Anda di halaman 1dari 10

TUGAS GEOLOGI LINGKUNGAN

Dosen : Ir. R. M. Zahirdin, M.Sc

Bencana Gerakan Tanah Desa Sidamukti, Kecamatan Majalengka,


Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat
Kelompok 5
Nama Anggota :
Chandra Kurniawan (11051309)
Daniel Jefri (11051311)
Elvis Okvianta (11051313)
Reschi Situmorang (11051348)
Wahyuningsih (11051358)

POLITEKNIK GEOLOGI & PERTAMBANGAN AGP


BANDUNG
2015

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang
terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis
seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum kejadian longsor
disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor
pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri,
sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material
tersebut. Meskipun penyebab utama kejadian ini adalah gravitasi yang memengaruhi
suatu lereng yang curam, namun ada pula faktor-faktor lainnya yang turut
berpengaruh.
2. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Maksud :
Untuk mengetahui hubungan kondisi geologi dengan penyebab gerakan tanah yang
terjadi di Desa Sidamukti.
2. Tujuan :
Untuk mengaplikasikan ilmu geologi yang telah didapat di dalam kelas ke lapangan
yang berhubungan dengan mata kuliah geologi lingkungan, khususnya gerakan tanah
yang nantinya akan di manfaatkan dalam tata ruang berupa perencanaan
pembangunan sarana prasarana, fasilitas umum di daerah yang rentan terjadi gerakan
tanah agar tidak terjadi bencana terhadap masyarakat.

3. LOKASI BENCANA

Lokasi gerakan tanah terletak di SMPN 7 Majalengka, Kampung Ciandeu, Desa


Sidamukti, Kecamatan Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis lokasi
gerakan tanah terletak pada koordinat : 108 12 27,8 BT dan 06 5133,2 LS.
Gerakan tanah pada lereng bagian bawah diawali sejak 10 tahun yang lalu dan terjadi
lagi pada bangunan SMPN 7 Majalengka yang terletak pada lereng diatasnya pada
hari Kamis tanggal 27 Februari 2014 jam 21.00 WIB, dan gerakan tanah berkembang
hingga tanggal 6 Maret 2014. Menurut informasi dari penduduk setempat gerakan
tanah terjadi setelah turun hujan lebat yang berlangsung lama yaitu selama sekitar 9
jam secara terus menerus.
3.1 Kondisi Daerah Bencana
1. Morfologi.
Morfologi daerah bencana terletak di lereng bagian Tenggara Kampung Ciandeu,
Desa Sidamukti merupakan lereng perbukitan, ketinggian tempat 170 230 m dpl,
dan bagian lereng bawah terdapat lembah Kali Cilurah yang merupakan anak sungai
Cilutung dengan kemiringan lereng asli bagian bawah 20 - 25 dan bagian atas antara
10 - 12.
2. Susunan batuan / stratigrafi.
Berdasarkan peta geologi lembar Arjawinangun (Djuri dkk, 1995) dan
pengamatan dari lapangan batuan penyusun daerah sekitar bencana adalah Formasi
Citalang (Tpc) terdiri dari batu pasir tufaan berwarna coklat muda, lempung tufaan,
konglomerat setempat ditemukan lensa-lensa batu pasir yang keras. Lempung tufaan
berwarna abuabu dengan kemiringan perlapisan searah dengan kemiringan lereng.
Umumnya batuan telah mengalami pelapukan lanjut menjadi lempung lanauan
hingga lempung pasiran, berwarna coklat hingga abu - abu, lunak, plastisitas sedang,
dengan ketebalan tanah pelapukan 1 2 m.
3. Struktur geologi.
Pada lereng bawah dari gedung SMPN 7 Majalengka dilalui sesar naik dengan
arah Barat DayaTimur laut.

4. Tata guna lahan.


Tata guna lahan, sekitar lereng bagian bawah berupa kebun campuran, bagian
tengah Gedung SMPN 7 Majalengka dan bagian atas pemukiman.

4. KERENTANAN GERAKAN TANAH


Berdasarkan Peta Zona Kerentanan gerakan tanah Jawa bagian Barat (Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 2009) daerah gerakan tanah terletak pada
zona kerentanan gerakan tanah Menengah), artinya di daerah ini dapat terjadi gerakan
tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing
jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali
akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat.
5. FAKTOR PENYEBAB
Faktor penyebab terjadinya bencana antara lain adalah:
1. Curah hujan yang deras dan berlangsung lama.
2. Gedung Sekolah dan pemukiman dengan bangunan berat berada pada lereng
perbukitan bagian bawah antara 20 - 25.
3. Adanya dua titik longsoran di daerah tebing Kali cilurah yang terjadi sejak 10
tahun yang lalu.
4. Kondisi geologinya berupa breksi tufaan yang besifat meluluskan air pada bagian
atas dan lempung tufaan yang kedap air pada lereng bagian bawah, menyebabkan
bidang kontaknya menjadi bidang lemah.
6. MEKANISME TERJADINYA GERAKAN TANAH
Dengan adanya curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama maka air hujan
masuk kedalam pori pori tanah yang bersifat gembur serta lahan basah yang berada
di sekitar pemukiman dengan bangunan yang berat, sehingga menyebabkan tanah
menjadi jenuh dan bobot massa tanah meningkat dan tekanan air pori meningkat. Hal
tersebut diperburuk dengan adanya struktur sesar yang ada di lereng bawah, dua titik
longsoran pada lereng bawah yang terjadi sebelumnya dan bangunan berat dari
gedung sekolah, maka lereng kehilangan tahanan bawahnya, serta adanya bidang
lemah yang berupa lempung tufaan, berwarna abu abu yang bersifat kedap air,
sehingga gaya dorong tanah kebawah lebih besar dari gaya penahannya dan
menyebabkan terjadinya gerakan tanah.

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah Desa Sidomukti kecamatan, Majalengka. Kabupaten,
Majalengka Provinsi jawa Barat.

Gambar 2. Peta Geologi Desa Sidomukti Kecamatan, Majalengka. Kabupaten, Majalengka


Provinsi Jawa Barat.

7. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Berdasarkan data tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Daerah bencana masih berpotensi terjadinya gerakan tanah, terutama setelah terjadi hujan
lebat yng berlangsung lama.
2. Umumnya batuan di daerah tersebut telah mengalami pelapukan lanjut, sehingga dapat
menyebabkan gerakan tanah. Untuk itu direkomendasikan sebagai berikut :
1. Masyarakat yang beraktivitas di sekitar gerakan tanah harus lebih waspada terutama pada
saat hujan dan setelah terjadinya hujan deras yang berlangsung lama.
2. Gedung SMPN7 Majalengka saat ini sudah tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar
sehingga perlu direlokasikan ke tempat yang lebih aman.
3. Untuk menghambat laju pergerakan tanah maka segera dilakukan pembongkaran gedung
tersebut dan retakan yang terjadi segera ditutup dengan lempung yang dipadatkan.
4. Daerah sekitar gerakan tanah agar ditanami dengan pepohonan yang berakar kuat dan
dalam dan mengeringkannya, agar longsoran tidak berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/kejadian-gerakan-tanah/376-lapsingpemeriksaan-bencana-gerakan-tanah-dan-rencana-lahan-relokasi-di-smpn-7-majalengka-desasidamukti-kecamatan-majalengka-kabupaten-majalengka-provinsi-jawa-barat