Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sistem limfatik adalah bagian penting sistem kekebalan tubuh yang memainkan peran
kunci dalam pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker. Pembuluh limfe
berisi cairan limfatik putih mirip susu yang mengandung protein, lemak dan limfosit (sel
darah putih) yang semuanya mengalir ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfatik. Ada
dua macam sel limfosit yaitu: Sel B dan Sel T. Sel B membantu melindungi tubuh
melawan bakteri dengan jalan membuat antibodi yang menyerang dan memusnahkan
bakteri
Limfoma atau disebut juga kanker kelenjar getah bening adalah sejenis kanker yang
tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya normal. Hal
ini berakibat sel abnormal nenjadi ganas. Seperti halnya limfosit normal, limfosit ganas
dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh termasuk kelenjar getah bening, limpa,
sum-sum tulang, darah maupun organ lainnya contoh saluran cerna, paru, kulit dan tulang
Limfoma juga sering dikaitkan dengan paparan zat karsinogenik.
Dalam kepustakaan yang lain disebut bahwa Limfoma adalah setiap kelainan neoplastik
jaringan limfoid2. Limfoma juga disebut sebagai penyakit limfosit yang menyerupai
kanker. Disebut penyakit limfosit karena menyerang sel darah putih sehingga
berkembang (membelah) abnormal dengan cepat dan menjadi ganas. Limfosit abnormal
yang semakin banyak ini (kemudian disebut limfoma) sering terkumpul di kelenjar getah
bening dan membuat bengkak.3 Karena sistem limfatik menyerupai peredaran darah yang
bersikulasi ke seluruh tubuh membawa getah bening, maka penyakit limfoma juga dapat
terbentuk di mana saja. Tak mesti di satu bagian tubuh saja.
Limfoma pada otak jarang dialami oleh orang dengan kadar sel CD4 yang tinggi. Gejala
utama dari limfoma susunan saraf pusat (SSP) adalah sakit kepala dan demam. Perasaan
seperti meningkatnya tekanan di dalam kepala atau bahkan serangan sakit kepala yang
hebat juga sering terjadi. Sepertiga orang yang mengalami limfoma SSP merasakan
gangguan bicara (aphasia), pandangan kabur dan gangguan kepekaan atau pun koordinasi
gerakan pada satu sisi tubuh.
Menurut klinik Mayo, tanda awal limfoma SSP bisa dideteksi di mata. 11% dari orang
yang belakangan diketahui terserang limfoma SSP ternyata mengalami uveitis (radang

pada selaput pelangi mata dan bagian di sekeliling mata) yang didahului dengan gejala
lainnya selama berbulan-bulan sampai tahunan. Jika terapi kortikosteroid tidak
menyembuhkan uveitis, maka diperlukan sebuah biopsi cairan vitreus pada mata yang
akan menunjukkan adanya infiltrasi (radang sel dan puing) sehingga diagnosa limfoma
SSP dengan secepatnya diketahui dan dapat segera diobati dengan memeriksakan mata
secara rutin. Maka limfoma SSP akan lebih cepat dideteksi dibandingkan dengan
pemeriksaan khusus yang bisa saja terlambat. Lagipula pemeriksaan mata tidaklah begitu
menakutkan bila dibandingkan dengan biopsi otak.
Menurut Herzberg 2007, pasien Limfoma memiliki peluang untuk sembuh dan produktif,
meski tak semua orang mampu dan memiliki akses terhadap pengobatan. Dengan
diagnosis yang tepat, pengobatan juga bisa spesifik dan tak makan biaya dibandingkan
berobat tanpa arah.
Limfoma umumnya dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu : Limfoma non-hodgkin
(LNH) dan Limfoma hodgkin. Sekitar 85% dari keganasan tersebut adalah NH.
2. Rumusan Masalah
a. Apa defenisi dari kanker kelenjar getah bening ?
b. Apa saja klasifikasi kanker kelenjar getah bening ?
c. Apa etiologi dari kanker kelenjar getah bening ?
d. Sebutkan epidemiologi kanker kelenjar getah bening !
e. Apa saja gejala klinis kanker kelenjar getah bening ?
f. Sebutkan pengobatan kanker kelenjar getah bening !
g. Sebutkan prognosis kanker kelenjar getah bening !
3. Tujuan Penulisan
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang kanker kelenjar getah bening.
b. Untuk menambah pengetahuan penulis tentang kanker kelenjar getah bening.
c. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas epid perilaku.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Defenisi

