Anda di halaman 1dari 11

Nama : Nur Syabana Santoso

NPM : 1315051040

RANGKUMAN PERKULIAHAN
Stratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perlapisan pada suatu
lapisan dalam cakupan asal usul, komposisi serta umur batuan pada lapisan tersebut.
Deskripsi lain menyebutkan bahwa stratigrafi adalah cabang ilmu geologi yang
membahas tentang urutan urutan batuan pada lapisan bawah permukaan bumi. Ilmu
stratigrafi sangat penting untuk mendeskripsikan hasil akuisisi serta hasil pengolahan
data seismic.
Selain stratigrafi, terdapat cabang ilmu lain, yaitu litostratighrapy, biostratigrafi
dan kronostratigrafi. Litostratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari lithology pada
suatu perlapisan. Biostratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kandungan
penyusun ataupun kandungan fosil yang berada pada satu lapisan yang sama.
Sedangkan kronostratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari tentang umur relatif
pada suatu lapisan. Perlu diingat bahwa umur relatif sama pada kejadian geologi
memiliki rentang waktu hingga jutaan tahun.
Hubungan antara fosil dan sistem pengendapan pada cabang ilmu biostratigrafi
berada pada proses penentuan kesamaan pengendapan yang terjadi pada masa
sebelumnya, serta penentuan umur yang lebih tua maupun yang lebih muda.
Terdapat beberapa cabang ilmu stratigrafi, yaitu superposisi yang
mendeskrpsikan bahwa lapisan yang lebih bawah lebih tua dibandingkan lapisan yang
berada di atasnya. Cross cutting yang merupakan lapisan memotong merupakan
lapisan yang lebih muda dari pada yang dipotong, uniformitisme merupakan roses
yang terjadi pada massa lalu mengikuti hukum yang berlaku pada massa sekarang.
Terdapat sedimen atau batuan perlapisan pada permukaan, hal ini dapat terjadi
dikarenakan densitas batuan sedimen yang rendah mengakibatkan agen pembawa,
seperti air maupun udara serta yang lainnya, akan dengan mudah membawa batuan
sedimen ini. Pada proses terbentuknya, dikenal dengan proses transgresi dan proses
regresi. Transgresi merupakan proses dimana terjadi kenaikan muka air laut pada saat
proses sedimentasi sehingga akan menyebabkan hasil sedimentasi lebih bersifat datar.
Regresi merupakan proses penurunan muka air laut pada saat proses sedimentasi dan
akan menyebabkan hasil sedimentasi cendrung turun dan mengikuti lapisan
bawahnya. Pada pembentukan reservoar, proses transgresi dan regresi akan terjadi
secara berulang ulang hingga terbentuk permukaan pada saat sekarang ini.

