Anda di halaman 1dari 33

TRAUMATIK ULSER

Laporan Kasus Minor

Disusun oleh:
Grisella Widjaja
160112150079

Pembimbing:
Wahyu Hidayat, drg.,Sp.PM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
BAB II LAPORAN KASUS..................................................................................3
BAB III TINJAUAN PUSTAKA........................................................................14
BAB IV PEMBAHASAN.....................................................................................28
BAB V KESIMPULAN......................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................32

BAB I
PENDAHULUAN

Mukosa ulser adalah suatu keadaan mukosa baik lamina propia maupun
epitel yang mengalami kerusakan dan membentuk suatu kawah , terkadang terlihat
jelas secara klinis dengan adanya edema atau proliferasi

yang disebabkan

pembengkakan jaringan sekitarnya. (Scully, 2004)


Traumatik ulser yang terjadi pada mukosa oral merupakan suatu lesi yang
disebabkan oleh berbagai bentuk dari trauma. (Rajendran & Sundaram, 2012).
Traumatik ulser baik akut maupun kronis pada mukosa oral sangat umum terjadi
pada pasien. Trauma biasanya terjadi disebabkan oleh adanya mekanik, seperti
kontak dengan makanan tajam, tidak sengaja tergigit saat pengunyahan,
penyikatan gigi yang terlalu besemngat. Trauma juga bisa terjadi dikarenakan
trauma termal, listrik ataupun kimia (Neville, et al., 2002)
Pada makalah ini akan dibahas mengenai kasus traumatik ulser yang
terjadi pada pasien wanita berumur 22 tahun yang datang ke RSGM Universitas
Padjajaran,

termasuk

mengenai

pembahasan

etiologi,

gambaran

klinis,

histopatologi, diagnosis, diagnosis banding , maupun rencana perawatan yang


akan dilakukan dalam menangani kasus traumatik ulser.
Diagnosis dilakukan berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis
mengenai

traumatik ulser yang terjadi pada mukosa oral pasien. Dengan

mementukan diagnosis secara tepat, maka diharapakan akan memberikan rencana

perawatan yang tepat juga, sehingga dapat memberikan kesembuhan bagi pasien
yang mengalami traumatik ulser.
Diagnosis banding dilakukan untuk membedakan dari penyakit atau
kondisi tertentu lainnya yang mempunyai

gejala yang sama. Karsinoma sel

skuamosa adalah salah satu tumor ganas yang menjadi salah satu diagnosis
banding dari traumatik ulser (Laskaris, 2006). Sangat penting bagi operator untuk
mengetahui jumlah ulser yang terjadi dan lamanya kesembuhan , karena tumor
ganas, biasanya terjadi satu ulser dan jika ulser tidak menunjukkan kesembuhan,
lebih dari 3 minggu maka patut dicurigai sebagai neoplasma, dan sebaiknya
dilakukan suatu biopsi (Scully, 2004).
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mengenai laporan kasus minor
dari bagian departemen ilmu penyakit mulut, Universitas Padjadjaran, dan
makalah ini diharapakan mampu memberikan pengetahuan mengenai traumatik
ulser bagi para pembaca.

BAB II
LAPORAN KASUS

2.

Status Klinik IPM

2.1

Identifikasi Pasien
Nama

: Ny. Siti XXX

Usia

: 22 tahun

Agama

: Islam

Jenis kelamin

: Wanita

Pekerjaan

: Mahasiswa

Status

: Belum menikah

Alamat

: Bandung

Nomor telepon

: 087875544xxx

Tanggal pemeriksaan : 10 Maret 2016

2.2

Identifikasi Masalah

2.2.1 Anamnesa
Pasien datang dengan keluhan sariawan di bibir bagian dalam atas kanan
sejak 4 hari yang lalu. Sebelum sariawan, daerah tersebut terkena makanan yang
tajam. Pasien jarang mengalami sariawan dan saat sariawan biasanya karena
tergigi atau makan makanan tajam. Pasien baru mengalami masa menstruasi

seminggu yang lalu. Pasien jarang makan buah ( 1 minggu sekali) dan sering
mengkonsumsi sayuran (2 hari sekali), serta pasien jarang mengkonsumsi vitamin
tambahan. Sariawan terasa lebih sakit jika tersentuh sesuatu. Pasien tidak
mengalami gejala lain, seperti demam, flu dll. Pasien biasanya tidak mengobati
sariawan. Riwayat keluarga jarang mengalami sariawan. Riwayat dental, pasien
pernah menambal giginya 6 bulan yang lau dan tidak ada keluhan. Sekarang
pasien mau disembuhkan sariawannya.

2.2.2 Riwayat Penyakit Sistemik


1. Penyakit Jantung : YA/TIDAK
2. Hipertensi

: YA/TIDAK

3. Diabetes Melitus : YA/TIDAK


4. Asma/Alergi

: YA/TIDAK

5. Penyakit Hepar

: YA/TIDAK

6. Kelainan GIT

: YA/TIDAK Gastritis (saat menstruasi)

7. Penyakit Ginjal

: YA/TIDAK

8. Kelainan Darah

: YA/TIDAK

9. Hamil

: YA/TIDAK

10. Kontrasepsi

: YA/TIDAK

11. Lain-lain

: YA/TIDAK

2.2.3 Riwayat Penyakit Terdahulu


Paien tidak mempunyai penyakit sistemik sebelumnya.

