraf yang disebut plexus meissner. Di dalam duodenum terdapat kelenjar bruner
yang mengeluarkan sekret cairan kental alkali yang bekerja untuk melindungi
lapisan duodenum dari pengaruh isi lambung yang asam.
Di dalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel termasuk banyak leukosit
juga terdapat beberapa nodula jaringan limfe yang disebut kelenjar soliter. Di dalam
ileum terdapat kelompok-kelompok nodula, membentuk tumpukan kelenjar peyer dan
dapat berisi 20-30 kelenjar soliter yang panjangnya 1 cm sampai beberapa cm.
Kelenjar-kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat
peradangan pada demam usus atau tifoid.
Fungsi usus halus adalah mencerna dan mengabsorbsi khime dari lambung isi
duodenum yaitu alkali.
5. Empedu
Empedu diperlukan untuk pencernaan lemak yang diemulsikan untuk membantu
kerja lipase. Sifatnya alkali dan membantu membuat makanan yang keluar dari
lambung yang asam menjadi netral.
Garam Empedu mengurangi tegangan permukaan isi usus dan membantu
membentuk emulsi dari lemak yang dimakan.
6. Pankreas
Getah pankreas berisi tiga jenis enzim pencernaan yang memecah atas 3 jenis
makanan. Amilase, mencerna hidrat karbon, mengubah zat tepung menjadi

disakharida. Lipase, ialah enzim yang memecah lemak menjadi gliserin dan asam
lemak. Tripsin, merupakan enzim pembeku susu mengubah protein menjadi pepton.
7. Usus Besar
Usus besar atau kolon memiliki panjang kira-kira 1,5 meter. Refleks
gastrokolik terjadi ketika makanan masuk lambung dan menimbulkan peristaltik di
dalam usus besar. Refleks ini menyebabkan defekasi atau pembuangan air besar.
Dalam 4 jam setelah makan, materi sisa residu melewati ileum terminalis dan
dengan perlahan melewati bagian proksimal kolon melalui katup ileosekal. Katup ini
secara normal tertutup, membantu mencegah isi colon mengalir kembali ke usus
halus. Populasi bakteri adalah komponen utama dari isi usus besar. Bakteri membantu
menyelesaikan pemecahan materi sisa dan garam empedu. Dua jenis sekresi kolon
ditambah pada materi sisa mukus dan larutan elektrolit. Larutan elektrolit adalah
larutan bikarbonat yang bekerja untuk menetralisasi. Prosedur akhir yang terbentuk
melalui kerja bakteri kolonik. Mukus ini melindungi mukosa colon dari isi
interluminal dan juga memberikan perlekatan untuk massa fekal.
Aktifitas peristaltik yang lemah menggerakkan isi kolonik dengan perlahan
sepanjang saluran. Gelombang peristaltik kuat intermiten mendorong isi untuk jarak
tertentu. Hal ini terjadi secara umum setelah makanan lain dimakan, bila hormon
perangsang usus dilepaskan. Materi sisa dari makanan akhirnya mencapai dan
mengembangkan anus, biasanya dalam 12 jam. sebanyak seperempat dari materi sisa
dari makanan mungkin tetap berada di rektum selama 3 hari setelah makanan dicerna.
8. Rektum : Defekasi, Faeces dan Flatus
Rektum terletak 10 cm di bawah dari usus besar dimulai pada kolon
sigmoideus dan berakhir pada saluran anal. Saluran ini berakhir ke dalam anus yang
dijaga oleh otot internal dan eksternal. Rektum serupa dengan kolon tetapi
dindingnya yang berotot lebih tebal dan membran mukosanya memuat lipatan-lipatan
membujur yang disebut kolumna morgagni. Semua ini menyambung ke dalam
saluran anus. Di dalam saluran anus ini serabut otot sirkuler menebal membentuk otot
sfingter anus internal. Sel-sel yang melapisi saluran anus berubah sifatnya epitelium

