Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Masalah malpraktek dalam pelayanan kesehatan pada akhir-akhir ini mulai
ramai dibicarakan masyarakat dari berbagai golongan. Hal ini ditunjukkan
banyaknya pengaduan kasus-kasus malpraktek yang diajukan masyarakat terhadap
profesi dokter yang dianggap telah merugikan pasien dalam melakukan pengobatan.
Sebenarnya dengan meningkatnya jumlah pengaduan ini membuktikan bahwa
masyarakat mulai sadar akan haknya dalam usaha untuk melindungi dirinya sendiri
dari tindakan pihak lain yang merugikannya. Dengan menggunakan jasa pengacara
masyarakat mulai berani menuntut atau menggugat dokter yang diduga telah
melakukan malpraktek (Etika Kedokteran Indonesia, 2008).
Dalam beberapa tahun belakangan ini yang dirasakan mencemaskan oleh dunia
kedokteran dan perumahsakitan di Indonesia adalah meningkatnya tuntutan dan
gugatan malpraktek, utamanya sejak diberlakukannya UndangUndang No. 8 Th.
1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Apakah undangundang itu yang menjadi
pemicu berubahnya masyarakat yang semakin gemar menuntut (litigious society)
ataukah karena ada sebab lain, belum ada konfirmasi yang dapat dipercaya (Dahlan,
2006).
Bertitik tolak dari adanya perbedaan pendapat ini, tidak mengherankan jika
banyak putusan profesi dokter yang menyatakan tidak ada malpraktek yang
dilakukan dokter seringkali ditanggapi secara sinis oleh pengacara. Dari munculnya
perbedaan pendapat ini yang seharusnya tidak perlu terjadi, perlu dicari solusi untuk
menghilangkannya. Salah satu cara adalah dengan merumuskan bersama mengenai
pengertian tentang apa yang dimaksud dengan malpraktek tersebut (Kode Etik
Kedokteran, 2009).
Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran diundangkan
untuk mengatur praktik kedokteran dengan tujuan agar dapat memberikan
perlindungan kepada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
medis dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi.
Perlu diperhatikan pula, bahwa dokter merupakan bagian dari masyarakat, karena
dokter juga mengenal berbagai tanggungjawab terhadap norma-norma yang berlaku
di masyarakat dimana dokter bertugas (Williams, 2009).
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Malpraktek atau malpraktek terdiri dari suku kata mal dan praktik atau praktek.
Mal berasal dari kata Yunani, yang berati buruk. Praktik (Kamus Umum Bahasa
Indonesia, Purwadarminta 1976) atau praktik (Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka
Kementrian Pendidikan Malaysia, 1991) berarti menjalankan perbuatan yang
tersebut dalam teori atau menjalankan pekerjaan (profesi). Jadi malpraktek berarti
menjalankan pekerjaan yang buruk kualitasnya, tidak lege artis, tidak tepat.
Malpraktek tidak hanya dalam bidang kedokteran, tetapi juga dalam profesi lain
seperti perbankan, pengacara, akuntan public, dan wartawan (Hanafiah Jusuf, 2008).
Ada berbagai macam pendapat mengenai pengertian malpraktek. Masingmasing pendapat itu diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Veronica menyatakan bahwa istilah malparaktik adalah kesalahan dalam
menjalankan profesi yang timbul sebagai akibat adanya kewajiban-kewajiban
yang harus dilakukan oleh dokter (Rizaldy Pinzon, 2009).
b. Hermien Hadiati menjelaskan malpractice secara harfiah berarti bad practice,
atau praktek buruk yang berkaitan dengan praktek penerapan ilmu dan
teknologi medik dalam menjalankan profesi medik yang mengandung ciri-ciri
khusus. Karena malpraktek berkaitan dengan how to practice the medical
science and technology, yang sangat erat hubungannya dengan sarana
kesehatan atau tempat melakukan praktek dan orang yang melaksanakan
praktek. Maka Hermien lebih cenderung untuk menggunakan istilah
maltreatment (Kedokteran Forensik FK UI, 1994).
c. Menurut J. Guwandi merumuskan pengertian malpraktek medik yakni
melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan,
tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan kewajiban
(negligence), melanggar sesuatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan
perundang-undangan (Budi Sampurna, 2006).
d. Amri Amir menjelaskan malpraktek medis adalah tindakan yang salah oleh
dokter pada waktu menjalankan praktek yang menyebabkan kerusakan atau

kerugian bagi kesehatan dan kehidupan pasien, serta menggunakan


keahliannya untuk kepentingan pribadi (Budiyanto, 1997).
Dengan demikian, malpraktek medik dapat diartikan sebagai kelalaian atau
kegagalan seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu
pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang cedera
menurut ukuran dilingkungan yang sama.
Apapun definisi malpraktek medik pada intinya mengandung salah satu unsur
berikut:
1. Dokter kurang menguasai ilmu pengetahuan kedokteran dan keterampilan yang
sudah berlaku umum dikalangan profesi kedokteran.
2. Dokter memberikan pelayanan medik dibawah standar (tidak lege artis).
3. Dokter melakukan kelalaian berat atau kurang hati-hati, yang dapat mencakup :
a. Tidak melakukan sesuatu tindakan yang seharusnya dilakukan, atau
b. Melakukan sesuatu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan
4. Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hokum
Dalam praktiknya banyak sekali hal yang dapat diajukan sebagai malpraktek,
seperti salah diagnosis atau terlambat diagnose karena kurang lengkapnya
pemeriksaan, pemberian terapi yang sudah ketinggalan zaman, kesalahan teknis
waktu melakukan pembedahan, salah dosis obat, salah metode tes atau pengobatan,
perawatan yang tidak tepat, kelalaian dalam pemantauan pasien, kegagalan
komunikasi, dan kegagalan perawatan.
Malpraktek medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan
tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam
mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang sama.
Yang dimaksud dengan kelalaian disini ialah sikap kurang hati-hati, yang tidak
melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati melakukanya dengan wajar
atau sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan
melakukanya dalam situasi tersebut. Kelalaian diartikan pula dengan melakukan
tindakan kedokteran di bawah standar pelayanan medic (Hanafiah Jusuf, 2008).
2.2. Jenis-Jenis Malpraktek
Ngesti Lestari dan Soedjatmiko membedakan malpraktek medik menjadi dua
bentuk, yaitu malpraktek etik (ethical malpractice) dan malpraktek yuridis (yuridical
3

malpractice), ditinjau dari segi etika profesi dan segi hukum (Anny Isfandyarie,
2006).
A. Malpraktek Etik
Malpraktek etik adalah tenaga kesehatan melakukan tindakan yang
bertentangan dengan etika profesinya sebagai tenaga kesehatan. Misalnya seorang
bidan yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan etika kebidanan.
B. Malpraktek Yuridis
Soedjatmiko membedakan malpraktek yuridis menjadi tiga bentuk, yaitu
malpraktek perdata (civil malpractice), malpraktek pidana (criminal malpractice)
dan malpraktek administratif (administrative malpractice).
1. Malpraktek Perdata (Civil Malpractice)
Malpraktek perdata terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan
tidak terpenuhinya isi perjanjian (wanprestasi) didalam transaksi terapeutik
oleh tenaga kesehatan, atau terjadinya perbuatan melanggar hukum sehingga
menimbulkan kerugian kepada pasien. Adapun isi daripada tidak dipenuhinya
perjanjian tersebut dapat berupa:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan, tetapi
terlambat melaksanakannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan, tetapi tidak
sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan
2. Malpraktek Pidana
Malpraktek pidana terjadi apabila pasien meninggal dunia atau
mengalami cacat akibat tenaga kesehatan kurang hati-hati. Atau kurang cermat
dalam melakukan upaya perawatan terhadap pasien yang meninggal dunia atau
cacat tersebut. Malpraktek pidana ada tiga bentuk yaitu:
a. Malpraktek pidana karena kesengajaan, misalnya pada kasus aborsi tanpa
indikasi medis, tidak melakukan pertolongan pada kasus gawat padahal
diketahui bahwa tidak ada orang lain yang bisa menolong, serta
memberikan surat keterangan yang tidak benar.

b. Malpraktek pidana karena kecerobohan (recklessness), misalnya melakukan


tindakan yang tidak lege artis atau tidak sesuai dengan standar profesi serta
melakukan tindakan tanpa disertai persetujuan tindakan medis.
c. Malpraktek pidana karena kealpaan (negligence), misalnya terjadi cacat
atau kematian pada pasien sebagai akibat tindakan tenaga kesehatan yang
kurang hati-hati.
3. Malpraktek Administratif
Malpraktek administrastif terjadi apabila tenaga kesehatan melakukan
pelanggaran terhadap hukum administrasi negara yang berlaku, misalnya
menjalankan praktek bidan tanpa lisensi atau izin praktek.
2.3. Unsur Malpraktek
Suatu perbuatan atau sikap tenaga medis dianggap lalai apabila memenuhi
empat unsur di bawah ini:
a. Duty atau kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan atau tidak
melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada suatu kondisi
medis tertentu.
b. Dereliction of the duty/penyimpangan kewajiban tersebut.
c. Damage/kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai
kerugian akibat layanan dari kesehatan/kedokteran yang diberikan oleh pemberi
layanan.
d. Direct causal relationship/hubungan sebab akibat yang nyata. Dalam hal ini
harus terdapat hubungan sebab-akibat antara penyimpangan kewajiban dengan
kerugian yang setidak-tidaknya merupakan proximate cause.
Unsur-unsur malpraktek meliputi:
a. Unsur kesengajaan (intensional) yang menyebabkan professional misconducts
(melakukan tindakan yang tidak benar). Adapun contoh unsur kesengajaan antara
lain:
Penahanan pasien
Tindak pidana ini menurut pasal 333 KUHP, yaitu Barang siapa dengan
sengaja dan melawan hukum merampas kemerdekaan (menahan) orang atau
meneruskan tahanan itu dengan melawan hak.
Unsur-unsur dari pasal 333, yaitu:
5

Perbuatan menahan/ merampas kemerdekaan.