2.2.4 Kondisi Umum


1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran

: Compus Mentis

3. Suhu

: Afebris

4. Tensi

: 100 / 60 mmHg

5. Pernapasan

: 24 x / menit

6. Nadi

: 84 x / menit

2.2.5 Pemeriksaan Ekstra Oral


1. Kelenjar limfe :
Submandibul

Kiri

Teraba + / -

Lunak / Kenyal / Keras

Sakit

+ /-

Kana

Teraba + / -

Lunak / Kenyal / Keras

Sakit

+ /-

Submental

n
Kiri
Kana

Teraba + / Teraba + / -

Lunak / Kenyal / Keras


Lunak / Kenyal / Keras

Sakit
Sakit

+ /+ /-

Servikal

n
Kiri
Kana

Teraba + / Teraba + / -

Lunak / Kenyal / Keras


Lunak / Kenyal / Keras

Sakit
Sakit

+ /+ /-

n
2. Mata

:Sklera : non-ikterik, konjungtiva : anemis, pupil : isokor

3. TMJ

: Kliking kanan, deviasi kiri

4. Bibir

:Inkompeten, tonus : hipotonus, kelembapan : (+)

5. Wajah : Asimetris, profil wajah cembung

Terdapat lesi, jenis : papula, lokasi :: kiri bawah bibir, jumlah : 1, warna
coklat, bentuk : bulat, ukuran :1mm, Menonjol : 0,5mm, tepi: reguler
Terdapat lesi, jenis : pustula, lokasi :: pipi kanan, jumlah : 3, warna putih,
bentuk : bulat, ukuran : 1 mm, Menonjol : 1 mm, tepi : reguler, jelas
6. Sirkum oral

: TAK

7. Lain-lain

: TAK

2.2.6 Pemeriksaan Intra Oral


1. Kebersihan mulut :
Baik / Sedang / Buruk
Plak +/ Kalkulus +/ Stain +/2. Gingiva
: Hiperpigmentasi coklat anterior RA dan RB
3. Mukosa bukal

: Teraan gigitan kanan dan kiri


Terdapat lesi, jenis : makula, lokasi :: kiri mukosa
bukal a/r gigi 16, jumlah :1, warna: coklat, , ukuran :
1mm

4.Mukosa labial

: Terdapat lesi, jenis : ulser, lokasi :: kanan a/r 13,


jumlah : 2 jadi 1, warna putih, bentuk : oval, ukuran :
7 x 2 mm, kedalaman : dangkal, tepi : ireguler, jelas ,
jaringan sekitar : eritema

5.Palatum durum

: Dalam

6. Palatum mole

: Terdapat lesi, jenis : ptechie , lokasi :: kiri, jumlah : 3,


warna merah, bentuk : bulat, ukuran : 1 x 1 mm,
tepi : jelas

7. Frenulum

: TAK

8. Lidah

: Teraan gigit kiri, kanan


Terdapat lesi, jenis : makula , lokasi :: 1/3 dorsal
lidah, jumlah : 1, warna hiperpigmentasi coklat,
bentuk : bulat, ukuran : 8x8 mm,
Terdapat pseudomembran putih kekuningan bagian
dorsal lidah

8. Dasar mulut

: TAK

2.2.7 Status Gigi Geligi :


18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28
48 47 46 45 44 43 42 41

31 32 33 34 35 36 37 38

Keterangan :
: penambalan sewarna gigi
: gigi hilang
Gigi 18,38 parsial eruption
Gigi 38,48 uneruption

2.2.8 Pemeriksaan Penunjang


Radiologi

: TDL

Darah

: TDL

Patologi anatomi : TDL


Mikrobiologi

: TDL

2.2.9 Diagnosis
D

Traumatic Ulcer

DD

SAR

Coated Tongue

/
DD

Pseudomembra

Linea Alba

/
DD

n
Cheek Biting

/
D

Crenated Tounge

/
DD

Makroglossia

/
D

/
Phsiology Pigmented

/
D

Cafe Au Lait Pigmentation

/
D

Nevus Vulgaris

/
D

Acne Vulgaris

/
D
/
D

/
2.2.10 Rencana Perawatan dan Prognosis
1. Farmakologis
Pro pemberian resep obat
R/ Chlorhexidine Gluconate 0,2 % fls no 1
2 dd 10 ml garg
R/ vitamin B12 50mcg tab XIV
2 dd 1
R/ asam folat 400 mcg tab vii

2 dd 1
2. Non-farmakologis
a.Edukasi
OHI : Sikat gigi dan sikat lidah
Diet
: makan sayur dan buah-buahan, serta minum air putih
Vitamin
: B12 , dan asam folat
b. Komunikasi. : menjelaskan mengenai penyebab penyakit dan
kronologis penyakit

Gambar 2.1 Bentuk lesi saat pasien pertama kali dating


(dokumentasi pribadi)

2.3

Laporan Kontrol

2.3.1 Identifikasi Pasien


Nama

: Ny. Siti XXX

Usia

: 22 tahun

Nomor rekam medis

: 2014-XXX

Jenis kelamin

: Wanita

Tanggal pemeriksaan : 21 Maret 2016

2.3.2 Anamnesa

10

Pasien datang kontrol 11 hari setelah dilakukan pemeriksaan oral. Pasien


sebelumnya mengeluh ada sariawan dibagian dalam bibir atas kanan dan sekarang
sudah tidak ada keluhan. Pasien merasa sembuh setelah 4 hari menggunakan obat
kumur chlorhexidine gluconate 0,2% dan meminum vitamin B12 dan asam folat,
namun pasien meminum vitamin tidak teratur. Pasien juga memperbanyakan
makan buah-buahan, sayuran dan minum air putih.

