Anda di halaman 1dari 12

PEMBERDAYAAN KECERDASAN KOMANDAN SATUAN DALAM MENANGANI

PERKELAHIAAN ANGGOTA
Dalam suatu organisasi, syarat utama harus memiliki pemimpin, staf dan anggota.
Tidak akan berjalan dengan baik apabila organisasi tersebut tanpa pimpinan maupun
tanpa anggota. Apalagi organisasi seperti di militer, keberadaan pemimpin di tengah
tengah anggota harus mutlak ada. Tentunya hal ini diperlukan keharmonisan antara
anggota yang dipimpin dengan sosok pemimpin yang dapat memimpin anggotanya.
Tujuan organisasi mustahil berjalan secara optimal apabila seorang pemimpin berjalan
tanpa melihat kemampuan anggota yang dipimpinnya. Seorang pemimpin juga harus
dapat mengolah kepemimpinannya dengan seni memimpin. Oleh karenanya untuk dapat
memimpin organisasi pada tingkatan organisasi tentara, maka seorang komandan
berupaya untuk bisa mewarnai dan membawa satuannya menjalankan tugas pokok yang
diembanya.
Permasalahan dalam organisasi selalu akan timbul, hal ini adalah konsekwensi
logis bagi seoarang komandan yang memimpin satuan, karena yang dipimpin adalah
berbagai karakter prajurit yang beragam. Permasalahan yang sering muncul bagi prajurit
TNI adalah perkelahian antara anggota TNI dengan Polri. Hal ini sudah menjadi domain
prajurit militer karena kehidupan dalam ketentaraan adalah penuh disiplin yang keras.
Artinya bahwa norma yang berlaku dalam organisasi tentara penuh dengan sikap keras,
tegas yang ditanamkan kepada setiap prajurit baik tingkat tamtama, bintara sampai
perwira.
Beberapa permasalahan yang dtimbul akibat ulah oknum prajurit terhadap
pelanggaran terutama perkelahian tentara merupakan imbas bagi kemampuan mental
yang lemah setiap prajurit. Oleh karenanya pembinaan secara terus menerus harus tetap
dilakukan dan jangan sampai bosan untuk mengingatkan kepada semua prajurit.
Kewajiban

seorang

komandan

satuan

untuk

memberikan

pembekalan

kepada

anggotanya benar-benar dituntut secara berkesinambungan, dengan harapan keberadaan


seorang komandan ditengah anak buah merupakan kunci sukses kepemimpinan dalam
mewarnai satuan yang dipimpinya.
Saat ini keberadaan komandan satuan merupakan cerminan dari warna satuan,
warna tersebut bermacam-macam sesuai dengan karakter seorang pemimpin disatuan,
koridor kepemimpinan sudah ada. Bagi pemimpin norma yang dipergunakan adalah
Sumpah Prajurit, Sapta Marga, 8 Wajib TNI dan 11 Asas kepemimpinan. Norma yang
dipergunakan oleh pimpinan satuan saat ini sudah dijadikan budaya organisasi, sehingga