bergaris menggantikan sel-sel silinder. Sfingter eksterna menjaga saluran anus dan
orifisium supaya tertutup. Rektum biasanya kosong sampai menjelang defekasi.
C. ETIOLOGI
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), penyebab dari peritonitis antara lain :
1. Infeksi bakteri :
2. Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari
organ reproduktif internal. Bakteri paling umum yang terkait adalah E. coli,
klebsiella, proteus, dan pseudomonas.
3. Sumber eksternal seperti cedera atau trauma (misal luka tembak atau luka
tusuk) atau inflamasi yang luas yang berasal dari organ diluar peritoneum
seperti ginjal.
4. Penyakit gastrointestinal : appendicitis, ulkus perforasi, divertikulitis dan
perforasi usus, trauma abdomen (luka tusuk atau tembak) trauma tumpul
(kecelakaan ) atau pembedahan gastrointestinal..
5. Proses bedah abdominal dan dialisis peritoneal.
D. PATOFISIOLOGI
Disebabkan oleh kebocoren dari organ abdomen kedalam rongga abdomen
bisanya sebagai akibat dari inflamasi,infeksi,iskemia, trauma atau perforasi tumor.
Terjadi proliferasi bacterial, yang menimbulkan edema jaringan, dan dalam waktu
yang singkat terjadi eksudasi cairan. cairan dalam peritoneal menjadi keruh dengan
peningkatan protein, sel darah putih, debris seluler dan darah. Respon segera dari
saluran usus adalah hipermotilitas, diikut oleh oleh ileus pralitik, disertai akumudasi
udara dan cairan dalam usus.
Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen
(meningkatkan aktivitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin
dengan adanya pembentukan jajaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan
mekanisme terpenting dari system pertahanan tubuh, sengan cara ini akan terikat
bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrika fibrin. Pembentukan abses

pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan


substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi
abdomen yang steril. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak, tubuh sudah
tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman
dengan membentuk kompartemen yang dikenal sebagai abses.
Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber.
Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit visceral atau
intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Selain jumlah bakteri transien
yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen, peritonitis juga terjadi karena
virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan
bakteri dengan neutrofil. Keadaan makin buruk jika infeksinya disertai dengan
pertumbuhan bakteri lain atau jamur.
E. PATWAY
F. KLASIFIKASI
Berdasarkan pathogenesis peritonitis dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
1. Peritonitis bacterial primer
Akibat kontaminasi bacterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak
ditemukan focus infeksi dalam abdomen. Penyebabnya bersifat monomikrobial,
biasanya E.coli, Streotokokus atau Pneumococus, peritonitis ini dibagi menjadi dua
yaitu:
Spesifik : Seperti Tuberculosa.
Non-spesifik : Pneumonia non tuberculosis dan tonsillitis.
Factor yang beresiko pada peritonitis ini adalah malnutrisi, keganasan intra
abdomen, imunosupresi dan splenektomi. Kelompok resiko tinggi adalah
dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus sistemik, dan
sirosis hepatis dengan asites.
2. Peritonitis bacterial akut sekunder(supurative)
Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akaut atau perforasi traktus
gastrointestinal atau tractus urinarius. Pada umunya organism tunggal tidak akan
menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multiple organism dapat

memperberat terjadinya infeksi ini. Bakteri anaerob, khususnya spesies bacteroides


dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Luas dan
lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat peritonitis. Kuman dapat
berasal:
Luka trauma atau penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam

cavum peritoneal.
Perforasi organ-organ dalam perut. Seperti di akibatkan oleh bahan kimia.
Perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. Komplikasi dari proses

inflamasi organ-organ intra abdominal, misalnya appendicitis.


3. Peritonitis Tersier
Peritonitis ini terjadi akibat timbulnya abses atau flagmon dengan atau tanpa
fistula. Yang disebabkan oleh jamur, peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat
ditemukan. Seperti disebabkan oleh iritan langsung, seperti misalnya empedu, getah
lambung, getah pancreas, dan urine.
4. Peritonitis bentuk lain
G. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Corwin (2000), gambaran klinis pada penderita peritonitis adalah
sebagai berikut :
1. Nyeri terutama diatas daerah yang meradang.
2. Peningkatan kecepatan denyut jantung akibat hipovolemia karena perpindahan
cairan kedalam peritoneum.
3. Mual dan muntah.
4. Abdomen yang kaku.
5. Ileus paralitik (paralisis saluran cerna akibat respon neurogenik atau otot terhadap
trauma atau peradangan) muncul pada awal peritonitis.
6. Tanda-tanda umum peradangan misalnya demam, peningkatan sel darah putih dan
takikardia.
7. Rasa sakit pada daerah abdomen
8. Dehidrasi
9. Lemas
10. Nyeri tekan pada daerah abdomen