Pada prosesnya pembentukan cekungan pada masa lampau, terlebih dahulu


melalui beberapa proses. Proses proses tersebut yaitu pembentukan cekungan,
pengisian cekungan dan deformasi cekungan. Pada proses pembentukan cekungan
diakibatkan oleh proses rifting sedangkan pada proses pengisian cekungan, material
berdasarkan pada lingkungan pengendapan. Pada saat proses deformasi cekungan,
merupakan proses dimana terakumulasinya hydrocarbon hingga sampai saat ini. Pada
umumnya, cekungan berada pada lokasi di sebelah back arc bassin. Hal ini
dikarenakan rifting yang terjadi pada fort arc bassin menyebabkan timbulnya suatu
tinggian, dari tinggian akan menyebabkan back arc bassin cendrung turun dan diisi
oleh lapisan berupa material material yang berada pada dataran tinggi terbsebut,
yang menurun menuju cekungan dan tersedimentasi seiring berjalannya waktu.
Tujuan dari dilakukannya proses interpretasi seismic adalah untuk
mendeskrpsikan geologi regional serta reservoar secara detil. Terdapat prosedur yang
harus dilakukan dalam proses interpretasi seismic, yaitu memahami geologi,
pemahaman karakter data yang digunakan, karakteristik lapisan target, well-seismic
tie, mengkarakteristik lapisan target, pemetaan horizon target, pemetaan struktur
waktu dan kedalaman, analisa lingkungan pengendapan, analisa atribut dan
penusunan sejarah geologi daerah penelitian.
Pemahaman secara geologi meliputi evolusi cekungan serta proses sedimentasi
yang terjadi. Pemahaman karakter data yang digunakan meliputi polaritas data, fasa
gelombang, resolusi data serta noise. Untuk karaktersitik lapisan target meliputi
keadaan geologi (tebal lapisan, lithology serta lapisa seara horizontal) dan ilmu
geofisika (kecepatan gelombang, densitas, akustik impedansi, dll). Well-seismic tie
merupakan pengikatan sumur dengan data seismic sehingga didapat data, yang
tadinya domain waktu terhadap vertikal, domain jarak atau vertikal atau kedalaman.
Mengkaraktersitik lapisan target dan pemetaan horizon target bergantung kepada
konssp seismic stratighrapy dan konsep sequence stratighrapy.
Pada konsep penjalaran gelombang seismic, dikenal dengan nama koefisien
refleksi. Koefisien refleksi menggambarkan beda lapisan yang diakibarkan perbedaan
nilai akustik impedansi yang terjadi. Perbedaan nilai akustik impedansi yang terjadi
diakibatkan oleh beda nilai densitas serta kecepatan gelombang pada suatu lapisan
tersebut. Perlu diketahui bahwa faktor utama yang sangat berperan pada besarnyanilai
koefisien refleksi adalah beda nilai densitas antara kedua lapisan. Nilai koefisien
refleksi digambarkan pada besarnya nilai amplitudo. Semakin besar nilai amplitudo
maka akan semakin besar nilai keofisien refleksi yang menandakan bahwa lapisan
tersebut memiliki perbedaan nilai densitas yang sangat besar. Koefisien refleksi
didapat dari perbandingan antara nilai selisih akustik impedansi dari lithologi
sebelumnya dengan lithologi sesudahnya dengan jumlah nilai akustik impedansi dari
lithologi sebelumnya dengan lithologi sesudahnya. Atau, persamaan keofisien refleksi

dapat ditulis dengan persamaan

RC=

AI n AI n1
AI n AI n1 . Range nilai RC adalah dari +1

hingga -1 dan representasi dari nilai RC merupakan sebuah amplitude yang akan
menghasilkan trace seismic, di mana trace seismic merupakan hasil konfolusi antara
wavelenght dan RC. Secara harfiah, RC merupakan total energy yang diteruskan
kembali ke lapisan selanjutnya. Sehingga pada nilai +1, energy yang diteruskan
adalah 100%.
Dalam proses akuisisi data seismic, diperlukan data berupa data batimetri yang
berfungsi untuk mengetahui topografi pada daerah penelitian. Hal ini penting
dilakukan dikarenakan pada perambatan gelombang, kemiringan akan sangat
mempengaruhi penjalaran gelombang dalam bentuk raypath. Terdapar dua source
yang dapat digunakan pada akuisisi data seismic, yaitu vibroseis dan dynamite.
Terdapat kelebihan dan kekurangan di masing masing penggunaan source. Pada
penggunaan vibroseis kedalaman yang didapat tidak sedalam penggunaan dynamite
namun memiliki noise yang lebih sedikit dibandingkan penggunaan dynamite.
Sebaliknya, penggunaan dynamite memiliki kedalaman yang cukup dalam
dibandingkan penggunaan vibroseis namun memiliki noise yang lebih banyak
dibandignkan penggunaan source berupa vibroseis. Pada kedua penggunaan source
harus dilakukan test line agar diketahui parameter parameter yang digunakan.
Setelah proses akuisisi selesai, tahap berikutnya yaitu tahapan processing. Tahap
preprocessing merupakan tahap dimana untuk meingkatkan signal to noise ratio,
dengan kata lain untuk menghilangkan noise pada data. Tahapannya yaitu berupa gun
streamer correction, designature to minimum phase, low cut filter, spherical
divergence correction, despiking, swell noise attenuation, dan linear noise
attenuaion. Gun streamer correction merupakan koreksi untuk menyamakan
ketinggian antara receiver dan source. Designature to minimum phase merupakan
pengolaha merubah dara dari zero phase to minimum phase dengan tujuna
menghilangkan bubble yang terekam. Low cut fillter yaitu untuk menghilangkan
noise berfrekuensi tinggi. Spherical divergence correction yaitu untuk meng-gain energy seolah olah energy yang terlewatkan akan sama. Desiking yaitu untuk
menghilangkan amplitude yang berbeda. Swell noise attenuation yaitu untuk
menghilangkan noise akibat pergerakan receiver. Linear noise attenuation yaitu
untuk membuag noise akibat gelombang langsung.
Setelah preprocessing selesai, masuk ke tahap SRME. Pengolaha RSME yaitu
menghilangkan noise multiple akibat surface dan air. Masuk ke deconvolution, yaitu
untuk menghilangkan signal akibat source dan akan mendapatkan signal dari RC.
Radon demultiple yaitu untuk menghilangkan multiple noise dengan cara picking
velocity. Jika nilai NMO yang dilakukan picking tepat maka akan menghasilkan

