Anda di halaman 1dari 2

Dokter untuk Indonesia Bebas Rokok

Oleh : Alief Leisyah


Rokok merupakan sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Jumlah perokok
di Indonesia juga tidak bisa dibilang sedikit. Hasil survey Global Youth Tobacco Survey 2014
menunjukkan prevalensi perokok di Indonesia sebesar 34,8% dan sebanyak 67% laki-laki di
Indonesia adalah perokok, hal ini menunjukkan angka terbesar di dunia. Bahaya rokok juga
sudah terpampang nyata. Tidak sulit untuk mencarinya, karena dibungkus rokok tersebut juga
sudah dicantumkan. Menurut penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap satu jam
rokok membunuh 560 orang diseluruh dunia. Jika dihitung dalam satu tahun terdapat 4,9 juta
kematian didunia yang disebabkan oleh rokok.
Kesadaran untuk menanggulangi permasalahan rokok ini sudah sangat tinggi. Berbagai
upaya telah dilakukan oleh seluruh pihak. Baik dari pemerintah sendiri, lembaga lembaga
swadaya masyarakat, kalangan tenaga kesehatan, mahasiswa, dan lain sebagainya. Pemerintah
sudah mulai membatasi iklan rokok, mengurangi porsi sponsor rokok, menaikkan pajak rokok,
dan menetapkan adanya peraturan mengenai kawasan bebas rokok. Mahasiswa juga sudah
banyak melakukan aksi untuk mengurangi prevalensi perokok di Indonesia. Contohnya, dari
mahasiswa kedokteran sudah aktif melakukan kegiatan tahunan yang bertepatan dengan hari
tanpa tembakau sedunia. Beragam kegiatan yang sudah dilakukan seperti melakukan aksi
longmarch dengan berkampanye dan melakukan sosialisasi di tempat tempat publik mengenai
bahaya rokok, menukarkan rokok dengan minuman kesehatan, dan lain sebagainya. Tenaga
kesehatan dalam hal ini dokter juga memiliki peran sebagai garda terdepan dalam program
pencegahan serta pemberantasan konsumsi rokok.

Dokter merupakan salah satu yang

berhadapan langsung dengan perokok, serta mempunyai kesempatan paling tinggi untuk
melakukan pendekatan personal untuk meyakinkan seseorang agar berhenti merokok. Beberapa
tahapan yang bisa dilakukan oleh dokter adalah memberi peringatan dan ancaman terkait bahaya
rokok dari segi medis. Setelah diberikan peringatan dan ancaman, dokter dapat mempengaruhi
pasien pasiennya yang perokok untuk berhenti mengkonsumsi rokok, dengan cara mengalihkan
kebiasaan rokok tersebut kepada hal hal positif. Tahapan berikutnya adalah dokter harus bisa
memantau dan mengawasi para pasiennya yang perokok dalam usahanya mengurangi dan
menghentikan konsumsi rokoknya.

Indonesia bebas dari rokok merupakan sesuatu proses yang panjang dan sulit, selama
pemerintah masih belum 100% concern dalam hal ini. Karena disisi lain, pemerintah masih
mendukung kegiatan kegiatan bertema rokok, seperti Indonesia masih menjadi tuan rumah
pertemuan industri rokok se-dunia, World Tobacco Process and Machinery (WTPM) yang baru
saja dilaksanakan di Jakarta pada bulan April 2016 kemarin. Harga rokok pun masih sangat
murah sehingga hampir seluruh kalangan bisa menjangkau. Pembatasan usia untuk membeli
rokok sudah ditetapkan, tetapi kontrol dilapangannya sangat minim. Anak usia SD saja bisa
dengan mudah membeli rokok. Alangkah baiknya jika diberlakukan kontrol yang ketat untuk
pembelian rokok, salah satu cara dengan ketatnya dilakukan pemeriksaan kartu tanda pengenal
saat membeli rokok.
Dokter adalah salah satu tenaga medis yang terdepan dalam usaha menurunkan konsumsi
rokok di Indonesia, tentu saja harus lebih dahulu menghindari kebiasaan merokok ini. Namun,
menurut survei yang pernah dilakukan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3) dan
dikutip oleh situs Kantor Urusan Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development
Goals (MDGs), jumlah dokter perokok di Puskesmas di Jakarta sebanyak 16,4 persen. Sementara
dokter swasta berjumlah 11 persen dan perawat Puskesmas berjumlah 13,5 persen. Dokter yang
selalu mengingatkan pasiennya untuk tidak merokok, tetapi tidak menerapkan ilmu yang dia
miliki dan dia sampaikan kepada pasiennya dengan baik. Hal ini dapat menyebabkan tingkat
kepercayaan pasien akan menurun drastis. Dokter masih dianggap sebagai panutan masyarakat di
Indonesia, seyogyanya senantiasa memberikan contoh perilaku yang baik, terutama perilaku
hidup sehat tanpa rokok.