Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

Manfaat Minyak Tamanu dalam Pengobatan


Kaki Diabetik

Disusun oleh :
Orisma Agnes Pongtuluran 11-2014-160
Malvin Wiraldo 11-2014-219
Fransisca Magdalena Sutrisna 11-2014-083
Chelsea Vanessa 11-2014-171
Yosi Erlin Aprilina 11-2014-092
Christine Merlinda Timotius 11-2014-351
Pembimbing :
dr. Paran Bagionoto, Sp.B

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah RS Mardi Waluyo Metro


Periode 7 Maret 2016 14 Mei 2016
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta
0

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karuniaNya sehingga referat yang berjudul Manfaat Minyak Tamanu pada Pengobatan Kaki
Diabetik ini dapat diselesaikan.
Referat ini merupakan salah satu pemenuhan syarat kepaniteraan klinik di bagian
Ilmu Bedah RS Mardi Waluyo Metro.
Terima kasih penyusun ucapkan kepada semua pihak yang telah banyak membantu
dalam penyusunan referat ini, khususnya kepada dr. Paran Bagionoto, Sp.B sebagai
pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan, serta dukungan dalam penyusunan
referat ini. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dokter muda dan
semua pihak yang banyak membantu dalam penyusunan referat ini.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran sebagai masukan untuk perbaikan demi
kesempurnaan referat ini.
Demikianlah kata pengantar dari penyusun, semoga referat ini bermanfaat untuk
menambah wawasan kita semua. Sekian dan terima kasih.

Metro, 11 April 2016

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...... 1
Daftar Isi ... 2
BAB I Pendahuluan ...... 3
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1

Kaki Diabetik ........................ 4

2.2

Proses Penyembuhan Luka ... 7

2.3

Minyak Tamanu ............................................................................................ 10

BAB III Pembahasan ............................................................................................................ 12


Daftar Pustaka.... 13

BAB I
2

PENDAHULUAN
Kaki diabetik adalah komplikasi penyakit diabetes melitus yang relatif sering ditemui
dalam praktek sehari hari. Saat ini jumlah jumlah pasien kaki diabetik yang harus
diamputasi masih relatif tinggi walaupun sebenarnya sasaran penanganan kasus kaki diabetik
adalah menghindari amputasi dengan cara identifikasi kasus diabetes melitus dengan risiko
kaki diabetik, perawatan kaki diabetik yang tepat serta pencegahan komplikasi lebih lanjut.
Kaki diabetik umumnya bermula dari luka atau ulkus kecil, Pada penderita diabetes
melitus, adanya suatu neuropati khususnya neuropati perifer sensorik, mengakibatkan
perlindungan terhadap jaringan tubuh sekitarnya berkurang. Duri kecil yang menusuk telapak
kaki misalnya, akan terabaikan karena sensibilitas yang terganggu selanjutnya kemungkinan
besar luka tersebut akan terinfeksi dan menjadi ulkus.
Terjadinya ulkus diabetik pada kaki sebenarnya multifaktorial. Di antaranya adalah
gangguan sensibilitas, motorik dan otonom yang terkait dengan saraf tepi, gangguan sistem
vaskuler dan sistem imun, pengetahuan penderita dan keluarga mengenai penyakitnya, dan
faktor ekonomi.
Tatalaksana penyakit kaki diabetik utamanya ditujukan pada pencegahan amputasi
ekstremitas bawah. Sasaran ini diharapkan tercapai dengan 3 strategi utama yaitu :
identifikasi kaki diabetik dini, pengobatan penyakit akut pada kaki, dan pencegahan
komplikasi. Edukasi pasien dan keluarga memegang peranan penting untuk dapat mencapai
ketiga sasaran tersebut
Identifikasi kaki diabetik dini merupakan hal penting untuk menghindari amputasi pada
penderita diabetes. Untuk mampu mengidentifikasi, pemahaman mengenai faktor risiko
terjadinya kaki diabetik harus ditingkatkan. Salah satunya adalah gangguan fungsi saraf tepi.