respon flat, namun jika kurang tepat akan menghasilkan respon berupa over
corrected. Sehingga koreksi ini akan dapat pula membedakan multiple, di mana
multiple noise memliki kecepatan yang rendah pada kedalaman yang cukup dalam
(Vrms tinggi). Lalu preconditioning yaitu untuk melakukan koreksi sebelumnya jika
masih terdapat noise, kondisi ini kondisional untuk dilakukan. Masuk ke preliminary
PSTM dengan velocity analysisi ke-2, yaitu pre-stack time migration, membutuhkan
data Vrms. Lalu terdapat final PSTM, yaitu dengan menggunakan data hasil velocity
analysisi 2 dan hasil dari NMO. NMO merupakan pengolahan untuk menghiangkan
pengaruh offset. Lalu dilakukan residual radon demultiple pada CDP. Lalu dilakukan
preserved stack untuk stacking, hal ini akan menghilankan data yang tidak memiliki
pasangannya. Setelah itu dilakukan unpreserved stack agar data dapat dilakukan
interpretasi dengan baik.
Terdapat istilah common shot atau shot point geather yaitu satu source namun
direkam oleh banyak receiver, common receiver yaitu banyak source namun satu
receiver, common offset yaitu receiver dan source sama, common mid-point atau
CMP yaitu source berada pada di tengah tengah atau sama pada receiver di tengah,
common depth point yaitu pada satu titik yang sama pada subsurface.
Sekuen merupakan perlapisan sedimen yang terjadi pada waktu yang hampir
berdekatan dalam satu kesatuan struktural. Fasies merupakan karakteristik pada
bataun mulai dari lithology, sifat, lingkungan pengendapan serta karakter fisik dari
batuan tersebut. Sekuen pengendapan sebuah satuan stratigrafi yang terdiri atas
urutan yang relatif selaras atau continue dari lapisan batuan yang secara genetik
berkaitan dan dibatasi di bagian atas dan bawah oleh bidang ketidak selarasan atau
korelasi bidang selarasnya. Sebagain informasi, sekuen yang dikatakan tebal memiliki
ketebalan puluhan hingga ratusan meter yang mana hal ini merepresentasikan bahwa
pengendapan yang cukup lama, yaitu berkisar antara satu hingga sepuluh juta tahun
yang dapat diindentifikasi dari data seismic, data sumur dan singkapan di permukaan.
Hiatus merupakan total waktu geologi dimana tidak adanya kejadian geologi seperti
patahan atau lainnya.
Sekuen stratigrafi merupakan kerangka secara genetik terkat stratigrafi yang
digunakan untuk menentukan setting pengendapan. Terdapat beberapa istilah pada
stratigrafi seismic, yaitu lowstand system track, highstand system track, transgresi
system track, maximm flooding surface, sequence boundary, geomteri dan prograding
onlap. Lowstand system track merupakan lapisan di mana berada pada bawah suatu
stratigrafi yang muncul akibat penurunan muka air laut. Highstand system track
berada di lapisan atas yang muncul akibat kenaikan muka air laut. Sequency
boundary merupakan batas lapisan. Geometri merupakan pola pengendapan, batas
pengendapan dan lain sebagainya. Sedangkan prograding merupakan pengendapan ke