Limfoma atau disebut juga kanker kelenjar getah bening adalah sejenis kanker yang
tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya normal. Hal
ini berakibat sel abnormal nenjadi ganas. Seperti halnya limfosit normal, limfosit ganas
dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh termasuk kelenjar getah bening, limpa,
sum-sum tulang, darah maupun organ lainnya contoh saluran cerna, paru, kulit dan tulang
Limfoma juga sering dikaitkan dengan paparan zat karsinogenik.

2. Klasifikasi Kanker Getah Bening


a. Hodgkin
Merupakan jenis limfoma yang ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening
dan limpa tanpa disertai rasa sakit. Kanker ini sangat progresif pada beberapa
jaringan limfoid dan pertumbuhan abnormal sel terjadi secara cepat. Faktor resiko
terkena kanker getah bening jenis Hodgkins: Pria/wanita usia 15-38 tahun dan usia di
atas 50 tahun. Mempunyai kelainan dalam fungsi sistem kekebalan seluler tubuh (selT) meskipun produksi antibodi normal. Gejala terkena kanker getah bening jenis
Hodgkins: Pembengkakan menyeluruh kelenjar getah bening disekujur tubuh : leher,
ketiak, dan lipat paha (tidak terasa nyeri). Demam, berkeringat pada malam hari,
kurang nafsu makan, dan berat badan turun. Pada beberapa orang, kadang-kadang
menyerang dada yang menyebabkan gangguan pernafasan. Semakin berkembang, selsel abnormal akan menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya dan mulai
menyerang struktur lain termasuk paru-paru, hati, dan organ-organ abdominal.
b. Non Hodgkin
Merupakan kanker ganas yang berasal dari limfonodus dan jaringan limfe lainnya.
Limfoma jenis ini lebih sering terjadi pada pria terutama pada usia di atas 50 tahun.
Gejala-gejala kanker getah bening jenis non-hodgkin: Pembesaran kelenjar getah
bening/limfonodus.
Pembesaran tonsil dan kelenjar adenoid, limfonodus di leher dan sekitarnya menjadi
kemerahan. Limfoma yang berkembang menunjukkan gejala demam, berkeringat
pada malam hari, lelah, dan berat badan menurun. Jangan menunda untuk mengambil
langkah-langkah penting apabila gejala-gejala yang disebutkan di atas sudah terlihat.
Semakin cepat diobati semakin besar harapan untuk sembuh. Pengobatan Kanker
Getah Bening Limfoma Non-Hodgkin adalah sekelompok keganasan (kanker) yang

berasal dari sistem kelenjar getah bening dan biasanya menyebar ke seluruh tubuh.
Beberapa dari limfoma ini berkembang sangat lambat (dalam beberapa tahun),
sedangkan yang lainnya menyebar dengancepat (dalam beberapa bulan). Penyakit ini
lebih sering terjadi dibandingkan dengan penyakit Hodgkin.
3. Etiologi
Penyakit kelenjar getah bening bisa disebabkan oleh infeksi dari berbagai organisme,
yaitu bakteri, virus, protozoa, riketsia atau jamur. Secara khusus, infeksi menyebar ke
kelenjar getah bening dari infeksi kulit, telinga, hidung atau mata.
Penyebab yang paling sering adalah hasil dari proses infeksi dan infeksi yang biasanya
terjadi adalah infeksi oleh virus pada saluran pernapasan bagian atas (rinovirus, virus
parainfluensa, influenza, respiratory syncytial virus (RSV), coronavirus, adenovirus atau
reovirus). Keganasan seperti leukemia, neurobastoma, rhabdomyosarkoma dan limfoma
juga dapat meyebabkan limfadenopati. Penyakit lainnya salah satu gejalanya adalah
limfadenopati adalah Kawasaki, penyakit kolagen, lupus. Obat obatan juga
menyebabkan limfadenooati umum pada daerah leher pernah dilaporkan setelah
imunisasi
Sejenis limfoma non-Hodgkin yang berkembang dengan cepat berhubungan dengan
infeksi karena HTLV-I (human T-cell lymphotropic virus type I), yaitu suatu retrovirus
yang fungsinya menyerupai HIV penyebab AIDS.