BAB II
3

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kaki Diabetik
Kaki diabetik adalah kelainan pada tungkai bawah yang merupakan komplikasi kronik
diabetes mellitus. Suatu penyakit pada penderita diabetes bagian kaki, dengan gejala dan
tanda sebagai berikut :1
1. Sering kesemutan/gringgingan (asmiptomatus).
2. Jarak tampak menjadi lebih pendek (klaudilasio intermil).
3. Nyeri saat istirahat.
4. Kerusakan jaringan (necrosis, ulkus).
Salah satu komplikasi yang sangat ditakuti penderita diabetes adalah kaki diabetik.
Komplikasi ini terjadi karena terjadinya kerusakan saraf, pasien tidak dapat membedakan
suhu panas dan dingin, rasa sakit pun berkurang.1
Beberapa faktor risiko yang diakibatkan polineuropati adalah:

Lesi sensorik yang menyebabkan telapak kaki tidak sensitif terhadap lingkungan atau
landasan yang dapat melukai atau traumatik sehingga memicu terjadinya ulkus.
Lesi proprioseptif menyebabkan posisi bertumpu tubuh tidak tepat. Dalam waktu lama
akan terjadi perubahan struktur kaki karena pergeseran ligamentum dan proses
degenerasi tulang tulang kaki (akibat pembebanan yang tidak benar). Selain itu
gangguan proprioseptif menimbulkan gangguan pada kedinamisan tubuh. Tubuh
menjadi kurang seimbang sehingga penderita mudah terjatuh yang meningkatkan

kemungkinan terjadinya luka.


Lesi otonom (gangguan saraf simpatis) menyebabkan oedem kaki dan venous pooling
yang abnormal. Aliran darah dengan kadar oksigen yang kurang akan mengurangi
efektivitas perfusi jaringan. Lesi otonom menyebabkan kulit menjadi kering dan pecah
pecah. Pada penderita diabetes lesi saraf, khususnya otonom dan proprioseptif, akan
terjadi kelainan sendi yakni menjadi rapuh dan mudah fraktur karena reabsorbsi tulang,

serta terjadi deformitas berat (artropati Charcot).


Lesi motorik menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah distal. Kombinasi lesi
motorik gangguan proprioseptif dan sensorik semakin menyebabkan posisi tubuh tidak
stabil, mudah jatuh, dan terluka. Atrofi otot intrinsik bersama proses degenerasi yang
mengenai ligamentum dan tulang menyebabkan perubahan struktur kaki karena terjadi
pergeseran tulang - tulang kaki (deformitas kaki) seperti hammer toe, claw toe.3
Patofisiologi terjadinya ulkus diabetik dapat dilihat pada gambar 1.4
4

Gambar 1. Patogenesis ulkus diabetik5


Untuk melakukan identifikasi faktor risiko kaki diabetik, maka dapat dimulai dengan 3
(tiga) pertanyaan dasar yaitu :5
1. Apakah penderita mempunyai riwayat amputasi sebelumnya, riwayat ulkus pada
kaki?
2. Apakah penderita mengeluh kehilangan sensibilitas kaki?
3. Apakah ditemukan deformitas atau keterbatasan gerak persendian?
Setelah menemukan jawabannya, sekarang klinisi mulai menentukan langkah untuk mencari
risiko terjadinya ulkus. Neuropati diabetik yang disertai deformitas mempunyai risiko ulkus
diabetik 12,1 kali dibandingkan neuropati tanpa deformitas. (tabel 1)
Tabel 1. Kategori risiko ulkus diabetik6
Derajat Faktor Risiko
0
Tidak ada neuropati sensoris
1
Neuropati sensoris
2
Neuropati sensoris atau penyakit