Yang ditahan orang.

Penahanan terhadap orang itu untuk melawan hak.

Adanya unsur kesengajaan dan melawan hukum.


Buka rahasia kedokteran tanpa hak
Menurut undang-undang RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
pasal 4:
-

Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran


wajib menyimpan rahasia kedokteran.

Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan


pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka
penegakan hukum, permintaan pasien sendiri, atau berdasarkan ketentuan
perundang-undangan.

Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan


Menteri.

Aborsi illegal
Banyak pendapat mengenai abortus provocatus yang disampaikan oleh
berbagai ahli dalam berbagai macam bidang seperti agama, kedokteran, sosial,
hukum, eugenetika, dan sebagainya. Pada umumnya setiap negara mempunyai
undang-undang yang melarang abortus provocatus (pengguguran kandungan).
Abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai pengobatan apabila merupakan
satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus
provocatus therapeuticus). Dalam undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang
kesehatan diperjelas mengenai hal ini. Indikasi medik seperti hipertensi,
tuberkulosis dan sebagainya dapat berubah-ubah sesuai perkembangan ilmu
kedokteran. Sebaliknya ada pula negara yang membenarkan indikasi sosial,
humaniter, dan eugenetik, seperti misalnya di Swedia dan Swiss.
Keputusan untuk melakukan abortus provocatus therapeuticus harus
dibuat sekurang-kurangnya oleh dua dokter dengan persetujuan tertulis dari
wanita hamil yang bersangkutan, suaminya, dan atau keluarga terdekat.
Tindakan ini sebaiknya dilakukan dalam suatu rumah sakit yang mempunyai
sarana yang memadai. Menurut penyelidikan, abortus provocatus paling sering
terjadi pada wanita bersuami, yang telah sering melahirkan, keadaan sosial dan
keadaan ekonomi rendah.
6

Seperti yang telah diatur pada pasal 349 KUHP, Jika seorang dokter,
bidan, atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346,
ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang
diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam
pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk
menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. dimana dokter dapat
dikenakan sanksi 4 tahun penjara.

Euthanasia
Euthanasia memiliki tiga arti, yaitu :
-

Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan dan
bagi yang beriman dengan nama Allah di bibir.

Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) penderitaan pasien diperingan


dengan memberi obat penenang.

Mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas permintaan


pasien sendiri dan keluarganya.
Pada suatu saat seorang dokter mungkin menghadapi pasien dengan

penderitaan yang tidak tertahankan. Orang yang berpendirian pro euthanasia


dalam butir ketiga akan mengajukan supaya pasien diberi saja morphin dalam
dosis lethal supaya ia bebas dari penderitaan yang berat itu. Di beberapa
Negara Eropa dan Amerika sudah banyak terdapat golongan pro-euthanasia,
mereka mengadakan gerakan yang mengukuhkannya dalam undang-undang.
Sebaliknya, bagi mereka yang kontra-euthanasia berpendirian bahwa tindakan
demikian sama dengan pembunuhan.
Di Indonesia sebagai umat yang beragama yang berazazkan Pancasila,
segala sesuatu yang diciptakannya serta penderitaan yang dibebankan
mengandung makna dan maksud tertentu. Dokter harus mengerahkan segala
kepandaianannya dan kemampuannya untuk meringankan penderitaan dan
memelihara hidup, tetapi tidak untuk mengakhirinya.
Keterangan palsu
Pada pasal 267 KUHP dinyatakan bahwa :
(1) Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu
tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.
7

(2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seseorang


ke dalam rumah sakit jiwa atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan
pidana penjara paling lama delapan tahun enam bulan.
(3) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai
surat keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.
Praktik tanpa ijin/tanpa kompetensi
Pada pasal 2 kodeki, disebutkan bahwa, Seorang dokter harus
senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi
yang tertinggi. Ijazah yang dimiliki seseorang, merupakan persyaratan untuk
memperoleh ijin kerja sesuai profesinya [surat ijin dokter (SID) atau surat
penugasan (SP)].
b. Unsur pelanggaran
Unsur pelanggaran meliputi:
Kurang Keahlian (Lack of Skill)
Melakukan tindakan diluar kemampuan atau kompetensi seorang dokter,
kecuali pada situasi kondisi sangat darurat, seperti melakukan pembedahan
oleh bukan dokter dan mengobati pasien diluar spesialisasinya.
Kelalaian (Negligence)
Melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan kerugian pada pasien.
Kelalaian medik merupakan bentuk malpraktek medis yang paling sering
terjadi. Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seorang dengan tidak sengaja
melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan
sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang lain yang memiliki kualifikasi
yang sama pada suatu keadaan dan situasi yang sama.
Pelanggaran jabatan (Malfeasance)
Melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tindakan yang tidak
tepat dan layak (unlawful/improper) seperti melakukan tindakan pengobatan
tanpa indikasi yang memadai dan mengobati pasien dengan coba-coba tanpa
dasar yang jelas.
Ketidak hati-hatian (Misfeasance)
Melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan
tidak tepat (improper performance). Seperti melakukan tindakan medis dengan
menyalahi prosedur.
8

2.4. Usaha-usaha Menghindari Malpraktek


A. Semua tindakan sesuai indikasi medis
Prinsip-prinsip yang harus dilakukan tenaga kesehatan agar terhindar dari
malpraktek antara lain :
1. Tenaga kesehatan yang telah lulus pendidikan dengan memperoleh ijasah
termasuk dalam PP No. 32 Tahun 1996.
2. Tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi hasil ujian
3. Tenaga Kesehatan memiliki surat ijin praktek (SIP) dan Surat Tugas dari
Direktur Rumah Sakit, Dinas Tenaga Kesehatan, Dekan (Pimpinan Pendidik),
dan dari Pemerintah yang lainnya.
4. Tiap menangani pasien harus ada ijin atau persetujuan tertulis atau lisan dari
pihak pasien dan keluarganya.
5. Dalam pelayanan kesehatan harus menerapkan standar pelayanan dan protap
pelayanan kesehatan profesi yang dibuat oleh tenaga profesi. Ini biasanya
dibuat SK oleh Direktur Rumah Sakit atau pimpinan Rumah Sakit setempat.
6. Hasil pemeriksaan/pelayanan atau tindakan ditulis dicatat secara khusus oleh
dokter yang melakukan tindakan atau pemeriksaan atau singkatnya ditulis
yang disebut sebagai rekam medis/rekam rumah sakit. Untuk bidan dan
perawat tertuang dalam Asuhan Keperawatan atau kebidanan.
7. Point 4,5, dan 6 di atas harus dirahasiakan sesuai dengan peraturan PP No.10
tahun 1966 dan Undang-undang kesehatan yang lain.
8. Dalam menangani pasien atau tindakan harus berdasarkan indikasi medis dan
kontra indikasi medis.
9. Dalam menangani pasien harus menerangkan mengenai resiko, antara lain
resiko keadaan pasien, resiko penyakitnya, dan resiko tindakan.
10. Dalam komunikasi dengan pasien dan keluarga serta masyarakat harus
menerapkan etika umum dan etika profesi dimana tenaga kesehatan tersebut
bekerja.
11. Kemungkinan dalam menangani pasien memperoleh kesulitan karena tidak
kompetensinya sehingga harus dirujuk/dikirim/dikonsultasikan kepada tenaga