11. Bising usus berkurang atau menghilang


12. Nafas dangkal
13.Tekanan darah menurun
14. Nadi kecil dan cepat
15. Berkeringat dingin
16. Pekak hati menghilang
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Doengoes, Moorhouse, dan Geissler (1999), pemeriksaan diagnostic
pada peritonitis adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan darah lengkap : sel darah putih meningkat kadang-kadang lebih dari
20.000

/mm3.

Sel

darah

merah

mungkin

meningkat

menunjukan

hemokonsentrasi.
2. Albumin serum, mungkin menurun karena perpindaahan cairan.
3. Amylase serum biasanya meningkat.
4. Elektrolit serum, hipokalemia mungkin ada.
5. Kultur, organisme penyebab mungkin teridentifikasi dari darah, eksudat/sekret
atau cairan asites.
6. Pemeriksaan foto abdominal, dapat menyatakan distensi usus ileum. Bila
perforasi visera sebagai etiologi, udara bebas akan ditemukan pada abdomen.
7. Foto dada, dapat menyatakan peninggian diafragma.
8. Parasentesis, contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah, pus/eksudat,
amilase, empedu, dan kreatinin.
I. KOMPLIKASI
1. Septikemia dan syok septic.
2. Syok hipovelmia.
3. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan
multi system.
4. Abses residual intraperitoneal

5. Eviserasi luka.
6. Obstruksi usus
7. Oliguri
J. PENATALAKSANAAN
Menurut Netina (2001), penatalaksanaan pada peritonitis adalah sebagai berikut :
1. Penggantian cairan, koloid dan elektrolit merupakan focus utama dari
penatalaksanaan medik.
2. Analgesik untuk nyeri, antiemetik untuk mual dan muntah.
3. Intubasi dan penghisap usus untuk menghilangkan distensi abdomen.
4. Terapi oksigen dengan nasal kanul atau masker untuk memperbaiki fungsi
ventilasi.
5. Kadang dilakukan intubasi jalan napas dan bantuan ventilator juga diperlukan.
6. Therapi antibiotik masif (sepsis merupakan penyebab kematian utama).
7. Tindakan pembedahan diarahkan pada eksisi ( appendks

), reseksi ,

memperbaiki (perforasi ), dan drainase ( abses ).


8. Pada sepsis yang luas perlu dibuat diversi fekal
K. PROGNOSIS
Menurut Sylvia Price dan Lorraine (2005) penyakit ini baik pada peritonitis loal
dan ringan sedangkan prognosisinya buruk (mematikan) pada peritonitis generalisata
yang disebabkan oleh organisme virulens.

L. LAPARATOMY
1. Pengertian
Laparatomy merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan suatu insisi
pada dinding abdomen hingga ke cavitas abdomen (Sjamsurihidayat dan Jong, 1997).
Ditambahkan pula bahwa laparatomi merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada

daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan obgyn. Adapun
tindakan bedah digestif yang sering dilakukan dengan tenik insisi laparatomi ini
adalah

herniotomi,

gasterektomi,

kolesistoduodenostomi,

hepatorektomi,

splenoktomi, apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dfan fistuloktomi. Sedangkan