2
karakteristik kepemimpinan hampir tidak lepas dari budaya tersebut, walaupun ada
sebagian study kasus yang tidak sesuai dengan budaya tersebut, namun prosentasenya
sangat kecil dan sifatnya tidak dapat digeneralkan. Kebiasaan yang berkembang dalam
kepemimpinan satuan militer tentunya tidak semulus yang diharapkan, berbagai
permasalahan masih menyelimuti di dalam kepemimpinan satuan baik mulai tingkat
komandan satuan terkecil hingga satuan atas. Berdasarkan pengalaman penulis bahwa
beberapa permasalahan muncul ketika menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
pelanggaran anggota di satuan, terutama penyelesaian masalah perkelahian. Masih
belum diterimanya keberadaan pemimpin di tengah anak buah, otoriter dalam
kepemimpinan masih menonjol di tengah derasnya arus informasi, sehingga menurunkan
kepercayaan anggota terhadap pemimpin. Sisi lain terhadap kemajuan teknologi informasi
masih ada keraguan seorang pemimpin dalam mengambil suatu keputusan dan selalu
banyak pertimbangan sehingga membuat anggota tidak sabar. Sampai saat ini masih ada
pemimpin yang mementingkan peribadinya lebih utama dibanding dengan kepentingan
satuan, dengan pedoman kapan lagi saya bisa begini mumpung jadi komandan. Dan
masih banyak permasalahan kepemimpinan yang kekiniaan seirama dengan derasnya
kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Dari berbagai permasalahan yang muncul mengenai kepemimpinan komandan
satuan dalam menaknai pelanggaran terutama pelanggran anggota yang melakukan
perkelahian. Dapat kita identifikasi permasalahan yang paling esensial bahwa
sesungguhnya model kepemimpinan yang diterapkan oleh para komandan satuan itu
adalah seni bagaimana memimpin satuan itu dapat terlaksana sesuai target dalam
mencapai tugas pokok. Jadi apapun bentuk dan modelnya para komandan satuan sudah
dibekali dengan norma-norma kepemimpinan. Oleh karenanya seorang komandan satuan
yang paling bawah sampai atas tentunya lebih unggul daripada anggotanya, artinya
bahwa tingkat kecerdasan pemimpin lebih dapat dipertanggungjawabkan secara moral.
Dan seorang komandan terutama perwira kemampuannya melebihi dibanding dengan
yang dipimpin. Namun akan muncul pertanyaan dalam hal kepemimpinan yaitu
bagaimana memberdayakan kecerdasan yang dimiliki oleh seorang pemimpin dalam
memimpin, agar kepemimpinan sebagai komandan satuan dapat mencirikan dari normanorma yang telah ditentukan. Singkatnya bagaimana kecerdasan pemimpin dipergunakan
sesuai dengan budaya organisasi yang berlaku di militer ?
Hal ini dapat menarik untuk didiskusikan karena bahwa kecerdasan yang dimiliki
oleh setiap komandan satuan merupakan kunci keberhasilan seorang komandan dalam

3
memimpin satuanya. Hampir seluruh pimpinan dari level bawah sampai atas mempunyai
kecerdasan dalam memimpin, oleh karenanya kecerdasan ini dapat dipergunakan
sebagai suatu strategi kepemimpinan sehingga visi dan misi serta tujuan bagi seoarang
komandan satuan dapat tercapai sesuai harapanya. Tentunya diskusi ini diharapkan dapat
dipergunakan sebagai masukan kepada seluruh komandan satuan dalam menerapkan
strategi

kepemimpinannya

baik

secara

internal

maupun

eksternal.

Ssehingga

pengembangan satuan dapat bejalan sesuai dengan perkembangan lingkungan strategis.


Kemudian harapan juga dari diskusi ini adalah memberikan masukan kepada berbagai
pihak, bahwa tantangan kedepan permasalahan kepemimpinan akan semakin komplek
sejalan dengan pengaruh budaya yang berbasis pada hedonisme dan materialisme yang
merupakan musuh utama bagi masyarakat Indonesia yang berpedoman pada Pancasila
dan UUD 1945. Pengaruh budaya tersebut tidak bisa diremehkan bagi seorang komandan
yang memimpin satuaan, karena ke depan informasi yang terbuka semakin lebar dan
tuntutan dari anggota semakin banyak.
Tantangan Pemimpin saat ini.
Siap tidak siap, harus dipahami saat ini telah terjadi suatu era dimana perubahan
tidak dapat dicegah. Teknologi informasi telah mengalami revolusi masif yang menyentuh
semua aspek kehidupan. Bagi seorang seorang parajurit yang hidup berdampingan
dengan kehidupan kota metropolitan, kemampuan mengadaptasi perkembangan ini akan
secara signifikan membantunya dalam memperoleh informasi secara cepat dan kredibel,
minim manipulasi serta akurat. Budaya materialisme dan hedonisme yang gencar di
sebarluaskan melalui media informasi baik elektronik maupun cetak sudah tidak dapat
dibendung lagi oleh siapapun, yang mampu membendung hanya karakters orang-orang
yang masih mempedomani ketakwaan kepada norma dan ayat-ayat kitab suci

yang

diyakininya. Hal ini akan membawa dampak bagi seluruh lapisan masyarakat, tak luput
pula bagi anggota TNI sebagai insan manusia, rasa iri, rasa cemburu terhadap
keberadaan masyarakat sekelilingnya dapat memicu permasalahan yang dalam, dan
berakibat pada perselisiahan yang tidak kunjung selesai, cemburu terhadap kewenangan
yang diemban oleh satuan lain, cemburu terhadap keberadaan orang lain membuat
anggota TNI yang tidak kuat iman mengambil jalan pintas untuk menyelesaikannnya,
tanpa dengan norma-norma hukum yang ada.