Limfoma non-Hodgkin juga bisa

merupakan komplikasi dari AIDS


a. Limfoma Non Hodgkin
Etiologi sebagian besar LNH tidak diketahui. Namun terdapat beberapa fakkor resiko
terjadinya LNH, antara lain :
1) Imunodefisiensi : 25% kelainan heredier langka yang berhubungan dengan
terjadinya LNH antara lain adalah : severe combined immunodeficiency,
hypogammaglobulinemia, common variable immunodeficiency, Wiskott Aldrich
syndrome dan ataxia-telangiectasia. Limfoma yang berhubungan dengan
kelainan-kelainan tersebut seringkali dihubugkan pula dengan Epstein Barr Virus
(EBV) dan jenisnya beragam.
2) Agen infeksius : EBV DNA ditemukan pada limfoma Burkit sporadic. Karena
tidak pada semua kasus limfoma Burkit ditemukan EBV, hubungan dan
mekanisme EBV terhadap terjadinya limfoma Burkit belum diketahui.

3) Paparan lingkungan dan pekerjaan : Beberapa pekerjaan yang sering dihubugkan


dengan resiko tinggi adalah peternak serta pekerja hutan dan pertanian. Hal ini
disebabkan adanya paparan herbisida dan pelarut organik.
4) Diet dan Paparan lsinya : Risiko LNH meningkat pada orang yang mengkonsumsi
makanan tinggi lemak hewani, merokok, dan yang terkena paparan UV.
b. Limfoma Hodgkin
Penyebab yang pasti dari penyakit ini belum diketahui dengan pasti. Pada penyakit ini
beberapa faktor resiko yang diperkirakan dapat menyebabkan terjadinya limfoma
Hodgkin adalah infeksi virus; infeksi virus onkogenik diduga berperan dalam
menimbulkan lesi genetik, virus memperkenalkan gen asing ke dalam sel target.
Virus-virus tersebut adalah Epstein-Barr, Sitomegalovirus, HIV, HHV-6. Faktor yang
lain adalah defisiensi imun, misalnya pada pasien transplantasi organ dengan
pemberian obat imunosupresif
4. Epidemiologi
WHO memperkirakan sekitar 1,5 juta orang di dunia saat ini hidup dengan kanker
kelenjar getah bening dan 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini tiap tahun.
Sekitar 55% dari limfoma tipnya agresif dan tumbuh cepat.
Kanker kelenjar getah bening merupakan kanker tercepat ketiga pertumbuhannya setelah
kanker kulit dan paru paru. Angka kejadian kanker kelenjar getah bening meningkat
80% dibandingkan tahun 1970-an. Setiap tahun angka kejadian penykit ini meningkat 3
7%. Kaknker kelenjar getah bening banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka
tertinggi pada rentang usia 45 60 tahun.
5. Gejala Klinis
Gejala kanker kelenjar getah bening:

Dapat timbul benjolan yang kenyal

Tidak terasa nyeri

Mudah digerakkan

Tidak ada tanda-tanda radang

Kehilangan berat badan lebih dari 10% dalam 6 bulan

Sering keringat malam

Demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38 derajat Celcius.

Gejala awal yang dapat dikenali adalah pembesaran kelenjar getah bening di suatu tempat
(misalnya

leher

atau

selangkangan)

atau

di

seluruh

tubuh.

Kelenjar membesar secara perlahan dan biasanya tidak menyebabkan nyeri.


Kadang pembesaran kelenjar getah bening di tonsil (amandel) menyebabkan gangguan
menelan. Pembesaran kelenjar getah bening jauh di dalam dada atau perut bisa menekan
berbagai organ dan menyebabkan:

gangguan pernafasan

berkurangnya nafsu makan

sembelit berat

nyeri perut

pembengkakan tungkai.

Jika

limfoma

menyebar

ke

dalam

darah

bisa

terjadi

leukemia.