tindakan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan tindakan laoparatomi adalah
berbagai jenis operasi pada uterus, operasi pada tuba fallopi, dan operasi ovarium,
yang meliputi hissterektomi, baik histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvic,
salpingooferektomi bilateral.
Tujuan: Prosedur ini dapat direkomendasikan pada pasien yang mengalami
nyeri abdomen yang tidak diketahui penyebabnya atau pasien yang mengalami
trauma abdomen.
Laparatomy eksplorasi digunakan untuk mengetahui sumber nyeri atau akibat
trauma dan perbaikan bila diindikasikan.
Ada 4 cara insisi pembedahan yang dilakukan, antara lain (Yunichrist, 2008):
a) Midline incision
Metode insisi yang paling sering digunakan, karena sedikit perdarahan,
eksplorasi dapat lebih luas, cepat di buka dan di tutup, serta tidak memotong
ligamen dan saraf. Namun demikian, kerugian jenis insis ini adalah terjadinya
hernia cikatrialis. Indikasinya pada eksplorasi gaster, pankreas, hepar, dan
lien serta di bawah umbilikus untuk eksplorasi ginekologis, rektosigmoid, dan
organ dalam pelvis.
b) Paramedian yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5
cm). Terbagi atas 2 yaitu, paramedian kanan dan kiri, dengan indikasi pada

jenis operasi lambung, eksplorasi pankreas, organ pelvis, usus bagian bagian
bawah, serta plenoktomi. Paramedian insicion memiliki keuntungan antara
lain : merupakan bentuk insisi anatomis dan fisiologis, tidak memotong
ligamen dan saraf, dan insisi mudah diperluas ke arah atas dan bawah
c) Transverse upper abdomen incision yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya
pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
d) Transverse lower abdomen incision yaitu; insisi melintang di bagian bawah
4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendectomy
2. Indikasi
a) Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang
terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau
yang menusuk (Ignativicus & Workman, 2006). Dibedakan atas 2 jenis yaitu :
rauma

tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga

peritonium) yang disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak.


Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneum)
yang dapat disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi,
kompresi atau sabuk pengaman (sit-belt).
b) Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga
abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier. Peritonitis
primer dapat disebabkan oleh spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat
penyakit hepar kronis. Peritonitis sekunder disebabkan oleh perforasi

appendicitis, perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon


(paling sering kolon sigmoid), sementara proses pembedahan merupakan
penyebab peritonitis tersier.
c) Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya)
aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus biasanya
mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat.
Sebagian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus. Obstruksi total usus
halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan
tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. Penyebabnya
dapat berupa perlengketan (lengkung usus menjadi melekat pada area yang
sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan
abdomen), Intusepsi

(salah satu bagian dari usus menyusup kedalam

bagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus), Volvulus
(usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan
demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus
yang terjadi amat distensi), hernia (protrusi usus melalui area yang lemah
dalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan tumor (tumor yang ada
dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus
menyebabkan tekanan pada dinding usus).
d) Apendisitis mengacu pada radang apendiks
Suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian
inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah

obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan
mengikis mukosa menyebabkan inflamasi.
e) Tumor abdomen
f) Pancreatitis (inflammation of the pancreas)
g) Abscesses (a localized area of infection)
h) Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery)
i) Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of the
intestines)
j) Intestinal perforation
k) Ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus)
l) Foreign bodies (e.g., a bullet in a gunshot victim)
m) Internal bleeding
3. Post Op Laparatomi
Post op atau Post operatif Laparatomi merupakan tahapan setelah proses
pembedahan pada area abdomen (laparatomi) dilakukan. Dalam Perry dan Potter
(2005) dipaparkan bahwa tindakan post operatif dilakukan dalam 2 tahap yaitu
periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase post operatif.
Proses pemulihan tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi. Perawatan post
laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang di berikan kepada klien yang
telah menjalani operasi pembedahan abdomen.
4. Tujuan perawatan post laparatomi
a) Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
b) Mempercepat penyembuhan.
c) Mengembalikan fungsi klien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.

d) Mempertahankan konsep diri klien.


e) Mempersiapkan klien pulang.
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi yang biasa timbul pada pasien post laparatomy diantaranya :
a)
b)
c)
d)
e)

Nyeri tekan pada area sekitar insisi pembedahan


Dapat terjadi peningkatan respirasi, tekanan darah, dan nadi.
Kelemahan
Mual, muntah, anoreksia
Konstipasi

6. Komplikasi
a) Syok
Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan
ketidakmampuan untuk mengekspresikan produk metabolisme. Manifestasi Klinis :
o Pucat
o Kulit dingin dan terasa basah
o Pernafasan cepat
o Sianosis pada bibir, gusi dan lidah
o Nadi cepat, lemah dan bergetar
o Penurunan tekanan nadi
o Tekanan darah rendah dan urine pekat.
b) Hemorarhagia
o

Hemoragi primer : terjadi pada waktu pembedahan

Hemoragi intermediari : beberapa jam setelah pembedahan ketika kenaikan


tekanan darah ke tingkat normalnya melepaskan bekuan yang tersangkut
dengan tidak aman dari pembuluh darah yang tidak terikat

Hemoragi sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila ligatur slip


karena pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau menjadi terinfeksi atau
mengalami erosi oleh selang drainage.