Rekomendasi Terapi
Evaluasi setiap tahun
Evaluasi setiap 6 bulan
Terapi sepatu khusus

vaskuler perifer dan atau deformitas Edukasi berkala kepada penderita dan keluarga
3

kaki
Bekas ulkus atau bekas amputasi

Evaluasi setiap 1- 2 bulan


Terapi sepatu khusus
5

Edukasi berkala kepada penderita dan keluarga


Bila didapatkan ulkus diabetik, tentukanlah apakah ulkus tersebut disebabkan oleh neuropati
diabetik atau vaskuler, perbeddaan tersebut dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Perbedaan tanda klinik ulkus diabetik akibat neuropati dan vaskuler7
Neuropati Diabetik
Vaskular
Tanpa nyeri
Nyeri
Lokasi ulkus pada titik tumpu terberat
Lokasi ulkus bukan pada titik tumpu
Ada gambaran punched out di sekitar kalus
Tidak ada
Kaki teraba hangat
Kaki teraba dingin
Nadi kaki masih kuat
Nadi kaki hilang
Selanjutnya tentukan klasifikasi ulkus diabetik pada penderita Diabetes mellitus. Menurut
Wagner dikutip oleh Waspadji S (tabel 3).8
Tabel 3. Klasifikasi Ulkus Diabetik
Derajat
0
1
2
3
4

Klinis
Tidak ada luka terbuka, kulit utuh.
Ulkus Superfisialis, terbatas pada kulit.
Ulkus lebih dalam sering dikaitkan dengan inflamasi jaringan.
Ulkus dalam yang melibatkan tulang, sendi dan formasi abses.
Ulkus dengan kematian jaringan tubuh terlokalisir seperti pada ibu jari kaki,

bagian depan kaki atau tumit.


Ulkus dengan kematian jaringan tubuh pada seluruh kaki
Gangguan penyembuhan luka pada ulkus diabetik dan luka kulit yang akut memiliki

patofisiologi yang kompleks. Ulkus diabetik, stasis vena, dan luka kronis terkait tekanan yang
tidak kunjung sembuh selalu disertai oleh hipoksia. Pada awalnya, hipoksia dapat memicu
penyembuhan luka dengan meningkatkan respon inflamasi melalui pembentukan radikal
bebas. Hipoksia yang lama dapat menyebabkan perfusi dan angiogenesis yang inadekuat.
Hiperglikemia juga dapat meningkatkan stres oksidatif ketika produksi oksigen reaktif
melebihi kapasitas antioksidan. Pada orang yang memiliki penyakit diabetes, gangguan saraf
menyebabkan kurangnya infiltrasi leukosit karena denervasi kulit.
2.2. Proses penyembuhan luka
Semua proses pembedahan akan meninggalkan luka. Luka adalah defek struktur
anatomis dan fungsional dari suatu jaringan. Derajat luka dapat bervariasi, mulai dari
hilangnya integritas epitelial di kulit hingga di bawah jaringan subkutan, mengenai struktur
seperti tendon, otot, pembuluh darah dan saraf, organ parenkim dan tulang.9
6