kesehatan yang kompeten atau dirujuk/dikirim ke rumah sakit sesuai dengan


tingkat pelayanan yang lebih prima.
12. Dalam pelayanan atau upaya kesehatan terjadi sesuatu yang menimbulkan
sengketa atau tuntutan pasien dan keluarganya harus diselesaikan secara
komunikasi yang sehat, secara kemanusiaan dan berdasarkan rambu-rambu
aturan hukum kesehatan. Jangan menerapkan Undang-Undang diluar
Undang-Undang Hukum Kesehatan.
B. Bekerja sesuai standar profesi
Pada pasal 2 kodeki, disebutkan bahwa, Seorang dokter harus senantiasa
berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.
Ukuran tertinggi dalam melakukan profesi kedokteran adalah yang sesuai dengan
ilmu kedokteran mutakhir, sarana yang tersedia, kemampuan pasien, etika umum,
etika kedokteran, hukum, dan agama.
Standar Profesi Kedokteran yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Ikatan
Dokter Indonesia (IDI) yaitu :
1. Standar keterampilan
a. Keterampilan kedaruratan medik; merupakan sikap yang diambil oleh
seorang dokter dalam menjalankan profesinya dengan sarana yang sesuai
dengan standar ditempat prakteknya. Bilamana tindakan yang dilakukan
tidak berhasil, penderitan perlu dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih
lengkap.
b. Keterampilan umum; meliputi penanggulangan terhadap berbagai penyakit
yang tercantum dalam kurikulum inti pendidikan dokter Indonesia.
2. Standar sarana
Meliputi segala sarana yang diperlukan untuk berhasilnya profesi dokter dalam
melayani penderita dan pada dasarnya dibagi 2 bagian, yakni saran medis dan
non medis.
3. Standar perilaku
Standar perilaku didasarkan pada sumpah dokter dan pedoman Kode Etik
Kedokteran Indonesia, yaitu :
a. Pasien harus diperlakukan secara manusiawi.
b. Semua pasien diperlakukan sama.
c. Semua keluhan pasien diusahakan agar dapat diperiksa secara menyeluruh.
10

d. Pada

pemeriksaan

pertama

diusahakan

untuk

memeriksa

secara

menyeluruh.
e. Pada pemeriksaan ulangan diperiksa menurut indikasinya.
f. Penentuan uang jasa dokter diusahakan agar tidak memberatkan pasien.
g. Dalam ruang praktek tidak boleh ditulis tarif dokter.
h. Untuk pemeriksaan pasien wanita sebaiknya agar keluarganya disuruh
masuk kedalam ruang praktek atau disaksikan oleh perawat, kecuali bila
dokternya wanita.
i. Dokter tidak boleh melakukan perzinahan didalam ruang praktek,
melakukan abortus, kecanduan dan alkoholisme.
4. Standar catatan medik
Pada semua penderita sebaiknya dibuat catatan medik yang didalamnya
dicantumkan identitas penderita, alamat, anamnesis, pemeriksaan, diagnosis,
terapi dan obat yang menimbulkan alergi terhadap pasien.
C. Membuat informed consent
Informed consent adalah persetujuan atau izin oleh pasien atau keluarga
yang berhak kepada dokter untuk melakukan tindakan medis pada pasien, seperti
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lain-lain untuk menegakkan diagnosis,
memberi obat, melakukan suntikan, menolong bersalin, melakukan pembiusan,
melakukan pembedahan, melakukan tindak-lanjut jika terjadi kesulitan, dan
sebagainya. Dengan kata lain informed consent adalah persetujuan setelah
penjelasan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585 Tahun 1989,
Persetujuan tindakan medik adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan
terhadap pasien tersebut.
Suatu informed consent harus meliputi :
1. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai tindakan, terapi, dan
penyakitnya
2. Pasien harus diberitahu tentang hasil terapi yang diharapkan dan seberapa
besar kemungkinan keberhasilannya
3. Pasien harus diberitahu mengenai beberapa alternatif yang ada dan akibat
apabila penyakit tidak diobati
4. Pasien harus diberitahu mengenai risiko apabila menerima atau menolak terapi

11

5. Risiko yang harus disampaikan meliputi efek samping yang mungkin terjadi
dalam penggunaan obat atau tindakan pemeriksaan dan operasi yang
dilakukan.

Ada 2 bentuk Persetujuan Tindakan Medis, yaitu:


1. Implied Consent (dianggap diberikan)
Umumnya implied consent diberikan dalam keadaan normal, artinya
dokter dapat menangkap persetujuan tindakan medis tersebut dari isyarat yang
diberikan/dilakukan pasien. Demikian pula pada kasus emergency sedangkan
dokter memerlukan tindakan segera sementara pasien dalam keadaan tidak bisa
memberikan persetujuan dan keluarganya tidak ada ditempat, maka dokter
dapat melakukan tindakan medik terbaik menurut dokter.
2. Expressed Consent (dinyatakan)
Dapat dinyatakan secara lisan maupun tertulis. Dalam tindakan medis
yang bersifat invasif dan mengandung resiko, dokter sebaiknya mendapatkan
persetujuan secara tertulis, atau yang secara umum dikenal di rumah sakit
sebagai surat izin operasi.
Dalam keadaan gawat darurat informed consent tetap merupakan hal yang
paling penting walaupun prioritasnya diakui paling bawah. Prioritas yang paling
utama adalah tindakan menyelamatkan nyawa. Walaupun tetap penting, namun
informed consent tidak boleh menjadi penghalang atau penghambat bagi
pelaksanaan emergency care sebab dalam keadaan kritis dimana dokter berpacu
dengan maut, ia tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan sampai pasien
benar-benar

menyadari

kondisi

dan

kebutuhannya

serta

memberikan

keputusannya. Dokter juga tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu


kedatangan keluarga pasien. Kalaupun keluarga pasien telah hadir dan kemudian
tidak menyetujui tindakan dokter, maka berdasarkan doctrine of necessity, dokter
tetap harus melakukan tindakan medik. Hal ini dijabarkan dalam PerMenKes
Nomor 585/PerMenKes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik, bahwa
dalam keadaan emergency tidak diperlukan informed consent.
Ketiadaan informed consent dapat menyebabkan tindakan malpraktek
dokter, khususnya bila terjadi kerugian atau intervensi terhadap tubuh pasiennya.
Hukum yang umum diberbagai negara menyatakan bahwa akibat dari ketiadaan
12

informed consent setara dengan kelalaian atau keteledoran. Akan tetapi, dalam
beberapa hal, ketiadaan informed consent tersebut setara dengan perbuatan
kesengajaan, sehingga derajat kesalahan dokter pelaku tindakan tersebut lebih
tinggi. Tindakan malpraktek dokter yang dianggap setara dengan kesengajaan
adalah sebagai berikut :
a. Pasien sebelumnya menyatakan tidak setuju terhadap tindakan dokter, tetapi
dokter tetap melakukan tindakan tersebut.
b. Jika dokter dengan sengaja melakukan tindakan misleading tentang risiko
dan akibat dari tindakan medis yang diambilnya.
c. Jika dokter dengan sengaja menyembunyikan risiko dan akibat dari
tindakan medis yang diambilnya.
d. Informed consent diberikan terhadap prosedur medis yang berbeda secara
substansial dengan yang dilakukan oleh dokter.
D. Mencatat semua tindakan yang dilakukan
Penyedia layanan kesehatan bertanggung jawab atas mutu pelayanan medik
di rumah sakit yang diberikan kepada pasien. Rekam medis sangat penting dalam
mengemban mutu pelayanan medik yang diberikan oleh rumah sakit beserta staf
mediknya. Rekam medis merupakan milik rumah sakit yang harus dipelihara
karena bermanfaat bagi pasien, dokter maupun bagi rumah sakit.
Tanggung jawab utama akan kelengkapan rekam medis terletak pada dokter
yang merawat. Tahap memperdulikan ada tidaknya bantuan yang diberikan
kepadanya dalam melengkapi rekam medis oleh staf lain di rumah sakit. Dokter
mengemban tanggung jawab terakhir akan kelengkapan dan kebenaran isi rekam
medis. Data harus dipelajari kembali, dikoreksi dan ditanda tangani juga oleh
dokter yang merawat. Pada saat ini banyak rumah sakit menyediakan staf bagi
dokter untuk melengkapi rekam medis, namun tanggung jawab utama dari isi
rekam medis tetap berada pada dokter yang bertanggung jawab. Nilai ilmiah dari
sebuah rekam medis adalah sesuai dengan taraf pengobatan dan perawatan yang
tercatat.
Rekam medis harus memuat isi sebagai berikut :
1. Semua diagnosis ditulis dengan benar pada lembaran masuk dan keluar,
sesuai dengan istilah terminologi yang dipergunakan, semua diagnosis serta
tindakan pembedahan yang dilakukan harus dicatat simbol dan singkatan
jangan dipergunakan.
13