Manifestasi Klinis Hemorrhagi : Gelisah, , terus bergerak, merasa haus, kulit


dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat dan dalam,
bibir dan konjungtiva pucat dan pasien melemah.

7. Pencegahan dan Penanganan Komplikasi


a) Syok
Pencegahan :
o Terapi penggantian cairan
o Menjaga trauma bedah pda tingkat minimum
o Pengatasan nyeri dengan membuat pasien senyaman mungkin dan dengan
menggunakan narkotik secara bijaksana
o Pemakaian linen yang ringan dan tidak panas (mencegah vasodilatasi)
o Ruangan tenang untuk mencegah stres
o Posisi supinasi dianjurkan untuk memfasilitasi sirkulasi
o Pemantauan tanda vital
Pengobatan :
o Pasien dijaga tetap hangat tapi tidak sampai kepanasan

o Dibaringkan datar di tempat tidur dengan tungkai dinaikkan


o Pemantauan status pernafasan dan CV
o Penentuan gas darah dan terapi oksigen melalui intubasi atau nasal kanul jika
diindikasikan
o Penggantian cairan dan darah kristaloid (ex : RL) atau koloid (ex : komponen
darah, albumin, plasma atau pengganti plasma)
o Terapi obat : kardiotonik (meningkatkan efisiensi jantung) atau diuretik
(mengurangi retensi cairan dan edema)
b) Hemorrhagi
Penatalaksanaan :
o Pasien dibaringkan seperti pada posisi pasien syok
o Sedatif atau analgetik diberikan sesuai indikasi
o Inspeksi luka bedah
o Balut kuat jika terjadi perdarahan pada luka operasi
o Transfusi darah atau produk darah lainnya
o Observasi Vital Signs.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN ASUHAN KEPERAWATAN


A.

Pengkajian

1. Pola persepsi dan pemiliharaan kesehatan


a.

Riwayat penyakit

b.

Perilaku mencari bantuan

2. Pola nutrisi metabolik

a.

Kebiasaan makan rendah serat

b. Makanan pedas
c.

Pola makan tidak teratur

d. Mual
e.

Muntah

f.

Anoreksia

g. Distensi
3. Pola eliminasi
a.

Konstipasi

b. Diare
4. Pola aktivitas dan latihan
a.

Kurang aktivitas

b. Kebiasaan dalam melakukan kegiatan sehari-hari


5. Pola tidur istirahat
a.

Kebiasan tidur (berapa lama)

b. Kebiasaan sebelum tidur


c.

Gangguan tidur

6. Pola persepsi kognitif


a.

Cara pasien mengatasi nyeri.

b. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya


7. Pola persepsi diri dan konsep diri
8. Pola peran hubungan
9. Pola reproduksi seksual
10. Pola koping-toleransi terhadap stres
11. Pola nilai kepercayaan
B. Diagnosa Keperawatan
Pre- Operasi
1.

Nyeri akut yang berhubungan dengan penumpukan cairan di dalam cavum


peritoneal / abdomen.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan ekstraseluler,


intravaskuler dan area interstisial kedalam usus dan/atau area peritoneal
3. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan mualk, muntah, gangguan fungsi usus, puasa.
4.

Ansietas berhubungan dengan kritis situasi, ancaman kematian, status


hipermetabolik.

5.

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber
informasi.

Post-Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik ( luka post op pembedahan)
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
3. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi
4. Resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual dan
muntah.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan dan Dokumentasi
Keperawatan. Jakarta : EGC
Pearce, Evelyn C. 1999. Anatomi Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Penerbit PT.
Gramedia.

Anda mungkin juga menyukai