2.3.3 Pemeriksaan Ekstra Oral


1. Kelenjar limfe :
Submandibul

Kiri

Teraba + / -

Lunak / Kenyal / Keras

Sakit

+ /-

Kana

Teraba + / -

Lunak / Kenyal / Keras

Sakit

+ /-

Submental

n
Kiri
Kana

Teraba + / Teraba + / -

Lunak / Kenyal / Keras


Lunak / Kenyal / Keras

Sakit
Sakit

+ /+ /-

Servikal

n
Kiri
Kana

Teraba + / Teraba + / -

Lunak / Kenyal / Keras


Lunak / Kenyal / Keras

Sakit
Sakit

+ /+ /-

n
2. Bibir

: Inkompeten, tonus : hipotonus, kelembapan : (+)

3. Wajah : Asimetris, profil wajah cembung


Terdapat lesi, jenis : papula, lokasi :: kiri bawah bibir, jumlah : 1, warna
coklat, bentuk : bulat, ukuran :1mm, Menonjol : 0,5mm, tepi: reguler
Terdapat lesi, jenis : pustula, lokasi :: pipi kanan, jumlah : 3, warna putih,
bentuk : bulat, ukuran : 1 mm, Menonjol : 1 mm, tepi : reguler, jelas

11

4. Sirkum oral

: TAK

5. Lain-lain

: TAK

2.3.4 Pemeriksaan Intra Oral


1. Kebersihan mulut :
Debris Indeks
16
0
11
0
46

26

1
31

Kalkulus Indeks
16
0
11

0
36

1
1

0
46

26

0
31

0
0

36

OHI-S
Baik/

sedang/

buruk
Stain +/-

DI = 4/12
OHI-S = DI+CI = 4/12 = 0,333
CI = 0/12

2. Gingiva

: Hiperpigmentasi coklat anterior RA dan RB

3. Mukosa bukal

: Teraan gigitan kanan dan kiri


Terdapat lesi, jenis : makula, lokasi :: kiri mukosa
bukal a/r gigi 16, jumlah :1, warna: coklat, , ukuran :
1mm

4.Mukosa labial

: Terdapat lesi, jenis : ulser, lokasi :: kanan a/r 13,


jumlah : 2 jadi 1, warna putih, bentuk : oval, ukuran :
7 x 2 mm, kedalaman : dangkal, tepi : ireguler, jelas ,
jaringan sekitar : eritema

5.Palatum durum

: Dalam

6. Palatum mole

: Terdapat lesi, jenis : ptechie , lokasi :: kiri, jumlah : 3,

12

warna merah, bentuk : bulat, ukuran : 1 x 1 mm,


tepi : jelas
7. Frenulum

: TAK

8. Lidah

: Teraan gigit kiri, kanan


Terdapat lesi, jenis : makula , lokasi :: 1/3 dorsal
lidah, jumlah : 1, warna hiperpigmentasi coklat,
bentuk : bulat, ukuran : 8x8 mm,
Terdapat pseudomembran putih kekuningan bagian
dorsal lidah

8. Dasar mulut

: TAK

2.3.5 Hasil Pemeriksaan Penunjang


TDL
2.3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding
D

Linea Alba

DD

Cheek Biting

/
D

Crenated Tounge

/
DD

Makroglossia

/
D

/
Phsiology Pigmented

/
D

Cafe Au Lait Pigmentation

/
D

Nevus Vulgaris

/
D

Acne Vulgaris

13

/
2.3.7 Rencana Perawatan dan Perawatan
Pro/ Oral Hygiene Instructions
Penghentian penggunaan obat kumur chlorhexidine gluconate 0,2%, vitamin
B12 dan asam folat

Gambar 2.1 Lesi setelah 1 minggu


(dokumentasi pribadi)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1

Definisi Ulser dan Traumatik Ulser


Definisi ulser adalah suatu keadaan pada mukosa (lamina propia maupun

epitel) yang mengalami kerusakan dan membentuk suatu kawah , terkadang


terlihat jelas secara klinis dengan adanya edema atau proliferasi jaringan sekitar
ulser. Saat jaringan sekitarnya mengalami inflamasi, maka akan terlihat berwarna
merah disekitar ulser yang bewarna abu-abu atau kuning. (Scully, 2004). Menurut
Langlais (2000), ulser adalah suatu luka terbuka pada jaringan mukosa yang
memperlihatkan disintegrasi dan nekrosis jaringan dan meluas melewati lapisan
basal dari epitel dan ke dalam dermisnya, dan akan membentuk jaringan parut jika
sembuh.