2. Dokter yang merawat menulis tanggal dan tanda tangannya pada sebuah
catatan, serta telah menandatangani juga catatan yang ditulis oleh dokter lain
pada rumah sakit pendidikan, yaitu riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan
resume masuk dan keluar.
3. Bahwa laporan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik dalam keadaan
lengkap dan berisi semua data penemuan baik yang positif maupun negatif.
4. Catatan perkembangan, memberikan gambaran kronologis dan analisa klinis
keadaan pasien frekuensi catatan ditentukan oleh keadaan pasien.
5. Hasil Laboratorium dan X-Ray dicatat dicantumkan tanggalnya serta ditanda
tangani oleh pemeriksa.
6. Semua tindakan pengobatan medik ataupun tindakan pembedahan harus
ditulis dicantumkan tanggal, serta ditanda tangani oleh dokter.
7. Semua konsultasi yang dilaksanakan harus sesuai dengan peraturan staf
medik harus dicatat secara lengkap serta ditanda tangani Hasil konsultasi,
mencakup penemuan konsulen pada pemeriksaan fisik terhadap pasien
termasuk juga pendapat dan rekomendasinya.
8. Pada kasus observasi, catatan prenatal dan persalinan dicatat secara lengkap,
mencakup hasil tes dan semua pemeriksaaan pada saat prenatal sampai
masuk rumah sakit Jalannya persalinan dan kelahirannya sejak pasien masuk
rumah sakit, juga harus dicatat secara lengkap.
9. Catatan perawat dan catatan prenatal rumah sakit yang lain tentang Observasi
& Pengobatan yang diberikan harus lengkap catatan ini harus diberi cap dan
tanda tangan.
10. Resume telah ditulis pada saat pasien pulang Resume harus berisi ringkasan
tentang penemuan, dan kejadian penting selama pasien dirawat, keadaan
waktu pulang saran dan rencana pengobatan selanjutnya.
11. Bila otopsi dilakukan, diagnosa sementara/diagnosa anatomi, dicatat segera
(dalam waktu kurang dari 72 jam) keterangan yang lengkap harus dibuat dan
digabungkan dengan rekam medis.
12. Analisa kualitatif oleh personel medis untuk mengevaluasi kualitas
pencatatan yang dilakukan oleh dokter untuk mengevaluasi mutu pelayanan
medik Pertanggung jawaban untuk mengevaluasi mutu pelayanan medik
terletak pada dokter yang bertanggung jawab.
Berikut pasal yang mengatur mengenai rekam medis :
14

Pasal 46
(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib
membuat rekam medis.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi
setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan.
(3) Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan
petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan.
Pasal 47
(1) Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 merupakan
milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi
rekam medis merupakan milik pasien.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 1 harus disimpan dan dijaga
kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan
kesehatan.
(3) Ketentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan
ayat 2 diatur dengan Peraturan Menteri.
E. Apabila ragu-ragu konsultasikan dengan konsulen
Apabila saat akan melakukan tindakan terhadap pasien, dokter yang
melaksanakan tindakan dapat berkonsultasi dengan dokter penanggung jawab
pasien (DPJP). Pada saat emergency, dokter berhak melakukan upaya
penyelamatan nyawa pasien terlebih dahulu. Rekam medis harus diberi data yang
cukup terperinci, sehingga dokter lain dapat mengetahui bagaimana pengobatan
dan perawatan kepada pasien dan konsulen dapat memberikan pendapat yang
tepat setelah dia memeriksanya ataupun dokter yang bersangkutan dapat
memperkirakan kembali keadaan pasien yang akan datang dari prosedur yang
telah dilaksanakan.
F. Memperlakukan pasien secara manusiawi
Dokter yang baik akan memerlakukan pasiennya secara manusiawi dan
profesional. Mereka mendegarkan keluhan pasien dengan cermat, tidak
menginterupsi keluhan mereka, seta memiliki rasa empati dengan penyakit yang
diderita oleh mereka. Dokter yang baik tidak memeriksa pasien secara tergesagesa sekedar karena ingin cepat-cepat menyelesaikan konsultasi dan memanggil
pasien berikutnya. Dengan memiliki sense kemanusiaan yang tinggi, dokter yang
baik selalu menjaga kerahasiaan pasien dan tidak membiarkan orang lain
15

mengetahui keluhan dan kondsi pasiennya. Dokter seperti ini melihat pasiennya
sebagai manusia dan karena itu memperlakukan mereka secara manusiawi.
G. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga, dan masyarakat sekitar
Menurut hukum perdata, hubungan profesional antara dokter dengan pasien
dapat terjadi karena 2 hal, yaitu:
1. Berdasarkan perjanjian (ius contractu)
Kontrak berupa terapeutik secara sukarela antara dokter dengan pasien
berdasarkan kehendak bebas. Tuntutan dapat dilakukan bila terjadi
"wanprestasi", yakni pengingkaran terhadap hal yang diperjanjikan. Dasar
tuntutan adalah tidak terlambat, salah melakukan, ataupun melakukan sesuatu
yang tidak boleh dilakukan menurut perjanjian itu.
2. Berdasarkan hukum (ius delicto)
Berlaku prinsip siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi.
Rumusan perjanjian atau kontrak menurut hukum perdata ialah suatu tindakan
atau perbuatan hukum yang dilakukan secara sukarela oleh dua orang atau
lebih, yang bersepakat untuk memberikan "prestasi" satu kepada lainnya.
Dalam hubungan antara dokter dengan pasien, timbul perikatan usaha
(inspanningsverbintenis) dimana sang dokter berjanji memberikan "prestasi"
berupa usaha penyembuhan yang sebaik-baiknya dan pasien selain melakukan
pembayaran, ia juga wajib memberikan informasi secara benar atau mematuhi
nasihat dokter sebagai "kontra-prestasi". Disebut perikatan usaha karena
didasarkan atas kewajiban untuk berusaha. Dokter harus berusaha dengan
segala daya agar usahanya dapat menyembuhkan penyakit pasien. Hal ini
berbeda dengan kewajiban yang didasarkan karena hasil atau resultaat pada
perikatan hasil (resultaatverbintenis), dimana prestasi yang diberikan dokter
tidak diukur dengan apa yang telah dihasilkannya, melainkan ia harus
mengerahkan segala kemampuannya bagi pasien dengan penuh perhatian
sesuai standar profesi medis. Selanjutnya dari hubungan hukum yang terjadi ini
timbulah hak dan kewajiban bagi pasien dan dokter.

16

2.5. Sanksi Malpraktek


A. Pidana
Pasal 267 KUHP (surat keterangan palsu)
1.

Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu


tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.

2.

Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seorang


kedalam rumah sakit gila atau menahannya disitu, dijatuhkan pidana paling
lama delapan tahun enam bulan.

3.

Di ancam dengan pidana yang sama, barangsiapa dengan sengaja memakai


surat keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.

Pasal 268 KUHP


1. Barang siapa membuat secara palsu atau memalsu surat keterangan dokter
tentang ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, dengan maksud
untuk menyesatkan penguasa umum atau penanggung (verzekeraar), diancam
dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
2. Diancam dengan pidana yang sama, barangsiapa dengan maksud yang sama
memakai surat keterangan yang tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah
surat itu benar dan tidak dipalsu.

17

Pasal 359 KUHP


1. Barangsiapa karena kelalainnya menyebabkan matinya orang lain, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling
lama satu tahun.
Pasal 360 KUHP
1. Barangsiapa karena kelalainnya menyebabkan orang lain menderita luka berat,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan
paling lama satu tahun.
2. Barangsiapa karena kelalaiannya menyebabkan orang lain luka sedemikian
rupa sehingga menderita sakit untuk sementara waktu atau tidak dapat
menjalankan jabatan atau perkejaannya selama waktu tertenu diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan enam bulan
atau denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.
B. Perdata
Pasal 1338 KUH Perdata (wan prestasi )
1. Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya.
2. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua
belah pihak, atau karena alas an-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan
cukup untuk itu.
3. Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.
Pasal 1365 KUH Perdata
1. Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut.
Pasal 1366 KUH Perdata (Kelalaian)
1. Setiap orang bertanggung jawab tidak saja atas kerugian yang disebabkan
karena perbuatannya, tetapi juga atas kerugian yang disebabkan karena
kelalainnnya atau kurang hati hatinya
Pasal 1370 KUH Perdata.
1. Dalam hal pembunuhan (menyebabkan matinya orang lain) dengan sengaja
atau kurang hatihatinya seeorang, maka suami dan istri yang ditinggalkan,
anak atau korban orang tua yang biasanya mendapat nafkah dari pekerjaan
korban mempunyai hak untuk menuntut suatu ganti rugi, yang harus dinilai
18

menurut kedudukanya dan kekayaan kedua belah pihak serta menurut


keadaan.
Pasal 55 UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
1. Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang
dilakukan tenaga kesehatan.
2. Ganti rugi sebagaimana diatur dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
C. Undang-Undang Praktik Kedokteran
Pada dasarnya norma hukum yang tercantum dalam UU No. 29 tahun 2004
tentang praktik kedokteran merupakan norma hukum administrasi. Namun dalam
undang-undang ini juga tercantum ketentuan pidana di dalam pasal 75 sampai
dengan asal 80. Pencatuman sanksi pidana pada UU No. 29 tahun 2004 ini tidak
lepas dari fungsi hukum pidana secara umum, yakni ultimum remudium. Makna
yang terkandung dari asas ultimatum remudium adalah bahwa saksi pidana
merupakan upaya (saksi) yang paling akhir diancam kepada pelanggaran suatu
noma hukum, manakala sanksi hukum lainnya sudah dianggap tidak signifikan
dengan bobot norma hukum yang dilanggar. Dalam konteks UU praktik
kedokteran yang pada dasarnya memuat norma-norma hukum administrasi,
dengan dicantumkannya sanksi pidana pada pelanggaran norma hukum
administrasi tertentu, dengan dicantumkannya sanksi pidana pada pelanggaran
norma hukum administrasi tertentu, berarti pembuat undang-undang ini menilai
sanksi administrasi saja tidak cukup signifikan sehingga diperlukan sanksi pidana
(Yunanto, 2010).
Pasal 75
Tindak pidana praktik dokter tanpa surat tanda registrasi (STR) dirumuskan
dalam pasal 75:
1. Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sebgai mana dimaksud dalam
pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun
atau denda paling banyak rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah)
2. Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja
melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sementara
sebgaimana dimaksud dalam pasal 31 ayat (1) dipidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun atau ddenda paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah)