Limfoma dan leukemia memiliki banyak kemiripan Limfoma non-Hodgkin lebih


mungkin menyebar ke sumsum tulang, saluran pencernaan dan kulit.
Pada anak-anak, gejala awalnya adalah masuknya sel-sel limfoma ke dalam sumsum
tulang, darah, kulit, usus, otak dan tulang belakang; bukan pembesaran kelenjar getah
bening.

Masuknya sel limfoma ini menyebabkan anmeia, ruam kulit dan gejala

neurologis (misalnya kelemahan dan sensasi yang abnormal). Biasanya yang membesar
adalah kelenjar getah bening di dalam, yang menyebabkan:

pengumpulan cairan di sekitar paru-paru sehingga timbul sesak nafas

penekanan usus sehingga terjadi penurunan nafsu makan atau muntah

penyumbatan kelenjar getah bening sehingga terjadi penumpukan cairan.

a. Stadium Limfoma Hodgkin


Penentuan staging sangat penting untuk terapi dan menilai prognosis. Staging
dilakukan menurut Cotswolds (1990) yang merupakan modifikasi dan klasifikasi Ann
Arbor (1971).

Stadium I : Keterlibatan suatu region kelenjar geah bening atau struktur jaringan

limfoid (limpa, timus, cincin waldeyer) atau keterlibatan satu organ ekstralimfatik.
Stadium II : Keterlibatan 2 regio kelenjar getah bening pada sisi diafragma yang

sama.
Stadium III : Keterlibatan regio kelenjar getah bening pada kedua sisi diafragma.
Stadium IV : Keterlibatan difus/diseminata pada satu atau lebih organ ekstranodal
atau jaringan dengan atau tanpa keterlibatan kelenjar getah bening.

b. Stadium Limfoma Non Hodgkin


Stadium berdasarkan kesepakatan Ann Arbor :
Stadium I : Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) hanya 1 regio. I E : jika

hanya terkena 1 organ ekstra limfatik tidak difus/batas tegas.


Stadium II : Pembesaran 2 regio KGB atau lebih, tetapi masih satu sisi
diafragma.
II 2 : pembesaran 2 regio KGB dalam 1 sisi diafragma
II 3 : pembesaran 3 regio KGB dalam 1 sisi diafragma
II E : pembesaran 1 regio atau lebih KGB dalam 1 sisi diafragma dan 1 organ

ekstra limfatik tidak difus/batas tegas


Stadium III : Pembesaran KGB di 2 sisi diafragma
Staduium IV : Jika mengenai 1 organ ekstra limfatik atau lebih tetapi secara
difus

6. Diagnosis
a. Limfoma Non Hodgkin
Dimulai dari anamnesis, keadaan penderita secara umum :
Pembesaran kelenjar getah bening dan malaise umum : Berat badan menurun
10% dalam waktu 6 bulan, demam tinggi 38oC selama 1 minggu tanpa sebab,
keringat malam.
Keluhan anemia.
Keluhan organ (misalnya lambung, nasofaring).
Pada pemeriksaan fisik didapati : Adanya pembesaran kelenjar getah bening,
kelainan/pembesaran organ. Tumor LNH dapat terjadi pada tulang, perut, hati, otak
atau bagian tubuh yang lain
b. Limfoma Hodgkin
Diagnosis pada penderita dilihat dari riwayat penyakit, gejala klinis, dan pemeriksaan
penunjang. Pada riwayat penyakit didapati pada penderita umumnya terdapat
pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri. Gejala sistenik berupa demam,

berkeringat

malam

hari,

penurunan

berat

badan,

dan

pruritus,

terdapat

hepatosplenomegali juga adanya neuropati.


Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa darah
lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal, juga dilakukan pemeriksaan elektrolit. Selain itu
dilakukan pemeriksaan biopsi sumsum tulang juga pemeriksaan radiologis
7. Pengobatan
a. Limfoma Non Hodgkin
Pengobatan inti LNH saat ini meliputi kemoterapi, terapi antibodi monoklonal,
radiasi, terapi biologik dan cangkok sum-sum tulang. Penentuan jenis terapi yang
diambil amat bergantung kondisi individual pasien dan bergantung pada 3 faktor
utama :
1. Stadium
2. Ukuran
3. Derajat keganasan
Limfoma Agresif (intermediate/derajat keganasan tinggi) cepat tumbuh dan menyebar
dalam tubuh dan bila dibiarkan tanpa pengobatan dapat mematikan dalam 6 bulan.
Angka harapan hidup rata-rata berkisar 5 tahun dengan sekitar 30-40% sembuh.
Pasien yang terdiagnosis dini dan langsung diobati lebih mungkin meraih remisi
sempurna dan jarang mengalami kekambuhan. Karena ada potensi kesembuhan, maka
biasanya pengobatan lebih agresif. Standar terapi dahulu meliputi kemoterapi standar
CHOP dan/atau kemoterapi dosis tinggi dan cangkok sum-sum. Tetapi terapi tersebut
dianggap masih memiliki tingkat kekambuhannya 31,5 % sampai 56,8 % dimana
Complete Response dan survival rate yang rendah. Pada saat ini sebagai first line
treatment digunakan rituximab yang dikombinasi dengan CHOP. Rituximab ( suatu
monoklonal antibodi/ antibodi anti CD20 ) yang bisa mengatasi kasus-kasus relaps
LNH terhadap agen kemoterapi. Sehingga baru-baru ini, penggunaan rituximab plus
kemoterapi standar telah direkomendasikan oleh para peneliti Eropa yang mengobati
NHL agresif berdasarkan uji klinisi yang menunjukkan perpanjangan harapan hidup
pasien ketika diobati dengan Rituximab ditambah CHOP dibandingkan hanya CHOP..
Limfoma Indolen (derajat keganasan rendah) tumbuh lambat sehingga diagnostik
awal menjadi lebih sulit. Pasien dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun dengan
penyakit ini, tetapi standar pengobatan yang ada tidak dapat menyembuhkannya.

Biasanya, pasien memberikan respon yang baik pada terapi awal, tetapi sangat
mungkin kanker tumbuh kembali. Pasien dengan limfoma indolen bisa mendapatkan
terapi sebanyak lima sampai enam kali sepanjang hidup mereka. Meskipun demikian,
pasien biasanya memberikan respon terapi yang semakin rendah. Angka harapan
hidup pada limfoma jenis ini, dimana seringkali pasien terkalahkan oleh penyakit ini
atau komplikasi yang timbul, berkisar antara enam tahun
b. Limfona Hodgkin
Di dalam pengobatan Limfoma Hodgkin langkah pertama yang harus dilakukan
adalah penentuan stadium penyakit.
Dipastikan dengan biopsi eksisi kelenjar getah bening.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Evaluasi laboratorium: pemeriksaan darah lengkap, uji fungsi hati, uji fungsi
ginjal, urinalisis.
Rontgen foto toraks, CTscan toraks, abdomen, dan pelvis.
Biopsi sumsum tulang
Laparotomi dengan splenektomi untuk menentukan stadium
Setelah dilakukan penentuan stadium barulah dilakukan pengobatan sesuai dengan
stadium yang ada. Stadium I dan IIA: dapat dilakukan radiasi, stadium III dan IV:
kemoterapi (seperti: ABVD doksorubisin [Adriamisin], bleomisin, vinblastin.dan
dakarbazin.
8. Prognosis
a. Limfoma Non Hodgkin
Dapat dibagi kedalam 2 kelompok prognostik : Indolent Limfoma dan Agresif
Limfoma. LNH Indolent memiliki prognosis yang relatif baik, dengan median
survival 10 tahun, tetapi biasanya tidak dapat disembuhkan pada stadium lanjut. Tipe
Limfoma agresif memiliki perjalanan alamiah yang lebih pendek, namun lebih dapat
disembuhkan secara signifikan dengan kemoterapi kombinasi intensif.
b. Limfoma Hodgkin
Pada penyakit ini ,jika masih terbatas maka memiliki angka kesembuhan 80%;
sedang penyakit lanjut memiliki angka kesembuhan 50-70%