Gambar 3.1 Mukosa Oral (Wikipedia, diakses 20 April 2016)


14

15

Menurut

Scully (2004), ulser merupakan hasil akhir dari manifestasi

umum yang sering

terjadi dikarenakan

berbagai macam kondisi yang

mennyebabkan kerusakan epitel, seperti:


1. Penyebab Lokal :
Trauma Mekanis
Burn (termal, elektrik, kimia)
Reccurent Apthae
Malignant Neoplasma
2. Obat
3. Penyakit Sistemik
Pengertian dari traumatic ulser sendiri adalah lesi pada mukosa membran
oral yag disebabkan oleh beberapa bentuk trauma (Rajendran & Sundaram, 2012).
Traumatik ulser ini merupakan keadaan lesi oral yang umum terjadi pada pasien
(Laskaris, 2006). Lesi ini terjadi pada semua umur, dengan didominasi pada pria.
Traumatik ulser paling sering terjadi pada lidah, walupun beberapa kasus terlihat
pada gingiva, mukosa bukal, dasar mulut, palatum dan bibir (Neville et al., 2002).

3.2

Etiologi Tramatik Ulser


Trauma biasanya terjadi karena disebabkan secara mekanis, seperti kontak

dengan makanan atau benda asing yang tajam, tidak sengaja tergigit saat
pengunyahan, penyikatan gigi yang terlalu besemangat, tambalan kasar,
penempatan gigi tiruan serta instrumen dental (Laskaris, 2006; Neville et al.,
2002).
Salah satu penyebab mekanik dari traumatik ulser adalah penempatan gigi
tiruan baru. Traumatik ulser terjadi satu sampai tiga hari setelah insersi gigi tiruan.
Penyebab langsung biasanya dikarenakan sayap perluasan landasan yang

16

berlebihan atau oklusi tidak seimbang. Kondisi menahan resistensi mukosa dari
iritasi mekanik ini dapat dipredisoposisi oleh seperti diabetes melitus, defisiensi
malnutrisi, radioterapi atau xerostomia (Rajendran & Sundaram, 2012).
Contoh lainnya traumatik ulser yang disebabkan secara mekanis adalah
penggunaan cotton roll yang merupakan instrumen dental. Traumatik ulser terjadi
saat cotton roll kering ditempatkan dokter gigi dan diambil secara kasar, sehingga
mukosa yang dibawahnya ikut terangkat (Rajendran & Sundaram, 2012).
Trauma ulser yang disebabkan

penyikatan gigi terlalu bersemangat

biasanya terjadi pada attached gingiva pada regio gigi kaninus dan premolar
maksila. Ulser trauma ini dapat salah menjadi lesi infeksi jika tidak
memperhatikan riwayat sebelumnya dengn benar. Selain adanya trauma ulser ,
juga dapat terlihat dengan adanya resesi gingiva, dan clefting pada margin gingiva
(Rajendran & Sundaram, 2012).
Trauma juga bisa terjadi dikarenakan trauma termal, listrik ataupun kimia.
Kontak luka bakar memerlukan area perantara yang baik dan melibatkan arus
listrik melewati tubuh dari titik kontak ke area perantara. Kebanyakan listrik
penyebab traumatik ulser pada rongga mulut adalah tipe busur dan

air liur

bertindak sebagai mediator medium dan listrik busur mengalir dari sumber listrik
ke mulut. Sebagian besar kasus terjadi akibat pada wanita yang mengunyah atau
menggigit akhiran kabel (Neville et al., 2002)
Pada traumatik ulser diakibatkan oleh termal dalam rongga mulut timbul
dari konsumsi makanan atau minuman panas. Oven / microwave dikaitkan dengan
peningkatan frekuensi termal pada traumatik ulser karena kemampuannya untuk

17

menghasilkan makanan yang dingin di luar tetapi sangat panas di dalam (Neville
et al., 2002).
Traumatik ulser dapat disebabkan oleh gigi yang patah atau tajam,
tambalan yang kurang baik, iritasi gigi tiruan, iritasi kawat orthodontik, dan
adanya kemungkinan luka yang diakibatkan oleh diri sendiri (tergigit ketika
makan, kebiasaan menggigit bibir). Ulser ini dapat terjadi pada berbagai tingkatan
usia dan jenis kelamin (Gandolfo, 2006; Langlais, 2000).
Menurut Houston (2009), traumatik ulser yang disebabkan trauma kimia
adalah penggunaan zat kimia aspirin, hydrogen peroksida, silver nitrat, dan fenol
didalam rongga mulut sehingga dapat merusak berbagai daerah pada membran
mukosa

3.3

Gambaran Klinis Traumatik Ulser


Gambaran klinis pada traumatik ulser umumnya bervariasi, tetapi biasanya

muncul dengan jumlah satu, permukaan merah atau keputihan-kuning halus dan
eritemato disekitarnya . Traumatik ulser terlihat ireguler mengikuti bentuk benda
yang melukai mukosa,dan biasanya terasa lembut saat dipalpasi, dan sembuh
tanpa jaringan parut dalam waktu 6-10 hari,atau sembuh secara spontan atau
setelah dihilangkan penyebabnya. Iritasi kronis dapat menyebabkan hyperplasia
dan hyperkeratosis. Namun, ulser traumatik kronis secara klinis dapat menyerupai
karsinoma (Laskaris, 2006).