4
Kita ambil contoh perkelahian antara TNI dengan Polisi di kabupaten OKU
Sumatera

Selatan

yang

berakhir

dengan

pembakaran

kantor

polisi

kemudian

perkelahiaan antara preman dengan anggota TNI di tempat hiburan Yogyakarta


yangberakhir dengan kematian anggota TNI. Dan masih ada permasalahan perkelahian
lain yang terjadi, hal ini dapat dilihat oleh karena pengaruh dari budaya liberal yang
semakin berkembang di masyarakt yang belum tentu sesuai dengan norma-norma
Pancasila.
Penyelesaian yang diambil oleh komandan satuan untuk menyelesaikan masalah
inipun menjadi lebih intens dan kontinu dengan harapan permasalahan tidak berkembang
dan dapat diselesaikan secar tuntas. Komandan satuan sebagai peran utama dalam
penyelesaian ini sangat dominan, oleh karenanya tantangan yang dihadi kedepan sangat
berat menjadi sorang komandan. Persoalan, ditengah derasnya gelombang perubahan di
dunia ketentaraan harus juga menjamin keajegkan prinsip dan doktrin tentara yang sudah
ditetapkan mulai dari terbentuknya seorang menjadi tentara sampai denga dengan
seorang prajurit mulai pensiun.
Berbagai pemikiran dan pengaruh yang berkembang seoarang komandan juga
harus mampu menampung paradigma yang ada, karena permasalahan perkelahian yang
muncul juga tidak terlepas dari paradigma yang berkembang, falsafah kebebsan dengan
dalih demokratisasi di tafsirkan kebebsan yang sebebas-bebasnya tanpa mempedulikan
kepentingan

organisasi

sebagai

landsan

berpijak

sebagai

seoarang

prajurit.

Permasalahan perkelahian muncul karena landsan dan doktrin sebagai anggota prajurit
belum kuat, sehingga lupa terhadap jati diri yang diembanya.
Seorang Komandan harus dapat membaca situasi yang berkembang dengan
memberdayakan kecerdasan yang dimiliki agar dapat menyelesaikan persoalan dan yang
ada untuk diselesaikan, cara berfikiryang inovatif dan kretaif sangat dituntut dalam
mensiasati perkembangan saat ini yaitu dengan penekan pada penjiwaan semangat
perubahan itu sendiri, bukan semata-mata pada tingkat pemahaman praktis dari hal-hal
yang baru (up to date). Komandan harus menyadari bahwa banyak hal telah berubah dari
sebelumnya, dan setiap orang harus menyesuaikan diri terhadapnya. Para anggota
militer, yang kelak menjadi orang-orang yang dipimpinnya, tak ubahnya seperti
masyarakat pada umumnya yang menginginkan semua hal yang lebih baik, lebih terbuka,
dan lebih maju dari yang sudah-sudah. Komandan atau peimpin satuan harus menerima
kenyataan bahwa mereka hidup dan (akan) bekerja di era di mana seorang pemimpin tak
lagi hanya duduk di belakang meja, menunggu laporan-laporan, dan menikmati berbagai
hak istimewa. Pemimpin militer saat ini adalah mereka yang harus bekerja dan bekerja,