arah depan atau ke arah pantai yang diakibatkan oleh regresi atau penurunan muka air
laut.
Pada sistem pengendapannya, dikenal istilah brainded dan mainder. Brainded
merupakan sungai yang berbentuk seperti kipas dikarenakan pada ujung sungai
bercababgn cabang hingga membetuk seperti kipas. Sedangkan mainder merupakan
sungai yang berkelok kelok. Pada kedua sungai ini akan menghasilkan proses
pengendapan yang berbeda. Jika pada brainded akan membentuk sebuah delta akibat
peluruhan sungai sungai kecil yang berada pada daerah mrip kipas. Sedangkan pada
sungai berbentuk mainder akan memiliki proses sedimentasi yang berada pada setiap
lekukannya dan pada umumnya lapisan yang paling tebal berada pada lapisan daerah
luar sungai. Hal ini dikarenakan daerah luar sungai akan menerima gaya tekan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sungai dalam.
Pada daerah paparan, dikenal dengan istilah daerah proximal dan daerah distal.
Daerah proximal merupakan daerah yang berada pada dekat daratan, sedangkan
daerah distal merupakan daerah yang berada dekat dengan pantai. Pada proses
pengendapannya, akibat dari adanya turbulensi akan menyebabkan hasil endapan
kasar dan akibat dari gaya suspended hasil endapan akan bersifat halus. Kedua gaya
ini bekerja pada arus dekat permukaan laut.
Pada penentuan sekuennya, terdapat istilah upper boundary dan lower boundary.
Di mana upper boundary terdapat erosional truncation, toplap dan concordance.
Sedangkan lower boundary terdapat onlap, toplap dan concordance.

Akibat dari naik turunnya muka air laut akan terbentuk suatu struktur yang
sebelumnya telah dijelaskan, seperti lowstand system track, highstand system track
dan lain sebagainya. Berikut adalah penggambaran dari hasil naik turunnya muka air
laut:

Tipe hubungan antara refleksi refleksi seismik dengan garis-garis waktu geologi
yang diidentifikasi pada suatu penampang seismik, yaitu:
1. Refleksi - refleksi seismik yang mengikuti garis-garis waktu geologi yang
selaras dan dapat menjadi plus atau minus dari setengah panjang gelombang.
(Peak & Trough)
2. Diskontinuiti-diskontinuiti dari refleksi seismik, seperti: ketidakselarasan dan
permukaan down-lap yang umumnya mengikuti batas-batas waktu geologi.
3. Refleksi - refleksi seismik yang kurang baik kenampakannya yang disebabkan
oleh fluid interface dan adanya pergantian diagenesa tertentu yang juga
mengikuti permukaan-permukaan diachronus terhadap waktu geologi.
4. Refleksi-refleksi seismik, terutama dihasilkan oleh permukaan-permukaan
lapisan dan batas bawah suatu lapisan seperti ketidak selarasan dan
permukaan down-lap, cara mengamati dengan mencocokan kontras velocitydensity yang disebabkan oleh refleksi - refleksi yang saling berhubungan.
5. Lamanya hiatus berhubungan dengan suatu batas bawah suatu lapisan yang
dapat berubah-ubah, sedangkan batas bawah suatu lapisan tersebut merupakan
batas waktu geologi karena memisahkan batuan-batuan yang berbeda umur
geologinya dan tidak tumpang susun dengan permukaan-permukaan
kronostratigarfi lainnya.
Sikuen seismik adalah sikuen pengendapan yang diidentifikasikan dari
penampang refleksi seismik. ini merupakan urutan yang relatif selaras dari refleksi
seismik yang secara genetik berhubungan. Urutan ini dibatasi di bagian atas dan
bawahnya oleh bidang ketidakselarasan atau korelasi bidang selarasnya (Mitchum
dkk, 1977)
Tujuan dari analisa sikuen seismik adalah untuk menginterpretasikan sikuensikuen pengendapan dan sistim track pada penampang seismik, dengan cara