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Limfoma atau disebut juga kanker kelenjar getah bening adalah sejenis kanker yang
tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya normal.
Klasifikasi kanker getah bening yaitu; Hodgkin yang merupakan jenis limfoma yang
ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening dan limpa tanpa disertai rasa sakit..
Faktor resiko terkena kanker getah bening jenis Hodgkins: Pria/wanita usia 15-38 tahun
dan usia di atas 50 tahun., dan Non Hodgkin yang merupakan kanker ganas yang berasal
dari limfonodus dan jaringan limfe lainnya. Limfoma jenis ini lebih sering terjadi pada
pria terutama pada usia di atas 50 tahun. Penyakit kelenjar getah bening bisa disebabkan
oleh infeksi dari berbagai organisme, yaitu bakteri, virus, protozoa, riketsia atau jamur.
Secara khusus, infeksi menyebar ke kelenjar getah bening dari infeksi kulit, telinga,
hidung atau mata. Penyebab yang paling sering adalah hasil dari proses infeksi dan
infeksi yang biasanya terjadi adalah infeksi oleh virus pada saluran pernapasan bagian
atas (rinovirus, virus parainfluensa, influenza, respiratory syncytial virus (RSV),
coronavirus, adenovirus atau reovirus), selain itu jug terdapat faktor resiko yang dapat
mencetuskan kenker kelenjar getah bening.
WHO memperkirakan sekitar 1,5 juta orang di dunia saat ini hidup dengan kanker
kelenjar getah bening dan 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini tiap tahun.
Sekitar 55% dari limfoma tipnya agresif dan tumbuh cepat.
Pada klasifikasi limfoma, masing masing memiliki pembagian stadium dan pada
stadium 4, penyakit ini sudah menjadi lebih berbahaya. Untuk diagnosis dari kanker
kelenjar getah bening dapat diperoloeh oleh anamnesis, pemeriksaan fisik dan dengan
bantuan pemeriksaan tambahan.

Untuk pengobatan limfoma non hodgkin biasanya

meliputi kemoterapi, terapi antibodi monoklonal, radiasi, terapi biologik dan cangkok
sum-sum tulang, sedangkan untuk pengobatan limfoma Hodgkin dilakukan setelah
penentuan stadium barulah dilakukan pengobatan sesuai dengan stadium yang ada.
Stadium I dan IIA: dapat dilakukan radiasi, stadium III dan IV: kemoterapi. Untuk

prognosisnya Limfoma Non Hodgkin Dapat dibagi kedalam 2 kelompok prognostik :


Indolent Limfoma dan Agresif Limfoma. LNH Indolent memiliki prognosis yang relatif
baik, dengan median survival 10 tahun, tetapi biasanya tidak dapat disembuhkan pada
stadium lanjut. Tipe Limfoma agresif memiliki perjalanan alamiah yang lebih pendek,
namun lebih dapat disembuhkan secara signifikan dengan kemoterapi kombinasi intensif.
Untuk Limfoma Hodgkin, jika masih terbatas maka memiliki angka kesembuhan 80%;
sedang penyakit lanjut memiliki angka kesembuhan 50-70%
2. Saran
a. Kepada pembaca agar dapat memahami dengan baik tentang kanker kelenjar getah
bening.
b. Kepada pembaca agar memberi masukan kepada penulis jika ada kesalahan dalam
penulisan makalah ini.

Daftar Pustaka

1. Amori.

2007. Jurnal

Nasional

Limfoma. www.jurnalnasional/limfoma/44356.com.

Pengobatan
Diakses

tepat
pada

untuk

tanggal

26

November 2014.
2. Anonymous. 2008. Limfoma non Hodgkin. www.roche/products/limfoma/.com.
Diakses pada tanggal 29 November 2014.

3. Novak. 1996. Kamus kedokteran Dorland. hal 638-39. EGC. Jakarta


4. Vinjamaran. 2007. Lymphoma, Non-Hodgkin. www.emedicine.com. Diakses pada
tanggal 29November 2014.
5. Anonymous. 2006. Limfoma Maligna. www.wordpress.com. Diakses pada tanggal 29
November 2014.
6. Perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam Indonesia. 2006. Buku ajar ilmu
penyakit dalam : LNH; Penyakit Hodgkin. Hal 727-33; 735-44. Pusat penerbitan
departemen ilmu penyakit dalam fakultas kedokteran universitas Indonesia. Jakarta.
7. Anonymous. 2008. Limfoma. www.elearning.blogspot.com. Diakses pada tanggal 29
November 2014.