5
merapat pada anak buahnya, terjun ke medan penugasan secara langsung, dan
menjemput bola

dalam menggali masalah-masalah aktual dalam satuannya, serta

merumuskan pendekatan yang tepat untuk memecahkan persoalan perkelahian yang


marak terjadi.
Pada gilirannya, ini akan memudahkannya menganalisa berbagai kemungkinan,
dan mengambil keputusan dengan cepat dan tepat dengan marjin kesalahan yang
seminimal mungkin. Di sisi lain, transparansi serta akuntabilitas adalah dua hal yang
terus menerus dan semakin dituntut oleh publik, yang juga memanfaatkan kemajuan
teknologi informasi ini untuk mengakses apapun yang mereka ingin ketahui. Kondisi ini
merupakan tuntutan yang wajar, bahwa masyarakat secara umum merupakan pembayar
pajak yang mengakibatkan tuntutan terhadap fasilitas umum yang harus di sediakan oleh
negara, terutma informasi publik yang ingin mengetahui untuk apa saja uang dari pajak
yang mereka bayarkan itu digunakan. Tak dapat dipungkiri, pemimpin militer di era
mendatang dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual yang memadai sehingga
organisasi/satuan yang dipimpinnya dapat menjadi adaptif dengan segala perubahan
yang terjadi
Karakteristik kepemimpinan
Kepemimpinan yang dihadapi oleh setiap komandan dalam menangani stiapa
kejadian di satuan terutama pada pelanggaran anggotanya baik itu pelanggran murni
maupun pelanggaran tidak murni harus disikapi dengan bijaksana, oleh karenannya
seoarang komandan harus mempunyai karakter dalam mempimpin anggotanya, baik
pada tingkat bawah maupun pada tingkat atas, seoarang komandang atau pimpinan yang
efektif dalam memimpin hendaknya mempunyai kepribadian yang Peduli, seorang
komandan harus mempunyai sifat sebagai pemimpin, bapak, guru, pembina, kakak dan
teman, sehingga anggota merasa nyaman dan tidak galau ketika harus bertemu
komandan, seorang komandan harus mengetahui seluruh karakter anggotanya dan
keluarganya, sehingga apabila ada permasalahan muncul dapat diselesaikan sedini
mungkin dan tanpa harus menunggu yang mengakibatkan masalah tersebut menjadi
melebar, oleh karenya kepedulian seorang komandan terhadap anggotanya sangat di
perlukan. Terbuka, artinya bahwa seorang komandan dapat memberikan informasi
kepada anggota dengan jelas tanpa harus takut dengan kerahasiaan yang sebenarnya
dengan perkembangan informasi kerahasiaan hampir sulit untuk dibendung, keterbukaan

6
informasi sudah dapat diakses oleh seluruh anggota, sehingga komandan harus dapat
memberikan informasi yang jelas dan terbuka agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara
anggota, karena bagaimana suatu kejadian atau informasi yang disembunyikan pada saat
ini dapat diakses melalui berbagai media komunikasi, sehingga informasi yang diberikan
jungan juga tertinggal atau harus up date. Keterbukaan ini penting karena dapat
mendekatkan diri kepada anggota, dengan keterbukaan anggota dapat mersa mendapat
kepercayaan bahwa seoarang pimpinan saja mau mendengar keluahan dan kesan dari
anggota. Fleksibel, Keberadaan seoarang pimpinan atau komandan diatengah anak
buahnya harus dapat menyesuaikan pergaulan, ketika berada pada tingkat bawah maka
seoarang komandan juga harus bisa mengikuti kehidupan pada anggota tingkat bawahn
(Pns, Tamtama, Bintara ) artinya bahwa komandan harus dapat merasakan kehidupan
pada tingkatan ini, ketika komandan bergaul dengan anggotanya maka yang harus
dilakukan adalah seoarang komandan membicarakan yang berkaitan dengan perilaku
kehidupanya, seperti contoh ketika anggota membicarakan tentang keluarga maka
komandan juga membicarakan tentang kleurga pada tingkatan tersebut jangan pula
seorang komandan berbicara pada kelurga yang borjois sehingga tidak akan nyambung
dengan kemampuan anggotanya, begitu juga ketika komandan berada dikalangan perwira
maka yang dibicarakan juga pada pola pandang dan pola pikir yang lebih dewasa, jangan
membicarakan tentang perilaku yang jelek, sehingga kedewasaan seoarang komandan
dapat menjadi panutan bagi anggota. Namun demikian fleksibelitas bukan berarti
seoarang komandan harus mengikuti kehendak anggotanya, naumun komandan juga
harus berpenga pada prinsip dan norma yang berlaku. Objekif, Pemipin yang efektif dala
menangani setiap permasalahan yang berkaitan dengan pelanggaran anggota tentunya
juga harus bersifat objketif, searang pemimpin harus mampu menilai keadaan yang
sesungguhnya, tidak hanya menerima laporan dari stafnya tanpa melihat kebawah
dengan kondisi yang ada sehingga setiap permasalahan dapat dengan terang untuk
menyelesaikannya, ini diperlukan agar mampu melihat sesuatu secara jujur dan
menyeluruh, sehingga tidak ada anggota atau pihak yang merasa iri atau dirugikan, oleh
karenanya kemampuan untuk menganalisa kejadian-kajadian yang ada pada anggotanya
harus bisa di tampung dan diidentifikasi sehingga dalam memberikan keputusan harus
komperhensif dipandang dari berbaga sudut. Apaadanya, Kehidupan manusia memang
seperti fatamorgana, selalu ingin lebih yang terbaik dan mendapat penghormatan yang
lebih, untuk itu terkadang pimpinan berbuat berbagai cara agar anggotanya mengakui
keberadaanya sebagai komandan disatuannya, sehingga secara pribadi harus