18

Gambar 3.2 Traumatik ulser pada bukal mukosa posterior


(Neville et al., 2002)

Gambar 3.2 Traumatik ulser pada lateral lidah


(Neville et al., 2002)
Pada traumatik ulser yang disebabkan makanan atau minuman panas
biasanya muncul pada palatum atau mukosa bukal posterior. Gambaran klini
terlihat sebagai zona eritema dan ulserasi yang sering menunjukkan adanya sisasisa epitel nekrotik di pinggiran (Neville et al., 2002).
Pada traumatik ulser yang disebabkan gigi tiruan terlihat ulser kecil, sakit,
ditutupi oleh membran nekrotik abu-abu dan adanaya inflamasi disekitar trauma

19

dengan adanya batas tinggi dan tegas dan pada pasien yang menyikat gigi terlalu
keras, akan memberikan sensasi terbakar dan sakit(Rajendran & Sundaram, 2012).

3.4

Histopatologi Traumatik Ulser


Traumatik ulser adalah ulser nonspesifik dan secara mikroskopis

menunjukkan hilangnya permukaan epitel denagn adanya eksudat fibrin yang


menutupi jaringan ikat. Batas epitel biasanya menunjukkan adanya aktifitas
proliferasi.

Adanya

infiltrasi

polimorfonuklear

leukosit

dalam

jaringan

ikat,biasanya dibawah area ulserasi, walaupun pada lesi kronis mungkin


digantikan oleh limfosit dan sel plasma. Terlihat kapiler mengalami dilatasi dan
proliferasi. Aktifiras fibroblas terkadang menonjol dan makrofag mungkin
terdapat jumlah yang lumaya banyak (Rajendran & Sundaram, 2012).
Pada ulser traumatik simpel biasanya ditutupi membran fibroprulen yang
mengandung fibrin yang didalamnya terdapat neutrofil juga. Ketebalan membran
biasnya bervariasi. Permukaan epitel sekitar dapat normal atau menunjukkan
sedikit hiperplasia dengan atau tanpa hiperkeratosis. Dasar ulser mengandung
jaringan granulasi yang mendukung masuknya limfosir,histiosit, neutrofil dan
kadang-kadang sel plasma.
Neville dkk. (2009) menuliskan bahwa ulser traumatik pada anak-anak,
disebut Riga-Fede yang muncul pada permukaan ventral lidah. Ulser ini bersifat
kronis, dengan gambaran histopatologis yang disebut ulserasi eosinofilik .
Pada pasien dengan ulser eosinofil, mempunyai pola yang mirip.
Bagaimanapun sel inflamasi infiltrasi meluas ke jaringan yang lebih dalam, dan
dan juga menunjukan limfosit dan histiosit bercampur dengan eosinofil. Sebagai

20

tambahan, jaringan ikat pembuluh darah dalam ulserasi mungkin menjadi


hiperplastik dan menyebabkan elevasi permukaan. (Neville et al., 2002)

3.5

Diagnosa
Lesi ulser dalam rongga mulut dapat disebabkan oleh berbagai macam

penyebab dan memiliki tanda klinis yang sama. Diagnosa ditegakkan dengan
anamnesa mengenai gejala dan tanda klinis lesi, rekurensi dan predileksi yang
dihubungkan dengan sumber pencetus. Gejala klinis seperti trauma dapat sembuh
dalam beberapa hari. Apabila lesi ini tidak sembuh dalam waktu 10-14 hari maka
dilakukan biopsi untuk menegakkan diagnosa apakah ini merupakan suatu
keganasan atau bukan. (Laskaris, 2006; Neville et al., 2002)

3.6

Diagnosa Banding
Diagnosa banding dapat berupa karsinoma sel skuamosa atau keganasan

lainnya, stomatitis aftosa rekuren (SAR), sifilis, ulser eosinofil , tuberkulosis,


mikosis sistemik (Laskaris, 2006). Pada makalah ini akan dibahas mengenai
karsinoma sel skuamosa, SAR, dan sifilis.
1. Karsinoma Sel Skuamosa
Karsinoma sel skuamosa adalah 10 dari kanker yang sering terjadi
didunia. Kanker ini sering terjadi pada orang yang sudah tua berumur diatas 40
tahun, tapi sekarang ini bisa terjadi pada dewasa muda (Scully, 2004). Karsinoma
sel skuamosa sering terjadi pada pria dibandingkan wanita (2:1) (Laskaris, 2006).
Etiologi karsinoma sel skuamosa adalah multifaktorial. Faktor predisposisi

21

terpenting adalah rokok tobako, alkohol, paparan sinar matahari, OHI yang buruk,
kekurangan zat besi, sirosis hati, infeksi kandida, virus onkogenik, gen tumor
suspresor (Laskaris, 2006).
Tampilan klinis bermacam-macam, dan mempunyai mimik mirip dengan
beberapa penyakit. Karsinoma awal mungkin muncul dengan lesi putih atau
merah, ataupun masa exophytic.

Bagaimanapun, kebanyakan tampilan klinis

berbentuk erosi atau ulser (Laskaris, 2006).


Tampilan ulser mempunyai permukaan papilari ireguler, batas yang lebih
naik, dan dasar yang keras saat dipalpasi. Lesi biasanya kronis. Pada permukaan
lidah bagian lateral, ventral dan bibir adalah area yang sering terjadi (Laskaris,
2006).