19

3. Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja
melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi bersyarat
sebagimana dimaksud dalam pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rrp 100.000.000,- (seratus
juta rupiah) (Yunanto, 2010).
Menurut Adami Chazawi, tindak pidana pasal 75 ini bersumber dari
pelanggaran kewajiban hukum administraasi kedokteran sebagai berikut:
1. Bagi dokter atau dokter gigi warga negara Indonesia ialah kewajiban menurut
pasal 29 dimana sebelum melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi
wajib memiliki STR yang dikeluarkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (ayat
1 dan 2)
2. Bagi dokter atau dokter gigi warga negara asing yang melakukan kegiatan
dalam rangka pendidikan, pelatihan, penelitian, pelayanan kesehatan di bidang
kedokteran atau kedokteran gigi yang bersifat sementara di Indonesia,
kewajiban menurut pasal 31 ayat (1) ialah sebelum melakukan praktik
kedokteran atau praktik kedokteran gigi di Indonesia wajib memiliki STR
sementara terlebih dahulu
3. Bagi dokter atau dokter gigi warga negara asing perserta perogram pendidikan
dokter spesialis atau dokter gigi spesialis yang mengikuti pendidikan dan
pelatihan di Indonesia, sebelum melakukan prakti kedokteran wajib memiliki
STR bersyarat (pasal 32 ayat 1) (Yunanto, 2010).
Surat tanda registrasi (pasal 29 ayat 1), baik sementara (pasal 31 ayat 1)
maupun yang bersyarat (pasal 32 ayat 1) secara administratif memberikan hak
atau kewenangan pada dokter atau dokter gigi untuk melakukan praktik
kedokteran atau praktik kedokteran gigi di Indonesia.Apabila yang bersangkutan
tidak memiliki STR dari sudut hukum administrasi kedokteran maka tidak
wewenang untuk berpraktik kedokteran atau kedokteran gigi di Indonesia.Oleh
karea itu perbuatan demikian itu diancam dengan sanksi pidana, sehingga
perbuatan tersebut menjadi/mengandung sifat melawan hukum pidana. Apabila
praktik dokter tanpa STR tersebut membawa akibat pernderitaan pasien berupa
luka-luka, rasa sakit fisik ataupun kematian, maka terjadi malpraktik kedokteran
walaupun telah memdapat informed consent dan tidak melanggar standar profesi
atau standar prosedur (Yunanto, 2010).
Dari pelanggaran hukum administrasi menjadi tindak pidana dilihat maksud
pembentuk

undang-undang

ini,

yakni

sebagai

upaya

preventif

untuk

menghindarkan dokter atau dokter gigi dari malpraktik kedokteran dan sekaligus
20

sebagai upaya preventif agar terhindar dari munulnya korban akibat malpraktik
kedokteran (Yunanto, 2010).
Pasal 76
Tindak pidana praktik kedokteran tanpa surat ijin praktik (SIP) dirumuskan
dalam pasal 76, yaitu: Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja
melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat ijin praktik sebagaimana
dimaksud dalam pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun atau denda paling banyak Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah) (Yunanto,
2010).
Pasal 36 mewajibkan setiap dokter atau dokter gigi untuk terlebih dahulu
memiliki usrat ijin praktik sebelum melakukan praktik kedokteran di Indonesia.
Kewajiban dokter semula merupakan kewajiban hukum administrasi yang
diangkat menjadi kewajiban hukum pidana karna pelanggaran terhadap kewajiban
itu diancam sanksi pidana (Yunanto, 2010).
Ketentuan mengenai SIP adalah sebagai mana diataur dalam pasal 37 dan 38:
1. SIP dikeluarkan oleh pejabat kesehatan yang berwenang dikabupaten/kota
tempat praktik kedokteran atau kedokteran gigi akan dilaksanakan (pasal 37
ayat 1)
2. SIP diberikan paling abnyak untuk tiga tempat (pasal 37 ayat 1)
3. Satu SIP hanya berlaku untuk satu tempat praktik (pasal 37 ayat 3)
4. Untuk memiliki SIP haru memenuhi tiga syarat, yakni (1) memiliki STR yang
masih berlaku; (2) memiliki tempat praktik; (3) memiliki rekomendasi dari
organisasi profesi (pasal 38 ayat 1)
5. SIP tetap berlaku sepanjang (1) STR masih berlaku, dan (2) tempat praktik
masih sesuai dengan yang tercantum dalam SIP (pasal 38 ayat 2)
Pasal 77
Tindak pidana menggunakan identitas-seperti gelar yang menimbulkan
kesan dokter yang memiliki STR dan SIP, diatur dalam pasal 77, yaitu setiap
orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain
yang menimbulka kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah
dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat
tanda registrasi dokter gigi dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud
dalam pasal 73 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun
atau denda paling banyak Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah)
(Yunanto, 2010).

21

Unsur perbuatan menggunakan gelar harus memenuhi dua syarat, (1)


gelar yang digunakan harus berupa gelar yang ada hubungannya dengan ilmu
kedokteran. Suatu gelar yang ada hubungannya dengan ilmu kedokteran. Suatu
gelar yang diketahui umum dapat menunjukan bahwa pemilik gelar menguasai
bidang kedokteran dan (2) sipembuat sesungguhnya tidak memiliki gelar tersebut.
Demikian juga pada alternatif dari menggunakan gelar in casudisebut sebagai
menggunakan identitas bentuk lain Unsur ini sangat terbuka dan dapat
mengikuti apa yang berlaku di bidang praktik kedokteran. Identias bentuk lain
harus identitas yang diketahui umum sebagai identitas para dokter, misal pakaian
khas dokter yang berupa jas atau jubah putih, mengalungkan stetoskop di leher,
pada mobilnya terpampang lambang IDI atau asosiasi kedokteran lainnya, yang
menimbulkan kesan seolah-olah seorang dokter. Hal ini sebagaimana tercantum
dalam pasal 37 ayat (1): Setiap orang dilarang menggunakan identitas berupa
gelar atau bentuk lain yang, menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah
yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda
registrasi dan atau surat izin praktik.
Pasal 77 ini selain berlaku pada orang yang bukan dokter, juga berlaku pada
dokter atau dokter gigi yang tidak mempunyai STR dan atau SIP yangg dengan
sengaja melakukan praktik kedokteran. Hal ini karena dokter atau dokter gigi
yang telh memiliki STR dan/atau SIP merupakan satu kalimat yang artinya tidak
dapat dipisahkan (Yunanto, 2010).
Dibentuknya sanksi pidana pada pasal 77 ini dimaksudkan untuk tiga
tujuan. Pertama, sebagai upaya preventif agar tidak terjadi penyalahgunaan caracara praktik kedokteran oleh orang yang bukan ahli kedoktern. Kedua,
melindungi kepentingan hukum masyarakat umum, agar tidak menjadi korban
dari perbuatan-perbuatan yang meniru praktik kedokteran oleh orang yang tidak
berwenang. Menghindari akibat dari praktik kedokteran oleh orang yang tidak
berwenang. Ketiga, melindungi martabat dan kehormatan profesi kedokteran oleh
orang yang tidak berwenang (Yunanto, 2010).
Pasal 78
Tindak pidana dengan menggunakan alat, metode pelayanan kesehatan
yang menimbulkan kesan seolah-olah dokter empunyai STR dan SIP, diatur dalam
pasal 78, yang menyebutkan setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat,
metode, atau car lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang
menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi
22

yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda tanda registrasi
dokter gigi atau surat izin prktik sebagaimana dimaksud dalam pasal 73 ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun atau denda paling
banyak Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) (Yunanto, 2010).
Sebagaimana pasal 77, selain pada orang yang bukan dokter, pasal ini dapat
diartikan berlaku juga bagi dokter atau dokter gigi yang tidak mempunyai STR
dan/atau SIP. Sebagaimana bunyi pasal 73 ayat (2) Setiap orang dilarang
menggunakan alat, metode, atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat ang menimbulkan kesan eolah-olah yang bersangkutan adalah dokter
atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dan /atau surat izin
praktik (Yunanto, 2010).
Pasal 79
Tindak pidana dokter praktik yang memasang papan nama, tidak membuat
rekam medik, dan tidak berdasakan standar profesi diatur dalam pasal 79 yang
menyebutkan:
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling
banyak Rp 50.000.000,-(lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau dokter gigi
yang:
1. Dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagimana yang dimaksud
dalam pasal 41 ayat (1)
2. Dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam
pasal 46 ayat (1); atau
3. Dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam
pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e (Yunanto, 2010).
Tujuh macam tindak pidana pasal 79 bersumber pada kewajiban hukum
administrasi, yang apabila dilanggar menjadi tindak pidana dengan diberi
ancaman pidana. Sebagaimana disebutkan pada pasal 41 ayat (1) dan pasal 46
ayat (1) yang mensyaratkan pemasangan papan nama dan rekam medik pada
dokter praktik. Demikian juga pasal 51 huruf a-e yang menyebutkan adanya
kewajiban yang harus dilaksanakan dokter dalam melaksanakan praktik
kedokteran, yaitu:
1. Pelayanan medis yang harus sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur oprasional
2. Kewajiban merujuk pasien ke dokter lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik
3. Menjaga rahasia kedokteran, bahkan hingga pasien yang telah meninggal
4. Melakukan pertolongan darurat pada saat ia wajib melakukannya