7
menampilkan yang lebih yang pada akhirnya penampilanya dibuat-buat tanpa disadari
penampilan itu menyimpang dari norma yang ada, dalam hal ini penulis ingin sampaikan
bahwa seorang komandan harus dapat menampilkan perilaku yang apaadnaya sesuai
dengan norma dan kebudayaan yang ada, sehingga kesan yang tersimpan dalam benar
anggota tidak mengada-ada, disinilah kejujuran hati dan kejujuran karakter di tuntut, tanpa
perlu menutup nutupi keberadanya agara mendapat pengakuan yang lebih dari anggota.
Terus Terang, Bahwa adanya seoarang koamandang adalah suatu keharusan yang
harus dimilikimoleh suatu organisasi, jadi hal ini adalah suatu keadaan yang kongkrit
dalam mengatur individu-individu atau anggota yang ada di satuan, sehingga keberadaan
seoarang komandan dimana di tempatkan maka akan diperlukan, hal ini harus disadari
bahwa keberadaannya memang diperlukan oleh organisasi, jadi jangan sungkan dalam
melaksanakan tugas yang diembanya, dengan demikian maka langkah yang akan diambil
oleh komandan akan diikuti oleh anggotanya, maka itu keterusterangan dalam setiap
perintah yang diberikan atau memberikan tegoran dan hadiah harus didepan anggotanya,
tidak perlu melalu staf atau erantara orang lain, apabila anggota tidak sesuai dengan
norma maka tegurlah dan berilah pengertian sehingga anggota tersebut tidak melanggar
kembali dan apabila harus mendapat hadiah berupa pujian atau materi maka berikanlah
secara terbuka, hal ini akan lebih dapat diterima oleh anggotanya. Tegas, Kehidupan
militer memang penuh dengan displin yang keras, dalam arti bahwa disiplin yang
diterapkan bukan dengan kekerasan namun dengan ketegasan yang kuat seoarang
komandan akan disegani oleh anggota, teman maupun lawanya, ini yang harus
dikembangkan oleh komandan untuk membangun karakter pemimpin yang efektif dalam
rangka mencegah pelanggaran-pelanggran yang terjadi disatuaanya terutma pada
perkelahian anggota baik antara TNI-Polri maupun TNI dengan masyarakat. Kesabaran,
dalam kitab suci yang berhubungan dengan karakter kepemimpinan itu adalah,
kesabaran. Diperlukan pundak yang kuat untuk memikul beban dalam kesabaran, karena
menjadi seorang pemimpin atau komandan disatuan banyak menghadapi konflik dan
pertarungan dalam dirinya sendiri maupun dengan dunia luar yang tidak sesuai dengan
keinginan dan kenyataan yang dihadapi. Kenyataan anggota yang masih relatif muda
perlu mendapat perhatian khusus karne karekteristik muda sangat mudah tersulut emosi,
maka dari itu dibutuhkan pemimpin yang memiliki karakter sabar, sabar dalam memikul
beban dan sabar dalam melakukan pembinaan prajurit yang masih remaja untuk tidak
melakukan pelanggran yang mengakibatkan kerugian bagi dirinya dan bagi satuan.
Sensitif, Seorang pemimpin harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh anggota,

