Anda di halaman 1dari 2

Causal Model atau model sebab akibat atau disebut juga analisis jalur, yang menyusun

hipotesa hubungan-hubungan sebab akibat diantara variabel-variabel dan menguji modelmodel sebab-akibat dengan menggunakan system persamaan linier. Untuk mengetahui
apakah ada masalah gizi di Provinsi Lampung maka dibuat causal model untuk menelusuri
sebab dan akibat dalam permasalahan gizi ini. Berikut merupakan causal model gizi Provinsi
-

Stunting (40% anak-anak Lampung,


TB/U)
- Gizi buruk kurang (20%, BB/U)

Konsumsi PPH
- Konsumsi protein (46.97 g)
- Konsumsi kalori ( 1750.15 kkal)
- Konsumsi sayur <5 porsi/hari 87.2%

Ketersediaan
- Ikan tidak mandiri pangan
- Minyak tidak mandiri pangan
Inflasi (8.36 %)

PDRB (189 809 459)

Ekonomi
Pengangguran ( 4.79 %)
- Miskin (14.35 %)

Diare (3.9% balita Lampung terkena )

Bayi kurang
mendapatkan
pengasuahan (4695 jiwa)
- Pendidikan

Higiene dan sanitasi


- BAB tidak benar (16.4%)
- Cuci tangan tidak benar
(53.57%)

Akses informasi, distribusi,


dan daya beli

Pendidikan
(AMH 95.92 %)

Sosial

Sarana prasarana tidak


ada
- 289 unit puskesmas
- 58.8 % RT yang tahu RS
Pemerintah

Lampung.
Masalah pangan dan gizi merupakan masalah yang kompleks sehingga
penanganannya membutuhkan penyelesaian dari berbagai faktor. Determinan masalah pangan
dan gizi pada Provinsi Lampung digambarkan dengan kerangka UNICEF, dimana fokus
permasalahan utama adalah pada keadaan stunting . Berikut disajikan diagram causal model
permasalahan gizi mengacu pada bagan UNICEF.

Berdasarkan Gambar 8 dapat dijelaskan bahwa masalah gizi yang menjadi prioritas
adalah masalah stunting, gizi buruk dan gizi kurang karena prevalensi dari stunting, gizi
buruk dan gizi kurang di Lampung yang tinggi yaitu sebesar 40% untuk stunting, 20% untuk
gizi buruk dan gizi kurang . Persentase 40% untuk stunting berdasarkan Riskesdas (2013)
termasuk dalam masalah gizi berat, sedangkan dengan presentase 20% untuk kasus gizi buruk
dan gizi kurang termasuk dalam masalah gizi serius (WHO 2010) hal ini perlu mendapatkan
penanganan. Masalah gizi buruk dan gizi kurang yang terjadi di Provinsi Lampung perlu
diatasi untuk meningkatkan status gizi setiap individu yang merupakan sumber daya manusia
dalam pembangunan nasional khususnya Provinsi lampung.
Penyebab langsung dari masalah gizi tersebut terdiri dari pola konsumsi makan yang
tidak seimbang dan adanya penyakit infeksi. Pola konsumsi yang tidak seimbang yang
memengaruhi adanya permasalahan gizi tersebut adalah rendahnya kualitas konsumsi pangan
yang dapat dilihat dari skor PPH konsumsi Provinsi Lampung yang belum mencapai 90 yaitu
sebesar 81.9. Rendahnya skor PPH konsumsi Lampung disebabkan oleh pola konsumsi yang
masih terfokus pada padi-padian sedangkan untuk golongan pangan yang lain belum sesuai
dengan harapan. Adapun penyebab langsung lainnya berupa penyakit infeksi yang terjadi di
Provinsi Lampung meliputi kejadian diare, persentase jenis penyakit infeksi diare sebesar 3.9
ini memerlukan penanganan khusus karena melebihi standar nasional yaitu sebesar 3.5%
sehingga kemungkinan penyebab dari faktor ini juga berperan terhadap kejadian masalah
gizi.
Penyebab tidak langsung dari permasalahan gizi tersebut mencakup tiga faktor, yaitu
ketersediaan, pola asuh dan pendidikan, dan hygiene dan sanitasi. Faktor ketersediaan
meliputi kurangnya konsumsi protein,kalori dan sayur. Kurangnya ketersediaan golongan
pangan tersebut dapat dilihat pada skor PPH ketersediaan Lampung. Skor PPH umbi-umbian
hanya sebesar 1.2, pangan hewani sebesar 15.4, kacang-kacangan sebesar 5.1, gula sebesar
2.3 dan sayur dan buah sebesar 26.9. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa ketersediaan Lampung terkait umbi-umbian, pangan hewani, kacang-kacangan, gula,
serta sayur dan buah tergolong rendah atau belum memenuhi harapan. Sehingga hal ini
dimungkinkan untuk menjadi salah satu faktor penyebab tidak langsung permasalahan gizi di
daerah tersebut.
Masalah utama dari masalah gizi yang terdapat di Provinsi Lampung meliputi
beberapa hal antara lain kurangnya akses informasi terhadap pangan dan gizi, sarana dan
prasarana yang kurang memadai yaitu hanya 58.8% rumah tangga yang memiliki akses
informasi terhadap rumah sakit di pemerintahan, hal ini akan mengganggu pendistribusian
pangan yang ada di wilayah tersebut. Selain itu penduduk miskin (14.35%) juga menjadi
masalah karena dengan keadaaan penduduk yang miskin maka kemungkinan mereka untuk
menjangkau pangan secara layak/ daya beli akan lebih sulit dibandingkan dengan penduduk
yang tidak miskin. Masalah dasar dari permasalahan gizi yang terdapat di Lampung adalah
adanya krisis ekonomi. Krisis ekonomi merupakan salah satu krisis yang pasti akan dialami
oleh suatu daerah akan tetapi jenis krisis tersebut berbagai macam. Adapun krisis yang
dihadapi Lampung termasuk sangat ringan karena tidak menimbulkan gejolak yang besar
dibidang politik dan ekonomi itu sendiri