mengidentifikasikan batas bawah suatu lapisan berdasarkan tanda-tanda dari


terminasi pola refleksi.
Permukaan yang dipilih untuk menentukan batas sikuen adalah stratal
discontinuity yang diperlihatkan dari terminasi pola refleksi seismik (Possamentier &
Allen, 1999).
Kriteria utama untuk pengenalan batas sikuen dari data refleksi seismik adalah
terminasi pola refleksi. Batas-batas sikuen dicirikan oleh regional on-lap dan
truncation. Kontras impedansi akustik antara lapisan di atas dan di bawah suatu
permukaan kronostratigrafi akan mempengaruhi ekspresi refleksi seismik. Ada dua
bentuk pola terminasi refleksi, yaitu:
1. Yang terdapat di atas bidang ketidakselarasan berupa on-lap dan down-lap, dan
2. Yang terdapat di bawah bidang ketidak selarasan yaitu: truncation, top-lap dan
appearent truncation.
Dari bidang perlapisan dan batas sikuen pengendapan, hubungan konkordan dan
diskordannya dapat diketahui. Hubungan konkordan dapat dilihat pada batas atas dan
bawah sikuen. Hubungan diskordan merupakan kriteria utama untuk menentukan
batas sikuen.

Pembagian jenis diskordansi didasarkan pada pembagian terminasi lapisan


terhadap batas sikuen menurut Mitchum dkk, (1977), Allen (1999) adalah sebagai
berikut.
1. Lap-out adalah terminasi (pemberhentian terakhir) secara lateral, lapisan pada
batas pengendapan aslinya.
2. Truncation : terminasi lateral lapisan, akibat terpotong dari batas pengendapan
aslinya.
3. Base-lap adalah istilah hubungan base dengan lapisan di atasnya dalam bentuk
menyudut (diskordan), atau base-lap adalah lapisan dasar/ penyangga pada
batas, bagian bawah suatu urutan pengendapan.

4. Umum digunakan apabila on-lap tidak dapat dibedakan dengan down-lap,


terutama disebabkan oleh deformasi setelah pengedapan.
5. On-lap adalah terminasi pola perlapisan, yang lebih muda ke atas kemiringan,
pada pola perlapisan yang lebih tua, yang kedudukan mulanya miring.
6. Onlap biasanya terlihat pd base dari depositional sequence dan menunjukan
adanya suatu SB
7. Marine on-lap adalah terminasi progresif strata marine pada strata miring
lebih tua dengan arah ke daratan atau kesuatu tinggian topografi di dalam
cekungan
8. Coastal on-lap adalah terminasi progresif endapan pantai (litoral atau non
marine) ke arah daratan.
9. Down-lap adalah baselap dimana lapisan yang awalnya miring terminated
downdip pada bidang yang awalnya horisontal atau miring. Downlap adalah
terminasi strata lebih muda yang kedudukan mula miring ke bawah
kemiringan di atas strata yang lebih tua. Downlap terjadi pada alas suatu
depositional sequence di dalam cekungan dan di atas maximum flooding
surface, dan karena itu masing-masing menunjukan adanya suatu sequnce
boundary atau maximum flooding surface.
10. Proximal on-lap adalah on-lap pada arah sumber sedimen dan distal down-lap
adalah down-lap pada arah yang berlawanan dari sumber sedimen, umumnya
merupakan indikasi permulaan dan akhir lateral pengendapan lapisan
sedimen.
11. Top-lap adalah terminasi strata lebih tua yang kedudukan mula miring keatas
kemiringannya diatas strata lebih muda yang menutupinya, yang biasanya
terjadi akibat by passing (pengangkutan sedimen yang melalui daerah non
deposisi) sedimen. Top-lap biasanya terjadi pada top suatu depositional
sequence dan menunjukan adanya suatu batas sikuen (SB)
12. Erosional truncation adalah top terminasi strata diskordan (menyudut) yang
lebih tua pada strata lebih muda akibat erosi. Biasanya dijumpai pada top
depositional sequences dan menunjukan adanya suatu batas sikuen (SB)
13. Off-lap adalah suatu hubungan top - diskordan dimana lapisan yang lebih tua
menujukan terminasi terhadap lapisan yang lebih muda. Toplap dan erosional
truncation adalah dua contoh bentuk off-lap. Dengan kata lain off-lap
merupakan kebalikan dari on-lap.