23

5. Ketersediaan untuk selalu menambah pengetahuan dan ketrampilan profesi


(Yunanto, 2010).
Hal tersebut diatas dapat menjadi tindak pidaa apabila dilanggar bahkan
sebagian dapat menjadi syarat terjadinya malpraktik kedokteran apabila dari
pelanggaran administrasi tersebut menimbulkan akibat fatal bagi kesehatan
pasien, baik berupa luka ataupun kematian (Yunanto, 2010).
Khusus mengenai ketentuan pidana dalam Undang-undang No 29 tahun
2004 tentang praktik kedokteran, Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan pasal
75 ayat (1) dan pasal 76 sepanjang mengenai kat-kata penjara paling lama 3
(tiga) tahun atu dan pasal 79 sepanjang mengenai kata-kata kurungan paling
lama 1 (satu) tahun atau serta pasal 79 huruf c sepanjang mengenai kata-kata
atauu huruf e Undang-undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
(UU Praktik Kedokteran) dinyatakan bertentangan dengn Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat (Yunanto, 2010).
Pelanggaran Etik
1. MKEK untuk masalah etika murni
2. P3EK masalah yang tidak murni etika
Pelanggaran Disiplin
1. Pelanggaran disiplin di bidang kedokteran diatur dalam Peraturan Konsil
Kedokteran Indonesia (Perkonsil) Nomor 16 tahun 2006 tentang Tata Cara
Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter Gigi oleh
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.

2.6. Peran Majelis kehormatan Disiplin Kedokteran (MKDKI) dan Majelis


Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Dalam Penanganan Kasus Dugaan
Malpraktek Kedokteran
Dalam era global masa kini, terjadi perubahan pola pikir dan perilaku manusia,
akibat dari transformasi budaya, reformasi sosial, kemajuan ilmu dan teknologi,
termasuk teknologi kedokteran. Pendidikan masyarakat meningkat, membuat
masyarakat makin kritis dan sensitif terhadap lingkungan di semua bidang, tidak
terkecuali dalam bidang pelayanan kedokteran. Hubungan dalam dunia kedokteran
yang sejak dahulu bersifat paternalistik, berubah menjadi hubungan transaksi
terapeutik. Hubungan dokter-pasien menjadi setara, masing-masing memunyai hak
24

dan kewajiban yang harus dipenuhi. Masyarakat menghendaki pelayanan kedokteran


yang bermutu dengan hasil memuaskan dan biaya terjangkau. Dokter berkewajiban
memberi pelayanan yang profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat
yang dalam keadaan euphoria reformasi kebebasan akan mudah menuntut dokter.
Dokter mudah dituduh malpraktik kalau hasil pelayanan kedokterannya tidak
seperti yang diharapkan dan atau biaya tidak terjangkau, walau dokter telah
melaksanakan pelayanan kedokterannya sesuai standar prosedur dan peraturan yang
berlaku. Untuk mengantisipasinya keadaan semacam ini telah diterbitkan
perundangan, guna melindungi masyarakat, meningkatkan mutu pelayanan
kedokteran dan memberi kepastian hukum bagi masyarakat dan dokter pemberi
pelayanan, berupa undang-undang praktek kedokeran, yang mengamanatkan
dibentuknya antara lain Majelis Keormatan Disiplin Kedokteran (MKDKI).
Selanjutnya bagaimana peran MKDKI dan MKEK dalam penyelesaiaan sengketa
medik kita pelajari bersama (Dahlan, 2006).
2.6.1 Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)
Seperti diketahui dalam Undang-undang tentang Praktik Kedokteran
dimandatkan pembentukan dan pelaksanaan MKDKI di Pusat dan pada tiap Provinsi
di Indonesia.
Menurut Undang-undang tentang Praktik Kedokteran pasal 55:
1. MKDKI dibentuk untuk menegakkan disiplin dokter dan dokter gigi dalam
penyelenggaraan praktik kedokteran.
2. MKDKI merupakan lembaga otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)
3. MKDKI dalam menjalankan tugasnya bersifat independen.
Pasal 56 menegaskan bahwa MKDKI bertanggung jawab kepada KKI. Pasal
58 menytakan bahwa Pimpinan MKDKI terdiri atas seorang ketua dan seorang
sekretaris. Anggota MKDKI disebutkan dalam pasal 59, terdiri atas 4 dokter (3 orang
dokter dari organisasi profesi, 1 orang dokter mewakili asosiasi rumah sakit), 4 orang
dokter gigi (3 orang dokter gigi dari organisasi profesi, 1 orang dokter gigi mewakili
asosiasi rumah sakit) dan 3 orang sarjana hukum (Dahlan, 2006).
Anggota MKDKI tersebut diangkat oleh Menteri atas usul organisasi profesi (pasal
60). Menurut UUPK pasal 64 MKDKI bertugas:
1. Menerima pengaduan, memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin
dokter dan dokter gigi yang diajukan
2. Menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin
dokter dan dokter gigi
25

MKDKI memeriksa dan memberikan keputusan terhadap pengaduan yang


berkaitan dengan disiplin dokter dan dokter gigi (pasal 67). Apabila dalam
pemeriksaan ditemukan pelanggaran etika, MKDKI meneruskan pengaduan pada
organisasi profesi (pasal 68) (Dahlan, 2006).
Dalam hal ini setelah pengaduan disampaikan oleh MKDKI kepada IDI, akan
dilakukan penyaringan, kemudian baru diteruskan kepada MKEK untuk proses lebih
lanjut sesuai tugas dan wewenang MKEK. Proses selanjutnya di dalam MKEK
mengikuti Standar Prosedur Operasional MKEK yang berlaku.
Dalam pasal 69 disebutkan bahwa:
1. Keputusan MKDKI mengikat dokter, dokter gigi dan KKI.
2. Keputusan sebagimana dimaksud pada ayat 1 dapat berpa dinyatakan tidak
bersalah atau pemberiaan sanksi disiplin.
3. Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dapat berupa:
a. Pemberian peringatan tertulis
b. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat ijin praktik;
dan/atau
c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi (Dahlan, 2006).
Diharapkan MKDKI akan memberikan manfaat bagi dokter di masa
mendatang. Evaluasi perilaku profesional dan kinerja dokter terpadu dalam
penyelesaian suatu kasus dugaan malpraktik, oleh peer group harus dibuat untuk
kepentingan pembelajaran agar tidak terulang kejadian yang sama di kemudian hari.
Dan diharapkan dapat berguna untuk pendisiplinan pelaku (Dahlan, 2006).
MKDKI tidak menutup kemungkinan penggunaaan putusan MKDKI dalam
penyelesaian sengketa medik:
Untuk kepentingan litigasi (perdata atau pidana):
Tidak discoverable.
Peer-review tidak ditunjukan untuk hokum
Dapat digunakan sebagai alat bukt :
Surat/dokumen
Keterangan ahli dengan memanggil MKDKI di persidangan.
Non litigasi (khusus perkara perdata)
Sebetulnya tidak diperlukan putusan benar-salah (Right based) karena yang
diperlukan adalah penyelesaiaan kepentingan (Interest based). Putusan MKDKI
dapat dipakai sebagai pengarah proses (independent expertise) (Dahlan, 2006).
2.6.2 Persidangan Praktek Dokter di MKDKI
Pengadu datang ke MKDKI untuk mendaftarkan pengaduan melalui sekretaris
MKDKI, mendapat nomor register dan tanda bukti penerimaan perkara. Surat aduan
oleh

sekretaris

MKDKI

disampaikan

kepada

ketua

MKDKI.