Pada umumnya, luka dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu, yakni luka akut dan
luka kronis. Luka akut adalah luka yang dapat sembuh sendiri dan penyembuhannya sesuai
dengan waktu dan proses penyembuhan yang seharusnya, serta diakhiri dengan kembalinya
fungsi anatomis dan fungsional dari kulit tempat luka. Waktu penyembuhan luka akut
bervariasi dari 5 10 hari, atau dalam 30 hari. Luka kronis adalah luka yang gagal melalui
proses penyembuhan luka normal, tidak dapat diperbaiki dengan proses penyembuhan luka
normal, dan tidak sembuh dalam waktu yang seharusnya. Pada luka kronis terjadi proses
penyembuhan inkomplet yang terganggu oleh berbagai penyebab. Proses ini mengarah pada
penyembuhan dengan proses tak terkoordinasi, sehingga hasil akhir secara anatomis dan
fungsi kurang baik, serta sering terjadi relaps. 9,10 Selain luka akut dan kronis, ada juga yang
disebut luka komplikata. Luka komplikata adalah kombinasi antara defek jaringan dan
infeksi. Pada luka ini terdapat lima tanda radang, yakni kemerahan, panas, nyeri, edema, dan
gangguan fungsi.9
Berjalannya proses penyembuhan luka pada umumnya, yakni melalui 4 fase yang
kontinyu, yakni: (1) koagulasi dan hemostasis, (2) inflamasi, (3) proliferasi, dan (4)
remodelling. Pengelompokkan berdasarkan fase dilakukan untuk memahami proses
penyembuhan luka. Proses ini adalah suatu proses yang kompleks dan melibatkan interaksi
yang terkoordinasi antara sistem imunologis dan biologis yang bermacam-macam. Termasuk
di dalam proses ini adalah serangkaian tahapan yang teregulasi dengan tepat sesuai dengan
kehadiran sel tertentu pada setiap tahap penyembuhan.9
Berikut ini adalah proses terjadinya penyembuhan luka.
Fase I: koagulasi dan hemostasis
Segera setelah terjadinya luka, maka proses koagulasi dan hemostasis akan dimulai di
tempat luka tersebut. Cedera mikrovaskular dan ekstravasasi darah akan menyebabkan
aktifnya mekanisme reflex neuronal sehingga terjadinya konstriksi cepat pembuluh darah
yang diakibatkan oleh kontraksi otot halus di otot sirkular dinding pembuluh darah.9
Pada saat yang sama, proses koagulasi terjadi melalui jalur intrinsik dan ekstrinsik
sehingga menyebabkan agregasi trombosit untuk mengurangi jumlah kehilangan darah dan
memicu pelepasan faktor pembekuan dari trombosit sehingga terbentuk bekuan darah, yang
terdiri dari fibronectin, fibrin, vitronectin, dan trombospondin, yang tidak hanya penting
untuk proses hemostasis, namun juga untuk fase inflamasi.9
Fase II: fase inflamasi

Setelah fase hemostasis dan koagulasi terjadi, selanjutnya terjadilah fase inflamasi
seluler dan humoral yang bertujuan untuk membangun pertahanan imun tubuh terhadap
invasi mikroorganisme. Fase inflamasi terbagi atas fase inflamasi awal dan fase inflamasi
akhir.9
-

Fase inflamasi awal


Fase ini dimulai saat terjadinya akhir dari fase koagulasi hingga tak lama
setelahnya. Dalam fase ini terjadi aktivasi serangkaian komplemen dan inisiasi proses
molekuler yang menyebabkan terjadinya infiltrasi neutrofil pada tempat luka.
Neutrofil akan tertarik ke tempat luka dalam 24 36 jam setelah terjadinya luka
akibat adanya agen kemotaksis untuk melakukan fagositosis untuk menghancurkan
dan menyingkirkan bakteri, partikel asing, dan jaringan yang rusak.9

Fase Inflamasi Akhir


Sel monosit darah akan berubah fenotipe di jaringan luka, dan menjadi makrofag
jaringan yang akan muncul pada tempat luka dan melanjutkan fagositosis 48 72 jam
setelah terjadinya luka. Sel monosit ini merupakan sel yang penting pada fase
inflamasi akhir. Setelah itu, limfosit akan tertarik ke tempat luka 72 jam setelah
terjadinya luka.9

Fase III: fase proliferasi


Ketika proses perlukaan sudah berhenti, hemostasis telah tercapai, dan respon imun
telah bekerja, luka akut akan memasuki proses reparasi jaringan. Fase ini dimulai tiga hari
setelah terjadinya luka dan bertahan selama kurang lebih dua minggu setelahnya. Pada level
makroskopis fase penyembuhan luka ini terlihat dalam pembentukan jaringan granulasi.
Proses-proses yang terjadi pada fase ini adalah sebagai berikut.9
-