Gambar 3.3 Skuamosa Sel Skuamosa pada lateral lidah


(Laskaris, 2006)
Terapi squamous cell carcinoma adalah eksisi bedah, radioterapi,
kemoterapi (Langlais, 2000; Laskaris, 2006).

2. Stomatitis Aftosa Rekuren

22

Stomatitis aftosa rekuren (SAR) adalah penyakit rongga mulut yang paling
sering dijumpai di masyarakat, dengan prevalensi mencapai 20-25% dan biasanya
ulser berbentuk kecil dengan bentuk bulat atau oval, dengan berulang secara
multipel , mempunyai batas yang jelas , dengan eritema disekitarnya dan
mempunyai dasar abu-abu atau kuning SAR ini terjadi pada mukosa bergerak dan
non keratin, dan jarang terjadi pada gingiva dan palatum (Scully, 2004).
Para peneliti mengatakan bahwa SAR bukan merupakan penyakit tunggal ,
melainkansuatu

keadaan patologis dengan manifestasi klinis yang serupa.

Keadaan patologis dapat berupa gangguan imunologi, defisiensi hematologi,


abnormalitas psikologis, dan alergi(Greenberg & Michael, 2003)
Berdasarkan karakteristik klinis, SAR diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
ulser minor, ulser mayor (Penyakit Sutton, periadenitis mucosa necrotica
recurrens) dan ulser herpes (Greenberg & Michael, 2003).
1. Minor SAR disebut juga sebagai Mikulicz aphthae atau ulser aftosa
ringan. Minor SAR adalah ulser yang paling umum terjadi, dan
merupakan 80% dari RAS. Ukuran ulser bervariasi, mulai dari 8
sampai 10 mm

yang ditutupi membran putih kekuningan dan

lingkaran merah tipis disekitarnya. SAR ini dapat single maupun


multipel (2-6) dan paling sering terjadi pada permukaan mukosa
mukosa tidak berkeratin seperti mukosa labial, mukosa bukal, dan
dasar mulut. Ulser akan sembuh dalam 7-14 hari tanpa bekas luka
(Greenberg & Michael, 2003; Laskaris, 2006; Osterkamp & Whitten,
n.d.).

23

2. Mayor RAS juga dikenal sebagai periadenitis mukosa rekuren


necrotika atau penyakit Sutton. Mayor SAR terjadi sekitar 10-15%
dari jumlah populasi pasien. Ulser berukuran 1- 2 cm dan area mulut
yang paling umum terjadi adalah dari bibir, palatum , lunak, dan
tenggorokam,

bagian mukosa mastikasi seperti dorsum lidah atau

gingiva mungkin dapat terjadi juga. Jumlah lesi bervariasi, bisa 1- 5.


Ulser dapat bertahan 3 sampai 6 minggu dan sembuh dengan adanya
jaringan parut (Greenberg & Michael, 2003; Laskaris, 2006;
Osterkamp & Whitten, n.d.).
3. Ulser herpetikum terlihat dengan kumpulan ulser multipel rekuren
berukuran 2-3mm, berjumlah 10- 100 ulser . Ulser herpes dapat
bergabung membentuk ulser besar yang tidak teratur. Ulser terjadi
selama sekitar 10-14 hari. Tidak seperti ulser herpes, ulser herpetikum
tidak didahului oleh vesikel dan tidak mengandung sel-sel yang
terinfeksi virus. Ulser herpetikum lebih sering terjadi pada wanita dan
memiliki usia lanjut onset dari varian klinis lain dari RAS. Ulser
bertahan 1 sampai 2 minggu dan sembuh tanpa adanya jaringan parut
(Greenberg & Michael, 2003; Laskaris, 2006; Osterkamp & Whitten,
n.d.) .

24

Gambar 3.4 Minor Stomatitis Aftosa Rekuren


(Laskaris, 2006)

3. Sifilis
Sifilis adalah penyakit seksual menular yang relatif umum yang
disebabkan treponema pallidum. Gambaran klinis syphilis bisa dapatan
(umum) atau kongenital (jarang). Sifilis dapatan diklasifikasikan sebagai
primer, sekunder dan tersier. Karakteristik lesi pada tahap primer adalah
chancre yang tampak pada daerah inokulasi biasanya terjadi 3 minggu setelah
infeksi. Oral chancre terjadi pada 5-10% kasus dan secara klinis merupakan
ulcer yang tidak nyeri dengan permukaan yang halus, tepi yang meninggi, dan
dasar yang keras. Sering ditemukan adanya Limpadenopati dekat daerah
tersebut. Chancre secara khas menetap selama 2-4 minggu dan sembuh
dengan spontan, sehingga pasien merasa tidak membutuhkan perawatan.
Tahap sekunder terjadi Setelahi 6-8 minggu munculnya chancre, dan
terjadi selama 2-10 minggu. Lesi oral yang timbul adalah mucous patches
(umum), makular sifilis, dan condylomata lata (jarang). Gejala uang
menyertainya adalah malaise, demam tingkat rendah, pusing kepala, lakrimasi,
sakit tenggorokan, kehilangan berat badan, myalgia dan multipel arthralgia,

25

dan juga muncul manifestasi pada kutaneus (macular ifiliss, papular sifilis,
condylomata lata, keterlibatan kuku, rambut yang mudah patah, atypical rash,
dll) . Sifilis tersier terjadi setelah 4-7 tahun. Sifilis tersier terjadi pada
seseorang yang telah terinfeksi beberapa tahun sesudah sifilis sekunder yang
tidak diobati. Lesi oral yang paling umum pada congenital sifilis adalah
lengkung palatum yang tinggi, mandibula yang pendek, rhagades,
Gigi Hutchinson , dan Moons atau mulberry.