Setelah
26

membaca/mendengar pengaduan tersebut ketua MKDKI menentukan Majelis Hakim


dan tanggal verifikasi (Dahlan, 2006).
Tahap verifikasi dihadiri oleh ketua MKDKI, Majelis Hakim, anggota MKDKI
dan sekretaris MKDKI, untuk pemeriksaan pakah pengaduan masuk dalam lingkup
kewenangan MKDKI atau bukan. Setelah verifikasi bila ternyata pengaduan tidak
masuk dalam lingkup kewenangan MKDKI maka pengaduan dinyatakan tidak dapat
diterima. Pengaduan diberi tahu secara resmi melalui surat. Apabila pengaduan
termasuk dalam lingkup kewenangan MKDKI maka pengaduan memasuki tahap
pemeriksaan persiapan (Dahlan, 2006).
Majelis Hakim kemudian menentukan tanggal Pemeriksaan Persiapan. Ketua
MKDKI menentukan anggota MKDKI yang akan bersidang untuk perkara ini.
Sekretaris MKDKI melaksanakan pemanggilan secara resmi kepada anggota
MKDKI menentukan anggota MKDKI, Pengadu/kuasanya dan teradu/kuasanya
untuk hadir pada tahap pemeriksaan persiapan.
Tahap pemeriksaan persiapan adalah pemeriksaan sebelum persidangan yang
sesungguhnya dimulai. Pemeriksaan persiapan diahdiri oleh Majelis Hakim, anggota
MKDKI, pengadu/kuasanya dan teradu/kuasanya. Majelis Hakim memeriksa berkas
pengaduan, memberitahukan adanya pengaduan kepada teradu/kuasanya, kemudian
memberikan salinan pengaduan kepada teradu/kuasanya dan kepada anggota
MKDKI agar anggota MKDKI dapat membuat berkas pengaduan dalam format
resmi untuk siding hari pertama.
Sekretaris MKDKI memberikan laporan tahap pemeriksaan persiapan kepada
Ketua MKDKI. Ketua MKDKI memilih dan memutuskan Majelis Sidang MKDKI
(Dahlan, 2006).
Majelis siding kemudian menentukan tanggal Sidang hari pertama. Persidangan
terdiri dari bebrapa tahap:
Pembacaan pengaduan oleh anggota MKDKI
Tanggapan atas pengaduan oleh teradu/kuasanya.
Pembuktian
Berupa pemeriksaan terhadap alat bukti, saksi dan surat.
Kesimpulan dari kedua belah pihak (anggota MKDKI dan teradu/kuasanya)
(Dahlan, 2006).
Putusan diberikan oleh Majelis Sidang, berupa pernyataan tidak bersalah atau
pernyataan bersalah, dimana sanksi yang diterima adalah sanksi administrative (ps
69 UUPK)
2.6.3 Majelis Kehormatan Etik kedokteran (MKEK)

27

MKEK merupakan bagian dari Struktur kepemimpinan IDI. Di tingkat Pusat


kepemimpinan terdiri dari: Pengurus Besar IDI (PB IDI), Majelis Kolegium
Kedokteran Indonesia (MKKI), Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan
Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK) yang memiliki kewenangan
dan tanggung jawab sesuai tugasnya. Ditingkat wilayah kepemimpinan terdiri dari
pengurus Wilayah, MKEK, perwakilan MKKI, perwakilan MPPK. Ditingkat Cabang
terdiri dari Pengurus Cabang IDI dan MKEK (AD IDI ps 12).
MKEK adalah bahan otonom IDI yang bertanggung jawab dalam
pengembangan kebijakan, pembinaan pelaksanaan dan pengawasan penerapan etika
kedokteran. MKEK dibentuk ditingkat pusat, wilayah dan bila dianggap perlu di
tingkat Cabang. MKEK bertanggung jawab kepada muktamar, musyawarah wilayah
dan musyawarah cabang sesuai dengan tingkat kepengurusan. (ART IDI ps 41)
MKEK mempunyai tugas dan wewenang antara lain untuk melakukan
bimbingan, pengawasan dan penilaian pelaksanaan etik kedokteran, termasuk
perbuatan anggota yang melanggar kehormatan dan tradisi luhur kedokteran.
Memperjuangkan agar etik kedokteran dapat ditegakkan di Indonesia (ART IDI ps
41) (Dahlan, 2006).
Sehubungan dengan tugas dan wewenang MKEK tersebut, maka MKEK
mempunyai kompetensi untuk:
Meneliti dan menyidangkan pengaduan.
Memanggil dan mendengarkan para saksi/saksi ahli.
Mengumpulkan, menerima dan menganalisis bukti-bukti
Menjatuhkan sanksi bagi dokter teradu sesuai lokasi kejadian kasus.
Memantau pelaksanaan sanksi
Mengusulkan rehabilitasi bagi dokter yang selesai menjalani sanksi.
Mengubah putusan/sanksi sesuai keadilan profesi.
Menjadi saksi ahli di pengadilan bila diperlukan (Dahlan, 2006).
2.6.4 Persidangan MKEK
Salah satu tugas dan wewenang MKEK adalah melakukan pengawasan
terhadap pelaksanaan etik kedokteran, termasuk memberi sanksi bagi perbuatan
anggota yang melanggar kehormatan dan tradisi luhur kedokteran.
Untuk ini biasanya dilakukan pemeriksaan atau peradilan yang bersifat internal.
Pengaduan disampaikan melalui IDI dapat berasal dari.
a. Pengaduan langsung
b. Hasil verifikasi MKDKI yang menentukan kemungkinan ada pelanggaran etik
c. Rujukan banding dari MKEK Cabang untuk MKEK Wilayah atau MKEK
Wilayah untuk MKEK Pusat.
d. Departemen Kesehatan (Dahlan, 2006).

28

Pengaduan diterima oleh sekretaris MKEK, kemudian dicatat dalam agenda


penerimaan pengaduan, diberi nomor register. Kepada pengadu diberi surat
pemberiathuan bahwa pengaduaannya telah diterima. Selanjutnya sekretaris
melaporkan kepada ketua MKEK bahwa ada pengaduan. Kemudian ketua MKEK
mempersiapkan persidangan intern.
Persidangan intern merupakan rapat khusus MKEK, dihadiri oleh ketua/wakil
ketua MKEK, sekretaris MKEK, minimal 4 anggota MKEK dan Ketua IDI terkait.
Persidangan intern menilai keabsahan surat pengaduan tertulis dan menentukan
apakah pengaduan masuk lingkup kewenangan MKEK. Bila pengaduan sah dan
masuk lingkup kewenangan MKEK maka dipersiapkan persidangan-persidangan
ekstern, sesuai Standar Prosedur Operasional MKEK (Sidang A,B,C,D,E,F),
tergantung kebutuhan persidangan kasus. Sidang keputusan (Sidang C) merupakan
Sidang intern MKEK. Keputusan menyatakan tidak terdapat atau terdapat
pelanggran Kode Etik Kedokteran Indonesia pasal berapa. Keputusan Sidang
disampaikan kepada Ketua IDI terkait untuk dilaksanakan sanksi sesuai prosedur.
Sanksi dapat berupa peringatan, pembinaan dan sanksi administrative (Dahlan,
2006).
2.6.5 Penyelesaian Kasus Malpratek
Vincent dkk. Dari Academic Department of Psychiatry, St.Marys Hospital,
London, UK, melakukan penelitian tentang alasan-alasan pasien dan keluarganya
mengajukan tuntutan ke pengadilan sehubungan dengan malpraktik medik. Dari 277
responden objek penelitian sehubungan dengan malpraktik medik. Dari 277
responden objek penelitian yang mengajukan tuntutan malpraktik medik melalui 5
Lembaga Bantuan Hukum, ternyata 70% di antaranya mengalami cedera serius yang
menyebabkan timbulnya permasalahan jangka panjang terhadap pekerjaan,
kehidupan social, dan dalam hubungan keluarga. Emosi yang mendalam timbul
karena penderitaan yang akan mereka alami dalam jangka panjang (Yunanto, 2010).
Keputusan untuk mengajukan tuntutan hokum telah diambil tidak saja karena
cidera yang dialami, tetapi juga karena ketidak-pekaan penanganan selama
perawatan, serta komunikasi yang buruk antara pasien dan dokter. Dari penilitian ini
Vincent menyimpulkan bhawa pada umumnya pasien dan keluarganya mengajukan
tuntutan ke pengadilan bukan saja karena adanya ciera atau kerugian lain, tetapi juga
karena adanya beberapa faktor lain, di antaranya:
1. Kurangnya keterbukaan dan kejujuran
2. Minimnya penjelasan dari pihak medis
29

3. Kurangnya komunikasi (Yunanto, 2010).


Di Indonesia, penyelesaian kasus malpraktik medik mengacu pada Pasal 66
Undang-Undang No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.
Pasal 66:
1. Setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan atas tindakan
dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat
mengadukan secara tertulis kepada Ketua Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Idnonesia (MKDKI).
2. Pengaduan sekurang-kurangnya harus memuat:
a. Identitas pengadu
b. Nama dan alamat tempat praktik dokter atau dokter gigi dan waktu
tindakan dilakukan, dan
c. Alasan pengaduan.
Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
menghilangkan hak setiap orang untuk melaporkan adanya dugaan tindak
pidana kepada pihak yang berwenang dan / atau menggugat kerugian
perdata ke pengadilan.(Yunanto, 2010).
Sesuai Pasal 66 tersebut di atas, pasien atau keluarga pasien yang merasa
dirugikan akibat praktik kedokteran yang mereka anggap tidak tepat dapat
mengadukan kasusnya melalui MKDKI, yang merupakan jalur non-litigasi. Selain
melalui jalur non-litigasi, pasien/ keluarga pasien yang menduga telah terjadi
malpraktik atas diri pasien tidak tertutup kemungkinan untuk sekaligus menempuh
jalur litigasi, yaitu melalui jalur perdata atau pidana (Yunanto, 2010).
Kewenangan MKDKI dalam menangani pengaduan masyarakat, sesuai dengan
Pasal 67: Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia memeriksa dan
memberikan keputusan terhadap pengaduan yang berkaitan dengan disiplin dokter
dan dokter gigi.
MKDKI merupakan lembaga yang berwenang untuk menentukan ada tidaknya
kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam penerapan disiplin ilmu
kedokteran dan kedokteran gigi. Lembaga ini merupakan lembaga otonom dari
Konsil Kedokteran Indonesia yang dalam menjalankan tugasnya bersifat independen
(Yunanto, 2010).
Pasal 55 ayat (1), (2), dan (3):
1. Untuk menegakkan disiplin dokter dan dokter gigi dalam penyelenggaraan
praktik kedokteran, dibentuk Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia.