Migrasi fibroblas
Fibroblas pertama kali muncul di luka pada hari ketiga setelah terjadinya luka,
berproliferasi menjadi banyak, dan memproduksi matriks protein hyaluronan,
fibronectin, proteoglikan, dan prokolagen tipe 1 dan 3, yang akan dideposit di
lingkungan tersebut.9
Di akhir minggu pertama, terjadi akumulasi matriks ekstraseluler yang akan
mendukung migrasi sel untuk proses penyembuhan. Pada saat ini, fibroblas akan
menjadi fenotipe miofibroblas, yang dapat berkontraksi dan menyebabkan
mendekatnya tepi-tepi luka. Setelah itu, fibroblas akan dieliminasi dengan melalui
mekanisme apoptosis.9
8

Sintesis kolagen
Kolagen adalah komponen yang memegang peranan penting dalam semua fase
penyembuhan luka, terutama pada fase proliferasi dan remodelling, serta merupakan
pembentuk matriks intraseluler pada luka. Kolagen disintesis oleh fibroblas dan
berperan dalam integritas dan kekuatan jaringan.

Angiogenesis dan pembentukan jaringan granulasi


Angiogenesis merupakan proses penting dalam penyembuhan luka dan terjadi
selama seluruh fase penyembuhan berlangsung. Sel endotel amatlah responsif
terhadap faktor angiogenik, terutama FGF, VEGF. Pada saat terjadi luka, maka akan
terjadi cedera mikrovaskuler yang menyebabkan kondisi hipoksia, sehingga jaringan
sekitar akan melepaskan molekul-molekul yang menstimulasi proliferasi dan faktor
pertumbuhan sel endotel. Awalnya, bagian tengah luka tidak memiliki suplai vaskular,
sehingga hanya jaringan yang berada di tepi luka saja yang akan mendapatkan suplai
darah dari pembuluh darah yang tidak terluka dan difusi dari interstitium. Kemudian,
kapiler dari sekitar luka kemudian akan menginvasi luka, dan dalam beberapa hari
akan membentuk jaringan mikrovaskular baru.9

Epitelisasi
Migrasi sel epitel dimulai dari tepi luka dalam beberapa jam setelah perlukaan
terjadi. Awalnya, selapis sel akan terbentuk di atas luka, pada saat yang bersamaan
aktivitasi mitosis sel epitel juga akan meningkat di sekitar tepi luka. Sel-sel yang
bermigrasi kemudian akan menempel pada matriks di bawahnya, dan ketika sel epitel
yang tersebut saling bertemu, migrasi berhenti, dan membran basalis akan mulai
terbentuk.9

Fase IV: fase remodelling


Fase terakhir dalam proses penyembuhan luka adalah fase remodeling, dimana terjadi
pembentukan epitelium baru dan jaringan sikatriks. Sintesis matriks ekstraseluler pada fase
proliferatif dan remodelling diawali dengan pembentukan jaringan granulasi. Fase ini dapat
bertahan hingga 1 2 tahun atau lebih. Proses remodelling luka akut diatur dengan ketat oleh
mekanisme regulasi dengan tujuan menjaga keseimbangan degradasi dan sintesis, sehingga
penyembuhan normal dapat tercapai. Serat kolagen dapat memperoleh kembali kekuatannya
hingga 80% dari kekuatan aslinya, tergantung lokalisasi reparasi dan lama penyembuhannya.9
Selama proses penyembuhan luka, ketebalan fibroblas dan makrofag akan berkurang
karena terjadinya apoptosis. Kemudian, pertumbuhan kapiler akan berhenti, sehingga aliran
9

darah ke area luka akan berkurang dan aktivitas metabolik juga akan menurun. Akhirnya
terbentuklah jaringan sikatriks matur dengan jumlah sel dan pembuluh darah yang sedikit.9