Solitary chancre pada ventral lidah


(Laskaris, 2006)

Dua chancre pada lidah


(Laskaris, 2006)

Perawatan sifilis adalah dengan menggunakan antibiotik penicillin sebagai


pilihan utama. Erythromycin atau cephalosporins adalah alternatif yang baik
(Langlais, 2000; Laskaris, 2006).
3.7

Rencana Perawatan
Menurut Houston (2009), perawatan lesi ulserasi bermacam-macam

tergantung ukuran, durasi dan lokasi. Ulserasi akibat trauma mekanis atau termal
dari makanan biasanya sembuh dalam 10-14 hari dengan menghilangkan
penyebabnya. Penatalaksanaan untuk ulserasi yang berhubungan dengan trauma
kimiawi yaitu dengan mencegah kontak dengan bahan kimia penyebabnya. Terapi

26

antibiotik (biasanya penisilin) diberikan untuk mencegah adanya infeksi sekunder


jika lesi yang terjadi parah dan dalam. Kebanyakan ulser traumatik sembuh tanpa
memerlukan terapi antibiotik. Perawatan traumatik ulser dari gigi tiruan biasanya
memperbaiki penyebab yang menyertainya, mengurangi sayap landasara,
menghilangkan bagian tajam, atau mengurangi area yang tinggi. Ketika hal ini
dilakukan, ulser biasanya sembuh segera (Rajendran & Sundaram, 2012).
Menurut Field dan Longman (2003), penatalaksanaan traumatik ulser
dengan menghilangkan penyebab dan menggunakan obat kumur antiseptik
(contohnya

0,2%

Chlorhexidin)

atau

simple

covering

agent.

Lapisan

Hydroxypropyl methylcellulose dapat diaplikasikan untuk mengurangi sakit secara


sementara . Jika pasien tidak merespon dari terapi ini, biopsi diindikasikan untuk
memastikan adanya keganasan rongga mulut atau squamous cell carcinoma..
Penyembuhan sepat setelah biopsi akan terjadi ulser eosinofil. Penggunaan
konrtikosteroid (Triamcinolone Acetonide) adalah kontroversi. Beberapa klinis
menyarankan penggunaan kortikosteroid dapat memperlama penyembuhan,
meskipun begitu beberapa investigator menyebutkan kesuksesan menggunakan
kortikosteroid untuk ulser trauma kronis (Neville et al., 2002) .

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada tanggal 10 Maret 2016, pasien datang dengan keluhan sariawan di


bibir bagian dalam atas kanan sejak 4 hari yang lalu. Sebelum sariawan, daerah
tersebut terkena makanan yang tajam. Pasien jarang mengalami sariawan dan saat
sariawan biasanya karena tergigi atau makan makanan tajam. Sariawan terasa
lebih sakit jika tersentuh sesuatu. Pasien tidak mengalami gejala lain, seperti
demam, flu dll. Pasien biasanya tidak mengobati sariawan. Riwayat keluarga
jarang mengalami sariawan. Riwayat dental, pasien pernah menambal giginya 6
bulan yang lau dan tidak ada keluhan
Berdasarkan anamnesa pasien, operator menyimpulkan bahwa pasien
menderita sariawan karena trauma akibat mukosa tekena makanan yang tajam dan
terasa sakit saat tersentuh, serta tidak mempengaruhi keadaan sistemik pasien.
Berdasarkan pemeriksaan klinis, terdapat lesi jenis ulser,berlokasi di kanan
mukosa bagian dalam bibi dekat regio 13, dengan jumlah : 2 jadi 1, warna putih,
bentuk oval denga ukuran 7 x 2 mm dan kedalaman dangkal, sertia tepi ireguler,
jelas. Jaringan sekitarnya menunjukkan adanya eritema. Seperti pembahasan yang
dijelaskan pada bab 2, menunjukkan gambaran klinis traumatik ulser terlihat
ireguler mengikuti bentuk benda yang melukai mukosa,dan