30

2. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia merupakan lembaga


otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia.
3. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia dalam menjalankan
tugasnya bersifat independen.
Untuk menjamin netralitas MKDKI, dalam Pasal 59 ayat (1) Undang-Undang
No.29 Tahun 2004 disebutkan bahwa MKDKI terdiri atas 3 (tiga) orang dokter dan 3
(tiga) orang dokter gigi dari organisasi profesi masing-masing, seorang dokter dan
seorang dokter gigi mewakili asosiasi rumah skait, dan 3 (tiga) orang sarjana hokum.
Sedangkan ayat (2) dalam pasal yang sama menyebutkan persyaratan menjadi
anggota MKDKI (Yunanto, 2010).
Pasal 59 ayat (1) dan (2):
1. Keanggotaan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia terdiri atas 3
(tiga) orang dokter dan 3 (tiga) dokter gigi dari organisasi profesi masingmasing, seorang dokter dan seorang dokter gigi mewakili asosiasi rumah sakit,
dan 3 (tiga) orang sarjana hukum.
2. Untuk dapat diangkat menjadi anggota Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Warga Negara Republik Indonesia
b. Sehat jasmani dan rohani
c. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia
d. Berkelakuan baik
e. Berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun dan paling tingg 65
(enampuluh lima) tahun pada saat diangkat
f. Bagi dokter atau dokter gigi, pernah melakukan praktik kedokteran
paling sedikit (Dahlan, 2006) (sepuluh) tahun dan memiliki surat tanda
registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi
g. Bagi sarjana hukum, pernah melakukan praktik di bindang hukum
paling sedikit 10 (sepuluh) tahun dan memiliki pengetahuan di bidang
hukum kesehatan, dan
h. Cakap, jujur, memiliki moral, etika, dan integritas yang tinggi serta
memiliki reputasi yang baik.
Keputusan MKDKI merupakan sanksi disiplin dan bersifat mengikat, sesuai
dengan Pasal 69 ayat (1), (2), dan (3) Undang Undang No. 29 Tahun 2004:
1. Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia mengikat
dokter, dokter gigi, dan Konsil Kedokteran Indonesia.
2. Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa dinyatakan
tidak bersalah atau pemberian sanksi disiplin.
3. Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud padat ayat (2) dapat berupa:
31

a. Pemberian peringatan tertulis,


b. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik,
dan/atau
c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi (Yunanto, 2010).
Alur penanganan ketidakpuasan pasien

Lembaga ADR adalah lembaga yang mencoba menawarkan penyelesaian


kepada pihak-pihak yang bertikai, antara pasien dengan dokter atay dokter gigi.
Penyelesaian ini menggunakan pendekatan kepentingan (interest based) yang bersifat
win-win solution, melalui konsiliasi, mediasi, fasilitasi dan negosiasi, tanpa
mengedepankan benar-salah (right based), dilakukan di luar pengadilan, dengan atau
tanpa kompensasi. Melalui lembaga ADR ini dapat dilakukan upaya mencari jalan
keluar atas keputusannya, baik pihak dokter maupun pihak pasien.
Apabila

dalam

pemeriksaan

ditemukan

pelanggaran

etika,

MKDKI

meneruskan pengaduan pada organisasi profesi (Ikatan Dokter Indonesia/ IDI atau
Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia/ PDGI), sesuai Pasal 68: Apabila dalam
pemeriksaan ditemukan pelanggaran etika, Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia meneruskan pengaduan pada organisasi profesi.
Perselisihan itu selanjutnya akan ditangani oleh Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran Indonesia (MKEK) IDI, atau ke Majelis Kehormatan Etik Kedokteran
Gigi Indonesia (MKEKG) PDGI. MKEK dan MKEKG adalah suatu badan
32

pengadilan profesi, yang bertugas mengadili anggota ikatan profesi itu sendiri.
Hukuman yang dijatuhkan MKEK/MKEGK bisa berupa teguran atau pemecatan dari
keanggotaan

IDI/PDGI

yang

dapat

bersifat

sementara

(skorsing)

atau

tetap/selamanya. (Yunanto, 2010).


Apabila suatu kasus yang diduga malpraktik medik dilakukan oleh masyarakat
dan didapati pelanggaran hukum, MKDKI akan menganjurkan supaya kasus itu
langsung dibawa ke siding pengadilan untuk diperiksa. Oleh karena Undang
Undang Praktik Kedokteran hanya fokus pada disiplin kedokteran saja, sehingga
masalah gugatan perdata atau pidana diserahkan kepada peradilan umum dengan
memakai saksi ahli (expert witness testimonium) apabila diperlukan, sebagaimana
lazimnya juga di luar negeri (Yunanto, 2010).

33

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Malpraktek adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar
profesi atau standar prosedur operasional. Kelalaian dalam praktek medik jika memenuhi
beberapa unsur (1) duty atau kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan
atau untuk tidak melakukan suatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi
dan kondisi yang sama, (2) dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut,
(3) damage atau kerugian yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian
akibat dari pelayanan kesehatan / kedokteran yang diberikan oleh pemberi layanan, (4)
direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. Sedangkan unsur
pelanggaran displin yaitu pelanggaran meliputi negligence, malfeasance, misfeasance,
lack of skill.
Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya menghindari malpraktek seperti
semua tindakan sesuai indikasi medis, bertindak secara hati-hati dan teliti, bekerja sesuai
standar profesi, membuat informed consent, mencatat semua tindakan yang dilakukan
(rekam medik), apabila ragu-ragu konsultasikan dengan senior, memperlakukan pasien
secara manusiawi, menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga, dan
masyarakat sekitar. Selain itu juga diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan yaitu meningkatkan kualitas sumber daya, tenaga, peralatan,
pelengkapan dan mateial yang diperlukan dengan menggunakan teknologi tinggi atau
dengan kata lain meningkatkan input dan struktur, memperbaiki metode atau penerapan
teknologi yang dipergunakan dalam kegiatan pelayanan, hal ini berarti memperbaiki
pelayanan kesehatan.
3.2. Saran
Diperlukan suatu pemahaman yang baik agar tidak salah dalam memahami tentang
penjelasan mengenai malpraktek, unsur-unsur malpraktek, aspek hukum malpraktek, serta
contoh kasus yang membedakan antara malpraktek atau bukan, dan pemahaman standar
profesi secara keseluruhan sehingga angka kejadian malpraktek yang dilakukan dokter
dapat ditekan.

34

DAFTAR PUSTAKA
2. Jusuf Hanafiah, Amri Amir. 2008. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta:
EGC
3. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Etika dan Hukum Kesehatan. Jakarta :Rineka Cipta.
3. Suharto G. 2008. Aspek Medikolegal Praktek Kedokteran. Semarang: ABH
Associates.
4. Rahim, Dian H. 2007. Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent) Dan
Perlindungan Hukum Bagi Dokter Informed Consent And Legal Protection For
Doctor Penelitian Hukum Normatif terhadap UUPK No.29/2004 dan PERMENKES
R.I. No.585/ Men.Kes /Per/ IX /1989. Masters thesis, Unika Soegija pranata.
5. Dinamika etika dan hokum kedokteran dalam tantangan zaman. Chrisdiono M.
Achadiat.EGC.
6. Hariyani, Safitri, 2005, SengketaMedik: Alternatif Penyelesaian Perselisihan Antara
Dokter Dengan Pasien, Jakarta: PT. Diadit Media.
7. Hartono HS dkk. 2008. Pemahaman Etik Medikolegal: Pedoman Bagi Profesi Dokter.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
8. World Medical Association. World medical association statement on medical
malpractice. 2 Desember 2013.
9. M Kottow. 2004. The battering of informed consent. J Med Ethics. Cited from :
http://jme.bmj.com/content/30/6/565.full
10. Perkonsil No.2 tahun 2011 tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran
Disiplin Dokter dan Dokter Gigi. Konsil Kedokteran Indonesia.
11. Perkonsil No.16 tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan
Pelanggaran Disiplin Dokter dan Dokter Gigi oleh Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia. Konsil Kedokteran Indonesia.
12. Perkonsil No.15 tentang Organisasi dan Tata Kerja Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia di


Tingkat Provinsi. Konsil Kedokteran Indonesia.

35