Gambar : Fase-fase penyembuhan luka pada kulit

2.3. Minyak Tamanu (Calophyllum inophyllum L.)


Calophyllum inophyllum L. (Calophyllaceae) adalah sejenis pohon cemara yang tumbuh
di sepanjang pantai dan pulau-pulau di Samudra Hindia dan Pasifik, terutama di Polinesia. 11
Minyak yang diekstrak dari daun digunakan secara topikal untuk mengobati dermatosis,
urtikaria, dan eksim, selain itu, getah kulit pohonnya memiliki efek laksatif. Minyak yang
diolah secara cold-pressed (pemerasan dingin) digunakan untuk mempercepat penyembuhan
luka, mengurangi rasa nyeri akibat neuropati pada penyakit lepra. Minyak ini dapat
digunakan juga pada berbagai jenis luka bakar, luka pasca operasi dan luka bernanah, serta
dermatosis, akne, psoriasis, herpes, reumatik, dan gonorea. 12 Minyak Calophyllum
inophyllum atau disebut juga minyak tamanu dalam berbagai penelitian dilaporkan juga
memiliki efek antibakteri, antiinflamasi, antioksidan, dan meningkatkan kecepatan
reepitelialisasi pada luka.
Komponen yang terdapat dalam minyak Tamanu adalah:
1. Resin
2. Asam lemak esensial (asam linolenat dan asam linoleat)
3. Sterol
4. Triterpene (friedeline, canophyllal, canophyllol, dan canophyllic acid)
5. Xanthone dan steroid (calophylline B, mesuaxanthone, jacareubine, desoxy-6
jacareubine, dimethyllallytetrahydroxy xanthone)
6. Coumarin:
a. Calophyllolide (memiliki efek antibakterial dan antiinfflamasi)
10

b. Inophyllolide (memiliki efek antiviral)


c.

Calophyllic acid (memiliki efek anti parasit dan mempercepat


penyembuhan luka)

d. Tomentolide A
e.

Desoxo-12-hydroxy-12 inophyllolide

f.

Apetalolide

g. Calaustraline
h. Calafloride
7. Komponen aktif lainnya:
a.

Inophyllic acid

b. Calophenic acid
c.

Inophenic acid

d. Inophylloidic acid
Minyak tamanu dimanfaatkan dalam pengobatan luka dan penyakit kulit karena memiliki
efek antibakterial, antiparasitik, antiviral, antiinflamasi, antioksidan, dan mempercepat
penyembuhan luka.13 Efek antibakterial diduga ada pada minyak tamanu karena terdapat
komponen asam lemak yang menyebabkan sifat zat menjadi asam. Sifat antiinflamasi berasal
dari kandungan triterpene, xanthone, dan steroid, yang memiliki peran dalam menekan proses
peradangan. Sifat antioksidan berasal dari neo-flavonoid pada coumarin dan juga xanthone,
kedua komponen ini dapat mencegah terjadinya peroksidasi lipid, sehingga melindungi kulit
dari radikal bebas.
BAB III
PEMBAHASAN
Dalam 20 tahun terakhir, minyak tamanu mulai banyak diteliti dalam bidang kesehatan
dan kecantikan. Penggunaan minyak tamanu dalam pengobatan luka sudah diterapkan di
daerah Pasifik dan Asia Tenggara secara tradisional sebelum adanya zaman pengobatan
modern. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan hingga saat ini membuktikan bahwa
minyak tamanu memiliki berbagai zat-zat aktif yang berfungsi untuk proses penyembuhan
luka.
Proses penyembuhan luka selalu melalui 4 fase yang kontinyu, yakni: (1) koagulasi dan
hemostasis, (2) inflamasi, (3) proliferasi, dan (4) remodelling. Komponen dalam minyak
tamanu dapat mempercepat fase-fase penyembuhan luka menjadi lebih cepat.
11