biasanya

terasa

lembut saat dipalpasi, permukaan merah atau keputihan-kuning halus dan


eritemato disekitarnya. Etiologi traumatik ulser pun bermacam-macam, mulai

27

28

disebebakan oleh mekanis (benda tajam) maupun dikarenakan termal, elektrik


ataupun kimia. Berdasarkan pemeriksaan klinis dan anamesa ini , operator
mendiagnosa sebagai traumatik ulser dikarenakan mekanis.
Rencana perawatan pada kasus ini adalah dengan meresepkan obat kumur
antiseptik Chlorhexidine Gluconate 0,2% dan memberikan vitamin B12 dan asam
folat. Pemberian vitamin B12 dan asam folat dikarenakan menurut anamnesis,
pasien baru mengalami masa menstruasi seminggu yang lalu, juga pasien jarang
makan buah ( 1 minggu sekali) serta pasien jarang mengkonsumsi vitamin
tambahan, sehingga pemberian vitamin diharapkan dapat meningkatkan daya
imun pasien. Operator hanya memberikan obat kumur antiseptik Chlorhexidine
Gluconate 0,2% dan tidak memberikan obat kortikosteroid, karena menurut
Neville, et al. (2002) Penggunaan konrtikosteroid (Triamcinolone Acetonide)
adalah kontroversi. Beberapa klinis menyarankan penggunaan kortikosteroid
dapat memperlama penyembuhan, meskipun beberapa investigator menyebutkan
kesuksesan
Pada anamnesis yang dilakukan operator saat kontrol, menunjukkan pasien
datang kontrol 11 hari setelah dilakukan pemeriksaan oral. Pasien sebelumnya
mengeluh ada sariawan dibagian dalam bibir aatas kanan dan sekarang sudah
tidak ada keluhan. Pasien merasa sembuh setelah 4 hari menggunakan obat kumur
chlorhexidine gluconate 0,2% dan meminum vitamin B12 dan asam folat, namun
pasien meminum vitamin tidak teratur. Pasien juga memperbanyakan makan
buah-buahan, sayuran dan minum air putih. menggunakan kortikosteroid untuk

29

ulser trauma kronis.Walaupun dari hari anamnesa, pasien meminum vitamin tidak
teratur, traumatik ulser dapat sembuh setelah 8 hari dari terjadinya trauma
mekanis, karena Menurut Field dan Longman (2003), penatalaksanaan traumatik
ulser dengan menghilangkan penyebab dan menggunakan obat kumur antiseptik
(contohnya 0,2% Chlorhexidin) atau simple covering agent. Traumatik ulser
biasanya akan sembuh tanpa jaringan parut dalam waktu 6-10 hari,atau sembuh
secara spontan atau setelah dihilangkan penyebabnya (Laskaris, 2006).
Operator jugan memberikan Edukasi mengenai oral hygiene instruction
kepada pasien tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, dengan
penggunaan sikat gigi dan lidah, dan mengenai diet yaitu memperbanyak makan
sayur dan buah-buahan, serta minum air putih, serta pentingnya vitamin B12 dan
asam folat . Operator juga mengkomunikasikan mengenai penyebab penyakit dan
kronologis penyakit traumatik kepada ulser. Setelah kontrol, operator juga tetap
menyarankan untuk menjaga oral hygiene instruction.

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan intraoral, dapat disimpulkan


diagnosis untuk pasien ini adalah traumatik ulser pada mukosa labial atas kanan.
Etiologi traumatic ulcer pada pasien ini yaitu karena tergigit benda tajam ketika
sedang makan.
Perawatan yang diberikan pada pasien ini adalah dengan farmakologis
maupun non-farmakologis. Pemberian obat kumur Chlorhexidnie Gluconate 0,2%
dan pemberian vitamin b12 dan asam folat kepada pasien. Pada nonfarmakologis , pasien diberikan edukasi mengenai OHI,diet, vitamin, serta
mengkomunikasikan mengenai penyakit traumatik ulser
Pada kunjungan kedua atau kontrol, traumatik ulser ini sudah sembuh,
tidak sakit, dan tidak ada bekas luka pada bibir bawah mukosa labial atas kanan.

30

DAFTAR PUSTAKA

Gandolfo. 2006. Oral Medicine. Churchill Livingstone: Elsevier.


Greenberg, M. S., & Michael, G. (2003). Burkets Oral Medicine (tenth).
Hamilton: BC Decker Inc.
Houston,
G.
2009.
Traumatic
Ulcers.
Available
online
http://emedicine.medscape.com/ (diakses tanggal 20 April 2016 ).

at

Langlais and Miller. 2003. Color Atlas of Common Oral Disease. Philadelphia:
Lippincot William & Wilkins.
Laskaris, G. (2006). Pocket Atlas Of Oral Disease (2nd ed.). Stuttgart: Thieme
NewYork. http://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Neville, B. W., Damn, D., Allen, C., & Bouquot, J. (2002). Oral & Maxillofacial
Pathology (2nd ed.). Philadelphia: Saunder Company.
http://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Osterkamp, R. W., & Whitten, J. B. (n.d.). The etiology and pathogenesis of oral
cancer. CA: A Cancer Journal for Clinicians, 23(1), 2832. Retrieved from
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/4630494
Preeti L, Magesh K, Rajkumar K, Karthik R. Recurrent aphthous stomatitis.
Journal of Oral and Maxillofacial Pathology: JOMFP. 2011;15(3):252-256.
doi:10.4103/0973-029X.86669.
Rajendran, A., & Sundaram, S. (2012). Shafers Textbook of Oral Pathology. New
Delhi: Elsevier India. Retrieved from https://books.google.com/books?
id=WnhtAwAAQBAJ&pgis=1
Scully, C. (2004). Oral and Maxillofacial Medicine. London: Elsevier.
Wikipedia contributors, "Oral mucosa," Wikipedia, The Free
Encyclopedia,https://en.wikipedia.org/w/index.php?
title=Oral_mucosa&oldid=693840846 (diakses tanggal 20 April 2016).

31