8
artinya bahwa penderitaan dan permasalahan anggota merupakan penderitaan dan
permasalahan bagi seorang komandan satuan, rasa peduli terhadap lingkunganya dapat
mendorong dan mengekploitasi permasalahan yang timbul dilingkungan angota, sehingga
benih-benih permasalahan anggota dapat dirasakan dan teridentifikasi secar dini, yang
pada akhirnya pencagahan kenakalan anggota dapat di cegah tanpa harus menyakitkan
atau menyinggung orang. Ada beberapa falsafah jawa yang patut dipedomani untuk
memimpin

dalam

satuan,

Menang

tanpo

ngasorake

artinya

menang

tanpa

merendahkan, Ngluruk tanpo bolo artinya menggeruduk tanpa bala tentara atau bala
bantuan, Sugih tanpo bondo artinya kaya tanpa harta benda, Sakti tanpo aji artinya
sakti tanpa ajian.
Itulah seharusnya sikap pemimpin

yang berpegang teguh pada falsafah ini.

Kemenangan tidak selalu harus dilakukan dengan perang. Kemenangan yang didapatkan
dari lawan tidak selalu beradu fisik, dan yang pasti, sebagai seorang komandan ketika
memberikan perintah maka anggota merasa tidaka direndahkan ataupun dilecehkan,
namun karena inisiatif dan kesaran yang timbul sehingga menjalankan perintah dengan
ikhlas. Seorang koamandan harus bersikap kesatria, komandan bisa kaya meskipun
tanpa harta benda, artinya lebih bermakna kepada rasa syukur atas nikmat yang diberikan
Tuhan Semesta Alam atas amanah menjadi seoarang komandan, kaya hati lebih utma
dari kaya harta. Harta benda hanyalah salah satu bagian dari kekayaan. Namun
sesungguhnya kekayaan sejati tidaklah diukur semata-mata dari banyaknya harta yang
dimiliki, akan tetapi lebih kepada kekayaan hati yang luhur, mulia, pemaaf, dan penuh
kesyukuran.
Kesaktian atau ilmu kanuragan dan kadigdayaan tidak ada gunanya sama sekali
jika digunakan untuk kesombongan. Sesungguhnya Komandan satuan berprinsip pada
bahwa seseorang yang sakti itu karena sikap dan perilaku yang mulia dan baik. Kesaktian
bukan diukur dari tingginya ilmu kanuragan ataupun ilmu-ilmu kesaktian sejenis.
Seoarang komandan yang paling sakti adalah orang yang berperilaku mulia terhadap
sesama dan pasrah kepada Penciptanya.
Pendidikan sebagai basis indoktrinasi.
Lembaga pendidikan merupakan basis awal penanaman karater prajurit yang akan
mengawaki satuan-satuan jajaran TNI AD, sehingga pendidikan distrata apapun harus
dikelola secara profesional sehingga mampu menghasilkan prajurit yang siap dengan