Setelah fase koagulasi dan hemostasis berakhir, maka segera dimulai fase inflamasi.
Pada fase inflamasi akan terjadi proses fagositosis untuk menghentikan invasi patogen.
Komponen asam lemak dan coumarin yang terkandung dalam minyak tamanu memiliki efek
antibakterial, antiviral, dan antifungal, sehingga mempercepat fagositosis dan penyembuhan.
Antioksidan yang terdapat pada coumarin dan xanthone dapat mengurangi efek radikal bebas
yang dapat merusak jaringan tubuh. Efek antiinflamasi yang ada pada tripertene, xanthone,
dan steroid akan mempercepat fase inflamasi, sehingga dapat segera memasuki fase
proliferasi.
Pada fase proliferasi, terjadi migrasi fibroblas, sintesis kolagen, angiogenesis dan
pembentukan jaringan granulasi, serta epitelialisasi. Kandungan coumarin pada minyak
tamanu dapat mempercepat epitelialisasi karena merupakan zat angiogeneik yang dapat
merangsang vascular endothelial growth factor (VEGF) pada sel endotel sehingga
mempercepat proses vaskularisasi jaringan dan pembentukan jaringan baru.
Pada tahap akhir, fase remodelling dimana terjadi proses apoptosis sehingga
pertumbuhan kapiler akan berhenti dan aktivitas metabolik jaringan terhenti, akhirnya terjadi
jaringan sikatriks matur. Minyak tamanu memiliki komponen xanthone yang dapat membantu
mempercepat pembentukan jaringan granulasi lalu menginduksi apoptosis, sehingga proses
remodelling menjadi lebih cepat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Boulton AJM, Kirsner RS, Vileikyte L. Neuropathic Diabetic Ulcers . N Engl J Med
2004; 351 :. 48 - 55.
2. Said G, Lacroix C, Lazeron P, Ropert A, Plante V, Adams D. inflammatory Vasculopathy
in Multifocal Diabetic Neuropathy. Brain 2003; 126 : 376 385.
3. Boulton AJM, Malik RA, Arezzo JC, Sosenko JM. Diabetic Somatic Neuropathies.
Diabetes Care 2004 : 27(6). 1458 -78.
4. Boulton AJ. The Diabetic Foot. Blackweel Publising, 2002.
5. Meijer JWG, Smit AJ, Lefrandt JD, Van der Hoeven JH, Hoogenberg K, Links TP. Back
to Basics in diagnosing diabetic polyneuropathy with the tuning fork. Diabetes Care
2005; 28: 2201 2205.

12

6. Donnely R, Emsie Smith AM, Gardner LG, Morris AD. ABC of arterial and venous
disease: vascular complications of diabetes. BMJ 2000; 320 : 1062 1066.
7. Waspadji S. Kaki Diabetes. Dalam : Aru W, dkk, editors, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III,
Edisi keempat, Penerbit FK UI, Jakarta 2006.
8. Misnadiarly. Diabetes Mellitus : Ulcer, Infeksi, Ganggren. Penerbit Populer Obor, Jakarta,
2006.
9. Velnar T, Bailey T, Smrkolj V. The Wound Healing Process: An Overview of the Cellular
and Molecular Mechanisms. J Int Med Res. 2009; 37(5): 1528-42.
10. Guo S, DiPietro L. Factors Affecting Wound Healing. J Dent Res. 2010; 89(3): 219-29.
11. Prabakaran K, Britto SJ. Biology, argoforestry and medicinal value of calophyllum
inophyllum L. (clusiacea): a review. International Journal of Natural Products Research
2012; 1(2): 24-33
12. Lguillier T, Lecs-Bornet M, Lmus C, Rousseau-Ralliard D, Lebouvier N, Hnawia E, et
al. The wound healing and antibacterial activity of five ethnomedical calophyllum
inophyllum oils: an alternative therapeutic strategy to treat infected wounds. PLoS ONE
10(9): e0138602. doi:10.1371/journal.pone.0138602
13. Sundur S, Shrivastava B, Sharma P, Raj SS, Jayasekhar VL. A review article of
pharmacological activities and biological importance of calophyllum inophyllum. IJAR
2014; 2(12): 599-603.

13