Stratigrafi Seismik Permukaan


1. Maximum Flooding Surface (MFS) : permukaan yang mencerminkan keadaan

maximum transgression (kolom air tinggi maksimum). secara stratigrafi

merupakan pengendapan dengan laju yang rendah berupa sedimen pelagic


hemipelagic yang membentuk condensed section. Dari seismik dapat terlihat
sebagai permukaan downlap, namun tidak semua permukaan downlap
merupakan MFS.
2. Sequence Boundary (SB) : Batas sekuen berupa ketidakselarasan atau

keselarasan padanannya. Dari seismik ditandai oleh : erosional truncation dan


permukaan onlap.
3. Transgresive Surface (TS): merupakan awal dari transgresive system track

yang memiliki bentuk stacking patern retrogradasi. TS sukar dikaitkan dengan


terminasi horizon
4. Lowstand System Tract (LST) : dibatasi SB dibagian bawah dan TS dibagian
atas. Merupakan keadaan rising sea level dan high sedimentation sehingga
memiliki stacking patern agradasi atau slightly prograde.
5. Transgresive System Tract (TST) : berada diatas LST dan dibawah HST,
dibatas TS dibagian bawah dan MFS dibagian atas. Menunjukkan keadaan
rapid sea level rise dan low sedimentation sehingga menunjukkan stacking
patern retrogradasi.
6. Highstand System Tract (HST) : berada diatas TST, dibawah LST, dibatasi SB
dibagian atas dan MFS dibagian bawah. Menunjukkan keadaan sealevel stand
still dan low sedimentation, memiliki stacking patern progradasi.
Tidak semua system tract dapat dijumpai, misalkan LST tidak dijumpai dan
diatas TST langsung didapati HST.
Mitchum dkk, (1977) menguraikan macam konfigurasi internal fasies seismik
sbb:
1. Konfigurasi parallel (P) dan subparallel (Sp), ini menunjukan kecepatan
pengendapan yang konstan pada suatu basin plain yang stabil
2. Konfigurasi divergent (D), dicirikan bentuk wedge berupa penebalan scr
lateral, hal ini disebabkan oleh penebalan dari pola refleksi seismik itu
sendiri , dan bukan karena onlap, toplap atau erosi.
3. Konfigurasi progradasi, ini dapat berupa sigmoid (S), obliq (Ob), complex
(SO), shingled (Sh), hummocky (HC) dan terbentuk akibat pengendapan yang
progressif secara lateral dari bidang pengendapan yang miring, sering disebut
clinoform. Ini merefleksikan pengendapan karena energi rendah. Pada
konfigurasi sigmoid, segmen sikuen bagian atas dan bawahnya hampir