9
perubahan perubahan yang semakin cepat. Terutama pada pendidikan perwira harus
mempunyai konsep lebih maju kedepan, tidak hanya sekedar menciptakan seorang
perwira saja, namun harus mampu lulusanya menduduki satuan yang berhadapan
dengan dunia kebebsaan yang sudah tanpa batas, pembangunan karakter di dunia
pendidikan dapat dimulai, karena penanaman karakter merupakan pangkal utama untuk
menjadikan perwira yang sapta marga dengan berlandaskan sendi-sendi Pancasila.
Kegagalan dalam mengadopsi perubahan ke dalam kurikulum dan sistem pendidikan
militer hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang konservatif, kaku, takut
mengambil keputusan, dan ragu-ragu dalam mencoba sesuatu yang baru, serta
bermental bossy.
Tentunya hal itu tidak diinginkan, oleh karenanya keberhasilan serta prestasi
seorang komandan di satuan lebih banyak ditentukan oleh kapasitas dan kemampuan
pribadinya, serta tekadnya yang kuat untuk terus meningkatkan kualitas diri. Penanaman
karakter dan pemberdayaan kecerdasaan seorang pemimpin dapat dilakukan di lembaga
pendidikan dengan mengadopsi perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi
( Ilpengtek ), sehingga terjadi sistem di lembaga pendidikan menjadi terstruktur dan
berkesinambungan dengan perubahan jaman.
Begitu juga dengan pendidikan Bintara dan tamtama harus mampu menghasilkan
keluaran yang dapat mengawaki organisasi sebagai pelaksana yang handal dan taat pada
aturan serta perintah pimpinan, indoktrinasi yang kuat dapat membentuk karakter prajurit
untuk tetap loyal dan ikhlas menjalankan tugas dengan beradaptasi dengan perubahan
jaman, kurikulum pendidikan harus dapat menjadi landasan dalam mengimbangi
perubahan. Kurikulum yang diajarkan tidak sekedar memasukkan muatan teknologi,
modernisasi alutsista, atau peningkatan sistem dan metode. Yang jauh lebih penting
adalah bagaimana sistem pendidikan itu dapat berjalan seiring dengan perubahan
lingkungan.
Keberhasilan lembaga pendidikan harus juga didukung oleh berbagai komponen
pendidikan yang dapat dan siap diopersionalkan, untuk itu komponen pendidikan harus
tersedia sebelum suatu pendidikan itu akan dimulai, sarana dan prasarana pendidikan
merupakan faktor dominan dalam membentuk karakter peserta didik, sarana prasarana
dapat membuat kreatif dan inovatif yang di perlukan manakala seorang parajurit
melaksanakan tugas disatuaan maupun di daerah operasi, cakupan inilah yang kelak
akan berbuah dalam wujud prajurit dan pemimpin yang tidak hanya cerdas, namun juga

10
bermoral, dan memiliki integritas kelas wahid untuk terus bekerja dengan tulus ikhlas dan
mewujudkan segala yang lebih baik.
Kehidupan dilingkungan militer harus terus dikaji dikaji dan ditata ulang, termasuk
karakteristik kepemimpinan yang berkembang saat ini dalam melaksanakan fungsi
pembinaan satuan bidang personel. Pada hakikatnya penataan ini mengacu pada
kemampuan kecerdasan pemimpin yang mempunyai karakter terbuka, fleksibel, objektif,
apaadanya, terus terang, tegas dan sabar serta sensitif, dengan mempedomani falsafah
doktrin dalam norma TNI, kemudian yang paling utama dalam pengisiaan karakter
pemimpin adalah indoktrinasi pada saat pelaksanaan pendidikan.Kedepan pemimpin
yang efektif adalah pemimpin yang mampu memberdayakan kecerdasanya dengan
kretifitas dan inovasi secara maksimal.

Cimahi, 12

April 2013

Penulis

Mohamad Sirwani
Mayor Cba NRP 11000013511273

ALUR PIKIR : PEMBERDAYAAN KECERDASAN KOMANDAN SATUAN DALAM MENANGANI PERKELAHIAAN ANGGOTA

PERKEMBANGAN
TEKNOLOGI INFORMASI
LINGKUNGAN STRATEGIS

PERMASALAHAN
TIDAK SEGARA
DITUNTASKAN
KONDISI
PEMBERDAYAAN
KECERDASAAN
PEMIMPIN SAAT
INI

KEBERADAAN
PIMPINAN
MASIH BLM
DITERIMA

KARAKTERISTIK
PEDULI
TERBUKA
FLEKSIBEL
OBJEKTIF
APAADANYA
TERUS TERANG
TEGAS
SABAR
SENSITIF

PEMIMPIN YANG
EFEKTIF

PEMIMPIN SATUAN
MAMPU
MENYELESAIKAN
PERMASALAHAN

LEMDIK
MEMIMPIN DGN
OTORITER

INDOKTRINASI
SATUAN MAMPU
MENYELESAIKAN
TUGAS POKOK

KURANG TEGAS

BUDAYA ORGANISASI
DOKTRIN