horisontal dengan batas atas konkordan dan batas bawah downlap, sedang
bagian tengah relatif lebih tebal dan kemiringan lebih besar (< 10). Pada
konfigurasi oblique, bagian atas sikuen adalah toplap atau hampir rata, bag
bawah adalah downlap dan kemiringan segmen bagian tengah 100.
Konfigurasi shingled mencerminkan progradasi fasies pada lingkungan air
dangkal. Konfigurasi chaotic diakibatkan oleh sistim pengendapan dengan
energi tinggi, dapat memperlihatkan adanya slump structures, lipatan atau
sesar.
Analisis fasies seismik : deskripsi dan interpretasi geologi dari parameter-parameter
pantulan seismik yang meliputi konfigurasi pantulan, kontinuitas pantulan, amplitudo,
frekuensi, kecepatan internal, dan geometri eksternal. Setiap parameter pantulan seismik
dapat memberikan informasi mengenai kondisi geologi terkait Parameter seismik yang dapat
dianalisis secara visual/langsung di sayatan seismik terutama adalah konfigurasi pantulan
seismik.

Dalam menginterpretasi penampang seismik terdapat empat dasar dari fasies


berdasarkan perbedaan dari konfigurasi refleksi, yaitu (Gambar-2):
1.
Parallel dan divergen: shelf/platform, delta/platform, delta front/delta plain,
alluvial plain/distal fan delta dan basinal plain.
2.
Progadational: slope yang berasosiasi dengan prograding shelf/ platform,
prodelta berasosiasi dengan prograding shelf delta atau shelf margin delta, slope yang
berasosiasi dengan prograding shelf yang disuplai oleh shelf delta/ fan delta.
3.
Mounded dan draped: reef, volcanoes, diapirs, submarine canyon dan lower
slope mengindikasikan endapan turbidit, dan hemipelagik klastik.

4.

Onlap dan fill: fasies-fasies onlap coastal, continental rise slope, dan endpn
submarine cayon fill.
Kenampakan yang dipakai dalam analisis stratigrafi seismik adalah:
- Terminasi seismik: onlap, downlap, toplap, erosional truncation.
- Karakter reflektor seismik spt: kontinuitas, flat, dipping, clinoform
Dengan melakukan analisis stratigrafi seismik tersebut memungkinkan diprediksi
penyebaran batuan yang ada di bawah permukaan secara lebih rinci. Dalam stratigrafi
seismik, suatu paket batuan dapat di bagi-bagi menjadi sikuen pengendapan dan di
dalam setiap sikuen pengendapan dapat dibagi-bagi lagi menjadi lapisan-lapisan.
Cara terbaik untuk mengidentifikasi geometri-geometri dari pola refleksi tsb
adalah dengan mencari reflektor-reflektor pada arah kemiringan (dip-line) dip dengan
kemiringan sudut yang besar baik di atas maupun di bawah bidang lapisan. Secara
umum reflektor-reflektor ini akan mengindikasikan kemiringan pengendapan. Pola ini
disebut offlap.
Pola-pola refleksi seismik yang sudah diidentifikasi di daerah endapan laut dalam
antara lain: offlap, submarine onlap, submarine mounds, channel/overbank
complexes, slump, slope-front fill, climbing toplap, dan drape. Pola offlap dapat
digunakan untuk menginterprtasikan kedalaman-kedalaman paleobathymetri, yaitu:
dengan menganalisa ketinggian dari prograding clinoform. Pola onlap membantu
untuk menginterprtasikan topografi bawah laut. Pola-pola mounded,
channel/overbank complexs dan slump mengidentifikasikan endapan-endapan
lowstand. Coastal onlap adalah naiknya mukalaut yang pada penampang seismik
ditunjukan pola reflektor seismik onlap.
Komponen horisontal dan vertikal dari coastal onlap diidentifikasikan sebagai
coastal encroachment dan coastal aggradation. Coastal aggradation dapat digunakan
untuk mengestimasikan besar naiknya mukalaut. Pada saat naiknya muka laut dapat
terjadi fase transgresi dan regressi, tetapi terminologi regresi dan pendangkalan tidak
sinonim dengan turunnya muka laut relatif.